-->

Nagabumi Eps 38: Benarkah Serigala Putih Mengalah Kepada Naga Dadu?

 
Eps 38: Benarkah Serigala Putih Mengalah Kepada Naga Dadu?

Menjadi pertanyaan besar bagi dunia persilatan, mengapa Serigala Putih bersedia menuruti kehendak Naga Dadu untuk menculikku, anak Sepasang Naga dari Celah Kledung. Memang benar seorang pendekar akan mengorbankan segalanya untuk mendapatkan ilmu, tetapi seorang pendekar juga tidak akan melanggar keutamaan apapun yang menjadi kehormatan seorang pendekar. Sejauh dikenal dunia persilatan Serigala Putih bukanlah jenis pendekar yang akan menjual jiwanya kepada iblis meski ilmu silatnya akan bertambah ratusan tingkat. Maka, meskipun Jurus Kipas Maut yang dikuasai Naga Dadu memang akan sangat memikat bagi pendekar manapun untuk mempelajarinya, mereka tidak percaya Serigala Putih memenuhi persyaratan Naga Dadu, hanya untuk kehilangan nyawa, benar-benar karena ingin menguasai Jurus Kipas Maut.

Aku mendengar semua ini dalam suatu perbincangan di kedai. Bukan hanya satu kedai, melainkan dari kedai ke kedai dengan pembicara yang tidak pernah sama. Dunia persilatan memang dipenuhi banyak pendekar yang terkenal sebagai pendiam. Di antara para pendekar yang pendiam itu bahkan beberapa di antaranya bagaikan tidak pernah berbicara sama sekali. Namun kepandaian berbicara dan bercerita pada dasarnya bukanlah tabu di dunia persilatan. Mereka yang suka bercerita akan memesan arak dan dikerumuni para pendengarnya. Para pendengar itu bisa dari kalangan sungai telaga dunia persilatan, tetapi bisa juga orang-orang awam yang sangat menikmati cerita dan di antara cara memaknai kenikmatan itu adalah menceritakannya kembali, juga dari kedai ke kedai, dengan segenap penafsiran mereka tentunya, sehingga tentulah sudah tidak terlacak lagi bagaimanakah peristiwa yang sebenarnya sungguh-sungguh telah terjadi.

NAMUN tentu saja aku merasa berkepentingan mendengarnya, ketika suatu saat mendengarnya, kelak setelah aku benar-benar menjadi seorang pengembara, karena bukankah secara tidak langsung itu juga menyangkut diriku? Demikianlah disebutkan betapa Serigala Putih itu sebenarnya telah jatuh cinta kepada Naga Dadu, berkat pesona kecantikan wajah dengan segala riasannya yang bagaikan mengungguli kecantikan seorang wanita. Memang kecantikan Naga Dadu adalah kecantikan riasan, karena meskipun tanpa riasan wajahnya tetap halus dan tampan, bukankah betapapun ia berkelam in pria? Dengan gerak ilmu silatnya yang lemah gemulai, kecantikan Naga Dadu makin nyata dan memesona, seolah-olah ilmu silatnya adalah suatu gerak tari yang ditujukan untuk memperlihatkan pesona keindahannya. Karena memang bukan hanya wajah, melainkan segenap kediriannya adalah pesona belaka.

Pernah kudengar kata pepatah, kecantikan seorang perempuan adalah sumber kemalangannya. Meski aku tidak percaya dengan kepastian kalimat itu, aku mendengar bahwa memang kecantikan Naga Dadu, meski ia bukan seorang perempuan, juga menjadi sumber perkara, terutama bagi lawan-lawannya. Dalam hal Serigala Putih misa lnya, berkembang cerita bahwa ia sengaja mengalah bukan sekadar untuk mempelajari Jurus Kipas Maut, tetapi juga agar dapat selalu berada di dekat Sang Naga Dadu, penguasa dunia persilatan Kubu Tenggara yang untuk mencapai kedudukannya telah menumpahkan darah yang tak terhitung jumlahnya. Seorang pendekar yang datang dari seberang lautan seperti Serigala Putih, niscaya tidak akan terlalu dangkal ilmunya. Berangkat sebagai seorang pendekar, tentu saja Serigala Putih akan mempersiapkan segalanya untuk menghadapi para pendekar di setiap tempat yang disinggahinya. Bahkan mereka yang pernah menyaksikan pertarungan Serigala Putih sebelum berhadapan dengan Naga Dadu pernah bercerita seperti berikut.

Seorang pendekar yang hanya bisa bersilat dalam keadaan mabuk, sehingga kalau bersilat harus sambil meminum arak dari dalam kendi, dan karena itu digelari Sang Peminum, pernah mati kutu berhadapan dengan Serigala Putih.

