Nagabumi Eps 175: Keturunan Para Pemberontak

Eps 175: Keturunan Para Pemberontak

AKU telah menyusuri lorong ini semalam suntuk. Tidak selamanya lorong ini sempit dan lurus, dan tidak se lamanya pula celah ini terbuka sampai di atas. Ada kalanya celah di atas itu menutup dan dinding-dinding lorong saling menjauh sehingga terbentuk ruang yang luas, seperti gua, yang ternyata dari atapnya air menetes-netes. Di dalam gua air yang menetes-netes itu membentuk kolam kecil berair bening tempat kudaku minum, dan dari kolam itu pun terbentuk aliran kecil yang meninggalkan gua, berkericik lembut memberi kesan kedamaian.

NAMUN di tempat seperti ini pun bergeletak kerangka manusia tiada ketinggalan. Dalam kegelapan aku tak dapat melihatnya, tetapi kudaku sengaja menendang tengkoraknya untuk memberitahu aku, dan kudengar suaranya menggelinding di atas dasar batu. Kuduga mereka adalah pengembara yang menjadi gila di celah sempit, dan dengan nalurinya dapat mencapai tempat ini, lantas kemudian mati di sini. Memang tidak semestinya celah sempit mana pun di dunia dengan dinding setinggi apapun di atas sana membuat orang menjadi gila, sehingga siapapun yang tiada tahu menahu dengan perihalnya akan melewatinya saja tanpa prasangka, siang maupun malam, dalam cuaca apapun jua, dalam keadaan berkabut, terang, ataupun hujan.

Dalam kenyataannya meski sebagian besar orang muncul di seberang celah tanpa kurang suatu apa, selalu ada saja yang muncul sudah menjadi gila, dan sebagian yang lain bahkan tidak pernah muncul lagi, karena kegilaan dan kepanikan bagaikan telah meledakkan urat syarafnya dan membawanya kepada kematian.

Dengan demikian, menyeberangi celah secara berombongan memang menjadi salah satu pilihan, lengkap dengan pemandu atau pengawal bersenjata, sedangkan pilihan waktunya tentu saja adalah siang. Namun tetap saja selalu ada pengembara seperti diriku, yang karena keadaan, terpaksa atau tidak terpaksa, memilih dan memutuskan menempuh perjalanan dalam kegelapan sendirian.

Telah kualami sendiri perjalanan malam di celah sempit ini dan kuketahui apa yang dapat dialami dan tidak dialam i oleh siapapun yang mengarunginya dari malam sampai pagi. Tidak semua orang akan cukup beruntung berada di bawah rembulan ketika melewati dinding penuh coretan itu, sedangkan apabila sebetulnya cukup beruntung mungkin tidak peduli sama sekali terhadap guratan aksara pada dinding raksasa yang bertumpuk dengan guratan gambar itu. Sedangkan apabila ternyata peduli, tentu masih membutuhkan ilmu meringankan tubuh yang tinggi agar dapat memeriksa guratan-guratan itu setiap kali dari atas ke bawah, sebelum mampu memecahkan persoalan yang diberikannya, bahwa gambar-gambar itu mengarahkan makna tulisannya.

Di ujung lorong samar-samar kulihat cahaya lembut keunguan. Mungkinkah di luar sana fajar menjelang? Terdapat perasaan di dalam diriku agar sedapat mungkin keluar dari lorong dengan secepat-cepatnya. Namun aku tahu betapa diriku harus mampu menahan diri sekuat-kuatnya, karena itulah sa lah satu keinginan di dalam lorong ini, yang jika tidak kunjung terpenuhi akan memberi sumbangan untuk membuat seseorang menjadi gila. Kewaspadaan juga memang masih sangat diperlukan, karena sementara cahaya tidak dapat datang lagi dari atas ketika atap celah tertutup, juga bahwa dasar celah tempat berpijak sering tiba-tiba menganga sebagai jurang.

