Nagabumi Eps 21: Sepasang Naga dari Celah Kledung

Eps 21: Sepasang Naga dari Celah Kledung

SEBERAPA jauh seseorang mampu mengingat kembali masa lalunya? Bagaikan melayang dan meluncur dalam sebuah lorong waktu yang kelam tetapi memberikan gambar- gambar masa lalu yang berkelebatan aku berusaha menggapai masa laluku yang terjauh sangat jauh dan tidak bisa lagi lebih jauh-tetapi bagaimanakah bisa dipastikan bahwa kenanganku merupakan kenyataan yang boleh dianggap dan diandaikan setidak-tidaknya mendekati kebenarannya jika kebenaran itu disepakati memang ada? Seperti apakah masa laluku yang telah seratus tahun berlalu? Ketika melayang dan meluncur di dalam lorong waktu itu aku merasa setiap kali harus menghindari sambaran golok, tusukan tombak, gebukan toya, dan lecutan cambuk berduri. Masa lalu macam apakah kiranya yang penuh dengan desingan pisau terbang, desisan jarum-jarum beracun, dan bunyi logam beradu yang berasal dari benturan dua pedang? Ini masih terlalu sering ditambah suara-suara jeritan manusia yang terluka, jeritan terakhir yang mengantarkan mereka ke gerbang kematian. Itukah masa laluku, itukah jum lah keseluruhan dari hidupku? Mungkinkah aku telah mengarungi lorong waktu yang keliru? Namun tiada lorong waktu lain yang terdapat dalam urat syaraf kenanganku selain kehidupan yang kualami sendiri bukan? Dari kelam ke kelam aku meluncur dan memburu masa laluku, sampai dimuntahkan oleh lorong waktu itu ke dalam sebuah gerobak yang dilarikan seekor kuda.

Aku hanya mengingat suara hiruk-pikuk dan guncangan dahsyat karena gerobak itu dilarikan di atas jalanan berlubang dan berbatu-batu. Aku merasa tidak berdaya. Dunia bagaikan suatu guncangan yang dahsyat -itukah sebabnya peristiwa ini menjadi tonggak kenangan terjauhku? Guncangan dahsyat berlangsung dalam kegelapan dan teriakan-teriakan membahana. Sayup-sayup kudengar jeritan seorang perempuan. Demikianlah, dunia yang berguncang, jeritan dalam kegelapan, dan teriakan keras menakutkan telah menjadi awal kenanganku -dan meski tentunya aku telah dilahirkan lebih dulu, aku merasakan peristiwa itulah yang sebetulnya melahirkan aku, yakni aku yang menyadari dunia di sekelilingku.

Apakah aku masih bayi? Namun pasti aku belum bisa berjalan apalagi berlari. Barangkali aku berada dalam dekapan seorang perempuan sebelum gerobak itu me laju cepat dan berguncang di atas jalan yang berlubang dan berbatu-batu. Gerobak itu tentunya terguncang miring bolak balik dari kiri ke kanan dan terlempar naik ketika melindas tonjolan batu dan terjerembab turun ketika melewati lubang, sungguh dunia berguncang-guncang karena kuda yang berlari ketakutan tidak mau berhenti. Apakah yang telah terjadi?

Kenangan sering merupakan keajaiban, bukan karena kita sering teringat, bahkan teringat sesuatu terus menerus, melainkan karena peristiwa yang tidak pernah teringat seumur hidup suatu ketika menyeruak dalam kenangan setelah lama sekali berlalu, bahkan begitu lamanya sampai tidak dapat kita kenali lagi-benarkah ini sebuah peristiwa yang kualam i? Aku berada dalam dekapan seorang perempuan, sebelum kemudian aku terlepas terguncang-guncang terlempar ke sana kemari. Apakah perempuan itu sedang menyusuiku? Apakah dia ibuku? Kurasakan hangat pada wajahku, yang kelak tampaknya selalu diceritakan kepadaku sebagai c ipratan darah yang membuat wajahku menjadi merah. Selalu kuingat kalimat itu.

