Nagabumi Eps 182: Seribu Air Terjun

Eps 182: Seribu Air Terjun

Di luar Kampung Jembatan Gantung terdapat sepotong lapangan rumput, dan di seberangnya terdapat tepian tebing dengan jalan setapak yang harus kami lewati jika ingin keluar ke dunia luas. Namun lapangan rumput itu hanya bisa dicapai melalui sebuah terowongan sempit yang se lalu menetes- neteskan air, karena rupanya terowongan ini berujung di sebuah air terjun. Suaranya terdengar begitu luar biasa ketika kami, aku dan Yan Zi, berjalan terbungkuk-bungkuk sepanjang terowongan, karena jika tidak begitu tentu kepala kami tiap sebentar terantuk ujung-ujung batu tajam yang bertonjolan di atap terowongan. Betapapun, terowongan yang sempit ini ternyata masih cukup untuk seekor kuda, asalkan tidak ditunggangi tentunya, dan tentu lewat terowongan inilah agak kuda Uighur itu telah dibawa, setelah merayapi jalan setapak ke atas di balik air terjun, agar merumput dengan bebas pada sepotong tanah terbuka.

Dapat kupercaya betapa terlindung dan tersembunyikannya Kampung Jembatan Gantung, karena bagi mata orang luar, selain cenderung tidak akan memikirkan sesuatupun tentang apa pun dibalik air terjun, jika melihatnya juga tidak akan memikirkannya sebagai jalan setapak menuju ke mulut sebuah terowongan yang sangat amat tidak kentara, karena memang tersembunyikan oleh bibir terowongan yang menutupi pandangan atas lubangnya.

Kudaku langsung mendekat dan menyentuhkan kepalanya ke tubuhku sambil mengibaskan ekor. Kupeluk kepalanya dan kutepuk-tepuk lehernya. Apakah kiranya yang terpikirkan dalam seekor kuda? Apakah ia menganggapku sebagai pribadi, meskipun memang takbernama, ataukah hanya sebagai seorang manusia? Kuda Yan Zi pun mendatangi Yan Zi, seekor kuda putih dari kelamin betina yang ramping, seolah menyesuaikan diri dengan penunggangnya yang juga selalu berbusana serba putih dan gerakannya sangat lincah. Yan Zi memang berarti Walet. Menunjukkan apa yang mampu dilakukannya dalam ilmu silat, yakni bergerak lincah seperti burung walet.

KEBERADAAN tanah lapang berumput yang menjadi semacam tempat penggembalaan, atau juga istal liar, bagi orang-orang Kampung Jembatan Gantung itu, sedikit banyak tampak mencengangkan diriku.

"Kampung Jembatan Gantung memang dibangun sebagai permukiman tersembunyi, tetapi setelah berpuluh tahun, naluri pengembaraan yang terpendam menyeruak kembali," ujar Yan Zi yang menangkap pandangan keherananku itu, "sementara kami juga masih berhubungan dengan berbagai permukiman lain di se luruh pegunungan batu ini, yang jika membutuhkan waktu cepat akan sedikit teratasi dengan adanya kuda."

Memang telah kudengar tentang itu, bahwa perbedaan masa pemberontakan dari wangsa ke wangsa dalam sejarah Negeri Atap Langit juga telah membuat segenap permukiman tersembunyi di sepanjang lautan kelabu gunung batu tidak dapat disamakan. Ada yang sudah bermukim begitu lama, ratusan tahun lamanya, sehingga bagi keturunannya riwayat pemberontakan hanya tinggal sebagai dongeng, dan lebih merasa dirinya penduduk asli, sehingga permukimannya terbuka bagi orang luar, segenap tanda-tanda rahasia menyesatkan dihapus, meski tetap saja sangat sulit dicapai. Ada pula yang masih baru terbentuk setelah Pemberontakan An Lushan berakhir seperti Kampung Jembatan Gantung ini, yang karenanya menjadi tempat dikirimkannya bayi yang disebut sebagai anak Yang Gueife i dan An Lushan, dan kini bernama Yan Zi.

Tentu Yan Zi berumur 41 tahun. Agaknya itulah yang membuatku terkesan ketika mengiranya sebagai gadis muda yang matang. Ternyata kesanku terbalik, Yan Zi adalah perempuan matang yang sepintas lalu tampak seperti remaja, karena tubuhnya kecil dan ramping, sangat lincah kalau bergerak meski gerakannya sendiri takbanyak; dan sering menampakkan senyum tipis tersipu-sipu, tetapi bukan karena malu, melainkan seperti terlalu banyak hal dalam hidup ini yang pantas ditertawakannya.

