Nagabumi Eps 164: Pembuntutan dan Pengintaian

Eps 164: Pembuntutan dan Pengintaian

AKU masih tetap berada di dalam gua sampai malam. Kubaringkan tubuhku sampai aku tertidur. Dalam mimpi entah kenapa terbayang kapal-kapal Sriv ijaya. Ketika terbangun kabut belum juga pergi, tetapi kudengar suara langkah kaki- kaki kuda, yang meski masih jauh tetapi dengan jelas perlahan-lahan mendekat.

Mereka berbicara menggunakan bahasa yang bercampur- campur, antara bahasa Viet dan Negeri Atap Langit, yang untunglah sebagian dapat kutangkap. Aku menengok ke luar gua, tetapi kabut yang memang masih pekat membuat aku tidak mungkin melihat apa pun.

Mungkinkah itu mereka? Agaknya kehilangan tujuh anggota rombongan membuat mereka memutuskan untuk terus berjalan sepanjang malam dan kini mendekati Celah Dinding Berlian. Aku melompat keluar dari gua dengan membuat tubuhku seringan mungkin, dan sama seperti yang dilakukan Seruling Maut aku berjalan-jalan dalam kabut mendekati suara-suara itu.

Aku bisa mengandalkan ilmu pendengaran Mendengarkan Semut Berbisik di Dalam Liang, tetapi untuk itu aku harus memejamkan mata, padahal aku ingin melihat mereka. Aku belum pernah melihat sosok Harimau Perang, sedangkan cerita tentangnya pun tidak pernah menyebutkan ciri-ciri sosoknya, yang membuatku mempertimbangkan bahwa Harimau Perang adalah nama tanpa sosok yang nyata

Pernah kuceritakan bahwa aku mengira Harimau Perang adalah nama tanpa sosok, artinya suatu jaringan kerahasiaan, tetapi mungkin juga memang ada sosoknya tetapi disamarkan begitu rupa dengan banyak cara, sehingga jika bukan orangnya tidak mungkin ditemui secara langsung, mungkin juga bukan hanya satu sosoknya. Harimau Perang bisa hanya jaringan, tetapi bisa dua, tiga, lima, atau dua belas sosoknya. Kini ketika tiba saat untuk tinggal melihat sosoknya, kabut menutupinya pula.

Namun kabut agaknya juga menyulitkan mereka. Kabut yang pekat membuat rombongan itu juga tak bisa melihat apa pun. Setiap orang di atas kudanya hanya dapat melihat bagian belakang dan kadang bahkan hanya ekor kuda di depannya, menengok ke belakang hanya kepala kuda di belakangnya, dan melihat ke bawah hanyalah kaki kudanya sendiri yang menapaki jalanan batu. Kabut pekat yang turun di lautan kelabu gunung batu pada malam yang dingin dan gelap, sementara jalan yang ditempuh tiada lebih dan tiada kurang adalah jalan setapak yang hanya kadang-kadang saja melebar, di tepi jurang yang sangat curam.

Telah kugambarkan bahwa jalan sempit itu jika di sebelah kanan terdapat jurang yang dalam, maka di sebelah kirinya tentu dinding tebing yang tidak memberi riang, karena jalan setapak memang melingkar-lingkar di pinggang gunung- gunung batu dengan puncak menjulang. Dari gunung yang satu ke gunung yang lain, jika jalan melingkar-lingkar itu tidak menurun sebelum naik lagi, tentu menyeberang dari pinggang yang satu ke pinggang yang lain, atau dari puncak gunung yang satu ke puncak gunung yang lain, melalui titian batu yang menghubungkan gunung yang satu dengan gunung yang lain. Titian batu yang lebarnya hanya cukup untuk satu orang di atas kudanya ini kadang sangat amat panjang, tentu tanpa pagar dan pengaman apapun di tepi kiri maupun kanan.

