-->

Nagabumi Eps 35: Para Pencuri

 
Eps 35: Para Pencuri

AKU masih tidur ketika seseorang menggoyang kakiku.

"Bocah, jika dikau bermaksud memisahkan diri di sini, kami berangkat dahulu," katanya.

Pemimpin rombongan itulah yang telah membangunkan aku. Dengan cepat kulirik apa yang terjadi di luar. Mereka semua sudah siap berangkat, seperti tidak terjadi sesuatu yang genting seperti semalam itu. Sembari beranjak, sebelum menjawab, aku berpikir. Aku telah menyelamatkan barang- barang berharga itu. Jika aku memisahkan diri, tidak ada jaminan barang-barang berharga itu akan tetap selamat. Maka aku harus selalu berada bersama rombongan ini, jika memang berkepentingan untuk menjaganya. Namun jika aku meneruskan perjalanan bersama rombongan ini, aku merasa khawatir akan semakin terlibat dengan persoalan mereka, yang hanya secara kebetulan saja melibatkan diriku. Masalahnya, aku tidak merasa dapat berdiam diri jika terjadi sesuatu dengan mereka. Aku merasa, setidaknya untuk sementara, sebaiknya tetap menjaga mereka, bukan demi barang-barangnya, melainkan terutama demi keselamatan mereka.

"Pergilah, Bapak, dewa-dewa akan menjaga keselamatanku," kataku, lantas berpura-pura tidur kembali.

Meski memejamkan mata, kudengar desah nafas panjangnya, dan barangkali ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia melangkah keluar. Kudengar derak roda-roda pedati yang makin lama semakin jauh. Aku memikirkan kedua pengawal yang curang itu, dan seseorang yang telah menyediakan pondok di depan balai desa untuk menyembunyikan barang curian.

Aku pun segera melesat untuk mengikuti rombongan itu tanpa mereka ketahui.

KARENA jalan sudah rata, perjalanan bisa lebih cepat. Namun akan menjadi seberapa cepatkah perjalanan dengan pedati? Apabila mereka bergerak maju perlahan-lahan di jalanan, aku bergerak tanpa suara di balik rimbunnya pepohonan di tepi jalan. Harus kuakui mengikuti rombongan dengan cara seperti itu sangat membosankan. Aku hampir saja meninggalkan mereka karena kebosanan yang teramat sangat karena dalam kelambanan itu tidak terjadi sesuatu pun jua. Namun aku juga merasa betapa aku harus selalu waspada. Aku yakin bahwa jaringan pencuri ini tidak hanya terdiri atas dua orang pengawal dan seorang penyedia pondok penyimpan barang. Bahkan mereka bertiga kemungkinan besar juga hanyalah orang-orang suruhan. Pikiranku terus bekerja, tetapi pengetahuanku sebagai remaja 15 tahun tentu saja sangat membatasi segala pertimbangan. Pertarungan kekuasaan di dalam istana misalnya, hanya bisa kuduga dengan perbendaharaan pengetahuan yang sangat terbatas.

Aku hanya berpikir bahwa pencurian barang-barang demi kepentingan upacara seperti itu, bukanlah pemikiran seorang pencuri biasa yang ingin memiliki barang-barang tersebut. Barang-barang itu berusaha dicuri bukanlah untuk dim iliki, melainkan demi suatu kepentingan tertentu. Kepentingan apa? Dalam batas pemikiranku, setidaknya itu adalah gagalnya upacara peresmian sima. Kenapa upacara peresmian harus digagalkan? Sampai di sini kemiskinan pengetahuanku berbicara. Aku hanya tahu betapa untuk sementara aku harus terus mengikuti rombongan ini, karena para mabhasana ini hanyalah orang-orang yang akan dikorbankan. Dugaan mengenai adanya kejahatan semacam ini saja sudah membuatku geram, kelicikan semacam itu memang memualkan.

Ketika aku menyambar buah jambu air untuk menawarkan dahagaku, di bawahku berkelebatlah sesosok bayangan yang mengikuti rombongan itu. Aku terkes iap. Ternyata Kepala Desa dari desa tempat kami menginap semalam. Desa apakah namanya? Bahkan aku juga tidak mengetahuinya. Jika seorang kepala desa seperti itu terlibat dalam pencurian semalam, aku semakin yakin betapa ini bukan sekadar pencurian biasa. Ia menirukan suara burung, sebagai tanda bagi kedua pengawal yang menunggang kuda di depan dan bekakang rombongan. Kulihat kedua pengawal itu memegang gagang pedangnya masing-masing yang masih berada di dalam sarungnya. Kulihat juga Kepala Desa itu bahkan telah mencabut pedang. Mereka akan segera menggunakannya!

