Nagabumi Eps 56: Permainan Kekuasaan

Eps 56: Permainan Kekuasaan

KUTATAP mata mereka. Aku merasa khawatir mereka tidak akan bicara. Para penyusup dalam kegelapan malam tidak hanya menguasai seni membunuh, tetapi juga terlatih untuk menerima siksaan jika tertangkap, dan jika perlu mengakhiri hidup mereka sendiri agar membuka rahasia. Adapun jika mereka telah memutuskan untuk bunuh diri, sangatlah sulit untuk menghalanginya, karena tentu saja mereka juga sudah dilatih untuk itu, kecuali mereka sendiri tidak menghendakinya.

Jadi kum inta keduapuluh orang itu dipisahkan ke duapuluh tempat, dan aku tidak terlalu tergesa-gesa untuk segera meminta penjelasan dari mereka. Hanya kuminta untuk meletakkan mayat para korban dari pihak pekerja yang tidak bersalah itu di hadapan mereka, dan kami semua menjauh, meski tetap kuminta pengawasan dari kejauhan.

Pada tubuh mereka tidak terdapat tanda rajah apa pun, sehingga aku tidak dapat memastikan mereka terhubungkan dengan suatu kelompok tertentu. Tidak dengan Cakrawarti, dan belakangan juga tidak dengan Kalapasa. Cakrawarti sebagai jaringan rahasia yang telah disebut kehadirannya sejak masa Wangsa Sanjaya telah merasuk begitu rupa ke segala lapisan masyarakat, sehingga menunjukkan keberadaan dirinya tidak dengan tanda-tanda pada tubuh lagi, melainkan bahasa sandi yang setiap kali berganti. Adapun Kalapasa sebagai kelompok penyusup yang muncul lebih kemudian sangat terkenal kerahasiaannya yang takterendus, sehingga sebuah keluarga dapat menjadi anggotanya secara turun temurun tanpa dikenali sedikitpun oleh tetangganya juga secara turun temurun.

Maka, jika penyamaran Cakrawarti dan penyusupan Kalapasa bukanlah dari tingkat yang mudah terbongkar, siapakah orang-orang ini? Aku teringat pengacau di balik patung Durga di daerah tak bertuan yang membawa lembaran lontar dengan tulisan bahwa Cakrawarti bekerja untuk Naga Hitam. Apakah peristiwa ini menjelaskan sesuatu?

Seorang di antara para pembunuh ini mengenali aku, padahal aku selalu membunuh siapapun mereka yang terlanjur mengenalku, karena mereka memang harus terbunuh dalam pertarungan untuk menguji kesempurnaan. Namun selama ini memang ada orang-orang yang mengetahui keberadaan diriku dengan tugas membunuhku. Itulah orang-orang suruhan Naga Hitam yang jaringan kejahatannya hampir se lalu membayangi kehidupanku. Apakah orang-orang ini anggota jaringan Naga Hitam?

Itulah pertanyaanku sekarang: Jika Naga Hitam menggunakan jaringan Cakrawarti untuk menjalankan tujuannya, apakah kiranya tujuan tersebut?

Aku memikirkan beberapa hal.

Pertama adalah isi surat untuk menghancurkan kepercayaan.

Bukankah saat itu para petani yang memuja Durga telah berbalik mengutuk Durga ketika anggota Cakrawarti tersebut melemparkan bola cahaya yang asapnya mematikan, sementara getaran cahayanya memberi kesan delapan tangan Durga itulah yang telah melemparkannya?

Jika hal semacam itu dilakukan secara serempak di mana- mana, tidakkah begitu banyak orang akan melepaskan kepercayaan yang selama ini telah membuat jiwanya tenteram, bahkan berganti memeluk kepercayaan lain yang sedang tumbuh dan berkembang dengan pesat di se luruh Yawabumi?

