-->

Nagabumi Eps 178: Di Kampung Jembatan Gantung

Eps 178: Di Kampung Jembatan Gantung

JIKA angin bertiup, menyingkirkan maupun membawa kabut, jembatan gantung itu bergoyang-goyang. Kami sudah berada di tengah jembatan ketika angin bertiup seperti nyanyian, dan membuat jembatan itu seperti menjadi m iring, sehingga kuda kami berhenti. Saat masih berjalan aku tidak sempat memperhatikan keadaan sekitar, karena betapapun terlatihnya kuda yang kutunggangi, bukannya tidak mungkin akan bisa terperosok juga. Tali temali dari akar-akaran yang seperti menjadi pagar di kiri dan kanan jalan memang tampak kuat, tetapi batang-batang pohon yang dirapatkan itu ada kalanya sangat licin. Hanya dua batang pohon yang dirapatkan sebagai tempat berpijak, asal cukup bagi kuda untuk melangkah, karena jika lebih banyak lagi akan menjadi terlalu berat bagi tempat bergantungnya, yakni rentangan rotan sambung menyambung sahaja, yang meskipun terbukti luar biasa liat, tidaklah berarti dapat menahan segala beban di luar perhitungan.

Ketika berhenti karena jembatan bergoyang mengerikan seperti ini, aku lebih mengerti bagaimana pemukiman ini menjadi tersembunyi. Berada di tengah jembatan ini saja bagaikan me layang di tengah langit. Dua sisi tebing yang dihubungkannya sangatlah jauh, bahkan lebih sering tidak terlihat karena tertutup kabut, sementara gunung-gunung batu lain yang tampak di kanan dan kiri jembatan pun hanya tampak samar-samar jauh sekali. Padahal betapapun pemukiman tersembunyi ini masih berada di wilayah lautan kelabu gunung batu juga. Keadaan alam jelas sangat dimanfaatkan oleh para pelarian ini dahulu, untuk mendapatkan pemukiman yang meskipun tersembunyi tetapi sebetulnya tidak terlalu jauh dari jalan sempit di tepi lereng, yang merupakan jalan utama sepanjang lautan kelabu gunung batu. Setelah angin berhenti dan jembatan gantung kembali lurus seperti semula, kudaku pun melangkah lagi. Menengok ke belakang, kulihat lelaki tua berjubah ungu dan mengenakan fu tou hitam dari bahan sutera itu masih tertunduk di atas kudanya.

"Bapak, hati-hatilah," kataku, "batang-batang pohon ini sangat licin."

Ia mengeluarkan suara dengan sisa lidahnya, yang kukira sekadar mengatakan, "Ya."

Perlahan-lahan, semakin mendekati tujuan, semakin tipis kabutnya, dan semakin jelas betapa pemukiman itu bukanlah sekadar rumah yang menempel di dinding lereng, melainkan sebuah pemukiman yang selain rumah panjang menempel dan bergantungan pada lereng, terdapat jalan, altar doa, rumah agak lebih besar yang mungkin dijadikan balai pertemuan, bahkan juga kedai, dan juga semacam gardu penjaga yang berada paling dekat dengan akhir jembatan gantung ini.

Dari tempatku mendekat perlahan-lahan, terlihat suasana sebuah pemukiman yang hidup, orang-orang di dalam rumah, orang-orang berjalan di luar rumah, masih pada jalan setapak yang bahkan kadang-kadang terputus karena mengecil dan habis menjadi dinding lereng, untuk disambung susunan papan yang cukup halus potongannya, yang bahkan cukup lebar tempat kanak-kanak berlari. Namun tentu saja bagi kanak-kanak yang suka berlari, pemukiman ini adalah tempat yang berbahaya, karena sekali terpeleset dan terlempar dari jalan setapak maupun jalan susunan papan, yang bergantung dengan tali rotan pada lereng yang menjorok seperti atap, tentu langsung me layang ke jurang. Pemukiman ini seperti sarang burung walet menempel di tebing-tebing curam, yang bagai tak mungkin dicapai manusia, dan para penghuninya harus terbang ke sana ke mari, meski sempat kuperhatikan bahwa betapapun jalan setapak dan jalan susunan papan itu memang dipagari tali akar-akaran. AKU telah semakin dekat, tetapi pandanganku segera terhalang oleh seorang pengawal yang muncul dari dalam gardu. Ia seorang gadis yang tampaknya masih muda sekali, tetapi tindak tanduknya sudah terlihat matang dan berhati- hati. Baik yi, busana atasan, dan shang, busana bawahan, yang dikenakannya itu serba putih, begitu pula ikat pinggang yang mengikatnya erat, sehingga menjadi ringkas, sesuai dengan kesiapan orang-orang rimba hijau dan sungai telaga semenjak masa Wangsa Han, bahkan alas kakinya yang disebut sepatu pun berwarna putih bersih, bagaikan tiada setitik debu sama sekali. Sebilah pedang jian tersoren di punggungnya, kulihat gagangnya juga putih, yang segera memberi kesan kepadaku betapa ia sangat bersungguh- sungguh dengan ilmu silat yang dipelajarinya.

Jembatan gantung yang sangat panjang ini sesungguhnyalah ternyata melengkung, sehingga siapapun yang datang dari seberang dan hampir sampai akan terpaksa harus setengah mendaki. Setelah kuperhatikan sekilas bagaimana jembatan ini tergantung, tahulah aku bahwa apa pun yang terhubungkan dengan permukiman selalu dibuat dengan mempertimbangkan kemungkinan diserang. Kedudukan mendaki ini m isa lnya, jika digunakan sebagai jalan untuk menyerang adalah kedudukan yang lemah. Adapun jika terpaksa, kulihat betapa dengan sekali tetakan pedang, maka jembatan gantung akan secara sangat teratur simpul- simpulnya terurai, menjadi tali-tali lepas yang tidak saling berkaitan, merontokkan segalanya yang sedang berada di atas jembatan. Dapat kubayangkan seribu orang pasukan pilihan yang sedang melesat berlari dengan ringan di atasnya, mendadak saja akan kehilangan pijakan dan melayang jatuh ke dalam jurang yang bagaikan tiada berdasar.

Gadis pengawal itu mengamatiku dengan tajam. Tentu aku tampak sebagai orang asing, tetapi ia mengajukan pertanyaan dalam bahasa Negeri Atap Langit. "Li Bai atau Du Fu?"

Aku tersenyum dan teringat petunjuk Serigala Hitam. "Meski Li Bai periang dan Du Fu pemurung, daku lebih suka

Du Fu," kataku.

Ia pun melanjutkan, "Kutinggalkan uang sesen dalam saku."

Aku meneruskan, "Kantungku kempis takut malu."

Ia menatapku dengan geli, lantas tersenyum lebar. Menatap senyuman secerah itu, rasanya ketegangan karena menyeberangi jembatan gantung serbalicin ini lenyap menguap sama sekali.

