-->

Nagabumi Eps 25: Naga Berlari di Atas Langit

Eps 25: Naga Berlari di Atas Langit

Desa Balinawan terletak jauh dari kadatwan atau pusat pemerintahan, tempat bermukimnya aji atau sang pemimpin. Dalam kedudukannya yang jauh dari pusat pemerintahan, penduduk desa menyelenggarakan tata kemasyarakatan mereka sendiri, sehingga terdapat kelompok pem impin satuan pemukiman yang disebut rama. Mereka didampingi oleh para juru yang bertanggung jawab atas jenis pekerjaan tertentu. Tatanan seperti ini, meskipun akan selalu berubah mengikuti pertambahan lapis-lapis jabatan di atasnya sampai pemimpin tertinggi, tetap akan dim iliki oleh sebuah desa secara mandiri. Tidak tergantung kepemimpinan pusat pemerintahan.

BAHKAN antara desa satu dengan desa yang lain, yang letak wilayahnya berdekatan, sangat mungkin membentuk kesatuan wilayah adat tersendiri, juga dengan semacam ibu kota sendiri.

Balinawan adalah tempat seperti itu, disebut wisaya, dan karena itu agak lebih ramai daripada desa-desa di sekitarnya, meski yang disebut ramai untuk sebuah desa tidaklah sebanding dengan keramaian pusat pemerintahan tempat seorang raja bermukim.

Desa itu memunggungi sebuah tebing dengan dinding batu yang curam. Di hadapannya tergelar sawah menguning, sedang di balik tebing itu terdapatlah suatu pertapaan. Di balik sawah terdapat sungai yang telah dimanfaatkan airnya untuk mengaliri sawah-sawah tersebut. Pertapaan itu mendapatkan bahan makanan seperti beras dari penduduk desa, tetapi para rahib juga memiliki ladang sendiri di dekat pertapaan itu, tempat mereka dapat menanam ubi jalar dan pohon buah- buahan seperti jambu durian poh manggis kacapi limo limus kapundung langseb duwet.

Di sekitar pertapaan juga terdapat pohon asana yang bunganya kuning dan kalau gugur menyerupai hujan emas. Warnanya yang indah serta harumnya yang semerbak sangat menarik kawanan lebah, dan karena pohon asana menjulang di atas pohon-pohon lainnya, pada akhir musim kering bila di kejauhan guntur telah terdengar, maka pohon ini paling dahulu menyiapkan bunganya yang sedang mekar untuk menerima tetes-tetes air hujan yang merintik-rintik. Dan bila bunganya sudah layu dan gugur dan dihanyutkan oleh sungai, maka lebah-lebah pun menangisinya seolah-olah seorang tercinta meninggal.

Tentu bukan hanya pohon asana menjadi penguasa keindahan dengan hujan emasnya, karena juga tersebar, baik yang liar maupun sengaja ditanam di sekitar pertapaan, pohon-pohon andul, wungu, asoka, dan campaka. Disebutkan betapa pohon andul akan mundur dengan penuh rasa malu ketika melihat gusi seorang perempuan, karena meski bunga pohon ini berwarna merah, tidaklah semerah gusi perempuan yang cantik jelita. Pohon wungu yang bunganya berumpun- rumpun juga merah warnanya, menjulang dan meruncing ke pucuk, menyerupai sebuah candi atau meru. Bunga asoka yang juga merah tangkainya lemah lembut bagaikan pinggang seorang perempuan yang langsing.

DUNIA desa adalah juga dunia bambu. Berbagai jenis bambu seperti pring, petung dan wuluh dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Batangnya dipakai membuat saluran air yang melintasi jurang-jurang, sedangkan ruas-ruas jenis bambu yang besar untuk membawa air atau menanak nasi. Pemandangan desa penuh dengan daun calumpring yang menutup ruas-ruas bermata ketika pohon bambu masih muda, yang lepas bertebaran ketika bambu tumbuh dewasa. Bambu wuluh memperdengarkan suara menciut bila diayun-ayunkan angin yang mirip rintihan dan keluhan, seperti keluh kesah perempuan yang kehilangan pakaiannya. Bila angin bertiup melalui lobang-lobang batang pring bungbang, orkes hutan bagaikan dilengkapi sejumlah seruling.

Pohon-pohon camara yang terus menerus digoyangkan bagaikan suara keluh kesah, ratap tangis, yang kadang berubah jadi sorak sorai. Bambu, cemara, dan macam-macam pohon kelapa, mulai dari nyu danta atau kelapa gading sampai lirang dan pucang memang tidak akan memikat warna- warnanya, tetapi kekurangan ini diim bangi tetumbuhan yang menjalari batangnya, seperti katirah yang merah dan gadung atau jangga yang kuning; bunganya bergantungan menghiasi punjung-punjung tempat dua orang kekasih diam-diam saling berjumpa, sekaligus menyediakan bunga-bunga yang mereka pakai untuk saling mempercantik.