Kulihat sebuah perjuangan, kulihat suatu pertarungan. Namun igama-igama tidak bertarung bukan? Manusia bertarung memperebutkan kekuasaan atas nama igama dan bukan sebaliknya. Igama manapun tidak membenarkan pertarungan antar igama dan tidak akan pernah ada kecuali manusia yang begitu bodoh sehingga menafsirkan yang sebaliknya. Jika Panamkaran mampu memberikan tanah kepada igama berbeda, Panunggalan hanya dapat melawan dengan tidak mengikutinya, malah berbuat sebaliknya. Setidaknya para penas ihat igama masing-masing memiliki kepentingannya pula. Bukankah sudah kuceritakan betapa seorang raja ternyata tidak menguasai dunia dan sebaliknya hanya dapat duduk di singgasana kekuasaan dengan persyaratan yang tidak mungkin disanggupinya.

Barangkali ia sanggup melawan musuh yang menyerang dari luar, tapi bagaimana caranya ia mencegah gunung meletus dan mengusir wabah penyakit yang tidak dikenalnya? Maka seorang raja yang ingin tetap berkuasa harus membeli kekuasaannya dengan banyak cara, antara lain dengan sedapat mungkin memenuhi keinginan rakyatnya itu, selama itu bukan menahan banjir atau gempa bumi, misa lnya dengan memenuhi kehendak rakyat yang menginginkan keseragaman igama. Itulah sebabnya ia turuti keinginan rakyat yang tidak senonoh itu, dengan menindas pemeluk igama yang lebih sedikit di wilayah kekuasaannya, meski pemeluk igama tersebut di luar wilayahnya jauh lebih besar.

KEDUA, dan karena itu, ia harus membuat rakyatnya membutuhkan dirinya, membutuhkan kerajaannya, dan membutuhkan kekuasaannya. Bagaimana caranya rakyat membutuhkan perlindungannya? Seorang raja memikirkan cara yang paling menjamin kepentingannya untuk berkuasa: Sebarkan ketakutan yang hanya membuat rakyat membutuhkan perlindungan negara; jika rakyat memilih untuk pindah, maka ketakutan juga harus disebarkan di luar wilayah kekuasaannya, yakni di daerah takbertuanO

Bagaimana caranya menyebarkan ketakutan? Aku telah melihatnya sendiri betapa bisa mengerikan penyebaran ketakutan demi kepentingan kekuasaan. Betapa kejam, betapa dingin, dan betapa tidak berhati. Aku teringat kalimat yang kudengar malam itu: Tugas kita sudah mencapai maksudnya. Dihubungkan dengan kehadiran para pengawal rahasia istana, yang membuat para pekerja lebih tenang karena tiada lagi mayat terpotong-potong, kalimat itu meyakinkan sebagai bagian dari suatu rencana yang cermat. Gawat. Untuk membuat rakyat menyadari keberadaan negara, diperlukan suatu penyebaran ketakutan agar rakyat membutuhkan kehadiran para pengawal rahas ia istana yang merupakan petugas negara. Dengan kata lain, terdapat suatu permainan sandiwara yang membutuhkan korban, yakni mereka yang dikorbankan menjadi mayat terpotong-potong!

Ketiga, supaya sandiwara ini lebih meyakinkan, para pengawal rahasia istana tidak mendapat pemberitahuan sama sekali atas kebijakan tersebut. Selain karena ini akan membuat sikap mereka untuk melindungi rakyat terlihat sungguh- sungguh, juga karena jika mereka diberi tahu belum tentu akan setuju. Para pengawal rahasia istana bukanlsh sembarang prajurit atawa sembarang pengawal istana. Kata rahasia dalam sebutan itu berarti mereka adalah orang-orang pilihan, yang akan menjaga raja, pejabat tinggi, dan anggota keluarga istana dengan tingkat kewaspadaan tertinggi, tanpa diketahui seorangpun yang sekiranya mempunyai maksud buruk.

