Nagabumi Eps 52: Penjaga Peradaban

Eps 52: Penjaga Peradaban

Kulirik di antara celah kerimbunan hutan, langit telah

menjadi merah. Jika gelap telah menjadi lengkap, kurasa aku akan menemui kesulitan besar menghadapi lawan yang bukan hanya belum terlihat sosoknya, dengan kecepatannya yang melebihi kilat itu, melainkan karena tentunya ia sangat mengenal hutan ini. Meski dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang aku dapat mengetahui kedudukan setiap batang pohon, tetapi dalam kecepatan melebihi kilat, dengan lawan yang sangat mengenal lingkungan ini, aku merasa lebih baik bertarung di luar hutan. Maka sembari bertarung aku pun menggeser terus kedudukanku, mungkin tanpa disadarinya, sampai keluar dari Hutan Mayat itu.

Namun begitu aku berada di luar batas terakhir pohon- pohon besar, ia tidak mengejarku. Bahkan ia tiba-tiba menghilang. Ia ternyata hanya menjaga Hutan Mayat itu, atau lebih tepat mayat-mayat yang sebelum berubah menjadi kerangka diandaikan masih menyimpan suatu jiwa. Mayat itu boleh membusuk dan mencair, bahkan boleh disantap binatang hutan, selama tidak merusak keutuhan kerangkanya, karena jika terjadi jiwa yang masih tersimpan itu tidak dapat lahir kembali di a lam abadi dalam wujud yang sama.

Pertarungan berhenti, tetapi aku tahu penjaga Hutan Mayat itu masih di sana. Mengawasi diriku di balik keremangan. Jika aku masuk lagi meski hanya selangkah, kukira aku mendapat serangan dahsyat lagi, yang belum tentu lebih ringan dari sebelumnya, apakah itu dari orang yang sama, ataukah dari orang lain lagi. Hutan Mayat ini adalah suatu tempat keramat, dan itu berarti bahwa tempat ini dijaga. Telah berkembang cerita bahwa Hutan Mayat adalah tempat yang sangat angker, bahwa para pencari kayu atau pemburu hilang, tidak jarang pula kembali dari hutan itu dengan pikiran yang sudah terganggu. Sebagai akibatnya, baru kuperhatikan kemudian, ternyata memang terdapat berbagai macam sesajen, mulai dari buah-buah sampai kepala kerbau, yang tampak berderet di luar hutan, mulai dari yang sudah membusuk tak tersentuh, sampai yang seperti baru diletakkan tadi pagi.

Kupertajam lagi Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, dan aku terkesiap; di balik kekelaman itu tidak hanya satu, tetapi berpuluh-puluh sosok tampaknya berdiri mengawas iku, karena memang dapat kudengar dengus nafasnya! Datang dari manakah mereka? Apakah jauh di dalam Hutan Mayat ini terdapat pemukiman? Ini tentu suatu pemukiman yang dijaga dengan segala cara, agar tidak sesuatu pun yang asing dan tak dikenal menerobos masuk dan mengguncangkan kehidupan mereka. Sebegitu jauh, memang tiada seorang pun pernah masuk terlalu jauh ke dalam Hutan Mayat itu tanpa menjadi gila atau tak kembali sama sekali.

SEMULA aku merasa penasaran, tetapi kemudian kuputuskan untuk tidak mengganggu mereka. Ketika para penyembah Siwa menyebar kepercayaan mereka dengan segala daya pikat dalam seni kata-kata maupun berbagai bentuk kesenian dalam hubungannya dengan upacara agama, tidaklah semua orang di Yawabumi menerimanya; bahkan bagi mereka yang tampak seperti menerima dan mengakui keberadaan dewa-dewa, seperti hanya memanfaatkan kebudayaan yang datang dari Jambhudwipa itu bagi kepentingan pemujaan mereka sendiri sahaja. Sebagian orang menerima dan memanfaatkan kebudayaan baru tersebut, apakah itu kebudayaan yang membawa serta Siwa, maupun kemudian Mahayana; tetapi sebagian yang lain menolaknya sama sekali, dan mengasingkan diri ke tempat-tempat terpencil, apakah itu ke puncak gunung, ke gua-gua di tempat yang sulit dicapai, ke pulau-pulau lain di seberang Yawabumi, ataupun masuk jauh ke dalam hutan seperti ini.