"Ucapan dikau kacau balau, tetapi jawabannya benar sekali," katanya, "teruslah naik kemari."

Menurut Serigala Hitam dan Serigala Merah, jawaban yang salah hanya berarti kematian, karena jika seseorang berhasil menghindari segala cabang penuh jebakan, tetapi gagal menjawab kalimat sandi, akan dianggap penyusup yang harus dibunuh.

Meskipun pertanyaannya Li Bai atau Du Fu, dua penyair terkenal pada masa keemasan Wangsa Tang, jawaban yang benar hanyalah Du Fu. Jadi pertanyaan pertama itu sangat menjebak. Adapun pertanyaan kedua tidak terlalu penting, karena puisi-puisi Du Fu dikuasai banyak orang di luar kepala, seperti juga puisi Kantungku Kempes ini.

kutinggalkan uang sesen dalam saku kantungku kempes takut malu

Untuk menjaga bahwa seorang penyusup tidak sekadar beruntung ketika menjawab pertanyaan, "Li Bai atau Du Fu?", maka jawabannya pun menjadi seperti yang kuucapkan tadi. "Jangan salah, meski cuma satu kata," ujar Serigala Hitam.

Tidaklah terbayang olehku sebelumnya, betapa bisa begitu dekatnya seseorang dengan kematian.

"Daku membawa pesan Serigala Hitam," kataku setelah tiba di atas.

Untuk mencapai permukiman aku masih harus mendaki, tetapi aku turun dari kudaku dan gadis pengawal berbusana serba putih itu berjalan di sampingku.

"Tidak sembarang orang dipercaya oleh Serigala Hitam maupun Serigala Merah," katanya, "katakanlah apa yang menjadi pesan."

Kuingat apa yang disampaikan Serigala Hitam, bahwa aku dapat mempercayai siapapun yang bertugas di ujung jembatan gantung, maka kusampaikan dengan singkat apa yang telah terjadi, sehingga aku harus melewati Kampung Jembatan Gantung bersama seorang lelaki tua berjubah ungu yang gagu karena lidahnya dipotong itu

GADIS pengawal itu mengangguk-angguk seperti orang dewasa. Mungkinkah naluri yang dipelihara, agar selalu waspada terhadap ancaman bahaya, membuat seorang gadis pengawal yang masih muda menjadi terlalu cepat matang seperti itu?

"Baiklah kami akan mengurusnya, bahkan memberinya seorang pengawal tangguh agar ia dapat tiba di tempat tujuannya dengan selamat," katanya, "tampaknya bukan sembarang rahasia yang dipegangnya sehingga ia masih tetap hidup."

Sambil terus berbicara kami menelusuri jalan yang silih berganti dengan jalan susunan papan tergantung dan berpagar tali itu. Dari jalan setapak, setiap kali terdapat rumah di atasnya yang menempel ke dinding, terdapatlah menuju ke atas yang terbuat dari batang pohon. Di batang pohon itu anak tangga dibentuk dengan bacokan golok, sekadar cukup bagi telapak kaki, tepatnya sepertiga telapak kaki, untuk menapak. Kulihat kanak-kanak maupun orang tua yang sudah bungkuk, seperti hanya perlu menyentuhkan telapak kakinya sebentar ketika berlari menaiki maupun menuruninya. Orang- orang memperhatikan aku, tetapi tidak lantas meninggalkan apa pun yang sedang mereka kerjakan.

Di permukiman yang rumah-rumahnya menempel di dinding jurang serbacuram seperti sarang burung walet itu, kehidupan berlangsung seperti biasa. Kami berpapasan dengan orang-orang pulang berburu m isalnya, mengangkut rusa yang terikat di pikulan dan diangkut dua orang. Terlihat asap dari dapur, tercium bau masakan, terdengar perempuan bernyanyi sambil menenun. Orang-orang tua tampak bercengkerama sambil minum teh, ada yang menjalankan alat dari bambu yang kelak kuketahui bernama pompa air, ada yang berlatih tai chi sendirian di atas batu, dan seorang kakek tua tampak dikerumuni anak-anak. Banyak anjing berbulu tebal, yang tampaknya anjing pemburu, berkeliaran maupun diam memandangku dari depan pintu.

Para pemuda, selain duduk saling berhadapan menghadapi permainan perang dengan buah-buah batu di atas papan, ada juga yang duduk meluruskan kaki, bersandar pada tiang rumah sambil membaca. Kaum perempuan kesanku sangat gagah, langkahnya serba mantap dan tubuhnya tegap. Jika bertemu pandang mereka tidak menundukkan kepala, melainkan menatap kembali dengan tegas. Juga busana mereka ringkas, bahkan busana lelaki sejak masa Han yang disebut pao mereka pakai juga. Busana seperti pipa yang disebut-sebut sebagai ce lana atau ku seperti menjadi seragam utama di Kampung Jembatan Gantung, tampaknya tiada lebih karena suasana siap tempur.

Di dinding set iap rumah jika tidak kulihat tombak, tentu terlihat pedang jian terpasang bagai menunjuk kesiagaan penduduknya. Sementara golok dao dan kelewang dadao, meski terpasang di setiap pinggang dengan alasan untuk menebang kayu, kuyakini dapat mereka mainkan dengan cara ilmu silat pula. Mereka semua memandangku hanya sekilas, tetapi tak dapat mereka sembunyikan pandangan mata yang bertanya-tanya itu, karena mungkin untuk pertama kalinya melihat seseorang berkulit sawo matang seperti diriku.

Kaum perempuan tidak ada yang tidak bekerja. Tidak seperti kaum lelakinya, yang sepertinya hanya sibuk bicara di antara mereka sendiri sahaja.

"Jin-siyan!"

Terdengar suara memanggil gadis berbusana serba putih itu, yang segera berkelebat me layang secepat walet, tetapi begitu mengudara hanya membentangkan tangan untuk turun perlahan-lahan seperti jatuhnya kapas.

Adapun yang memanggilnya adalah seorang tua berjanggut putih, yang ketika melihat gadis pengawal tersebut turun perlahan-lahan seperti itu segera menggerakkan tangannya. Dalam sekejap terdengar desis jarum-jarum beracun yang melesat ke arahnya, yang sudah pasti akan menancap di tubuhnya jika ia tidak segera mencabut jian di punggungnya itu dan memutarnya dengan sebat untuk merontokkan jarum- jarum beracun tersebut.

Gadis yang dipangggil sebagai Jin-siyan itu menjura begitu mendarat. Pedang jian yang sempat kulihat berkilat menyilaukan itu sudah masuk ke dalam sarungnya.

"Maafkan sahaya Guru, karena datang terlambat untuk berlatih. Sahaya sudah akan kemari ketika mereka datang."

