Nagabumi Eps 27: Mata Angin, Kama Sutra

Eps 27: Mata Angin, Kama Sutra

SETELAH kejadian itu, tiada lagi peristiwa yang terlalu berarti di Desa Balinawan. Dari sebuah kitab ilmu silat tingkat dasar yang juga terdapat dalam peti kayu, kulatih para pemuda desa, termasuk gadis-gadisnya, terutama mereka yang berbakat menjadi guru silat. Selain itu dari sebuah kitab lain, kami pelajari bersama-sama tata cara terbaik pertahanan sebuah desa.

Dengan umurku yang masih 15 tahun, aku tidak membayangkan diriku dapat mengajari mereka. Namun dalam kenyataannya tidak terlalu banyak orang yang lancar membaca, apalagi menulis pula. Hanya terdapat seorang tua yang menguasai baca tulis dengan, dan anaknya, seorang gadis yang jelita, mungkin sekitar 20 tahun umurnya.

Cantik jelita artinya ia bermata cemerlang, tinggi tegap tetapi langsing tubuhnya, setiap hari mengenakan kain batik yang menutup dada, bahu dan punggungnya selalu terbuka. Pada suatu hari kudengar ia mengeja bacaannya:

Pohon wudi besar di timur itu, merpati burungnya; di bawah airnya jernih, telaga namanya;

ditanami teratai putih, dikelilingi perak. Air jernih mengalir.

Di sanalah orang terlepas dari... Ia berhenti. Melihatku mendekat.

''Jangan berhenti...''

''Daku tidak berhenti, guratan hurufnya tak jelas, keropaknya sudah terlalu tua, daku memang mau menyalinnya.''

''Selanjutnya masih dibaca bukan?''

la tersenyum manis sekali dan meneruskan bacaannya. Suaranya merdu. Hanya dengan adanya Harini, nama perempuan itu, hari bagi siapa pun yang menemuinya telah menjadi suatu keberuntungan. Di sanalah orang terlepas dari...

Para kakek dan nenek supaya mandi di s itu.

Pohon randu besar di selatan itu, rajawali burungnya. Di bawah aimya jernih, telaga namanya;

ditanami teratai merah, dikelilingi tembaga merah. Airnya jernih mengalir

Di sanalah orang terlepas dari sepuluh noda. Para ayah dan ibu supaya mandi di situ.

Pohon angsana besar di barat itu, kepodang burungnya; di bawah airnya jernih, telaga namanya;

ditanami teratai kuning, dikelilingi emas; airnya mengalir jernih.

Di sanalah orang terlepas dari penyakit dan cacat. Para anak dan istri supaya mandi di s itu.

Pohon iren di utara itu, gagak burungnya; di bawah, airnya jernih, telaga namanya; ditanami teratai biro, dikelilingi bes i.

Air mengalir jernih.

Di sanalah orang terlepas dari kata-kata buruk. Para cucu dan cicit supaya mandi di s itu.

Pohon nagasari di tengah itu, tiung burungnya; di bawah airnya jernih, telaga namanya;

ditanami aneka bunga, dikelilingi beragam warna. Airnya jernih mengalir karena suci tiada noda. Di sanalah aka, Ra Nini, supaya mandi.

"Indah sekah," kataku.

"Apa yang menurut dikau indah, wahai Lelaki Tidak Bernama." "Kata-kata yang dikau baca, susunannya, betapa para kawi dapat menyusunnya seperti itu."

"Ini bukan sekadar susunan kata-kata yang bagi dikau mungkin indah. Perhatikan..."

Sambil membaca, ia menggoreskan pengutik pada lempir lontar yang kosong. Matanya sebentar-sebentar melirik bacaannya.

Mata Angin Lor

Kulon Madya Wetan Kidul

Teratai Biru

Kuning Amancawarna Putih Dadu

Warna Biru

Kuning Anekawarna Putih Merah

"DIKAU lihatkah arti kitab ini padaku?" Harini, perempuan yang merangkaikan bunga tanjung kecil- kecil dan memakainya di belakang telinga itu, lebih dari seorang pembaca yang begitu langka, melainkan seorang terpelajar yang menyusun kembali pengetahuan dari berbagai pengetahuan.

"Apa artinya?"

"Bahwa warna-warna melambangkan mata angin rupanya," ujarnya.

Dengan cepat aku teringat sesuatu.

"Namun warna para naga tidak sesuai dengan kubu yang mereka kuasai."

Harini tersenyum memandangku. Ada perasaan kecewa padaku karena barangkali ia menganggapku sebagai remaja berusia 15 tahun sahaja.