"Waktu aku masuk ke dalam gerobak, wajahnya sudah bersimbah darah."

Siapakah yang mengatakan itu? Aku sudah pernah mendengarnya. Kemudian aku merasa berpindah dari gerobak itu dan tersapu dingin angin ma lam-agaknya seseorang telah menyambar dan mendekapku, membiarkan kuda tetap berlari membawa gerobak itu entah ke mana, yang kemudian ternyata meluncur ke dalam jurang. Dalam dekapan aku masih terguncang-guncang, tetapi merasa aman dan terlindung, meski terus menerus terdengar suara berdentang-dentang dari golok yang beradu.

"Ketika kami tiba, gerobak itu sudah berlari kencang sekali di atas jalan yang berlubang dan berbatu-batu. Kami dengar tangis bayi dan kami lihat sejumlah orang me lompat dari kuda ke dalamnya-orang itu terlempar keluar dengan belati di dadanya. Namun seorang yang lain telah membunuh sais gerobak itu, yang kemudian jatuh ke tepi jalan, dan ia kemudian juga masuk ke gerobak itu. Dialah tentunya yang membacok perempuan pembawa bayi itu, karena tidak ada orang lain lagi di dalam gerobak...

"Rasanya muak sekali melihat peristiwa itu, dari atas tebing aku langsung me lompat dari kuda dan mendarat dengan ringan di atas gerobak, begitu juga suamiku, ia langsung menyerang orang-orang berkuda di luar gerobak. Kutarik dan kulempar keluar orang yang berada di dalam gerobak, ia te lah memapas leher perempuan itu dan darahnya itulah yang membasahi wajah si bayi.

"AKU melompat keluar gerobak yang terus melaju, orang yang tadi terlempar keluar berusaha membacokku dengan golok hitam, tetapi aku membalikkan punggungku ke samping badannya sehingga bacokannya luput, dan aku menusukkan pedangku ke lambungnya tanpa menoleh lagi, dan pedang itu harus segera kucabut untuk menangkis serangan beberapa orang sekaligus-menimbulkan suara berdentang-denting yang selalu diiringi lentik api.

"Dengan bayi di tangan kiriku yang terus menerus menangis aku tidak bisa bergerak bebas. Orang-orang ini ternyata perampok, tetapi bukan sembarang perampok, karena mereka rupanya orang-orang mursal, yakni bekas tentara, pengawal, ataupun orang-orang yang set ia kepada raja-raja kecil yang telah diperangi Rakai Panamkaran -mereka tidak sudi menjadi mendukung kemaharajaan Panamkaran, dan karenanya membuat kekacauan di mana-mana. Kadang- kadang karena memang harus menyamun dan membegal untuk bertahan, tetapi yang terpenting adalah membuat kekacauan untuk meruntuhkan wibawa Mataram.

"Itu sebabnya bekas-bekas tentara kerajaan kecil yang kalah ini juga tidak mudah ditundukkan. Mereka semua mahir dalam olah senjata, apalagi jika bergerak bersama sebagai pasukan, karena terlatih dalam berbagai pertempuran. Maka aku dan suamiku bergerak cepat mengurangi jum lah mereka dengan memojokkannya satu persatu. Sebaliknya aku dan suamiku yang mendapat gelar Sepasang Naga dari Celah Kledung kembali bisa bergerak berpasangan dan segera menghabisi mereka dengan pedang kami.

"Sementara kami bertarung, aku berpikir apakah keluarga pengendara gerobak adalah korban kejahatan seperti biasa, seperti mereka yang berkemungkinan jadi korban jika melalui jalur perdagangan dalam perjalanannya, ataukah mereka memang dianggap musuh oleh orang-orang yang memursalkan diri mereka sendiri itu. Orang-orang mursal ini disatu pihak mengganggu, tetapi di lain pihak kehadirannya disyukuri pihak penguasa tersebut, karena sangat mungkin untuk dipersa lahkan bagi segala masalah di dalam kerajaan sendiri.