Ada kalanya menganga begitu rupa sehingga hanya kuda saja yang dapat melompatinya, dan dalam kegelapan hanya kuda itu saja yang mengetahuinya. Tidak terlalu mengherankan. jika mereka yang berjalan kaki dan kehilangan kewaspadaan, dalam kelelahan dan kepanikan akan terperosok ke dalam jurang yang terbentuk dari belahan gunung batu merekah itu, melayang hilang ke bawah tanpa pernah ditemukan lagi. Penduduk pemukiman terdekat memang selalu membuat jembatan tali di atas jurang-jurang semacam itu, supaya mereka yang tidak memiliki ilmu silat, terutama ilmu meringankan tubuh, juga dapat menyeberangi jurang-jurang itu. Namun dalam kegelapan, jembatan tali tersebut juga tidak mungkin terlihat dengan jelas.

Bahwa cahaya keunguan itu masih lembut, sangat tipis dan sangat samar, rupanya disebabkan karena cahaya pagi tersebut baru terpandang olehku, setelah melalui lorong yang menjelang berakhir ini ternyata menjadi berliku-liku.

Kericik aliran air dari kolam sudah tidak terdengar lagi, tetapi lorong ini sekarang sama sekali tidak sepi. Kurasa angin di luar sana memberikan akibat terhadap suara seperti gema yang kini terus menerus terdengar bagaikan suatu janji, betapa di luar ce lah banyak persoalan masih menanti.

Itulah pertanyaanku kepada diriku sendiri, apakah kiranya yang dipersiapkan Harimau Perang untuk menghalangi pengejaranku? Apakah cukup baginya untuk menghilang takterlacak secepat-cepatnya, ataukah ia juga memikirkan sesuatu untuk dilakukan jika ternyata aku dapat mengikuti jejaknya?

(Oo-dwkz-oO)

UDARA merasuk ke dalam lorong seperti memancing kudaku untuk tambah melaju, tetapi kudaku tidak lantas lari melaju, karena memang selain masih ada saja celah menganga di dasarnya, dasar lorong pun tidak se lalu rata melainkan berbatu-batu, bahkan tidak jarang naik dan turun dalam kecuraman yang masih juga berbahaya.

NAMUN pagi memang seperti memenuhi janji. Lorong yang semula lurus saja dan kini semakin berliku-liku itu betapapun semakin lama semakin terang. Lorong berliku-liku itulah yang telah membuat cahaya pagi yang memang masih dini menjadi sangat samar-samar.

Langit telah menjadi ungu muda ketika aku tiba di mulut lorong. Aku berhenti sejenak, tidak langsung menuju keluar. Pikiranku memang masih dan tidak boleh lepas dari Harimau Perang. Mengetahui siapa yang kuikuti, dan mengandaikan bahwa ia tahu sedang kuikuti, kurasa sangat pantas aku bersikap waspada, betapa cara apapun akan digunakannya untuk menghindarkan diri dari pengawasanku.

Aku turun dari kuda. Kutuntun pelahan menuju bibir lorong. Semakin dekat ke bibir lorong itu semakin kudengar suara orang bercakap-cakap.

Aku berhenti, bersembunyi di bagian lorong yang masih gelap. Di antara cahaya ungu, kulihat asap, dan samar-samar cahaya kekuningan bergerak-gerak. Aku menengok ke arah suara orang bercakap-cakap itu.

Namun segera kutarik kembali kepalaku itu. Zhhlllaabbb!

Sebilah pisau menancap pada dinding batu, tepat di depan

wajahku!

Dua orang yang ternyata sedang bercakap-cakap di depan api unggun itu sekarang tertawa terbahak-bahak.

"Hahahahaha! Terkejutkah sobat? Hahahahaha! Maafkan kalau aku bercanda agak keterlaluan! Hahahahaha! Tapi kami juga malas diintip seperti itu! Hahahahaha! Kemarilah sobat, duduk berbincang di depan kehangatan api unggun ini! Teh panas terbaik menantimu di sini!"

