-->

Nagabumi Eps 17: Kalapasa atawa Jerat Maut

Eps 17: Kalapasa atawa Jerat Maut

MALAM sungguh-sungguh kelam, bagaikan tiada lagi yang lebih kelam dari kekelaman yang sedang kuhayati sekarang. Rembulan memang tertutup awan, tetapi sampai berapa lama? Jika mega-mega yang menganga bagaikan mulut Batara Kala melepaskan rembulan itu kembali, tempat ini akan menjadi terang, dan jika mereka berhasil memergoki aku, maka aku akan mengalami kegagalan untuk mendapat keterangan. Aku menempel di tembok seperti cicak yang sama sekali tidak bergerak, tetapi telinga yang terlatih dengan ilmu penyusupan mestinya mampu mendengar napasku. Jarak antara mereka makin dekat, dan makin dekat pula mereka semua ke tempat persembunyianku. Napasku akan segera mereka dengar, dan apabila mega-mega meninggalkan rembulan yang memang tidak akan pernah dimakannya, jelas terlalu mudah untuk segera mereka pergoki keberadaanku.

Kudengar langkah-langkah mereka yang bersijingkat - telinga awam tidak akan bisa menangkap suara sehalus itu, tetapi aku dapat melacak bunyi tergesernya debu di antara suara-suara malam. Kuhentikan napasku. Bukan masalah besar untuk menundukkan delapan orang ini, tetapi aku ingin mendengar sesuatu dari percakapan mereka.

Kulirik ke atas, aku mencoba menduga lamanya rembulan tertutup awan dan seberapa lama orang yang memeriksa berada di dekatku. Di balik tembok, tujuh orang telah berkumpul, berarti satu orang lagi masih berada di sekitarku, karena sejak tadi kutunggu belum juga tampak melewatiku. Namun ketujuh orang di balik tembok itu mulai bercakap.

"Siapa orang tua yang gerakannya sangat cepat itu? Aku belum pernah melihat gerakan secepat itu."

"Lima belas teman kita tewas dalam sekejap, kalau dia mau tampaknya bisa saja orang tua itu menghabisi kita semua."

"Justru itulah yang kupikirkan. Kenapa dia tidak melakukannya jika lima belas orang terlatih dilumpuhkannya dengan terlalu mudah."

Mereka terdiam sejenak. Namun aku menjadi curiga. Apakah mereka menduga dengan tepat bahwa aku mungkin saja telah mengikutinya, tanpa mampu mereka ketahui aku berada di mana?

Mereka masih diam. Apakah mereka meneruskan percakapan dengan bahasa isyarat? Dalam Arthasastra Bab 12 Bagian 8 tentang "Peraturan untuk Petugas Rahasia" tertulis:

mereka yang tidak memiliki sanak keluarga dan harus dipertahankan, ketika mereka mempelajari

laksanam (ilmu penafsiran tanda-tanda), angavidya (ilmu sentuhan tubuh), mayagata (ilmu sihir),

yang menyangkut

penciptaan jambhakavidya (khayalan), tugas-tugas asrama,

antara-chakra (ilmu pertanda), "roda dengan ruang",

dan lain sebagainya adalah petugas rahasia, jika mereka mempelajari

seni berhubungan dengan manusia

Jika mereka memanfaatkan semua ilmu yang jelas mereka kuasai tersebut, tentu saja aku tidak akan mampu mengetahui sesuatu pun, karena kunci bahasa sandi selalu diubah dari waktu ke waktu. Hanya mata-mata yang telah lama berkecimpung di dalamnya akan mengetahui perkembangan kunci bahasa sandi tersebut, itu pun masih harus dibongkarnya makna kalimat-kalimat di dalamnya.

Jika seorang pembongkar kunci bahasa sandi mampu menemukan kalimat "Orang suci itu mampu menjamin kesejahteraan setiap orang" misa lnya, maka ini sudah jelas menunjuk kepada suatu maksud lain. Betapa sulitnya membongkar rahasia yang diemban para petugas rahasia ini, juga karena seorang petugas rahasia tidak akan pernah mengetahui seluruh rahas ia, mereka hanya akan mengetahui sepotong rahasia -tidak akan pernah lebih, bahkan bisa kurang. Itulah sebabnya banyak rahasia hanya bisa terbongkar jika terdapat pengkhianatan-yang dengan sengaja akan selalu diusahakan, melalui pesona harta, kekuasaan, dan pemerasan cinta...

