-->

Nagabumi Eps 18: Mengolah Rontal Menjadi Lontar

Eps 18: Mengolah Rontal Menjadi Lontar

SUDAH tiga bulan aku menenggelamkan diri. Menikmati kehidupan sebagai orang awam yang menjual kepandaian sebagai pembuat lontar. Kekosongan pengetahuan karena menghilang dua puluh lima tahun dari dunia, tidak bisa ditebus dalam semalam sahaja -sebaliknya pengalaman sehari semalam bagi seseorang yang telah menghilang dua puluh lima tahun dari dunia, begitu penuh sesak serasa, bagai terpadatkannya dunia.

Semenjak malam ketika kucuri dengar perbincangan orang- orang Kalapasa itu, aku menghilang kembali ke dalam kota. Pada malam pertama aku bergabung dengan orang-orang yang tidur di pasar. Ada orang gila, ada gelandangan, dan juga candala yang terbuang dari kelompok sesama candala.

Kuandaikan bahwa meskipun Arthasastra menganjurkan penyelidikan dan penyamaran di semua tempat, pasar pengap seperti yang kudatangi adalah tempat yang paling dijauhi para mata-mata, karena terlalu mudahnya orang luar ditandai. Aku memang orang asing bagi mereka, tetapi siapa yang akan mengira betapa seorang tua renta yang seratus tahun umurnya akan bisa berbahaya bagi mereka? Sebaliknya justru akulah yang harus menghindari perkara dengan mereka. Bukankah aku membawa keping-keping emas? Menyuruk di tempat gelandangan, aku hanya harus mewaspadai orang- orang Partai Pengemis. Karena mereka seperti mempunyai kemampuan istimewa untuk mengetahui pengemis sesungguhnya atau pengemis pura-pura-karena mereka sendiri memanglah bukan pengemis, melainkan orang?orang persilatan yang memilih jalan hidup sebagai pengemis.

Maka aku pun tidak terlalu lama menyuruk dalam kegelapan bersama kaum candala dan orang-orang yang tersingkir dari masyarakatnya itu. Persembunyian terbaik sesungguhnyalah bukan menjauhi keramaian, melainkan justru melebur bersamanya.

Maka, begitulah suatu ketika aku menyewa sebuah ruang di penginapan yang berdinding bambu dan beratap rumbia, memulai langkah-langkah pengamatanku sedikit demi sedikit dengan pelan dan sabar. Ini bukanlah sekadar soal siapakah manusianya yang memerintahkan pembunuhan dan perburuan atas diriku, tetapi keadaan macam apakah yang membuat keputusan itu diambil.

Aku ingin mempelajari semuanya dan baru setelah itu melakukan perhitungan: Benarkah aku harus mencari dan mengadili mereka yang melakukan fitnah dan merancang perburuan diriku, seperti yang berlaku dalam dunia persilatan; ataukah terdapat suatu cara lain untuk mengatakan kepada dunia betapa aku tidak bersalah, sebagai cara yang barangkali akan dianggap lebih berbudaya.

Setidaknya aku ingin menenangkan diriku dahulu. Tentulah terlalu banyak hal yang telah kualam i dalam waktu singkat bagi seseorang yang telah mengurung dirinya dalam sebuah gua di rimba raya.

Seorang pendekar boleh memiliki ketahanan jiwa yang hebat, misalnya ketika mengalami pengeroyokan dalam pertarungan. Seringkali terdapat seorang pendekar dikeroyok oleh seratus orang dan bisa memenangkannya, sebetulnya hanya karena ia telah berlaku tenang maka ia bisa menundukkannya satu persatu, seperti yang kulakukan dalam Pembantaian Seratus Pendekar.

Namun jika seorang pendekar harus tinggal bersama dirinya sendiri selama duapuluhlima tahun, itu berarti ia harus melawan banyak masalah yang timbul dari dirinya sendiri, itulah tantangan yang sungguh-sungguh menguji ketahanan jiwanya. Di dalam hutan, di dalam gua, tak berjumpa manusia selama duapuluhlima tahun lamanya, aku harus membangun duniaku sendiri, agar aku tetap merasa menjalani kehidupan dengan sewajarnya.

Itulah yang kulakukan di dalam hutan dahulu, yang antara lain harus kuatasi dengan melakukan hal-hal lain, m isalnya seperti membuat lontar tersebut. Pada lontar itu aku bisa menuliskan apa pun yang ingin kutuliskan -apa pun, sejauh pemikiran apapun me lewati kepalaku. Tentu saja aku tidak dengan sendirinya langsung mampu membuat lontar itu. Aku mempelajarinya sedikit demi sedikit pada masa ketika aku harus menyamar dan melebur ke dalam kehidupan awam sehari-hari.

