Nagabumi Eps 33: Para Pemungut Pajak

 
Eps 33: Para Pemungut Pajak

PADA tahun 786 pemerintahan Rakai Panunggalan baru berjalan dua tahun. Untuk mengukuhkan kekuasaan dan menghimpun dana, pemerintahannya itu dengan rajin menarik pajak. Setiap bulan, para petugas pengambil uang pajak datang ke Desa Balinawan. Di pusat pemerintahan, terdapat tiga pejabat yang selalu muncul bersama-sama, sang mana katrini, yang terdiri dari pangkur, tawan, dan tirip. Ketiganya akan melakukan tugas atas nama rakai. Namun di bawah ketiga pejabat ini terdapat nama sejumlah jabatan seperti wadwa, parujar, pangurang, pihujung, dan kalang.

Di antara para pejabat di istana, terdapat istilah rakai kanuruhan yang harus menguasai semua bahasa, karena ia mengurus pedagang-pedagang asing, dan memungut uang dari pedagang-pedagang asing itu. Disebutkan, ia tidak ragu- ragu kehilangan uang untuk mendapat uang. Namun rakai kanuruhan dianggap penting bukan dalam urusannya dengan uang, melainkan karena menjadi pejabat yang bertugas menyelenggarakan tata upacara di istana. Kemudian, ia juga menjadi pejabat yang memberikan sima, tanah yang dibebaskan dari pajak oleh berbagai alasan, terutama karena jasa para penduduknya.

Namun ternyata masih ada lagi mangilala drawya haji, yang bertugas mengambil "milik raja"alias petugas pajak pula adanya. Aku sendiri tidak terlalu mengerti, kenapa petugas yang mengurusi pajak bukan hanya banyak, tetapi juga sangat bertumpang tindih, yang kuduga karena mewakili berbagai kepentingan. Jadi memang ada yang bertugas demi raja, tetapi ada juga yang demi para pejabat tinggi lain di dalam istana yang penuh dengan permainan kekuasaan. Pada dasarnya semua orang ingin mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, dengan berlindung di balik wibawa raja atau istana. Penduduk desa Balinawan tidak mengetahui silang sengketa istana, mereka hanya tahu meski desa telah menjadi sima, tetap saja berlalu lalang para petugas kerajaan yang meminta apa saja sesuka mereka.

Demikianlah pada suatu hari, ketika Harini turun dari pondok sambil membawa baju dan peralatan makan yang akan dicuci di kali, lewatlah di depan pondok serombongan penunggang kuda. Mereka sekitar duabelas orang, seorang punggawa istana dengan para pengawalnya, dan di antara para pengawal itu tersisipkan pula beberapa orang pengawal rahasia istana.

Harini muncul dengan pembawaannya yang biasa. Bunga- bunga di rambut dan kain dari dada sampai ke bawah lutut, dengan perhiasan leher yang mempertegas kejenjangan lehernya. Rombongan itu sampai terhenti ketika melihat Harini turun tangga. Siapakah yang bisa menolak untuk menyaksikan betis Harini yang begitu indah sehingga tiada mungkin diungkapkan? Bahunya yang terbuka dan kedua tangannya juga hanyalah indah, begtu indah, terlalu indah, sehingga juga tiada mungkin lagi disampaikan seperti apakah kiranya keindahannya. Mulut mereka ternganga. Bahkan di istana tiada perempuan yang begitu memesona ketika melangkah seperti Harini. Maka mereka mengikuti ke mana Harini pergi.

MENGETAHUI rombongan berkuda itu melangkah pelahan di belakangnya, Harini menoleh. Ia melangkah ke tepi, mengira rombongan itu akan mendahuluinya. Namun rombongan itu ikut berhenti. Punggawa itu berbicara.

"Perempuan, siapakah namamu?"

Harini tidak menjawab dan balik bertanya.

"Perempuan ini bertanya, siapakah dia yang bertanya tanpa memperkenalkan dirinya?" Punggawa itu terkejut.

"Perempuan desa! Dikau tidak mengenal kepada siapa dikau berbicara!"

Namun Harini tenang-tenang saja. Menjawab tanpa perubahan dalam suaranya.