Apakah mereka sedang bertukar tanda dengan gerak tangan atau isyarat pandangan dan gerak tubuh di balik tembok itu? Jika begitu, maka seluruh usahaku tentu saja akan sia-sia. Namun kenapa mereka harus melakukannya jika berkumpul antara mereka sendiri? Aku harus merayap sepelan mungkin dan melihat sendiri mereka yang sedang berkumpul itu, tetapi aku tidak mungkin merayap naik sebelum memastikan keberadaan orang kedelapan. Ia bisa saja sedang menunggu gerakanku, karena tidak dapat menduga diriku berada di mana.

Waktu berjalan sangat lambat dalam keadaan seperti ini, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu agar orang kedelapan itulah justru yang akan melakukan kesalahan.

Malam makin larut. Aku tidak bergerak. Menunggu dan menunggu.

(Oo-dwkz-oO)

SAAT-SAAT seperti ini rasanya lama sekali-tetapi kesabaran dalam hal seperti ini sangat menentukan hidup dan mati.

Orang kedelapan itu akhirnya muncul di antara mereka, tetapi hanya setelah melewatiku! Dia sempat berhenti lama dalam jarak yang sangat dekat denganku, mencoba mendengar sesuatu dalam kegelapan pekat seperti itu, tetapi ia tak akan pernah mendengar nafasku. Begitu dia pergi kutirukan bunyi serangga malam hari, yang tidak mungkin berbunyi jika terdapat manusia di s itu, agar dia lebih yakin tak ada siapa pun di tempatku sekarang.

Ia segera bergabung dengan tujuh orang lainnya. "Tidak ada petak yang tidak terlewati oleh penyisiran kita. Aku juga sudah menunggu gerakannya. Seandainya ia memang terdapat di sini kita sudah mengetahuinya. Kita bisa merundingkan masalah kita dengan bebas."

Aku berharap mereka mengikuti anjurannya, agar aku cukup mendengarkan saja perbincangan mereka.

"Kita mendapat tugas untuk memberi kesan bahwa kelompok yang disebut aliran sesat itu merupakan ancaman untuk negara."

"Kesan itu berhasil kita tanamkan, tetapi kita tidak mengira jatuh korban begitu banyak di antara kita."

"Padahal kita begitu yakin sebelumnya akan bisa menghabisi kadatuan gudha pariraksa dengan mudah."'

"Orang tua itulah yang mengacaukan rencana. Apa yang dipikirkannya sehingga ikut campur urusan kita?"

"Itulah sikap para pendekar yang biasa. Bagi mereka pertarungan harus adiI dan terbuka."

"Hmmh! Orang-orang dunia persilatan! Mereka itu pemimpi semual" Kepalaku melewati tembok, kulihat seseorang sedang mengangkat tangan?aya sehingga semua terdiam.

"Dengar baik-baik. Kita semua hares lebih hati-hati karena tugas kita adalah tugas rahasia. Kita tidak tahu tindakan pendekar tua itu karena dia memang pendekar, ataukah karena dia memang dikirim untuk menghadapi kita.

"Pendekar golongan merdeka tidak akan bekerja untuk kelompok tertentu, mereka hanya mengabdikan diri kepada kebenaran."

Mereka semua hanya kelihatan matanya, tapi kudengar suara taws di balik kain penutup wajah.

"Kebenaran? Heheheheh! Kebenaran siapa? Hampir semua pendekar sini bisa dibeli. Kita tidak lagi hidup di zaman kegelapan tanpa agama, ketika para pendekar sangat diperlukan untuk membasmi kejahatan yang timbul di mana- mana, karena memang hanya ada gerombolan dan tidak ada rajaan atau negara."