Titian itu sebagian besar diberikan oleh alam, meski kadang begitu halus, lurus, mulus, dan serba terukur, bagaikan tidak mungkin terbentuk tanpa sentuhan tangan-tangan manusia. Namun ada pula sejumlah titian yang jelas disediakan oleh manusia, seperti titian-titian gantung yang dasar pijakannya adalah papan-papan kayu yang diikat tali rotan dan memang kuat sekali, tetapi ada juga titian-titian yang sekadar terbuat dari bambu, tali rami, dan batang-batang cemara, yang memang maksudnya hanya menyingkat jalan untuk sementara, tetapi terus menerus dipakai juga bertahun-tahun lamanya, sehingga tidak terjam in lagi ketahanannya menopang penyeberang berkuda.

Dalam lingkungan seperti itulah kabut ini turun, yang membuat rombongan itu merayap perlahan setapak demi setapak, masih mendaki pula sebelum mencapai Celah Dinding Berlian. Kabut membuat dinding yang padat, keras, dan halus seperti berlian itu tidak memantulkan cahaya ke angkasa diredam kabut yang kepekatannya dalam gelap malam bukan alang kepalang.

Mereka menempuh perjalanan dengan susah payah, aku pun susah payah mengikutinya, karena selain hanya suara- suara yang terdengar dalam kabut, juga harus kujamin diriku sendiri bahwa napas dan detak jantungku sebaiknya disembunyikan. Karena apapun alasannya, rombongan ini tidak boleh mengetahui, bahkan meski jika hanya berjaga-jaga seandainya dibuntuti orang.

MAKA aku pun masih berada di dalam kabut, dan mengikutinya juga bersama kabut yang bergerak perlahan di atas jurang, karena dengan cara ini suara apa pun makin kecil kemungkinannya ditimbulkan. Jalanan sempit berkelak-kelok di pinggang gunung, tetapi kabut merambat lurus tidak berbelok-belok, sehingga selama kabut menyelimuti se luruh lautan kelabu gunung batu dengan kepekatan yang hanya memperlihatkan pemandangan sedepa di muka, maka aku bisa bebas bergerak mendekat atau menjauh seperti yang kubutuhkan dalam pengintaian. Namun aku tak mungkin mendekat sampai sedepa, itu terlalu dekat dan mereka akan melihatku pula. Jadi sangat kujaga jarak dengan mereka, dan hanya terdengar suara percakapan mereka.

"Hhhh. Dingin, gelap, berkabut pula, mengapa kita tidak tinggal ke pemukiman tempat rombongan itu menuju? Tidakkah dikau lihat betapa cantiknya perempuan-perempuan wayang itu? Sebaiknya kita tidur bersama mereka, alangkah hangat berada dalam pelukan mereka di bawah selimutnya! Brrrr..."

"Ya, dan besoknya dirimu sudah tidak bernyawa. Orang- orang Kalakuta saja dikau lihat sendiri hanya tinggal kudanya."

"Ah, hanya lima perempuan, dan lima lelaki yang keperempuan-perempuanan. Orang-orang Kalakuta dibunuh oleh pengawalnya. Salah sendiri menantang bertarung orang- orang gunung yang buas."

"Jangan terlalu merendahkan perempuan wayang, dikau tahu bagaimana banyak mata-mata menyamar jadi perempuan wayang, atau perempuan wayang itu sendiri dijadikan mata-mata, dengan perintah membunuh pula."

"Perempuan wayang di pelosok seperti ini, siapa pula yang harus diawasi? Mereka mengamen dari pemukiman penduduk asli yang satu ke pemukiman yang lain. Karena bayarannya sedikit, mereka tidur dengan siapa pun yang bersedia membayar."

"Penduduk asli kata dikau? Penduduk asli? Bagaimana dikau yakin ada yang masih asli di sini, jika sepanjang sejarah lautan gunung batu ini para pemberontak yang terkalahkan mengalir kemari dan tidak pernah pergi lagi, sehingga dikira lenyap ditelan bum i?"