Bunga menur lentik mungil seperti juga melati, membuatnya bagaikan bangau-bangau terbang di awan gelap bila terletak di sanggul seorang perempuan yang seperti gulungan tunas-tunas muda pohon pakis. Daun-daun mimba seperti alis perempuan yang dikerutkan dan bunga pisang yang jatuh ke tanah sepintas lalu bagaikan pecahan kuku tangan. Hmm. Tiada kukira betapa di desa yang semerbak dengan harum bunga seperti ini aku bertugas melindunginya dari usaha penumpahan darah.

Semula kurasakan hal itu sebagai tugas yang tidak semestinya, karena bukanlah tugas seorang anak 15 tahun untuk melindungi penduduk sebuah desa dari ancaman para pembunuh yang selalu tersembunyi di balik ma lam. Namun ketika kucoba mencari alasan kenapa aku harus bersedia menerimanya, tentu bukanlah lompatan jungkir balik di atas ubun-ubun itu yang bisa kuandalkan, melainkan teringat kata orangtuaku, pasangan pendekar itu, sekadar bahwa orang yang punya kelebihan harus mengabdikan kelebihannya itu kepada mereka yang membutuhkannya.

"Apalah yang kami harus lakukan, Anak?," ujar orang tua itu.

"Kita akan bergiliran meronda desa ini," kataku, "setiap malam harus ada setidaknya satu regu peronda."

"Apakah para peronda ini tidak akan dibunuh, Anak?"

AKU menghela napas. Kematian tentu saja adalah sebuah kemungkinan. Jika desa terancam bahaya, tidakkah setiap orang mesti rela memberikan dirinya? Namun tentang hal ini, bukankah aku seharusnya tidak lebih tahu dari mereka? Aku dibesarkan oleh pasangan pendekar yang menyendiri, jauh dari kehidupan ramai, tidak pernah mengalami masalah seperti banyak orang yang hidup bersama-sama seperti di desa. Aku terbiasa hidup dengan bebas, bahkan agak liar dalam pemikiran, karena tidak terikat oleh kuasa peradaban dan adat istiadat yang berlaku pada masa itu.

Memang benar bahwa latihan ilmu silat sangat tertib dan sangat teratur, sementara perbincangan pasangan pendekar yang mengasuhku tentang berbagai pemikiran yang berkembang di dunia ini, hanya bisa kupahami jika aku menguasai berbagai istilah kunci dari kitab-kitab di dalam peti kayu. Membaca kitab-kitab dalam peti kayu juga tidak mudah, karena pemikiran yang diuraikannya terkadang cukup rum it bahkan terkadang seperti menolak dimengerti. Belajar membaca bagiku bukan hanya mengenal huruf dan bagaimana bunyinya, melainkan melalui istilah-istilah kunci berusaha membuka jendela dunia dan mendapatkan pengetahuan.

Namun tiada kata-kata akan menjelma pengetahuan tanpa pendalaman, dan pendalaman adalah usaha keras yang menuntut ketekunan. Dalam usia 15 tahun, tentu belum terlalu banyak yang kubaca, tetapi telah tertanam dalam diriku suatu kebiasaan untuk se lalu mendalami segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, dan sebegitu jauh kualami betapa tuntutan untuk menggauli peradaban hanya akan mengganggu ketekunanku saja. Penolakanku terhadap peradaban itulah yang berpeluang membuatku liar, bukan dalam perilaku, melainkan dalam pemikiran. Diriku dibesarkan dan dibentuk oleh sepasang pendekar yang mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat. Tiada cara hidup lain yang kukenal sebagai bekal hidupku.

Di desa ini, kali ini, aku harus merelakan diriku untuk menghayati peradaban, jika ingin mendorong mereka untuk berdaya menghadapi gangguan dari luar. Lagipula aku membutuhkan mereka agar menyelamatkan segala kitab di dalam peti. Aku tidak mungkin membawanya ke mana-mana seumur hidupku. Padahal, diam-diam telah kubulatkan keputusanku untuk menjadi seorang pengembara. Aku telah bermukim se lama limabelas tahun bersama Naga Kembar dari Celah Kledung karena kecintaanku terhadap pasangan pendekar itu. Dengan kepergian mereka untuk selama- lamanya, tiada lagi yang mengikatku untuk tetap tinggal di suatu tempat sampai aku mati...

