-->

Nagabumi Eps 19: Cakrawarti, Nagasena

Eps 19: Cakrawarti, Nagasena

MELIHAT mayat terkapar di tepi sungai dengan belati di jantungnya -apakah yang harus kulakukan? Hari baru terang tanah, jadi penemunya tentu orang-orang pertama yang turun ke kali, orang-orang tua yang mau buang air, ibu-ibu yang mengambil air untuk masak, karena baru agak siang nanti gadis-gadis akan turun untuk mandi dan mencuci.

Dengan menjadi gempar artinya mereka menjauhi mayat itu sambil berteriak-teriak. Untuk sejenak aku ragu?ragu, apakah aku harus melibatkan diri atau tidak? Di satu pihak aku membutuhkan ketenangan untuk memahami dunia secara lebih meyakinkan, di lain pihak aku merasa peristiwa apa pun dapat menjadi penanda bagi kepentinganku untuk memahami dunia di sekitarku.

Aku mengambil keputusan dengan cepat dan berkelebat mendekati mayat itu. Aku harus melakukan pengamatan segera, sebelum orang-orang itu kembali bersama para gramanam atau para petugas kampung. Ia tak berbaju. Hanya berkain, pergelangan kaki dan tangannya bergelang. Ini masih seperti pencuri biasa. Namun yang menarik adalah rajah di dada kanannya, karena itulah rajah cakra yang menjadi tanda perkumpulan Cakrawarti, kelompok golongan hitam yang jaringannya telah menembus segala lapisan. Semula mereka hanya dikenal di dunia persilatan, tetapi menyadari bahwa kekerasan saja tidak cukup untuk menguasai dunia, karena para pendekar golongan putih maupun golongan merdeka selalu bisa mengimbangi bahkan menundukkan mereka, maka jaringan diperluas dan merasuk ke segala lapisan.

Maka bukan hanya dalam dunia persilatan akan dijumpai para anggota jaringan Cakrawarti, melainkan juga di dunia awam para petani, pedagang, perajin, seniman, bahkan sampai ke lingkungan istana, termasuk di kalangan pejabat agama-sesuai dengan arti cakrawarti, yakni roda-roda kereta yang menggelinding tanpa halangan. Adapun makna kereta di sini, tentu kereta kekuasaan.

Aku tertegun. Ternyata mereka memang masih ada. Jaringan ini sudah mengakar ratusan tahun lamanya, seorang guruku bercerita kelompok Cakrawarti terdengar sejak masa kekuasaan Sanjaya antara tahun 732 dan 746. Aku sendiri pernah bentrok beberapa kali dengan tokoh?tokoh mereka pada masa mudaku, yang mengesahkan keberadaan diriku sebagai musuh mereka dari masa ke masa. Apalah artinya umur sepanjang seratus tahun melawan tugas turun temurun sebuah kelompok besar untuk membunuh dan menghancurkan namaku? Kelompok Cakrawarti menggunakan segala jalan untuk mencengkeramkan kuku kekuasaan, dan telah kukatakan bahwa tidak ada lapisan masyarakat yang tidak akan dise lusupinya. Dari lingkaran brahmana, pendeta- pendeta Buddha, para bangsawan, tentara, pedagang, para pekerja sampai kaum candala tak luput dirasukinya. Keempat varna, bahkan yang terendah di antara paria, seperti m leccha, bukanlah tabu pula untuk diakrabi demi kekuatan jaringan mereka.

Sikap kerahasiaan mereka begitu terjaga, sehingga antarmereka tak saling mengenal, dan pada masa awal pergerakan mereka hanya mungkin saling mengenali me lalui tanda rajah cakra tersebut, yang bisa terdapat di sembarang tempat, dengan ukuran yang berbeda. Rajah itu bukan sekadar tanda anggota, melainkan tanda telah diterima melalui pelantikan resmi, yang juga dilakukan secara rahasia. Hanya beberapa mahaguru tertentu yang mengetahui keberadaan jaringan Cakrawarti, seperti yang pernah kuterima dalam berbagai pengajaran mereka, itu pun dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Cakrawarti adalah golongan hitam yang te lah merembes dari dunia persilatan ke dunia orang-orang biasa, karena bukan lagi kesempurnaan dalam ilmu silat yang dianggap bernilai bagi mereka, melainkan kekuasaan duniawi secara nyata: harta, takhta, dan syahwat asmara.

