Nagabumi Eps 36: Pendekar Topeng Tertawa

 
Eps 36: Pendekar Topeng Tertawa

SESUAI kepala desa itu bercerita, aku baru sadar betapa memang tidak mungkin menghindari aliran sungai kehidupan yang membentuk riwayat hidupku. Ketika berusaha menghindari urusan rombongan tersebut dengan cara memisahkan diri, kupikir itulah cara terbaik untuk mengelak. Namun karena khawatir dengan keselamatan mereka, aku tetap mengikuti mereka tanpa mereka ketahui, tetapi yang ternyata membuat aku terlibat semakin dalam. Seusai kepala desa itu bercerita, pandangan mereka kepadaku kini berubah. Mereka tidak mungkin lagi menyebutku sebagai bocah dan kupikir masa kebocahanku memang telah berakhir, terutama setelah didewasakan oleh Harini dengan segala percobaan Kama Sutra yang dibacanya itu kepada diriku.

"Pendekar inilah yang telah mengagalkan rencana kami, dengan mengembalikan lagi segala barang ke dalam pedati. Jika tidak, kami tentu tidak akan tahu lagi nasib kalian."

Para mabhasana itu menoleh kepadaku, lantas bersujud sampai dahinya menyentuh tanah.

"Tuan Pendekar! Maafkan kami!"

Aku merasa sangat sungkan dan sangat malu. Aku tidak ingin melibatkan diriku, tetapi mungkinkah kini aku melepaskan diri?

"Bapak! Berdirilah!"

"Maafkan kebodohan kami Tuan Pendekar! Kini kami tidak dapat membayangkan, ancaman apa lagi yang menanti di depan kami!"

Mabhasana artinya penjual pakaian. Mereka bisa hanya menjual, dan tidak membuat sendiri baju-baju bersulam emas ini, tetapi bisa juga menjual dan membuatnya sendiri. Namun jika membuatnya, jelas ia memerlukan bantuan pewdihan (tukang jahit), menglakha (tukang celup kain warna merah), manila (tukang celup kain warna biru), mawungkudu (tukang celup kain warna merah yang lain). Bahkan jaringan pengadaan sandang ini juga melibatkan para penjual kapas dan tukang tenun. Lebih jauh lagi, jika bagi para pejabat dibutuhkan wdihan dengan mutu yang istimewa, maka jaringan ini diperluas oleh keberadaan para pedagang yang datang dari seberang lautan. Artinya kegagalan memenuhi janji akan berarti petaka bagi mereka semua, karena barang dagangan sebanyak itu kemungkinan juga merupakan piutang.

Melihat barang-barang yang kupindahkan kembali semalam, berarti mereka berutang juga kepada mandyun (pembuat benda-benda tanah liat), pandai mas (tukang emas), pandai wsi (tukang bes i), manapus (pembuat benang), manubar (pembuat bahan cat warna merah), magawai payun wlu (pembuat payung wlu), maupun mananyamanam (pembuat barang-barang anyaman). Jumlah dan tuntutan akan mutunya tidak membuat mereka mungkin untuk membayar lunas lebih dahulu, meski tentunya mereka tetap memberikan uang muka. Kesempatan seperti ini memang diberikan oleh negara, demi berputarnya roda perdagangan, seperti yang mereka rujuk dari Arthasastra.

pertanian, peternakan, perdagangan membentuk varta (ekonomi) yang bermanfaat karena menghasilkan padi-padian, ternak, hasil hutan dan lapangan pekerjaan

raja dapat mengendalikan

pihaknya sendiri maupun pihak lawan dengan menggunakan

keuangan dan tentara ADAPUN tentang utang piutang, Arthasastra mengatakan:

Satu seperempat pana

adalah sukubunga sebulan menurut hukum bagi seratus pana

lima pana bagi perdagangan

sepuluh pana bagi yang melewati hutan duapuluh pana untuk melewati lautan bagi yang meminta

atau menetapkan sukubunga di atas itu

hukumannya adalah denda terendah untuk kekerasan bagi para saksi, masing-masing separuh denda

tetapi jika raja tidak menjamin perlindungan hakim harus mempertimbangkan

pekerjaan umum bagi para pemberi pinjaman dan para peminjam

bunga untuk gandum sampai separuh waktu panen setelah itu bisa bertambah

karena berubah menjadi modal

bunga modal akan berjumlah separuh keuntungan dibayar dalam setahun

dipisahkan dalam toko orang yang pergi jauh atau bandel membayar akan membayar dua kali modal

bagi orang yang menarik bunga tanpa menentukannya

atau menaikkan sukubunga atau menuntut melalui saksi modal dengan tambahan bunga

dendanya empat kali 1/5 atau 1/10 bagian jika menuntut melalui saksi jumlah kecil (yang tidak pernah dipinjamkan)

denda akan empat (jumlah) yang tidak ada untuk itu penerima akan membayar sepertiga sisanya bagi orang yang telah membantunya

Masih banyak perkara utang piutang yang telah diatur secara hukum. Masalahnya, seberapa jauh hakim dalam peradilan dapat diandalkan? Memang benar hakim yang bijak dan berani karena benar selalu ada, tetapi sebagian besar lebih suka mempermainkan hukum demi kepentingan para penguasa, dan tentu saja demi keselamatannya sendiri.

