Nagabumi Eps 42: Pertarungan Malam

Eps 42: Pertarungan Malam

PERAHU tambang mengikuti arus di sungai yang besar.

Radri di depan dan Sonta di belakang tampak bisa mengendalikannya tanpa kesulitan berarti. Hari menjelang senja, tetapi langit masih terang, di tepi sungai kulihat orang mandi, memasang bubu, dan mencuci. Mereka melihat ke arah kami dan kami melihat ke arah mereka. Mereka tentu melihat pedati-pedati lengkap dengan kerbaunya di atas perahu tambang ini, tetapi aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Kusaksikan anak-anak gembala menunggangi kerbaunya. Ada kerbau, ada sapi, banyak anjing tampak berkeliaran. Kadang terdengar sayup-sayup celoteh mereka yang berada di tepi sungai, ditingkah suara tertawa-tawa para petani yang kembali dari sawah. Di belakang mereka hutan bambu yang rimbun dan pohon-pohon kelapa menghalangi pandangan langsung ke desa mereka. Dari arah perahu, pemandangan seperti itu menimbulkan berbagai pertanyaan padaku: Siapakah mereka, datang darimana, sejak kapan berada di sana?

Yawabumi belakangan ini menyaksikan kedatangan orang- orang asing di sepanjang pantai utara. Sebagian di antaranya mungkin saja menyusuri sungai ini. Orang-orang keling yang tegap dan hitam, orang-orang negeri atap langit yang kecil, putih, dan berkuncir rambutnya, serta orang berkulit putih tegap perkasa dan melintang kumisnya. Mereka membawa barang-barang yang semula tidak dikenal di Yawabumi, untuk dipertukarkan dengan hasil bum i. Tanaman memang tidak tumbuh di semua tempat, tetapi yang tumbuh di Yawabumi rupa-rupanya berguna untuk obat-obatan, pewangi, dan banyak hal yang belum terlalu dikenal. Sebaliknya penduduk Yawabumi tidak sepenuhnya mengerti pengolahan bahan- bahan hasil bum inya sendiri, kecuali yang bisa dimakan-maka semula kain sutera harus dibayar mahal sebelum mampu meniru dan membuatnya sendiri. Namun dalam hal meniru, penduduk Yawabumi dapat melakukannya dengan cepat sekali, dengan hasil yang mencengangkan, sehingga untuk keperluan sehari-hari kemudian tidak tergantung pedagang negeri as ing lagi. Banyak desa kemudian dikenal dengan keterampilan tertentu yang berbeda dengan desa-desa lain yang telah memiliki keterampilannya masing-masing, yang hasilnya beredar ke seluruh negeri.

Pada usia 15 tahun, kenyataan semacam itu kukenali sedikit demi sedikit, bersama dengan terserapnya aku dalam kenyataan hidup sehari-hari. Memang benar selama diasuh Sepasang Naga dari Celah Kledung aku kadang-kadang diajak keluar, bahkan cukup sering diajak beranjangsana ke desa- desa di sekitar Celah Kledung itu. Tentu kedua orangtua asuhku itu se lalu berkata, "Tidak perlu mereka tahu bahwa kita adalah orang-orang persilatan, kita menyamar sebagai pengelana yang mencari ilmu kesempurnaan hidup." Maka, aku pun sedikit banyak mengenal kehidupan orang-orang awam. Di setiap desa itu se lalu ada guru yang dituakan, dan mereka itu memiliki kitab-kitab yang bisa dibaca, sehingga orangtuaku merasa ada gunanya mempelajari pengetahuan yang mereka kuasai. Namun sebegitu jauh, betapapun kehidupanku bersama kedua orangtuaku itu adalah kehidupan para pendekar yang ingin mencapai kesempurnaan hidup melalui ilmu persilatan. Kehidupan orang awam tidaklah menjadi perhatian utama, meski mereka tidak melupakannya.

"TIDAK ada jalan hidup yang lebih mulia dibanding jalan hidup yang lain," kata ibuku, "jalan hidup seorang pendeta tidaklah lebih tinggi dari jalan hidup tukang emas. Ukuran kesempurnaan pendeta tidaklah lebih tinggi dari ukuran kesempurnaan tukang emas, begitu pula ukuran kesempurnaan pendekar silat tidaklah lebih tinggi dari ukuran kesempurnaan petani bawang, karena dalam setiap jalan, kesempurnaan menunjukkan pencerahan. Ingatlah itu selalu Anakku."

"Lantas apakah ukuran tinggi dan rendah untuk membandingkannya, Ibu?"

"Tidak ada ukuran untuk membandingkannya, Anakku, bahkan sesama pendekar silat sebetulnya takmungkin saling membandingkan kesempurnaannya, karena kesempurnaan adalah ukuran masing-masing."