"Bagaimana dia tak akan mati kutu," ujar sang pencerita, juga sambil menenggak arak, "jika ketika mulutnya sudah terbuka dan arak dari dalam kendi mengucur keluar, maka Serigala Putih menggerakkan tangannya ke depan, dan mendadak cairan arak itu menjadi beku dan dingin sekali. Baik yang sudah keluar kendi maupun yang masih berada di dalam kendi."

Mengubah udara menjadi sangat dingin sehingga membuat arak membeku tentu membutuhkan tenaga dalam yang sangat tinggi. Tidak ada alasan kenapa Serigala Putih tidak dapat membekukan aliran darah dengan kemampuan seperti itu. Namun dalam kenyataannya ia terkalahkan oleh gerak lamban Naga Dadu dan akhirnya bahkan terbunuh di ujung pedang ayahku.

Tak urung cerita itu sampai ke telinga Naga Dadu, dan siapakah yang begitu suka mendengar cerita tentang kemenangan karena lawan yang mengalah seperti itu?

"Jadi bagaimana lagi aku harus membuktikan keunggulanku atas Serigala Putih itu? Sayang sekali ia tak kubunuh saja waktu itu. Atau apakah aku harus menantang Sepasang Naga dari Ce lah Kledung yang telah membunuhnya?"

Saat aku mendengar cerita itu, aku teringat bahwa Serigala Putih menyatakan betapa tempatku bukanlah bersama orangtuaku. Apakah ia mendengarnya dari Naga Dadu? Kemudian, apakah kiranya yang membuat persyaratan Naga Dadu agar Serigala Putih dapat diterima sebagai murid adalah menculik anak Sepasang Naga dari Celah Kledung, yang adalah diriku?

KAMI semua masih mendorong pedati berisi peralatan upacara sima itu. Berbagai peristiwa yang dialam i rombongan ini, telah membuat perjalanan terhambat, dan karena itu harus ditukar dengan meneruskan perjalanan tanpa istirahat. Sebuah upacara yang dianggap suci memperhitungkan waktu dan tidak ingin menjadi bagian yang mengacaukannya.

Pada malam hari kami tetap melangkah di bawah cahaya rembulan, kusaksikan tanduk kerbau penghela pedati-pedati ini bercahaya keperak-perakan bagaikan suatu hiasan. Kulihat jalan lurus ke depan yang tampak terang meskipun malam dengan sawah di kiri-kanan yang juga keperak-perakan. Sunyi sekali rasanya malam. Dalam keheningan ditingkah derak- derik roda pedati di jalan tanah, aku teringat segala ajaran dari kitab Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya: Bhatara Hyang Buddha dari masa lalu, yang telah mencapai Kebuddhaan dengan sempurna pada masa dahulu

seperti Bhatara Vipasyi, Visvabhu, Krakucchanda, Kanakamuni, Kasyapa,

mereka itu adalah para Buddha dari masa lalu. Bhatara Buddha yang akan datang,

akan dimulai dengan Buddha Maitreya, diakhiri dengan Bhatara Samantabhadra.

Mereka para Buddha dari masa yang akan datang

Akan mencapai tingkat Kebuddhaan di masa mendatang.

Buddha masa sekarang adalah Sri Bhatara Sakyamuni,

Buddha yang harus kamu anggap Sebagai yang Tertinggi (Hyang), yang ajarannya harus kamu ikuti dengan sepenuh hati

Mereka adalah Tiga Hyang Buddha

dari masa lalu, sekarang, dan mendatang.

Dalam usia 15 tahun, aku bukan orang yang boleh dianggap paham ilmu-ilmu agama, tetapi sejak kecil aku sering mendengar perbincangan ayah dan ibuku, yang meski bagiku tidak pernah jelas memeluk Mahayana atau Siwa, atau aliran kepercayaan apapun yang telah menjadi tertekan, sering mengundang pendeta maupun pedanda ke pondok kami. Mereka diundang tidak untuk mengajari, melainkan untuk berbincang kian kemari, sementara aku terkantuk- kantuk di pangkuan mereka, tetapi yang dalam kenyataannya sering teringat kembali kalimat-kalimat mereka.

Tidak ada jalan (marga) lain yang dapat menuntun

ke arah pencapaian Kebuddhaan.

Jalan yang paling baik yaitu Mahayana

jika diikuti dapat menjadi jalan untuk dapat tiba di Nirvana. ang Hyang Mahayana ini, sebagai jalan yang paling baik, akan saya ajarkan kepada Anda.

Sebaiknya dengarkanlah baik-baik, karena inilah cara yang benar untuk mencapai sorga,

juga yang dapat memberikan kebahagiaan yang agung (kamahodayan).

Mahodaya berarti kebahagiaan lahir dan batin (wahyadhyatmikasuka).

