-->

Nagabumi Eps 41: Gerombolan Kera Gila

Eps 41: Gerombolan Kera Gila

AKU belajar membaca hanya untuk memperdalam ilmu

silatku. Hidupku penuh dengan gelimang darah para pendekar yang tewas dalam pertarungan melawanku. Memang, sebagian besar merupakan pertarungan yang adil, dan untuk sebagian yang lain adalah diriku yang mengalami ketidakadilan pertarungan, misa lnya dikeroyok oleh ratusan orang; sebegitu jauh akulah yang selalu keluar sebagai pemenang. Namun dengan semua itu tidakkah dunia persilatan ini menjadi dunia yang sia-sia? T idakkah sia-sia jika seseorang belajar ilmu silat bertahun-tahun bahkan berpuluh- puluh tahun hanya untuk terbunuh dalam pertarungan demi kehormatan, yang sama sekali bukan merupakan keadaan tak terhindarkan? Tidak seperti mati ketika membela diri, kematian dalam dunia persilatan adalah kematian yang dipilih sendiri, sebagai akibat jalan seorang pendekar yang memburu pemenuhan hidup dalam kemenangan atau kematian.

Aku yang setelah berumur seratus tahun hanya tahu bagaimana membunuh kini harus mengajari seorang anak tanpa dosa agar bisa membaca dan menulis? Layakkah aku? Namun anak itu terus bertanya dan aku tidak punya waktu untuk berpikir apakah akan terus mengajari atau menghindarinya.

"Langit! Bagaimanakah menulis langit?"

Maka aku mengajarinya bukan saja menulis langit, tetapi bagaimana cara memanfaatkan aksara yang dikenalnya, agar bisa menuliskan kata apa pun tanpa harus bertanya kepadaku lagi. Aku sadar, aku belum pernah dan belum mampu menjawab pertanyaan Nawa sebelum bisa membaca dan menulis: Apakah menulis itu? Namun setidaknya kuharap dengan belajar membaca dan menulis itu sendiri, setidaknya ia memahami pengertian paling sederhana yang selama ini kuhayati tentang menulis, yakni mencatat dan menyampaikan.

Mencatat, karena kita memindahkan segala sesuatu ke dalam tulisan; menyampaikan, karena tulisan adalah sesuatu yang dibaca, siapa pun pembacanya, meskipun itu penulisnya sendiri.

PERAHU tambang berjenis akirim agong ini sebetulnya lebih mirip rakit daripada perahu, karena memang hanya digunakan untuk penyeberangan. Namun memang ini rakit yang besar sekali, karena bisa memuat lima pedati, lima kerbau, dan para mabhasana, masih ditambah diriku, perempuan itu, dan kedua tukang tambang itu sendiri. Terbuat dari balok-balok kayu besar yang dirapatkan dengan ikatan sulur rotan, dengan lantai balok-balok kecil yang tersusun melebar di atasnya, yang meskipun sama sekali tidak rata, cukup memadai bagi roda-roda pedati dengan segala muatannya itu.

Rakit sebesar ini tampak kecil di sungai yang luas dengan berbagai jenis arus yang berbeda-beda kecepatannya di berbagai bagian sungai. Mereka yang tidak mengenal berbagai jenis arus yang tidak terlalu tampak dari permukaan ini, jika sembarang berperahu begitu saja tanpa bertanya-tanya, bisa terputar-putar mendadak tanpa tahu sebabnya. Permukaan air sungai tampaknya tenang, tetapi arus di bawahnya menghanyutkan. Sangat menghanyutkan. Begitu menghanyutkan. Sehingga jika seseorang terjatuh pada arusnya yang deras, maka ia akan segera langsung tenggelam dan menghilang. Tak peduli ia bisa berenang atau tidak bisa berenang. Maka tentunya para perompak sudah sangat mengenal letak berbagai arus sungai besar ini, sehingga mereka dapat datang meluncur seperti ikan lumba-lumba dari segala arah.