Kutelan jambu airku dan melayang turun dan tentu saja tidak ada yang mengetahuinya. Jika hanya terdapat lima orang yang barang-barangnya dikawal, maka mudah saja membunuh mereka dengan kecepatan kilat, apalagi yang tidak pernah mereka duga akan dilakukan para pengawal mereka sendiri. Apa yang harus kulakukan? Pertama-tama aku melayang turun ke belakang kepala desa itu. Ia mengangkat pedangnya ke belakang, seperti s iap berlari menyerbu. Namun aku dengan kecepatan kilat mengambil pedang tersebut, dan tentu saja takbisa dibayangkan betapa bukan alang kepalang ia terkejutnya ketika membalikkan badan.

"Haahhh?"

Namun tidak kuberi kesempatan ia berteriak lebih keras lagi. Sekali sentuh ia sudah jatuh pingsan. Aku memang tidak ingin kedua pengawal itu mengetahui apa yang telah terjadi. Aku ingin menghukum mereka dengan caraku sendiri. Kedua pengawal itu menyerbu orang-orang yang seharusnya mereka jaga keselamatannya. Kelima orang yang lain terkejut. Namun mereka dengan cepat mencabut pedangnya masing-masing pula, bahkan dengan kemarahan membara.

Kuperhatikan dari balik semak-semak, pertarungan berlangsung seimbang. Dalam arti, satu pengawal melawan dua orang, dan satu pengawal lain melawan tiga orang. Pertarungan ini berlangsung diiringi maki-makian kasar yang tidak sepatutnya diungkap di sini. Cara bertarung mereka pun tidak beraturan. Karena meskipun kedua pengawal ini tampak mengerti ilmu silat, kelima orang yang melawan dengan membabi buta itu tidaklah mengerti ilm u silat sama sekali. Tidaklah lantas menjadi mudah bagi orang yang mengerti ilmu silat untuk menghadapi orang-orang awam yang bertarung tanpa aturan, karena ilmu silat digubah dalam kerangka ilmu silat juga, bukan gerak orang awam yang tanpa jurus, bahkan tanpa aturan. Dengan kata lain, ilmu s ilat t idak akan mengenal bahasa gerakan bukan silat. Jurus silat digubah untuk menghadapi jurus silat, bukan sembarang gerakan. Sehingga menyaksikan pertarungan semacam ini memberikan sejumlah gagasan untukku, bahwa jurus-jurus yang seperti bukan jurus- jurus ilmu silat, akan sangat sulit dihadapi jurus-jurus ilmu silat itu sendiri. Saat itu aku tentu saja tidak pernah menduga, bahwa pemikiran semacam ini kelak akan membawaku kepada penemuan Jurus Tanpa Bentuk.

MEREKA ternyata bahkan menemui kesulitan dengan bertempur di atas kuda seperti itu. Tentu ini juga disebabkan oleh ilmu silat mereka yang sama sekali tidak tinggi. Sembari bertempur mereka sebentar-sebentar melihat ke arahku, tentu mengharap bantuan kepala desa yang juga culas itu. Aku tertawa dalam hati melihat kebingungan mereka, tetapi tidak terbersit sedikit pun dalam pikiranku untuk mengampuni orang-orang yang menyalahgunakan kepercayaan semacam ini. Kulihat kuda yang bernama Si Kemplang itu memang perkasa, bukan hanya ketegapan tubuhnya, tetapi juga karena tampak terlatih ikut menyerang lawan majikannya dalam pertempuran. Suatu hal yang hanya dikuasa i kuda dalam makuda atau pasukan berkuda. Kedua orang ini pastilah setidaknya pernah menjadi anggota suatu pasukan berkuda. Artinya bukan orang yang mencuri karena kelaparan!

Dengan sebutir kerikil kutotok jalan darah Si Kemplang, yang tidak membuat kuda hitam perkasa itu menjadi lemas tanpa daya, sebaliknya bahkan melonjak-lonjak sambil meringkik-ringkik tak terkendali. Kuda temannya pun kuperlakukan seperti itu, sehingga kini kedua pengawal tersebut lebih sibuk mengurusi kudanya daripada lawan- lawannya. Pertarungan menjadi berat sebelah dan nasib kedua pengawal itu sudah ditentukan. Sedikit demi sedikit anggota badan mereka terbacok senjata tajam. Begitu rupa sehingga tak lama kemudian seluruh tubuh mereka telah menjadi merah oleh darah mereka sendiri, meskipun ternyata mereka tidak kunjung mati.