Pernah terjadi dalam suatu iring-iringan, dan raja berada di dalam tandu di atas punggung gajah, sesosok bayangan mendadak berkelebat melayang ke atas dengan tombak pendek yang siap dilempar di tangannya. Pada titik tertentu ia akan melempar tombak itu dan tampaknya tidak akan ada sesuatupun yang menghalangi betapa sang raja akan menemui ajalnya hari itu.

Namun sesosok bayangan putih berkelebat menggagalkan kemungkinan itu. Tepat pada saat sosok yang melayang ke atas terhenti pada garis yang sejajar dengan raja dan tombak sudah terangkat ke belakang siap dilemparkan, bayangan putih itu tiba-tiba saja berada di hadapan calon pembunuh tersebut. Kejadian itu berlangsung begitu cepat dan tidak bisa diiikuti mata orang awam. Orang-orang yang berada di tepi jalan dan menyaksikan iring-iringan itu dengan lirikan, karena mereka semua bersujud, hanya

melihat cahaya putih berkilatan ketika sebuah pedang dikeluarkan dari sarungnya. Bayangan yang membawa tombak tadi me layang turun kembali dengan dada terbelah. Ambruk ke bawah bersimbah darah. Sedangkan sosok bayangan putih tadi tetap berada di atas, berdiri di depan tandu, yang ternyata seorang peremuan berkain putih dengan pedang terhunus siap menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah para pengawal rahasia istana adalah orang- orang pilihan dengan ilmu silat yang tinggi.

KEBERADAANNYA sudah dikenal meski hanya dalam peristiwa yang sangat dibutuhkan seperti itu mereka terlihat melaksanakan tugasnya. Maka ketika pembunuhan yang tampak sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti itu merajalela, kehadiran mereka yang seperti telah mengusirnya sangat terasa sebagai perlindungan negara. Mereka sendiri tidak mengira tentunya, sandiwara macam apa yang telah meminta banyak korban demi tersebarnya ketakutan. Kehadiran para pengawal rahasia istana membuat orang- orang menjadi tenang, tenang dan tergantung kepada negara, sesuai dengan kehendak di balik sandiwara kejam tersebut.

Kedatanganku tentu saja telah mengacaukan rencana besar tersebut, dan ini menghadapkan aku langsung kepada para pembunuh. Sebetulnya aku ingin membangkitkan kepercayaan diri rakyat, dengan muncul seolah-olah dari tengah mereka sebagai salah satu pekerja, meski tidaklah terlalu mudah membuat orang banyak percaya betapa terdapat seorang pendekar di antara mereka. Betapapun, aku masih harus memeriksa satu perkara lagi, yang setelah beberapa saat kuakui takmungkin kudapatkan dengan pengakuan terbuka. Takseorangpun memperlihatkan perubahan perasaan kudekatkan dengan korban-korban pembunuhan mereka. Siapapun mereka, pemaksaan pengakuan akan membuat mereka bunuh diri dengan cara menekuk lidah mereka, dan aku tidak akan mendapat keterrangan apa-apa.

''Bawa mereka semuanya kemari,'' kataku, ''sudah tiba waktunya memberi mereka hukuman.''

Langit berubah warna. Aku ingin menyelesaikan persoalan ini sebelum hari terang, sebelum para pejabat istana datang dan menerapkan hukum mereka sendiri. Apa yang akan kulakukan, memang hanya dapat dilakukan dengan mengenal dunia persilatan.

Mereka sudah dikumpulkan di hadapanku. ''Buka ikatan mereka,'' kataku.

Tangan mereka diikat dengan tali rotan, sakitnya tentu bukan buatan. Mereka telah dilatih untuk me lepaskan diri dari ikatan seperti itu dengan mudah, tetapi dengan cara mengikat seperti itu, aku taktahu s iapakah kiranya ia yang akan mampu melepaskan diri.

Setelah ikatan mereka dibuka, di wajah mereka terlihat harapan. Dengan ini saja kutahu mereka bukan anggota Kalapasa. Aku hanya harus melakukan sesuatu untuk membuktikan dugaanku.