"Tiada bedanya bicara kepada siapapun jua, hanya penghormatan yang membedakannya."

Punggawa itu naik pitam. Menunjuk kepada Harini. "Dikau berkata tidak perlu menghormati aku?!"

Harini menggeleng dan menundukkan kepala, merasa tidak sudi melayani percakapan mereka. Ia melangkah pergi.

"He! Budak perempuan! Katakan kepada siapa kami bisa membeli kamu! Atau mungkinkah desa ini mesti membayar pajak dengan dirimu?"

Harini tidak menghentikan langkahnya. Seperti merasa dirinya tidak layak melayani pembicaraan seperti itu. Punggawa itu memberi tanda kepada salah seorang pengawal, yang segera mendekati Harini, menyambar pinggangnya, lantas rombongan itu memacu kudanya dan pergi. Kepada para petani yang berpapasan, punggawa itu berkata, "Kalian tidak usah membayar pajak bulan ini, tapi perempuan ini kami bawa pergi!"

Cerita ini kususun berdasarkan apa yang diberitahukan kepadaku kemudian, melalui Harini dan para petani itu. Tanpa membuang waktu aku berkelebat keluar pondok, memburu jejak yang masih jelas mereka tinggalkan di jalan keluar desa. Orang-orang desa, para pemuda yang selama ini kuberi pelajaran bela diri sekadarnya, ikut menyusul keluar desa, tetapi tentu saja aku lebih cepat dari mereka. Dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit aku berlari me lalui pucuk-pucuk pepohonan untuk mengejar mereka. Sebelum mereka terlalu jauh aku telah melayang turun di hadapan mereka. Aku membawa dua bilah pedang di punggungku dan tanpa bertanya lagi kucabut kedua-duanya, langsung menyerang mereka dengan Ilmu Pedang Naga Kembar. Setiap orang yang kuserang merasa menghadapi 44 pedang yang bergerak dari segala jurusan. Enam orang pengawal langsung tewas ketika berusaha melindungi punggawa itu. Mereka semua tewas dengan kepala nyaris terputus. Kuda-kuda meringkik panik. Kaki depan mereka terangkat ke udara dan menjatuhkan para penunggangnya.

Mereka bermaksud lari dari arah mereka datang, tetapi dari arah itu orang-orang desa datang berlarian, dan nasib mereka tidak bisa lebih parah lagi. Sisa enam orang itu tewas dirajam tanpa ampun. Memang dua di antaranya adalah pengawal rahasia istana yang semula telah me loncat ringan ke udara, tetapi saat itu kujentikkan dua butir kerikil yang menotok jalan darah keduanya, sehingga mereka tidak bisa bangkit lagi ketika tubuhnya jatuh di tanah. Tidak seorang pun dari keenamnya masih utuh tubuhnya karena tiada seorang jua dari orang-orang desa itu yang tidak menyumbangkan tusukan kepada tubuh-tubuh malang itu. Bahkan aku tidak mengira nasib orang-orang dari kotaraja yang jumawa itu bisa begitu buruknya. Namun siapa akan mengira desa yang selama ini lemah dan menjadi bulan-bulanan penghisapan dan penindasan akan kehilangan ketakutannya dan melawan. Jika desa mereka menjadi sima, sudah semestinyalah tiada pajak apapun yang mesti mereka berikan, bahkan sebaliknya kepada penduduk yang tanahnya teranugerahi sebagai sima selayaknya mendapat perlindungan adanya.

Harini tersadar dari pingsannya setelah semua ini selesai. "Jangan lihat," kataku.

Namun ia terlanjur sempat melihat mayat-mayat bergelimpangan tanpa wujud itu. Ia tak berkata-kata, dan akan menjadi pendiam selama-lamanya. RAKAI Panunggalan barangkali tidak mendengar apapun, tetapi diberitahu betapa orang-orangnya terbantai. Tentu ia tidak diberitahu sebabnya, sehingga menyiapkan pasukan duaratus orang untuk membakar habis Desa Balinawan dan membunuh orang-orangnya sampai tidak ada yang tersisa. Sekitar sepuluh hari kemudian duaratus orang yang dikirim untuk menghukum itu sudah berada di luar desa. Seorang utusan dikirim untuk bicara.