"Tapi kelima perempuan wayang itu bukan mata-mata! Memangnya mereka bertugas untuk siapa? Atau dikau lebih tertarik kepada lima lelaki yang keperempuan-perempuanan itu. Kuperhatikan salah satunya menatapmu dengan sendu! Hahahahaha!"

Agaknya kepada siapa kalimat ini ditujukan ternyata mengakibatkan kemarahan, karena tiada terdengar jawaban. Suara lain seperti mencoba menjawabkan. "Jangan sembarangan bicara, kita semua anggota pengawal rahas ia di sini, tahu sekali apa yang perlu dan tidak perlu dimata-matai, dan juga tetap jaga kehormatan pribadi. Tugas kita resmi sekarang ini, dan memang sejak awal sudah resmi, jadi jangan sampai ada kejadian lagi. Kita telah mempertimbangkan untuk kembali, karena kejadian yang diceritakan para pengwal perjalanan mencurigakan sekali, tetapi kita telah memutuskan untuk menyelesaikan tugas apa pun yang terjadi. Jadi waspada dan hati-hatilah, perjalanan ini masih lama sekali. Celah Dinding Berlian saja belum terlewati."

Kini aku tahu bahwa sisa tiga belas orang dalam rombongan itu, jika yang tujuh dari yangduapuluh adalah anggota kelompok rahasia Kalakuta, maka kini tinggal duabelas anggota pengawal rahasia istana untuk menjaga keselamatan seorang Harimau Perang.

Di antara orang-orang yang berbicara itu, adakah kiranya suara Harimau Perang? Aku tidak punya dasar untuk menebaknya. Namun perbincangan mereka menyadarkan aku kepada pentingnya membongkar dan menyimpan rahasia dalam persaingan kekuasaan. Bukankah Sun Tzu yang berkata, bahwa mengetahui lebih dahulu adalah paling utama? Kuingat kembali yang mungkin pernah kutulis:

yang menyebabkan raja bijaksana dan panglima ulung bergerak dan mengalahkan musuh

dan mencapai hasil yang melampaui apa yang dapat dicapai orang banyak ialah mengetahui lebih dulu

Tentu lantas ia katakan pula betapa orang yang mengetahui keadaan musuh ini adalah mereka yang ditugaskan sebagai mata-mata, seperti juga yang dinasehatkan oleh Arthasastra kepada para raja.

INI membuat jaringan rahas ia menjadi sangat menentukan, karena tanpa menjadi bagiannya segenap pengetahuan ibarat dongeng yang menyesatkan. Harimau Perang yang telah mendapat segenap keterangan dari segenap jenis mata-mata, mulai dari mata-mata setempat, mata-mata dalam, mata-mata rangkap, mata-mata mati, maupun mata-mata hidup, telah berhasil membuyarkan kepungan pasukan pemberontak, yang sebetulnya sudah berada di depan pintu kemenangan.

Kini Harimau Perang yang namanya begitu terkenal, tetapi yang sosoknya tersembunyi berada sangat dekat denganku, tetapi tidak juga dapat kupandang. Bahkan aku yakin ia juga belum kudengar suaranya sama sekali. Memang adakah dia? Atau tidak adakah dia? Aku sendiri belum tahu bagaimana caranya akan dapat memecahkan teka-teki yang ditinggalkan Amrita, yang jelas menyebut Harimau Perang sebagai penyebab segalanya. Aku hanya harus waspada, bahwa penyebab segalanya tidak langsung bisa ditafs irkan betapa Harimau Perang itu sendirilah penyebabnya. Apalagi jika keberadaannya pun ternyata tidak pernah dapat dipastikan. Kabut yang bergerak membawaku ke sebuah pohon siong yang sering terdapat di gunung-gunung batu. Batangnya berkelak-kelok seperti tubuh penari, demikian pula ranting- rantingnya berbelok-belok seperti tangan menari-nari. Tumbuh hanya satu-satu di berbagai sudut kelokan jalan, sering terdapat di dalam lukisan-lukisan gulung yang memanjang, menjadikan pemanis suasana yang dengan segala kecuraman jalan di pinggang gunung telah menjadi sangat mencekam. Aku menempel pada sebuah rantingnya seperti benalu, sehingga aku dapat menunggu mereka lewat di bawahku, dan dapat mengikuti dari belakang, karena kabut semula telah membawaku melewati rombongan itu.