"Sekitar tiga puluh orang yang mengepung dan memburu gerobak itu kami tamatkan riwayatnya satu persatu. Kami mengandalkan Jurus Naga Kembar yang terbukti menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Meski tangan kiriku menggendong bayi, tangan kananku masih mampu memainkan pedang dengan unggul, yang bersama pedang suamiku telah berlaku bagaikan dua pasang taring naga dalam Jurus Naga Kembar itu. Seharusnya masing-masing dari kami memegang dua pedang pada kedua tangan untuk kesempurnaan jurus tersebut. Namun meski jauh lebih besar jumlahnya, orang-orang mursal ini tidak memiliki jurus-jurus yang merupakan penemuan baru, sehingga cara mengatasinya pun tidak terlalu sulit. Hanya karena membawa bayi, dan setiap orang bagaikan hanya berpikir untuk membunuh bayi itu tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, maka kadang- kadang kami menemui kesulitan menghadapi jurus-jurus yang sama sekali bukan-jurus melainkan sekadar pembacokan bertubi-tubi yang asal-asalan...

Catatan:

1) Raja Sanjaya, yang memerintah pertama kali di kerajaan Mataram, memulainya dengan melakukan peperangan dengan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Raja Panamkaran, agaknya, juga memerintah dalam situasi persaingan hingga pertengahan abad IX. Patut diduga, banyak negara kecil yang saling bersaing untuk memperoleh kedaulatan tertinggi di wilayah Jawa Tengah pada saat itu. Dalam Rahardjo, op.cit.,

h. 64. Sementara prasasti Balinawan menyebutkan, peristiwa perbanditan yang disebut dalam prasasti itu terjadi pada waktu tidak ada raja di kerajaan Mataram. T idak adanya raja terungkap dalam prasasti Wanua Tanah III yang berangka tahun 830 Saka (908 M). Rakai Gurunwangi naik tahta pada bulan Magha tahun 808 Saka (886 M), tetapi sebulan kemudian, dalam bulan Phalguna, ia meninggalkan istana, sehingga "dunia tiada pemimpinnya" (anayaka ta ikanan rat rikan kala), baru pada 816 Saka (894 M) Rakai Watuhumalang (Wungkalhumalang) naik tahta.

Delapan tahun lamanya kerajaan Mataram tidak diperintah seorang maharaja. Sudah barang tentu keadaan pemerintahan kacau; penguasa daerah dapat berbuat semaunya-suatu keadaan yang memberi peluang para rampok, garong, kecu, dan segala macam oknum yang tidak bertanggungjawab untuk merajalela. Melalui Boechari, "Perbanditan di Dalam Masyarakat Jawa Kuna", Pertemuan Ilm iah Arkeologi IV (1986), h. 174. Jika Pendekar Tanpa Nama berusia 100 tahun, berarti peristiwa ini sekitar tahun 771 M, masa pemerintahan Rakai Panamkaran.

2) Nama "Kledung" diambil dari artikel Boechari: "Perbanditan memang biasanya merajalela di daerah-daerah terpencil, di daerah perbukitan, di daerah perhutanan atau di daerah muara sungai yang berdelta (Hobsbawm, 1972, h. 21), lebih-lebih kalau di daerah-daerah itu ada jalan perdagangan. Kondisi semacam itu sesuai benar dengan apa yang disebutkan di dalam prasasti Mantyasih. Desa Kuning terletak di lereng gunung Sindoro atau Sumbing, dan di situ rupa- rupanya sejak dahulu kala ada jalan di "celah Kledung" yang menghubungkan dataran Kedu dengan Wonosobo, yang melalui Garung (nama kuna) dan pegunungn Dieng dapat terus ke pantai utara di daerah Pekalongan; atau ke barat melalui Banjarnegara masuk daerah Banyumas terus ke Galuh.", dalam Boechari, ibid., h. 174. 

