Nagabumi Eps 22: Pendekar Harus Membela yang Lemah

Eps 22: Pendekar Harus Membela yang Lemah

Lima belas tahun yang berbahagia hapus oleh peristiwa satu hari. Bukan, bukan karena aku hanyalah anak pungut mereka, sama sekali bukan, tetapi perpisahan yang bagiku terasa mendadak itulah, perpisahan untuk se lama-lamanya, yang telah mencerabutku dari suasana keceriaan seorang remaja. Semenjak mereka pergi dan menghilang di balik celah itu, mereka memang tidak pernah kembali lagi. Peristiwa ini terjadi tahun 786, ketika Rakai Panunggalan baru bertakhta dua tahun dalam masa pemerintahannya yang hanya akan berlangsung sembilan tahun.

Aku menjadi seorang pemurung. Setiap hari aku hanya duduk di depan pintu pondok, terus memandang ke arah celah, seolah-olah mereka setiap saat akan muncul di sana, duduk dengan gagah di atas kuda mereka yang tegap, seperti biasanya apabila mereka pulang dari perjalanan yang jauh.

Pondok itu memang terletak di sebuah lembah yang subur. Di depan pondok itu terdapatlah lahan tempat ayah dan ibuku bercocok tanam. Lahan itulah yang telah membesarkan aku, di sana terdapat segala macam pohon dan tanaman rambat yang kami masak setiap hari. Ayah dan ibuku tentu juga mengajari aku berburu, tetapi bukan berburu seperti seorang pemburu, melainkan sebagai seorang pendekar silat yang mampu bergerak cepat tanpa suara dari dahan ke dahan. Jadi kami tidak memasang jerat atau membawa senjata, melainkan terbang dari pohon ke pohon di dalam hutan sebelum menukik dan membunuh binatang buruan kami.

Seringkali perburuan itu dilakukan dengan tangan kosong, karena menurut ayah dan ibuku ini merupakan salah satu cara melatih ilmu silat, m isalnya bahwa binatang buruan itu harus dilumpuhkan tanpa menyakitinya. Demikianlah aku mendapat pengertian betapa berburu demi kesenangan layak dikutuk, tetapi berburu untuk mendapatkan daging untuk dimakan dan melanjutkan kehidupan serta membangun kebudayaan adalah suatu pilihan yang harus dipertanggung jawabkan-yakni bahwa hidup kita itu memang berguna bagi banyak orang.

Sebagai bayi yang diasuh pasangan pendekar, tiadalah terhindarkan betapa ilmu silat mereka itu seolah-olah wajib diturunkan kepadaku.

"Apabila kami melatihmu ilmu s ilat, wahai anakku, bukanlah berarti bahwa dikau harus mengikuti jejak kami untuk mengarungi rimba hijau dan melayari sungai telaga dunia persilatan, karena dengan begitu seolah-olah kehidupanmu sudah ditentukan. Melainkan agar kamu mempunyai kemampuan membela diri dan tidak mudah dicelakakan orang.

MENJADI berguna bagi banyak orang tidak berarti kita harus menjadi seorang pendekar silat, karena kita dapat mengabdi kepada kemanusiaan melalui segala jalan. Jika dikau seorang tukang masak dan mendirikan kedai anakku, itu berarti dikau peduli kepada mereka yang kelaparan dalam perjalanan; jika dikau seorang petani dan menghasilkan banyak padi yang dipanen, dikau telah membantu tersedianya bahan makanan di negeri ini; dan jika dikau seorang guru yang mengajarkan kepandaian membaca kepada murid- muridmu, berarti dikau telah membukakan sebuah dunia untuk mereka anakku.

"Dikau tak harus menjadi seorang pendekar dan mengikuti jejak kami, bukan karena dunia persilatan adalah jalan yang pasti menuju kematian dalam pertarungan, melainkan karena melalui jenis pekerjaan yang mana pun, dengan ilmu dalam bidang apa pun, siapa pun dia akan mengetahui suatu untuk membuatnya berguna bagi kehidupan banyak orang."