Kemudian tiba saatnya mereka terjatuh ke tanah. Para pembuat pakaian yang telah gelap mata ini nyaris mencacah- cacah tubuh keduanya jika kepala rombongan yang bijak itu tidak mencegahnya.

"Jika mereka bisa terus hidup, mungkin mereka akan jadi orang baik," katanya.

"Biarlah dia jadi orang baik waktu lahir kembali saja kelak, setelah sebelumnya menjadi monyet terjelek di dunia," kata salah satunya.

"Biarlah dia jadi orang baik sekarang," ujar kepala rombongan itu dengan tegas, "aku ingin tahu apakah dia juga pendapat yang sama atau tidak."

Mereka mengerumuni kedua orang itu, sementara kepala desa yang kutepuk dan pingsan telah sadar kembali. Kuberdirikan kepalanya agar mampu melihat nasib kedua komplotannya. Ia menjadi sangat ketakutan.

"Ampuni saya Tuan, saya mempunyai anak dan istri di rumah," katanya sembari menyembah-nyembah. Dalam keadaan yang lain, mana mungkin ia memanggilku Tuan?

"Kuserahkan kepada mereka kalau Bapak tidak berterus terang tentang segalanya."

Ia menelan ludah dan merasa tak berdaya. Lantas begitu saja bercerita.

Seseorang dari istana dengan gelar mangilala drawya haji atau pemungut pajak telah datang dan menyatakan bahwa sejumlah pejabat akan dikirim dari kotaraja. Adapun maksudnya adalah menyatakan desa mereka sebagai sima, dibebaskan dari pajak, karena jasa yang telah diberikan tanah tersebut kepada negara.

"Kami semua tidak mengerti," katanya, "apakah yang disebut sebagai jasa tanah kami kepada negara."

Di desa mereka tersebut, sawah justru memberi penghasilan besar kepada negara, dan penduduk masih menerima banyak keuntungan dari penjualan beras, meski setelah dipotong oleh pajak. Maka tentu saja pesan yang dibawa pejabat pajak itu ditolak. "DI desa kami, bahkan para rakai atau pamegat akan selalu kalah wibawanya dibandingkan para rama.3) Namun kali ini mereka tampaknya memaksakan kehendak dengan senjata."

Ternyata bukan tanah desa mereka saja yang ingin dikuasa i oleh istana, tetapi juga tanah desa-desa lain, karena agaknya sedang berlangsung persa ingan dalam kepemilikan tanah, agar di atas tanah itu bisa didirikan candi, baik dari kelompok Siwa maupun Mahayana. Penduduk desa tidak terpengaruh untuk memilih sa lah satu dari kedua agama besar yang menguasai istana, karena kepercayaan yang mereka warisi dari nenek moyang sudah memuaskan kebutuhan beragama mereka, yakni bahwa sesuatu yang luar biasa memang menguasai kehidupan mereka. "Kami tidak peduli dengan persa ingan diam-diam kedua agama ini," katanya, lagi, "tetapi kedua agama ini membutuhkan tanah-tanah kami untuk mendirikan candi."

Aku teringat, tidak sembarang tanah kosong bisa menjadi lahan tempat didirikannya candi. Para sthapaka (arsitek pendeta) dan stahapati (arsitek perencana) dalam tindak bhumisamgraha (pemelihan tempat) dan bhupariksa (pengujian tanah pada calon lahan bangunan) telah mengacu kepada kitab-kitab dari Jambhudwipa perihal aturan pembuatan bangunan seperti Manasara-Silpasastra maupun Silpaprakasa. Menurut kitab-kitab ini, lahan tempat pendirian bangunan kuil dinilai tinggi, bahkan lebih penting dari bangunan suci itu sendiri.4) Ini membuat lahan yang memenuhi syarat, di mana pun, diincar untuk diambil alih bagi pembangunan kuil-kuil pemujaan yang disebut candi itu. Ketika agama tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan, maka berperilakulah para pemimpin keagamaan bagaikan sekadar pemimpin di wilayah dunia fana, yang tampak dalam persaingan perebutan lahan bagi candi di Yawabumi.