"BETAPAPUN mereka semua akhirnya tumbang. T iga puluh mayat bergeletakan. Tiga puluh satu sebetulnya, karena jenazah sais gerobak itu juga terdapat di antara mereka. Ke manakah kuda berlari membawa gerobak itu? Sambil menaiki kuda kami yang telah turun sendiri dari atas tebing, kami mengikuti jejaknya dan ternyata gerobak itu telah meluncur memasuki jurang. Dalam kegelapan kami tetap turun ke bawah perlahan-lahan karena mengkhawatirkan nasib perempuan di dalam gerobak itu.

"Kami mendapatkan gerobak itu telah menjadi berantakan di dasar jurang, tertutup dan nyaris tak dapat kami temukan di balik semak-semak terlebat yang tak pernah tersentuh tangan manusia. Kami menemukan perempuan yang semula kami kira ibu dari bayi tersebut, ia sudah tidak bernafas dan keadaannya sangat mengenaskan-suamiku mengangkatnya ke atas dengan susah payah, bayinya masih berada dalam dekapanku.

"Sesampainya di atas, di tepi jalan, kami menjajarkan kedua jenazah penumpang gerobak tersebut. Hanya mereka berdua yang jenazahnya nanti kami perabukan dengan khusyuk. Busana mereka sangat sederhana dibanding kain sutra bersulam benang emas yang membungkus bayi itu, tetapi yang kemudian terkotori oleh cipratan darah. Kedua orang itu, lelaki dan perempuan yang tidak kami ketahui merupakan suami istri atau bukan, mengenakan pakaian dari bahan kain katun yang menutupi dada sampai ke bawah lutut, serta membiarkan rambutnya terurai. Pada pinggang perempuan itu melingkar sebuah tali tempat gantungan kantung kulit, dari dalamnya tersembul selembar lontar yang kami baca tulisannya: Tolong se lamatkan putra kami. Dari cara penulisannya kami ketahui bahwa surat ini ditulis dalam keadaan tergesa-gesa.

"Melihat gambar kura-kura di atas teratai pada kantung kulit, kami kira kantung dan tali itu juga merupakan bagian dari perlengkapan bayi tersebut, yang barangkali sebetulnya masih banyak lagi di dalam gerobak, jika kemudian tidak menjadi hancur dan tercerai berai ketika menggelinding masuk jurang. Kuda yang kami temukan masih hidup telah dibunuh oleh suamiku untuk mengakhiri penderitaannya. Bayi itu masih menangis, sebagian wajahnya yang terciprat darah kuseka dengan kain sete lah mencelupkannya ke dalam genangan air hujan di atas daun talas dari semak-semak di tepi jalan.

"Siapakah bayi ini? Jika yang membawanya ternyata bukan orangtuanya, bahkan bukan suami istri pula, bagaimanakah caranya melacak asal usulnya? Kain sutra bersulam benang emas maupun kantung kulit jelas menunjukkan betapa varna bayi tersebut berbeda dari perempuan dan lelaki yang telah berusaha menyelamatkannya itu. Bayi ini jelas berasal dari keluarga bangsawan, hidungnya mancung, matanya tajam dan dalam, kulitnya putih, tulang-tulangnya pun bagus sekali, pertanda lahir dari keluarga yang sangat sehat makanannya- tetapi melacaknya akan sulit, mengingat terlalu banyaknya keluarga istana kerajaan-kerajaan kecil yang tercerai berai setelah ditempur oleh Rakai Panamkaran, bahkan jika diketahui bayi ini asal-usulnya mengarah kepada suatu kejelasan atas darah kebangsawanannya, tidakkah ini justru sangat berbahaya bagi keselamatannya?