Kuikuti perbincangan mereka sedekat mungkin karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan mengetahui segala sesuatu, yang pada mulanya mungkin tidak terlalu penting, tetapi kemudian ternyata sangat menentukan. Sebuah ujaran dari Ajaran Besar menyebutkan:

apa yang memang berada di dalam akan terwujud tanpa apa pun

Itulah soalnya, bagaimana kewujudan tanpa apa pun itu bisa diketahui tanpa pengintaian yang rinci? Mereka lewat di bawahku.

"Hhhhh ! Dingin sekali! Mataku rasa-nya te-rus-menerus minta dipejamkan!"

"Jangan sampai dikau pejamkan matamu itu!"

"Ya! Jangan! Nanti semuanya akan selesai! Benar-benar selesai karena mata yang terpejam itu tidak akan pernah bisa dibuka lagi!"

Kabut lantas berpendar karena angin, dan angin itulah yang kemudian sungguh-sungguh membekukan tulang. Seseorang kemudian membicarakan sesuatu yang tampaknya memang harus kuketahui.

"Orang-orang kebiri itu! Mereka sungguh enak berada di dalam istana yang hangat. Nanti di Changian akan kutanya mereka, mengapa kita harus melewati gunung gemunung batu yang tiada habisnya ini, dan tidak melewati laut seperti biasa."

"Apakah dikau lupa bahwa mereka menunggu kita di jalur pegunungan ini?"

"Ya, tapi di kedai itu tidak ada apa-apa bukan?"

"Mereka mengetahui sesuatu tetapi tidak mengatakannya." "Aneh, mengapa kita tidak tetap tinggal di sana dan

memastikannya?"

"Ah, dikau pun tahu, jika mereka tidak ingin mengatakannya, tidak ada yang dapat kita ketahui pula."

"Kita bisa memaksanya!"

"Tidakkah dikau lihat kita berada di mana? Kedai itu hanya tempat mengawasi siapa yang lewat. Orang-orang itu tidak tinggal di sana tanpa hubungan dengan tempat-tempat lainnya. Lagipula kita dikejar waktu, kita tidak bisa berhenti lama-lama."

"Pesan itu mengatakan, jika kita belum sampai di Celah Dinding Berlian, mereka akan menunggu kita di kedai itu.i

"Jadi kalau mereka belum ada di kedai itu, berarti mereka menunggu di Ce lah Dinding Berlian."

"Itu yang kupikirkan. Barangkali orang-orang yang seharusnya menunggu kita itu sudah tiba di Celah Dinding Berlian, tetapi karena lama menunggu kita yang belum datang juga, lantas melanjutkan perjalanan ke kedai, dan di sana terjadi sesuatu bahkan sebelum orang-orang Kalakuta itu tiba." "Darimana dikau bersimpulan seperti itu?"

"Ada banyak sekali jejak kuda di la-pangan rumput itu. Namun tadi hari sudah mulai gelap dan cuaca begini buruk, jadi tidak jelas berapa banyak, padahal yang akan menemui kita juga banyak bukan?"

"Delapan orang."

"Ya, delapan orang dengan kuda be-ban, dan tadi kuperhatikan terdapat jejak-jejak yang dalam. Itu jejak kuda beban!"

"Dikau sudah mengatakannya dari tadi, tetapi dikau pun tahu, kita dikejar waktu!"

