Nagabumi Eps 177: Permukiman di Dinding Tebing

Eps 177: Permukiman di Dinding Tebing

ANGIN dingin bertiup di antara kilauan matahari pagi. Serigala Hitam tampak sudah gelisah ketika kami mendarat di tempat perhentian itu. Sudah banyak orang berkumpul di situ yang akan dikawal Serigala Hitam dan Serigala Merah menyeberangi Celah Dinding Berlian. Sekitar dua puluh orang berada di sana, sebagian besar dari berbagai permukiman. Sejumlah pemuda, orang-orang tua, perempuan yang membawa anak, dan juga pedagang dari kota dengan pembawa beban mereka. Bahkan hanya mereka ini yang berkuda. Sisanya berjalan kaki saja, karena memang hanya berniat menyeberang ke permukiman tetangga, yang meskipun merupakan permukiman terdekat, tetap cukup jauh juga jaraknya.

Memang bagi penduduk yang permukimannya serbatersembunyi di balik jurang dan kabut, pengawalan bukanlah sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menyeberangi Celah Dinding Berlian, tetapi mereka tidak keberatan pula berjalan bersama rombongan dan membayar para pengawal sekadarnya. Betapapun terdapatnya sejumlah orang yang memasuki celah untuk tidak pernah muncul kembali, atau muncul kembali di seberang dengan jiwa terguncang bukanlah cerita kosong.

Serigala Hitam menatap lelaki tua yang kami bawa itu dengan curiga. Namun Serigala Merah segera mendekatinya dan berbisik-bisik dengan cepat. Kuajak lelaki tua itu menuju dekat api yang masih menyala. Kutuangkan baginya teh panas dari dalam ceret ke cawan yang kuberikan. Lantas kutinggalkan di sana agar lebih tenang baginya menghangatkan diri. Kukira ia pun harus mengambil keputusan atas persoalan yang sedang melibatnya itu. Apakah ia bermaksud meneruskan perjalanan, atau apa pun yang akan dilakukannya setelah ini. Termasuk menceritakan rahasianya, yang meskipun membuat aku merasa penasaran, memang sama sekali tidak wajib dibukanya kepada kami.

Semua orang memperhatikan lelaki tua berbusana pejabat istana, yang duduk di atas batu sambil menghirup teh dari cawan yang dipegang dengan kedua tangannya itu, dan juga melihat tanpa berkedip kepadaku, yang meski berbusana seperti orang Viet, jelas belum pernah mereka ketahui kebangsaannya itu.

Aku berjalan mendekati kedua pengawal perjalanan tersebut. Serigala Hitam segera menyambut dan memelukku.

''Tidak kusangka perjumpaan kita berlanjut sampai sedalam ini sobat. Serigala Merah te lah menceritakan bagaimana dikau telah membantunya. Terima kasih sobat!''

Aku tidak bisa menjawab, karena sesungguhnyalah aku mengalami suatu perasaan haru yang telah dimulai sejak kali pertama bersua dengan kedua orang itu. Bagi orang yang melakukan perjalanan sendirian, jauh dari Tanah Air seperti diriku ini, sikap bersahabat sangatlah besar maknanya. Aku pun mundur dan menjura.

''Kalian bersikap sangat baik kepadaku Tuan-tuan, apa pun yang telah kulakukan belumlah sepadan sebagai balasan.''

Mereka berdua tertawa dan menepuk-nepuk bahuku dengan keras.

''Sudahlah sobat! Jangan panggil kami Tuan!'' Serigala Merah menyergah. ''Ya, kita orang-orang yang hidup di gunung tidak pandai berbasa-basi! Serigala Merah memberi tahuku tentang ilmu silatmu yang setinggi langit,'' ujar Serigala Hitam, ''meski tidak bernama, kehadiranmu sangat besar artinya.''

Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Kukira ini bukan sekadar karena perasaanku yang tertekan setelah melakukan perjalanan semalam dalam kegelapan dan kesempitan celah, melainkan karena ketulusan mereka yang tidak memiliki kepentingan itu. Mereka hanya melihat diriku sebagai seorang pengembara yang berjalan sendiri saja, dan bagi mereka itu berarti keterpisahan diriku dari segala sesuatu yang diakrabi manusia, seperti rumah, keluarga, dan alam lingkungan. Tentu mereka berdua tidak mengetahui, betapa kesendirian dan keterpisahan telah menjadi bagian hidupku yang tidak bisa kuhindari, tetapi itu tidak mengurangi penghargaanku atas sikap mereka terhadapku sama sekali.