Rembulan masih di balik awan. Namun suara burung kulik bagai mengabarkan kematian seseorang. Kematian siapa?

Kulihat bayangan berkelebat. Mereka tak mengetahuinyal Bahkan masih terus berbicara ...

"Jadi bagaimana dengan rencana kita?"

"Meskipun kita gagal menghabisi para pengawal rahas ia istana, kita berhasil memberi kesan sebagai pendukung golongan sesat."

"Kecuali kalau teman-teman kita buka mulut."

"Sudah kukatakan mereka tewas, orang banyak membantai mereka dengan pengertian mereka adalah penganut aliran sesat..."

Mereka terdiam sejenak. Sebetulnya tiap orang dari mereka dipilih dari orang-orang yang hidup sendiri. Kautilya dalam Arthasastra berkata bahwa mereka yang terpilih adalah:

mereka yang tidak memiliki sanak keluarga mereka yang telah melepaskan

pikiran tentang keamanan pribadi dan mau berkelahi demi uang melawan gajah atau binatang buas

mereka yang tidak punya kasih sayang terhadap kaum kerabatnya Namun justru karena itu mereka seperti merasa dipersatukan oleh nasib. Kehilangan itu bukanlah sekadar kehilangan kawan sekerja, melainkan kehilangan dalam sebuah matarantai persaudaraan. Masing-masing dari mereka berlatih untuk tidak mengenal satu sama lain, tetapi bentuk kebersamaan terkecil pun mendekatkan hati manusia. Mereka terdiam seperti mengingat nasib kawan-kawan mereka yang malang. Mereka telah dilatih bersama dalam ilmu penyusupan- terbantai di tangan rakyat jelata yang tidak berilmu spa pun bukanlah kematian yang telah dibayangkan.

Di balik tembok aku berpikir. Namaku telah disangkutpautkan dengan sebuah ajaran rahas ia, yang kemudian disebut-sebut sebagai mithya-drsti atau viparita- drsti atau aliran sesat. Namun yang disangkutpautkan adalah Jurus Tanpa Bentuk. Bagaimana mungkin suatu jurus dalam ilmu persilatan diandaikan bisa terlarang, jika bahkan ilmu hitam dan ilmu sihir di mana-mana diajarkan? Bahwa Jurus Tanpa Bentuk tidak dapat dipelajari maupun diajarkan, itu persoalan lain, karena Jurus Tanpa Bentuk memang harus ditemukan, melalui pencarian dalam kepala yang bermaksud memahaminya.

Dengan pengertian memahami artinya tidak ada yang ajaib dalam pembelajaran Jurus Tanpa Bentuk -justru karena memang tidak berbentuk.

Orang-orang berbaju hitam yang menggugat Bhatari Durga itu juga telah disebut sebagai aliran sesat, meski mereka sendiri tidak merasa begitu. Adapun orang-orang berbaju hitam yang sedang kumata-matai ini memanfaatkan kesamaan busana hitam-hitam mereka untuk memberi kesan tertentu atas orang-orang berbaju hitam itu --yakni, seperti telah kudengar, agar terdapat kesan betapa aliran sesat yang dimaksud merupakan ancaman berbahaya bagi negara. Bukan karena ajaran itu sendiri barangkali, tetapi karena mereka memiliki pasukan pembunuh yang tangguh dan kejam mematikan bukan buatan.

Namun begitu mudahkah kiranya mengelabui orang? Orang-orang yang dianggap pengikut aliran sesat itu memang berbaju hitam, tetapi baju hitam rakyat kebanyakan -taklebih dan tak kurang hanyalah kain hitam melilit pinggang, yang sebenarnya juga sudah tidak terlalu berwarna hitam. Semua warna adalah hasil celupan, dan jika kain yang sama terus menerus dicuci dan dipakai, hanya akan luntur jua jadinya. Penanda betapa mereka hanyalah rakyat jelata yang miskin adanya. Berbeda dari busana serbahitam yang diandalkan dalam ilmu penyusupan, yang begitu pekat seperti malam yang tergelap, dan dibuat oleh para penjahit yang mengetahui maksud dan tujuan dari potongan baju seperti itu: membungkus seluruh tubuh, ringan tak bersuara, hanya menampakkan sepasang mata, dengan berbagai kantong dan ikat pinggang penyandang senjata.