"Aku rasa kita terlalu gegabah mene-ruskan perjalanan tanpa tahu apa yang sudah terjadi di kedai itu. Bisa saja orang-orang itu memang sudah tiba di kedai itu, lantas terjadi sesuatu."

"Ya, tapi bisa saja mereka ternyata se-dang menunggu kita di Ce lah Dinding Berlian."

"Rombongan wayang itu juga mengatakan tidak bertemu siapa pun!"

"Arti-nya bisa saja mereka bahkan be-lum mencapai Celah Dinding Berlian bu-kan?"

Mereka semakin jauh dari pohon siong tempat aku menempel di cabangnya seperti benalu. Aku harus berpindah tempat.

Maka aku pun melangkah dengan sa-ngat hati-hati di dalam kabut, karena mes-kipun memang tidak terlihat sama sekali, siapa pun yang berilmu tinggi akan men-dengar sesuatu, bahkan tahu terdapat se-orang penyusup di dalam kabut itu jika sembarang melangkah tanpa peduli.

Sebetulnya para pengawal rahas ia ista-na lebih dari mengerti perihal ilmu-ilmu penyusupan semacam ini, tetapi keadaaan yang dihadapinya sekarang ini bukanlah sembarang malam yang sunyi dan sepi, melainkan malam sunyi dan sepi di lautan kelabu gunung batu dalam perjalanan panjang yang berat sekali. Malam memang sunyi dan sepi, tetapi dingin angin, kepekatan kabut, dan kewaspadaan tinggi terhadap segala kemungkinan berdasar-kan segala cerita tentang para penyamun dan orang-orang yang tersingkir ke wilayah perbatasan takbertuan di lautan kelabu gunung batu ini tidak akan membuat dunia tetap sunyi dan sepi. Sebaliknya, dalam kesunyian dan kesepian di tengah a lam yang begitu luas bagai takberhingga ini selalu berlangsung pertarungan antarmanusia yang menegangkan sekali...

Ini bukan tidak disadari rombongan pengawal rahas ia istana yang bertugas menjaga keselamatan Harimau Perang yang sedang kuikuti, karena mendadak tidak kudengar lagi percakapan, bahkan langkah kuda pun terhenti. Mereka memang diam dan berhenti!

Agaknya mereka telah menggunakan bahasa isyarat, karena tidak terdengar suara apapun, tetapi bagaimana caranya saling bercakap dengan bahasa isyarat dalam kepekatan kabut yang tidak memperlihatkan apapun seperti ini, itulah yang belum kumengerti.

Aku pun menahan napas dan tidak bergerak sama sekali.

Aku diam dan mereka juga diam. Apakah diriku telah melakukan sesuatu yang membuat mereka seperti mendengar sesuatu? Kukira tidak, karena aku bukan hanya menjaga gerak tubuh, melainkan juga embusan nafas dan detak jantungku. Namun aku mengerti juga apa yang ke-mungkinan telah terjadi, karena memang sering mengalami meski tidak mampu menjelaskannya sama sekali.

Mereka yang terlatih membaca ke-adaan, meski tidak melihat atau mende-ngar apa pun, akan mempunyai firasat. Aku tidak terlihat dan tidak memperdengarkan suara apapun, bahkan cuaca dan keadaan alam mengalihkan perhatian siapa pun kepada apa pun. Namun berada begitu dekat kepada mereka yang terlatih dan berpengalaman, terutama justru dalam menghadapi ilmu-ilm u penyusupan, jelas tidak mungkin berlangsung tanpa menimbulkan akibat sama sekali.

Sebelum mereka yakin terdapat se-orang pengintai di sekitarnya, dan me-ngambil keputusan tidak terduga, aku harus mengambil keputusan lebih dulu.

Maka kubiarkan diriku terbawa kabut menjauh, karena jika tetap berada di tempat dan tetap berada di dekat mereka, akan sangat berbahaya seandainya kabut meni-pis atau berpendar tiba-tiba. Apalagi mereka tidak perlu melihat apapun untuk me-lepaskan pisau-pisau terbangnya secara mendadak bersama-sama.