"Jadi kenapa para pendekar harus saling bertarung Ibu, jika kesempurnaan adalah ukuran masing-masing?"

"Pertarungan hanyalah sekadar cara untuk merayakan kesempurnaan itu Anakku, bukan siapa kalah dan siapa menang ukuran kesempurnaannya, karena yang kalah dapat menjadi sempurna dalam kematiannya, tetapi yang menang belum tentu sempurna dalam kemenangannya."

"Jadi apakah kesempurnaan itu Ibu?"

"Kesempurnaan adalah pencapaian dari segala kemampuan, Anakku, masalahnya kita tidak pernah tahu apa yang dapat kita capai sebelum mencapainya."

"Jadi apakah artinya pencapaian dalam kematian itu Ibu?" Aku teringat Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku. "Itulah rahasia kesempurnaan, wahai Anakku sayangO"

Perahu tambang masih melaju sementara langit mulai meremang. Hari ini beberapa pekan sudah memasuki bulan Asuji , pertanda setiap saat hujan akan mulai turun. Kudengar bisikan sungai yang seperti se lalu menceritakan sesuatu, sementara aku termenung-menung teringat orangtuaku. Ke manakah mereka pergi? Mengapa dikatakannya pergi untuk tidak kembali? Apakah mereka bertarung dengan seorang pendekar mahasakti sehingga kematiannya adalah pasti? Ataukah mereka berhadapan dengan sebuah partai besar yang akan mengeroyoknya, ataukah dengan pasukan kerajaan yang besar sehingga kematiannya bukanlah sesuatu yang mustahil? Aku tidak yakin betapa Sepasang Naga dari Celah Kledung itu bisa dikalahkan, tetapi aku juga percaya mereka tidak akan pernah muncul kembali, karena mereka tidak akan pernah menyatakan sesuatu yang tidak pasti. Aku sendiri, sete lah mereka beritahukan betapa aku bukanlah anak mereka sendiri, lantas merasa tidak berhak menuntut apapun. Bukankah mereka telah limabelas tahun merawat seorang anak yang tidak pernah diinginkannya?

Tanpa tersadar air mataku mengambang. Kuhapus sebelum semua orang di atas perahu melihatnya, tetapi Naru memandangku seperti orang yang mengerti meski sama sekali tidak bertanya. Sungai besar ini berkelak-kelok bagaikan takberujung, meski aku tahu ini akan berakhir di lautan yang belum pernah kusaksikan. Kini kusadari betapa masih miskin pengalamanku dan betapa menjadi pengembara adalah keinginan yang paling memenuhi cita-citaku, yakni melihat semua tempat yang belum pernah kulihat. Namun dengan sendirinya, demi jaminan keselamatanku di dunia yang belum sepenuhnya kukenal, aku harus menguasai ilmu silat yang tidak sekadar cukup untuk membela diri, melainkan juga takterkalahkan. Aku belum ingin mati dalam kesempurnaan seorang pendekar, aku tidak ingin mati terlalu dini karena aku masih ingin melihat dunia.

Kami telah meninggalkan Campaka di pelabuhan sungai yang berada di dekat delta, Naru telah membelikan untuknya seekor kuda perkasa yang segera dicongklangnya menyusuri jalan ke Ratawun, tempat para pejabat negara menantikan barang-barang ini.

MEREKA harus diberi tahu bahwa barang-barang ini akan datang terlambat dan harus diberi tahu pula sebab-sebabnya, agar para pejabat itu tidak sembarang menyalahkan para mabhasana sederhana yang telah berjuang keras melebihi tugasnya, bahwa mereka hampir pula menjadi korban dari akibat yang tidak menjadi tanggungjawab mereka. Sebaliknya para pejabat itulah yang harus menyadari, betapa rawan urusan tanah yang dijadikan sima ini telah dimanfaatkan lawan-lawan kekuasaannya, bahkan sampai menumpahkan darah, demi kepentingan yang menjadi tugas mereka untuk menyelidikinya.

Campaka langsung memacu kudanya tanpa menoleh lagi, ketika kami baru akan makan dari perbekalan yang baru saja kami beli. Sungguh ia seorang perempuan pemberani. Jika ia mendapatkan guru silat yang tepat, betapa akan sangat meningkat kemampuannya. Ini mengingatkan diriku kepada keadaannku, yang sama sekali belum memiliki kemampuan cukup untuk menghadapi Naga Hitam. Sedangkan Naga Hitam itu sudah jelas sedang memburu diriku untuk mencabut nyawaku. Namun kapankah waktuku untuk memperdalam ilmu? Berbagai peristiwa yang melibatkan diriku menuntut keterlibatanku untuk membela mereka yang lemah dan tidak berdaya. Aku tidak bisa menghindarinya demi kepentingan diriku sendiri. Dalam keadaan begini suatu pilihan yang sadar harus dilakukan, karena aku tidak ingin menyesali apa pun yang telah menjadi keputusanku. Setidaknya aku harus mengantar para mabhasana dengan barang-barang yang telah dipesan ini dengan se lamat sampai ke Ratawun, tempat upacara penyerahan sima akan diadakan.