Kata lontar adalah kesalahan ucap dari rontal -helai daun yang dimanfaatkan untuk menulis. Pohon lontar juga disebut pohon siwalan, yang termasuk jenis pohon palem. Daunnya memang lebar seperti kipas dan tumbuh secara liar dengan sangat lambat-tetapi di dalam hutan dulu, aku mempunyai cukup waktu.

Daun lontar yang untuk menulis adalah yang masih muda, artinya yang masih berwarna hijau, tetapi ujungnya mulai berubah menjadi cokelat. Cara memetiknya juga tidak sembarangan, yakni tidak boleh dijatuhkan dan harus dibawa turun. Maka sering terjadi aku melompat ke atas dengan ilmu meringankan tubuh, sekadar untuk memetik daun itu lantas turun perlahan-lahan seperti tubuhku tidak mempunyai bobot.

Setelah dipetik, maka daun itu disayat dari batang daunnya, lantas dijemur selama dua sampai tiga hari sampai kering. Setelah itu, daun-daun ini direndam lagi dalam air selama tiga hari, lalu lagi-lagi dijemur. Barulah sete lah kering yang kali ini, lidinya dibuang dan dipotong menurut ukuran- ukuran tertentu. Kemudian direbus dalam dandang, dengan air yang diberi campuran rempah?rempah, dengan bahan seperti babakan pohon intaran, babakan pohon book, umbi pohon sikapa, putik kelapa, temu tis, dan jagung tua. Bayangkanlah bagaimana di dalam hutan aku harus mempersiapkan semua itu sendirian. Campuran rempah ini berguna, supaya lontar itu tahan lama dan tidak dimakan rayap. Lama juga lontar itu akan direbus, dibatasi sampai jagung menjadi bubur dan daun lontar menjadi lemas, baru setelah itu diangkat dari dandang, untuk dicuci dengan air dingin sampai bersih.

Ini belum berakhir, karena setelah lontar dijemur sampai kering, sore hari lontar itu dijajarkan selama beberapa saat68 di atas tanah yang disiram dulu dengan air dingin, agar mendapatkan hawa lembab. Ini dilakukan supaya lontar yang tadinya mengerut, melebar kembali seperti asalnya. Esoknya, baru daun lontar dibersihkan dengan kain dan ditekan lama, setidak-tidaknya empatbelas hari. Pada waktu itu, daun lontar diukur panjang dan lebarnya, menyesuaikan diri dengan kebutuhannya, lantas diberi tiga lubang; dua buah pada tepi dan satu buah di tengahnya. Setelah selesai, ketiga lubang itu dipasak dengan lidi dari bambu, supaya terikat erat. Lantas tepi lontarnya diserut supaya licin dan rata, kemudian digosok dengan batu apung, supaya selain lemas juga jadi kuat. Setelah ini baru dicat dengan pewarna merah dan dijadikan berkilat.

Hanya untuk membuat lontar saja aku mengalami puluhan kali kegagalan, bukan saja karena bahan?bahannya mesti kutanam dan tumbuhkan lebih dahulu, tetapi juga karena cara pembuatannya hanya bisa kuingat?ingat saja. Dari para guruku, aku memang mendapatkan banyak sekali ilmu, tetapi hanya kepada ilmu silat perhatianku tertuju. Namun setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya aku bisa menghasilkan lembaran?lembaran lontar yang siap ditulisi, dan begitulah dari saat ke saat aku menuliskan kitab-kitab ilm u silat yang kuandaikan dapat mewakili keberadaanku di bumi jika aku mati.

Jadi aku memang meninggalkan banyak naskah di gua itu, tersembunyi di tempat yang aman dan terjamin keawetannya, tiada seorangpun akan bisa menemukannya jika mencarinya tanpa petunjuk dariku. Kecuali, tentu, jika ada seseorang yang menemukannya secara kebetulan, dan alangkah celakanya jika ia taktahu apa yang telah ditemukannya. Betapapun orang Yawabumi telah menemukan hurufnya sendiri, sebagai imbangan bahasa dan huruf Sansekerta yang berasal dari Jambhudwipa, kepandaian membaca dan menulis masih sangat langka. Kemampuan membaca dan menulis hanya dikuasai mereka yang mempunyai kewajiban memimpin upacara agama dan menjalankan hukum-hukum tatanegara. Itu pun tidak se lalu mereka semua menguasainya. Kadang?kadang mereka hanya mengandalkan kemampuan para juru tulis, untuk menyampaikan isi suatu naskah, ataupun mencatat apa yang perlu dimasukkan pada naskah. Maka, apapun yang tertulis dan dituliskan mempunyai nilai tinggi dan dianggap sebagai pusaka. Tempat penyimpanannya pun dijaga oleh bukan sembarang pengawal, karena siapapun yang terlibat dalam penulisan naskah sangat menyadari betapa naskah?naskah ini sangat penting artinya sebagai catatan masa kini bagi anak cucu mereka pada masa yang akan datang.