Pisau yang ternyata gagangnya bertali itu ditarik dan kembali kepada pemiliknya yang menangkap pisau itu dengan tangkas. Aku melangkah keluar sambil menghela napas, menyadari diriku ternyata terlalu tegang. Kulepas begitu saja kudaku, yang segera merumput di dekat sebuah pohon. Terlihat sebuah gubuk darurat dan dua ekor kuda, tentu milik kedua orang yang sedang bercakap-cakap di depan api unggun itu.

Mereka memperhatikan diriku yang mendekat tanpa membawa senjata apa pun, dan mereka tentu segera tahu betapa diriku yang berkulit sawo matang ini seorang asing. Untunglah aku sungguh telah belajar keras di Kuil Pengabdian Sejati, serbasedikit tentang bahasa Negeri Atap Langit.

"Kemarilah sobat! Jangan takut! Kami orang yang cinta damai! Jelaskanlah siapa dirimu, dari mana asalmu, dan ke mana tujuanmu?"

Aku pun menjura dengan takzim.

"Maafkan sahaya yang tidak mengenal adat istiadat daerah ini, wahai para pendekar yang perkasa. Sahaya hanyalah seorang pengembara hina dina tiada bernama asal Javadvipa, datang dari An Nam menuju Chang'an yang termasyhur ke seluruh dunia, untuk menyaksikan kegemerlapannya."

Mereka berdua pun bangkit menjura.

"Ah, Javadvipa! Di sebelah manakah dari Suvarnadvipa kiranya?"

"Jika Tuan pernah mendengar tentang Huang-tse, dan kapal-kapal yang berlayar ke Nanyang, di arah yang samalah Javadvipa berada Tuan, tempat terdapatnya kerajaan Mataram."

Pagi yang semakin terang memperlihatkan wajah mereka yang kurang mengerti. Tentu sulit sekali lidah mereka mengucapkan Mataram, tetapi kurasa mereka mendengar tentang kapal-kapal Negeri Atap Langit yang berlayar ke selatan. "Ah sudahlah! Hentikan basa-basi ini, dan mari makan minum di sini. Dikau tentu lelah sekali mengarungi Celah Dinding berlian malam hari. Sudah jarang orang melakukannya sekarang jika keperluannya tidak mendesak, karena malam lebih mudah membuat orang menjadi gila. Tapi kulihat dikau tidak gila sobat! Kemarilah, dan jangan panggil pemandu melarat seperti kami sebagai Tuan! Hahahahaha!"

Tidak dapat kuceritakan, bagaimana rasanya bertemu manusia kembali dengan rasa persahabatan seperti ini. Memang tidak kuingkari aku dapat mengatasi ruang dan waktu sepuluh tahun di dalam gua, ketika memasukinya pada usia 15 pada 786, dan keluar lagi sudah berumur 25 pada 796, dengan ilmu silat meningkat berlipat ganda, yang karenanya dapat menyelamatkan aku dari berbagai keadaan berbahaya, yang bagi lain orang telah mengirimkannya ke luar dunia. Namun aku memasuki celah sempit dan gelap gulita ini tanpa mengatasi ruang dan waktu sama sekali, sehingga dalam perasaan tertekan, waktu yang semalam bagaikan satu tahun lamanya.

MASIH beruntung aku sempat lama tenggelam dalam perenungan atas pemikiran Yangzi dalam hubungannya dengan guratan gambar-gambar di atas aksara pada dinding raksasa, sehingga perjalanan dalam kegelapan sedikit banyak tidak memberi gangguan perasaan berarti. Betapapun siapalah kiranya tidak akan merasa tegang ketika dasar lorong set iap saat bisa menjadi jurang menganga bergema yang harus dilompati?

''Beristirahatlah di s ini dahulu sobat, nikmatilah air teh yang masih panas ini.''

Aku duduk dengan perasaan bahagia. Kuterima uluran tempat minum dari tembikar itu, lantas menerima tuangan teh panas itu dari dalam poci. Kusalurkan rasa panas pada tembikar tempat minum yang kupegang itu, menjadi hawa hangat yang mengaliri seluruh tubuhku. Aku bahkan memejamkan mata sejenak untuk menikmatinya.

