-->

Nagabumi Eps 28: Jurus Penjerat Naga

Eps 28: Jurus Penjerat Naga

MURID Naga Hitam yang tewas ditanganku ternyata adalah Si Nalu, artinya seorang pendekar yang belum punya gelar. Telah kukatakan bahwa gelar didapatkan seorang pendekar dari dunia persilatan berdasarkan pesona yang diberikannya dalam berbagai pertarungan; atau menamakan dirinya sendiri dengan suatu gelar dan menuntut pengakuan melalui pertarungan demi pertarungan. Melalui yang terakhir inilah kudengar Naga Hitam mendapatkan gelarnya.

"Aku ingin menguasai dunia persilatan Kubu Utara dan karena itu kunamakan diriku Naga Hitam. Jika kalian tidak sependapat tempurlah aku dan jika kalian sependapat bunuhlah diri kalian, karena hidup dengan kekalahan dalam dunia persilatan adalah kenistaan yang tidak perlu ditanggungkan."

Dengan cara seperti ini ia membantai begitu banyak pendekar dari golongan putih, golongan merdeka, maupun orang-orang golongan hitam. Sebaiknya pendekar manapun tidak usah terjebak dengan kata-kata seperti itu, tetapi tidak semua orang yang mengarungi sungai telaga dunia persilatan menyadari terdapat unsur jebakan di dalamnya. Mendengar kata-kata seperti itu, meski ilmu silat mereka belum cukup, mereka layani juga pancingan Naga Hitam dan hanya kematian yang kemudian mereka temukan.

Telah kuhadapi murid Naga Hitam yang bernama Si Nalu itu, yang rupanya belum mendapat izin gurunya untuk turun gunung dan mengembara, tetapi tetap nekat karena ingin segera mendapat nama. Sejauh yang kuketahui, tingkat kepandaian seorang guru bisa sepuluh kali lipat kepandaian muridnya. Jika muridnya banyak, mungkin muridnya yang tertua hanyalah satu atau dua tingkat di bawahnya, tetapi mengingat Si Na lu tergolong murid yang belum mendapat izin, yang tentunya karena ilmu s ilatnya dianggap belum memadai, mungkin saja kepandaiannya belum sepersepuluh kepandaian gurunya. Karena itu aku lebih suka memperkirakan tingkat ilmu silat Naga Hitam adalah dua puluh kali lipat dari ilmu muridnya yang pernah kuhadapi itu.

Adapun menghadapi Si Nalu saja aku sempat terjengkang sesak napas seperti itu, sudah barang tentu Naga Hitam akan membunuhku dengan mudah jika sekarang tiba-tiba ia berada di hadapanku. Aku dibesarkan oleh pasangan pendekar dan

karena itu menjadi tidak terlalu takut mat i, tetapi aku tidak mau mati terlalu cepat sebelum menjelajahi se luruh negeri, karena meskipun aku tidak mempunyai cita-cita menjadi seorang pendekar ternama aku tetap sangat berminat untuk mengembara. Namun meningkatkan tingkat ilmu silat sampai duapuluh kali lipat dengan cepat adalah mustahil, apalagi untuk seseorang berumur 15 tahun yang harus melakukannya tanpa bimbingan seorang guru. Aku harus mencari akal.

AKU dilepaskan untuk mandiri oleh pasangan pendekar itu tentu bukan tanpa alasan sama sekali.

"Dikau mempunyai tubuh, bakat, dan otak yang cukup untuk mengembangkan dirimu dalam ilmu persilatan, anakku," kata ibuku, "dikau hanya tinggal melatih diri dengan keteraturan tertentu agar mampu menjadikannya ilmu di dalam dirimu. Segala kitab dalam peti kayu itu kami kumpulkan dalam waktu yang panjang, tidak semuanya sempat kami pelajari dan kembangkan, tentu kami punya harapan suatu kali dikau akan memanfaatkannya, setidaknya membaca dan membuatnya berguna untuk orang banyak."