Meski sama-sama hitam busananya, sebenarnyalah tiada sesuatu pun yang harus menghubungkan keduanya - kecuali memang tidak diperlukan terlalu banyak alasan untuk membantai siapa pun yang dianggap berbeda, seperti golongan yang dianggap sesat.

Apakah yang telah terjadi? Apakah yang sedang berlangsung? Aku memikirkan kemungkinan bahwa aliran sesat dalam pengertian memang sesat pikirannya dan apalagi berbahaya itu sebenarnya tidak ada. Namun tampaknya segala usaha telah dikerahkan untuk membuat orang banyak yakin bahwa aliran sesat itu ada. Demi kepentingan apa? Demi kepentingan siapa? Aku belum bisa mengatakan apa-apa, karena setelah dua puluh lima tahun mengundurkan diri dari dunia ramai, tiada kesahihanku menyebutkan sembarang dugaan. Namun aku tahu betapa keberadaan aliran yang disebut sesat ini sangat dibutuhkan, dan untuk itu diperlukan sejumlah kambing hitam yang meyakinkan. Maka bukanlah Jurus Tanpa Bentuk, melainkan ketidakhadiranku, telah sangat membantu penyusunan cerita yang dihadirkan sebagai kenyataan itu. Telah kusebutkan betapa perburuan diriku menjadi penting, justru karena tertangkap maupun tidak tertangkapnya aku, terbunuh maupun tidak terbunuhnya diriku, tetap saja akan menguntungkan bagi yang menyebarkan cerita tentang aliran sesat itu. Aku tertangkap atau terbunuh, seluruh cerita yang dibangun atas namaku akan tetap berlaku; aku tidak kunjung tertangkap dan tidak dapat terbunuh, justru akan membuktikan betapa memang berbahayanya diriku. Memang cerdik sekali. Bagaimanakah cara melawannya? Namun aku sungguh tidak mengetahui apa pun yang kiranya dapat membenarkan dugaan-dugaanku.

Kini kusadari betapa bukan aku sendirian yang menjadi korban. Orang-orang berbusana serba hitam itu telah terpancing untuk mengamuk, dan dibunuh atas nama kepercayaan yang sampai mati tidak pernah mereka lepaskan. Perbincangan orang-orang yang sedang kucuri dengar ini semakin meyakinkan aku akan terdapatnya sebuah siasat; bahwa mereka memanfaatkan kesamaan warna hitam baju mereka, agar orang banyak mengira mereka adalah bagian dari kekuatan suatu pasukan, dari yang disebut aliran sesat.

Apakah cerita ini dibangun suatu kelompok yang bermaksud merongrong kewibawaan negara dan merebut kekuasaan? Ataukah cerita semacam itu dibangun oleh pihak penguasa sebagai pembenaran atas pembasmian mereka kepada suatu golongan yang ingin mereka hapus dari muka bumi?

Mereka masih berada di balik tembok ketika sekali lagi terdengar suara burung kulik. Kali ini bahkan dua kali. Aku terkesiap. Memang seperti suara burung, tetapi kusadari bahwa suara itu berasal dari manusia. Itu suatu tanda! Meniru suara binatang adalah bagian dari ciri-ciri ilmu penyusupan. Bagaimana mungkin orang-orang yang sedang berbicara itu tidak mengenalnya?

Kuketahui sekarang betapa sejumlah orang berkelebat dalam gelap tanpa diketahui oleh mereka yang sedang kucuri dengar pembicaraannya. Busana mereka sama belaka dengan orang-orang yang sedang berbicara itu. Aku menyembunyikan kepalaku. Tepat pada saat awan menyingkir dan rembulan menyapu halaman dengan cahaya lembut keperakan, terdengar bentakan dan teriakan keras dari segala penjuru yang sangat mengejutkan orang-orang itu. Aku mendengar desing jarum bersuit-suit dari hembusan sumpit beracun. Serangan mendadak ini agaknya memang taktertahankan.