"Oh, itu karena kitab yang dijadikan rujukan berbeda. Para naga ingin mandiri dalam penegakan wibawa, jadi mereka menggunakan naskah bukan-Buddha yang dilahirkan di Yawabumi. Mereka juga tidak merujuk satu naskah saja. Jika empat mata angin dan yang berada di antaranya diambil dari suatu naskah, maka mata angin kelima sampai kedelapan sangat mungkin diambil dari yang lain. Dalam hal para naga, jelas naskah Yawabumi dilengkapi naskah Sanskerta untuk empat mata angin tambahannya."

Sementara Harini bicara kutatap matanya yang cemerlang dengan penuh kekaguman. Sudah lama kuperhatikan dia, rambut panjangnya yang selalu berhias bunga dan berganti setiap hari. Mulai dari bunga tanjung sebagai hiasan dalam sanggul, bunga asoka yang merah, bunga asana dan bunga campaka yang putih atau kuning muda, yang memang cocok dengan kulitnya, maupun bunga-bunga menur. Harus kukatakan betapa aku takut untuk jatuh cinta padanya. Teringat ucapan ibuku. "Seorang pendekar sebaiknya tidak mengikatkan diri kepada apa pun yang menghalangi kebebasannya," ujar ibuku suatu ketika, "seperti ikatan perkawinan, kecuali jika dikau juga menikahi seorang pendekar, anakku, karena hanya pendekar yang memahami jalan kehidupan seorang pendekar dalam dunia persilatan, jalan menuju kematian dalam pertarungan."

Aku tentu harus mereka-reka sendiri, tetapi rekaan yang tidak akan terlalu keliru, bahwa ketika pasangan pendekar itu bertemu, saling jatuh cinta, dan memutuskan untuk hidup bersama, suatu kesepakatan untuk menghindari ikatan telah dijalankan, yakni dengan tidak mempunyai anak. Namun mereka tidak menolak kehadiranku dengan peristiwa semacam itu, karena kejadiannya memang menuntut tanggung jawab seorang pendekar, bahwa mereka harus merawat aku, dan memberikan kepadaku kemampuan seorang pendekar.

"Janganlah semua ini menjadi beban, anakku," kata ayahku, "dikau bisa meninggalkan dunia persilatan ini kapan saja selama dikau menghendakinya, karena hidup menjadi seorang pendekar hanya bisa membahagiakan jika menjadi pilihan."

Aku merasa belum memutuskan untuk menjalani kehidupan di sungai telaga dunia persilatan, tetapi aku sudah sangat peka terhadap setiap kemungkinan yang sekiranya akan mengikat diriku. Maka aku pun merasa takut untuk jatuh cinta, meski aku tidak bisa melepaskan diri dari keterpesonaan diriku kepada Harini.

"Apa yang dikau pikirkan, wahai lelaki tanpa nama?"

Aku memang tidak mempunyai nama bukan? Setidaknya tidak ada yang tahu namaku, dan pasangan pendekar itu pun tidak merasa terlalu berhak atau terlalu perlu memberi nama kepadaku. Aku sendiri tidak merasa kurang suatu apa meski tidak pernah dipanggil dan disebut dengan sebuah nama. "Anakku," kata orangtuaku selalu dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.

"DAKU sedang berpikir untuk mencari Naga Hitam itu lebih dulu daripada ia datang kemari dan mencelakakan kita semua."

"Akan ke mana dikau mencarinya, lelaki tanpa nama?" "Naga Hitam adalah penguasa dunia persilatan Kubu Utara,

tidak ada seorang pun dari kita akan bisa melawannya jika ia

berminat membasmi kita."

Mata yang cemerlang itu mendadak jadi redup dan meneteskan air mata.

"Dikau ke sana menghantarkan nyawa, dan dikau meninggalkan Harini sendiri di s ini tanpa sahabat yang mampu membaca!"

Harini menyebut diriku sahabatnya. Aku tidak tahu apakah harus menyesal atau bersyukur mendengar dia mengatakannya, karena jika Harini menghendaki diriku lebih dari apa yang diucapkannya, belum tentu aku berdaya menolaknya. Kami memang sering membaca berdua, jika segala tugasku di desa ini telah kuse lesaikan siang harinya. Kami membaca sampai jauh malam, memecahkan berbagai masalah dalam pembacaan berdua, kadang-kadang dengan bimbingan ayahnya yang cendekia.