Ketika aku membuka mata, kusaksikan dua wajah yang tampak riang melihat bagaimana aku menjadi bahagia.

''Lihat tamu kita ini Serigala Putih, rupanya teh oolongmu itu telah membuatnya bahagia,'' ujar yang berkulit lebih gelap.

''Jangan berlebihan Serigala Hitam,'' ujar yang berkulit lebih terang, ''siapa pun tentunya akan bahagia setelah menyeberangi celah itu sepanjang malam sendirian saja.''

''Selamat pula! Huahahahaha!'' ''Ya, selamat pula! Hahahaha!''

Kemudian mereka pun bercerita, bahwa sudah sangat biasa

jika seseorang memasuki celah itu sendiri saja pada malam hari, ketika keluar sudah menjadi kosong matanya, bersenandung sendiri, berjalan seperti orang buta yang melangkahkan kaki di tepi jurang seolah di tengah lapangan, hanya untuk terpeleset dan melayang ke balik mega, yang masih selalu mengambang di atas jurang.

Cerita seperti ini membuat banyak orang yang harus bepergian melalui celah saling menunggu sampai jumlahnya cukup, kadang hanya tiga orang, tetapi tidak jarang sampai duapuluh orang, lelaki maupun perempuan, tua maupun anak kecil, untuk menyeberang bersama, dengan menyewa pemandu pula.

Jika mereka yang bermaksud menyeberang biasanya berasal dari kota di bawah gunung, artinya masih daerah pinggiran juga, maka yang menjadi pemandu adalah mereka yang disebut penduduk asli dari pemukiman yang tidak pernah tampak dari jalan sempit di tepi jurang tersebut. Penduduk yang terbentuk dari para pelarian dalam pemberontakan dari wangsa ke wangsa, dari maharaja ke maharaja, beranak pinak di sana sambil terus mewariskan cita-cita; tetapi sete lah berpuluh tahun, tidak semua orang berpikir terlalu sungguh- sungguh akan cita-cita tersebut. Mereka yang menerima kenyataan telah menyesuaikan diri dengan keadaan, sehingga mampu mengembangkan kemampuan untuk hidup dalam keterasingan pegunungan batu serba curam itu, dalam kedudukan mereka sebagai pelarian yang harus terus menerus bersembunyi dan berjaga-jaga terhadap penyerbuan pasukan Negeri Atap Langit.

Namun tidak semua orang sudi berkebun di lereng sempit, miring, dan tersembunyi. Bahkan untuk menjadi pemburu atau penjerat binatang pun mereka ini terlalu malas. Akibat terburuk dari keadaan ini adalah semakin banyaknya rombongan penyamun di sepanjang perbatasan, justru terutama di wilayah lautan kelabu gunung batu, yang jauh dari pusat kekuasaan manapun. Akibat sebaliknya pun juga terjadi, bahwa mereka yang hanya mampu memainkan senjata, demi sebuah penyerbuan ke kotaraja suatu ketika di masa depan meski takjelas kapan, justru menjual jasa untuk melindungi siapapun yang merasa terancam oleh para penyamun, sebagai para pengawal perjalanan yang dalam tugasnya juga menjadi pemandu.

Jadi selain terdapat para penjual jasa pengawalan bersenjata dari kota di kaki bukit, seperti yang mengawal rombongan pemain wayang sambil merangkap sebagai pembawa barangnya, terdapat pula para penjual jasa dari berbagai pemukiman tersembunyi di lautan kelabu gunung batu ini, yang melayani penduduk di sekitar Celah Dinding Berlian ini saja. Bahkan dalam hal kedua orang yang sangat ramah ini, mereka hanya melayani pemanduan untuk menyeberangi Celah Dinding Berlian ini saja.

''Begitulah keadaannya di tempat ini sobat! Kami tahu diri untuk se lalu dibayar lebih murah dari para pengawal perjalanan dari kota, karena yang menyewa kami adalah mereka yang bermukim di wilayah tanpa peredaran uang sama sekali! Hahahahaha!''