Sebagian orang telah tiba di perahu dan menyerang sembari berteriak-teriak seperti kera, membuat suasana gaduh, rusuh, dan menimbulkan kepanikan. Namun para anggota rombongan tampaknya tenang, aku bersyukur para mabhasana yang nyaris tidak menguasai ilmu silat itu mampu memusatkan pikiran dan membela diri dengan jurus apa adanya, yang betapapun berguna menyelamatkan diri mereka dari kematian. Sebagian dari para perompak itu bahkan sudah tewas di tangan perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai pelacur itu, yang entah darimana kini telah memegang dua golok. Tak ada seorang perompak pun berhasil menyentuhnya.

Namun tidak berarti keadaan sudah aman, karena bukan saja para perompak masih berdatangan seperti ikan lunba- lumba, melainkan mereka telah menggoyang perahu tambang ini dari bawah pula. Dalam kemiringan tertentu roda-roda pedati ini bisa menggelinding turun dan kerbau-kerbaunya bisa terseret masuk ke sungai dan tentu ini sangat berbahaya. Sementara itu yang menyerbu dari air telah melompat ke udara seperti ikan lumba-lumba, tangan mereka bergerak mengambil pisau yang digigitnya, lantas turun dengan gerak membacok ke segala sasaran. Aku bergerak cepat, berkelebat menyabet mereka sekaligus dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata, dan mereka mendarat di atas perahu tanpa bernyawa lagi.

"BUANG mayatnya ke sungai! Buang mayatnya!"

Tanpa disadari s iapa pun aku sudah berada kembali di atas perahu itu. Kubantu mereka membuang mayat-mayat bergelimpangan, karena yang harus dilakukan adalah melemparkan mayat-mayat itu ke arah kawan-kawannya yang masih datang menyerbu. Mereka yang masih meluncur di air seperti ikan lumba-lumba itu biarlah berpikir dua kali ketika mayat kawan-kawannya yang bersimbah darah menimpa mereka. Selain itu, mayat-mayat itu memang harus dibuang untuk memperluas ruang gerak di atas perahu. Namun kini mereka yang menggoyang semakin berdaya. Aku tak tahu bagaimana cara mengatasinya, karena meskipun aku telah dilatih kedua orangtuaku bertarung di dalam air, kuduga para perompak ini mempunyai kelebihan karena sangat mengenal sungai ini. Terbukti mereka tetap di bawah ketika perahu tambang ini mendadak makin cepat meluncur karena arus yang tiba-tiba menderas, bahkan perahu tambang ini telah berputar-putar pula. Mereka manfaatkan kesibukan Radri dan Sonta yang sibuk menghadapi serangan dari udara.

Maka sekali lagi aku berkelebat, kali ini menghadang mereka yang melayang seperti ikan terbang itu di udara, kugerakkan dua pedang dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian untuk memastikan hasilnya, dan dengan menjejak mayat terakhir yang masih melayang turun aku mendarat di perahu. Kedua tukang tambang itu mengerti maksudku, karena adalah tugas mereka menyelamatkan perahu. Sonta segera menyelam dari belakang dan Radri dari depan, sementara para mabhasana dan perempuan itu menusuk- nusukkan senjata di antara celah-celah balok mencari sasaran.

Sebentar kemudian darah menyembur dari balik celah-celah itu. Kemudian dengan masih berteriak kesakitan, tampak satu persatu para perompak lepas dan terapung-apung tanpa daya, sementara perahu meluncur cepat meninggalkan mereka. Kecepatan perahu ini taktersusul lagi oleh mereka yang belum mencapai perahu, kini perahu sudah bersih dari perompak, hanya darah mereka berceceran di mana-mana. Namun perahu berputar semakin cepat, sementara Sonta dan Radri agaknya masih bergulat di bawah perahu. Dengan setengah nekad aku masuk ke dalam a ir, menuju ke balik perahu, tentu tanpa pernah melepaskan pegangan tangan kiri pada tali rotan di antara balok. Sonta dan Radri masih saling mencekik dengan lawan masing-masing di dalam air, sementara tangan kiri masing-masing juga berpegangan pada tali rotan. Aku mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya, agar pedang di tangan kananku bisa bergerak dengan kecepatan yang sama seperti jika tidak berada di dalam air. Sekali putar selesailah sudah, kedua perompak yang terlepas cekikannya itu tenggelam diserap kedalaman. Darahnya yang berhamburan segera menyatu dengan air sungai.