Namun, seperti yang telah kualami, kusadari betapa segenap penulisan naskah-naskah itu penuh dise limuti dengan kepentingan. Itulah kepentingan mereka yang memberi perintah untuk menuliskannya, dan itulah yang lebih sering terjadi: dunia naskah, tulisan, dan pembacaan tulisan itu adalah dunia para penguasa. Penulisan naskah itu hidup dan beredar di kalangan penguasa sebagai suatu usaha pembenaran. Nah, apakah yang bisa lebih mengerikan dari ini?

Dengan huruf-huruf yang tertera pada naskah dan bertahan menembus waktu dari abad ke abad, para penguasa masih dapat melakukan penjajahan pikiran, atau mengabarkan kebohongan, sampai masa yang mereka sendiri tidak akan pernah bisa menduganya. Itulah, menguasai ruang saja tidak cukup, menguasai waktu juga dianggap perlu-maka hal itu dipastikan dengan penulisan

naskah yang isinya akan selalu berpihak kepada kepentingan penguasa.

Aku mulai memikirkan hal ini ketika mendengar keluhan orang-orang yang tanahnya harus diserahkan untuk bangunan keagamaan. Dalam prasasti kedudukan mereka selalu terhormat, yakni dipersilakan menghadiri upacara peresmian prasasti, dengan pendapat bahwa penyerahan tanah itu dilakukan secara suka rela demi negara dan agama.

Di luar dari yang tertulis pada prasasti, tidak ada yang tahu nasib mereka selanjutnya-dan aku mengetahuinya. Jika aku menuliskan segala cerita tentang dunia semasa aku hidup, dari sudut pandang rakyat jelata, dan bukan penguasa, apakah masih akan banyak berguna sebagai perlawanan terhadap penjajahan pikiran para penguasa?

Di dalam bilik bambu aku masih berpikir, ketika di luar pondok terdengar olehku orang berlalu lalang. Umurku sudah seratus tahun lebih dan barangkali tidak banyak lagi waktu untuk menuliskan segalanya dari sudut pandang rakyat jelata. Namun pemahaman betapa para kawi dengan kemampuan berbahasa terindah hanya mengabdikan dirinya kepada para penguasa, membuat aku merasa telah berlangsung semacam persekongkolan?karena di sana hanya raja, dan bukan rakyat yang telah bekerja keras menjadi penting. Bukankah bukan hanya raja, tetapi juga rakyat, yang membuat kebudayaan berjalan? Namun para kawi se lalu membuka tulisannya dengan suatu manggala, bahwa tulisan itu dipersembahkan kepada sang raja sebagai titisan dewa, dan hanya karena kesempatan yang diberikan oleh raja itulah, sebagai pelindung dan pengayom mereka, maka mereka dapat menghasilkan karya tersebut.

Aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah keadaannya akan berubah jika semua orang bisa membaca, menulis, dan mengemukakan pendapatnya sendiri? Dunia ini harus dibikin seimbang, pikirku, setidaknya harus ditunjukkan terdapatnya perlawanan- dan itu semua tentunya harus dituliskan. Kadang- kadang menyesal juga aku, bahwa selama duapuluhlima tahun pengasinganku di rimba raya, waktuku habis untuk menuliskan kitab-kitab ilm u silat-tetapi itulah memang duniaku sejak dulu, dunia persilatan. Memang benar aku telah mempelajari banyak hal duapuluhlima tahun sebelumnya, ketika me leburkan diri dengan kehidupan orang awam, tetapi itu semua masih dalam rangka penyamaran, dan dalam sudut pandang seorang pendekar silat yang bersembunyi. Kini, mungkin karena umur, keadaannya agak berbeda. Dalam hari-hari tenang di penginapan, aku menyadari bahwa umurku menuntut aku berpikir masak-masak: Apakah yang masih bisa kulakukan dalam sisa hidupku, yang tentunya tidak akan lama lagi? (Oo-dwkz-oO)