"Orang-orang Balinawan, di luar desa ini berkumpul duaratus prajurit berkuda terlatih yang sudah biasa berperang, mereka siap membumi hanguskan desa ini dan percayalah perlawanan seperti apapun akan dipatahkan. Namun kalian dapat menghindarkan pertumpahan darah jika yang bertanggungjawab diserahkan untuk mendapat hukuman. Rakai Panunggalan masih bermurah hati kepada penduduk Desa Balinawan yang telah dianugerahi sima, beliau tidak bermaksud menulis riwayat pemerintahannya dengan darah rakyatnya sendiri."

Akulah yang maju menyerahkan diri. Penduduk desa semula tidak menyetujui ini. Peristiwa yang dialami Harini mereka terima sebagai penghinaan takterperi, kematian demi kehormatan bukan masalah bagi mereka yang telah mengalami banyak perubahan. Tidak dapat kuingkari, kehadiranku dengan segenap kitab dalam peti kayu telah mengubah kesadaran mereka akan nasib. Dari malam ke malam satu orang yang bisa membaca dari mereka telah membacakan kitab-kitab itu untuk semua orang. Tidak selalu habis kitab itu dibaca dalam semalam dan tidak selalu semua orang akan memahami isinya setelah habis dibacakan, tetapi kini mereka telah terbiasa untuk menilai sesuatu dengan pemikiran berkesadaran. Mereka telah terbebaskan dari ketertindasan pikiran. Maka tiada dapat mereka terima kedudukan mereka sebagai budak kerajaan yang tidak memiliki dirinya sendiri, seperti yang akan ditimpakan kepada Harini. Namun mereka setuju bahwa darah takperlu ditumpahkan sia-sia. Kuserahkan diriku untuk menghindari pertumpahan darah dengan janji bahwa diriku akan mampu meloloskan diri dengan mudah.

(Oo-dwkz-oO)

MEREKA membawaku ke arah kotaraja. Waktu itu kotaraja belum terletak di Mantyasih, melainkan sebuah tempat bernama Kelurak. Aku didudukkan membelakang di atas seekor kuda dan kedua tanganku diikat ke belakang. Berada di antara duaratus prajurit yang terlatih akan membuat siapapun mengira tidaklah mungkin kiranya seorang tawanan bakal lolos. Perkiraan itu tidak keliru, kecuali jika tawanan itu berasal dari sungai te laga dunia persilatan.

Sepanjang jalan telah kucoba untuk meyakinkan pemimpin pasukan ini, bahwa kesalahan terletak pada perilaku kilalan yang dikirim kerajaan itu sendiri, karena tidak sesuai dengan ajaran agama.

"Agama apa yang dipeluk orang-orang Balinawan?" "Mahayana."

"Itu juga yang kudengar, tetapi kami di istana memeluk Siwa."

"Kalau itu alasannya kalian sa lah juga, karena ayah Harini berkasta Brahmana, kalian telah berdosa memperlakukannya seperti itu. Lagipula agama yang berbeda juga harus dihormati penganut agama apapun."

Tentang ayah Harini, sebetulnya aku hanya menduga, tetapi kelak akan terbukti bahwa dugaanku tidak keliru. Namun kepala pasukan itu agaknya lebih tertarik kepadaku.

"Bocah, kamu masih terlalu anak-anak untuk mampu membuat kekacauan begini rupa. Kudengar kamu bukan orang Balinawan, memang takmungkin orang Balinawan yang pengecut itu mampu melawan tanpa pengaruh dari luar. Siapakah kamu?"

Aku terperangah. Aku memang sulit menjelaskan siapa diriku, karena memang tidak tahu.

"Kamu taktahu siapa dirimu bocah? Siapa namamu?"

Pertanyaan ini lebih mudah kujawab, meski jawabanku bukanlah jawaban pertanyaan itu.

"Aku... aku... tak bernama..." "Bocah, kamu tak bernama?" "Ya, aku tidak punya nama..."

"Hahahahaha! Ada bocah takbernama! Hahahahaha! Lantas bagaimana orang-orang memanggilmu?"