Ini semua kudengar dahulu kala dalam perbincangan ayah dan ibuku, ketika kami menemukan tempat-tempat penduduk asli Yawabumi, keturunan langsung para penghuni gua tersebut. Mereka membuat patung-patung yang nanti akan mereka beri nama dan puja sendiri, dengan bahasa yang kami sama sekali tidak mengerti. Kadang-kadang bahkan kurasakan bahasa mereka hanya terdengar seperti burung berkicau atau kera mencerecek. Namun kedua orangtuaku mengingatkan aku untuk tidak memandang mereka sebelah mata, karena mereka adalah orang-orang pemberani, yang telah menyeberangi lautan lepas dengan keahlian berlayar yang tinggi, yang tentu saja tak mungkin berlangsung tanpa ilmu perbintangan memadai.

''Mereka memiliki peradaban,'' kata ibuku.

''Peradaban macam apa Ibu?'' kataku waktu itu, yang masih mengira membaca dan menulis sebagai ukuran tinggi dan rendah peradaban.

''Apakah bukan peradaban namanya jika mereka menanam pisang, tebu, ketimun, dan juga memanfaatkan pohon kelapa serta pohon bambu? Mereka memasak kepiting, udang, dan penyu, yang dicari di laut, selain dengan sengaja memelihara kerbau dan babi, kemungkinan besar juga sapi, yang memberi mereka daging dan susu; bukankah itu peradaban juga, anakku? Berburu dan mencari ikan sangat mereka sukai, dan mereka melengkapi diri mereka dengan senjata-senjata besi. Pakaian mereka terbuat dari kulit kayu dan mengerti seni menganyam; mereka membuat rumah-rumah dari bambu, kayu, dan rotan; bagaimanakah dikau takkan mengatakannya sebagai peradaban, anakku? Di Jambhudvipa sebelum Siwa, Wisnu, dan Brahma dikenal, mereka letakkan mayat di pohon; di Yawabumi, jauh sebelum orang-orang Jambhudwipa penyembah Siwa tiba, mereka telah memotong batu-batu besar menjadi kotak empat persegi panjang dengan sangat halus dan rapi. Bayangkanlah, anakku, memotong batu sebesar itu, dengan peralatan yang tentu jauh lebih sederhana dari sekarang ini, dan menjadikannya sebagai kuburan. Bagaimana caranya mengangkat dan meletakkan batu sebesar itu untuk menutupi kotak yang juga terbuat dari batu? Perhatikanlah bahwa mereka menggunakan akal, wahai, anakku sayang. ''

''Kenapa orang-orang Jambhudvipa datang sampai kemari Ibu, dan apa yang mereka lakukan di sini?''

''Anakku, anakku, pertanyaanmu banyak sekali, tetapi baiklah kujawab seperti yang kuketahui: Tanah Yawabumi sangatlah subur bagi padi, kemungkinan besar para pedagang Hindu itu tiba di sini dengan kapal-kapalnya karena alasan tersebut, untuk menambah perbekalan makanan, dalam perjalanan ke Negeri Atap Langit. Adalah mereka yang menyebut pulau kita ini Yavadvipa, anakku, atawa Tanah Padi. Dari sanalah lambat laun penduduk Yawabumi mengenal peradaban yang dibawa orang Jambhudvipa, sehingga bukan hanya lantas dapat kita temukan dari masa lalu barang-barang hiasan dari gading, kulit kura-kura, dan emas, sebagai pertukaran dagang,2) tetapi juga agama mereka yang penuh berisi dewa-dewa itu.''

"JADI, Siwa datang dari negeri lain Ibu? Dan juga Mahayana?"

"Begitulah, anakku, tetapi penduduk Yawabumi menghayati Siwa dan Mahayana menurut kebutuhan mereka sendiri "

Aku tertegun mengingat percakapanku dengan ibuku itu, di tengah gua dengan dinding luas bergambar telapak tangan yang merah, serta orang-orang memburu makhluk bertanduk yang tentunya banteng atau kerbau liar. Di gua itu pula kami menemukan dan mempelajari senjata-senjata mereka seperti batu-batu pipih yang dapat mengiris, memotong, dan juga membunuh...

Dari gambar telapak tangan yang sangat banyak itulah Sepasang Naga dari Celah Kledung tersebut mengembangkan ilmu pukulan Telapak Darah, yang akan mereka gunakan manakala bertarung tanpa senjata. Tidak aneh bagiku sekarang jika penjaga Hutan Mayat yang sakti itu se lalu bisa menghindarinya dengan mudah, bahkan meniru dan menggunakannya untuk menyerangku juga dengan sangat mudah.

Sekarang mereka semua ada di sana, di depanku dengan napas yang jelas tertangkap telingaku, tanpa bisa kulihat.