Orang tua itu mengelus-elus janggut putihnya tanpa menoleh kepada kami. Dari caranya melempar jarum, yang hanya seperti mengibas tidak sengaja, jelas ilmu silatnya sudah sangat tinggi. Tampaknya ia orang penting dan dihormati di pemukiman ini, sehingga mungkin merasa sebaiknya menganggap kami tidak ada sebelum diperkenalkan kepadanya terlebih dahulu.

DENGAN singkat Jin-siyan menjelaskan semuanya, barulah lelaki berjanggut putih yang dipanggil Guru itu sudi memandang kami ke bawah. Kuperhatikan busananya juga serba putih, tetapi karena agaknya sudah lama, maka tidak tampak terlalu putih lagi.

''Tanpa Nama?''

Jelas pertanyaan singkat itu ditujukan kepadaku. ''Ya Tuan,'' kataku, ''sahaya tidak memiliki nama...'' Ia mengangguk-angguk.

''Tentu seseorang tidak bisa dipaksa memiliki nama, tetapi

lantas dikau akan dipanggil?''

''Karena sahaya tidak memiliki nama, maka sahaya dipanggil sebagai orang yang tidak punya nama, Tuan.''

Ia tersenyum.

''Tanpa Nama. Tidakkah ini suatu nama?'' Aku pun menjura kepadanya.

''Dengan segala hormat, Tuan, itu hanya cara untuk

memanggil sahaya saja.''

Ia mengangguk-angguk lagi, masih mengelus-elus janggut putihnya.

''Wu ming,'' katanya lagi, ''tahukah dikau artinya wu ming?'' Aku menggeleng.

''Maafkan sahaya Tuan, penguasaan kata-kata sahaya

sebagai orang as ing masih sangat terbatas, tapi sahaya sungguh ingin mengetahui artinya.''

''Jika dikau membaca Daodejing, akan dikau temui kata wu ming, yang berarti tidak mempunyai nama, takbernama, tanpa pembeda apa pun yang membuat suatu nama bisa diberikan. Kata ini sering digunakan untuk menunjukkan Jalan dan akibatnya. Maka juga dianggap sebagai tersendiri, karena suatu nama bisa diberikan kepada apapun yang tidak tersendiri. Adapun karena Jalan adalah tersendiri, tiada nama yang diketahui dapat diterapkan maupun menjelaskannya.''

Ia berbicara tentang nama dan tak nama, tetapi perhatianku dalam tukar menukar kata ini adalah kata Jalan, yang disebutnya dengan kata dao. Di Kuil Pengabdian Sejati untuk beberapa waktu lamanya telah kuperhatikan makna kata dao ini.

Aku pun menjura, dan berkata, ''Kepada pengembara bodoh yang datang dari Javadvipa ini Tuan Guru, mohon sudilah kiranya memberikan sedikit pengetahuan tentang Jalan.''

Ia pun tertawa terbahak-bahak.

''Huahahahahaha! Cepat sekali ya, pengembara? Cepat sekali!''

Bahkan Jin-siyan ikut pula tertawa-tawa menutupi mulutnya.

''Jin-siyan! Kamu sajalah nanti memberi tahu Yang Tidak Bernama ini penjelasan tentang Jalan ya? Supaya setelah itu semakin bahagialah ia berjalan-jalan! Huahahahahaha!''

Sepintas kulirik lelaki tua berjubah ungu itu. Percakapan begini meriah, tetapi ia hanya tertunduk saja

Jin-siyan telah melayang turun. Sambil meneruskan langkah ke balai pertemuan tempat kami bisa menginap, Jin- siyan bicara tentang dao. Ia keluarkan pedang jian dan sembari melompat pedangnya menuliskan suatu aksara di udara.

''Jangan lupa aksara ini,'' katanya, ''begitulah caranya dao ditulis, yang dapat diuraikan menjadi tiga bagian, yakni kepala manusia, jalanan, dan kaki manusia. Itulah lambang bahwa seorang pemimpin dan pengikutnya bersama-sama menempuh sebuah jalan.''

Aku ingat ketika mempelajari aksara itu di Kuil Pengabdian Sejati. Cara perangkaian rambut di kepala pada unsur kedua, menunjukkan itu kepala seorang pemimpin, sedangkan unsur ketiga, lambang kaki manusia, maksudnya menunjukkan seorang pengikut. Setahuku, sebelum pemikiran Kong Fuzi dikenal di Negeri Atap Langit, dao merupakan lambang cita- cita manusia. Artinya kepercayaan diberikan kepada pemimpin yang bijak, karena dao adalah jalan menuju kebajikan.

Dalam Kitab Shujing disebutkan:

langit tidak dapat dipercaya Dao semata perluasan kebajikan Raja Agung

Ketika dao dimaksudkan sebagai Jalan, maka itu berarti cara melakukan sesuatu dalam tiga pengertian, apakah itu tata cara alam atau tata cara semesta yang mengungkap he atau keselarasan; apakah itu tata cara kehidupan manusia yang serasi dengan susunan alam, yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam; ataukah tata cara yang diikuti manusia karena keputusannya sendiri, bahwa meskipun dao berada dalam diri, haruslah tetap dicari dan dikejar, karena memang tidak semua orang akan menemukan dan menemukan dao, tanpa berjuang untuk mendapatkannya sendiri. Setiap aliran filsafat di Negeri Atap Langit memanfaatkan kata dao untuk menjelaskan tatacara pemikirannya.

Sambil berjalan mendaki, Jin-siyan meneruskan.

''Pemikiran Kong Fuzi maupun Kaum Dao, sebagai dua aliran filsafat besar, juga memanfaatkan kekuatan kata dao. Tata cara pemikiran Kong Fuzi menggunakan istilah dao dalam kerangka pikiran tentang kebaikan dan perangkat aturan tentang perilaku, bahwa cara hidup manusia harus sesuai dengan tatacara alam. Tapi jika dalam pemikiran Kong Fuzi penekanannya kepada manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, Kaum Dao menekankannya kepada manusia dalam hubungannya dengan alam itu sendiri. Nah, ketika Mahayana masuk ke sini tujuhratusan tahun lalu, katanya dao adalah jalan menuju Nirvana,'' ujarnya sambil tersenyum menatapku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan senyum yang manis sekali seperti itu. ''Bagaimana Mahayana diterapkan di Shin-li-fo-shih?'' tanyanya pula.

Aku harus maklum jika di antara puncak-puncak gunung batu seperti ini, orang tidak mengetahui perbedaan antara Srivijaya yang disebutnya Shin-li-fo-shih itu dengan Javadvipa, atau bahwa Sriv ijaya sebagai nama kadatuan memang terletak dalam wilayah Suvarnadvipa, yang bertumpang tindih dengan yang disebut sebagai Suvarnabhumi. Aku menjawab tanpa perlu menjelaskan bahwa pusat pemerintahan Shih-li-fo-shih terletak di Samudradvipa yang justru belum pernah kuinjak, sedangkan aku adalah rakyat Kerajaan Mataram yang dikuasai Wangsa Syailendra dan bertempat di Javadvipa yang juga disebut Yawabhumipala.