Harus kuakui betapa dalam lima belas tahun kehidupanku itu, kehidupanku bersama ayah dan ibuku, pasangan pendekar yang mengasuhku itu, adalah kehidupan yang sampai hari ini pun masih sangat berkesan bagiku. Aku bisa mulai dengan keadaan sekitarku. Telah kuceritakan tentang terdapatnya sebuah pondok. Itulah pondok yang menjadi rumah kami. Atap rumah kami berbentuk limas, yang melebar di bagian bawahnya, sebagaimana rumah-rumah pedesaan yang lain. Bahan bangunan untuk rumah di pedesaan bisa sangat beragam, mulai dari batu, kayu, bahkan logam, tetapi ayah dan ibuku telah memilih untuk membangun rumah dari kayu. Adapun atapnya merupakan atap ijuk pohon enau. Karena bahan rumah kami adalah kayu, terdapat tiang yang memiliki rongga mirip jendela; berbeda dari bangunan dengan tiang logam, yang bentuk tiangnya tergambar sangat tipis pada pahatan dinding Kamulan Bhumisambhara; berbeda juga dari bangunan batu, yang tergambar berbentuk pejal.

Seperti orang-orang yang hidup di pedesaan, dalam membuat rumah kami selalu menyesuaikan diri terhadap keadaan alam dan iklim Yawabumi. Melebarnya atap rumah di bagian bawah, sebetulnya untuk menaungi penghuni dari hujan yang turun hampir sepanjang tahun, terik matahari musim panas dan kelembaban tanah yang tinggi. Meskipun kehidupan pasangan pendekar yang mengasuhku tidak disamakan dengan kehidupan orang desa yang awam, rumah ini sama saja dengan rumah yang dibangun dengan penyesuaian terhadap kehidupan orang desa itu, bahwa lelaki lebih sering melakukan kegiatan di luar atau di sekitar halaman rumah, sedangkan kaum perempuannya lebih banyak berada di belakang rumah. Mengikuti banyak bangunan di pedesaan, rumah kami lantainya juga ditinggikan dan disangga tiang, sehingga terdapat ruang antara lantai rumah dengan tanah.

Sebagai pasangan pendekar silat yang menyadari bahwa cara hidupnya akan sangat berbeda dari orang-orang awam di desa, ayah dan ibuku memang membangun rumah dan bermukim agak terpisah dari mereka. Namun itu tidak berarti kami terputus sama sekali dari kehidupan orang-orang desa. Jika aku keluar dari celah dan berjalan kaki menyeberangi hutan sepenanak nasi lamanya, akan terhamparlah pemandangan rakyat yang sibuk membajak sawah dan menanam; anak-anak menggembalakan kerbau-kerbau yang akan tiba-tiba lari jika terkejut oleh pemandangan luar biasa serta bunyi kuda-kuda dan gajah. Jika hal itu terjadi, yang lewatnya rombongan petinggi kerajaan, rakyat untuk sementara meninggalkan pekerjaan, jongkok di pinggir jalan sementara pawai itu lewat dan minta sedekah berupa sirih.

Apabila aku terus melangkah ke arah timur laut, ke desa- desa yang lebih makmur, akan kulihat tempat jurang-jurang memaparkan suatu pemandangan yang indah sekali bila kita melihat ke bawah; taman-taman pesanggrahan-pesanggrahan yang melingkar, candi-candi dan pertapaan seseorang, itu semua menimbulkan rasa kagumku. Ladang-ladang luas terhampar, tersebar pada lereng gunung; sebatang sungai besar turun dari bukit dan mengairi tanaman itu.