Kubiarkan kabut membawa diriku menyeberangi jurang, sementara jalanan itu berkelok ke dalam, untuk kembali me- raih cabang sebuah pohon siong dan me-nempel lagi seperti benalu untuk menanti mereka di situ.

Meski agak jauh, dapat kudengar kuda mereka melangkah lagi, pelahan mendaki menapaki jalan sempit berbatu-batu.

Jarak ini membuat aku sempat memikirkan sesuatu.

Pertama, yang mereka nantikan tentu para penyoren pedang yang tujuh orang telah dibunuh oleh Pendekar Kupu- kupu, dan satu orang terlebih dahulu bunuh diri itu; kedua, mereka berhubungan dengan orang-orang kebiri di istana kemaharajaan di Chang'an; ketiga, delapan penyoren pedang itu ternyata membawa mayat seorang kebiri yang sudah terpotong-potong; keempat, bapak kedai bercerita banyak dan menyerahkan kepadaku suatu naskah mengenai orang-orang kebiri. Mungkinkah ini dirangkaikan ataukah sebaiknya dianggap hanya kebetulan? Aku teringat betapa naskah gulungan itu belum habis kubaca, dan kini aku teringat betapa wajah bapak kedai itu sebetulnya tidak seperti orang yang menyerahkannya tanpa maksud apapun. Ia bercerita kepadaku dan menyerahkan naskah gulungan bertuliskan aksara Negeri Atap Langit itu memang karena ada tujuannya! Betapa diriku sangat tidak peka!

Tidak mungkin membaca naskah yang ada di balik bajuku itu sekarang, lagipula rombongan itu mulai mendekat lagi. Tampaknya mereka sudah merasa agak lebih aman dan mulai bercakap-cakap lagi. Harus kuakui, dalam suasana mencekam seperti ini, bercakap-cakap demi perasaan terdapatnya teman- teman seperjalanan memang perlu sekali. Sayang sekali betapa hal semacam itu mesti mereka alami, karena percakapan mereka itu seharusnya tidak terdengar, meskipun hanya oleh dinding batu, angin, kuda, pepohonan, apalagi diriku yang menempel seperti benalu di atas pohon siong ini!

Mereka tampak menjaga agar tidak bicara terlalu keras, tetapi aku masih mendengarnya. Kepekatan kabut yang memang tidak memperlihatkan apa pun membuat perjalanan mereka amat lambat, ibarat kata hanya mengandalkan naluri kudanya, terutama yang paling depan, yang setiap kali sebelum melangkah, memastikan dengan ketukan kakinya, bahwa ada yang dapat dipijak di depannya. Jika tidak, dan seekor kuda terus saja melangkah, maka bersama penunggangnya tentu akan langsung masuk jurang. Adapun jatuh ke dalam jurang adalah bencana yang sangat mengerikan.

Waktu mereka mendaki jalan berbelok di tepi jurang tempat pohon siong ini berada, sebetulnya tidak kulihat apapun kecuali suara percakapan mereka.

''Orang-orang kebiri itu, kalian tahu, meskipun boleh membakar kemenyan, diiz inkan berpuasa, dan menyumbangkan uang atau barang, mereka tetap dilarang mendekati altar pemujaan dewa utama.''

''Kalau begitu mereka disamakan dengan orang pincang, orang yang tubuhnya berubah bentuk, tidak punya mata, tidak punya anggota badan..''i

''Bahkan sama dengan perempuan yang datang bulan!'' ''Datang bulan seumur hidupnya!''

''Hihihihihihi...''

''Sssstttt!''

Mereka terdiam sejenak, tetapi tidak tahan untuk bercakap kembali, seperti kataku, karena cuaca ini akan membuat seseorang tertekan dalam kebisuannya. Kepekatan kabut seperti ini bisa membuat seseorang merasa sangat amat sendiri, dan hanya dapat mengatasi keadaan ini dengan meyakinkan dirinya sendiri betapa ia telah berbicara dengan seseorang.