Kami sudah berada di atas kuda. Sete-lah tanah lapang ini terdapat hutan cemara yang sangat cantik dan penuh dengan kicau burung, tetapi setelah itu kami kembali merayapi jalan setapak berbatu di tepi dinding, di antara puncak-puncak gunung yang dinding-dindingnya berair terjun. Suara air terjun itu, yang dekat maupun yang jauh, ketika mendekat maupun menjauh, memberi kesan keagungan alam yang mengesankan, sehingga hanya dengan hadir bersamanya saja, hidup bagaikan sudah begitu bermakna.

"Keluar dari lingkungan Seribu Air Terjun ini, kita akan melewati Perguruan Shaolin," ujar Yan Zi.

Ia berpakaian seperti lelaki. Bahkan rambutnya bertudung lelaki. Sepintas lalu ia akan tampak seperti lelaki, tetapi memang lelaki yang cantik dan manis, dan itu kukira bukan berarti tidak mengundang masalah dalam perjalanan.

Sudah jelas bahwa perempuan yang melakukan perjalanan sendirian tidak akan pernah aman, karena rimba hijau memang penuh manusia buas yang hanya memandang perempuan sebagai daging molek untuk diperkosa. Tidak heran jika para perempuan pendekar sering berlaku amat kejam dan tanpa ampun terhadap manusia lelaki berderajat binatang ini. Tidak jarang pula seorang perempuan pendekar belajar ilmu silat, karena pengalaman amat sangat pahit dengan manusia lelaki semacam itu.

Apakah ini berarti cara berbusana Yan Zi yang seperti lelaki aman dari ancaman lelaki? Sembari merayapi jalan setapak, Yan Zi berkuda di depan dan aku di belakangnya, terpandang olehku pinggangnya yang ramping, tetapi dengan cara berbusana siap tempur seperti itu Yan Zi lebih tampak gagah dan tampak memang bersikap seperti lelaki. Jadi Yan Zi ini memang berwajah cantik, tetapi aku merasakan ada sesuatu yang belum bisa kumengerti.

Sejauh kuingat perempuan-perempuan yang kukenal, Harini yang kutinggalkan di Desa Balingawan, Campaka yang menjadi salah satu kepala pasukan pengawal rahas ia istana Mataram, Pendekar Melati yang hanya kukenal selintas, maupun Amrita, perempuan Khmer yang bersamanya aku hidup dari pertempuran ke pertempuran di Daerah Perlindungan An Nam, tidaklah pernah kutemukan kesan yang tidak dapat kujelaskan seperti saat ini. Baik Harini yang memang tidak bersilat, tetapi berpengetahuan tinggi dalam ilmu surat; maupun Campaka, Pendekar Melati, dan Amrita Vighnesvara yang menerjunkan diri di sungai telaga, mereka semua memberikan kesan yang dapat kuharapkan dan siap kuterima dari seorang perempuan.

Dari perempuan pendekar yang mengasuhku kukenal setiap sisi yang dimungkinkan seorang perempuan, kelembutan seorang ibu, maupun ketegasan mengambil keputusan dalam pertarungan antara hidup dan mati. Namun melakukan perjalanan bersama Yan Zi, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kukenal...

'TIDAK semua orang itu sama, Anakku,'' ujar ibuku dulu, ''dan juga jangan terlalu cepat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, meskipun mereka itu satu suku, satu bangsa, satu warna kulit, bahkan satu jenis kelamin. Kau lihat keluasan semesta di langit itu, Anakku?'' Waktu itu langit penuh bintang, dan sejak kecil selalu kutanyakan apa yang berada di balik tabir kelam yang jika pagi hari menjelma menjadi langit biru.

Aku mengangguk.

''Seluas itulah jiwa manusia, Anakku, sehingga tidak aneh jika seseorang itu tidak mengenali dirinya sepenuhnya, dan merasa asing dengan dirinya sendiri ketika menemukan diri tidak seperti yang selalu disangka.''

''Aku ingin mengenal diriku sendiri, Ibu.''

''Tentu, tentu kamu harus mengenali dirimu, Anakku.''