"Segala kitab dalam peti kayu itu, Anakku," kata ayahku, "mampu memecahkan setiap persoalan dalam ilmu s ilat, tetapi hanya jika dikau mampu membongkar penanda-penanda dan mampu menemukan makna di baliknya, berdasarkan pembermaknaanmu terhadap bacaan itu."

Maka pada suatu malam, pada sebuah pondok yang disediakan untukku, kubongkar peti kayu itu dan kucari-cari sesuatu yang barangkali saja dapat mengatasi masalahku. Aku menganggap setidaknya terdapat tiga masalah yang harus kuatasi, pertama, tenaga dalam yang masih rendah tingkatannya; kedua, kepandaian ilmu silat yang masih berada di bawah Naga Hitam; ketiga, bahwa aku harus melakukan peningkatan atas keduanya dalam waktu yang singkat. Adakah jalan pintas yang dapat mengatasinya? Karena dalam ilmu silat, istilah jalan pintas tidak dikenal. I lmu hanya dapat menjadi milik kita jika kita menjalankan ilmu itu, melakukannya, menghayatinya, menjadikannya bagian dari diri kita, dan itulah yang membuat ilmu berbeda dengan pengetahuan. Ilmu baru menjadi ilmu jika menjadi bagian diri kita, sedangkan pengetahuan ibarat kekayaan yang dapat hilang, dan karena itu ilmu harus mampu menjadikan pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan yang mampu diserap melalui pembelajaran.

Naga Hitam sangat dikenal melalui I lmu Pedang Naga Hitam yang telah kukenal ketika menghadapi Si Nalu. Cirinya penuh gerak tipu yang menyesatkan, tetapi Ilmu Pedang Naga Kembar sengaja digubah untuk mengatasinya, dan aku telah membuktikannya. Masalahnya, Ilmu Pedang Naga Hitam ini tidak akan mampu kuimbangi kecepatannya jika dimainkan dengan tenaga dalam yang duapuluh tingkat di atasku. Selain itu sebetulnya Ilmu Pedang Naga Kembar kukuasai dengan seadanya saja, karena memang tidak pernah berminat menjadi pendekar dalam arti sesungguhnya. Mungkinkah ada jurus yang memungkinkan seseorang dengan tenaga dalam seadanya mengalahkan seseorang dengan tenaga dalam yang lebih unggul, sampai duapuluh tingkat di atasnya?

Ayahku pernah bercerita bahwa lebih dari segalanya, akal sangat penting dalam mencapai kemenangan dalam pertarungan.

"Tenaga dalam dan kecepatan memang menentukan, tetapi bagaimana menggunakannya secara tepat sangat tergantung kepada siasat dalam persiapan kita menghadapi lawan," katanya.

Bahwa tenaga dalam Naga Hitam sudah sangat tinggi dan kecepatan geraknya tidak terukur memang tidak usah diragukan. Betapapun ia telah diakui sebagai bergelar Naga Hitam seperti yang diinginkannya, dan pengakuan itu didapatkan hanya setelah mengalahkan setiap pendekar yang menolak kehendaknya untuk menguasai dunia persilatan Kubu Utara. Berpuluh-puluh pendekar terkenal maupun tidak terkenal telah ditundukkannya, bahkan katanya ia telah membantai sebuah perguruan sampai habis tanpa sisa. Naga Hitam semula merupakan pendekar golongan merdeka, tetapi cita-cita keduniawiannya untuk berkuasa membuatnya lebih mirip dengan orang-orang golongan hitam.

Para pendekar golongan merdeka terbebaskan dari segala ikatan, baik itu ikatan masyarakat maupun agama, karena perhatian mereka selalu hanyalah kepada kesempurnaan ilmu silatnya sendiri sahaja. Namun Naga Hitam telah bersekutu dengan orang-orang mursal yang menyimpan cita-cita merebut kekuasaan, yang sementara ini hanya mampu memberi gangguan atas ketenteraman. Rakyat tidak berdosa, yang hidup sehari-harinya jauh dari persengkataan di dalam istana, dan tidak selalu menyadari terdapatnya perseteruan antara para penguasa, menjadi sangat menderita.