ADAPUN sebuah dusun yang kupandang dari atas, terletak di bawah, dalam sebuah lembah di tengah-tengah punggung- punggung bukit. Bangunannya indah sekali, atapnya yang dibuat dari lalang terselubung oleh hujan gerim is. Gumpalan- gumpalan asap melayang jauh, meninggalkan bekasnya di langit. Balai desa terlindung oleh sebatang pohon banyan, atapnya terbuat dari gelagah; tempat di bawahnya sering diadakan musyawarah.

Di sebelah barat terdapat punggung-punggung bukit yang penuh dengan sawah-sawah, pematangnya kelihatan jelas dan tajam. Halaman-halaman saling berdekatan, rapi berderet, pohon-pohon nyiur semuanya dise limuti kabut. Sayap-sayap burung kuntul berkilauan ketika mereka terbang di atas, samar-samar kelihatan dari jauh di tengah-tengah awan-awan, kemudian mereka lenyap, terlebur dalam kabut dan tidak kelihatan lagi. Di sampingnya terdapat sebuah padepokan dekat sebuah sungai besar yang airnya dalam sekali. Gapuranya menjulang putih bersih, temboknya dibuat dari tanah dan melingkar tinggi, tanpa sela. Pohon tanjung, cempaka, bana, dan nagakusuma menyebarkan keharuman karena bunganya semua mekar; pohon-pohon itu teratur baris demi baris mengelilingi biara bersama dengan tembok; dengan tak hentinya kumbang-kumbang berdengung.

Di dalam tembok biara itu terdapat gardu-gardu ramping, beratapkan ijuk enau bagaikan sebuah lukisan. Tunas kembang jangga terkulai jatuh dari paga-paganya yang sarat, sulur-sulurnya berjalinan sedangkan harum bunganya lembut mewangi. Daun-daun katangga terserak di atas atap-atap terbawa oleh angina. Atap-atap itu laksana gadis-gadis yang menghiasi rambutnya dengan bunga-bunga, indah untuk dipandang.

Di sebelah utara terdapat tempat-tempat persembahan yang rapi bersih, di tengah lapangan yang gundul kelihatan cerah dan hijau. Kuil-kuil itu kelihatan mulia, diselubungi oleh kabut pagi. Suasana sunyi senyap, hanya terdengar tangisnya para heping; bunyi suara mereka yang melengking sungguh mengharukan hati. Suara keong yang ditiup terdengar keras dan terus menerus, serasi dengan suara lonceng-lonceng yang mengajak manusia untuk berdoa.

Dengan begitu aku memang dibesarkan dalam suasana terpencil, karena pondok kami memang terasing di balik hutan dan hanya dapat dicapai setelah memasuki celah sempit yang panjang itu, tetapi itu tidak berarti aku terasing dari masyarakat di sekitarku. Bahkan sebenarnyalah ayah dan ibuku se lalu mendorong aku agar tidak tenggelam dalam latihan ilmu silat dan pembacaan kitab-kitab yang bertumpuk di dalam pondok. "Mengenal manusia adalah bagian dari pengenalan atas dunia," kata ibuku, "karena manusialah yang memberi makna dunia."

Jika kemudian aku melangkahkan kaki dan berjalan dari desa ke desa, takjarang terlihat betapa di daerah pegunungan terdapat desa yang miskin, yang lumbung-lumbungnya kecil dan lembu-lembu demikian kurus di bawah ukuran wajar, sehingga lebih menyerupai domba-domba. Namun apabila kemudian aku sampai pula ke dusun yang makmur, terutama yang berada di dekat pertapaan, maka ada kalanya aku tidak dapat tidur karena dusun itu sudah bangun meski hari masih gelap. Penduduk menyalakan lampu dan mulai bekerja di tempat pencucian serta pembuatan periuk yang keduanya terletak di dekat sungai. Bunyi alat-alat yang berketak-ketok terdengar jauh di waktu malam.

