-->

Nagabumi Eps 54: S-a-s-t-i

Eps 54: S-a-s-t-i

DENGAN ilmu meringankan tubuh yang mendekati sempurna, aku memang dapat bergerak melebihi kilat, dan dengan cara seperti itu maka gerakanku tidak dapat diikuti mata orang awam. Dengan begitu, selama aku bergerak dengan ilmu meringankan tubuh, tidak satu makhluk pun akan mampu melihat pergerakanku, kecuali jika ilmu meringankan tubuhnya pun mendekati sempurna. Namun jika aku tidak bergerak sama sekali, tentu saja siapa pun akan dapat melihat diriku. Apalagi ketika perhatianku terserap oleh gambaran kehidupan sehari-hari yang sedang dipahatkan pada dinding itu.

Pengawas tersebut tidak menunggu jawabanku dan langsung menyerang dengan sebuah pukulan tenaga kasar, tetapi bahkan jika ia menggunakan tenaga dalam, tentu saja terlalu mudah bagiku untuk menghindarinya. Aku berkelebat melesat ke atas dan menghilang, meskipun masih berada di sana juga. Aku berkeliling sebentar dengan kecepatan kilat menengok setiap sudut yang sedang dikerjakan itu. Mereka bekerja serempak di tenggara, barat daya, barat laut, timur laut, maupun sisi timur tempat awal dan akhir penggambaran Karmawibhangga atau gelombang sebab akibat dari baik dan buruknya kehidupan manusia itu. Aku terkesan dengan kepekaan para pemahat itu terhadap berbagai macam hal, makhluk hidup maupun benda mati, benda alam maupun karya manusia, yang berada di sekitarnya. Penggambaran itu membuat yang tergambar maupun yang digambarkannya penuh dengan makna.

Jika segala penggambaran yang terpahat pada batu-batu keras ini tak lekang dimakan zaman, betapa luar biasa sumbangan para pemahat, para perancang bangunan, raja- raja, maupun rakyat yang telah memberikan kehidupannya untuk mendirikan stupa prasada ini,1) bagi kehidupan dunia pada masa yang akan datang. Kekagumanku terhadap rencana besar itu membuat aku nyaris melupakan penderitaan yang kuduga telah diakibatkannya.

"Dia di sana! Kejar! Kejar! Kejar!"

Kini para pengawal yang memiliki ilmu berusaha mengejarku. Betapapun pembangunan candi sebesar ini tidak luput dari beban pertentangan kepentingan. Kehadiran diriku yang tak dikenal tampaknya telah mengakibatkan bermacam- macam penafsiran yang satu sama lain tidak kuketahui hubungannya.

Dari delapan penjuru angin, sekitar dua puluh pengawas pekerjaan yang sebetulnya merupakan pengawal rahas ia istana, melesat secepat kilat. Aku tidak melihat mereka tadi, apakah itu berarti mereka berada di antara para pekerja, menyamar sebagai pemahat atau tukang batu?

Itulah yang membuat aku bertanya-tanya sekarang: Mengapa hal itu harus dilakukan?

Aku berada di puncak bukit, merasakan angin sejuk bertiup dari arah gunung, tetapi matahari tetap saja berkilau menyilaukan. Para pengawal rahas ia istana dengan pedang mereka yang berwarna perak, tampak sangat bernafsu untuk segera menangkap diriku. Mereka berkelebat di antara cahaya, pedang keperakan mereka memantulkan cahaya, dan mereka pun bergerak secepat cahaya, patutlah dikatakan mereka memang bergerak secepat kilat. Namun bagi siapa pun yang mampu bergerak melebihi kilat, kecepatan duapuluh pengawal rahasia istana itu bagaikan suatu gerak yang amat lamban, selamban-lambannya lamban, sehingga aku set iap kali dapat menjepit pedang mereka dengan dua jari saja, menjepit dan membuangnya, atau kadang-kadang memakainya untuk meladeni mereka sampai pedang-pedang mereka itu terpental.

Ketika tiada lagi seorang pun di antara mereka yang memegang pedang, aku masih memegang dua pedang di tangan kiri dan kanan, dan mendadak saja aku dirasuki kerinduan memainkan pedang.

Kutancapkan kedua pedangku di tanah.

''Kubiarkan kalian hidup jika sudi menjawab semua pertanyaanku.''

Kulihat wajah-wajah mereka seperti berharap-harap cemas. Sadarkah mereka betapa nyawa mereka ibarat telur di ujung tanduk? Mereka yang tidak mendalami dunia persilatan sangat sering kurang mengerti ukuran tinggi rendahnya ilmu. Para pengawal rahasia istana seharusnya terdiri dari orang-orang berilmu tinggi, tetapi aku kini melihat mereka sebagai orang- orang yang tidak berpengalaman. Kalaupun di antara mereka ada yang berilmu tinggi, terdapat kemungkinan mereka tidak mengenal dunia persilatan sama sekali.

Namun kini mereka mengenalku. Aku tidak merasa terlalu berminat mencabut nyawa hari ini. Jadi kuberi mereka kesempatan mempertahankan hidupnya tanpa melalui pertarungan.

