-->

Nagabumi Eps 40: Apakah Menulis Itu?

 
Eps 40: Apakah Menulis Itu?

PEMBACA yang Budiman, iz inkan diriku yang tua ini beristirahat sebentar. Dalam usia seratus tahun, meskipun aku masih mampu bertarung tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum, kalaulah ada lawan yang bisa bertahan selama itu, menuliskan riwayat hidupku ini ternyata tak kalah memakan tenaga. Terasa benar sekarang bahwa aku ini memiliki pinggang dan tulang belakang. Aku telah duduk dan menulis terus menerus menggoreskan pengutik pada keping- keping lontar itu lebih dari satu bulan di teras rumah, sampai tetangga-tetangga mengira aku seorang kawi. Selama itu aku harus menjaga samaranku dengan terus-menerus menyemir rambutku yang seluruhnya sudah memutih agar tetap tampak hitam. Begitupun, aku tetaplah terlihat sebagai orang tua, dan pemandangan orang tua menulis tidaklah terdapat di kalangan rakyat jelata.

ORANG tua yang menulis menjadi warga istana, rumahnya pun tidak akan terlalu jauh dari sana. Rakyat hampir semuanya tidak bisa membaca dan menulis. Hanya mereka yang mempunyai tekad kuat ingin membaca dan menulis akan menghabiskan waktunya untuk belajar dari seorang guru, dan pada saatnya akan mengabdikan hidupnya kepada pekerjaan membaca dan menulis tersebut. Sedangkan tekad tersebut hanya dapat dimiliki seseorang yang bukan saja merasa membaca dan menulis adalah baik, tetapi juga merasa dan yakin akan mampu melakukannya dengan baik. Berbeda denganku, yang hanya mengikuti saja kebiasaan pasangan pendekar yang mengasuhku, yang selalu menghubungkan segala pengalaman kepada pemikiran dalam kitab-kitab, sehingga aku terbiasa melihat orang membaca dan membicarakan isinya, di kalangan rakyat biasa kemampuan membaca dan menulis berada di luar jangkauan pemikiran.

Kitab-kitab sampai kepada rakyat dengan suatu cara, yakni lewat seorang juru dongeng yang akan menceritakan kembali isi kitab-kitab sebagai hiburan, seorang guru agama yang menjadikan kitab-kitab itu sebagai pedoman, atau melalui seorang pembaca yang akan membacakannya di depan orang banyak, sebagai hiburan maupun pendidikan. Dengan cara itulah isi kitab-kitab dikenal dan dapat digambarkan kembali dalam bentuk wayang topeng, tarian, maupun patung dan gambaran cerita yang ditatahkan pada batu. Memang, dari antara mereka yang menyukai dan senang membicarakan isi kitab itu jugalah akan muncul seseorang yang dianggap berbakat dan layak dilatih untuk menulis. Dari sanalah para kawi yang bekerja untuk kepentingan istana akan mencari penggantinya, tetapi yang memang akan lebih sering ditemukan di keluarganya sendiri.

Ini membuat mereka yang menguasai kemampuan membaca dan menulis memiliki kekuasaan, karena mengetahui lebih banyak, bahkan menguasai pengetahuan itu untuk diri mereka saja, sehingga menggenggam kesahihan untuk mengatur dunia. Bukankah telah kuceritakan tentang terdapatnya prasasti yang berisi kutukan? Aku yakin sepenuhnya, betapa penggubah kalimat maupun pengukir kalimat kutukan pada batu atau lempengan logam tersebut juga tidak percaya, bahwa yang dibuatnya itu akan benar- benar berakibat dengan terkutuknya para pelanggar maklumat. Mereka hanya tahu betapa aksara yang tertuliskan itu, karena makna yang diungkapnya, memungkinkan dianggap sebagai sakti dan bertuah. Kemungkinan inilah yang mereka manfaatkan untuk menguasai. Mereka yang mengetahui akan menguasai mereka yang tidak mengetahui, karena bagi yang tidak mengetahui, dunia ini memang penuh dengan daya kuasa yang menentukan atas dunia dan kehidupan mereka.