Bukan sekadar rombongan pedagang dirampok, bendungan dijebol, jembatan diruntuhkan, tetapi perkampungan mereka juga kadang-kadang dibakar. Ini terutama sering terjadi di daerah pinggiran yang jauh dari pusat kekuasaan, karena para pengacau berharap rakyat yang ketakutan akan melepaskan ikatan dengan penguasa dan berpihak kepada mereka demi keamanan. Namun bila hal itu dilakukan, pasukan kerajaan akan segera tiba untuk me lakukan hal yang sama, yakni pembakaran, bahkan pembunuhan serta pemerkosaan.

Mengingat itu semua aku menjadi lebih bersemangat menghadapi Naga Hitam, tetapi bagaimana caranya memenangkan pertarungan? Meski I lmu Pedang Naga Kembar telah terbukti keampuhannya, yakni membuat pedang lawan bagaikan menghadapi empat pedang, dalam hal menghadapi Naga Hitam maka pedang lawan yang satu itu dapat berkelebat takterlihat dan tiba-tiba menyambar leher.

Namun aku teringat kata ibuku, "Tidak ada ilmu silat yang tidak dapat dikalahkan, karena ilmu silat diberlangsungkan manusia yang penuh dengan kelemahan. Sebaliknya, tidak ada ilmu silat yang rendah tingkatnya, meski hanya memiliki satu atau dua jurus saja, karena tinggi rendahnya ilmu silat ter?gantung kepada manusia yang mewujudkannya dalam pertarungan nyata."

Malam sudah larut dan sunyi sepi ketika kusisihkan dua gulungan keropak yang judulnya menarik, Jurus Penjerat Naga clan Riwayat Pendekar Satu Jurus. Mengingat waktuku yang singkat, sebelum Naga Hitam muncul set iap saat, aku langsung membacanya.

Ternyata Jurus Penjerat Naga ditulis oleh Pendekar Satu Jurus yang sudah meninggal, dan riwayat hidupnya ditulis orang lain dengan judul Riwayat Pendekar Satu Jurus. Aku membaca Jurus Penjerat Naga dengan persiapa?akan membaca sesuatu yang berat, apalagi gambar jurus-jurus dalam keropak itu bagiku tampak aneh dan penuh dengan kelemahan. Dalam pembukaannya tertulis:

kelemahan mengundang serangan serangan mengundang kelemahan jangan menyerang kekuatan biarkan kekuatan menyerang

agar terbuka kelemahan demi serangan mematikan Naskah itu tidak panjang, aku bisa membacanya berkah- kali dalam semaL tetapi barn menjelang fajar setelah ayam alas berkaok-kaok di kejauhan memahami maknanya. Pantas penulisnya mendapat gelar Pendekar Satu Jurus karena segenap gambar manusia dalam Jurus Penjerat Naga memang tidak seperti jurus ilmu silat, melainkan bukan-jurus yang diperlakukan sebagai jurus dengan begitu rupa meyakinkannya sebagai bukan-jurus, sehingga lawan akan mengira pelakunya tidak akan mungkin mempertahankan diri. Namun seluruh gambar-gambar yang tampaknya seperti bukan-jurus itu sebetulnya merupakan jurus ketika dibaca sebagai suatu rangkaian. Adapun rangkaian itu tertata begitu rupa sehingga akan terus memancing serangan lawan, karenanya keberadaan kitab ini sebenarnyalah sangat dirahasiakan. Karena sekali lawan mengetahui c iri-ciri jurus ini, yang memang tersusun dalam rangkaian tertentu, maka tentu akan memilih untuk tidak menyerang sama sekali.