KUINGAT bagaimana Harini memanggilku. Aku merasa sedih. Sedangkan orang-orang ini menertawakan aku. Kutegaskan sesuatu.

"Kepala Pasukan! Aku menghormati tugasmu untuk menangkapku, aku telah menjelaskan bahwa orang-orang Balinawan tidak bersalah, dan dikau menyetujuinya sehingga kini membawaku ke kotaraja. Kini ingin kutegaskan kepadamu, jika aku meloloskan diri dari tangkapanmu, apakah dikau akan menghukum orang-orang Balinawan? Kuingin mendengar jawaban seorang perwira!"

Ia masih tertawa-tawa.

"Huahahahaha! Bocah kecil pintar bicara! Seorang perwira tak akan menghukum seseorang yang tidak bersa lah, wahai bocah! Namun jangan m impi kamu bisa me loloskan diri wahai bocah takbernama! Hahahahahaha! Bagaimana mungkin kamu bisa tidak mempunyai nama! Huahahahahaha!"

"Baiklah Kepala Pasukan! Kupegang kata-katamu!" Maka akupun menjejakkan kaki pada sanggurdi, me layang ke atas, dengan mudah menarikkan kedua tangan ke arah berlawanan sampai talinya putus, dan turun lagi dalam keadaan bebas. Aku hanya mengenakan kain melingkari pinggang, tetapi di dalam kain terdapat kancut yang terikat ketat. Kubuka kainku. Menghadapi duaratus orang yang sebaiknya tidak kubunuh, aku memerlukan kebebasan bergerak, karena dengan cepat mereka memang segera mengepungku.

Mereka merangsek dan aku melawan dengan tangan kosong. Setiap kali diserang dengan tombak, kelewang, maupun sabit berantai yang terikat pada suatu gagang, aku berusaha menepis dan menampelnya sampai terlepas. Kuingat dahulu kedua orangtuaku melatihku untuk menghadapi kepungan ratusan orang seperti ini, dengan memanfaatkan Ilmu Pedang Naga Kembar, ketika kedua pedang yang masing-masing mereka pegang bergerak menutup semua jalan keluar. Menghadapi pasukan duaratus orang ini menjadi tidak terlalu sulit bagiku, bahkan aku terkejut dengan kemampuanku sendiri, karena Jurus Penjerat Naga yang kulatih, ternyata bisa kumanfaatkan lebih dari yang kuduga bisa melakukannya.

Gerakan yang harus kulakukan berulang-ulang ketika menghadapi resi pertapa kurus kering dari pertapaan di atas tebing itu, rupa-rupanya telah membuat Jurus Penjerat Naga kukuasai seperti yang seharusnya. Hampir segenap serangan dari set iap anggota pasukan menjadi kelengahan yang melumpuhkan diri mereka sendiri. Aku bergerak sangat cepat, dalam waktu singkat seratus orang bergelimpangan membuka ruang. Aku masih terkepung, tetapi tiada seorangpun berani mendekatiku.

"Tahan!"

Kepala Pasukan itu mencegah anak buahnya. Ia turun dari kuda dan memeriksa orang-orang yang bergelimpangan. Memang tak setetes pun darah tertumpah. Lantas ia berkata kepadaku.

"Bocah takbernama! Pergilah jika kau takbersalah! Akan kusampaikan perbincangan kita kepada Rakai Panunggalan dan jika beliau menganggap dirimu bersalah, ia pasti akan mengerahkan para naga untuk memburumu!"

Para naga ?

Aku melesat pergi, dan menyadari betapa semakin terlibat dalam dunia persilatan. Aku tahu yang dimaksudnya adalah para pendekar bergelar Naga dari delapan kubu yang teracu kepada mata angin. Naga Putih, Naga Kuning, Naga Merah, Naga Biru, Naga Hijau, Naga Dadu, Naga Jingga, dan Naga Hitam! Para pendekar penguasa delapan kubu mata angin bersama penguasa Mataram yang manapun dianggap berperan penting bagi ketenteraman Yawabumi. Di sanalah titik temu dunia persilatan dan dunia awam dari kehidupan sehari-hari, agar tiada satupun unsur kejahatan yang lolos dan mengacaukan dunia.