MEREKA berdua tertawa terbahak-bahak, seperti menertawakan diri mereka sendiri. Sementara mendengarkan mereka bercerita sambil minum teh, cahaya pagi yang semakin terang memperjelas sosok mereka. Busananya memang sudah lusuh dan tidak berwarna, tetapi mereka tetap mengenakan fu tou atau turban yang menutupi kepala mereka, sesuai aturan berbusana yang benar dalam peradaban Wangsa Tang. Artinya mereka adalah keturunan dari apa yang disebut Pemberontak Baru, yakni mereka yang terlibat permainan serta perebutan kekuasaan semasa Wangsa Tang, bukan sebelumnya, apalagi sejak Wangsa Han ratusan tahun berselang, yang pemukimannya pun ada di antara salah satu lembah dan lereng di lautan kelabu gunung batu.

Bahkan setelah lebih cermat mengamati, pada fu tou mereka terdapat hiasan yang disebut jin z i, dan itu berarti mereka adalah keturunan pemberontak pada masa Wangsa Tang pertengahan sampai sekarang, sesuai dengan kemunculan gaya fu tou semacam itu, yakni seperti terdapat dua bola di atas turban tersebut, semacam dua sayap di samping kiri dan kanan, dengan tali pengikatnya yang melambai dalam gelak tawa mereka. Keduanya juga mengenakan jubah penahan dingin, dengan leher bulat, sementara sepatu mereka yang menutupi betis tampak bahwa aslinya berwarna hitam, tetapi yang telah menjadi begitu kusam sehingga warnanya hilang, serupa dengan warna jubahnya yang juga tidak jelas. Ini karena mereka hidup di gunung, pikirku, tempat yang jauh dari kota, dan tampaknya juga tidak punya uang atau tidak tertarik membeli baju warna- warni yang kadang-kadang dijajakan para pedagang keliling yang berani mengunjungi tempat terpencil penuh penyamun ini. Mereka menyandang golok dengan ketajaman pada satu sisi dan bukan pedang dengan ketajaman pada dua sisi, yang memang ditempa demi seni memainkan ilm u pedang, yang sepintas lalu menandakan bahwa jenis ilmu mereka bukan dari jenis yang canggih atau berseni tinggi. Meski begitu, sejauh ini pengalamanku mengatakan, tinggi rendah ilmu s ilat seseorang tidak ditentukan oleh jenis ilmu silat ataupun senjata yang dim iliki, melainkan oleh seberapa jauh ilmu silat dan senjata itu dikuasai. Mereka yang memiliki perbendaharaan 2.000 jurus bisa dikalahkan oleh mereka yang hanya menguasai lima atau tujuh jurus sahaja, tetapi menguasainya dengan begitu fasih sebagai bagian hidup sehari-hari, daripada yang telah memiliki begitu banyak jurus tanpa sempat mempergunakannya sama sekali. Apalagi jika dima inkan di lingkungan alam tempat ilmu silat itu diciptakan.

Kuingat cerita tentang Pendekar Serigala Putih, yang disebut datang dari Negeri Tartar yang baru kuketahui sekarang merupakan istilah yang kacau, yang pernah menculik diriku ketika usiaku empat tahun dan terbunuh oleh pedang ayahku. Namun aku tidak merasa terlalu perlu menanyakan, setidaknya untuk saat ini, ketika aku baru saja keluar dari lorong kegelapan yang sangat menekan perasaan, dan disambut mereka dengan tangan terbuka, yang membuat aku seperti baru mengerti artinya keramahan.

"Kemarikan cawan dikau, kutambah lagi tehnya," ujar Serigala Hitam sembari menuang lagi ke dalam tempat minum tembikar yang disebutnya cawan itu.

Aku menerimanya dengan riang, juga seperti baru pertama kali ini mempunyai teman.

"Lihatlah bagaimana matahari akan muncul sobat," ujar Serigala Merah, "sudah lama matahari tidak terlihat cahayanya seperti ini, sampai muak aku dengan kabut setiap hari."