"Apa hubungannya semua itu dengan pencurian ini?" "Persaingan di antara para pejabat agama di istana telah

membuat mereka saling berusaha menggagalkan upacara

peresmian sima, dan kami sekarang ini membantu usaha penggagalan upacara di Ratawun, karena lahan yang akan dikuasai sangat besar sekali. Jika lahan tersebut diubah menjadi tempat pendirian candi, kami semua akan mati karena sekarang ini merupakan sumber penghasilan kami."

"Kenapa harus tanah kalian dan bukan yang lain?" "Karena tanah kami adalah tanah Brahmana."

Aku mengerti, tanah Brahmana merupakan tanah terbaik seperti yang dirumuskan Silpaprakasa. Tanah Brahmana mengandung lempung, kenampakannya bercahaya seperti debu mutiara dan harum baunya. TANAH lain yang dianggap sama mutunya adalah tanah Ksatrya, yang berwarna kemerahan, bercahaya seperti darah segar, dan berbau keasaman. "Jika semua tanah Brahmana dan Ksatrya diambil demi kuil, apakah manusia hanya boleh menempati tanah Waisya dan Sudra?" Begitulah kepala desa itu mempertanyakan. Hmm.

"Siapakah kedua prajurit itu?" Tanyaku.

"Oh, mereka adalah orang-orang yang berasal dari desa kami, berhasil diterima ketika melamar jadi anggota pasukan berkuda, dan mereka merasa perlu menyelamatkan penduduk dari kemalangan jika segenap lahan diambil secara paksa."

Kulihat di tengah jalan, kelima mabhasana seperti siap membacok kedua pengawal yang malang itu. Aku harus segera mencegahnya jika tidak ingin mereka mati, meskipun aku bingung juga jika harus bertemu muka lagi dengan rombongan ini.

"Jangaaaaann!"

Tangan mereka terhenti di udara. Jika tangan-tangan yang memegang golok itu turun, tamatlah riwayat kedua pengawal celaka. Aku bersyukur tidak mengambil keputusan untuk membunuh ketiga-tiganya secepat-cepatnya, seperti yang kupikirkan ketika untuk pertama kalinya membaca hubungan mereka sebagai komplotan. Kini, sebaliknya, aku merasa kasihan terhadap mereka yang tanahnya dirampas, meski untuk keperluan bangunan suci. Artinya, bagiku, bukan hanya persyaratan keadaan tanah yang diperlukan untuk membangun tempat ibadah, melainkan juga kerelaan dan kepasrahan sang pemilik tanah untuk menyerahkannya yang menjadi syarat mutlak. Jika tidak, tanah itu bermasalah, dan bagi pembangunan sebuah kuil, tidakkah itu menghalangi dan menghancurkan segenap tujuan pemujaan dalam upacara agama? Lagipula, siapa bilang segalanya ini murni demi kepentingan agama? Penduduk Yawabumi setahuku tidak terlalu peduli dengan agama manapun yang mereka peluk, selama peraturan agama yang berlangsung tidak mengganggu kehidupan mereka. Bahkan bila perlu berbagai macam ketentuan dalam agama manapun justru disesuaikan dengan kepercayaan semula mereka, dan tidak seorang penyebar atau pemuka agama pun bisa memaksakan kehendaknya. Maka mereka tahu belaka jika agama disebut-sebut hanya sebagai alasan, ketika kepentingan kekuasaan berada di baliknya.

Kedua orang itu tidak jadi mati. Namun tubuh mereka yang merah oleh darah memberikan pemandangan yang mengerikan. Para mabhasana terbelalak melihat aku datang bersama Kepala Desa.

"Bapak, ceritakanlah semua," kataku.

Kami berada di tengah jalan yang membelah hutan. Burung-burung berkicau dengan riuh, tetapi bagiku hal itu masih terlalu sepi dibandingkan ketegangan dalam permainan kekuasaan di istana, yang mengorbankan penduduk desa demi segala kepentingan mereka. Kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan desa, tetapi yang sedikit demi sedikit mulai merusaknya.

"Jadi apakah yang sekarang harus kita lakukan, wahai bocah takbernama?"

Aku senang mereka masih memanggilku bocah, meski memang tetap tanpa namaku. Hmm. Namaku adalah Tanpa Nama. Benarkah itu sebuah na-ma? Kita takbisa menghindar untuk tetap bernama, sebagai pemberian makna siapapun kepada kita.

(Oo-dwkz-oO)