Kuingat waktu itu dia memelukku, dan belum kutahu artinya kenapa air mata mengalir di pipinya dan membasahi wajahku yang diciuminya. Kini dapat kumengerti, tentu disadarinya ketika itu, betapa aku belum tahu bahwa diriku bukanlah anak mereka yang sebenarnya, dan betapa bahwa nama pun aku tidak memiliki, dan jika mungkin pernah ada nama yang diberikan kepadaku, aku tidaklah mengetahuinya...

''Hiduplah dengan itu, Anakku...,'' kata ibuku kemudian hari, ketika memberitahukan segalanya sebelum kami berpisah untuk selamanya.

Sengaja tidak kuingat-ingat peristiwa itu, karena mengingatnya membuat perasaanku menjadi kosong, tetapi ada kalanya, seperti sekarang, begitu saja aku berada dalam keadaan untuk teringat meski tidak menghendakinya.

Apakah Yan Zi mengenal dirinya sendiri? Tentu saja segenap cerita Angin Mendesau Berwajah Hijau telah pula disampaikan kepadanya. Apakah Yan Zi mengenal jiwanya sendiri? Jika aku merasa terdapat sesuatu yang tidak kukenal terdapat pada seorang perempuan, apakah Yan Zi merasakannya juga? Jika tidak, apakah seseorang kiranya pernah mendapat kesan yang sama denganku dan memberitahunya? Demikianlah aku sibuk dengan pikiranku sendiri selama merayapi jalan setapak di tepi tebing curam berbatu-batu. Gemuruh air terjun datang dan pergi sepanjang perjalanan ini, karena setiap kali meninggalkan air terjun yang satu, bertemu lagi air terjun lagi.

''Lihat,'' ujar Yan Zi sambil menunjuk.

Kulihat arah yang ditunjuknya. Maka terlihatlah seorang lelaki berkepala gundul sedang bertapa di bawah air terjun yang cukup besar juga.

''Bhiksu Shaolin?'' Yan Zi mengangguk.

Air sebanyak itu terus-menerus menerpa bahunya, seharusnya membuat seseorang terbanting, atau jika terus menerus berada dalam kedudukan itu, setidaknya melesak ke bawah. Namun bukan saja dasar batu tidak akan membuatnya melesak ke mana pun, melainkan bahwa t ingkat tenaga dalam bhiksu tersebut telah membuat beban air puluhan ribu kati hanya terasa bagaikan pancuran air dari saluran bambu sahaja.

Jarak kami dengan bhiksu yang melatih tenaga dalamnya itu sangat jauh, tetapi sempat kulihat ia mengangkat kepalanya sebentar, yang kutafsirkan sebagai penanda telah didengarnya percakapan kami. Mendengarkan hanya dua kata dari tempat yang sangat jauh, di tengah deru air terjun yang bergemuruh, tentu adalah tingkat pencapaian luar biasa. Barangkali didengarnya sentuhan kaki-kaki kuda pada batu dan dari sana diketahuinya berapa orang jumlah kami, beban apa saja yang kami bawa, dan seterusnya.

Apalah yang dicarinya jika bukan kesempurnaan jua adanya? Menjadi seorang bhiksu yang menggunduli kepala, menahan nafsu, dan hidup dari pemberian seadanya adalah suatu panggilan, sekaligus merupakan harga yang harus dibayar apabila masih berm inat mencapai pencerahan dalam hidupnya. Sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak berbatu-batu yang ada kalanya curam sekali, sehingga kami pun harus turun dan berjalan pelan di atas kuda, kuingat cerita Iblis Suci Peremuk Tulang tentang bagaimana di Negeri Atap Langit aliran Buddha yang berusaha mencapai pencerahan di luar pembacaan naskah, melainkan me lalui dhyana, tidaklah banyak, antara lain yang disebut Chan, dan di antara yang sedikit itu terdapatlah para bhiksu Chan yang menggabungkan dhyana dengan ilmu silat. Dari sinilah Perguruan Shaolin itu mendapatkan akarnya.

IBLIS Suci Peremuk Tulang juga bercerita tentang Ta Mo yang hidup semasa pemerintahan Wangsa Liang antara tahun 506 sampai 556.

"Kata orang ia datang dari Jambhudvipa pada 520," kata Iblis Suci, "tidak jelas apakah sebagai tawanan pasukan Negeri Atap Langit, ataukah memang berniat menyebarkan ajaran Buddha seperti yang telah mencerahkannya.