BEGITULAH di antara kami seolah tiada jarak lagi. Serigala Hitam mengatakan bahwa bersama Serigala Merah keduanya sudah terikat janji untuk segera berangkat mengawal kedua puluh orang ini, karena di seberang celah pun sudah ada sejumlah orang menanti di salah satu permukiman untuk menyeberang kembali kemari. Bahkan mereka harus sudah berada di sini besok pagi. Itu berarti mereka harus berangkat sekarang mengantar rombongan agar tiba sebelum malam, dan segera berangkat lagi setelah beristirahat sebentar untuk melakukan perjalanan malam seperti yang kulakukan.

"Artinya kami serahkan pengurusan lelaki tua yang bisu itu kepada dikau, sobat."

Aku tidak bisa menolak perm intaan kedua sahabat baru itu. Jika lelaki tua tersebut memutuskan tetap meneruskan perjalanan, maka ia akan mendapat seekor kuda yang biasanya dise wakan untuk orang-orang tua yang uzur atau perempuan hamil, dan sekarang sedang tidak digunakan. Jika ia bermaksud tetap tinggal untuk sementara, untuk mendapatkan ketenangan dan kemantapan sebelum meneruskan perjalanan, maka aku diminta untuk mengantarkannya ke Kampung Jembatan Gantung, tempat permukiman Serigala Hitam dan Serigala Merah yang kiranya hanya bisa kucapai setelah mereka berdua memberitahuku berbagai penanda jalan rahasia.

Dentang-dentang petualangan kembali bergema di dalam dadaku, tetapi kuingatkan kembali diriku bahwa aku sedang bertugas memburu Harimau Perang. Kukira aku pun tidak perlu merahasiakannya kepada mereka berdua.

"Sebenarnya diriku sedang menyusul seseorang bercaping lebar dan berambut panjang yang kemungkinan besar bernama Harimau Perang. Apakah sobat-sobatku Serigala Hitam dan Serigala Merah melihatnya ketika keluar dari celah semalam?"

Mereka saling berpandangan penuh arti.

"Ya, kami melihatnya ketika keluar dari celah menunggang kuda Uighur yang bagus itu. Ia meneruskan perjalanannya setelah mengawasi kami yang berpura-pura tidur, padahal kami sebetulnya baru datang dan menunggu rombongan karena biasanya mereka sudah siap sejak pagi buta. Serigala Hitam lantas berkelebat mengikutinya dan tahu jalan mana yang diambilnya," ujar Serigala Merah.

"Ya, jangan khawatir, jalan itu menuju ke Perguruan Shaolin dan bisa dicapai dari kampung kami. Jalan itu tidak bercabang ke mana pun sebelum arah tersebut, jadi sobatku akan dapat menyusulnya karena Perguruan Shaolin itu masih cukup jauh. Dengan melalui kampung kami yang tersembunyi, sobatku yang tidak bernama juga telah menyingkat jalan, karena jalan yang akan ditempuh penunggang kuda Uighur itu dalam lima hari, akan ditempuh oleh sobatku dalam tiga hari," timpal Serigala Hitam pula. Berita ini sangat menggembirakan, begitu rupa sehingga seolah-olah akulah yang lebih bersemangat mengajak lelaki tua tersebut ke pemikiman tersembunyi yang disebut Kampung Jembatan Gantung itu.

Namun ketika kami bermaksud membicarakan hal itu dengan lelaki tua yang baru saja terhindar dari kematian tersebut, kami melihat ia sedang dikerumuni rombongan. Pedagang yang datang dari kota itu menunjuk-nunjuknya.

"Kamu! Ya, kamulah orangnya! Aku tidak bisa melupakan wajahmu yang seperti seekor unta itu!"

Ia menunjuk lelaki tua yang masih menyeruput teh panas dari cawan itu. Pedagang tersebut maju dan seperti siap menendang, yang jelas sekali tidak merupakan jurus ilmu silat. Namun sebelum tendangan itu mengenai lelaki tua tersebut, pedagang itu sendiri yang mendadak terpental beberapa depa. Serigala Hitam sudah berada di sana.