Kini apabila kami menyusuri sungai dalam senja yang mulai meremang, kubayangkan pula Campaka melaju sendirian di atas kudanya dan akan melaju terus sepanjang malam. Bagaimanakah kiranya jika Kera Gila itu mencegatnya? Apakah jaminannya, bahwa sebagai pelacur yang selalu menerima kepala perompak sungai itu sebagai langganannya, lantas perempuan itu tidak dirobek-robek sebagai ganti kekecewaannya? Aku menjadi gelisah dengan kemungkinan itu, meski tahu betapa Campaka adalah perempuan yang banyak akalnya.

Namun seandainya pun tidak ada masalah dengan barang- barang dalam pedati ini, tidakkah seorang perempuan yang pergi sendiri seperti itu, tidak seperti mengundang bahaya? Dalam kegelapan sepanjang perjalanan, petualang manakah yang tidak akan menguji kemampuannya untuk mengganggu Campaka? Kugeleng-gelengkan kepalaku dengan keras, bagaikan mengusir berbagai bayangan tentang Campaka, mencoba meyakinkan diriku sendiri betapa segala kekhawatiranku adalah berlebihan. Kucoba memikirkan sesuatu tentang cara memperdalam ilmu silatku, agar setiap saat siap menghadapi Naga Hitam, bahkan bila perlu menantangnya lebih dahulu.

(Oo-dwkz-oO) SAAT itu senja telah menjadi malam dan di balik kegelapan kulihat sesuatu berkelebat. Kewaspadaanku meningkat tinggi, segera kupasang ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang yang belum pernah kumanfaatkan. "Jika dikau menggunakan ilmu ini, anakku," kata ayahku, "pendengaranmu akan sama baiknya dengan para pendekar silat yang buta, yang telah menggunakan telinganya sebagai mata mereka. Namun dikau juga harus menutup mata seperti mereka."

Demikianlah kupejamkan mataku, lantas kudengar hujan datang dari kejauhan. Masih ribuan depa dari perahu ini, tetapi aku sudah mendengar hujan itu datang menderu. Tentu bukan hujan itulah yang ingin kuketahui keberadaannya, melainkan bayangan berkelebat yang tidak bisa diikuti oleh mataku. Dengan menguasai ilmu meringankan tubuh yang tinggi, seorang pendekar silat dapat berkelebat tanpa bisa diikuti oleh mata, tetapi dengan ilmu silat yang kukuasai, kelebat pendekar silat mana pun selalu bisa kuikuti. Maka apabila bayangan yang berkelebat ini hanya bisa kutangkap sebagai kelebat bayangan sahaja, tentu ilmu meringankan tubuh manusia yang berkelebat tersebut sudah sangat tinggi sehingga hanyalah dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang akan bisa kulacak jejaknya seberapa ringan pun bobot tubuhnya, karena ilmu pendengaran ini terarah kepada gesekan tubuh dengan udara.

Dengan segera kutangkap langkah-langkah ringan di atas air menuju diriku! Aku tak sempat memberitahukan apapun kepada kawan-kawanku. Kutarik dua pedang dari punggungku tanpa membuka mata dan segera menyambut bayangan berkelebat menyerbu itu dengan Jurus Penjerat Naga.

PADA saat itu pula hujan tiba di perahu tambang dan menyiram kami dengan curah kelebatan yang luar biasa. Aku mengerahkan segenap ilmu pendengaranku untuk memisahkan hujan dari gerakan luar biasa penyerang ini. Ia tidak menggunakan senjata, ia menggunakan kedua tangannya, dan tangannya itu tidak memukul, melainkan mencakar. Sudah pasti inilah Si Kera Gila! Aku menghindar kian kemari dan cakarnya sempat membaret punggung dan dadaku. Gerakannya aneh tidak seperti s ilat biasa. Tubuh agak membungkuk, kaki suka naik tanpa perlu, dan tangan jika sedang tak menyerang tergantung lurus seperti kera.