Namun bila ayahnya itu berangkat tidur, dan segera terdengar dengkurnya, Harini akan memegang tanganku, dan perbuatannya itu sungguh menggetarkan diriku, meski yang kami berdua lakukan seterusnya memang hanya membaca. Entahlah apa yang diketahui Harini tentang diriku, jika kami tiba kepada naskah-naskah tentang perilaku asmara, karena aku telah terpaksa membacanya tanpa mengerti harus bersikap bagaimana, seperti ketika membaca Kama Sutra karya Vatsyayana. Kata-kata tentang berbagai cara hubungan asmara antara seorang lelaki dan perempuan dalam kitab yang ditulis empat abad sebelum masaku itu begitu terus terang dan begitu jelas, sehingga aku merasa sangat malu dan tidak berani memandang Harini meski ia terus mengejanya.

Menurut ukuran alat kelaminnya, seorang lelaki disebut shasa (kelinci), vrisha (banteng), atau ashya (kuda jantan).

Perempuan, menurut jenisnya, disebut mrigi (kijang betina), vadava (kuda betina), atau hastini (sapi-gajah).

Mereka yang setara akan membentuk tiga pasangan seimbang.

Sedangkan hubungan tak setara akan berjumlah enam.

Hubungan setara adalah mungkin antara yang alat kelam innya besar dengan yang kecil.

Terdapat sembilan jenis hubungan sanggama menurut ukuran kelaminnya.

"Apakah kita tidak bisa membaca yang lain saja?" kataku.

Harini, aku tak berani menatapnya, dalam keremangan lampu malam hari, kulitnya yang kuning bagaikan tetap bercahaya menembus kelam. Ia sungguh halus, tetapi sungguh berani menatap dengan mata yang bagaikan siap melayani setiap tantangan asmara. Inilah yang akan membuat dadaku berdebar. Lebih mendebarkan daripada keadaan menghadapi pertarungan.

Ia tertawa kecil.

"Kenapa, wahai lelaki tanpa nama, kenapa? Apa yang dikau takutkan dengan Kama Sutra?

"Ayahmu sudah tidur, nanti kita membangunkannya..."

Tanganku yang telah dipegangnya ia tarik dengan keras sampai aku nyaris terjerembab. Namun Harini menahan kedua bahuku, menatapku seperti menatap bola mainan. "Janganlah takut kepada Harini, wahai lelaki tanpa nama, kita hanya memeriksa dan menguji segala petunjuk Kama Sutra..."

Lantas Harini melekatkan bibirnya erat-erat pada bibirku.

(Oo-dwkz-oO)

AKU menyukai lingkungan hidup di sekitar Desa Balinawan. Di luar desa, selain sungai, sawah, dan pertapaan di atas tebing, terdapat juga hutan yang rimbun.

ADA wilayah dangkal di sungai yang menjadi pemandian warak, sementara hutan itu kadang menjadi daerah perburuan harimau. Di dalam hutan itu suara kera-kera berkerisik di tengah-tengah semak belukar, seolah-olah mencari kayu bakar, sedangkan suara seolah-olah ada seseorang menebang kayu sesungguhnya datang dari bunyi burung pelatuk.

12) Kijang dan kancil, bila mendekati pertapaan jeritnya memperingatkan para penghuni bahwa ada seorang tamu yang datang; penuh nafsu ingin tahu ia mengintai dari balik sebatang pohon dengan matanya yang manis kekanak- kanakan. Hutan tentu saja juga merupakan surga bagi burung-burung.

Kalau kuingat tulisan para kawi, tiada habisnya mereka menggali kata-kata dan tiruan bunyi guna menerjemahkan kicauan burung-burung ke dalam percakapan dan perselisihan rumah tangga yang tidak se lalu mudah dimengerti, apalagi menceritakannya kembali. Suara burung cataka dan cucur yang sedih dijadikan bahan perumpamaan:

Burung cataka menghentikan tangisnya karena hujan lembut yang membasahi daun pohon wungu. Burung cataka yang hidup dari tetes-tetes hujan, pernah dilambangkan sebagai seseorang yang terpanah asmara, yang begitu merana karena ingin berjumpa kekasihnya. Begitulah, memasuki hutan bagiku seperti kembali ke dunia bacaan bersama Harini. Burung kalangkyang dan hujan adalah lambang pertemuan dua kekas ih. Tinggi di langit burung helang berputar-putar, menangis -ia menderita karena hawa panas dan mendambakan turunnya hujan lebat. Para kawi telah mengamati, setiap kali burung helang atau kalangkyang turun ke sungai untuk minum, dia selalu diserang dan diusir oleh burung-burung kecil, sehingga mereka berputar-putar di langit dan dengan jeritannya memanggil-manggil hujan, satu- satunya minuman yang masih tersedia bagi mereka. Burung cucur digambarkan begitu mencintai rembulan, sehingga ia merana bila bulan mengecil, bahkan hampir mati pada saat tilem, ketika bulan sama sekali tidak kelihatan.20) Suara burung-burung sangat mengharukan di ujung malam, seperti cucur dan tadah-asih yang menangisi susutnya rembulan. 21)

Namun mengingat burung tadah-as ih ternyata sangat menyedihkan aku, karena dalam sebuah bacaan disebutkan:

Anakku,

kau ibarat telur tadah-asih,

yang diasuh dan dirawat orang lain.