Catatan:

3) Disebutkan dalam Berita Tiongkok dari masa Dinasti Sung (960-1279), bahwa penduduk Jawa memelihara ulat sutra dan membuat/menenun kain sutra halus, sutra kuning, dan baju dari katun. Tahun 992 raja Maharaja mengirimkan utusan ke Tiongkok dengan membawa persembahan antara lain permata, mutiara, sutra yang disulam bunga-bungaan, sutra yang disulam benang emas, sutra berwarna-warni, kayu cendana, barang-barang dari kapas berbagai warna, emas, tikar rotan dengan hiasan dan kakaktua putih. Selain itu dikatakan bahwa raja Jawa rambutnya disanggul, memakai krincingan emas, mantel dari sutra dan sepatu kulit.

Adapun rakyatnya membiarkan rambutnya terurai dan memakai pakaian yang menutupi tubuhnya dari dada sampai ke bawah lutut (Groeneveld, 1960: 16-7), melalui Edhie Wurjantoro, "Widihan dalam Masyarakat Jawa Kuna Abad IX- XI M" dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV (1986), h. 197. Meskipun peristiwa yang sedang diceritakan berlangsung satu dan dua abad lebih awal dari tahun-tahun terbahas, data yang sama diandaikan oleh penulis sebagai mungkin, karena peradaban yang tercatat mungkin saja telah berlangsung lama, dan perubahan dari abad ke abad masih cukup lamban.

"MESKIPUN begitu, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar. Jika orang-orang mursal yang kini berperan sebagai rampok dan begal yang mengepung negeri memang memburu bayi ini, tidak mungkin keluarganya berada di pihak yang dimusuhi Panamkaran. Mungkinkah bayi ini justru berasal dari keluarga bangsawan yang memegang kekuasaan sekarang? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab, apakah perampokan berlangsung karena mereka menganggap terdapat barang- barang dagangan di dalam gerobak? Ataukah berbau pembunuhan dalam suasana permusuhan yang berlangsung demi berbagai kepentingan di seantero Yawabumi bagian tengah ini?"

(Oo-dwkz-oO)

BEGITULAH kenangan terjauh yang kukenal hanya sebagai dunia kegelapan yang berguncang dan penuh dengan teriak bentakan serta bunyi logam berdentang-dentang yang berasal dari perbenturan pedang kemudian terkukuhkan. Ibuku, perempuan yang kusebut ibuku, tidak menunggu waktu terlalu lama untuk menceritakan peristiwa yang dialam inya tersebut kepadaku. Tidak lama artinya sampai umurku mencapai 15 tahun, ketika pasangan suami istri yang selama ini bersikap, berlaku, dan memang selalu kukira sebagai ayah dan ibuku membuka selubung rahasia hidupku yang tetap saja masih saja penuh ketidakjelasan itu.

Namun kukira mereka bukannya menunggu, melainkan karena saat itu mereka berpamitan kepadaku untuk memenuhi tantangan untuk bertarung menghadapi lawan yang tentunya mereka anggap jauh lebih unggul. Tampaknya mereka berdua merasa tak akan pernah dapat kembali lagi kali ini, dan karena itu merasa perlu menceritakan peristiwa tersebut kepadaku.

Saat itu, aku tidak terlalu peduli dengan cerita tersebut. Hatiku tercekat dan hancur karena mereka menyatakan betapa kepergian mereka kali ini tidaklah untuk kembali.

"Biarlah aku ikut dengan kalian, Bapak, Ibu, biarkan aku ikut agar aku bisa membelamu atau ikut mati dalam pertarungan itu."

"Dikau tidak perlu me lakukannya Nak, tidak perlu, karena inilah bagian kehidupan seorang pendekar. Itulah sebabnya kami juga sengaja tidak ingin memiliki anak, karena sadar betapa jalan kehidupan seorang pendekar sebetulnyalah adalah jalan kematian-tetapi kami tidak dapat menolak jalan hidupmu yang berpapasan dengan jalan hidup kami, jadilah kamu anak kami yang telah sangat membahagiakan kami. Masa lima belas tahun terakhir ini adalah masa yang paling membahagiakan hidup kami.''