DI MANTYASIH, rempah-rempah untuk pembuatan lontar bisa kudapatkan di pasar. Aku melamar pekerjaan kepada pembuat lontar yang selalu menerima pesanan dari para penulis istana. Sebagai orang yang tampak tua, meski rambutku tetap kupertahankan dengan semir hitamnya, pengakuanku pernah bekerja pada masa Rakai Pikatan, yang berkuasa antara tahun 847 sampai 855 cukup meyakinkan. Sebetulnya sejak tahun 846 aku sudah menghilang dari dunia ramai. Kini, dalam masa pemerintahan Rakai Kayuwangi yang sudah berada di singgasana kekuasaan selama 16 tahun, kebutuhannya untuk mengukuhkan keberadaan diri tentu juga ada. Setidaknya tiga prasasti telah memuat namanya, dan tentu saja selama ia masih berkuasa tidaklah akan berhenti. Memang, tidak selalu namanya termuat dalam prasasti yang dibuat pemerintahnya sendiri, seperti prasasti tahun 856 yang terdapat di Nalanda, perguruan agama Buddha di Jambhudwipa, dan pernah kubaca ringkasannya dalam catatan seorang pelaut baru-baru ini.

Seorang raja yang bernama Jatiningrat, pemeluk agama Siwa,

kawin dengan seorang permaisuri yang memeluk agama lain.

Balauputra menimbun ratusan batu untuk dijadikan benteng pertahanan dan tempat bersembunyi

dalam perang melawan Jatiningrat.

Raja mengambil nama Brahmana Jatiningrat mendirikan kraton Medang di daerah Mamrati. Sesudah itu beliau mengundurkan diri sebagai raja menyerahkan kuasa kepada Dyah Lokapala.

Rakyat terbagi empat asrama,

masing-masing dikuasai seorang brahmana.

Sang raja bersiap mengadakan upacara kematian. Rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil.

Beliau merasa malu,

dusun Iwung pernah menjadi gelanggang pertempuran. Setelah beliau mencapai kekuasaan dan kejayaan, beliau mendirikan candi makam,

menghimpun pengetahuan dharma dan adharma. Tidak ada orang yang berani melawan beliau.

Sang raja mendirikan halu70 , Semua orang turut menyumbang Pembangunan lingga yang indah. Di gapura terdapat arca penjaga yang gagah berani

menjaga keselamatan bangunan.

Di pintu masuk, didirikan dua bangunan yang berbeda bentuknya

Halaman lingga ditanami pohon tanjung dan didirikan rumah-rumah kecil

untuk para pertapa pokoknya indah sekali

Ruang bangunan terindah bagi yang diperdewa Para pengunjung dan penyembah berdiri dalam deretan dengan hormat dan tenang Semua orang diminta datang bersembah Peresmian berlangsung tahun Saka 778 hari ke sebelas bulan terang Selasa Wage setelah bangunan selesai

sungai dipindahkan

tanah menjadi wilayah candi tanah merdeka pameger Wantil tanah merdeka milik candi semua orang bertugas menjaga dan melakukan persembahan harap tekun dan tabah

tidak mengalami lahir-mati tanpa henti

Bagi banyak orang pada masaku sekarang ini, tulisan pada batu dianggap setara dengan mantra, dan itulah yang membuat orang lebih suka menjauhinya-meski tiada kutukan dalam prasasti ini. Namun bagaimanakah orang?orang di masa mendatang menafsirkan tulisan pada prasasti itu? Aku tidak bisa menduganya, tetapi aku merasa bahwa akan lebih baik orang di masa mendatang itu juga membaca tulisan-tulisan yang lain, terutama yang tidak ditulis oleh penguasa. Betapa aku merasa pengetahuan semacam ini datang dengan sangat terlambat.

Masih kudengar suara orang-orang berlalu lalang di luar dinding bambu. Penginapan sederhana ini terletak di perempatan. Di mana pun agaknya perempatan menjadi pusat pertumbuhan. Aku tak tahu apakah mesti pindah, untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang, ataukah tetap di sini, agar lebih cepat mendapatkan kejelasan tentang duniaku sekarang ini.

Aku keluar ruangan dan menuju ke tepi sungai. Di sinilah semua orang mandi dan mencuci. Namun di tepi sedang terjadi kegemparan, karena seseorang telah terkapar menjadi mayat, dengan sebilah pisau menancap pada jantungnya.

(Oo-dwkz-oO)