Maka terdapatnya rajah cakra di dada kanan mayat lelaki ini menjadi tanda tanya bagiku, karena penampakannya yang begitu kentara. Dalam berbagai peristiwa pada masa lalu, kerahasiaan anggota jaringan ini terbongkar karena terdapatnya rajah cakra tersebut -dan ini membuat kewajiban memberi tanda rajah cakra pada tubuh anggotanya dihapus, meskipun sebuah upacara konon tetap dilangsungkan bagi pelantikan anggotanya.

Di puncak tebing, orang-orang mulai berdatangan, aku sempat memeriksa pisau yang menancap itu, dan sekali lagi tertegun. Ini bukan sembarang pisau yang bisa dibeli dari seorang pandai bes i. Ini jelas pisau yang dibuat atas pesanan, tepatnya dibuat untuk seseorang yang tertentu, bahkan juga untuk suatu cara penggunaan tertentu.

Aku harus segera pergi. Tak tahu mesti merasa menyesal atau tidak telah mengalami kejadian ini. Aku merasa tugasku bahkan sama sekali belum dimulai, yakni mencatat segala sesuatu yang memperjelas keadaan, sehingga aku mengetahui kenapa negara sampai menawarkan hadiah 10.000 keping emas untuk memburuku. Segala sesuatunya terselubung kabut. Segala sesuatu yang kujumpai semenjak keluar dari gua berhubungan dengan kerahasiaan. Semula aku menduga yang memburuku ke dalam gua adalah Ka lapasa-tetapi perpecahan di dalamnya membuat aku tak bisa memastikan apapun juga. Pengamatanku atas sikap pengawal rahas ia istana yang telah menahan dan melepasku, lantas membuntuti aku, juga tidak memberi peluang bahkan sekadar untuk menduga apapun juga, karena pengetahuanku tentang agen rahasia ganda dari Arthasastra membuat aku harus menunda setiap kesimpulan yang tampaknya meyakinkan. Sementara para pembunuh bayaran, yang semuanya tak ada yang terlalu tua, belum kuketahui caranya mendapatkan selebaran lontar bergambar diriku, tapi jelas hanya mengenalku sebagai penyebar ajaran rahasia dari aliran sesat yang tidak pernah jelas adanya.

Kemudian pagi ini kutemukan rajah penanda Cakrawarti, jaringan rahas ia golongan hitam yang telah mengakar bersama dengan pasang surutnya berbagai kerajaan di Yawabumi bagian tengah maupun timur. Aku tidak mempertanyakan apakah kehadiran Cakrawarti ada hubungannya dengan diriku-yang menarik bagiku adalah kenapa justru anggota Cakrawarti yang terkenal cermat dan hati-hati itu, yang berhasil dipergoki dan dibunuh pada malam buta? Dari suhu tubuh dan keringnya darah kuperkirakan ia sudah tewas sejak lama. Tak ada lagi orang ke sungai setelah matahari terbenam. Namun kurasa aku harus menahan diri untuk tidak terjebak dalam lingkaran setan penyidikan.

Satu hal bisa kupastikan. Zaman telah berubah, Cakrawarti, Kalapasa, pengawal rahasia istana, agen rahasia ganda, para pembunuh bayaran, semuanya bagaikan bisa digerakkan oleh pesona kekuasaan dan harta, berikut segala pernik yang mengikutinya, dan itulah bedanya dengan para pendekar dunia persilatan-di sungai telaga para pendekar hanya peduli kepada pencapaian kesempurnaan ilmu sahaja. Hidup boleh melarat, tak berumah ibarat pengembara hina dina, takberkeluarga dan takberkekasih, hanya demi pemahaman yang lebih baik tentang dunia melalui ilmu s ilatnya.

Tentu adalah para pendekar silat itu juga yang telah menjadi murtad, menjual kepandaian demi kemewahan dunia yang seolah akan bisa mereka dapatkan dengan begitu mudahnya, meski ternyata persaingan, tak lebih dan takkurang, juga takjarang mengakibatkan tercerabutnya nyawa mereka. Maka, manakah yang lebih baik kiranya, mati demi sebuah tujuan mulia ataukah karena gagal dalam perebutan kuasa?