"Apa pun, ia akhirnya berhadapan dengan maharaja, yang kemudian mengiz inkannya agar ditampung oleh suatu Kuil Shaolin. Menurut cerita orang-orang, se lama sembilan tahun pertama di Negeri Atap Langit, sebagian besar waktu dihabiskannya untuk menatap tembok dan menerapkan dhyana sampai lebur dengan lingkungannya, sehingga bahkan dapat didengarnya gerakan serangga di belakangnya.

"Sumbangan Ta Mo dianggap luar biasa, karena meskipun ia juga menerjemahkan kitab-kitab Buddha, ia terutama dihargai atas penafsiran terhadap ajaran Buddha di Negeri Atap Langit yang disebut Chan itu. Pendekatannya diterima banyak orang, bahkan menyapu aliran-aliran pemikiran kejiwaan lainnya, dan Ta Mo menjadi tokoh Negeri Atap Langit pertama yang disebut sebagai Bodhidharma, artinya yang keduapuluhdelapan setelah Gautama.

"Seperti juga Dao, Buddha bukan agama lain, melainkan olah kejiwaan dan jalan pemikiran yang berhubungan dengan yoga. Akibat tersebarnya ajaran Buddha tidak lebih sama dengan penerimaan Dao seribu tahun sebelumnya. Pendekatan seperti kekosongan pikiran dan berbagai bentuk dhyana yang diperkenalkan Chan dengan cepat melebur kepada seni olah kejiwaan ini. Adapun karena Buddha sangat mendasarkan dirinya kepada jalan damai dan bukan- kekerasan, akhirnya memperkuat berbagai kesepakatan yang menjadi pedoman ilmu silat.

"Dalam taraf keragaan, yang paling penting dari ajaran Ta Mo adalah latihan-latihan dan cara-cara pernapasannya. Konon katanya beliau itu putera Raja Sugandha dan sebagai anggota kasta ksatria mendapatkan latihan-latihan olah senjata dan keragaan sepanjang masa mudanya. Kata orang, ketika tiba di Kuil Shaolin, ia melihat para rahib keadaan raganya buruk sekali, sampai mereka tidak mampu tetap bertahan dalam dhyana dengan waktu lama yang disyaratkannya.

"Diperhatikannya, ketika sedang mengajar murid-murid yang raganya lemah jatuh tertidur. Percaya bahwa raga yang kuat bukan hanya dapat mengobati kelemahan ini, melainkan juga membuat seseorang makin dekat kepada jiwanya, Ta Mo memberikan apa yang disebut Delapan Belas Latihan untuk dilakukan setiap pagi."

Saat itu, karena berada di tengah suasana diburu dan memburu dalam pertempuran dengan siasat sergap dan lari melawan pasukan pemerintah dari hutan ke hutan di Daerah Perlindungan An Nam, belum sempat disampaikannya apa saja Delapanbelas Latihan itu. Ketika kami bersama-sama hidup di Kuil Pengabdian Sejati di Thang-long, aku tidak ingat lagi perbincangan tentang Shaolin itu, karena tenggelam dalam pembelajaran filsafat Nagarjuna maupun pengetahuan tentang Negeri Atap Langit lainnya. Apakah sekarang ini sebaiknya kutanyakan kepada Yan Zi? Saat itu ia menunjuk ke suatu arah, dan ketika kuikuti arah yang ditunjuknya, terlihatlah pemandangan yang bagiku luar biasa. Pada air terjun itu tampaklah lima bhiksu cilik berkepala gundul berlari dalam kedudukan m iring, seolah air terjun itu adalah dataran bumi dan mereka berlari di atasnya. Adapun karena air terjun itu mengalir terus, maka tampaklah dalam kedudukan m iring dengan kepala menghadap ke langit seperti itu para bhiksu cilik tersebut seperti berlari-lari di tempat. Kaki mereka tampak berputar cepat sekali dan sambil berlarian seperti itu mereka berteriak-teriak sambil tertawa-tawa.

"Suhu! Sudah capai sekali Suhu!" "Iya Suhu! Istirahat dulu ya? Tolong!

Kucari yang mereka panggil suhu dan ternyata di tepi kolam berbatu-batu itu, di atas sebuah batu besar, tampaklah seorang bhiksu tua berbaju ringkas warna jingga yang masih tampak gagah duduk mengawasi sambil bersila.