''Kuberi kalian kesempatan hidup,'' kataku, ''dengan cara kalian semua bertarung melawanku.''

Mereka saling memandang, harapan makin terang di mata mereka. Tentu saja mereka adalah orang-orang yang belum sempat kulumpuhkan dalam penyergapan mereka yang secara keseluruhan harus dianggap gagal. ''Apakah perjanjiannya?'' Salah seorang   di antaranya bertanya.

''Jika aku tewas, siapa pun yang masih hidup berhak untuk pergi dengan bebas.''

Seorang di antara mereka berteriak keras. ''Apakah pernyataan ini disaksikan?'' Terdengar jawaban serentak ribuan orang. ''Disaksikan!''

Maka kami pergi ke tempat yang lapang tanpa pepohonan.

Senjata yang semula mereka bawa, sebuah pisau belati panjang, telah mereka pegang kembali. Seorang di antaranya telah mengenali aku, kini giliranku mengenal siapa mereka sebenarnya. Jika mereka anggota jaringan rahasia, kuragukan kemampuanku mengorek keterangan dari mulut mereka yang telah dilatih untuk bungkam dan menyimpan rahasia; tetapi dari pertarungan ini, aku akan mengetahui asal usul mereka dari jurus-jurus ilmu silatnya, dan kukira mereka juga tidak akan pernah menyangka!

Mereka berduapuluh orang mengepungku dalam lingkaran. Setelah saling memandang sejenak segera bergerak dalam suatu jurus yang rupanya memang dibuat untuk dima inkan suatu kelompok. Mereka ternyata sangat terlatih, mereka bergerak memutariku sembari terus menyerang dan aku merasa seolah berhadapan dengan empatpuluh pedang secara bersamaan. Sembarang lawan akan segera terpotong-potong menghadapi jurus ajaib seperti itu. Mereka mengandalkan gelombang serangan yang berlekuk liku bagaikan liukan seekor naga. Meskipun dimainkan secara bersamaan, aku mengenal jurus yang sama ketika dimainkan satu orang, meskipun setiap orang itu pun telah membawakannya secara berlain-lainan. Sebagai pemegang Jurus Bayangan Cermin, aku memiliki kemampuan mempelajari suatu jurus dengan seketika saat itu juga, termasuk kemampuan mengenali asalnya. Begitulah serangan bergelombang itu dapat kukenali sebagai pengembangan Ilmu Pedang Naga Hitam.

AKU melenting dalam serangan dahsyat Ilmu Pedang Naga Hitam yang mengambil gagasan dari gerak seekor naga mengamuk dengan menyabetkan ekornya. Pada saat kita mengira berhadapan dengan suatu kepala, sabetan ekor yang mematikan akan menyambar dari belakang. Aku melenting ke sana kemari dengan senang hati, seolah-olah memberikan tontonan, padahal aku memang sedang sangat beriang hati karena telah menemukan jawab persoalan: Naga Hitam telah bekerjasama dengan jaringan rahasia Cakrawarti agar mendapat peran kekuasaan.

Namun betapapun sakti dan besar pengaruh Naga Hitam sebagai tokoh dunia persilatan, dia bukanlah seorang negarawan. Untuk menggapai cita-citanya ia memanfaatkan jaringan rahasia Cakrawarti yang memang merembes ke mana-mana bahkan sampai ke dalam istana, untuk menjual jasa dan pengaruhnya di dunia persilatan. Kini taklagi uang yang diinginkannya, melainkan suatu peran dalam kekuasaan. Baginya menjadi penguasa wilayah Kubu Utara dalam dunia persilatan rupanya takcukup lagi. Astaga, benarkah pada akhirnya ia juga ingin menjadi raja? Itulah pertanyaanku: Mengapa seseorang ingin berkuasa?

