-->

Nagabumi Eps 44: Sepuluh Tahun Kemudian

Eps 44: Sepuluh Tahun Kemudian

APAKAH ruang? Apakah waktu? Seseorang yang mempelajari ilmu silat akan se lalu bergerak dalam permainan ruang dan waktu tersebut, karena lebih dari sekadar jurus- jurus, ilmu meringankan tubuh, dan tenaga dalam, pada saat- saat yang menentukan hidup dan mati, penguasaan atas ruang dan waktu itulah yang menjadi penentu. Dalam pertarungan yang berlangsung sangat cepat, sehingga tidak bisa diikuti oleh mata, tenaga dalam hanya berguna untuk saling mengimbangi kecepatan masing-masing. Namun kemampuan untuk melihat, dan terutama membuat, ruang sekecil apapun terbuka pada pertahanan, adalah kemampuan mempermainkan unsur ruang, karena hanya perlu ruang terbuka sebesar lubang jarum untuk melumpuhkan lawan, yang sekali terbuka kesempatannya belum tentu akan kembali lagi. Ketika harus secepat mungkin menembus pertahanan yang terbuka sebesar lubang jarum itulah terletak permainan waktu.

Namun permainan ruang tidak selalu berarti pertahanan itu tertutup dan keterbukaan adalah kelemahannya. Sebaliknya permainan waktu tidak selalu berarti kecepatan bergerak yang membuat pertarungan tidak bisa diikuti mata. Ruang dan waktu adalah bahan perhitungan dalam permainan silat, dan perhitungan itu dapat menghasilkan perwujudan yang tidak disangka-sangka.

Pendekar Satu Jurus mengalahkan Pendekar Lautan Tombak bukan pada saat ia bergerak dengan kecepatan kilat, melainkan sejak saat hanya berdiri dan tidak berbuat apapun selain menunggu dengan kewaspadaan tinggi se lama berhari- hari. Naga Dadu bergerak lamban seperti menari, tetapi itulah permainan waktu yang takbisa diatasi Serigala Putih, pendekar perkasa dari mancanegara itu. Kecepatan waktu dapat dimentahkan oleh keterbukaan ruang, sedangkan ruang menjadi tertutup atau terbuka tergantung kemampuan membaca ruang dan pembayangan atas suatu tindakan dalam ruang waktu saat melakukan pertarungan. Sebetulnya ruang mengikuti waktu dan waktu mengikuti ruang, karena ruang sebesar waktu dan waktu itu sebesar ruang.

Ini tidak menjadi mudah, karena besar kecilnya ruang dengan begitu menjadi taktertakar kecuali kita berikan ukuran- ukuran tersepakati, dan itu semakin membuktikan betapa keberadaan ruang dan waktu sebetulnya tertentukan oleh pengalaman. Maka, sepuluh tahun bisa berarti lama, bisa pula berarti sebentar, tergantung takaran apa yang akan kita berikan.

Begitulah yang kualam i. Sepuluh tahun terasa sekejap, karena selama sepuluh tahun itu aku tidak melatih ilmu meringankan tubuh, tidak pula melatih ilmu tenaga dalam, melainkan ilmu mengolah pernafasan.

Dalam olah pernafasan kutemukan diriku sebagai bagian dari semesta, sedangkan ruang waktu semesta jelas mengatasi ruang waktu bum i. Pada gilirannya, pernafasan itu tidak kuolah lagi, hanya tersisa diri, tetapi diri yang telah menjadi bagian dari segala sesuatu yang ada maupun tiada, dari antara ada dan tiada maupun ketiadaan antara dari ada dan tiada. Sampai tahap ini, ruang waktu teratasi dan barang siapa bisa mengatasi ruang waktu, mestinya bisa mengatasi ketubuhannya sendiri, yakni ketubuhan yang terikat ruang waktu bumi.

Aum!

Dengarkanlah baik-baik wahai Jinaputra

dari keluarga Tathagata badan itu menjadi delapan delapan daun bunga mata nga

telinga nga hidung nga mulut nga

lubang dubur nga kemaluan nga

delapan daun bunga menjadi tempat vajra-jnana

vajra-jnana berarti advaya-jnana

AKU telah mempelajari cakra dalam tubuhku sendiri. Badan manusia dalam anuttaravoga memiliki empat cakra, yakni maha-sukha pada ubun-ubun dengan 32 daun bunga; sambhoga pada leher dengan 16 daun bunga, dharma pada jantung dengan delapan daun bunga, serta nirvana pada pusar dengan 64 daun bunga. Adapun cakra yang sedang kuhidupkan dengan pernapasan tadi adalah dharma-cakra pada jantung, yang penjelasannya dalam Heruka-tantra seperti berikut:

Di jantung terdapat dharma-cakra dengan delapan daun bunga

daun bunga membentuk visva-padma atau berbentuk ganda

yang satu menghadap ke atas yang lain menghadap ke bawah di dalamnya terdapat aksara HUM

yang menghadap ke bawah sedikit di atasnya

terdapat bunga padma putih kecil melambangkan alam raya

atau

brahmanda-sdrsa-karam

di dalamnya terdapat kesadaran murni atau

vijnanam

mewujud dan memenuhi segalanya kesadaran murni mengenali segala hal

segala pengetahuan yang diperoleh tanpa belajar atau

svayambhu-jnana-dharam merupakan parameswara

Jika dituruti, aku tidak ingin kembali ke dalam kehidupan duniawi. Samadhi memberikan kepadaku ketenangan abadi. Betapa seorang pertapa tiada akan berumah dalam keadaan seperti ini?

dari ujung lidah meluncurlah OM

berhenti dan diam di bawah padma menjadi surya bersinar terang karena cahaya

lebur dan bersenyawa tercipta aksara

AH

dilepas meleburkan semua lenyap dan bersenyawa bersama peleburannya

hingga tercipta wujud akhirnya intan permata tiada tercela

Barangkali tidak adil, tetapi ingatan kepada kitab-kitab keagamaan yang ditinggalkan orangtuaku, membuat pendekatanku kepada ilmu silat berbeda sama sekali. Para pendekar menafsirkan jurus sebagai jurus saja, tetapi aku mengembalikannya kepada gerak. Jadi bagiku bagaikan tiada ilmu silat selain pemahaman atas ruang, gerak, dan waktu. Aku adalah tubuh di dalam ruang yang bergerak dalam waktu, apabila ruang waktu menyatu, tubuhku melebur sebagai gerak itu sendiri tanpa harus menggerakkannya. Gerak hanya digerakkan oleh kehendak, tetapi kehendak di luar keinginan dan tujuan, melainkan sekadar kehendak untuk bergerak sebagai bagian gerak semesta. Tubuhku hanya ada sebagai sarana gerak sahaja, ada atau tiada tubuhku, ia mengada dalam gerak, dengan segala ke-tak-bergerak-annya.

Demikianlah diriku tinggal pikiran dan napas, yang segalanya mengatur tubuh. Secepat aku berpikir, secepat itu pula kemampuan gerak tubuhku. Napas menghidupi tubuh, pikiran menggerakkan tubuh. Apakah dengan begini saja cukup menghadapi Naga Hitam?

Seandainya sepuluh tahun terasa sebagai sepuluh tahun, sebagai remaja 15 tahun tentu aku akan tersiksa memikirkan kawan-kawan seperjalananku yang terpisah dibawa arus di atas perahu tambang itu. Aku juga akan tersiksa memikirkan nasib Campaka, dan barangkali juga telah kembali ke Balinawan menengok Harini dan kitab-kitab dalam peti kayu itu, tentu jika aku belum tewas di tangan Naga Hitam. Namun sejak aku mampu membuka ruang dalam diriku dan menempatinya, bukan saja waktu takterasa, melainkan waktu menjadi tiada, karena ruang yang kubuka dalam diriku bukanlah ruang dalam waktu.

DEMIKIANLAH aku belajar ilmu silat dengan cara yang aneh, yang kutemukan secara tak sengaja ketika tak sadarkan diri di tepi sungai itu. Ataukah seseorang telah sengaja memberikannya untukku? Jika dia seorang guru, jasanya terlalu besar untukku; dan jika dia seorang guru, bagaimana caraku mengucapkan terimakasih kepadanya? Karena agaknya dia telah mengikuti perjalananku. Bahkan tanpa kuketahui mungkin sering menyelamatkanku. Pertanyaanku tentu: Mengapa dia berbuat begitu?