BURUNG tadah-asih memang tidak mengerami telurnya sendiri. Siapakah ibu kandungku? Siapakah ibu kandungku? Siapakah ibu kandungku? Siapakah sebenarnya diriku?

"Lelaki tanpa nama! Jangan melamun kalau berjalan bersama Harini, nanti dia terbuang dan merana!"

Kami bergandengan tangan di dalam hutan. Harini mengutip sebuah perumpamaan, "Aku bagaikan burung walik pada saat tilem, merana karena ingin berjumpa dengan dikau, hai rembulan." Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi meski senang mendengarnya. Burung merak bertengger pada cabang sebatang pohon di hutan, sambil memamerkan ekornya yang berwarna-warni?sungguh pemandangan yang menawan hati. Namun yang mengherankan bagiku, kenapa suaranya yang parau disebut para kawi sebagai indah? 24) Bila burung ini mendengar deru guruh di kejauhan yang meramalkan hujan yang akan datang serta mekarnya bunga-bunga, maka ia mulai menari dan berteriak-teriak kegirangan. 25) Hutan merupakan perpaduan berbagai-bagai suara. Burung paksi gending bunyinya mirip gong kecil, 26) suara eping tangisnya melengking 27) meski terkadang juga bermain seruling. 28) Ketika malam tiba, ketika suara burung menghilang terdengarlah terus menerus dengungan aneka macam serangga, jengkerik, belalang, cunggeret dan walang krik melengking, sementara sundari mendengung-dengung antara menjerit dan menangis.

Bukan hanya telinga dimanjakan oleh berbagai suara, juga mata akan mengerjap bahagia menyaksikan dadali atau burung sriti yang bersarang dalam sela-sela batu karang di tepi sungai. Gerak-geriknya tangkas dan cepat, dapat ganti arah dengan mendadak bila menyambar di permukaan air, siluet sayapnya melengkung tajam, sering dipakai untuk melukiskan alis perempuan. 30) Dari tepi hutan, sawah-sawah kelihatan dan di sanalah burung-burung kuntul terlihat di antara gelagah-gelagah di sepanjang tepian sungai. 31) Jika burung ini terbang tinggi, putih bagaikan serangkaian bunga melati, atau lenyap dalam segumpal kabut kemudian muncul kembali...

Harini tidak pernah menyatakan cinta, aku bahkan tidak menyadari apakah cinta harus dinyatakan secara pasti, tetapi kami saling mengutip kitab agar dapat menyatakan perasaan itu sendiri. "Lihatlah kumbang itu," katanya, "terbang dari bunga yang satu ke bunga yang lain, mengisap madu dan tak pernah kenyang."

"Ia menangisi bunga-bunga yang layu dan jatuh dari pohon," kataku, "atau dari sanggul perempuan dan hanyut di sungai bagaikan mayat-mayat. Namun segera berseri melihat pipi seorang perempuan cantik, yang dikiranya sekuntum bunga padma, atau hinggap di betisnya yang dikira sekuntum pudak."

"Dalam kelahiran kembali nanti," sahut Harini lagi, "bila kau menjelma menjadi seekor kumbang, aku akan menjadi bunga asana yang kau cium di taman."

Lantas Harini akan menyeretku ke balik pohon besar yang sangat rindang, sembari tangannya menarik-narik kain busanaku agar terlepas. Bibirnya begitu merah dan merekah, lidahnya keluar membasahi bibirnya, dan matanya jelas mengundang diriku untuk menciumnya. Kainku terlepas sudah. Kulepaskan pula kainnya. Kami segera saling memagut dengan ganas dan saling membelit seperti sepasang naga yang saling berlilitan. Semalam hujan, dedaunan di bawah pohon basah dan dingin, sehingga kami tidak bisa merebahkan diri. Dia terus membelitku dan aku balas membelitnya, dalam iringan suara ayam alas atawa cigeger.

(Oo-dwkz-oO)