Aku berkelebat menjauh, untuk kembali lagi bersama kerumunan orang-orang. Setelah para gramanam menggeledah, ternyata ia juga membawa lembar lontar bergambar diriku sebelum aku menyamar dengan tulisan yang sama: hadiah 10.000 keping emas bagi yang berhasil membunuh Pendekar Tanpa Nama.

(Oo-dwkz-oO)

AKU merasa cukup tenang sebagai pembuat lontar. Setidaknya aku tidak harus selalu memanfaatkan ilmu silatku, karena dalam dunia persilatan hampir setiap kali aku bergerak saat itu juga berarti nyawa terbuang tanpa manfaat yang jelas. Bagi yang tewas barangkali itulah kematian yang bermakna, tapi bagiku kemenangan telah kehilangan artinya sama sekali-meski aku belum putus asa: Sebenarnyalah lawan yang tangguh masih kutunggu.

Namun tidakkah siapa pun mereka yang memanfaatkan dan mengorbankan namaku, bagaikan membunuh jiwaku tanpa harus membunuhku, merupakan lawan yang seharusnyalah kuanggap lumayan tangguh, bukan hanya karena sulit dicari, melainkan karena caranya bertempur yang kemungkinannya tidak pernah kusadari?

Itulah sebabnya aku merasa harus lebih sering menahan diri. Dalam dunia persilatan kami memang juga dilatih untuk menahan diri, tetapi demi kepentingan yang berbeda sama sekali, yakni menungggu kesempatan terbukanya kelemahan lawan.

Dalam pertempuran penuh tipu daya seperti yang kualam i ini, ketika diriku bagaikan diciptakan kembali sebagai manusia penyebar aliran sesat, dengan nama dan gambar tertera pada selebaran lontar yang pasti banyak sekali jum lahnya, serta beredar sebagai cerita dari mulut ke mulut karena dipicu dongeng wayang topeng, aku sungguh takterlatih sama sekali untuk menghadapinya. Aku pun yakin, pembunuhan namaku juga disebarkan dengan giat dari kedai yang satu ke kedai yang lain, cara terbaik untuk dengan sengaja menyebarkan pengetahuan yang salah.

Begitulah setelah menyelam sebentar ke sungai, dan meloncat ke atas setinggi pohon kelapa sembari memutar tubuh seperti baling-baling, selesailah sudah mandiku?tubuh yang basah langsung kering berikut pakaian yang kukenakan. Tentu takseorangpun boleh mengetahui cara mandi seperti itu.

Seperti juga tak seorang pun boleh mengetahui bagaimana aku melatih ilmu meringankan tubuhku di atas sungai, dengan berlompatan dari batu ke batu, dari daun mengambang yang satu ke daun mengambang yang lain, sampai apapun yang mengapung dan bisa dise lancari bagaikan aku bisa berjalan di atas air. Meski sudah berilmu setinggi langit, seorang pendekar harus selalu menjaga kemampuannya, karena lawan hanya perlu kelengahan sejenak saja untuk melesatkan jarum beracun, agar menancap di lehernya.

Makanya aku selalu mengambil waktu sepagi mungkin. Hari ini termasuk kesiangan, karena aku telah bekerja sampai larut, yakni menuliskan di atas lontar yang kubuat sendiri itu. Dari setiap seratus lontar yang kubuat, selalu kuambil sepuluh lembar untuk diriku sendiri, karena aku merasa perlu menulis untuk menguraikan segala sesuatu yang kupikirkan. Kusadari bahwa usia seratus tahun bukan tidak berpengaruh kepada ingatanku -jadi aku merasa perlu mencatat apa pun yang kurasa penting untuk diingat dan berkemungkinan untuk kulupakan dalam perjalanan waktu. Selain itu, entah kenapa juga muncul suatu keinginan memberitahukan sesuatu kepada siapa pun, meski jika hanya kebetulan membacanya.

Sebagai orang yang merasa telah difitnah dan diperburuk namanya aku mempunyai perasaan ingin membela diri, bukan dengan cara kekerasan seperti yang biasa berlaku dalam dunia persilatan, yang akan membuat tuduhan apa pun seperti mendapat pembenaran, tetapi dengan cara yang tidak bisa dibantah lagi dalam zamanku, yakni ditulis dengan huruf dan kata-kata yang jelas.

