-->

Nagabumi Eps 165: Pekik Kematian di Balik Kabut

Eps 165: Pekik Kematian di Balik Kabut

Dua belas pengawal rahasia istana itu masih kudengar tertawa-tawa, ketika di antara apa yang kudengar tersampaikan kepada telingaku suara pedang keluar dari sarungnya. Bukan hanya satu, tetapi dua pedang yang keluar dari sarungnya, dan dari cara menarik pedang seperti itu aku tahu, betapa pedang itu akan segera menumpahkan darah.

Dalam sekejap kebisuan dan kesunyian lautan kelabu gunung batu segera terisi oleh suara-suara jerit kesakitan. Hanya sekejap. Sebelum akhirnya kesunyian berkuasa kembali.

Rombongan itu belum melangkah terlalu jauh dariku. Jadi semuanya kudengar dengan jelas, meski sama sekali tidak dapat kulihat apapun. Dalam kabut seperti ini aku hanya dapat mendengar suara-suara, dan berdasarkan suara-suara itulah kubangun peristiwa yang terjadi.

Dua pedang yang dicabut itu tersoren menyilang pada punggung sa lah satu penunggang kuda, yang segera melejit dari atas kudanya, berkelebat secepat kilat ke belakang dahulu, untuk membantai enam pengawal rahasia istana yang masih tertawa-tawa, lantas melesat ke depan untuk menyelesaikan enam orang sisanya. Pilihan untuk bergerak ke belakang lebih dahulu memang tepat, karena meskipun yang berada di depan telah lebih dahulu mendengar pekik kematian yang di belakang, kedudukan mereka yang sedang berada di atas punggung kuda dan mendaki ke depan membuatnya sulit untuk langsung menanggapi. Saat itulah dalam sekejap nyawanya hilang dari badan.

Dengan kedua pedang di tangan itu, ia membabat tiga penunggang kuda di belakangnya dengan pedang di tangan kiri, dan membantai lagi sisanya dengan pedang di tangan kanan. Ada-pun bagi keenam penunggang kuda di depannya, ia menyerang mereka mulai dari yang paling depan bergantian antara pedang yang berada di tangan kiri maupun yang berada di tangan kanan. Siasat ini juga merupakan pilihan yang baik dari sekian banyak kemungkinan, karena ketika keenam orang yang berada di depan ini siap berbalik siap menghadapi serangan dari belakang, ternyata pekik kematian terdengar lagi justru di depan. Namun tentunya saat mereka menyadari, gerakan pedang yang tak dapat ditebak arahnya itu telah membuat mereka memekik kesakitan pula.

Suasana seperti mendadak sunyi, hening tapi mencekam. Angin terdengar meraung di sebuah lembah yang jauh. Namun di sini segala sesuatu terdengar dengan jelas. Hilang sudah suara terta-wa-tawa tadi, hanya desah kuda yang mendengus-dengus, karena dengan firasatnya tahu belaka telah berlangsung pertumpahan darah.

Belum kudengar suara yang menunjukkan bahwa kedua pedang itu di-sa-rungkan. Apakah ia mengetahui kehadiranku? Aku ganti bernapas melalui pori-pori kulit dan menutupi detak jantung dengan mengalihkan tenaga prana pohon siong. Mengingat aku tak dapat melihat apa pun lebih dari jarak sedepa, sedangkan ia dapat membantai duabelas orang seketika, menunjukkan betapa ilmunya tinggi sekali. Betapapun ku-ragukan kemampuan mata manusia me-nembus kabut seperti ini, yang mampu menahan tembusnya cahaya maupun kegelapan malam. Ini berarti, seperti juga diriku sekarang, ia mengandalkan pendengaran. Apa yang tidak terlihat oleh mata, memang kemungkinan besar dapat didengar oleh telinga yang tajam, tetapi betapapun hanya ilmu pendengar-an, jika ia memilikinya, yang akan memberitahukan keberadaan diriku.

Aku segera memejamkan mata dan memasang ilmu pendengaran Mende-ngar Semut Berbisik di Dalam Liang agar mengetahui kedudukannya dengan tepat, dan siap menanggapi dengan Ju-rus Tanpa Bentuk jika pemegang kedua pedang itu tiba-tiba menyerang. Segera tampak dalam pandangan mataku yang terpejam garis cahaya kehijauan membentuk sesosok tubuh dengan tangan memegang dua pedang.