Tidak jelas bagiku bagaimana pasangan pendekar itu bisa memilikinya. Pendekar Satu Jurus sendiri juga tidak mereka kenal dan hanya mereka dengar dari mulut ke mulut, yang belum tentu juga bisa dipercaya. Tentang Pendekar Satu Jurus sendiri disebutkan betapa ia selalu menundukkan lawannya hanya dengan satu jurus saja, karena memang hanya satu jurus itu yang dikuasainya. Membaca Jurus Penjerat Naga sekarang aku mengerti bahwa satu jurus yang dimaksud itu adalah jurus mematikan dalam serangan balik ketika kelemahan lawan terbuka. Jadi bukan satu jurus seperti satu gerakan, melainkan satu gerakan sebagai bagian dari rangkaian bukan-jurus yang muncul paling akhir, sebagai serangan balik mematikan dan merupakan satu-satunya jurus serangan yang harus dengan pasti melumpuhkan lawan.

Kitab Riwayat Pendekar Satu Jurus tidak kubaca dengan cermat, karena sepintas lalu tidak menyatakan dengan cermat segala sesuatu yang berhubungan dengan Jurus Penjerat Naga. Setelah kubaca sekali lagi kitab Jurus Penjerat Naga aku tahu apa yang harus kulakukan dalam persiapanku menghadapi Naga Hitam. Aku hanya berharap mempunyai cukup waktu untuk melatih diriku sebelum bentrok dengannya, karena jika ia muncul sekarang atau besok, tentu aku belum menguasai Jurus Penjerat Naga ini. Artinya aku harus melatih diriku dengan keras dan segera, dan untuk sementara mesti melupakan Harini.

Sepanjang pagi, siang, dan malam aku mengunci diriku dalam sebuah bangsal wihara. Aku tidak ingin seorang pun melihat diriku melatih Jurus Penjerat Naga ini, karena siapa pun yang paham apa maksudnya tidak bisa kujamin tak akan menjual rahasia ini kepada Naga Hitam. Bahwa Pendekar Satu Jurus kukira hanya mempunyai satu jurus saja, kukira karena siapa pun tidak pernah menyangka betapa rangkaian bukan- jurus yang terlihat sebelum serangan mematikan itu adalah juga suatu jurus.

Aku berlatih dengan lawan yang hanya bisa kubayangkan. Pokoknya aku harus berusaha menghindari serangan apa pun, dengan kesan yang harus ditangkap sebagai kebetulan. Inilah yang akan melengahkan, membuatnya menyerang dan menyerang, dan aku harus memutuskan dengan tepat, kapan aku menyerang balik dengan hanya satu jurus yang langsung mematikan.

Dengan menguasai Jurus Penjerat Naga, tidak berarti aku pasti bisa menga lahkan Naga Hitam jika ilm u silatnya masih tetap duapuluh tingkat di atasku, yang berarti tenaga dalamnya jelas lebih tinggi dan kecepatannya berkelebat melebihi aku. Ini sangat berbahaya dan aku harus mengejar ketinggalanku. Begitulah dari hari ke hari aku me latih juga olah pernapasanku, yang mampu mengubah udara yang kuhirup menjadi tenaga geledek dalam tanganku. Jurus Penjerat Naga memang diandaikan bagi mereka yang menggunakan tangan kosong, sehingga aku harus memperbaiki tenaga dalamku, meski aku telah mengolahnya agar dapat digabungkan dengan Ilmu Pedang Naga Kembar.

Semangatku yang tinggi sangat membantu, terutama karena aku tidak ingin mati di tangan Naga Hitam. Aku memang tidak ingin jadi pendekar, tetapi aku tidak keberatan mengikuti aliran hidupku: Karena menjaga kitab-kitab dalam peti kayu di dalam gerobak, aku harus melompat jungkir batik melewati ubun-ubun penduduk desa; karena lompatan itu, mereka mengira aku Sakti mandraguna, sehingga dim inta dengan sangat untuk melindungi desa mereka dari ajang mayat-mayat yang kejatuhan embun; karena melindungi desa, maka aku terpaksa menewaskan Si Na lu dalam pertarunganku yang pertama; karena guru Si Na lu yang bernama Naga Hitam mungkin akan mencariku, maka aku harus meningkatkan ilmu silatku untuk menghadapinya, jika tidak ingin mati konyol dan basal mengembara ke mana-mana. Begitulah aku berlatih kerns setiap hari dari pagi sampai pagi lagi.