Ketika kami bertiga naik ke atas perahu tambang, di sisi sebelah kanan sudah terlihat delta, dan perahu meluncur di antara jeram dengan kecepatan tinggi. Namun Radri dan Sonta, kedua penambang kami yang luar biasa itu, sudah s iap di tempat masing-masing dengan dayung yang mampu diandalkan untuk mengarahkan perahu tambang ini. Aku terkesiap, karena justru delta itulah yang disebut-sebut sebagai sarang para perompak sungai. Benar juga, pada dahan-dahan pohon besar yang menjorok sampai ke atas sungai, sehingga perahu kami takbisa menghindar untuk tidak lewat di bawahnya, tampaklah para perompak bergelantungan dan berlari-lari di atasnya seperti kera.

"Waspadalah Tuan! Gerombolan Kera Gila masih menghadang!"

Jadi nama gerombolan perompak sungai itu adalah Gerombolan Kera Gila. Sejak tadi telah kuceritakan cara mereka bertempur yang selalu sambil berteriak-teriak seperti kera. Namun mengapa harus disebut Kera Gila? Itu baru akan kuketahui nanti. Sekarang gerombolan perompak sungai itu sudah berada di atas perahu karena mereka telah meloncat turun dari dahan-dahan tempat kami lewat di bawahnya. Aku berloncatan ke sana kemari di atas perahu karena banyaknya para perompak itu. Pada setiap dahan yang rimbun di atas selalu ada perompak yang meloncat turun dan langsung menyerang dengan belati yang mereka ambil dari mulutnya. Teriakan mereka gegap gempita sepanjang dahan-dahan yang masih akan lama terlewati maupun di atas perahu ini sendiri. Mereka semua mengenakan serban hitam di kepalanya, hanya berkancut, yang juga hitam warnanya, tetapi belati mereka berkilat-kilat di bawah cahaya matahari.

Aku sangat khawatir dengan keselamatan para mabhasana yang harus menghadapi keadaan berat seperti ini. Mereka memang telah membela diri dengan baik menghadapi serangan satu persatu di ruang sempit perahu. Namun telah kulirik di atas itu para perompak juga memegang panah, sumpit, dan tombak yang siap dilemparkan.

MESKIPUN tidak menggunakan tenaga dalam, serangan rahasia dari tempat yang tidak diketahui bagi orang awam sangatlah berbahaya. Sedangkan bagi seorang pendekar saja, jika ia lengah sedikit pasti akan terlambat menangkisnya, padahal senjata semacam itu biasanya beracun. Maka aku pun berkelebat ke atas, dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian kubabat semua perompak itu tanpa kecuali seperti menebas rerumputan. Aku meloncat dari dahan ke dahan sementara perahu tambang itu mengalir di bawahnya, sehingga kadang-kadang ada perompak yang jatuh ke atasnya. Para mabhasana itu hanya perlu membuangnya karena tentu sudah tidak bernyawa.

Namun ternyata bahwa perompak itu cukup banyak, sehingga dari dahan pun aku harus melesat ke perahu untuk menangkiskan serangan panah, sumpit, dan tombak itu. Demikianlah aku meloncat dari perahu ke dahan untuk membantai dan kembali ke perahu lagi, dan aku belum bisa berhenti sebelum delta ini terlewati. Suasana sungguh riuh rendah karena angin bertiup kencang, sementara daun-daun berbunyi karena angin maupun perkelahian. Di antara dedaunan yang berkerosak itulah aku melesat dan setiap kali kedua pedangku bergerak, siapapun yang terjangkau di sekitarku pastilah nyawanya tercabut seketika. Seperti buah- buahan yang rontok mereka berjatuhan, ke sungai, ke perahu, atau tergelantung begitu saja terjepit dahan-dahan. Lantas, seperti tiba-tiba saja, delta itu sudah terlewati dan sungai itu menjadi lebar kembali. Tampaklah pelabuhan di seberang, tempat kami harus merapat nanti. Kudengar Radri berteriak kepada Sonta.

"Sonta, katakanlah kepadaku Sonta, siapakah mereka dan apakah kiranya yang telah dibawa oleh Tuan-tuan kita ini? Sudah terlalu sering kita berhadapan dengan astacandala Gerombolan Kera Gila itu, tetapi belum pernah para pengecut itu berani mati seperti sekarang ini."