"Kata siapa tiada peradaban di pelosok ini," ujarnya geram, "siapa yang bermaksud menghakimi tanpa pengadilan boleh menghadapi Serigala Hitam!"

Pedagang itu, seorang lelaki berusia sekitar 35 tahun, bangkit berdiri sambil membersihkan basah embun dari rerumputan pada bajunya. Ia menggerutu sendiri, tetapi jelas agar setiap orang mendengarnya.

"Kalau ada pengadilan di sini, tentu aku menuntutnya, sayang sekali kita berada di tengah hutan ," ujarnya.

Lantas Serigala Hitam pun berkata.

"Bagi siapa pun yang mengajukan tuntutan, ia harus mengajukannya di wilayah hukum tempat perkaranya berlangsung. Kita berada di daerah tak bertuan sekarang, jadi siapa pun yang membuat perkara di sini akan berhadapan denganku!" Semua orang terdiam. Bahkan bayi yang semula menangis pun terdiam.

"Semuanya bersiaplah," katanya lagi, "kita harus segera berangkat karena ada rombongan lain menanti di seberang sana."

SETIAP orang pun berbenah. Pada dasarnya semua orang memang siap berangkat. Di antara mereka ada yang sudah menunggu sampai lima belas hari di permukiman terdekat, karena Serigala Hitam dan Serigala Merah tidak akan bersedia mengawal jika rombongan belum mencapai dua puluh orang; kecuali jika bayaran yang mereka terima seharga bayaran untuk mengawal dua puluh orang. Mereka yang akan menyeberangi celah dan tinggal di permukiman yang tidak terlalu jauh dari Kampung Jembatan Gantung akan mendaftarkan diri dan menunggu, tetapi yang tinggal di balik gunung m isalnya, apalagi dari kota, terpaksa menginap sambil menunggu jumlahnya mencapai dua puluh orang.

Tidak berarti mereka berdua gila uang, karena pernah melesat untuk menjemput tabib di seberang celah, ketika seorang ibu bermasalah ketika melahirkan, dan semua itu dilakukan tanpa bayaran.

Kepada orang tua tersebut, Serigala Hitam dan Serigala Merah menyampaikan, jika ia belum bermaksud meneruskan perjalanan, akulah yang akan mengantarnya ke Kampung Jembatan Gantung. Ia dipersilakan tinggal berapa lama pun selama masih membutuhkannya.

"Kami menolong orang tidak tanggung-tanggung," ujar Serigala Hitam dan Serigala Merah, "jika pemerintah kembali memburunya, kami tetap akan membelanya. Seperti kami lakukan kepada siapa pun yang lemah dan menderita."

Akhirnya semua persiapan selesai. Aku terkejut karena sebelum berangkat mereka mengadakan upacara angkat saudara terlebih dahulu. Baru kuperhatikan ternyata terdapat yang disebut altar sembahyang di depan sebuah patung Dewi Kwan Im di situ yang lebih kukenal sebagai Avalokitasvara. Rupa-rupanya agar yang bermaksud memanfaatkannya dapat membakar hio dan berdoa, sebelum berangkat menyeberangi celah sempit dan gelap yang berkemungkinan membuat jiwa terguncang tersebut.

Kami bertiga pun membakar hio dan aku ikut bersoja dalam upacara angkat saudara itu. Konon, hubungan seperti ini sering menjadi jauh lebih dekat dari hubungan saudara sedarah. Tidaklah dapat kukatakan betapa terharukannya diriku dengan peristiwa ini.

Setelah memberitahukan tanda-tanda rahasia menuju Kampung Jembatan Gantung kepadaku, rombongan itu pun segera berangkat. Serigala Hitam memimpin di depan dan Serigala Merah mengawal di belakang. Kupandang mereka satu persatu memasuki celah. Tanpa terasa air mataku mengalir membasahi pipi.

Teringat sebuah pepatah tua Negeri Atap Langit: ikan-ikan, meskipun jauh di dalam air, bisa ditombak;

burung-burung, meskipun tinggi di udara, bisa dipanah; tetapi rahasia pikiran manusia tak bisa dijangkau

langit bisa diukur, bumi bisa diteliti hati manusia tidak untuk diketahui

(Oo-dwkz-oO)

KECERAHAN pagi segera pergi setelah mereka menghilang. Lelaki tua yang dipaksa menjadi bisu dan gagu karena lidahnya dipotong itu sudah siap di atas kuda cadangan yang dipinjamkan Serigala Hitam. Ia bahkan boleh membawanya jika ingin meneruskan perjalanan. Tanpa banyak kata aku pun menaiki kudaku yang kukira sudah puas memakan rerumputan di sekitar tempat ini. Di atas punggung kuda aku juga mengunyah daging asap dingin yang menjadi bekalku. Kulihat lelaki tua itu pun melakukan hal yang sama.