Ia memang masih memegang kedua pedang itu dan tidak menyarungkannya. Ia mengangkat kedua pedang satu demi satu ke dekat mulutnya, yang segera meniup pedang itu. Kulihat dalam pandangan yang terbentuk oleh telingaku, cairan kehijauan tertiup lepas ke udara. Itulah darah para korban yang bergelimang pada pedang tersebut. Sekali tiup segera terbang ke udara bagaikan air hujan yang tak mampu menembus la-pisan beludru dedaunan, dan meng-gelinding ke bumi tanpa membasahi-nya. Hanya saja darah ini tertiup ke atas jurang tidak tahu jatuh di mana karena segera lenyap di balik kabut.

Setelah kedua pedang tersebut bersih kembali, ia pun ternyata belum me-nyarungkannya juga. Mungkinkah ia mengetahui keberadaan diriku dan menyerangku?

Ia tidak menyerangku, hanya berbi-cara sendirian, seperti kepada dirinya sendiri.

''Mengapa manusia harus berbicara yang buruk tentang orang-orang kebiri? Mereka telah merelakan dirinya tidak menjadi lelaki, karena ingin mengabdi kepada Putera Langit, agar pemerintahannya di bumi takselalu meminta, tetapi juga memberi. Tanpa orang-orang kebiri, bagaimana mungkin istana tetap suci, sementara permaisuri, segenap selir, dan puteri-puteri, tetap dibaluti kemurnian surgawi. Orang-orang kebiri yang mengorbankan diri, menjamin dirinya sendiri dalam keterselibatan abadi, demi kepentingan Putera Surga- wi, se lalu dibenci orang-orang yang tidak mengerti, karena dianggap menghalangi kepentingan mereka, yang ha-nya menguntungkan dirinya sendiri.

''Bukan hanya Gao Lishi, tapi sejak Huang Hao melayani Wangsa Shu pada masa Tiga Negara, tidak kurang dari Maharaja Liu Shan sangat menya-yanginya karena jasa dan pengabdiannya, tetapi telah dihina begitu rupa dalam sejarah seolah-olah memang dialah yang telah membuat Liu Shan me- nyerahkan negerinya kepada Ke-rajaan Wei ''

Ia terus berbicara sambil masih memegang kedua pedang panjang yang telah bersih dari darah. Aku tidak merasa mampu menerjemahkan kata-kata selanjutnya, karena penguasaan bahasa Negeri Atap Langit yang sama sekali tidak sempurna, tetapi riwayat Huang Hao yang diucapkannya kulihat terda-pat pada sisa catatan dari bapak kedai yang belum kubaca. Aku menyesal tidak memiliki kemampuan membaca yang memadai sehingga tidak bisa membacanya dengan lebih cepat.

Dengan kedua pedang di tangan itu, ia membabat tiga penunggang kuda di belakangnya dengan pedang di tangan kiri, dan membantai lagi sisanya dengan pedang di tangan kanan. Ada-pun bagi keenam penunggang kuda di depannya, ia menyerang mereka mulai dari yang paling depan bergantian antara pedang yang berada di tangan kiri maupun yang berada di tangan kanan. Siasat ini juga merupakan pilihan yang baik dari sekian banyak kemungkinan, karena ketika keenam orang yang berada di depan ini siap berbalik siap menghadapi serangan dari belakang, ternyata pekik kematian terdengar lagi justru di depan. Namun tentunya saat mereka menyadari, gerakan pedang yang tak dapat ditebak arahnya itu telah membuat mereka memekik kesakitan pula.

Suasana seperti mendadak sunyi, hening tapi mencekam. Angin terdengar meraung di sebuah lembah yang jauh. Namun di sini segala sesuatu terdengar dengan jelas. Hilang sudah suara terta-wa-tawa tadi, hanya desah kuda yang mendengus-dengus, karena dengan firasatnya tahu belaka telah berlangsung pertumpahan darah.

Belum kudengar suara yang menunjukkan bahwa kedua pedang itu di-sa-rungkan. Apakah ia mengetahui kehadiranku? Aku ganti bernapas melalui pori-pori kulit dan menutupi detak jantung dengan mengalihkan tenaga prana pohon siong. Mengingat aku tak dapat melihat apa pun lebih dari jarak sedepa, sedangkan ia dapat membantai duabelas orang seketika, menunjukkan betapa ilmunya tinggi sekali. Betapapun ku-ragukan kemampuan mata manusia me-nembus kabut seperti ini, yang mampu menahan tembusnya cahaya maupun kegelapan malam. Ini berarti, seperti juga diriku sekarang, ia mengandalkan pendengaran. Apa yang tidak terlihat oleh mata, memang kemungkinan besar dapat didengar oleh telinga yang tajam, tetapi betapapun hanya ilmu pendengar-an, jika ia memilikinya, yang akan memberitahukan keberadaan diriku.