Namun tahukah Rakai Panunggalan bahwa Naga Hitam bermaksud menguasai dunia pula?

Aku melesat pergi, tetapi tidak terlalu jauh, karena aku harus meyakinkan diriku bahwa mereka t idak akan kembali ke Balinawan, dan mereka memang tidak melakukannya. Seratus orang harus mengurusi seratus orang yang pingsan. Mereka benar-benar pulang dengan kekalahan.

AKU termangu sendirian menyaksikan mereka pergi ketika hari telah semakin sore. Apakah aku sebaiknya kembali ke Balinawan, atau melanjutkan perjalanan? Aku teringat segenap kitab dalam peti kayu itu. Hampir semuanya telah kubaca meskipun tidak semuanya kumengerti. Mengenal huruf saja takcukup untuk membaca rupanya, yang juga dibutuhkan adalah kematangan hati dan otak dalam pembacaan, dan diriku yang masih berumur 15 tahun tentu masih jauh dari kematangan itu. Namun siapakah kiranya yang berumur 15 tahun telah menyadarinya? Apalagi sete lah seorang perempuan seperti Harini memperkenalkan segenap cara bermain cinta dalam Kama Sutra...

Hari semakin gelap ketika dari arah para pasukan itu lenyap muncul rombongan pedagang yang membawa lima pedati bermuatan barang-barang. Menyadari diriku hanya berkancut, aku bermaksud membeli kain untuk melingkari pinggang dan badanku, tetapi aku baru sadar tidak membawa alat pembeli bernama uang sama sekali. Kepingan emasku ada di pondokku dan hanya Harini yang tahu di mana tempatnya.

Namun aku sudah terlanjur muncul di tengah jalan. Mereka sekitar limabelas orang, termasuk para pengawal perjalanan. Dua orang dari mereka maju ke depan sambil mencabut goloknya.

"Bocah, apa maksudmu berdiri di tengah jalan? Kalau tidak ada perlunya minggirlah!"

Anak-anak kecil memang hanya berkancut jika mengenakan busana. Lebih sering bertelanjang bulat saja berlarian ke sana ke mari. Sekarang aku mengerti kenapa cenderung dipanggil bocah jika hanya berkancut seperti ini.

"Kulihat kalian membawa barang dagangan. Bolehkah aku membelinya? Tapi pembayarannya nanti di Desa Balinawan. Mintalah kepada Harini harga yang kau berikan."

"Bocah, belajarlah lebih pandai jika mau menipu! Sekarang minggirlah kalau tak mau diterjang Si Kemplang!"

Rupanya nama kuda hitam yang perkasa itu adalah Si Kemplang. Aku menepi karena memang tidak mencari keributan. Namun salah seorang pedagang itu maju ke depan. Berbeda dengan pengawal berkuda yang berkumis baplang dan menyeramkan, wajah pedagang ini tampak baik hati dan penuh kesabaran. "Bocah, kami tidak akan me lewati Balinawan, tapi kamu bisa mendapatkan yang kamu inginkan jika membayarnya dengan tenagamu."

"Maksud Bapak?"

"Ambil yang kamu inginkan, bayarlah dengan tenagamu sampai mencapai tujuan."

"Dan untuk apakah tenagaku ini nantinya, Bapak?"

"Kerbau-kerbau ini akan kepayahan mendaki. Kami tidak membayangkan perjalanan begini ketika memuatkan barang- barang ke atas pedati."

Aku berpikir sejenak.

"Baiklah Bapak, sekarang berilah aku kain penutup tubuhku, maka aku akan mengikuti rombonganmu, dan memberikan tenagaku saat pedati-pedati ini harus mendaki perbukitan."

Demikianlah aku mengikuti rombongan itu. Pada jalan yang bercabang, rombongan tidak memilih arah ke Balinawan. Dalam kegelapan, kulihat kerlap-kerlip api penerangan dari kejauhan. Aku tidak akan kembali, tetapi hatiku bagaikan tertinggal di desa Balinawan.

(Oo-dwkz-oO)