''Jika di Negeri Atap Langit sudah mengakar pemikiran Kong Fuzi maupun Kaum Dao ketika Mahayana tiba, di Javadvipa masuklah Hindu pemuja Siva, disebut Saiva, meski di Jambhudvipa juga berkembang Vaisnava, penyembah Visnu, dan juga Shakta, penyembah Shakti. Sebelum Saiva tiba, penduduk setempat sudah memiliki kepercayaannya sendiri pula. Jadi mungkin Buddha Mahayana juga akan diterapkan dengan perbedaan dari yang berlaku di Jambhudvipa.''

Jin-siyan mengangguk-angguk.

''Dao membedakan Mahayana di Negeri Atap Langit dengan Mahayana di Jambhudvipa, sampai Yang Mulia Xuanzang harus mengembara begitu jauhnya, mencari kitab-kitabnya yang asli ke Jambhudvipa.'' Bahkan adalah Fo-shih yang menjadi tempat belajar bahasa Sansekerta, terutama yang digunakan untuk membaca sutra Buddha, sebelum meneruskan pelayaran untuk belajar langsung di Na landa.

Kuperhatikan Jin-siyan, kepalanya mengenakan fu tou yang dimaksudkan sebagai perlengkapan busana pria. Di sebuah pemukiman yang rumah-rumahnya menempel di dinding curam seperti sarang burung walet, dengan tempat berpijak hanya setapak, diselang-seling susunan papan tergantung pula, memang tidaklah mungkin seorang perempuan berbusana seperti perempuan.

Matanya mengerjap, wajah manisnya tampak lucu di bawah fu tou. Tiada kukira dari pemilik wajah seperti itulah kudengar perbincangan tentang dao seperti terterapkan kepada pemikiran Kaum Dao, penganut Kong Fuzi, maupun Buddha Mahayana yang datang dari Jambhudvipa ke Negeri Atap Langit ini.

BAGAIMANA jika aku membagi atau menjual keterangan, dengan segala penjelasan tentang bagaimana tempat ini dapat diserang? Memang benar, keturunan para pemberontak di tempat tersembunyi seperti ini tidak lagi menyimpan impian, maupun kekuatan yang cukup untuk menggulingkan kekuasaaan. Namun memang bukan penggulingan kekuasaan yang ditakutkan, melainkan keterpeliharaan gagasan tentang kemerdekaan di dalam pikiran. Begitulah ketakutan bisa melahirkan kekejaman begitu rupa, karena bagi penguasa yang sangat terganggu oleh bayangan pemberontakan, gagasan di dalam pikiran hanya bisa dihapus dengan pemenggalan kepala!

Maka perburuan masih terus menerus dilangsungkan, sebagai kebiasaan yang dipelihara dari zaman ke zaman, yang membuat penduduk pemukiman pun memelihara kewaspadaan dan kesiagaan selama waktu yang sama, dengan suatu bayangan yang sama menakutkannya seperti  bayangan penguasa, bahwa suatu hari sejumlah besar pasukan mengepung dan menyerbu dalam suatu pembantaian besar-besaran. Aku menghela napas panjang. Alam begitu sunyi dan sepi, tetapi betapa maut selalu dirasakan sebagai ancaman.

Kulihat lelaki tua yang masih saja murung wajahnya menulis di atas lembaran yang disebut kertas menggunakan alat tulis yang dicelupkan ke dalam cairan bernama tinta. Sudah beberapa lembar kertas yang ditulisnya dan beberapa kali pula ia menghela napas panjang. Apakah kiranya yang dituliskannya itu? Di balai pertemuan tempat kami dipersilakan menginap, memang tersedia segala sesuatu yang bisa digunakan setiap warga pemukiman, termasuk altar untuk berdoa. Bagi lelaki tua tersebut disediakan sebuah bilik dengan alas tebal berisi kapas yang disebut kasur, lengkap dengan kain tebal sebagai selimutnya, mungkin mengingat usianya yang kuduga mencapai 70 tahun. Aku ditempatkan di luar bilik, tetapi di dalam balai pertemuan, tempat terdapatnya kisah-kisah tentang Wangsa Tang yang bisa dibaca.

Pagi ini aku sedang makan sayur asin dengan sumpit, ketika Jin-siyan, gadis pengawal itu muncul dari balik atap, melenting dan mendarat dengan ringan di hadapanku. Ia menjura sebelum bicara.

''Dengan hormat, guruku yang dikenal sebagai Angin Mendesau Berwajah Hijau meminta kedatangan Yang Tidak Bernama ke pondoknya, karena ada masalah penting yang akan disampaikannya.''

Masalah penting? Apakah yang bisa menjadi penting bagiku di tempat seperti ini?

Aku bermaksud menuang lagi teh dari teko ke cawan, tetapi Jin-siyan segera menyergah. ''Jika Angin Mendesau Berwajah Hijau memanggil, biasanya siapa pun tidak menundanya lagi. Di sana telah disediakan juga teh bagi Yang Tidak Bernama.''

Aku pun tidak menundanya lagi, meski rasanya masih terdapat makanan di mulutku. Kuikuti dia melenting dari atap ke atap, sementara kulihat pemandangan kehidupan sehari- hari berlangsung di bawah. Ibu-ibu tua dengan kayu bakar di punggung tampak begitu tenang melangkah di jalan setapak, yang ada kalanya miring letaknya, untuk menyambung ke jalan susunan papan yang tergantung dan bergoyang-goyang, anak-anak kecil bahkan berlarian tanpa takut dan tertawa- tawa meloncat menyeberang padahal di bawahnya jurang. Maka segera pula kumengerti, bahwa dengan kemampuan untuk hidup dalam lingkungan seperti ini, penyerbu mana pun seperti hanya akan menemukan kematiannya sendiri.

Jin-siyan menukik dan lenyap masuk ke dalam pondok. Aku pun menukik ke bawah mengikuti jejaknya, tetapi dengan segera terpaksa melenting ke atas, berputar jungkir balik dengan Jurus Naga Meringkuk di Dalam Telur, ketika mendadak saja berkelebat suatu bayangan dan desau angin panas nyaris melibasku di tengah udara berkabut, yang akan membuat tubuhku leleh jika tidak berhasil menghindarinya. Aku telah diserang Angin Mendesau Berwajah Hijau yang menggulungku bagaikan angin puting beliung menghancurkan kampung. Guru Jin-siyan ini tak bisa dilihat lagi, hanya angin panas melibas tanpa memberi ruang untuk bernapas.