Aku segera memejamkan mata dan memasang ilmu pendengaran Mende-ngar Semut Berbisik di Dalam Liang agar mengetahui kedudukannya dengan tepat, dan siap menanggapi dengan Ju-rus Tanpa Bentuk jika pemegang kedua pedang itu tiba-tiba menyerang. Segera tampak dalam pandangan mataku yang terpejam garis cahaya kehijauan membentuk sesosok tubuh dengan tangan memegang dua pedang.

Ia memang masih memegang kedua pedang itu dan tidak menyarungkannya. Ia mengangkat kedua pedang satu demi satu ke dekat mulutnya, yang segera meniup pedang itu. Kulihat dalam pandangan yang terbentuk oleh telingaku, cairan kehijauan tertiup lepas ke udara. Itulah darah para korban yang bergelimang pada pedang tersebut. Sekali tiup segera terbang ke udara bagaikan air hujan yang tak mampu menembus la-pisan beludru dedaunan, dan meng-gelinding ke bumi tanpa membasahi-nya. Hanya saja darah ini tertiup ke atas jurang tidak tahu jatuh di mana karena segera lenyap di balik kabut.

Setelah kedua pedang tersebut bersih kembali, ia pun ternyata belum me-nyarungkannya juga. Mungkinkah ia mengetahui keberadaan diriku dan menyerangku?

Ia tidak menyerangku, hanya berbi-cara sendirian, seperti kepada dirinya sendiri.

''Mengapa manusia harus berbicara yang buruk tentang orang-orang kebiri? Mereka telah merelakan dirinya tidak menjadi lelaki, karena ingin mengabdi kepada Putera Langit, agar pemerintahannya di bumi takselalu meminta, tetapi juga memberi. Tanpa orang-orang kebiri, bagaimana mungkin istana tetap suci, sementara permaisuri, segenap selir, dan puteri-puteri, tetap dibaluti kemurnian surgawi. Orang-orang kebiri yang mengorbankan diri, menjamin dirinya sendiri dalam keterselibatan abadi, demi kepentingan Putera Surga- wi, se lalu dibenci orang-orang yang tidak mengerti, karena dianggap menghalangi kepentingan mereka, yang ha-nya menguntungkan dirinya sendiri.

''Bukan hanya Gao Lishi, tapi sejak Huang Hao melayani Wangsa Shu pada masa Tiga Negara, tidak kurang dari Maharaja Liu Shan sangat menya-yanginya karena jasa dan pengabdiannya, tetapi telah dihina begitu rupa dalam sejarah seolah-olah memang dialah yang telah membuat Liu Shan me- nyerahkan negerinya kepada Ke-rajaan Wei ''

Ia terus berbicara sambil masih memegang kedua pedang panjang yang telah bersih dari darah. Aku tidak merasa mampu menerjemahkan kata-kata selanjutnya, karena penguasaan bahasa Negeri Atap Langit yang sama sekali tidak sempurna, tetapi riwayat Huang Hao yang diucapkannya kulihat terda-pat pada sisa catatan dari bapak kedai yang belum kubaca. Aku menyesal tidak memiliki kemampuan membaca yang memadai sehingga tidak bisa membacanya dengan lebih cepat.

KEMUDIAN kudengar kedua pedangnya disarungkan. Segera kutahu itulah jenis pedang jian, yakni pedang panjang dengan dua mata atau dua sisi tajam. Pedang yang telah dibuat selama 1.300 tahun terakhir di Negeri Atap Langit ini memang untuk digunakan para penyoren pedang, dibuat untuk ilmu silat, tepatnya untuk ilmu pedang. Seperti apakah kiranya ilmu pedang yang dimilikinya? Di Jawadwipa atau Yawabhumipala, ilmu pedang yang banyak digunakan adalah ilmu pedang untuk pedang dengan satu mata atau satu sisi tajam, yang lebih tepat disebut golok, karena dalam kenyataannya juga digunakan demi keperluan sehari-hari seperti memotong dahan dan ranting atau membelah kayu bakar. Hanya para pendekar ilmu pedang yang ilmunya sudah lebih tinggi, akan memegang pedang dengan dua sisi tajam dan memainkan ilmu pedang yang diciptakan hanya untuk pedang seperti itu.