Bahkan aku berharap bahwa yang kutuliskan itu akan menjadi saksi seterusnya dari zaman ke zaman, betapa tulisan para empu dalam naskah dan catatan resmi negara dalam prasasti bukanlah satu-satunya kebenaran yang menentukan segala acuan.

Tentu aku juga bertanya kepada diriku sendiri, be perlukah keberadaan dan apapun yang kuanggap seba ketidak bersalahan diriku itu kutonjolkan, bah tertuliskan dan bertahan dari zaman ke zaman? Tidak Buddha mengajarkan segala sesuatu te ntang ti mementingkan diri sendiri dan juga te rutama tent kemampuan menahan diri? Tepatnya, te ntu, apakah y akan menjadi kurang dari diri ku ji ka kulupakan s semua ini, pergi jauh ke sebu a h tempat yang le tersembunyi lagi, dan tenggel am saja dalam medita Bagaimana jika diriku ini tid ak usah kuanggap ter penting? Nah, jadi apakah y ang boleh dianggap pentin dunia ini?

Ketika menciptakan Jurus Tanpa Bentuk, aku teringat Nagasena, salah seorang murid Buddha yang pertama, ketika ditanya tentang bentuk rupa Nirwana. Demikianlah dikisahkan betap a ia kembali bertanya.

"Apakah angin itu ada, wahai Bapak." "Tentu ad a, wahai Nagasena yang terhormat."

"Kalau begitu tolong Bapak tunjukkan, seperti apakah warna dan bentuk angin itu, tipiskah, tebalkah, panj angkah, atau pendekkah?"

"Tidak mungkin saya menunjukkan angin itu, Nagasena yang terhormat, tetapi angin itu pasti ada."

Maka Nagasena pun berkata lagi. "Begitu pula dengan Nirwana."

Aku tidak menyamakan Jurus Tanpa   Bentuk dengan

Nirwana -selain menyampaikan betapa pandangan dan falsafah dalam perbincangan keagamaan sebetulnya mungkin mengembangkan ilmu persilatan. Namun lebih dari itu, juga ingin kutunjukkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang bersifat jasmani memang merupakan belenggu. Aku tidak sependapat dengan banyak guru agamaku, bahwa tubuh tidaklah penting, tetapi aku mengakui kebenaran Buddha, yang berkata:

kebahagiaanlah ya kebahagiaanlah Nirwana itu

wahai para sahabatku

Tidakkah itu berarti bahwa aku harus melampaui keterbatasan pikiran, akal, perasaan, dan kehendak, untuk mencapai tujuan -yang bahkan juga tiada dapat dibayangkan sekarang juga. Kebahagiaan adalah pelampauan dari segala keterikatan dan keterbatasan.

Namun apalah artinya Upacara Pembuka Mata, jika tidak untuk mencerahkan dunia? Dari masa mudaku, dari salah satu guruku yang banyak itu, yang kudatangi satu persatu dari kuil ke kuil, dari gua ke gua, seperti Arjuna yang dibimbing Wisnu, ada yang mengutip Sang Hyang Kamahayanan Mantrayana :

kerjakanlah dari saat ini pemutaran dharmacakra dari Bhatara Sri Vajradara ke arah segala makhluk

buatlah ajaran itu tanpa habisnya mengisi, membanjiri, memenuhi sepuluh penjuru dunia

sampai terisi suara terompet dharma yang terbuat dari sangkha

jangan ragu-ragu

hilangkan risau dari pikiranmu

Dharmacakra adalah roda dharma yang sering dipaham i sebagai roda ajaran, karena dianggap ada pemutaran ajaran- ajaran Buddha, yang ditafsirkan secara berbeda. Mulai dari turunnya ajaran yang tiga kali, sampai peringkat ajaran itu sendiri dalam pencapaian kebuddhaan -tetapi aku telah selalu memanfaatkan penafsiran yang manapun untuk menyusun rangkaian jurus -jurus persilatan. Kenapa? Karena seperti orang-orang persilatan lain aku mempercayai ilmu silat sebagai cara mencapai kesempurnaan hidup, yang hanya dapat diuji dengan mengadunya kepada ilmu silat yang lain.

Dalam hal dharmacakra aku telah mendengar setidaknya dua penafsiran dari beberapa guru -dan dari dua penafsiran itu telah kukembangkan sejumlah jurus indah yang telah mengundang decak kagum bila kuperagakan tanpa sengaja dalam pertarungan.