Kebahagiaan lahir ialah

kesucian, kekayaan, keperwiraan, kehormatan, keningratan. Kebahagiaan batin ialah Kebahagiaan di dunia tanpa penderitaan, terbebas dari kesakitan, ketuaan, kematian,

kebahagiaan atas kesempurnaan pengetahuan yang tertinggi

(anuttara wara samyaksambo-dhisuka), dan atas tercapainya kelepasan (moksa).

Demikianlah inti kebahagiaan lahir dan batin jika mengikuti

dan melaksanakan

ajaran yang agung Mahayana. Karena Ananda sedang berusaha untuk memantapkan pengertian terhadap Kamahayanan, bulatkanlah tekad Ananda

dalam mencapai Kebuddhaan.

Para rohaniwan yang diundang datang ke pondok kami di Celah Kledung itu barangkali mengira betapa orangtuaku itu ingin belajar agama dan barangkali memang itu ada benarnya; yang tidak akan pernah mereka duga adalah betapa kedua orangtuaku itu berusaha menggali sesuatu dari ilmu-ilmu agama demi kesempurnaan ilmu silat. Dalam usia 15 tahun, aku belum terlalu menyadarinya. Namun dalam usia 100 tahun, merenungkan kembali semua itu, ternyata kecenderunganku untuk memanfaatkan ilmu-ilmu agama demi ilmu s ilat telah kukenal dari orangtuaku.

Pengertian seperti lahir dan batin, yang dalam kenyataannya tidak terpisahkan sebagai Mahodaya, telah dimanfaatkan pasangan pendekar itu untuk mengembangkan Ilmu Pedang Naga Kembar yang tiada duanya. Apa yang lahir menyembunyikan yang batin, tetapi menebak suatu kepastian batin dari yang tampak adalah kesia-siaan. Dengan caranya sendiri pasangan pendekar itu telah menafsirkan kerangka berpikir keagamaan ke dalam pencapaian ilmu persilatan. Jurus-jurus I lmu Pedang Naga Kembar yang penuh dengan jebakan dikembangkan berdasarkan kerangka gagasan lahir- batin golongan Mahayana; ibarat berhadapan dengan Naga Kembar, lawan tak akan pernah mampu memastikan, manakah naga yang sedang mengancam dan manakah naga yang hanya bayangan. Namun kedua orangtuaku mampu menjadikan pula naga kembar itu kedua-duanya sebagai bayangan maupun kenyataan yang mengancam. Dengan demikian gerakan mereka selalu luput dari penafsiran, sehingga sebagai pasangan pendekar mereka tak terkalahkan.

MENJELANG fajar merekah, kami berhenti di tepi sebuah sungai untuk beristirahat sebentar. Di samping kami memang harus menunggu tukang perahu yang akan menyeberangkan pedati-pedati ini ke seberang.

Pagi masih dingin. Para mabhasana melepaskan kerbau- kerbau agar mereka dapat berkubang dan mandi di tepi sungai yang besar itu. Ke tepi sungai itu banyak orang menantikan tukang perahu untuk membawa barang-barang maupun diri mereka sendiri untuk menyeberang, sehingga tempat penyeberangan itu menjadi tempat yang ramai. Dengan kata ramai, artinya terdapat sebuah kedai, penginapan, dan sebuah pasar kecil. Terdapat juga gardu tempat perahu yang lalu lalang ataupun bersandar harus membayar pajak kepada hulu wuattan atau pengawas jembatan dan jalan. Meski sungai ini karena luasnya tak berjembatan, peranan tukang perahu sebagai pengganti jembatan dan penghubung jalan yang mendapat upah tak luput dari sasaran petugas pajak kerajaan.

Berikut ini adalah sebagian peraturan menyangkut tugas Pengawas Perkapalan seperti tertulis dalam Arthasastra sejauh yang bisa kuingat:

Pengawas Perkapalan harus memperhatikan kegiatan mengenai perjalanan laut

dan penyeberangan pada mulut sungai, maupun penyeberangan pada danau alam, danau buatan dan sungai,

dalam sthaniya dan kota-kota lain Desa di tepi dan sisi

harus membayar pajak yang ditentukan Nelayan harus membayar

seperenam tangkapan mereka sebagai sewa kapal

Pedagang harus membayar sebagian barang

sebagai pajak menurut apa yang berlaku di pelabuhan, mereka yang naik kapal raja

harus membayar sewa untuk perjalanan itu Mereka yang memancing kulit keong besar

dan mutiara harus membayar sewa untuk kapal, atau berlayar dengan kapalnya sendiri dan tugas pengawas ini sudah dijelaskan pada tugas Pengatur Tambang