Telah kuceritakan betapa para penulis sebagian besar menjual jiwanya kepada penguasa, demi keselamatan dan kesejahteraan hidup mereka, karena dalam ketidak mampuannya menguasai pengetahuan, para penguasa sering merasa kurang terancam jika para penulis yang menguasai pengetahuan itu disingkirkan. Ini terjadi jika dirasakan betapa seorang penulis tampaknya tidak akan terlalu setia kepadanya, dan menulis apapun tanpa bisa diatur dan diperiksanya karena tidak mampu membaca. Maka penawaran atas kenyamanan dan keamanan pribadi adalah cara terbaik bagi penguasa istana untuk mengukuhkan dan mengabadikan kekuasaannya. Jika tidak, seorang penulis layak disingkirkan, apakah itu dias ingkan, atau dibunuh beserta seluruh keluarganya. Kemungkinan terakhir inilah yang sangat mungkin membuat seorang penulis memilih untuk bekerja di bawah perlindungan istana.

Namun aku tetap menjalankan perananku sebagai pembuat lontar. Dengan itu kuharap pemandangan bahwa aku selalu menulis jika sedang tidak membuat lontar menjadi wajar, meski sebetulnya pembuat lempengan lontar dari lembar- lembar daun rontal bukanlah dari golongan yang bisa menulis. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan se lain itu, karena telah kuputuskan untuk terus menuliskan apapun yang bisa kuingat. Dalam umur seratus tahun, setiap orang pantas memperhitungkan betapa maut akan menjemputnya setiap saat, sedangkan aku tidak ingin mati penasaran tanpa mengetahui sebab musabab yang pasti, kenapa aku diburu dan dilombakan untuk mati dengan hadiah 10.000 keping inamas seperti itu.

Aku memang harus tetap waspada, karena di negeri ini, siapapun yang buta huruf tetap tahu nilai mata uang. Meskipun tidak hidup sebagai pembaca dan penulis, para tikshna atau pembunuh bayaran setidaknya mampu membaca pengumuman tentang seseorang yang diburu dengan hadiah uang. Padahal para tikshna ini sungguh terlatih mencari seseorang yang menghilang. Maka sembari menulis, aku tidak pernah melepaskan kewaspadaan.

Tulisanku sendiri tidak memuaskan. Aku ingin mengurutkan riwayat hidupku satu persatu, mengulang kembali hari ke hari tanpa ada yang luput, tetapi bukan saja ingatanku yang sangat terbatas, melainkan juga kemampuanku bercerita secara runtut itulah yang juga menjadi masalah.

BUKAN saja urutan waktunya tidak berjalan dalam suatu garis lurus, melainkan terlalu sering set iap kali meloncat ke belakang, karena setiap kali harus menceritakan sesuatu yang berada di masa lalu dalam catatan atau ingatan seseorang, bahkan bisa saja terjadi merupakan ingatan atas ingatan lagi. Cerita yang hanya kudengar dari ingatan seseorang atas ingatan seseorang pula, tetap harus kuceritakan sebisa- bisanya secara utuh bukan? Karena aku ingin menuliskan segala sesuatu yang dapat dituliskan, bukan sekadar karena akan selalu ada gunanya, tetapi juga karena semakin banyak yang terungkap dari masa laluku, semakin terbuka kemungkinan untuk membongkar teka-teki keberadaanku sekarang ini sebagai manusia yang diburu untuk dimusnahkan. Memang benar aku telah menyusun sejumlah dugaan seperti yang telah kuceritakan, tetapi tanpa bukti bahwa dugaanku tidak keliru. Namun usaha menuliskan kembali segala sesuatu selengkap-lengkapnya juga membuatku khawatir atas panjang tulisan dan lamanya waktu penulisanku. Jika aku mengawali cerita sejak umur 15 tahun, ketika pasangan pendekar yang mengasuhku itu pergi meninggalkan aku, takberarti aku tidak mempunyai ingatan atas tahun-tahun sebelumnya. Masalahnya, jika dari masa selama aku berumur 15 tahun itu saja masih sedikit sekali yang kuceritakan dari ingatanku, lantas akan berapa lama lagikah aku masih akan menuliskan seluruh riwayat hidupku? Sudah kukatakan tadi, duduk menulis terus-menerus bagi orang tua seperti aku ini ternyata bukan tanpa akibat.