''Apakah kiranya yang ingin ditanyakan oleh Tuan Pendekar?''

Aku masih terdiam. Mungkin dalam dunia persilatan aku memang telah mengalahkan para pendekar ternama yang tinggi ilm u silatnya, tetapi pengetahuanku tentang kehidupan sehari-hari, karena dibesarkan dalam keterasingan bersama Sepasang Naga dari Celah Kledung, kusadari tidak seimbang dengan ilmu silatku. Padahal aku menginginkan pengetahuan yang memadai untuk mempertimbangkan segenap keputusanku. Jika seorang pendekar harus membasmi kejahatan, maka aku merasa harus yakin bahwa para tokoh golongan hitam yang kubunuh memang adalah orang-orang jahat, dan bukan sekadar diresmikan sebagai jahat oleh orang banyak maupun kerajaan. Pertarungan kepentingan dalam dunia kekuasaan, begitulah pemikiranku, sangat mungkin melahirkan fitnah, yang dalam kurun waktu tertentu akan diterima sebagai kebenaran. Aku ingat kata-kata ibuku.

''Jika dikau mengembara sebagai pendekar di dunia persilatan, anakku, dikau akan terpaksa juga menjelajahi berbagai wilayah yang dihuni banyak orang. Itulah yang disebut masyarakat, tempat berbagai kepentingan ibarat roh yang mencari tubuhnya. Jangan sampai dikau dapat dimanfaatkan oleh mereka Anakku, mereka tidak memang tidak memiliki ilmu silat, tetapi lembing kata-katanya sangat berbahaya dan mempengaruhi orang banyak. Hati-hatilah Anakku. Hanya dengan pengetahuan yang cukup atas kehidupan di sekitarmu, dikau akan dapat membuat keputusan yang tidak akan terlalu mengecewakan dirimu sendiri.''

Apakah yang ingin kuketahui? Aku tidak boleh malu mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh.

''Orang-orang yang bekerja ini, dari mana datangnya mereka?''

Mereka saling berpandangan.

''Orang-orang ini abdi Yang Mulia Samarattungga, penguasa kami dari Wangsa Sailendra, wahai Tuan Pendekar, mereka penduduk di sekitar bukit ini.''

''Apakah mereka pemeluk Mahayana?''

''Sebagian saja Tuan, sebagian lagi pemeluk Siwa.''

Aku kurang mengerti, barangkali mereka melihatku mengernyitkan dahi. ''Bahkan tanah ini disumbangkan oleh Wangsa Sanjaya, Tuan.''

''Disumbangkan?''

Nada suaraku jelas meragukannya. Namun mereka terus berbicara.

''Sebagai abdi kerajaan Mataram, para penduduk wajib bekerja untuk negara dalam jum lah hari tertentu dalam setahun,4) Tuan, dan kini mereka dimanfaatkan untuk membangun candi ini.''

Aku teringat persawahan yang kulewati. Mula-mula tanahnya dibajak, lantas ditanami, baru kemudian dialirkan air melalui saluran-saluran yang dibangun untuk itu, lantas tinggal menunggu panen. Bahkan semenjak penanaman, banyak tugas sudah diambil alih kaum perempuan, sampai kepada pengusiran burung dan belalang, yang juga melibatkan anak- anak kecil. Maka di wilayah yang penduduknya bersawah, dalam waktu tertentu yang cukup panjang, tersedialah sejumlah besar tenaga manusia yang dapat disa lurkan kepada berbagai kerja pengabdian khalayak, termasuk mendirikan bangunan-bangunan keagamaan. Barangkali justru tersedianya jumlah tenaga manusia yang besar itu menjadi penyebab lahirnya gagasan dalam kepala raja-raja untuk membangun candi-candi besar.

Terbetik sesuatu dalam kepalaku.

''Katakan dengan jujur kepadaku, apa sebenarnya tugas kalian di sini?''

Mereka lagi-lagi saling berpandangan. ''Mencegah para pekerja melarikan diri, Tuan.''

Apakah ini artinya? Betapapun raja bukanlah penguasa

tunggal suatu wilayah. Meskipun wilayahnya tidak dibatasi oleh suatu kesepakatan, tetap saja terbatasi oleh Dharma, hukum semesta seperti yang ditafsirkan oleh para  pendeta dan rahib Buddhis, yang merupakan penjaga kepentingan khalayak. Dharma menentukan sejumlah peraturan bagi khalayak, suatu ketentuan atas kesamaan hak dan kewajiban antara raja dan bawahannya, terutama pendeta dan rahib, tetapi juga seluruh penduduk. Atas haknya memungut pajak dan menerima pelayanan, raja diharapkan mampu mengatasi musuh dari luar dan dari dalam, mengatasi kekacauan dan bencana alam, seperti banjir, kekeringan, wabah penyakit, dan gunung meletus. Adalah menjadi kepentingan raja, bahwa bagiannya tetap selalu terpertahankan dalam kesepakatan bersama ini. Maka raja harus menjaga agar tanah yang telah ditanami tetap terjaga kesuburannya, supaya tidak usah melakukan banyak hal lain lagi agar rakyatnya tidak melakukan perpindahan besar-besaran ke wilayah di luar kekuasaannya.