"Lari terus!" Ia berteriak keras mengatasi gemuruh air terjun, "Jangan harap bisa istirahat sebelum sampai ke atas!"

"Aaaaahhh...Suhu! Mana bisa kami sampai ke atas kalau air terjun ini mengalir terus!"

BODOH! Tentu saja air terjun ini mengalir terus! Kalau berhenti mengalir kaki kalian mau berpijak di mana?"

Kelima bhiksu cilik itu saling berpandangan sambil masih terus saja tertawa-tawa. Tampaknya mereka saling memahami apa yang sebetulnya di sampaikan sang suhu. Mereka akan terus berlari di tempat jika hanya menggunakan tenaganya sendiri, mereka hanya bisa berlari sampai ke atas jika memanfaatkan daya air terjun itu juga.

"Ayo balapan!" Salah seorang dari mereka berteriak. "Ayo!"

"Ayo!" "Ayo!"

Kini mereka memanfaatkan daya dorong air terjun untuk menambah tekanan kaki mereka sendiri, sehingga kedudukan mereka kini tidak lagi m iring dengan kepala menghadap langit, melainkan seperti sejajar dengan air terjun karena kaki mereka bergerak mendaki, tetapi dengan sangat cepat sekali. Kaki mereka memang harus bergerak lebih cepat daripada kecepatan air terjun, karena jika t idak bukannya mereka akan bisa bergerak maju sampai ke atas, melainkan tetap bergerak di tempat, bahkan jika kemudian kelelahan melanda justru akan mundur dan tercebur ke kolam.

"Ayo! Siapa kalah cuci bajuku!" "Siapa kalah tidak boleh makan!"

"Siapa kalah menyapu halaman sendirian!" "Siapa kalah tidur di luar!"

"Siapa kalah menghapalkan sutra!"

"Siapa kalah harus minum arak sampai mabuk!" "Hahahahahahaha!"

Sambil bercanda dan tertawa-tawa seperti itu mereka

ternyata bisa berlari menanjak, makin lama makin tinggi, sementara kulihat di bawah suhunya mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggotnya yang putih.

Para bhiksu cilik itu menghilang di puncak tebing, mungkin masih berlari di atas sungai, melesat kembali ke Perguruan Shaolin sambil tertawa-tawa. Tinggal suara tertawa-tawa ceria itulah yang terdengar olehku di sela gemuruh air terjun, ketika kulihat sang suhu yang sedang melatih para bhiksu cilik itu pun melenting dari atas batu, membuka kakinya yang semula bersila di udara, lantas melangkahkan kaki bagaikan terdapat tangga batu, dan hanya dalam beberapa langkah lenyap di balik puncak tebing menyusul murid-muridnya. Yan Zi tersenyum melihatku ternganga.

"Itulah yang dulu juga kualam i di Perguruan Shaolin," katanya, "latihan tidak habis-habisnya seperti tidak ada kehidupan lain lagi."

Tiada kehidupan lain? Tidakkah kehidupan seorang bhiksu atau bhiksuni memang merupakan pilihan sadar untuk hidup dengan caranya sendiri? Yan Zi telah berada di atas kudanya kembali setelah jalan setapak makin melebar, dan dari atas kuda pula kuperhatikan Pedang Mata Cahaya untuk tangan kanan yang tersoren di punggungnya. Sempat diceritakan oleh Angin Mendesau Berwajah Hijau, bahwa jika pemegang pedang itu menguasai tenaga dalam yang cukup, maka cahaya yang memantul dan berkilat dari pedang itu akan menjadi zat padat dengan ketajaman yang mampu membelah tubuh siapa pun yang terlewati kilatan cahayanya.

Tidak dapat kubayangkan betapa mengerikannya pedang mestika itu jika jatuh ke tangan golongan hitam. Mungkinkah justru karena keberadaan pedang itu Yan Zi dikirim ke Perguruan Shaolin, bukan agar menjadi bhiksuni tentunya, tetapi justru agar dapat mengatasi bukan saja pengaruh buruk pedang itu, tetapi juga dapat menjaganya dari usaha orang- orang rimba hijau maupun sungai telaga untuk merebutnya. Dalam dunia persilatan, keinginan untuk memiliki pedang mestika yang ampuh, dan jika perlu merebutnya, tidak hanya berlaku di kalangan golongan hitam, melainkan juga golongan putih. Bahkan para pendekar golongan merdeka yang seperti kurang peduli keadaan dunia, tidak jarang menjadi amat sangat tergoda ketika yang menjadi masalah adalah senjata sakti.