"Bagaimana aku akan mengetahuinya Radri? Bukankah kita belum pernah terpisah semenjak terpaksa menambang karena tanah kita diambil demi kuil pemujaan? Mereka tampaknya datang dari kota dan tampaknya membawa barang-barang penting, bagaimana mungkin aku mengetahuinya Radri?"

Semula aku tidak mengerti cara mereka berbicara, tetapi perempuan yang menentukan dirinya sendiri harus mengikuti diriku ke mana pun aku pergi itu, kemudian berkata.

"Mereka bukan penduduk daerah ini Tuan, bagi mereka mungkin tidak sopan menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi urusan mereka, tetapi kali ini tindakan Gerombolan Kera Gila itu memang lebih dari biasa, sehingga mencurigakan mereka. Apalagi Tuan tampaknya telah membantai mereka, hampir semua, kecuali pem impinnya."

Aku terdiam. Aku tanpa sengaja telah mengamankan daerah ini, atau telah menambah kesulitan mereka?

"Gerombolan ini punya pemimpin? Siapa namanya?" "Dialah yang disebut Kera Gila itu Tuan, murid tokoh

persilatan yang disebut Naga Hitam."

Dadaku berdegup. Naga Hitam lagi. Jejaknya bagaikan ada di mana-mana. Namun usaha para perompak ini tidak berhubungan dengan diriku, melainkan dengan barang-barang wdihan dan berbagai a lat upacara ini. Kami harus menjelaskan semuanya karena aku merasa kami masih akan membutuhkan pertolongan kedua tukang tambang itu. Aku memperkirakan pemimpin perompak yang disebut Kera Gila itu masih akan berusaha menggagalkan pengiriman barang-barang ini. Bukanlah karena barang-barang ini mesti dirampok, melainkan karena upacara peresmian sima yang menggunakan barang- barang ini harus digagalkan. Mereka telah mengetahui jalur perjalanan dari kotaraja ke Ratawun, jadi kupikir lebih baik mengubah jalur perjalanan itu. Namun karena dengan itu perjalanan menjadi lebih lama, harus dikirim seseorang untuk memberitahukan berita keterlambatan tersebut.

Kuungkapkan gagasanku kepada Ranu dan juga kami ceritakan segalanya kepada kedua penambang tersebut.

"Ah, Tuan, sebaiknya kita turun di pelabuhan yang lebih jauh di selatan, perjalanan bisa sampai sehari semalam, tetapi jalan darat ke Ratawun menjadi lebih singkat," ujar Radri setelah mengetahui persoalannya.

Namun karena tetap akan terlambat, maka sebaiknya tetap dikirim seseorang yang memacu kuda untuk sampai ke sana. Siapa? Jelas diriku diandalkan Ranu untuk tetap bersama pedati-pedati dengan segala muatannya ini, dan bagiku memang tidak ada pilihan lain.

"Siapa di antara kalian yang berani menuju Ratawun?"

Suara arus sampai terdengar jelas karena semua orang terdiam.

"Kukira bisa dua orang, meskipun kita harus membeli budak di jalan untuk mendorong pedati."

MASALAHNYA bukan perjalanan, melainkan kemungkinan tetap dicegat sisa Gerombolan Kera Gila, jika bukan Si Kera Gila sendiri. Konon ia diberi nama Kera Gila karena I lmu Silat Kera Gila yang dikuasainya. Dengan kedua tangannya ia biasa merobek-robek tubuh dan wajah lawan. Aku tidak bisa membayangkan perbendaharaan ilmu silat Naga Hitam, hampir setiap murid memiliki ilmu s ilat berlainan.

"Biar sahaya yang berangkat Tuan," tiba-tiba terdengar suara di luar lingkaran.

Perempuan itu memang tidak disertakan dalam perundingan. Namun kami semua masih teringat kegagahannya dengan dua golok. Meskipun tidak mempunyai tenaga dalam, ketangkasan seperti yang kusaksikan itu sangat bisa diandalkan.

Aku terharu dengan perjalanan nasib perempuan itu, yang kini bersimpangan dengan urusan kami.

"Perempuan gagah, siapakah namamu?"