Kadangkala anak-anak tetangga datang menggangguku. "Kakek tua! Kakek tua! Kenapa selalu duduk menulis tanpa

pernah bekerja?"

Rupanya mereka terbiasa melihat orang tuanya berangkat keluar rumah untuk bekerja. Pemandangan bahwa seseorang hanya duduk dan menulis terus-menerus setiap hari tampaknya mengherankan.

Namun di antara anak-anak yang selalu ingin tahu itu terdapat salah satu yang cerdas dan berani. Ia tidak ingusan, ia tidak telanjang, ia tidak menggigit jari, dan ia tidak pernah lari kalau ditakut-takuti. Matanya sungguh tajam dan ia dengan berani mendekat begitu saja kepadaku, memperhatikan aku mengguratkan aksara yang membentuk kalimat di atas lembaran lontar. Ia suka berdiri lama sekali, memperhatikan aku, lantas memperhatikan tulisanku.

"Kakek melakukan apa?"

Begitulah akhirnya suatu hari ia bertanya. "Kakek sedang menulis," jawabku sekenanya.

Karena, bukankah aku sedang menulis dan sedang berjuang keras mengingat segala hal dari masa lalu "Apakah menulis itu?"

Pertanyaan seperti ini membuat aku berhenti menulis, karena memang tidak bisa dijawab dengan mudah, apalagi jika yang bertanya adalah seorang anak kecil umur enam tahun. Bahkan kukira aku sungguh tidak berdaya menjawabnya, dalam pengertian bahwa aku memang tidak tahu, apakah sebenarnya menulis itu. Memang, seperti kupelajari dari pasangan pendekar yang mengasuhku, aku telah belajar membaca, dan karena itu bisa juga menulis, tetapi aku dan juga kedua orang tua asuhku itu banyak membaca bukan dalam rangka menulis, melainkan untuk belajar ilmu silat. Menurut orang tua asuhku itu, kitab bisa menjadi pengganti guru, sehingga jika seorang guru tidak bisa ditemukan, kitab ilmu s ilat bisa memberikan segalanya sebagai pengganti seorang guru.

Maka apakah sebenarnya menulis itu sama sekali tidak pernah kupikirkan. Meskipun aku telah mampu membaca semenjak usia kanak-kanak karena mengikuti kehidupan kedua pendekar itu, yang kemudian kupikirkan hanyalah ilmu persilatan dan bukan tentang penulisan itu sendiri. Bahkan kurasa aku tidak menyadari sepenuhnya, bahwa dalam kehidupan di Yawabumi ini, se lain terdapat raja, abhiseka, rakai, mapatih, mahamantri, haji, senapati, samget, nayaka, rama, wiku, pedagang, perajin, pemungut pajak, pekerja seni, tukang celup warna, dan pembuat gula, terdapatlah para penulis.

Aku hanya senang membaca dan menghargai keberadaan kitab-kitab sebagaimana orangtuaku telah mengumpulkannya dalam sebuah peti kayu. Namun tiada terpikir olehku bahwa segala kitab itu mulai tertulis sejak aksara pertama, menjadi kata, membentuk kalimat, menjelma susunan pengertian yang mendorong perbincangan dalam kepala pembacanya. Betapa benda mati berwujud lempengan lontar tergurat-gurat itu mampu menghidupkan jiwa dan pemikiran pembaca, dan semua itu diberikan oleh seorang penulis.

Aku nyaris tidak pernah terlalu memikirkan soal itu, karena aku membaca untuk mencari kebahagiaan, bukan menambah beban pikiran, meski kitab yang baik memang selalu berhasil merangsang pemikiran. Jadi, aku memang tidak tahu apakah sebenarnya menulis itu, tetapi aku juga tahu bahwa pertanyaan anak kecil yang seperti itu tidak boleh dijawab dengan seadanya, karena jawaban apapun akan dibawanya seumur hidup.

”SIAPA namamu Nak," kataku. "Namaku Nawa," katanya.

Maka kuambil lembaran lontar yang belum ada tulisannya, dan kugoreskan pengutikku untuk membentuk aksara na.

"Coba lihat, aksara ini berbunyi na."