Kabut datang kembali seperti kepastian suatu janji. Kubiarkan kudaku melangkah sendiri di jalan sempit di tepi tebing yang berkelak-kelok itu. Jalan setapak yang menghilang di balik semak dan kabut menuju Kampung Jembatan Gantung itu sebetulnya terletak tidak terlalu jauh. Dengan ukuran Negeri Atap Langit jauhnya tidak sampai limaratus li, tetapi aku tidak akan mungkin menemukan jalan setapak ke sana tanpa diberitahu tanda-tanda rahas ianya. Meskipun gagasan tentang pemberontakan sudah jauh dari keturunan para pemberontak yang bermukim di situ, naluri untuk tetap hidup tersembunyi dan mengamankan diri tetap dipelihara.

Terutama semenjak Pemberontakan An Lushan, pemerintahan Wangsa Tang semakin sering mengirimkan pasukan penjaga perbatasan untuk naik dan menyisir wilayah tak bertuan seperti lautan kelabu gunung batu ini, karena kekawatiran tersembunyi jauh di lubuk hati, bahwa pemberontakan meruyak dari balik persembunyian.

Maka dari tahun ke tahun pun sebetulnya pertempuran masih berlangsung diam-diam. Memang tidak terdapat dua pasukan yang berhadapan di tanah lapang, tetapi regu kecil pengawal rahasia istana yang tangguh tidak jarang dikirim dengan tugas membasmi para penyamun, tetapi tugas sesungguhnya adalah menemukan dan menghancurkan berbagai pemukiman tersembunyi itu.

Dalam tugas terselubung mencari penyamun, tidak jarang mereka memang berhasil menemukan sarang penyamun dan menghancurkannya. Asap mengepul dari balik bukit dan hutan jika perkampungan penyamun itu mereka bakar sampai bumi hangus seperti arang menyala. Namun dalam tugas sebenarnya mencari kampung keturunan para pemberontak, lebih sering regu pengawal rahasia yang dikirim ini menjadi hilang dan tidak pernah kembali. Gerombolan penyamun yang menghimpun penjahat kambuhan cenderung lebih mudah ditemukan daripada penyamun yang berasal dari keturunan pemberontak, karena pemukiman tersembunyi mereka sesungguhnyalah memang diselaputi dengan kerahasiaan yang ketat sekali.

Dengan semangat kerahasiaan itu pula maka antara pemukiman yang satu dengan yang lain letaknya dijauhkan, karena dahulu kala agaknya dibayangkan seandainya sebuah pemukiman ditemukan dan dihancurkan, maka itu tidak akan merambat ke pemukiman lain. Namun ternyata bukan hanya semangat kerahasiaan itu dahulu yang membuat pemukiman para pemberontak gagal ini terpencar-pencar, melainkan karena pemukiman yang sangat tersembunyi dan bisa dirahasiakan dalam keadaan alam lautan kelabu gunung batu ini memang hanya mampu menampung mereka dalam jumlah terbatas.

Baiklah kuceritakan saja keadaan Kampung Jembatan Gantung, agar gambarannya bisa menjadi lebih jelas. Seperti telah disebutkan, aku harus menemukan tanda-tandanya lebih dahulu, bahwa jalan setapak berlumut di balik semak dan kabut mengambang yang akan kulalui itu memang jalan menuju Kampung Jembatan Gantung. Sekali salah jalan, bukan saja Kampung Jembatan Gantung tidak ditemukan, dan sampai ke pemukiman lain, tetapi juga apabila sampai di pemukiman lain itu belum tentu bisa kembali, karena set iap jalan ke setiap pemukiman keturunan kaum pemberontak memiliki kerahasiaannya masing-masing. Bahkan sesama keturunan pemberontak, jika memasuki dan berkunjung ke pemukiman lain, memerlukan pemandu dari pemukiman tersebut, karena pembunuhan gelap yang dilancarkan jaringan rahasia istana bukan takmungkin mencapai pemukiman semacam itu. Sebenarnya bahkan pembunuhan gelap semacam itu memang pernah terjadi. Setelah menyusuri jalan sempit berkelak-kelok sepanjang tebing beberapa saat lamanya, sambil menikmati burung berkicau, terlihatlah olehku tanda yang dimaksud Serigala Hitam sebagai penanda masuk ke arah Kampung Jembatan Gantung. Adapun tanda itu adalah sebuah batu di tepi jalan yang berwarna merah bata. Memang di sepanjang lautan kelabu gunung batu, baru sekali ini kulihat ada batu berwarna lain selain kelabu. Namun batu tersebut bagaikan secara alamiah saja berada di situ, dan tampaknya memang begitu, sehingga seorang mata-mata yang mencari tanda rahasia, kiranya tidak akan menganggapnya sebagai tanda yang telah dibebani arti.