"Bapak! Aku mohon! Berdirilah!"

Mereka semua berdiri dengan pandangan menyerahkan segala persoalan kepadaku. Adapun aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak mempunyai cukup pengalaman dan pengetahuan mengenai permainan kekuasaan untuk dapat mengambil keputusan dengan penuh keyakinan. "Ketahuilah Bapak! Aku akan se lalu membantu Bapak! Namun dalam hubungannya dengan seluk-beluk permainan kekuasaan di istana, akulah orang yang membutuhkan pertolongan!"

Lantas aku membungkuk dalam-dalam. "Tolonglah saya, Bapak!"

IA terdiam. Aku juga terdiam. Kedua pengawal yang mandi darah itu memandang kami, masih dengan wajah yang ketakutan. Kepala desa itu diam seribu bahasa. Namun jiwa ketiganya jelas telah lolos dari lubang jarum, mengingat betapa niat mereka semula sebenarnyalah untuk membunuh kami. Betapapun sekarang aku tidak merasa ketiganya terlalu jahat, karena dapat kubayangkan terdapatnya suatu ancaman, suatu tekanan yang membuat mereka justru akan lebih ce laka jika tidak melakukannya.

Peristiwa ini bagaikan buah simalakama bagi sesama pelengkap penderita. Jika barang-barang dalam pedati itu hilang, para mabhasana bukan sekadar terjerat utang, tetapi juga bisa mendapat hukuman yang tidak perlu. Sebaliknya jika barang-barang itu tidak berhasil dicuri, kepala desa dan dua pengawal itu kiranya akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Pantaslah mereka berjuang begitu rupa sampai berusaha mengorbankan nyawa. Kini jelas nyawa mereka terancam, dan hanya kepada kami mereka bisa berlindung. Namun bagaimana kami, aku dan para mabhasana ini bisa melindungi mereka?

Dalam kegalauan seperti inilah kemudian terdengar sebuah tawa lirih. Aku terkesiap, karena tawa ini bukanlah sembarang tawa. Inilah suara tawa yang akan membunuh. Tawa ini sangat getir, tidak menimbulkan perasaan gembira, sebaliknya kesedihan yang terasa pedih dan menyayat-nyayat. Namun karena ini bukanlah tawa sembarang tawa, melainkan suara tawa sebagai ilmu kesaktian dalam dunia persilatan yang tujuannya membunuh, setidaknya melumpuhkan, tetapi lebih sering menyiksa, apa yang semula berarti kepedihan batin, kini menjadi kepedihan tubuh yang menyimpan perasaan pedih tersebut.

Maka seketika tampak menggeleparlah kedua pengawal yang sebelum itu juga sudah bermandi darah. Mereka menggelepar, karena perasaan getir yang mendera hati dan perasaan mereka itu seolah berubah menjadi benda keras serta tajam, yang tentu saja tidak kelihatan. Keras dan tajam artinya berkemampuan merobek tubuh dari dalam, karena yang disebut perasaan telah berubah menjadi senjata tajam takkasat mata! Itu berarti setelah menggelepar mereka pun tewas. Kepala desa pun terjatuh bersama kelima mabhasana dan segera menggelepar pula.

"Tutup telinga kalian! Tutup telinga kalian!"

Aku pernah mendengar dari pasangan pendekar yang mengasuhku perihal ilmu-ilmu suara dalam dunia persilatan. Artinya bagaimana suara dan bunyi apapun dimanfaatkan sebagai penggoyah sukma, sehingga cabang ilmu suara disebut juga I lmu-Ilmu Penggoyah Sukma. Pada umumnya penguasaan ilmu ini dianggap sudah sempurna, jika sudah mampu memeras perasaan, dan karena itu menjadi pengalih perhatian terbaik dalam pertarungan. Siapapun yang menjadi sedih dan menangis karena mendengar lagu sedih itu, akan terobek tubuhnya pada tempat perasaannya bergetar. Betul- betul terobek dan mengeluarkan darah, dan karena sayatannya dari dalam maka darahnya menjadi berbuncah- buncah. Mengerikan.