Tentu aku tahu kabut macam apa yang dimaksudnya, yang telah kuarungi berhari-hari bagai tidak akan pernah berhenti, yang sebetulnya tetap ada juga di sini, sehingga orang-orang yang terguncang jiwanya langsung terpeleset masuk jurang, ketika melangkah terseok-seok keluar dari celah tanpa menyadari keberadaan lingkungan.

Bagaikan kulihat sendiri titik cahaya matahari terdepan melesat dari balik langit yang masih ungu, langsung menyepuh dedaunan di sekitarku, kelopak bunga-bunga yang tidak kuketahui namanya, dan bagaikan serentak membangunkan burung-burung dan serangga.

Di antara semak kulirik seekor kadal yang melangkah berhati-hati, sikapnya diam dan waspada, berjaga apakah ada bahaya menanti. Sangat kukagumi ge-merlap kulitnya, antara hijau kekuningan berganti-ganti di bawah rembesan cahaya yang menimpa dedaunan di atasnya. Kukatakan aku meliriknya, karena jika aku menatapnya langsung, aku takut kadal yang tampaknya juga mengawasi kami itu berkelebat pergi.

SERIGALA Merah dan Serigala Hitam bukan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

''Serigala Merah, ajaklah sobat kita berjalan-jalan sedikit. Kita tahu pasti apa saja yang telah dialam i di seberang sana dengan penyamun-penyamun gila di balik kabut itu. Perlihatkanlah kepadanya apa saja yang bisa terlihat di bawah matahari kita, Serigala Merah, karena jika hanya kadal, kukira tidak ada bedanya dari kadal di wilayah Huang-tse bukan? Hahahahaha! Ayolah!''

Serigala Merah pun melompat berdiri. Ia tersenyum melirikku penuh arti.

''Marilah sobat yang mengaku tidak bernama, marilah kuperlihatkan segala sesuatu! Kami tahu dirimu bisa mengikutiku, karena kami bisa membaca ilmu silatmu hanya dari langkah kakimu!'' Aku terpana. Serigala Merah dan Serigala Hitam tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya bergema dipantulkan dinding- dinding jurang yang serba curam dan menganga.

''Hahahahahahahahaha! Huahahahahahahaha! Sobat kita mengira bisa berpura-pura tidak tahu apa-apa, ketika dengan tenangnya ia menghindari pisau kita! Huahahahahahahaha!''

Suara tawanya itu disambut ringkik kuda Uighur itu pula, membuat mereka tertawa semakin keras sahaja.

''Dengar! Kuda dikau pun menyetujuinya! Huahahahahaha!'' ''Huahahahahahaha!''

Aku baru saja meletakkan tembikar yang disebut cawan itu, ketika Serigala Merah menggamit tanganku, dan menyeretku terbang ke atas jurang. Namun di atas jurang ia melepaskan tanganku itu, seperti yakin betapa aku akan bisa terbang mengikutinya.

''Ikuti daku, sobat, eh benarkah dikau tak bernama?'' Serigala Merah bertanya seperti sambil lalu saja.

''Memang begitulah katanya,'' jawabku, mencoba menghindari perbincangan soal nama.

''Hmm. Mungkin enak juga tiada bernama ya? T iada beban memenuhi harapan orangtua! Hahahahaha!''

Aku bersyukur Serigala Merah tidak bertanya-tanya lagi, karena sembari kami melenting ringan dari dahan ke dahan, untuk kemudian terbang melayang membentangkan tangan seperti burung elang, ia menunjukkan segala pemandangan yang memang sangat menggugah. Meskipun wilayah ini masih serupa dengan lautan kelabu gunung batu di seberang celah, memudarnya kabut dalam suasana pagi ketika matahari baru saja terbit, memperlihatkan pemandangan yang sungguh. Segalanya yang semula tertutup kabut maupun tak terlihat karena perhatian terpusatkan kepada segenap ancaman bahaya, kini menjadi terbuka. Dedaunan yang masih basah berkilat keemasan dan bergoyang-goyang dalam embusan angin pagi, sehingga cahaya yang mengertap sepanjang lembah diiringi bunyi desiran itu seperti memberikan pesan tertentu yang tidak terucapkan.