Sebelum keluar dari jalan sempit untuk mengikuti jalan setapak, aku berhenti sejenak menunggu lelaki tua bisu berjubah ungu itu. Aku merasa semenjak terjadinya peristiwa tadi pagi, ketika pedagang dari kota itu menunjuk-nunjuknya dengan pandangan benci, semangatnya untuk hidup bagaikan telah hilang melayang. Usianya kukira sudah 70 tahun, dan usaha untuk melarikan diri sampai kemari dari Changian tentu menunjukkan semangat mempertahankan hidup yang besar. Rahasia yang dipegangnya telah membuat lidahnya dipotong, selain supaya dirinya tidak membuka rahasia kepada siapapun, juga ia tidak dibunuh karena rahasia yang belum diungkapkannya tersebut memang masih sangat dibutuhkan pula. Bahwa ia tidak bunuh diri, artinya karena masih menghargai kehidupan. Namun kini kulihat wajahnya mengungkapkan keadaan yang rawan.

"Bapak, bukankah Bapak memang masih menunda perjalanan, dan ingin beristirahat di Kampung Jembatan Gantung?"

Ia mengangguk saja tanpa menatapku. Hatiku seperti teriris. Lidah dipotong bukanlah nasib yang baik. Rahasia macam apakah kiranya yang begitu penting, sehingga membuatnya bernasib malang seperti ini? "BAPAK, apa pun persoalan Bapak, sahaya mohon janganlah berputus asa. Bapak saksikan sendiri, kami tidak ingin mengetahui rahasia yang Bapak pegang, dan kami peduli akan keselamatan Bapak."

Mendengar kalimatku, sekilas kulihat ia tersenyum. Hanya sekilas, dan hanya secercah, itu pun bukan senyum yang menunjukkan ada sesuatu yang disukainya dari kalimatku. Seperti senyum kepedihan.

Namun aku tidak bisa berpikir lebih lama lagi tentang makna senyumannya itu. Aku ingin segera tiba di Kampung Jembatan Gantung, menyerahkan lelaki tua itu kepada kepala kampung sesuai dengan pesan Serigala Hitam. Lantas melanjutkan perjalanan sesuai dengan tujuanku semula, yakni mengejar Harimau Perang.

Demikianlah kami menghilang ke balik semak dan kabut menyusuri jalan setapak menuju Kampung Jembatan Gantung. Sekarang aku melihat sendiri, jalan setapak ini bagaikan menempel di dinding tebing, tepat di bawah jalan sempit di atasnya, karena jalan yang di atasnya itu di bawahnya berongga. Hanya karena merupakan jalan batu, maka rongga itu tidak membuatnya longsor, bahkan seperti memayungi jalan setapak di bawahnya. Pantaslah ketika berhadapan dengan para penyamun yang menyerang silih berganti dari berbagai penjuru, ketika aku baru mulai memasuki wilayah ini, mereka bagaikan muncul begitu saja dari balik kabut tanpa bisa diduga, karena ternyata ada jalan setapak tepat di bawah jalan sempit yang kupijak. Jadi jalan setapak itu tentu saja menghilang di balik semak dan kabut bagi siapa pun yang hanya melihatnya dari jalan sempit di atasnya, karena memang berbelok masuk ke bawah jalan sempit itu sendiri.