Perempuan itu tetap menunduk. Aku masih teringat, ketika ia dibopong sebagai pelacur oleh lelaki tinggi besar yang dibunuhnya, pandangan matanya yang jalang telah membuat dadaku berdebar-debar. Agaknya itu hanyalah pandangan sebuah peran. Sejak mengikuti rombongan kam i, karena telah dibebaskan Ranu dengan pembayaran kepada para pejabat yang mewakili kerajaan, terlihat betapa menjadi pelacur baginya hanyalah sebuah pekerjaan, yang telah dijalaninya demi sebuah pembalasan dendam. Kini ia menyerahkan hidupnya kepada orang yang telah menyelamatkannya dari pembakaran. Namun bukan berarti aku siap mengorbankannya jika tawaran itu kupenuhi. Betapapun perempuan ini merupakan pilihan terbaik dalam keadaan seperti sekarang.

Karena ia masih diam, aku bertanya lagi.

"Perempuan gagah, apalah salahnya kami mengetahui dikau punya nama? Adakah sesuatu yang melanggar peraturan?"

Ia menghela nafas panjang, tetapi tidak mengangkat kepala ketika menyebutkan namanya dengan perlahan. "Campaka "

Kami saling berpandangan.

"Campaka, tahukah dikau kemungkinan yang akan dikau hadapi dalam perjalanan?"

"Sahaya mengetahui sepenuhnya Tuan, karena telah memikirkannya."

Ia bukan saja gagah, tapi juga cerdas. Ia memang lebih tua dariku, jauh lebih tua bahkan. Mungkin usianya 25 tahun. Namun kukira pengalaman telah membuatnya jauh lebih matang. Tentu baru setelah berumur 100 tahun ini aku mampu menilai, bahwa dalam hal cinta ia sangat kurang perhitungan. Tentu, apakah masih bernama cinta jika segala sesuatunya diperhitungkan bukan? Namun dalam umur 15 tahun ketika itu, yang kurasakan hanyalah kekaguman.

"Bahwa dikau akan dicegat sisa Gerombolan Kera Gila, jika bukan Si Kera Gila sendiri? Apa yang akan dikau lakukan?"

"Percayalah kepada diri sahaya Tuan. Sahaya seorang pelacur dan Si Kera Gila adalah langganan sahaya, pasti sahaya akan bisa menghadapinya."

"Si Kera Gila langgananmu? Bagaimana caranya?"

"Ia selalu datang menyamar, hanya sahaya yang mengetahui dirinya adalah Kera Gila."

Aku tidak bertanya lebih lanjut, meski masih ada pertanyaan tersisa, yakni apakah selama ini Kera Gila tahu bahwa Campaka ini mengenalnya, atau tidak mengetahui sama sekali, karena hal semacam ini akan ikut memengaruhi nasibnya jika bersua. Aku percaya dia tahu apa yang sedang dilakukannya. Namun kutanyakan juga sesuatu yang lain,

"Campaka, dikau tidak harus berangkat jika merasakannya sebagai sesuatu yang berat. Bagaimana jika dikau alami sesuatu yang mengerikan?" "Sahaya hanya seorang pelacur, Tuan. Jika sahaya mati, siapa pun di dunia ini tidak perlu merasa kehilangan. Berilah sahaya kuda yang segar, semoga tugas ini akan dapat sahaya jalankan."

Aku merasa berat melepaskannya, dan merasa tidak pantas. Namun keterampilannya bermain golok yang telah kusaksikan hari ini memberikan kepadaku keyakinan, bukan karena dengan itu dapat diimbanginya Kera Gila yang ternama, tetapi karena keberanian dan kecerdasannya pasti akan menyelamatkannya. Tentu saja ini pertimbangan yang juga terdorong oleh perasaan seorang remaja, yang sangat terkesan dan terpesona oleh seorang perempuan yang baginya tampak begitu dewasa. Dadanya yang ketika kulihat pertama kali tertutup oleh rambutnya yang panjang, telah ditutup dengan ikatan selembar kain ke punggungnya. Rambutnya yang panjang pun telah dimasukkannya ke dalam kain serban yang melingkari kepalanya, sehingga sepintas lalu ia akan tampak sebagai lelaki. Dua golok kini tersoren di punggungnya, sungguh bagaikan seorang pendekar.

Selama percakapan Campaka selalu menundukkan kepala, tetapi kurasa ia tahu bagaimana aku telah memandanginya.

(Oo-dwkz-oO)