Jika ternyata diperlukan pengawal rahasia istana untuk menjaga agar mereka yang bekerja tidak melarikan diri, bukankah itu berarti ada yang tidak berjalan dalam kesepakatan bersama ini?

''Banyakkah mereka yang lari?''

Mereka masih saling berpandangan. Aku harus pandai- pandai memberi makna di balik segala gerak-gerik semacam itu.

''Setelah kami mulai berjaga tidak lagi Tuan Pendekar, bahkan sebaliknya kami melindungi mereka dari gangguan para penjahat.''

Mereka mengalihkan persoalan. Tentu banyak yang lari. Bahkan aku sering berjumpa dengan rombongan orang-orang tanpa kejelasan, yakni mereka yang pergi meninggalkan tanahnya dan mencari tanah-tanah baru di bawah perlindungan raja lain di se latan. Tidak sedikit di antara mereka yang mencoba peruntungan nasibnya di daerah takbertuan. Gangguan para penjahat? Apa yang dicari penjahat di tempat seperti ini? Tiada harta untuk dirampok, tiada pusaka untuk dicuri, dan tiada perempuan untuk diperkosa.

''Para penjahat itu,'' kata mereka seperti menjelaskan, ''mereka datang hanya untuk membunuh ''

''Hanya untuk membunuh tanpa dasar? Membunuh demi pembunuhan itu sendiri?''

''Ya, Tuan Pendekar, sebelum kami datang, para pekerja yang lari sering dikembalikan lagi dalam keadaan sudah terpotong-potong.''

''Pekerja yang tidak lari? Apakah juga dipotong-potong?'' ''Ada juga Tuan, diculik lantas dipotong-potong.''

''Siapa mereka? Apakah kalian pernah menangkap atau bentrok dengan mereka?''

''Semenjak kami datang, mereka tidak pernah mengganggu lagi Tuan, makanya seseorang yang tidak dapat dikenali seperti Tuan telah mengundang kecurigaan. Maafkan kepicikan kami Tuan. Belum ada seorang pun di antara kami yang pernah berjumpa dengan seorang pendekar dari dunia persilatan.''

Kutemukan lagi sasti. Namun ini bukan sasti yang memang berarti membunuh sebagai bagian dari bhavana yang terdiri atas empat desa.

bagian yang harus diciptakan dalam pikiran

sama dengan jumlah yaitu empat

sasti-bhavana, usmi-bhavana, wrddha-bhavana, agra-bhavana Sasti yang kukembangkan dalam Jurus Dua Pedang Menulis Kematian adalah bagian dari keterbandingan bhavana dengan empat nirvedha-bhagiya atau keadaan yang mendukung pencapaian pengertian secara mendalam. Empat keadaan itu adalah panas (usma-gata), puncak (murdha-gata), keteguhan (ksanti), dan yang terbaik dalam dunia (laukikagra-dharma). Itulah yang kukembangkan dengan Dua Pedang: seperti kembar, tetapi dengan perbedaan yang menonjol antara sasti yang artinya membunuh dan ksanti yang artinya keteguhanJurus Dua Pedang Menulis Kematian sebetulnya telah menjadi jurus ilmu silat yang mengantarkan seseorang kepada keheningan, jadi membunuh dari kata sasti dalam jurus itu mengantarkan seseorang kepada kemungkinan untuk menjadi sempurna. Ini tidak sama dengan pembunuhan yang dilakukan dengan curang hanya untuk memotong-mo-tongnya agar menimbulkan ketakutan dan kengerian.

''Apa yang terjadi dengan para pekerja setelah kalian datang?''

''Mereka merasa lebih tenang, Tuan, bahkan takut kembali pulang.''

Aku berpikir sejenak, lantas kukatakan kepada mereka. ''Kalian boleh memilih, apakah bertarung melawan aku

sampai mati, atau pergi dari s ini selama tiga hari.''

Mereka kembali saling memandang. Sudah jelas mereka tidak mungkin selamat jika melawanku.

''Kenapa kami harus pergi selama tiga hari Tuan?''

''Karena akulah yang akan berjaga untuk kalian, tetapi jangan katakan ada seseorang yang menjaga tempat ini setelah kalian pergi.''

Mereka saling memandang lagi.

''Tapi ke mana kami harus pergi Tuan? Jika kami kembali ke istana, kami akan dihukum mati!'' ''Itu bukan urusanku! Kalian harus bertarung me lawanku sampai mati kalau masih tetap tinggal di s ini.''

Kuambil kembali kedua pedang yang tertancap di tanah itu, seolah siap menggunakannya untuk menghadapi mereka. Mata mereka terbeliak.

Tanpa menunggu terlalu lama mereka segera berkelebat menghilang.

Tinggal aku sendiri dalam terik matahari di puncak bukit itu. Angin bertiup sangat kencang, membawa bunyi ratusan pahat menempa batu.

(Oo-dwkz-oO)