Para penjual mulai mengatur barang dagangannya; mereka tidak mempedulikan bahwa hari masih begitu dini demi keuntungan yang nanti akan dipetik. Lauk-lauk yang sudah dimasak siap untuk dibawa ke pasar; dan bahan makanan yang sedang digoreng memperdengarkan suara mendesis, seolah-olah mengundang orang untuk membelinya .

Jika kutinggalkan dusun ini dan meneruskan perjalanan menyusuri punggung sebuah gunung, maka di bawah dekat pantai kelihatan sebuah dusun dengan kotak-kotak putih, tempat garam dibuat. Tambak-tambak menyerupai sawah- sawah dan orang-orang yang menangkap belut kelihatan seperti orang yang menanam padi. Di pinggir sawah-sawah dan di sepanjang lereng-lereng gunung pohon-pohon menyerupai wayang-wayang yang nampak dalam kabut tipis yang meliputi segala-galanya. Lagu-lagu diperdengarkan oleh suara burung kuwong yang lembut sedangkan suara derak- derik bambu di dalam jurang-jurang menggantikan bunyi salunding. Di sungai a lat-alat kotekan disusun baris demi baris, seperti salunding dalam wayang. Bambu-bambu berlubang yang dipermainkan angin menyerupai seruling-seruling, sambil mengikuti iramanya. Gending-gending disediakan oleh kaiak kungkang di dalam jurang-jurang, sedangkan bunyi melengking dari jangkrik-jangkrik menyerupai bunyi alat-alat kamamak canang. Gunung gunung mempergelarkan pertunjukan wayang; bayangan sosok pohon-pohon nampak lewat tirai kabut tipis. Burung perkutut menabuh salunding disertai suara para kidang. Kidung-kidung dinyanyikan oleh burung-burung merak dengan jeritan mereka yang menyayat hati.

Namun kehidupan tidaklah se lalu tenteram dan damai seperti gambaran para kawi. Dalam berbagai perjalanan, ketika diajak ayah-ibuku maupun dalam perjalananku sendiri, kadang-kadang kutemukan prasasti maupun naskah yang menunjukkan terdapatnya bermacam-macam kejahatan. Di antaranya terdapatlah yang disebut astadusta, yakni membunuh orang yang tidak berdosa, menyuruh membunuh orang yang tidak berdosa, melukai orang yang tidak berdosa, makan bersama seorang pembunuh, mengikuti jejak pembunuh, bersahabat dengan pembunuh, memberi tempat persembunyian kepada pembunuh, dan memberi pertolongan kepada pembunuh. Ini belum termasuk kejahatan lain seperti merampok, memperkosa, mengamuk, maupun berbagai bentuk kejahatan yang berhubungan dengan utang piutang dan jugs pengkhianatan terhadap negara.

Kelak aku akan banyak mengetahuinya dari Arthasastra, tetapi sebelum itu ayahku telah memperkenalkan tatacara yang berbeda dalam dunia persilatan, yang sangat berbeda dengan peradaban orang awam yang mengandalkan hukum dan kebijakan raja dalam mengatasi kejahatan.

"Seorang pendekar akan sering tidak punya pilihan selain membunuh atau. dibunuh, dan meskipun bertentangan dengan hati nurani, kita tidak dapat melepaskan diri dari pilihan itu. Kecuali takkaupilih dunia persilatan sebagai jalan hidupmu," kata ayahku dulu.

Namun orang-orang awam yang bahkan tidak menyadari betapa dunia persilatan itu ada, tidak juga asing dengan pilihan semacam itu. Justru itulah yang membuatku kagum dengan semangat dan nyali mereka yang besar-ternyata tidak harus menunggu untuk menjadi pendekar agar bisa menjadi seorang pemberani.

Dengan kepandaian bela diri apa adanya, jelas tanpa tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, orang-orang awam ini berani menempuh bahaya, memasuki hutan dan menapaki jalan sepi pada malam hari meski terkadang hanya sendirian.