Seperti telah kuceritakan, aku pernah mempelajari Arthasastra dari seorang guru, sebagai salah satu pelajaran yang kudapatkan dalam pengembaraanku mempelajari segala macam ilmu dari guru ke guru. Namun sebenarnya orangtuaku memiliki juga Arthasastra, bertumpuk dengan kitab-kitab lain dalam peti kayu. Semenjak belajar membaca aku sering diam- diam mengejanya, karena gambaran dunia yang diberikan Arthasastra itu bagiku yang masih kecil menarik sekali. Meskipun isinya peraturan-peraturan wajib dalam tata negara, tetapi setiap kata yang tertulis bagiku menjadi sumber pengetahuan tentang dunia. Peraturan tentang Pengawas Perkapalan itu misalnya, menuntut aku untuk mengenal segala kata di sana dengan cara mengetahui maksudnya. Maka, meskipun belum pernah menyaksikannya sendiri, sete lah bertanya dan mendapat jawaban atas arti setiap kata, terbayangkanlah sebuah dunia tempat kapal berlalu lalang, tempat jual beli berlangsung, dan kehidupan menjelma. Sebuah kitab tentang peraturan sama menariknya bagiku dengan berbagai kitab lain yang bercerita tentang kepahlawanan dan cinta seperti yang dibacakan ibuku.

Hari masih pagi, suasana masih sepi, tetapi kedai di tepi sungai ini tidak pernah tutup, karena tempat penyeberangan ini agaknya merupakan jalur lalu lintas yang ramai. Aku yang selama ini hanya hidup di sekitar Celah Kledung, dan jika diajak dalam perjalanan hampir se lalu menghindari kota, untuk kali pertama melihat sebuah tempat seperti ini.

DARI dalam kedai terdengar suara riuh orang tertawa- tawa, dan kudengar pula suara perempuan. Waktu kutengok ke arah suara-suara itu, kulihat di depan pintu seorang lelaki tinggi besar yang berotot berdiri tegak, membopong seorang perempuan yang masih juga tertawa-tawa. Perempuan itu tidak terlalu cantik, tetapi rias dan dandanannya membuat ia menarik perhatian. Ia mengenakan ken merah tua berenda emas dari pinggang ke bawah, dengan rambut panjang yang menutupi dadanya. Pipinya disapu warna merah dan bibirnya tampak bergincu pula. Mata perempuan itu sangat tajam dan jalang, aku bergetar ketika diliriknya sampai tertegun tak bergerak menatapnya.

Mataku terus mengikutinya ketika lelaki tinggi besar yang setengah mabuk itu membopongnya ke rumah penginapan yang berdinding bambu. Mungkin aku telah mengenal Harini dan juga telah mengalami betapa cinta dapat menggairahkan jiwa dan raga, tetapi aku sungguh tidak mengerti betapa c inta juga dapat diperjualbelikan. Pemimpin rombongan yang telah menerima aku bekerja itu menepuk punggungku dari belakang.

"Apakah yang dikau pandangi itu, Bocah?"

Aku telah dipanggil Tuan Pendekar sebagai ganti Bocah, tetapi kali ini aku dengan tegas disebutnya Bocah kembali. Apakah caraku memandang perempuan itu yang membuatku dipanggil Bocah?

"Bocah Tanpa Nama, dikau belum pernah melihat seorang pelacur?"

Aku lantas mengalihkan pandang. Tidak tahu harus menjawab apa kepada penjual pakaian itu. Tentu saja aku juga pernah membaca peraturan tentang pelacuran dalam Arthasastra tanpa mampu membayangkan dunia yang digambarkannya, karena setiap kali aku bertanya mengenai arti pelacur pada masa kecilku, pasangan pendekar yang mengasuhku itu hanya dapat saling memandang sambil tersenyum. Aku tidak pernah dapat memahami arti senyuman itu. Ketika aku masih mendesak juga, ibuku menjawab.

"Pelacur itu, anakku, perempuan yang bekerja sebagai penghibur."

"Menghibur siapa? Orang-orang yang sedih?" Ibuku tersenyum lagi.

''Bukan orang yang sedih, anakku, tetapi orang yang ingin bersenang-senang."

"Jadi kalau Ibu ingin bersenang-senang, Ibu juga mencari seorang pelacur?"

Aku teringat pasangan pendekar itu tertawa terbahak- bahak. Ayahku kemudian berkata.

"Bacalah bagian itu lagi, nanti jika dikau sudah dewasa, anakku, maka dikau nanti akan mengerti sendiri."

Saat kulihat sendiri seorang pelacur dibopong seorang pria dari kedai menuju penginapan, yang sebetulnya juga rumah pelacuran, belum bisa kupastikan apakah diriku yang berusia 15 tahun sudah bisa disebut dewasa.

Namun dari dalam rumah penginapan itu tiba-tiba terdengar jeritan.

(Oo-dwkz-oO)