Tawa ini juga mengerikan. Lirih tetapi bergema, bagaikan terdengar dari dalam sebuah gua. Aku mengerahkan tenaga dalam untuk mematikan perasaanku. Lantas melihat ke sekeliling. Lantas dengan segera aku menyambar dua pedang dan melesat. Pasangan pendekar itu pernah bercerita kepadaku tentang seorang pendekar, yang semula berasal dari golongan merdeka, tetapi kini menjadi orang bayaran, apalagi jika bukan bayaran untuk me lakukan pembunuhan. Pendekar itu mengandalkan ilmu silatnya kepada Ilmu-Ilmu Penggoyah Sukma, dan yang paling dikenal adalah tawa lirihnya yang getir serta mematikan. Sedangkan gelarnya adalah Pendekar Topeng Tertawa.

Ia memang selalu mengenakan topeng orang tertawa yang bukan main menggelikan bagi yang melihatnya. Suatu topeng jenaka yang sungguh menggugah rasa gembira. Maka lawan- lawannya sering sulit bersikap menghadapinya. Di satu pihak topeng lucunya membuat orang tersenyum geli, tetapi pada saat tersenyum dan merasa geli berada dalam ancaman bahaya, karena pedang panjang Pendekar Topeng Tertawa akan menyambar-nyambar seperti angin menyapu padang rumput. Bukankah sulit diterima jika kita terbunuh sembari terbelalak memandang topeng tertawa?

KUJUMPAI ia berjuntai di atas pohon dan segera kuserang. Seperti cerita kedua orang tuaku, ia mengenakan busana longgar yang menutup seluruh tubuhnya dari pergelangan tangan sampai mata kaki. Busananya itu berwarna putih bersih, nyaris menyilaukan dalam terpaan cahaya matahari, dan jika ia bergerak cepat akan berkibar-kibar karena sangat longgar. Suara kibaran kain juga menjadi bagian dari pengalihan perhatian di samping suara tawa yang lirih dan getir. Belum ada seorangpun yang mengalahkannya, tetapi kini jika aku tidak ingin mati dalam umur 15 tahun, aku harus membunuhnya! Dalam sekejap mata kulihat topeng tertawanya, sangat lucu, tetapi sudah kumatikan se luruh perasaanku.

Aku menyerang dan menggempurnya dengan jurus-jurus Ilmu Pedang Naga Kembar yang paling mematikan. Ia tampak sangat terkejut dan berkelebat menghindar.

"Jika dikau suatu ketika berhadapan dengan Pendekar Topeng Tertawa, wahai anakku, seranglah terus tanpa memberinya waktu bernapas. Hanya dengan cara itu dikau akan mampu melumpuhkannya," kata ibuku.

Kukepung Pendekar Topeng Tertawa itu dengan dua pedang yang telah berubah menjadi empat puluh empat cahaya pedang menyambar-nyambar. Aku harus membunuhnya dengan secepat-cepatnya, karena Ilmu-Ilmu Penggoyah Sukma yang dimilikinya terlalu berbahaya. Bukankah sangat mengerikan ketika kita ikut tertawa misalnya, lantas dada kita tersobek oleh sayatan pedang yang tidak kelihatan wujudnya, dari dalam tubuh kita sendiri? Seperti sihir, tetapi bukan sihir, hanya ilmu pengalih zat yang sempurna.

Ia tentu tidak diam saja. Busana putihnya yang amat bersih dan amat longgar berkibar-kibar dalam kelebatnya yang luar biasa cepat dan tidak dapat diikuti oleh mata. Ia masih tertawa, tetapi bagiku sudah tiada artinya, meski topeng tertawanya kusadari memang bisa membingungkan. Lucu, tetapi yang memakainya sangat mengancam nyawa. Pedangnya yang panjang tak jarang nyaris membelah tubuhku menjadi dua, jika aku tidak segera melompat berputar tujuh kali ke udara. Maka aku terus menyerangnya sembari mengitarinya dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit. Pedang yang beradu mengeluarkan suara berdentang-dentang diiringi lelatu api. Sudah barang tentu gerakan kami tak terlihat lagi oleh para mabhasana yang syukurlah sudah terselamatkan. Namun kepala desa itu dadanya sudah tersayat dari dalam sehingga mengalirkan darah segar.

Pendekar Topeng Tertawa tak bisa tertawa lagi karena sepasang pedang yang kumainkan bagaikan menyerangnya dari segala arah. Ia pun mengggerakkan pedang panjangnya dengan Jurus Pedang Panjang Menyapu Rumput, suatu jurus yang selalu berhasil memenggal kepala lawan dari batang lehernya, karena senjata apapun yang menangkisnya hanya akan terpotong seperti rumput berhadapan dengan sabit. Maka aku pun tidak menangkisnya, dan memainkan Jurus Penjerat Naga, yang akan membuat setiap serangan hebat menjadi kelengahan terbuka. Aku tidak menunda sampai rangkaian Jurus Penjerat Naga itu habis ketika pertahanannya sudah terbuka. Bukankah Pendekar Satu Jurus bahkan selalu menggebrak pada kelengahan pertama? Tanpa ampun kubabat kedua lengannya sampai putus. Sebelah lengannya yang masih memegang pedang panjang terpental ke udara. Ia meraung di balik topeng tertawanya. Ini sangat berbahaya! Maka kedua pedangku bergerak menggunting. Kepala bertopeng itu pun menyusul ke dua lengannya.