Jurus -jurus itu telah kugambar urutannya semua di atas lembar-lembar lontar se lama tinggal di dalam gua, dan sekarang menumpuk di sana pada judul Jurus-Jurus Dharmacakra, tetapi aku merasa perlu juga menuliskan bagaimana aku telah menafsirkan ajaran tentang kehidupan menjadi jurus -jurus ilmu silat. Adapun dua penafsiran tentang ajaran itu sebagai berikut. Inilah yang pertama.

Pemutaran pertama (parivarta) kebenaran tertinggi adalah melalui penglihatan (darsanamarga) yang terbagi dalam empat akara

(1) penderitaan (idam dukhkham);

(2) penyebabnya (ayam samudayah);

(3) penanggulangannya (ayam nirodhah);

(4) cara penanggulangannya (iyam duhkhanirodhagami- nipratipat).

Pemutaran kedua melalui meditasi (bhavanamarga) yang terbagi empat akara

(1) kebenaran tertinggi akan penderitaan harus disadari (duhkham aryasatyam parijneyam);

(2) penyebab penderitaan harus diakhiri (duhkhasamu- dayah-prahatavyah);

(3) penderitaan harus diakhiri (duhkhanirodhah saksat- kartavyah);

(4) cara untuk mengakhiri penderitaan harus dilaksana- kan (duhkhanirodhagamini pratipad bhavitavya).

Pemutaran ketiga dari Arhat (asaiksamarga) yang ter- bagi empat akara

(1) penderitaan telah diketahui (2) sebabnya telah dihancurkan (samudayah prahinah);

(3) penghancuran telah dilaksanakan (nirodhah saksat rtah);

(4) cara penghancuran telah dilaksanakan (duhkhaniro- dhagamini pratipad bhavita).

Kemudian inilah penafsiran tentang Dharmacakra yang kedua. Jika yang pertama tadi ketiga pemutaran dihubungkan dengan Sang Buddha yang tiga kali menurunkan ajarannya, yang kedua berhubungan dengan pencapaian Kebuddhaan, seperti dilaksanakan (yana) oleh Sravaka, Pratyekabuddha, dan Bodhisattva. Seluruh kitab suci Buddha a liran Utara terdiri atas naskah-naskah dari tiga masa berbeda, yang disebut tiga kali pemutaran Roda Pengajaran atau dharma cakra - parvatana. Adapun pemutarannya, seperti tertera dalam catatanku dahulu:

Pemutaran pertama (prathama cakra)

ajaran tentang Empat Kebenaran Utama (catur satya dharmacakra)

Pemutaran kedua (madhya-cakra)

ajaran tentang hapusnya hakikat pemisahan

unsur-unsur keberadaan (alaksanatva dharmacakra) atau ketiada-benarannya. Pemutaran ketiga (antya-cakra)

ajaran yang memperbedakan unsur-unsur keberadaan yang mencerminkan Kebenaran Tertinggi dari unsur-unsur yang tidak mencerminkannya (paramartha- viniscaya dharmacakra)

. Pemutaran pertama terwujud dalam naskah-naskah Theravada, yang kedua dalam Prajnaparamita-sutra, dan yang ketiga termasuk dalam jenis Samdhinirmocana, Lankavatara, dan Ghanavyuha. Kusampaikan pula penafs iran ketiga, meski tidak kumanfaatkan untuk Jurus-Jurus Dharmacakra yang ampuh itu. Penafsiran ini menghubungkan pemutaran Roda Dharma dengan phala77 yang diperoleh seorang Bodhisattva- bahwa yang telah mencapai tingkat yang kesembilan, yakni kesadaran yang luhur (sadhumati), mendapatkan sepuluh kekuatan (bala). Adapun kekuatan memutar dharmacakra adalah kekuatan kesembilan.

Mempelajari kitab-kitab tentang dharmacakra itu, dari guru- guru yang bermaksud membimbing para bhiksu, aku memanfaatkannya hanya untuk mengembangkan ilmu silatku. Bagaimanakah aku menafsir dan memindahkan suatu ajaran rohani demi suatu ilmu jasmani? Tentu saja ini merupakan cerita tersendiri.

Sementara itu, apakah boleh kujawab, bahwa yang penting dalam kehidupan ini adalah mengikuti hati nurani?

(Oo-dwkz-oO)