Dengan demikian pedang jian disebut juga sebagai pedang ksatria, karena dibuat hanya demi ilmu pedang. Seperti yang pernah kudengar dari Iblis Suci Peremuk Tulang, keberadaan pedang ini sekitar seratus tahun lalu dicatat berawal dari kekuasaan Masa Musim Semi dan Musim Gugur, dan sejak itu mulai beredar ke mana-mana di Negeri Atap Langit. Panjangnya antara dua sampai tiga depa, dan beratnya pun bermacam-macam, seberat timbangan yang menengah sampai terberat. Meskipun terkadang tampak sebagai baja tipis yang hanya tepat untuk hiasan, karena kelenturannya memberi kesan ringan, tetapi tidak ada pedang baja yang ringan. Hanya tenaga dalam tingkat tinggi dan kecepatan bergerak melebihi kilat akan memberi kesan ringan itu.

Kudengar ia menaiki kuda dan pergi menjauh, sementara dua belas kuda lain, yang semua penunggangnya telah tewas, mengikuti saja kuda yang terdepan perlahan-lahan. Di balik kabut kudengar ia menggerutu, tetapi tidak jelas bagiku apa yang diucapkannya. Apakah ia menggerutu tentang kuda, ataukah para penunggang yang terpaksa dibunuhnya, ataukah karena suatu rencana yang gagal dan kini ia mendapat masalah karenanya? Bagiku, yang semula mendapatkan banyak hal dari percakapan, seperti yang menjelaskan perihal orang-orang kebiri itu, rasanya bagai tenggelam kembali dalam kebisuan. Bahkan kebisuan yang berbahaya, karena jika semula segala percakapan membuat yang berbicara tidak terlalu peduli kepada suara apa pun jua, kebisuan ini akan membuat seseorang mendengar segala suara lain.

Kecuali jika betul-betul tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan kemudian bahkan kudengar ia bersenandung.

Orang aneh! Namun betapa yang disenandungkannya sungguh menggugah. Kata-katanya yang sederhana membuat diriku dapat mengikutinya:

jika dikau ingin sesuatu mengerut dikau harus memuaikannya dulu jika dikau ingin sesuatu melemah dikau harus menguatkannya dulu jika dikau ingin sesuatu menyingkir dikau harus membangunnya dulu jika dikau ingin mengambil sesuatu dikau harus memberikannya dulu

inilah yang disebut ketajaman nan halus yang tunduk dan lemah

akan mengatasi yang keras dan kuat

ikan jangan boleh meninggalkan kedalaman alat kekuasaan negara

jangan diungkapkan ke semua orang

Inikah ujaran Laozi dalam Daodejing yang disebut juga sebagai Kitab Kebijakan dan Kebajikan itu? Tentu saja aku pernah mendengar ujaran-ujarannya dikutip dalam perbincangan tentang pemikiran Dao. Namun tidak seperti biasanya seperti ketika mendengar ujaran filsafat, ujaran ini tidak membuat aku berpikir untuk mengolahnya dalam suatu pembermaknaan, karena lebih tertarik menghubungkan ujaran tersebut dengan kejadian sebelumnya, bahwa terdapat perbincangan yang melecehkan orang-orang kebiri sebelum para pengawal rahasia istana itu dibunuhnya dengan sepasang pedang jian dalam sekejap mata.

SEBAGAI nasihat kebajikan, pemikir Han Fei telah menafsirkan ikan sebagai penguasa, dan kedalaman sebagai daya kekuasaannya. Daya ini tidak boleh lepas dari tangannya, karena jika demikian, itu berarti membiarkan ikan meninggalkan kedalaman, yang tentu saja berarti kedudukannya menjadi lemah. Maksud nasihat ini, alat kekuasaan negara seperti penghargaan dan hukuman adalah senjata kembar, sebagai daya yang tidak boleh diungkapkan kerahasiaannya kepada pihak yang salah, karena pengetahuan tentang bagaimana mereka akan diperlakukan justru dapat menjadi sumber daya itu sendiri. Artinya ini ujaran yang lebih ditafs irkan sebagai nasihat, bahkan siasat, daripada filsafat, tetapi bagiku te lah bermakna dalam cara berbeda.