Pernah kubaca dalam Kitab Perbendaharaan I lmu-ilmu Silat Ajaib dari Negeri Atap Langit bahwa angin panas ini sebetulnya datang jurus-jurus persilatan jua, yang karena cepatnya menjadi tiada terlihat, dengan kemampuan memisah-misahkan anggota badan, sehingga yang diserang pun binasa secara mengerikan. Barangkali itulah yang membuatnya dikenal sebagai Angin Mendesau Berwajah Hijau, yang tentu maksudnya adalah wajah iblis. Betapa tidak akan disebut iblis jika jurus angin panasnya memisah-misahkan anggota badan!

SEMBARI terus berkelebat menghindar, aku berjuang mengatasi keherananku bahwa guru Jin-siyan itu telah menyerangku dengan jurus-jurus yang sangat mematikan. Tidakkah aku telah mendapat segala kunci rahasia, agar tidak tersesat dan dapat mencapai Kampung Jembatan Gantung, adalah karena kepercayaan Serigala Hitam dan Serigala Merah juga? Bersama kedua orang itu, tanpa kuminta kami bahkan telah saling mengangkat saudara, yang maknanya sering dianggap lebih dalam daripada hubungan saudara sedarah yang ditentukan oleh nasib.

Kemudian sempat kulirik, bahwa Serigala Hitam dan Serigala Merah ternyata sudah ada di s ini pula, sesuai dengan rencana bahwa mereka langsung kembali dari seberang celah, membawa rombongan yang memintanya memandu perjalanan mereka menyeberangi celah ma lam itu juga. Rupanya tugas itu sudah dise lesaikannya dan kini mereka telah tiba di sini. Apa yang telah terjadi? Namun bagaimana mungkin berpikir lebih jauh sambil menghadapi serangan maut seperti ini, apalagi jika tiada penanda apapun yang kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan atas terjadinya serangan ini?

Serangan bergulung seperti angin puting beliung. Mereka yang tidak berdaya menghadapinya memang segera merasa harinya akan berakhir, karena gelombang angin panas yang membuat udara bagaikan mendidih akan membuat lawannya putus asa. Aku masih mendekap kedua lututku, berputar-putar dan meliak-liuk dalam Jurus Naga Meringkuk di Dalam Telur, yang harus segera kuganti, karena jika jurus ini memang mampu menghindarkan serangan, belumlah mengatasi angin panas yang dapat membuat udara mematangkan telur. Artinya aku bisa mengalami kematian dalam keadaan matang terpanggang... Aku tidak ingin terlalu lama melayani Angin Mendesau Berwajah Hijau yang serangannya mengerikan seperti itu. Bahkan aku tidak tertarik mengeluarkan Jurus Bayangan Cermin untuk menyerap ilmu silatnya agar dapat kukembalikan lagi kepadanya, sebagai jurus baru yang tidak terduga, karena meskipun kehidupan di pemukinan ini tampak menyenangkan tetapi pikiranku tertuju kepada Harimau Perang. Aku ingin segera berangkat dan tidak menambah persoalan, apalagi dengan terjadinya serangan tanpa penjelasan seperti ini. Namun aku juga tidak ingin mempermalukan Angin Mendesau Berwajah Hijau yang kuduga tentunya merupakan guru besar di pemukiman keturunan pemberontak ini, yang berarti juga merupakan guru Serigala Hitam dan Serigala Merah. Keputusan ini kuambil karena kusaksikan sekilas wajah Serigala Hitam dan Serigala Merah yang tampak sangat khawatir, tetapi bukan atas nasib gurunya, melainkan nasibku!

Pertarungan di udara tanpa sentuhan ini berlangsung cepat sekali, begitu cepatnya sehingga tidak dapat diikuti siapapun yang ilmunya masih berada pada tingkat awam. Angin panas masih bergulung dengan ganas dan panas, tetapi kugunakan Jurus Tarian Naga Salju yang membuat setiap gerakanku, menyerang atau tidak menyerang, menghindar atau tidak menghindar, mendesaukan pula angin, tetapi yang begitu dingin membekukan segala zat cair. Di puncak gunung batu ini, udara dingin tentulah bukan masalah, tetapi angin yang terbentuk dari gerakan jurus ini bahkan Jin-siyan, Serigala Hitam, dan Serigala Merah yang menyaksikan dari jarak tertentu pun tampak mendekapkan tangan kedinginan sekali. Memang kusalurkan tenaga dalam hasil latihan sepuluh tahun di dalam gua untuk membekukan segenap uap air di udara melalui pori-poriku, yang tersalur melalui udara dalam kibasan Jurus Tarian Naga Salju.

Jurus ini sebetulnya indah sekali, seperti rangkaian gerak yang bukan hanya dibuat untuk ditarikan, tetapi bahkan juga tidak untuk menangkis maupun menyerang. Maka bagi mereka yang mampu menguraikan kelebat bayangan dan angin berdesauan ini akan melihat diriku bagaikan menari sendiri pelahan sekali, tetapi yang dalam segala kepelahanannya tiada tersentuh segenap serangan Angin Mendesau Berwajah Hijau sama sekali. Namun yang sebenarnya terjadi adalah begitu cepatnya gerakanku, sehingga akulah yang melihat Angin Mendesau Berwajah Hijau bergerak amat sangat lamban dan setiap pukulannya menimpa tempat kosong.

Dengan maksud agar daya pendinginan yang keluar dari pori-poriku membekukan sebanyak mungkin udara, maka jurus ini akan selalu berusaha mengitari dan melingkari lawan ke mana pun ia berkelebat pergi. Maka karena sebelumnya aku menggunakan Jurus Naga Mendekam di Dalam Telur yang membuat tubuhku berputar-putar, aku tinggal meneruskannya berputar-putar melingkar agar dapat mengepung Angin Mendesau Berwajah Hijau dengan hawa dingin, dengan membuka kedua tangan yang memeluk kedua tekukan lutut dan mulai memainkan Jurus Tarian Naga Salju.

Dari saat ke saat, setiap kibasan tangan dalam jurus ini membuat udara setingkat bertambah dingin. Pada saat uap air menjadi beku dengan seketika karena ketinggian dayanya, saat itulah jurus ini menjadi berbahaya sekali.

SAAT itu Jurus Tarian Naga Salju akan menjadi terlalu mengasyikkan, sementara daya pendinginannya tanpa hentinya meningkat untuk membekukan lawan. Demikianlah Sepasang Naga dari Celah Kledung yang mengasuhku pernah bercerita, bahwa...

"...ketika tarian selesa i, lawanmu sudah menjadi patung."

Maka aku pun berhenti sampai di sini. Melenting dan berputar balik tujuh kali untuk keluar dari gelanggang dan hinggap di atap sebuah rumah. Di sanalah aku berkata sambil menjura. "Maafkanlah jika ternyata tanpa sahaya sengaja, telah sahaya lakukan kesalahan yang membuat sahaya tidak diterima. Baiklah sahaya meminta maaf sekali lagi, dan terimakasih banyak atas segala keramahan dan pelajaran yang telah sahaya dapatkan pula hari ini. Bersama ini pula sahaya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan, dengan rendah hati pengembara yang bahkan tiada memiliki nama ini masih harus melaksanakan tugas yang belum diselesaikannya..."