Terdengar lenguh pendek mereka yang tertembus jarum sumpit pada leher atau jantungnya. Terdengar juga suara pedang yang sempat menangkis jarum, tetapi saat kutengok sebuah rantai te lah menjerat leher, disusul gagang berpengait yang menempel pada ujung lain rantai itu membabat putus kepalanya.

Lantas malam menjadi sangat amat sunyi.

Kudengar sebuah suara, dan sekitar tigapuluh orang yang takbersuara mengitarinya.

"Inilah nasib para pengkhianat dalam Kalapasa, janganlah siapa pun di antara kalian mengikuti jejak mereka."

Tidak ada seorang pun menanggapinya, dan suara itu melanjutkan.

"Tetapi kita harus mengetahui siapakah orang tua yang disebut-sebut telah membunuh limabelas cecunguk lainnya dengan keping-keping emas di antara dua mata. Kita telah memiliki daftar semua pendekar di Yavabhumi, Ketua tidak ingin seorang pun lolos dari pengamatan kita."

Jadi mereka adalah orang-orang Kalapasa yang berarti jerat maut. Ketika aku baru mulai mengarungi sungai telaga dunia persilatan di kala muda, sudah kudengar cerita tentang Kalapasa-suatu guhyasamayamitra atau perkumpulan rahasia, kelompok para penyusup yang sangat tertata, sehingga meskipun set iap, orang membicarakannya, tiada pernah sekali pun seseorang mengaku pernah melihat sosoknya. Kelompok ini dahulu dikenal sebagai pengabdi agama dan negara, jasanya sangat besar dalam usaha memperlemah musuh, dan bagi mereka ilmu penyusupan maupun ilmu penyamaran adalah ilmu-ilmu yang harus dikuasai sekaligus dalam tugas- tugas rahasia mereka.

Namun semenjak setiap kerajaan di Yavabhumi selalu berkutat dengan dua agama, maupun aliran-aliran baru yang terbentuk di antaranya, tidak kuketahui lagi kebijakan Kalapasa. Juga setelah kudengar betapa penguasaan ilmu penyusupan dan ilmu penyamaran dapat diperjualbelikan kepada siapa pun yang membayarnya.

Telah kudengar tentu, bagaimana pengkhianatan orang dalam harus ditebus dengan kematian. Ini berarti Kalapasa tidak kebal terhadap perubahan zaman yang berlangsung di luarnya. Bahkan para anggota yang ilmunya belum terlalu tinggi berani berkhianat dan barangkali telah memperjualbelikan kemampuan mereka yang belum seberapa.

"Hanya Pendekar Tanpa Nama yang belum dapat kami jejaki, set iap kah karni tiba hanya kami jumpai mayat yang ditinggalkannya..."

Bulan bergeser dan menerangi ubun-ubunku. Dengan ilmu bunglon kusatukan warna kulitku dengan warna tembok bata merah di bawah cahaya bulan.

"Hmm, pendekar satu itu juga selalu berada antara ada dan tiada, sampai aku tak tabu lagi beds antara cerita dan kenyataannya." "Sekarang dia lebih sering ada Tuanku, berbagai macam laporan untuk hari ini saja menunjukkan keberadaannya."

"Hmm. Hmm. Tapi tidak ada jaminan bahwa ia akan tertangkap, apalagi terbunuh oleh s iapa pun jua. Pembantaian Seratus Pendekar bukanlah sekadar cerita."

Begitukah? Aku selalu meragukan cerita tentang diriku sendiri selama pembicaranya tidak mengenal atau belum pernah bertarung melawanku.

"Sekarang kita harus pergi, awas, jangan tinggalkan jejak siapa pun jua."

Kudengar suara-suara melejit, berkelebat, dan menghilang. Aku cepat melompat ke atas tembok, mencari bayangan yang masih bisa kubuntuti, tetapi hanya keremangan yang tersisa.

Aku juga merasa lelah, semenjak keluar dari gua aku belum beristirahat sama sekah. Hhhhh.

(Oo-dwkz-oO)