Nawa mengulang pelan, terbata-bata, sembari menunjuk huruf tersebut.

"Ak-sa-ra i-ni ber-bu-nyi na."

Kemudian kutuliskan aksara wa di sampingnya. "Kalau ini buny inya wa."

Mulutnya menirukan. "Wa..."

Kemudian kutunjuk na, kemudian wa, sementara mulutku menirukan.

''Na-wa. "

Lantas anak itu mengulanginya dengan mantap. "Nawa!"

Ia tertawa-tawa sendiri sambil mengulang-ulang kata itu, sambil menunjuk dirinya sendiri. "Na-wa! Na-wa! Na-wa!"

Aku tersenyum. Bukankah anak kecil memang selalu menyenangkan? Tentu saja asal ia tidak telanjang dan kotor, tidak ingusan sampai bibir, yang sebentar-sebentar diserap hidungnya ke atas, tidak memasukkan jari ke dalam mulut, dan tidak me ledak tangisnya setiap kali seseorang mendelikkan mata kepadanya.

Kuambil tangannya agar memegang pengutik itu. Kubimbing untuk menggurat lembaran lontar yang masih kosong.

"Sekarang tulislah namamu sendiri..."

Kuguratkan, melalui tangannya yang memegang pengutik, aksara na.

"Nah, ini berbunyi Na. "

Disusul aksara wa.

"Dan ini Wa.... Coba baca sekarang. "

Ia melirikku sebelum mengejanya. "Na....Wa "

Kemudian ia menatapku lagi.

"Nawa mau menulis banyak-banyak."

Kutatap anak lelaki itu. Matanya bening. Rambutnya hitam legam. Apakah berarti aku harus mengajarinya? Aku tidak pernah mengangkat seorang murid pun dan tidak pernah merasa membutuhkannya, tetapi itu dalam ilmu persilatan, karena aku tidak pernah yakin apakah seseorang tidak akan memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya sendiri, jika tidak untuk suatu tindak kejahatan. Terlalu sering kudengar cerita tentang bagaimana murid mengkhianati cita-cita perguruannya begitu rupa, sehingga sang guru harus turun gunung sendiri untuk membunuh murid yang sudah dididiknya dengan susah payah. Kita tidak pernah tahu untuk apa sebuah ilmu diturunkan. Dalam dunia persilatan, ada ilmu yang hanya dim iliki satu orang saja, ada yang dimiliki oleh sedikit orang seperti seorang guru dengan dua atau tiga murid, dan ada yang sengaja diajarkan dalam suatu perguruan. Kadang begitu luasnya ilmu silat yang disebarkan ini, sehingga perguruan itu menamakan dirinya partai, dan seperti semua partai tentunya mempunyai tujuan untuk berkuasa. Dalam hal ini tentu menguasai dunia persilatan.

Namun anak ini tidak ingin belajar ilmu s ilat, ia ingin belajar menulis. Tentu saja ia tidak tahu siapakah diriku sebenarnya. Baginya aku hanyalah seorang tua pembuat lontar yang di sela-sela pekerjaannya, yakni saat daun direndam dan dikeringkan, selalu duduk dan menulis. Apakah aku harus menolaknya pula? Berbeda dengan ilmu s ilat yang merupakan pilihan bagi mereka yang ingin hidup di jalan seorang pendekar, maka ilmu surat, begitulah istilah bagi dunia tulis menulis ini, kurasa merupakan hak setiap orang. Sama seperti hak setiap orang untuk melihat dunia dengan matanya.

Maka, kepadaku, anak berusia enam tahun yang menyebut dirinya Nawa ini belajar menulis. Aku merasa sedih menyadari diriku bukanlah seorang penulis yang menguasai seluk-beluk dunia penulisan dengan baik. Dalam dunia persilatan, Pendekar Tanpa Nama adalah nama yang telah menjadi dongeng; dalam dunia penulisan siapalah diriku ini? Kupersalahkan diriku sendiri kini, kenapa aku tidak pernah belajar menulis dengan sungguh-sungguh kepada para kawi ternama maupun tidak ternama karena menyembunyikan diri, ketika kesempatan untuk itu masih terbuka.

(Oo-dwkz-oO)