Masalahnya, apakah masih penting ditanyakan kenapa? Jika harus selalu ada sebab dari perbuatan baik seseorang, apakah masih ada tempat bagi kebaikan itu sendiri? Betapapun, siapapun dia, aku harus menghormatinya. Tentang guru, kuingat dari bacaan: di tempat tanpa guru

satu kali pun nama Buddha takkan terdengar

para Buddha dari ribuan tahun Pencapaian Kebuddhaan tergantung kepada guru

Seorang murid harus mengabdi kepada guru. Aku juga ingin mengabdi kepada hidup yang telah memberi banyak pelajaran bagiku. Namun kini seseorang jelas telah mengarahkan aku, bukan sekadar agar selamat dari ancaman Naga Hitam, melainkan juga memberi pencerahan. Apakah yang bisa lebih mencerahkan ketimbang kemampuan untuk mengatasi ruang waktu? Tubuhku memang tidak mungkin berada di luarnya, tetapi pengolahan nafasku telah membuat pikiranku terbebaskan dari ruang waktu itu-ukuran ruang dan waktu manapun takberlaku lagi bagiku. Luas sempit lama sebentar hanyalah kupahami sebagai kesepakatan orang banyak, tapi tidak untuk diriku. Sepuluh tahun memang tetap sepuluh tahun waktu bum i, tetapi dalam samadhi aku takterikat waktu bumi tersebut. Ruang berada dalam diriku, bukan aku berada dalam ruang; dan dengan keberadaan ruang dalam diriku maka aku pun memiliki waktuku seperti yang kumau.

Guruku itu, entah siapa dia, tidak pernah mengajari dan hanya mengarahkan. Pada hari ketika aku pingsan, dengan jernih kuhayati ilmu silatku sendiri dalam bayangan di balik cahaya kemilau. Untuk se lanjutnya, aku belajar dengan cara yang sama, meski kemudian mengolahnya. Semuanya mengarahkan aku kepada pendapatku sekarang, betapa mempelajari ilmu silat sebetulnya harus juga berarti mempelajari pemikiran yang telah melahirkannya. Tanpa hal itu, ilmu s ilat hanya menjadi kekerasan tanpa keanggunan dan kecanggihan tanpa pesona. Tanpa seni, tanpa sastra, dan tanpa filsafat.

Dengan hanya mengemban kekerasan, ilmu silat menjadi kasar dan tanpa cinta, menjadi sampah kebudayaan.

Dalam sepuluh tahun waktu bumi telah kutempa diriku dengan kemampuan pembayangan dalam pertarungan. Makin lama makin terbiasa, sehingga aku mampu mengolah cikal bakal I lmu Bayangan Cermin. Bukan hanya mampu membaca dan lantas melakukan pembayangan, tetapi dari kemampuan pembayangan atas jurus apa yang mesti kuberikan sebagai tanggapan, karena kecermatan dalam menyerap jurus lawan, bisa kukembalikan jurus yang sama, yang agar tidak hanya bertabrakan, dan sebaliknya terjamin menembus pertahanan, harus dikembalikan secara terbalik. Sama, tetapi seperti kesamaan sebuah cermin, yakni serba terbalik.

Sebetulnya aku memang telah menguasainya dengan baik, berdasarkan olah pembayangan dalam samadhi, tempat diriku bisa bertarung melawan pembayangan suatu ilmu, tetapi tentu saja aku belum puas jika belum mengujinya dalam pertarungan sejati. Bukan sekadar karena keinginan mengujinya, melainkan juga karena dengan pertarungan sebenarnya aku akan menyerap ilmu silat lawan, suatu hal yang harus dilakukan demi pembalikan jurus-jurusnya sendiri secara mematikan dalam ketepatan terbalik bayangan cermin. Sementara, olah pernafasan dalam samadhiku, dalam sepuluh tahun dengan sendirinya telah meningkatkan ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalamku. Memang benar pesan tertulis pada batu di dasar sungai itu: Perlu waktu sepuluh tahun bagiku untuk siap menghadapi Naga Hitam. Sekarang aku sudah tidak sabar lagi ingin segera menghadapinya.

(Oo-dwkz-oO)

APABILA kemudian aku turun gunung tahun 786, ternyata kekuasaan Mataram sudah berada di tangan Rakai Panunggalan. Kekuasaan Rakai Panamkaran berakhir tahun 784. Berarti perubahan ini belum berlangsung lama. Apa yang terjadi? Sejak dulu aku kurang peduli dengan pertarungan kekuasaan di kalangan istana, apalagi sekarang ketika tanpa terasa sepuluh tahun telah berlalu.

Pergantian kekuasaan itu baru kuketahui kemudian melalui kedai, tempat terbaik untuk memasukkan diriku kembali ke dalam peradaban. Ini berarti aku harus kembali memakan daging, karena selama terpencil di puncak gunung aku hanya makan tetumbuhan, apakah itu buah, daun, atau juga akar tanaman, sedangkan sebuah kedai tak akan dikunjungi orang kalau hanya menyediakan makanan dari bahan tetumbuhan. Sebegitu jauh, aku tidak melihat alasan kenapa diriku harus berpantang makan daging. Aku bukan seorang rahib, bukan pula pedanda, meski bagiku hanya makan tetumbuhan selama sepuluh tahun tidaklah bermasalah pula.