Aku tertunduk. Airmataku menitik. Ayahku berbicara. "Janganlah bersedih anakku, perlihatkanlah dirimu sebagai

anak pasangan pendekar. Dalam perjalanan hidupmu untuk

selanjutnya, sampai kelak dikau menjadi seorang pendekar yang ternama dan gagah perkasa, janganlah melupakan kenyataan bahwa dikau telah tumbuh dan dibesarkan oleh kami, Sepasang Naga dari Celah Kledung. Seorang pendekar tidak takut mati, pertarungan adalah bagian dari kewajiban hidupnya -seorang pendekar yang menolak bertarung akan mendapatkan nama buruk dan hidup terhina, sungguh nasib yang lebih buruk dari kematian. Teguhkanlah hatimu anakku, jadilah anak seorang pendekar, karena jika dunia persilatan memang akan menjadi pilihan hidupmu, dikau akan sangat mengerti makna perpisahan ini."

Aku mengerti, sangat mengerti, dan tidak akan bisa lebih mengerti lagi-tetapi ini bukan soal mengerti atau tidak mengerti, ini soal perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai. Perpisahan yang seperti sudah dipastikan akan berlangsung untuk selama-lamanya. Aku memang telah dilatih dengan segala cara untuk menjadi tabah dalam penderitaan, tetapi inilah peristiwa yang sungguh berat kutanggungkan.

Air mataku mengalir deras membasahi pipi. Kenyataan betapa keduanya telah memungutku, dari nasib yang lebih jauh lagi dari pasti, telah membuat kepedihanku semakin tajam dan dalam. Namun sebelum mereka berangkat kutanyakan sesuatu.

"Siapakah sebenarnya namaku, Ibu?"

Ibuku tampak menahan air mata ketika telah duduk di atas punggung kuda.

"Kami tidak mengetahuinya anakku, kami tidak tahu namamu ketika menemukanmu dan kami membiarkannya tetap seperti itu. Kami tidak ingin mengubah jalan hidupmu meski kami wajib menurunkan ilmu silat agar dikau bisa membela diri dari bahaya yang mengancam hidupmu itu, tetapi selebihnya kami biarkan dirimu tumbuh sebagai dirimu, kami hanya harus selalu memupuk pertumbuhanmu itu."

"BAPAK, Ibu, jangan pergi!" Namun mereka menarik tali kekang kudanya dan pergi. Ibuku masih menoleh dengan airmata berlinang yang tampak sangat ditahannya agar tidak menetes sama sekali. Mereka masih melangkah pelahan di antara celah ketika aku berlari- lari di belakang mereka.

"Bapak, Ibu, katakan siapa lawanmu, agar bisa kubalas kematianmu!"

Ayahku memperlambat langkah kudanya dan mengusap- usap kepalaku.

"Itu sama sekali tidak perlu, Anakku, sama sekali tidak perlu..."

Ayahku masih terus melangkah ketika ibuku me lompat turun dan memelukku keras sekali. Seperti masih terasa olehku betapa lembut usapannya dan betapa merasa tenang aku dalam dekapannya, meski ternyata itu tidak berlangsung lama. Dari balik punggungnya kulihat ayahku tampak berhenti dan memandang kami.

Ibuku berbisik lembut.

"Hati-hatilah anakku sayang, sepanjang hidupmu..."

Lantas ia melompat ke punggung kudanya dan melaju tanpa menoleh-noleh lagi. Aku memandang mereka berdua menjauh dari balik tirai air mata sampai mereka lenyap keluar celah tebing dan tidak kelihatan lagi. Aku telah dilatih untuk tidak bersikap kekanak-kanakan dan karena itu aku tidak berlari-lari sambil berteriak-teriak menyusulnya, tetapi dalam dadaku terasa kedukaan yang teramat sangat dan tidak tertahankan.

Itulah kenangan terakhirku tentang kedua orang tuaku, sejauh kualami kebersamaanku dengan mereka sebagai ayah dan ibuku, kenangan tentang sepasang pendekar yang menjauh dan pergi, sepasang pendekar di atas kuda yang menyoren pedang di punggungnya...