Aku memaknainya dalam pengertian seperti berikut: jika dua belas pengawal rahasia istana itu terbunuh karena ikan meninggalkan kedalaman, itu adalah rahasia yang tidak menjadi rahas ia lagi. Suatu rahas ia memiliki daya, hanya jika masih tetap merupakan rahasia. Aku tentu tak tahu apakah kiranya rahasia itu sebelumnya, tetapi aku layak menduga, bahwa jika setelah keduabelas pengawal rahasia istana itu melecehkan orang-orang kebiri dalam perbincangan mereka, lantas setelah pembunuh yang membantai mereka bicara tentang orang-orang kebiri juga dalam arti sebaliknya, maka masalah dibicarakannya orang kebiri itulah yang dimaksudkan sebagai ikan meninggalkan kedalaman.

Maka aku pun tidak semestinya merasa keliru jika menafsirkan betapa orang-orang kebiri itulah yang dimaksudkan sebagai alat kekuasaan, yang di sini tentu maksudnya kerajaan atau negara. Orang-orang kebiri itu mungkin tidak harus selalu dihubungkan dengan suatu pengertian tentang mengerut dan memuai, melemah dan menguatkan, menyingkirkan dan membangun, atau mengambil dan memberikan, yang kukira memang merupakan permainan dan pertimbangan kebijakan yang bisa juga terhubungkan dengan apa saja. Namun kukira, jika mengingat segala cerita yang kudengar maupun catatan dalam kitab gulungan dari bapak kedai itu, maka pertentangan pengertian seperti dalam ketajaman nan halus maupun yang tunduk dan lemah akan mengatasi yang keras dan kuat sangatlah tepat dalam hubungannya dengan kedudukan orang-orang kebiri dalam jaringan rahasia istana.

Terutama bahwa di balik pelecehan terhadapnya, orang- orang kebiri berperan sangat menentukan dalam menyimpan rahasia, menyampaikan rahasia, dan membuat semua rahasia itu tetap tersimpan selama-lamanya. Jika set iap pihak yang berbagi rahasia hanya mengenal bagian mereka sendiri dalam jaringan kerahas iaan itu, maka orang-orang kebiri mengetahui semua dalam keseluruhannya sampai yang sekecil-kecilnya. Dengan kelebihan pengetahuan ini dapat diterima kelayakannya dalam memberi nasihat, yang pada dasarnya menjadi nasihat menentukan, karena peluangnya untuk melakukan pengarahan. Peluang pengarahan ini yang selalu dicurigai keberadaannya, terutama karena berhubungan dengan kepentingan diri mereka sendiri. Betapapun memang peluang inilah yang menjadi ajang perma inan kekuasaan di antara orang-orang kebiri, antara mereka yang memanfaatkannya demi kelanggengan kedudukan mereka di istana, dengan mereka yang berusaha mencegahnya sebagai bagian pengabdian dan kesetiaan kepada negara dan raja.

Dapatlah dimaklumi sekarang, bahwa orang-orang kebiri itu tidak dapat begitu saja dapat disamakan, karena pertentangan di antara mereka sendiri membuatnya terdapat setidaknya dua pihak, yakni pihak yang bercokol di istana maupun yang tersingkir keluar karenanya. Sangat penting dipahami, bahwa pertentangan dapat berlangsung justru dapat karena kepentingannya yang sama, yakni ingin tetap bercokol dan menguasai jaringan rahasia istana.

JADI mereka yang kalah dalam persa ingan dan tersingkir keluar gelanggang, bukan hanya yang berusaha mencegah persekongkolan jahat dalam kesetiaannya kepada negara dan raja, melainkan mereka yang juga berusaha mengambil peluang demi kepentingannya sendiri maupun golongannya. Sebaliknya, dalam jaringan orang-orang kebiri di istana pun berlangsung pertarungan tersembunyi antara mereka yang pada dasarnya ingin berkuasa melalui raja, berhadapan dengan mereka yang ingin menghindarkan raja dari pengaruh buruk tersebut.

Demikianlah dari luar orang-orang kebiri ini hanya tampak sesuai dengan prasangka yang selalu ditimpakan kepada mereka, tetapi di dalamnya terdapat pertentangan saling bersilang yang sama sekali tidak sederhana.

(Oo-dwkz-oO)