Betapapun, pemegang Pedang Mata Cahaya yang bermaksud menyalurkan tenaga dalamnya agar cahaya yang memantul dapat membunuh lawan, memang harus memiliki tenaga dalam tingkat tinggi sedemikian rupa, sehingga cahaya yang berkilatan itu tidak memantul ke arah dirinya sendiri. Bahkan tenaga dalam saja sebetulnya tidak cukup, karena tidaklah mudah menghindari kilatan cahaya apapun, apalagi mengarahkannya, kecuali menguasai jurus ilmu pedang yang dibuat untuk menggunakan Pedang Mata Cahaya itu.

SETIAP kali jalan setapak kami bersua air terjun, jika air terjun itu besar artinya jalan setapak tersebut berada di baliknya dan kami bisa berjalan di balik air terjun yang tumpah bergemuruh. Maka justru ketika bertemu a ir terjun kecil, yang airnya masih menempel pada dinding batu, kami harus merayap ke atas air itu lebih dulu agar bisa melewatinya. Dilakukan bersama dengan kuda, hal itu menjadi lebih sukar dilakukan, seolah wilayah Seribu Air Terjun yang serba curam ini memang bukan tempat untuk kuda. Namun melakukannya dengan berjalan kaki akan membuat seluruh perjalanannya berlarat-larat. Kami masih akan membutuhkan kuda ini nanti, tetapi kini ibarat kata kamilah yang mesti menuntun kuda ini. Demikianlah kami berjalan naik dan turun serta keluar masuk air terjun tanpa banyak bicara, jika tidak ingin se lalu berteriak- teriak, karena setiap kali meninggalkan air terjun bergemuruh yang satu, akan bertemu lagi dengan air terjun yang lain.

Burung elang sesekali tampak berkepak dan melayang, berputar-putar di udara terbuka mencari mangsa, yang membuat aku berpikir, tidakkah seseorang sedang mengawasi kami dan bermaksud menjadikan kami korban? Jika tidak membawa kuda, barangkali kami bisa melenting-lenting menjejak ujung-ujung batu pada tebing, ke arah menghilangnya para bhiksu cilik yang tadi berlatih ilmu meringankan tubuh itu, tetapi sekarang kami harus berjalan agak memutar sebelum tiba Perguruan Shaolin. Jika dengan jalan seberat ini pun dikatakan aku bisa mendahului dan menantikan Harimau Perang, bisa kubayangkan betapa jalur yang ditempuhnya tentu jauh lebih berat.

Aku masih berpikir apakah yang dipelajari Yan Zi di Perguruan Shaolin adalah terutama cara mempergunakan Pedang Mata Cahaya itu, ketika masuk ke sebalik air terjun yang sangat besar dan sangat bergemuruh, sehingga jalan setapak di baliknya pun cukup luas dan cukup panjang, sesosok bayangan merah tampak melayang masuk dari ujung jalan setapak yang lain dan mencegat kami di tengah jalan.

Kulihat sepintas, aku mengenalinya!

Itulah perempuan pendekar berbusana sutera merah, yang bisa terbang seperti burung elang dan telah kusaksikan membunuh lawannya dengan cara luar biasa, yakni menusukkan pedangnya sembari mengambang diam di udara. Kuingat betapa ia telah melemparkan pisau terbang bergagang gading dengan gambar naga pada kedua sisinya. Pisau terbang yang dilempar untuk selalu mengenai sasarannya, untuk selalu dicabut kembali karena lawannya sudah mati, bukan pisau terbang yang dilemparkan untuk tertangkis dan hilang tidak kembali. Makanya pisau itu bagus sekali. Bergagang gading dan berukiran naga pada kedua s isi. Ia harus kembali kepada pemiliknya dan karena itu harus menancap agar bisa dicabut lagi.

Namun saat itu aku telah menangkapnya. Sekarang tampaknya perempuan pendekar berbusana sutera merah itu masih mengenali diriku yang waktu itu pun jauh sekali. Tanpa berkata apapun juga ia telah mencabut pedangnya dan berkelebat menyerang!

''Kembalikan pisauku!''

Ia berteriak lantang di tengah gemuruh air terjun, sambil melayang dengan pedang jian terarah ke depan.

(Oo-dwkz-oO)