(Oo-dwkz-oO)

AKU meronda setiap malam sendirian mengelilingi Desa Balinawan. Para pemuda desa yang telah kulatih ilmu beladiri seadanya, kutempatkan secara berkelompok di berbagai gardu jaga. Kami juga telah berlatih untuk menghadapi serangan banyak orang sebagai suatu kelompok. Kusadari tingkat ilmu silat mereka masing-masing yang tidak seberapa, maka suatu pertahanan sebagai kelompok akan menutupi kelemahan mereka masing-masing.

Namun berkeliling dari gardu yang satu menuju gardu yang lain kulakukan sendirian, karena dengan begitu aku bisa bergerak lebih bebas di balik kelam. Meski begitu, antara gardu satu dengan gardu yang lain selalu dilakukan saling tukar penjaga, sehingga tidak sejengkal tanah pun tidak terawasi sepanjang perbatasan desa itu. Kuperkirakan bahwa siapapun yang berusaha meletakkan sembarang mayat di desa itu akan dipergoki oleh para peronda desa ini.

Itulah yang memang kemudian terjadi pada suatu malam yang gelap sekali. Para peronda memergoki sebuah sosok sedang berjalan mengendap-endap sambil membawa beban di antara pepohonan.

"He! Berhenti! Siapa kamu?!"

Sosok itu tidak berhenti, bahkan berlari menghilang sembari membuang bebannya.

"HOOOI! Penyusup! Tangkap! Tangkap!" Kentong titir segera dibunyikan dan para peronda segera berdatangan mengepung, sementara penduduk pun semuanya terbangun.

Beban yang dibuangnya ditemukan. Ternyata memang sesosok mayat. Orangnya menghilang. Akulah yang mengejarnya.

Aku berdebar. Bila aku bentrok dengannya, ini akan menjadi pertarunganku yang pertama. Aku merasa percaya diri. Meskipun ilmuku belum terlalu tinggi. Aku diasuh pasangan pendekar. Mereka tak akan meninggalkan aku tanpa bekal hidup yang memadai dalam ukuran mereka. Bila bekal hidup yang dimaksud adalah ilmu silat, maka tentulah ilmu silat yang lebih dari cukup untuk sekadar membela diri.

Aku melesat ke arah sosok yang berkelebat ke utara. Ia tampak menguasai ilmu meringankan tubuh. Aku juga menggunakan ilmu meringankan tubuh. Namun ilmu meringankan tubuh itu banyak percabangannya, mulai dari yang hanya untuk meloncat naik ke atap, yang untuk melompat dari atap ke atap, sampai yang hanya untuk berlari saja-sedangkan ilmu berlari itu juga banyak jenisnya, mulai dari I lmu Berlari di Atas Rumput, Ilmu Berlari di Atas Air, sampai Ilmu Berlari di Atas Laut. Orang itu berlari seperti terbang. Tampaknya ia menggunakan I lmu Berlari di Atas Awan. Maka aku menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit. Keduanya seimbang dalam kecepatan, tetapi Jurus Naga Berlari di Atas Langit adalah bagian saja dari I lmu Pedang Naga Kembar, dan karena itu kedua tangan tetap bebas memainkan pedang, bahkan senjata apapun yang mungkin tercapai tangan.

Namun meski hanya menggunakan Ilmu Berlari di Atas Awan, seseorang bisa saja tetap melatih dirinya untuk berlari sambil tangannya mempergunakan senjata, yang ternyata dikuasai oleh orang yang kukejar itu. Ia memang berlari cepat sekali. Sebetulnya aku pun tidak betul-betul melihatnya dalam kepekatan malam yang kali ini bagaikan tidak memperlihatkan sesuatupun dalam kegelapan. Aku hanya mendengar teriakan para penjaga, lantas mengikuti suara-suara yang berlanjut setelahnya. Kupisahkan suara bergedebukan orang-orang desa yang berlari dari suara-suara lebih lembut semak dan ranting yang terlanggar dalam pelarian sosok hitam itu.

Jelas sosoknya hitam karena memang tidak terlihat sama sekali, maka lebih baik mengandalkan pendengaran. "Telinga adalah mata dalam kegelapan," kata ayahku, "bahkan mata dapat menipu kita dalam cahaya terang, karena cahaya bukan bagian dari sesuatu yang diteranginya." Maka bagian dari ilmu silat yang kupelajari adalah bertarung dalam kegelapan. "Jangan hanya mengandalkan mata dalam pencerapan," katanya pula, "karena terlalu banyak jurus diciptakan untuk menipu pandangan mata itu." Maka memang kudengar gesekan bajunya yang mengenai ranting-ranting. Kukejar ke arah suara-suara itu dan ia pun lari lebih cepat lagi.