Di balik tabir cahaya pagi itulah kini dapat kusaksikan bagaimana marmot gunung bergegas lari ke liang bawah tanah, ketika elang emas menukik untuk memangsanya. Sarang elang memang selalu dibuat di puncak karang dan sulit didekati, dan mangsanya selalu saja marmot. Maka marmot selalu melindungi diri dengan hidup di lereng karang bercelah- celah kecil, tempat marmot menggali liang atau mendapat perlindungan sementara untuk menghadapi serangan mendadak. Dengan marmot lainnya mereka saling memberi tanda datang bahaya dengan bercuit-cuit.

Kuperhatikan satwa gunung yang kecil-kecil ini, bundar berbulu, kakinya pendek, telinganya kecil, sering membulatkan diri untuk mengumpulkan panas tubuh di udara dingin. Sebaliknya ketika udara panas, marmot mendinginkan dirinya dengan merentangkan badan di tempat berangin, atau berbaring dengan perutnya yang berbulu tipis di tempat bersalju. Kuperhatikan juga kelinci berkaki putih, yang sedang meringkuk dengan kaki dilipat ke bawah dan telinga teracung ke belakang, nyaris seperti bola berbulu. Kelinci dapat meringkuk takbergerak selama berjam-jam di salju tanpa kedinginan. Semakin turun suhunya, semakin mengembanglah bulunya, serta membundar pula tubuhnya. Namun sebenarnya satwa ini ramping dan berkaki panjang.

Bila kelinci gunung diburu, ketika sedang kehilangan panas karena perserapan tubuh, suhu tubuhnya dapat melonjak mendadak sampai duapuluh kali lipat daripada suhu ketika tubuhnya diam, maka bentuknya akan sangat berubah, sehingga dapat lari dalam puncak kecepatan, sampai cukup jauh, tanpa pingsan kehabisan nafas. SERIGALA Merah dan Serigala Hitam bukan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

''Serigala Merah, ajaklah sobat kita berjalan-jalan sedikit. Kita tahu pasti apa saja yang telah dialam i di seberang sana dengan penyamun-penyamun gila di balik kabut itu. Perlihatkanlah kepadanya apa saja yang bisa terlihat di bawah matahari kita, Serigala Merah, karena jika hanya kadal, kukira tidak ada bedanya dari kadal di wilayah Huang-tse bukan? Hahahahaha! Ayolah!''

Serigala Merah pun melompat berdiri. Ia tersenyum melirikku penuh arti.

''Marilah sobat yang mengaku tidak bernama, marilah kuperlihatkan segala sesuatu! Kami tahu dirimu bisa mengikutiku, karena kami bisa membaca ilmu silatmu hanya dari langkah kakimu!''

Aku terpana. Serigala Merah dan Serigala Hitam tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya bergema dipantulkan dinding- dinding jurang yang serba curam dan menganga.

''Hahahahahahahahaha! Huahahahahahahaha! Sobat kita mengira bisa berpura-pura tidak tahu apa-apa, ketika dengan tenangnya ia menghindari pisau kita! Huahahahahahahaha!''

Suara tawanya itu disambut ringkik kuda Uighur itu pula, membuat mereka tertawa semakin keras sahaja.

''Dengar! Kuda dikau pun menyetujuinya! Huahahahahaha!'' ''Huahahahahahaha!''

Aku baru saja meletakkan tembikar yang disebut cawan itu, ketika Serigala Merah menggamit tanganku, dan menyeretku terbang ke atas jurang. Namun di atas jurang ia melepaskan tanganku itu, seperti yakin betapa aku akan bisa terbang mengikutinya. ''Ikuti daku, sobat, eh benarkah dikau tak bernama?'' Serigala Merah bertanya seperti sambil lalu saja.

''Memang begitulah katanya,'' jawabku, mencoba menghindari perbincangan soal nama.

''Hmm. Mungkin enak juga tiada bernama ya? T iada beban memenuhi harapan orangtua! Hahahahaha!''