Adapun mereka yang begitu pandai berma in dengan kekuasaan di istana, memanfaatkan cita-cita Naga Hitam untuk memperkuat kedudukannya sendiri. Naga Hitam tidak pernah menyadari betapa jaringan rahasia seperti Cakrawarti sangat mungkin berma in dengan dua muka; di satu pihak ia melayani jasa untuk menghubungkan Naga Hitam dengan istana, di lain pihak ia melayani kepentingan istana untuk memhuat Naga Hitam tetap berjarak dengan kekuasaan, sementara Cakrawarti itu sendiri menjadi sangat penting peranannya dalam permainan kekuasaan. Jadi, Cakrawarti seolah-olah memberi jalan dan membantu Naga Hitam, seperti yang terjadi ketika anggotanya menghancurkan kepercayaan terhadap Durga di daerah takbertuan; tetapi setiap saat Naga Hitam bisa ditinggalkannya menjadi musuh negara sendirian.

Bagiku ini sungguh suatu permainan kekuasaan. Istana hanya akan memanfaatkan pengaruh Naga Hitam selama diperlukan. Pada saat jasanya untuk menyebarkan ketakutan tidak dibutuhkan lagi, para pengawal rahasia istana akan membasmi mereka dengan segala kekuatan. Istana dan raja menyebarkan ketakutan kepada rakyatnya sendiri melalui Naga Hitan, tanpa pernah bisa dibuktikan, karena tidak pernah berlangsung tatap muka manapun kecuali me lalui jaringan Cakrawarti dengan cara yang sangat penuh dengan kerahasiaan.

Kekuasaan hanya sahih jika didukung oleh rakyatnya, tetapi rakyat Mataram yang dipekerjakan secara bergiliran membangun candi raksasa takbisa pergi. Rakyat terpaksa tinggal di tempat, karena sangat membutuhkan perlindungan kerajaan atas ancaman bahaya kejahatan yang sebenarnya disebarkan oleh kerajaan itu sendiri.

Aku masih melenting-lenting, takpernah menapak tanah sama sekali karena set iap kali pisau panjang mereka menyambar dapat kupakai sebagai pijakan. Kadangkala aku terlihat, kadangkala juga tidak, sekadar usaha untuk membingungkan para pengepung. Mereka membentuk kesatuan gerak seperti naga yang melingkar-lingkarkan tubuhnya, menjepit yang di tengah dengan seketika. Pisau panjang mereka ibarat s isi tajam di atas punggung naga, s iap mematikan siapapun di tengahnya sampai terpotong-potong dengan seketika.

Harus kuakui I lmu Pedang Naga Hitam, dimainkan oleh satu orang maupun secara berkelompok seperti ini, memang ganas dan kejam; jika aku belum menguasai Ilmu Pedang Naga Kembar maupun Jurus Penjerat Naga, niscaya riwayatku sudah tamat sejak lama. Kini sudah kuketahui asal usul mereka. Aku sudah menemukan bukti bahwa Naga Hitam terlibat erat dalam penyebaran ketakutan dengan cara yang sangat kejam. Aku telah memberi mereka kesempatan untuk bisa tetap hidup, tetapi sudah saatnya riwayat mereka itulah yang kutamatkan.

Dengan Jurus Bayangan Cermin kuserap segenap jurus dalam Ilmu Pedang Naga Hitam yang sudah mereka keluarkan, kukembalikan kepada mereka dengan kecepatan takterbayangkan. Diriku bagaikan menjadi empatpuluh orang yang bergerak bagaikan bayangan, setiap orang merasa dirinya menghadapi dua orang dari segala jurusan. Pada saat langit menjadi terang, duapuluh orang telah menjadi mayat bergelimpangan.

Orang banyak bergerak seperti bermaksud memotong- motongnya, tetapi aku tentu saja menghalanginya.

''Mereka telah melawan dengan segala kemampuan,'' kataku, ''hormatilah mereka sebagai orang-orang yang telah berjuang.''

(Oo-dwkz-oO)