(Oo-dwkz-oO)

SEMENJAK itu aku masih sering mendengar dengus dan helaan napas mereka, seperti berada di dekat-dekat telingaku, meskipun diriku sedang berada entah di mana. Tidak pernah bisa kuduga seperti apa sosok mereka, tetapi sejauh kuingat dari pemukiman yang pernah kami singgahi, memang terdapat bentuk tubuh, wajah, dan warna kulit yang tidak terlalu sama. Mereka itukah penduduk asli Yawabumi, ataukah berabad- abad sebelumnya juga datang entah darimana dan ada lagi jenis penduduk asli lain yang sebelumnya sudah bermukim pula, semua itu menjadi kemungkinan untuk menduga-duga. Mengingat cara melakukan perjalanan adalah berjalan kaki, adalah wajar untuk menduga betapa mereka baru tiba di Yawabumi setelah berabad-abad lamanya pula. Dengan begitu, siapakah kami? Keturunan pendatang ataukah campuran pendatang dengan penduduk asli yang sudah bermukim di Yawabumi sejak keberadaannya pertama kali di bumi?

Mungkinkah terdapat berbagai gelombang kedatangan dalam jarak ribuan tahun ini, dan mungkinkah juga masih terdapat suatu gelombang perpindahan sebelum orang-orang Jambhudvipa membawa Siwa dan Mahayana ke Yawabumi?

MUNGKINKAH kami keturunan orang-orang yang terakhir ini?

Aku melangkah pergi dengan suatu keharuan mengingat usaha manusia untuk mempertahankan keberadaan jiwa mereka, yang lebih tenang bersama pemujaan leluhur mereka itu, tetapi mempunyai akibat yang jelas kepada keberadaan tubuh mereka, yakni hidup terasing, jauh dari pergaulan dengan manusia lainnya. Masih terhirup olehku bau asap kemenyan, ketika aku pergi dengan kepala penuh tanda tanya: Sampai kapan mereka akan bertahan? Masih kukagumi kedahsyatan gerak dan tenaga dalam penjaga peradaban yang tidak kelihatan itu; jika semua orang yang kudengar helaan napasnya memiliki ilmu setinggi itu, barangkali ketika aku memasuki batas hutan itu lagi akan langsung mati. Sungguh di set iap pojok hutan yang gelap, bagaikan terdapat seorang pendekar yang mahasakti. Dengan kenyataan semacam itu, kadang aku takmengerti, kenapa diriku belum juga terkalahkan dan mati.

Begitulah aku masih melakukan perjalanan di daerah tak bertuan. Aku masih mengarah ke utara dengan harapan mencapai pantai, sembari berpikir juga tentang Naga Hitam. Kapankah terakhir kali aku mendengar namanya? Kukira ketika Iblis Pemakan Daging mengaku dirinya membawa salam Naga Hitam. Hmm. Dulu aku ingin segera menempurnya dan sekarang pun masih juga, tetapi dahulu aku berpikir seperti itu barangkali untuk mengatasi ketakutanku, karena pembayangan diriku atas Naga Hitam sebagai tokoh besar persilatan. Para naga memang selalu terbayangkan sebagai tokoh besar dengan segenap dongeng yang melingkupi dirinya, tetapi di antara mereka hanya Naga Hitam yang semakin lama semakin ditakuti sebagai tokoh penyebar kejahatan. Dahulu aku ingin segera berhadapan dengannya, mungkin karena tidak ingin merasakan ketakutan lebih lama; tetapi sekarang ketakutan itu hilang sama sekali. Mungkin karena sekarang aku jauh lebih percaya diri atas ilmu silat yang kukuasai. Apalagi setiap kali menghadapi lawan dengan Jurus Bayangan Cermin, dengan semakin sempurnanya jurus ini, maka bukan hanya aku mampu mengembalikan serangan lawan dengan jurus yang sama meski serba kebalikannya, melainkan semakin berarti menyerapnya pula. Meski sekarang aku cenderung lebih suka menghindari lawan, karena kemenangan yang terlalu mudah dipastikan telah membuat aku bosan, sebelumnya aku begitu bersemangat untuk menghadapi setiap tantangan, karena dengan menyerap ilmu lawan aku mendapat banyak keuntungan. Bukan sekadar menambah jumlah ilmu atau jurus tertentu dalam ilmu persilatan, melainkan karena kemungkinan untuk mengolahnya sebagai pembelajaran dan penggubahan ilmu baru dalam dunia persilatan itu.