Waktu aku mendarat kembali ke tanah, rerumputan sudah licin karena darah. Bajuku lengket karena semburan darah Pendekar Topeng Tertawa. Kulihat topeng itu masih terpasang di kepalanya. Jika raungan tadi kubiarkan menyentuh perasaan, jantung dan paru-paruku bisa keluar menyeruak dari balik dadaku. Topengnya memang lucu, tetapi ilmunya terlalu kejam untuk dibiarkan hidup. Itulah pilihan seorang pendekar. Aku baru menyadarinya kemudian, bahwa seorang pendekar harus menjadi hakim bagi nasib musuh yang bisa diatas inya, apakah akan dibunuhnya, atau dibiarkan hidup. Tidak akan ada kesempatan untuk menyerahkannya kepada hakim yang sebenarnya. Bagaimana mungkin jika pertarungannya saja tidak bisa diikuti mata?

Seperti pertarunganku dengan Pendekar Topeng Tertawa. Menuliskannya jauh lebih lama dari kejadian sesungguhnya, karena berlangsung lebih cepat dari pikiran. Dalam kecepatan seperti itu pun seorang pendekar harus penuh pertimbangan sebelum melakukan penghakiman, apakah membuat musuhnya tewas atau membiarkannya tetap hidup. Memang benar dalam dunia persilatan dikenal suatu nilai betapa kematian dalam pertarungan adalah kehormatan. Namun sungguh mati, tidak semua orang yang bertarung dalam dunia persilatan adalah pendekar, dan karena itu tidak juga layak mendapat kehormatan seperti itu. Akan halnya Pendekar Topeng Tertawa, keputusan membunuhnya dengan seketika kuambil di tengah pertarungan, karena kesan yang kudapat dari perkenalanku dengan ilmu silatnya sangat mengerikan. Aku tidak ingin membiarkannya menyiksa orang-orang takberdaya dengan Ilmu-Ilmu Penggoyah Sukma yang kejam dan sukar dilawan siapapun juga.

TOPENG itu masih melekat di sana. Seorang mabhasana melangkah, seperti akan membukanya.

"Biarkan," kataku, "biarkan saja begitu."

Bahkan ketika segala mayat kami bakar, topeng itu pun ikut dibakar dengan tetap menempel pada wajahya. Seperti keinginan pemilik topeng itu, untuk dikenal sebagai pribadi dengan topeng seperti itu pada wajahnya, yakni topeng tertawa.

Hanya itulah s isa rasa hormatku kepadanya.

Tamat sudah riwayat Pendekar Topeng Tertawa. Memang tak bisa lain. Hanya kuperhatikan rambutnya yang putih dan panjang. Tentunya ia sudah berumur. Apalagi jika pasangan pendekar yang mengasuhku itu pun mengenal namanya, sehingga bisa membedah Ilmu Penggoyah Sukma itu dengan segala cirinya.

Sayang bahwa pendekar tak terkalahkan itu telah menjadi orang bayaran, tidak lagi membela mereka yang lemah dan tertindas, sehingga sebetulnya tak layak disebut pendekar lagi.

Dalam usia yang sudah berumur, apakah lagi yang masih bisa menggodanya? Jika pun bukan bayaran penyebabnya, apakah sesuatu yang lebih penting baginya sehingga sudi terlibat urusan duniawi ini, tetapi te lah menjebaknya ke dalam Jurus Penjerat Naga?

Aku sendiri heran dengan pertarunganku ini. Rasanya ilmuku naik beberapa puluh tingkat. Semula aku hanya nekat karena tidak tahan melihat penderitaan para korban, tetapi aku ternyata dapat mengimbangi, dan kemudian mengatasi Pendekar Topeng Tertawa itu. Padahal tidak ada jalan pintas dalam ilmu silat, karena segalanya harus dipelajari dan dilatih dengan ketat. Apakah yang telah terjadi?

Asap dari pancaka telah membubung ke udara. Matahari menjelang terbenam. Suara-suara serangga kembali menguasai hutan. Kulihat para mabhasana itu. Jalan hidupku saat ini sedang berjalin dengan jalan hidup mereka. Aku terlibat justru pada saat menghindarinya. Apa boleh buat? Meski malam kemudian turun, kami tetap meneruskan perjalanan, karena benda-benda upacara dalam pedati ini sudah ditunggu.

(Oo-dwkz-oO)