Tentu jalan setapak ini tidak selamanya berada di bawah jalan sempit di tepi jurang tersebut, karena itu hanyalah jalan keluar dan masuk ke jalan sempit, yang untuk selanjutnya berbelok menuju permukikan. Jalan setapak menuju permukikan, seperti yang sedang kutempuh sekarang, tidaklah lurus atau tanpa cabang sampai ke tujuan, melainkan juga berbelak-belok dan naik turun, serta terutama dengan berbagai percabangan jalan penuh jebakan. Adapun yang dimaksud dengan jebakan, sekali seseorang memasuki cabang yang keliru, maka dia tidak akan pernah bisa lagi kembali ke jalan yang seharusnya ditempuh.

Artinya memang hanya penduduk permukikan itulah yang bisa sampai ke sana, atau siapapun yang telah diberitahu tanda-tanda penunjuk jalannya, seperti diriku sendiri sekarang ini, maupun penduduk permukikan tersembunyi lain yang selama ini saling berhubungan dengan mereka. Betapapun, para penduduk permukikan tersembunyi itu merupakan keturunan dari nenekmoyang yang sama, yakni para pemberontak terhadap pemerintahan wangsa yang berkuasa. Apakah terhadap Wangsa Tang, sejak masa Maharaja Li Yuan yang pertama kali berkuasa pada 618; terhadap pemerintahan wangsa sebelumnya, yakni Wangsa Sui, dengan kekuasaan terakhir pada Maharaja Yangyu yang hanya berkuasa setahun sejak 617; dari wangsa-wangsa semenjak awal tercatatnya pemerintahan di Negeri Atap Langit, yakni Wangsa Han sekitar seribu tahun lalu, maupun Maharaja Li Shih atau Dezong sekarang ini yang berkuasa sejak tahun 779. Demikianlah para pelarian, orang-orang yang terbuang, tersingkirkan, dan terpinggirkan, sedikit demi sedikit dari wangsa ke wangsa terus mengalir untuk diserap dan disembunyikan dalam keluasan dan kesunyian lautan kelabu gunung batu.

Dengan segenap tanda-tanda yang diberitahukan kepadaku, perjalanan tidak menjadi lebih mudah. Jalan setapak berbatu-batu kadang menjadi jalan setapak yang sangat licin, karena tanah yang sangat keras juga menjadi terlalu halus dan penuh dengan lumut jika jarang dilewati. Jalan setapak yang naik turun dan berkelak-kelok menembus semak, kabut, dan juga terowongan sempit di bawah gunung batu yang gelap dan di dasarnya terdapat air mengalir, dan air juga menetes-netes dari atapnya. Bahkan di dalam terowongan ini pun terdapat percabangan terowongan yang juga menyesatkan jika keliru menempuh.

Pada percabangan inilah, di dalam maupun di luar terowongan, kadang aku harus berhenti cukup lama, karena pada jalan masuknya sengaja dipasang tanda-tanda juga, tetapi sebagai jebakan yang menyesatkan. Artinya aku harus mengenali pula, apakah tanda-tanda penunjuk jalan yang kulihat itu memang merupakan tanda-tanda yang mengarah ke permukikan, ataukah mengarahkan seseorang ke mana pun kecuali menuju permukikan.

Sebegitu jauh kulihat lelaki tua itu selalu tertunduk di atas kudanya, tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan tampaknya juga tidak terlalu menyadari apakah jalan yang sedang ditempuh ini penuh dengan jebakan menyesatkan atau tidak. Hanya kudanya saja mengikuti, bagaikan membawa barang mati, yang bagiku menimbulkan suatu kekhawatiran tertentu.

NAMUN aku merasa lega, ketika akhirnya sampai juga di jembatan gantung yang menjadi ciri permukikan tersebut, sehingga disebut sebagai Kampung Jembatan Gantung. Aku sangat terpesona memandang jembatan gantung yang sangat panjang melintang di atas jurang itu, begitu panjang sehingga dari tempatku turun dari kuda sekarang ujungnya tampak jauh dan kecil sekali. Setelah ujung itulah terlihat Kampung Jembatan Gantung, yang sebentar kelihatan dan sebentar tidak, karena kabut yang datang dan pergi memang membuat pemandangan timbul tenggelam.

Dari jauh begini, memang hanya tampak betapa kampung itu sebetulnya adalah rumah-rumah yang menempel pada dinding sebuah lereng. Dari sini, memang hanya melalui jembatan gantung inilah cara mencapai permukikan tersebut.

(Oo-dwkz-oO)