Para penghuni wihara tetap melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Selama berada di sang sempat kuperhatikan mereka dengan agak lebih teliti. Kulihat mereka memang hidup sederhana, seperti tertulis dalam Bodhicaryavatara:

Seorang bhiksu perlu berpakaian untuk menjaga kesopanan

dan juga untuk melindungi badannya dayi gigitan nyamuk dan serangga lainnya tapi tidak boleh memiliki lebih dari tiga Jika seseorang minta daripadanya mangkuk atau sepotong pakaiannya

dan apabila ia tidak mempunyai jubah lain ia tidak boleh memberikannya

karena jubah dan mangkuk itu perlu baginya untuk orang yang menganut hidup

sebagai seorang brahmacarin

Setiap hari kulihat jubah warna kuning tersiram cahaya matahari apabila mereka melakukan pradaksina mengitari kuil sembari mulut mereka komat?kamit menggumamkan doa. Dengan sendirinya kubandingkan hidupku sendiri dengan hidup mereka. Aku mencintai kebebasan dan berusaha memberi makna kebebasan itu dengan pengembaraan, tetapi yang ibarat kata baru pergi selangkah telah terikat oleh suatu kewajiban; para bhiksu ini mengikatkan diri dengan sadar ke dalam segala macam peraturan hidup yang sangat ketat, termasuk para bhiksuni yang menggunduli kepala mereka, juga demi suatu bentuk pembebasan, yang selalu mereka sebut Kelepasan.

Kuperhatikan mereka. Betapa besar usaha mereka melepaskan diri dari -Ala sesuatu yang bersifat duniawi. Sebuah pertanyaan mengiang di dalam ~-alaku yang barn berusia 15 tahun, benarkah begitu salahnya kehidupan duniawi?

Saat itu aku tidak tahu bagaimana menjawabnya, karena kedudukan seorang bhiksu se lalu dianggap lebih benar, lebih mulia, dan karena itu lebih dari dari kedudukan orang-orang biasa.

"Semua orang menjalankan tugas, sesuai dengan panggilan hidupnya, Anakku."

TERSENTAK aku melihat seorang pendeta di belakangku. Benarkah ia seorang pendeta? Jika aku tidak mendengar langkah maupun nafasnya, itu berarti ia mempunyai langkah ringan dan begitu ringannya seperti para pendekar ternama. Padahal yang dikerjakannya dari hari ke hari seperti hanya berdoa dan berpuasa.

Kelak aku akan tahu bahwa pemikiranku ini sangat bodoh. "Ilmu silat bisa dipelajari semua orang Anakku, seperti

dikau mempelajarinya meski tidak ingin menjadi pendekar yang mencari nama."

Siapakah pendeta tua ini? Ia bahkan bisa membaca pikiran di dalam kepala!

Melihat busnanya, ia memang bukan sembarang pendeta.

Dalam sebuah kitab keagamaan pernah kubaca:

Apabila Anda memilih

kedudukan seorang resi Agama Buddha, berpakaianlah busana

yang terbuat dari kulit kayu selengkapnya mengunyah kayu cendana

memegang tasbih

dan perlengkapan lainnya yang sesuai

Jadi ia seorang resi. Betapa alimnya! Namun segera terbukti kesanku tidak tepat sepenuhnya.

Aku sedang berada di tepi tebing saat itu. Sejenak menikmati pemandangan senja seusai melatih diri, dan berarti membelakanginya ketika terpaksa menoleh kepadanya. Saat itulah ia mengajukan tangan ke depan seperti gerakan mereka jika berdoa, tetapi kurasakan sebuah tenaga raksasa mendesak dan mendorong sehingga aku kehilangan keseimbangan. Aku melayang jatuh dari atas tebing tanpa bisa berbuat apa-apa! (Oo-dwkz-oO)