Begitu masuk, aku baru sadar keadaan diriku.

"Hai pengemis! Berani-beraninya   kau masuk kedaiku!

Keluar!"

Hmm. Inikah peradaban?

"Aku punya uang," kataku, mengambil mata uang upahku sepuluh tahun lalu. Dalam pundi-pundi kulitku yang sudah usang, terdapat mata uang campur aduk, dari emas, perak, perunggu, tembaga, dan besi. Kuambil yang emas, kulempar ke atas meja.

"Bagaimana kalau pengemis itu bisa membayar dengan emas," kataku tanpa nada tanya, karena kutahu daya pesona emas yang takpernah terpadamkan.

Cepat sekali tukang kedai itu menyambar mata uang yang bentuknya gepeng seperti dadu dengan sudut-sudut membulat itu. Wajah yang semula angkuh itu menjadi ramah. "Segalanya bisa dibeli dengan emas," katanya, "mau makan apa?"

"Apa pun yang bisa dimakan Bubukshah," kataku. Itu berarti aku mau makan sesuatu dari daging.

"Hmm," pemilik kedai itu mengamatiku, "tapi sosokmu lebih

mirip Gagang Aking, dikau baru usai bertapa, atau barangkali gagal bertapa?"

Baru kusadari juga penampilanku yang hancur, karena busanaku yang hancur dalam dua tahun telah kuganti dengan kulit kayu, dan dari kulit kayu ke kulit kayu itulah busanaku sampai hari itu. Untunglah busana ini tidak terlalu as ing, setidaknya para rahib ada yang memakainya. Tepatnya rahib dan orang-orang yang hidup di hutan.

Aku harus menghindari percakapan berkepanjangan. "Berikanlah saja yang kuminta Bapak, atau emas itu harus

kuminta kembali?"

"Dengan emas ini dikau bisa makan banyak," ujarnya sembari menyiapkannya untukku, menciduknya dari deretan kuali tanah liat di belakang dia berdiri.

Lantas tibalah dia di depan meja dengan sejumlah mangkuk tanah liat yang padat berisi.

"INILAH rajamangsa, habiskanlah semua."

Saat itu aku belum pernah memakan rajamangsa yang berarti santapan raja. Mengikuti peraturan, rakyat biasa dilarang memakan santapan raja itu, karena memang tidak boleh menyamai apa pun yang dilakukan raja. Kemungkinan besar bahkan rakyat mana pun belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri santapan raja tersebut. Maka para juru masak atau tukang kedai mencoba mereka-reka sendiri apa yang disebut rajamangsa, sejauh seperti yang mereka pernah dengar, dan tentu hanya mengira-ira saja rasanya. Itulah yang  kumakan: Kambing yang belum keluar ekornya, dan satu lagi kusuruh ambil kembali, karena belum tega memakannya, yakni anjing yang dikebiri. Betapa tidak, karena aku sangat menyayangi anjing, binatang yang paling setia, dan paling bisa saling mengerti dengan manusia.

Orang-orang melihatku dengan pandangan bertanya-tanya. Kali ini kurasa bukan karena busana kulit kayuku, melainkan rambut dan wajahku yang sungguh tidak jelas ini. Aku makan dengan rakus dan tidak peduli. Bunyi makanan masuk mulut mungkin terdengar keras karena kuhirup tanpa mengunyahnya. Kulepas daging dari tulang di dalam mulutku, dan tulang-tulangnya berloncatan keluar dari mulutku itu. Memang sengaja. Biarlah mereka mengira diriku seorang astacandala , daripada terus mengira-ira dan menyibukkan aku dengan pertanyaan mereka.

Benar juga.

"Astacandala, bagaimana mungkin martabatnya naik jika makannya tak beradab begitu rupa. Tak adalah gunanya uang emas bagi mereka, karena adab tetap sulit diangkatnya."

Aku pura-pura tidak mendengar, dan terus menghirup dari dalam mangkuk dengan bunyi yang semakin sengaja kukeraskan.

"Sudahlah," kata kawannya, "mengapa lebih peduli kepada astacandala takberguna, pikirkanlah dahulu urusan kita."

Orang tadi tampaknya belum rela berhenti menghinaku, tetapi ia terpaksa kembali kepada perbincangan bersama kawan-kawannya, yang rupanya dilakukan dengan berbisik- bisik agar tidak diketahui orang lain.

Aku tetap menghirup makanan dengan bunyi keras, tetapi segera kugunakan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang untuk mengetahui apa yang mereka perbincangkan. (Oo-dwkz-oO)