Aku memperlihatkan sikap seperti akan me lesat pergi, ketika kusaksikan Serigala Hitam dan Serigala Merah berlutut dan mengetuk-ngetukkan dahi mereka ke lantai papan di teras rumah sampai tiga kali sambil berujar, kalimat dari yang satu dise ling kalimat dari yang lainnya.

"Maafkanlah kami Tuan Pendekar! Maafkanlah! Guru kami hanya ingin sekadar berkenalan dengan caranya sendiri! Maafkanlah! Mohon sudilah mendengar dan memenuhi permintaan kami! Maafkanlah!"

Kulihat Angin Mendesau Berwajah Hijau masih mengerahkan tenaga dalamnya untuk memecahkan es yang menyelimuti tubuhnya. Aku terkejut melihat akibat Jurus Tarian Naga Salju yang tidak terduga. Busana yang dikenakannya menjadi kaku karena mengandung uap air membeku.

Krrrkkk...

Terdengar bunyi lapisan es merekah karena arus tenaga panas yang memecahkannya. Angin Mendesau Berwajah Hijau tidak menjadi patung, karena aku menyadarkan diriku sendiri agar tidak terlalu tenggelam dalam pembayangan naga menari di padang salju, yang dunia putih memutihnya, bagaikan tiada lagi yang lebih putih, berdaya menghentikan aliran darah dan membekukannya. Namun tetap busananya membeku, seperti busana sebuah patung, yang jika tidak dipecahkannya dengan irisan daya panas yang dikuasa inya, akan benar-benar membuatnya menjadi patung. Aku memang tidak mengerti adat orang Kampung Jembatan Gantung ini, seandainya adat keturunan pemberontak dengan segala masalahnya memang harus dibedakan dari mereka yang kedudukannya berbeda. Jadi aku pun ingin tahu, jika upacara angkat saudara itu ada artinya, mengapa Angin Mendesau Berwajah Hijau menyerangku dengan jurus mematikan begitu rupa, dan mengapa pula jurus mematikan seperti itu diterapkan untuk menyerangku, jika tidak bermaksud membunuhku?

Betapapun Angin Mendesau Berwajah Hijau tidak berlutut seperti Serigala Hitam dan Serigala Merah, tetapi ia balas menjura, mengatupkan tangan satu ke tangan lainnya.

"Ia yang mengaku tidak bernama adalah seorang pendekar besar," katanya, "sudilah kiranya minum teh sekadarnya di pondok seorang guru tua yang mengajarkan ilmu beladiri dengan sekadarnya."

Di atas atap itu diriku kembali menjura, dengan bahasa Negeri Atap Langit yang terpatah-patah aku berusaha berbasa-basi sebaik-baiknya.

"Tiadalah yang lebih terhormat bagi seorang pengembara selain tawaran untuk s inggah dari seseorang tidak dikenalnya, tetapi kali ini yang mengundangnya adalah guru saudara- saudaranya sendiri pula," jawabku, "maka pengelana lata ini membayangkan betapa puja-puji berlebihan tiada lagi diperlukan, agar terbukalah kiranya segala sekat yang menghambat persaudaraan."

Setelah mengucapkan kalimat seperti itu aku me layang turun, menuju ke tempat Serigala Hitam dan Serigala Merah telah mengetuk-ngetukkan dahinya seperti itu. Meskipun barangkali sesuai adatnya mereka melakukannya dengan tulus, aku tidak dapat menerimanya sebagai saudara yang kedudukannya seharusnyalah setara. Mungkin mereka melakukannya karena alasan yang terlalu sederhana, yakni bahwa ilmu silatku yang betapapun hanya secara terbatas dapat mereka saksikan, dianggap mengungguli ilmu silat gurunya; atau betapa mereka khawatir, setelah mereka takutkan diriku akan terbunuh, kemudian bahwa aku akan membunuh gurunya. Namun aku baru akan mengetahuinya nanti, bahwa ternyata terdapat penyebab lainnya lagi.

KURANGKUL bahu keduanya, dan aku pun berkata. ''Janganlah pernah lagi memanggil diriku Tuan, apalagi

Tuan Pendekar, wahai Kakak Serigala Hitam dan Kakak

Serigala Merah. Daku hanya seorang pengembara yang telah dikau angkat sebagai saudara, anggaplah diriku sebagai saudara muda kalian, dan panggillah Adik. Iz inkan pula daku memanggil kalian berdua sebagai Kakak seperti sekarang. Daku telah mendapatkan sesuatu semenjak kita bersua, dan diriku sama sekali tidak ingin menghilangkannya, karena bagiku persaudaraan kita adalah sesuatu yang luar biasa.''

Mereka berdua merangkulku pula. Pipi kami basah oleh airmata.

(Oo-dwkz-oO)

DI dalam pondok Angin Mendesau Berwajah Hijau, terdapat dua lian atau kertas bertulisan di kiri dan kanan meja abu. Pedang Mengambang dalam Kabut adalah bunyi lian pertama, sedangkan Dasar Laut Merah Membara adalah bunyi lian kedua. Meskipun lian biasanya mudah dimengerti, kali ini kurasakan sebagai teka-teki. Namun aku tidak berusaha menduga apa maksudnya, karena Angin Mendesau Berwajah Hijau telah mulai berbicara dengan wajah sungguh-sungguh.

''Pendekar Tanpa Nama,'' ujarnya, tanpa menyadari aku memang biasa dipanggil seperti itu dalam bahasa manapun, ''dikau tentu telah mengenal Jin-siyan, dan demi kepentingannyalah sebenarnya, maka aku pun telah menyerang dirimu.''

Aku terkejut dan melirik Jin-siyan yang matanya mengerjap-ngerjap, sebentar melihat ke bawah dan sebentar mencuri pandang. Untuk sejenak aku seperti tidak melihat kematangannya, bagaikan kanak-kanak yang belum mampu menentukan nasibnya sendiri. Untuk sekejap pula bagaikan kulihat Amrita berkelebat. Membuat dadaku berdesir dan tanpa kuketahui sebabnya udara dingin bagaikan hilang lenyap takterasa. Mendadak bajuku serasa terlalu tebal untukku. Aku menjadi gelisah ingin segera pergi. Apakah kiranya yang akan disampaikan Angin Mendesau Berwajah Hijau ini?

''Jin-siyan adalah seorang gadis yang tidak lagi mempunyai ayah dan ibu,'' kisah orang tua itu mengawali ceritanya.

Kisah Jin-siyan ternyata berhubungan dengan Pemberontakan An Lushan yang sempat menguasai Kotaraja Chang'an. Supaya tidak usah mengulangi riwayatnya dengan berpanjang lebar, hanya akan kuceritakan kembali bagian yang berhubungan dengan urusan Jin-siyan ini.