Namun Ilmu Silat Kera Gila ini menuntut perilaku seperti kera pula. Maka sebentar kemudian ia mendesis-desis dan disusul menjerit-jerit seperti kera. Kupilih untuk tetap memejamkan mata, karena aku tahu jika kubuka aku akan disergap kegelapan dan tirai hujan sehingga makin sedikit kemungkinan melihat bayangan berkelebat secepat itu. Dengan hanya mendengar suara gambaran keberadaannya sangat jelas, tidak terpengaruh oleh kegelapan dan tirai hujan. Kubiarkan ia menyerangku dalam jebakan Jurus Penjerat Naga dan kuayunkan kedua pedang pada gerakan terakhir, tetapi yang kali ini kugunakan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian.

Wuzz! Wuzz!

Terdengar jeritan membahana di sela derasnya hujan dan halilintar. Kedua tangan Kera Gila telah kubabat putus, tetapi ia menghilang karena meloncat ke sungai. Luar biasa! Ia belum mati! Padahal gabungan kedua jurus ini seharusnya memustahilkan kegagalan. Meski bagi Kera Gila kehilangan kedua tangan cakarnya itu boleh dianggap sama dengan kematian, aku tidak melepaskan kewaspadaan. Bukankah bagi kepala gerombolan perompak sungai ini air bagaikan rumahnya?

Benar juga. Saat kubuka mata sesosok bayangan muncul dari dalam air, menubrukku dari samping, dan membawaku masuk tercebur ke dalam air. Aku merasakan tubuhku dibekap dan sebuah gigitan menancap di leherku. Sungguh jurus gila dari Ilmu Silat Kera Gila! Ia sudah kehilangan dua tangan dan masih bisa menggunakan mulutnya! Di dalam air aku tidak bisa melihat apapun, dan ketika kututup mataku ternyata aku tidak bisa memisahkan bunyi apapun! I lmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang hanya memisahkan bunyi pergerakan yang menggesek udara dan tidak berguna di dalam air!

Gigitan Kera Gila di leherku sangat berbahaya dan tidak menancap lebih dalam hanya karena kukerahkan tenaga dalam pada tempat gigitannya, sehingga leherku itu menjadi sekeras kayu jati. Namun ini tidak bisa dibiarkan lebih lama, karena seperti cakarnya, gigitannya tentu juga beracun adanya, sesuai dengan nama ilmunya yang mengembangkan segenap perilaku kera. Gigitan dan cakar kera yang sesungguhnya tentu tidak beracun sama sekali, tetapi inilah Ilmu Silat Kera Gila. Dalam penanganan orang-orang golongan hitam, ilmu silat aliran apa pun selalu dihubungkan dengan racun yang mematikan.

Aku masih memegang dua pedang di tanganku, aku harus melepaskannya jika ingin membebaskan diri dari terkaman Ilmu Silat Kera Gila ini. Tidak ada jalan lain, terpaksa kulepaskan kedua pedangku itu. Kukerahkan tenaga dalam sepenuhnya ke dalam kedua lenganku. Kuarahkan tangan kiriku mencengkeram tengkuk Si Kera Gila sampai gigitannya terlepas, bersama tangan kanan keduanya mencengkeram tengkuk itu dan menariknya sampai terbalik di hadapanku. Aku tidak dapat melihat apa pun di dalam air sungai pada malam berhujan lebat seperti itu, kecuali suatu sosok dengan kedua tangan yang sudah terbabat putus. Aku tidak boleh lengah, maka kuajukan tangan kananku ke dadanya dengan Jurus Telapak Darah. Dari arah mulutnya langsung tersembur cairan kehitaman yang sudah pasti adalah darah. Lantas kulepaskan tangan kiriku karena nyawa Kera Gila jelas sudah melayang, dan tubuhnya langsung diserap kedalaman air dalam kegelapan. Aku segera meluncur ke permukaan sungai. Hujan deras menyambutku dan arus sungai membawaku. Tak kulihat perahu tambang itu. Aku melenting ke atas dan berkelebat di antara hujan memanfaatkan apapun yang tampak mengambang. Aku melesat ke hilir karena mungkin saja perahu tambang itu melaju cepat ketika aku diseret Kera Gila ke dalam air. Namun meski kuperkirakan betapa semestinya aku telah mendahuluinya, karena aku menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit, ternyata perahu tambang itu tidak tampak lagi! Apakah mereka telah mengalami sesuatu dan tenggelam? Mengingat keterampilan Radri dan Sonta kurasa hal itu tidak mungkin. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Membayangkan perahu tambang besar dengan pedati-pedati beserta kerbau penghelanya itu aku merasa sangat khawatir. Apakah yang telah terjadi? Bagaimana nasib para mabhasana

? Terbayang olehku, kedua tangan bercakar Kera Gila yang putus masih ada di atas perahu itu.

(Oo-dwkz-oO)