Maka kepada lawan yang ilmu silatnya menarik, sering kulayani dalam pertarungan yang berlama-lama, karena semakin lama kami bertarung semakin keluar semua jurusnya, dan semakin terserap segalanya ke dalam perbendaharaan jurus-jurusku. Bukanlah mengulangnya kembali secara persis dan terbalik itu yang menarik bagiku, melainkan kemungkinan penggabungan berbagai jurus tersebut yang kemudian melebur menjadi sesuatu yang baru sehingga bisa kumainkan jurus tombak untuk ilmu pedang, jurus cambuk berduri untuk ilmu tangan kosong, dan jurus pisau terbang untuk ilm u toya dan ilmu kipas yang dimainkan berselang-seling atau dijadikan satu. Jurus trisula bisa kumainkan dengan dua golok, jurus- jurus senjata rantai untuk ilmu jala.

DENGAN membiarkan lawan mengeluarkan semua ilmunya juga akan membuatnya mati lebih puas ketika kukalahkan, karena terbunuh sebelum sempat mengeluarkan ilmu apa pun ibarat kata bisa membuat arwahnya penasaran. Namun terhadap lawan dengan tingkat ilmu yang sangat tinggi, sikap semacam itu tidak dapat dilakukan, karena sikap terbaik adalah membunuh lawan pada kesempatan pertama ketika itu bisa dilakukan. Meski tentu saja Jurus Bayangan Cermin akan tetap menyerap jurus-jurus lawan tanpa bisa ditahan. Hanya setelah terlalu banyak lawan yang menyerang tanpa perkiraan atas kemampuan maka pertarungan menjadi tidak lagi terlalu menantang. Itulah yang membuat hatiku kini terbelah, apakah aku melayani dan memburu Naga Hitam, ataukah menuruti naluri pengembaraan, yang sementara ini memanggil- manggilku menuju lautan.

Aku kini berada dalam sebuah pedati yang ditarik sapi, yang mengangkut batu-batu untuk pembangunan candi.

"Enam tahun lalu...," kata pengemudi pedati itu tiba-tiba di tengah malam buta, seperti tahu aku taktidur dan hanya melamun saja, "sejak enam tahun lalu, seluruh rancang bangun candi-candi ini diubah, membuat pekerjaanku tidak kunjung selesai sampai hari ini."

Enam tahun lalu. Itu artinya tahun 790. "Apa yang terjadi Bapak?"

"Candi-candi yang ketika dibangun maksudnya untuk Siwa, sekarang diubah untuk Mahayana," katanya.

Kudengar memang pengaruh Mahayana yang mendesak di bagian selatan, daerah yang sudah penuh dengan candi-candi Siwa, ketika Mahayana makin kuat pengaruhnya, yang berarti penguasanya berganti agama, dan kemudian juga pengikut dan sebagian besar rakyatnya.

"Coba pikir, berapa tahun candi itu sudah dibangun? Dirancang tata letaknya limabelas tahun lalu, sudah dibangun limas berundak seperti biasanya candi Siwa, eh sekarang diteruskan dengan cara Mahayana. Pembangunan semua candi yang belum se lesai tiba-tiba berhenti, dan waktu berlanjut rancangannya berubah. " Sementara pedati berjalan ia terus berkeluh kesah bahwa pembangunan candi-candi itu telah membuat ia harus meninggalkan keluarga dan sawah ladangnya, dan itu berarti mengacaukan hidupnya.

"Sahaya tidak mengerti kenapa agama man apun harus membuat rakyat susah. Apakah Sang Buddha sendiri m inta dibuatkan stupa pemujaan untuknya? Apakah dewa-dewa memang benar meminta candi pemujaan yang mengorbankan begitu banyak manusia demi dirinya, dan bukan raja-raja sahaja yang membangun segala kemegahan ini untuk menunjukkan betapa dirinya sangat berkuasa?"

Itu juga pertanyaanku sejak lama. Agama-agama besar telah menggerakkan Yawabumi, tetapi bukan karena kehendak dewa-dewa di atas langit, melainkan dorongan manusia untuk menunjukkan kekuasaannya.

"Jadi, mau dibawa ke manakah batu-batu ini Bapak?" "Masih jauh ke sebelah timur, Anak, sudah sebelas tahun

ini batu-batu pilihan diangkut dari berbagai penjuru ke sebuah

bukit di antara dua sungai. Lima tahun pertama, hanya batu- batu yang dikumpulkan dari dua sungai itu, dan karena masih kurang, maka harus didatangkan pula batu dari tempat- tempat lain. K ini batu-batu itu mulai diratakan pada empat sisi dengan ukuran-ukuran tertentu, banyak sekali jum lahnya, tentu untuk mendirikan suatu bangunan yang besar sekali "

Pedati merayap menembus malam sementara pikiranku mengembara. Suatu peristiwa besar sedang berlangsung di Yawabumi, dan betapa diriku tidak mengikuti perkembangan sama sekali!

(Oo-dwkz-oO)