Terusan Tongguan merupakan gerbang menuju Kotaraja Chang'an, suatu terusan sempit melalui wilayah tertutup, yang dipertahankan oleh pasukan besar di bawah pimpinan panglima Geshu Han yang sangat dipercaya oleh Maharaja Xuanzong. Panglima pasukan pemberontak, Cui Q ianyou, sudah selama enam bulan berturut-turut berusaha menembus terusan itu tanpa hasil. Setiap malam mereka yang mempertahankan terusan ini akan menyalakan api pada menara, sebagai tanda bahwa segalanya aman. Tanda keamanan ini akan diulang dan diteruskan dari menara satu ke menara lain, yang memang disebut menara api, sampai ke Kotaraja Chang'an, supaya wargakota merasa tenang.

Sementara pasukan pemberontak terhenti di Terusan Tongguan, pihak Wangsa Tang dilanda perpecahan. Ketika Geshu Han menganjurkan agar Terusan Tongguan dipertahankan dengan ketat oleh pasukan yang kuat; panglima wilayah Shuofang, Guo Ziy i, dan panglima wilayah Hedong, menulis surat kepada Maharaja dari medan pertempuran, meminta izin untuk membawa pasukannya ke utara menyerang Fanyang, kubu yang menjadi pusat kendali An Lushan, serta menganjurkan agar pasukan di Terusan Tongguan menyerang pasukan musuh di luar terusan.

Namun Perdana Menteri Yang Ghuozong menentang rencana ini. Banyak orang berkata kepada Yang Ghuozong, ''Geshu Han sekarang menguasai sebagian besar pasukan kerajaan. Jika dia kembali ke Changian setelah mengalahkan pasukan musuh, jabatan dikau akan berada dalam bahaya.'' Menyadari dirinya sebagai perdana menteri yang paling tidak disukai, Yang Guozhong sangat memperhatikan peringatan ini. Ia berkata kepada maharaja bahwa para pemberontak di luar Terusan Tongguan sudah semakin melemah, dan jika Geshu Han masih terus bertahan untuk tidak menyerang, kesempatan untuk menghancurkan pemberontakan akan hilang. Maharaja Xuanzong mempercayai alasan ini, dan mengirim utusan demi utusan ke Tongguan memerintahkan Geshu Han untuk menyerang musuh.

MESKIPUN waspada bahwa tindakan seperti itu akan berakibat buruk, Geshu Han tidak dapat sepenuhnya mengabaikan perintah maharaja. Dengan teriakan keras, ia memberi aba-aba agar pasukannya keluar dari terusan.

"Sementara itu, pasukan pemberontak yang dipimpin panglima Cui Qianyou telah beristirahat dengan sangat cukup. Inilah saat yang telah mereka tunggu. Ketika pasukan Wangsa Tang yang berkekuatan 200.000 orang di bawah pimpinan Geshu Han menyerang keluar terusan sempit itu, mereka disergap pasukan pilihan yang ditempatkan Cui Qianyou di dekat Lingbao. Pasukan Wangsa Tang berhasil dihancurkan. Hanya 80.000 orang di antara mereka yang selamat.

"Sebelum Geshu Han mendapat peluang menyusun kekuatannya kembali, para perwira bawahannya memberontak. Sebagai akibat, para pemberontak yang menang dalam pertempuran segera dapat menguasai Terusan Tongguan dan menawan Geshu Han. Dengan jatuhnya Tongguan ke tangan musuh, tidak terdapat batas pertahanan alam sepanjang jalan ke Chang'an. Segenap pejabat wilayah setempat dan pasukan sepanjang jalan ke Chang'an lari lintang pukang meninggalkan kubunya.

"Semula utusan yang dikirim Geshu Han ke Chang'an untuk meminta bantuan pasukan masih tiba, tetapi kemudian lantas tidak muncul lagi. Pada malam hari, tanda-tanda api dari menara pun tidak terlihat lagi. Maharaja Xuanzong akhirnya menyadari kegawatan dan kegentingan keadaan ini. Dengan panik ia meminta nasihat Yang Guozhong, yang segera mengadakan pertemuan dengan para perwira maupun para petinggi, tetapi mereka semua tidak bisa menemukan jalan keluar, tiada sanggup mendapatkan gagasan bagus untuk membalikkan keadaan. Mengetahui bahwa t inggal di Chang'an bukan lagi merupakan pilihan, Yang Guozhong menganjurkan Maharaja Xuanzong agar mundur ke wilayah Shu.

"Malam itu juga, dalam pengawalan Panglima Chen Xuanli dan pengawal istana, Maharaja Xuanzong dan Yang Guozhong, diikuti oleh Yang Guifei, beserta anak-anak dan cucu-cucu keluarga bangsawan, menyelinap keluar dari halaman tertutup istana dan meninggalkan Chang'an. Mereka mengirim dahulu orang-orang kebiri, yang ditugaskan mempersiapkan segala upacara yang patut bagi rombongan kerajaan oleh para pejabat daerah.

"Tanpa pernah tersangka, ketika rombongan mencapai Xianyang, mereka temukan bahwa kelompok yang mendahului, yaitu kelompok orang-orang kebiri, maupun para pejabat daerah telah lenyap bagaikan ditelan bum i. Rombongan melakukan perjalanan dengan jarak yang sangat jauh, tanpa seorang pun menyediakan makanan kepada mereka. Dengan usaha keras, orang kebiri yang masih tersisa dalam rombongan akhirnya berjumpa dengan penduduk setempat, dan meminta makanan kepada mereka. "Mereka menghasilkan sejumlah kecil roti kasar yang terbuat dari gandum. Sesuatu yang para bangsawan istana belum pernah memakannya sama sekali, tetapi para bangsawan yang lapar dengan terpaksa melahapnya juga, memegang makanan dengan tangan, mengabaikan sumpit, mangkok, apalagi upacara.

"Dengan susah payah Maharaja Xuanzong menelan beberapa potong roti kasar itu, air mata mengalir di pipinya. Seorang tua menyelip di antara orang banyak dan mendekati kereta maharaja. Ia berkata kepada maharaja, eAn Lushan telah merencanakan pemberontakannya lama sekali. Banyak yang melaporkan niat jahatnya dibunuh sebagai balasan. Yang Mulia dikelilingi menteri-menteri dan penasehat yang pekerjaannya sangat bagus dalam menyanjung dan membudak, tetapi menyekat Sang Maharaja dari apa yang terjadi di se luruh negeri. Kami rakyat biasa telah mengetahui bahwa hari semacam ini akan terjadi, tetapi istana begitu sulit dimasuki, sehingga adalah tidak mungkin membagi pengetahuan kami dengan Yang Mulia. Betapa menyedihkan bahwa perlu bencana seperti ini agar kami bisa menyampaikan pandangan kami ke hadapan Yang Mulia.