SUATU ketika saat mengikuti ayah dan ibuku dalam suatu perjalanan mengunjungi seorang guru, kami memergoki sejumlah begal sedang mengepung rombongan pedagang yang membawa ikan asin, dendeng ikan, dan garam dari daerah pesisir untuk diedarkan ke pedesaan. Mereka mengangkutnya dengan gerobak yang ditarik oleh kerbau. Mereka telah membayar pajak kepada setiap hulu wwatan di jembatan, dan untuk menghindari pemerasan tengkulak yang disebut pengepul, mereka telah berusaha mengangkut sendiri barang-barang dagangan ini. Dari daerah pesisir ke wilayah pegunungan ini, alangkah jauhnya! Me lewati hutan, begal- begal bermunculan dari balik pepohonan.

Waktu kami tiba di sana, belum jatuh korban, tetapi begal ini banyak sekali. Umurku masih enam tahun waktu itu dan aku sudah dilatih Ilmu Pedang Naga Kembar, meskipun aku hanya mampu memainkannya dengan pedang kayu yang ringan. Tentu saja pasangan pendekar yang telah berlaku sebagai orang tuaku itu melarang aku bertempur.

"Tidak baik anak enam tahun menumpahkan darah," kata ibuku, "melihat pembunuhan pun sebetulnya tidak bisa dibenarkan, tetapi kamu dibesarkan oleh kami, tidak boleh kamu menjadi orang yang lemah." Untuk kali pertama aku melihat kedua orang yang membesarkan aku bagai menunjukkan siapa diri mereka. Begal-begal itu langsung pucat melihat orang tuaku datang menyerbu di atas punggung kuda.

"Sepasang Naga dari Celah Kledung!" Mereka berteriak nyaris bersamaan.

Kedua pedang di tangan pasangan pendekar itu sudah berubah menjadi baling-baling yang menyambar setiap begal bertenaga kasar itu. Para pedagang yang juga memegang pedang, tapi memainkannya dengan jurus-jurus yang terlalu sederhana, tampak mengambil nafas lega. Nama Sepasang Naga dari Celah Kledung sudah terkenal sebagai pembasmi begal. Pasangan itu tidak peduli, apakah seseorang menjadi begal karena tersingkir dari gelanggang kekuasaan dan menjadi mursal, ataukah tidak tahu jalan hidup lain selain menjadi begal. Bagi mereka, penindasan dengan kekerasan terhadap orang-orang yang lemah adalah suatu kejahatan dan ketidakadilan, yang menuntut campur tangan mereka sebagai orang yang berilmu dengan banyak kelebihan.

"Kalau dikau memilih jalan hidup sebagai pendekar anakku, dikau harus se lalu membela mereka yang tidak berdaya," ujar ibuku, setiap kali usai menceritakan dongeng sebelum tidur.

Dengan cepat begal-begal itu ditewaskan tanpa ampun. Ternyata aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri tanpa bergidik sama sekali. Apakah ini karena suara pertama yang kuingat adalah suara benturan golok dan jeritan kematian? Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dua pasang pedang yang dimainkan dengan I lmu Pedang Naga Kembar berkelebat dengan tegas membelah dada, menusuk perut, memapas leher, dan menebas punggung. Sepintas lalu gerakan keempat pedang itu memang seperti geliat sepasang naga yang menganga dan memagut dari segala arah. Jerit kematian berkali-kali membelah langit dan dalam sekejap lima belas mayat berdada telanjang bergelimpangan dengan tubuh menganga karena luka lebar bersimbah darah.

Sampai matahari turun dan langit menjadi gelap aku masih duduk termenung di depan pondok, menatap celah tebing bagaikan keduanya setiap saat akan kembali.

Aku teringat mereka berdua. Sedih sekali. Memandang ke arah celah, aku teringat segala peristiwa yang telah kualami bersama mereka.

(Oo-dwkz-oO)