Aku bersyukur Serigala Merah tidak bertanya-tanya lagi, karena sembari kami melenting ringan dari dahan ke dahan, untuk kemudian terbang melayang membentangkan tangan seperti burung elang, ia menunjukkan segala pemandangan yang memang sangat menggugah. Meskipun wilayah ini masih serupa dengan lautan kelabu gunung batu di seberang celah, memudarnya kabut dalam suasana pagi ketika matahari baru saja terbit, memperlihatkan pemandangan yang sungguh. Segalanya yang semula tertutup kabut maupun tak terlihat karena perhatian terpusatkan kepada segenap ancaman bahaya, kini menjadi terbuka. Dedaunan yang masih basah berkilat keemasan dan bergoyang-goyang dalam embusan angin pagi, sehingga cahaya yang mengertap sepanjang lembah diiringi bunyi desiran itu seperti memberikan pesan tertentu yang tidak terucapkan.

Di balik tabir cahaya pagi itulah kini dapat kusaksikan bagaimana marmot gunung bergegas lari ke liang bawah tanah, ketika elang emas menukik untuk memangsanya. Sarang elang memang selalu dibuat di puncak karang dan sulit didekati, dan mangsanya selalu saja marmot. Maka marmot selalu melindungi diri dengan hidup di lereng karang bercelah- celah kecil, tempat marmot menggali liang atau mendapat perlindungan sementara untuk menghadapi serangan mendadak. Dengan marmot lainnya mereka saling memberi tanda datang bahaya dengan bercuit-cuit.

Kuperhatikan satwa gunung yang kecil-kecil ini, bundar berbulu, kakinya pendek, telinganya kecil, sering membulatkan diri untuk mengumpulkan panas tubuh di udara dingin. Sebaliknya ketika udara panas, marmot mendinginkan dirinya dengan merentangkan badan di tempat berangin, atau berbaring dengan perutnya yang berbulu tipis di tempat bersalju. Kuperhatikan juga kelinci berkaki putih, yang sedang meringkuk dengan kaki dilipat ke bawah dan telinga teracung ke belakang, nyaris seperti bola berbulu. Kelinci dapat meringkuk takbergerak selama berjam-jam di salju tanpa kedinginan. Semakin turun suhunya, semakin mengembanglah bulunya, serta membundar pula tubuhnya. Namun sebenarnya satwa ini ramping dan berkaki panjang.

Bila kelinci gunung diburu, ketika sedang kehilangan panas karena perserapan tubuh, suhu tubuhnya dapat melonjak mendadak sampai duapuluh kali lipat daripada suhu ketika tubuhnya diam, maka bentuknya akan sangat berubah, sehingga dapat lari dalam puncak kecepatan, sampai cukup jauh, tanpa pingsan kehabisan nafas.

semakin besar jalan semakin besar kekosongan

sesuatu tentang bukan sesuatu membuat kita mampu menggunakan apa yang ada dari yang tidak ada jadi, tolong katakan kepadaku

mana yang lebih dikau sukai:

keberadaan atau ketiadaan?

Aku pun jadi ikut berpikir, apakah pemandangan juga ada dari sesuatu yang tidak ada? Aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh ketika Serigala Merah memberi tanda, bahwa sesuatu sedang berlangsung di suatu tempat di bawah sana. Kuperhatikan, ternyata di sebuah titian batu di atas jurang curam, seorang tua berkuda sedang dicegat dua orang penyamun di depan dan belakang. Kuda itu tidak bisa maju dan tidak bisa mundur, sedangkan kedua penyamun itu sudah menghunus kelewangnya masing-masing.

Serigala Merah segera mengarahkan dirinya ke sana, sambil memberi tanda bahwa ketika ia menyerang penyamun yang mencegat di depan, aku menyerang penyamun yang siap membacok dari belakang itu.

Kedua penyamun yang mencegat seorang tua di atas kuda pada titian itu tentu tidak pernah menduga, betapa dari langit datang serangan mendadak secepat kilat bagaikan burung elang menyambar mangsa!

(Oo-dwkz-oO)