Demikianlah kami berkejaran pada tengah ma lam. Kenapa ia berlari ke arah utara? Tidakkah diketahuinya di sana terdapat dinding batu curam menjulang yang mungkin saja menghentikan laju kecepatan pelariannya? Bahkan di sana terdapat rumah-rumah para penduduk Desa Balinawan juga. Namun tentu saja ia memiliki ilmu meringankan tubuh dan akal yang sangat berguna. Bukankah semua orang keluar karena kentongan dan tentu mengerumuni mayat yang darahnya tersiram di jalanan itu? Para peronda memburu ke selatan, karena memang tiada jalan lari lain selain menyeberang sungai, untuk menyelam muncul di seberangnya.

Ia berlari ke utara dan tiada yang mengejarnya selain diriku seorang. Ia tentu yakin akan mampu mengatasiku dengan ilmu yang dimilikinya. Aku berlari memburu suara-suara kakinya yang bergerak bagaikan bayangan dengan Ilmu Berlari di Atas Awan. Memang seperti terbang bagaikan nyaris tiada menyentuh tanah, meski tetap saja menyentuh tanah, tetapi dengan sangat cepatnya, tak akan terlihat mata bahkan juga takterdengar telinga orang biasa. Telah kukatakan tadi aku hanya mengandalkan pendengaran atas semak dan ranting yang tersentuh olehnya. Jika ia mampu melayang ke atas dinding dan berlari di atas dataran tinggi itu, aku tidak akan mempunyai jejak pendengaran yang bisa kuikuti pada malam yang buta.

Kupercepat lariku, bagaikan aku yang diburu oleh sesuatu, dan kurasa memang makin dekat diriku dengan sosok kehitaman yang berlari itu. Kudengar makin jelas telapak alas kakinya yang menyentuh pucuk-pucuk rumput, bahkan dengus nafasnya yang tampak mulai kelelahan. Lantas kudengar desingan-desingan senjata rahasia...

SECEPAT kilat kucabut pedang dari sarungnya di punggungku. Kuputar bagaikan baling-baling di hadapanku dan terdengarlah suara-suara benturan yang ternyata tiada habisnya. Berapa banyakkah senjata rahasia yang dibawanya? Ia melempar terus menerus bagaikan tinggal meraup senjata- senjata rahasia itu dari udara, sambil terus berlari ke arah utara. Kuputar terus pedangku tanpa celah sedikit pun sehingga tiada satu pun dari ratusan jarum beracun yang meluncur itu mengenaiku.

Pasangan pendekar yang mengasuhku telah melatihku dengan keras untuk menghadapi serangan-serangan tersembunyi, karena serangan semacam inilah yang biasanya mengakhiri riwayat para pendekar, jika menghadapi lawan- lawan dari golongan hitam. Bahkan sebenarnya setiap pendekar golongan putih dan golongan merdeka juga melatih diri menghadapi serangan gelap yang mana pun, tetapi mereka yang mempelajari dan mengandalkan cara hidup dalam dunia persilatan yang semacam ini memang terus berusaha meningkatkan kemampuannya. Di atas langit ada langit. Pepatah ini juga berlaku bagi golongan hitam. Setiap kali suatu racun ditemukan penawarnya, setiap kali ditemukan juga jenis racun pembunuh yang baru. Tidak seorang pun akan tahu sekarang apakah setiap racun itu pasti ada obatnya.

Ketika serangan jarum-jarum beracunnya berhenti, kami telah sampai di padang terbuka yang membatasi tegalan dengan pemukiman. Kini aku bisa melihatnya. Ia berlari cepat, begitu cepat bagaikan terbang di atas tanah, sebelum akhirnya berkelebat ke atas atap, dan melayang dengan indah dari atap yang satu ke atap yang lainnya, menuju dinding batu yang menjulang di utara. Aku terus memburunya, karena setelah pemukiman ini hanya terdapat dinding batu, dan kubayangkan akan bisa memojokkannya di situ. Kami berloncatan saling berkejaran dari atap ke atap. Ia melenting dari atap ke atap itu hanya dengan sekali jejak. Ringan seperti lompatan bangau, berkelebat cepat seperti kelelawar.

Ia melihatku makin dekat dan melemparkan sebuah pisau terbang. Aku menangkap pisau terbang itu, dan menyelipkannya pada ikat pinggangku. Ia langsung menuju dinding batu. Apakah yang akan dilakukannya? Ternyata ia meluncur dari sebuah atap dengan kedua kaki di depan seperti bermaksud menjejak dinding itu. Begitu kakinya menjejak dinding dirinya berbalik meluncur dengan cepat sekali menuju ke arahku! Sembari meluncur dilemparkannya beberapa pisau terbang ke arah berbagai tempat mematikan pada tubuhku. Sementara itu aku sedang melesat dengan cepat ke depan memburunya, bagaikan menyambut pisau-pisau terbang yang mendesis dan membelah udara dengan kecepatan luar biasa. Sungguh aku tidak siap menepisnya!

(Oo-dwkz-oO)