"Maharaja Xuanzong menjawab dengan sedih, 'Daku telah berlaku seperti seorang dungu, tetapi sudah terlambat.'

''PADA hari ketiga pelarian ini berhenti untuk istirahat. Rombongan tiba di sebuah gardu penjagaan di Mawei. Pasukan yang mengawal para pengungsi istana ini dirundung kelaparan dan kehausan, dan dirasakan semakin berat oleh pikiran telah dipaksa meninggalkan kenyamanan Chang'an, untuk mengembara di jalanan selamanya dengan penuh susah payah. Mereka menyalahkan semua ini kepada Yang Guozhong, dan mereka berniat membikin perhitungan dengannya.

''Setidak-tidaknya dua puluh prajurit yang diperbantukan Suku Tubo melingkari Yang Guozhong yang berada di atas kuda, meminta makanan darinya. Sebelum ia sempat menanggapi, orang-orang di luar suku itu mulai berteriak, 'Yang Guozhong mau berontak!' Lantas mereka membentangkan tali busur, siap melepaskan anak panahnya.

''Yang Guozhong menjadi panik dan lari, tetapi yang arahnya telah didahului oleh sejumlah prajurit, dan mereka inilah yang memenggal kepalanya.

''Setelah membantai Yang Ghuozong, para prajurit, masih dalam suasana hati yang terganggu, mengelilingi gardu tempat Maharaja Xuanzong telah diinapkan. Mendengar keributan di luar, maharaja bertanya apa yang telah terjadi. Orang-orang kebiri yang masih berada bersamanya mengatakan bahwa anggota pasukan telah membunuh Yang Ghuozong. Maharaja yang tampak jelas menjadi gemetar itu, menahan tubuhnya dengan tongkat, keluar dari gardu untuk meyakinkan para prajurit dan mereka kembali ke perkemahan mereka dan beristirahat.

''Para prajurit tidaklah menjadi tenang dan masih terus berteriak-teriak. Maharaja Xuanzong mengirimkan Gao Lishin untuk menjemput Chen Xuanli dan bertanya kepadanya mengapa para prajurit tidak bersedia membubarkan diri. Chen Xuanli menjawab, 'Mereka percaya bahwa karena Yang Guozhong mencoba untuk berontak, maka Yang Diperselir Guife i tidak dapat dibiarkan hidup.''

''Maharaja Xuanzong berada dalam kebingungan. Ia tentu tidak tega untuk membunuh selir kesayangannya. Setelah lama terdiam untuk berpikir, ia mengangkat kepalanya dan berkata, 'Bagaimana mungkin Puan Guife i yang berada di kamarnya dapat mengetahui pemberontakan Yang Guozhong?''

''Waspada bahwa para prajurit akan menjadi tenang hanya dengan kematian Yang Guifei, Gao Lishi berkatas, 'Puan Guifei tidak bersa lah, tetapi pasukan yang telah membunuh Yang Guozhong, dengan ketakutan mereka atas pembalasan dendam, tidak akan hilang kecemasannya jika Puan Guife i tetap diiz inkan hidup. Yang Mulia harus menimbang masalahnya dengan hati-hati. Pada akhirnya, keselamatan Yang Mulia tergantung dari kesetiaan pasukannya.

''Demi menyelamatkan lehernya sendiri, Maharaja Xuanzong, berkeras hati bagi keputusan yang sulit, memerintahkan Gao Lishi untuk memisahkan Yang Guife i dan membawanya ke tempat yang tidak terlihat. Di sana, Gao Lishi mencekiknya. Setelah diberitahu mengenai pelaksanaan hukuman mati Yang Guife i, se luruh pasukan kembali ke perkemahan, dan akhirnya juga merasa maharaja berpihak kepada mereka.

''Akibat dari pemberontakan ini, Maharaja Xuanzong merasa bimbang, 'bagaikan burung yang baru saja luput serambut dari sambaran panah', dengan tergesa-gesa pergi ke Chengdu. Putera Mahkota Li Heng dim inta oleh penduduk Mawei untuk tinggal dan menjadi penguasa mereka. Maka ia pun mengumpulkan orang-orang terlantar tanpa pekerjaan maupun sisa pasukan dalam perjalanannya ke utara dari Mawei, dan naik takhta di Lingwu dengan gelar Maharaja Suzong.''

SAMPAI di sini, tanpa kusadari ternyata aku telah selalu membandingkannya dengan cerita bapak kedai dahulu tentang Gao Lishi. Jadi rupanya peristiwa yang sama menjadi tidak terlalu sama, ketika diceritakan dengan sudut pandang berbeda, meskipun tidak ada sesuatu yang diubah. Bapak kedai menceritakan peristiwa yang sama, berdasarkan kebutuhan untuk bercerita tentang riwayat orang-orang kebiri, sedangkan Angin Mendesau Berwajah Hijau menceritakan peristiwa itu karena berhubungan dengan urusan Jin-siyan.

Bagaimana peristiwa yang berlangsung tahun 756 itu, jadi sekitar 41 tahun yang lalu, bisa berhubungan dengan Jin- siyan, belumlah kuketahui. Namun sudah kuketahui betapa sebagai orang asing diriku harus belajar mengenal cara penyebutan yang berbeda terhadap nama yang sama. Sekadar mengingatnya, Terusan Tong sama dengan Terusan Tongguan, Yang Yuhuan adalah juga Yang Guifei, dan ada beberapa rincian bapak kedai yang tidak terlalu rinci dalam kisah Angin Mendesau Berwajah Hijau. 

Terbunuhnya Yang Guife i oleh keputusan Maharaja Xuan, meski dianggap sebagai hukuman bagi pasangan penguasa yang suka bermewah-mewah tanpa peduli rakyat, sebagai nasib sepasang kekasih dianggap sangat menyedihkan. Tidak kurang dari penyair Bo Juyi menggubah puisi panjang yang berjudul ''Nyanyian Kesedihan Tanpa Akhir'' yang juga sangat dikenal orang banyak. Aku pernah membacanya di Kuil Pengabdian Sejati, tetapi saat itu belum mampu kuhayati betapa menyedihkannya nasib sepasang kekasih yang seperti itu, karena penguasaan bahasaku yang masih sangat miskin. Namun melalui penceritaan Angin Mendesau Berwajah Hijau yang sudah jelas bukan seorang penyair ataupun sastrawan, agaknya caranya bercerita lebih sesuai dengan daya tangkapku daripada puisi Bo Juyi yang membutuhkan lebih banyak pengetahuan dan pengalaman untuk memahaminya.

Yang Guefei dicekik Gao Lishi, dan mayatnya bahkan diperlihatkan, agar para prajurit terbebas dari perasaan akan dihukum berat karena membunuh Yang Ghuozong.

''Saat itu,'' kata Angin Mendesau Berwajah Hijau, ''sebetulnya Yang Guife i masih hidup!''

(Oo-dwkz-oO)