''Gara-gara pengebirian itu suara mereka menjadi tinggi, seperti...''

''Gagak!''

''Ya, mereka memang disebut gagak-gagak.''

''Mereka juga segera dikenali karena leher mereka yang menjulur panjang, perilaku seperti anjing yang ikut ke mana pun majikannya pergi, maupun bentuk tubuhnya yang menggelembung.''

''Padahal kalau sudah tua orang kebiri tua tidak seperti itu.'' ''Seperti apa?''

''Dalam berbagai bentuk, mereka menjadi kurus dan keriput seperti perempuan tua!'' ''Dari cara jalannya saja kita sudah tahu orang itu dikebiri atau tidak.''

''Seperti apa jalannya?''

''Kakinya yang kurus kecil itu seperti dempet, langkahnya pendek-pendek.''

''Apakah pengebirian itu yang membuatnya begitu? Ataukah memang ada peraturan bagi orang kebiri untuk berjalan seperti itu?''

''Aku tidak tahu.''

''Tapi benarkah mereka itu tubuhnya mengeluarkan bau tidak enak?''

"Bau tidak enak? Bilang saja bau kencing!" "Bau pesing!"

"Ya, bau pesing!" "Benarkah itu?"

"Lama setelah kelaminnya dipotong tanpa sisa, banyak orang kebiri muda yang masih membasahi ranjangnya waktu tidur, karena belum bisa menahan kencing, dan bukan hanya ranjang, tapi juga baju dan se luruh tubuhnya ikut menjadi basah. Maka kalian tahu bau seperti akan meruap dari orang kebiri itu."

"Katanya mereka dihukum cambuk kalau tubuhnya masih bau."

"Memang, sampai mereka sanggup tidak membasahi diri dengan air kencing mereka sendiri yang bocor ke mana-mana itu."

"Kalau belum sanggup?"

"Mereka akan terus dicambuk. Kadang bekasnya terbawa sampai tua." "Makanya mereka disebut juga 'kebiri bau'?"

"Ya, meskipun misa lnya sudah tidak bau dan tidak dicambuki lagi, sebagai bagian dari pendidikannya."

"Kebiri bau... Hehehe..." "Hehehehehe!" "Sssstttt!"

Mereka melewati tempatku bersembunyi di atas pohon siong. Mengingat jarak penunggang kuda terdepan sampai penunggang kuda di belakang, tentu tidak mungkin percakapan berlangsung dalam bisikan.

"Oh, maka kemudian dikenal istilah, 'bau seperti orang kebiri' itu?"

"Ya, asalnya dari masalah seperti itu, sampai disebutkan, bau mereka bisa tercium dari jarak yang jauh sekali."

"Kasihan sekali mereka ya?" "Huh! Kasihan? Untuk apa?"

"Karena mereka sudah merelakan diri kelam innya dipotong demi pengabdian, masih diburuk-burukkan pula."

"Bukankah mereka itu memang buruk?" "Buruk?"

"Buruk sifatnya, buruk pula kelakuannya, sampai disebut Kalkun Tua. Tapi jangan katakan ini di depan mereka. Nanti dikau mati tak jelas sebabnya."

"Ya, hati-hati di hadapan mereka nanti, orang-orang kebiri sangat peka terhadap apa pun yang berhubungan dengan kekurangan mereka."

"Ya, hati-hati. Kata-kata seperti 'teko tanpa pipa' atau 'anjing tanpa ekor' tidak akan pernah diucapkan di depan mereka." Dalam kepekatan dan kegelapan aku tersenyum, dapat dipastikan bahwa mereka memang berurusan dengan, atau setidaknya melalui, orang-orang kebiri. Untuk seorang pengintai yang menempuh marabahaya demi sepotong keterangan, hasil seperti ini sesuai dengan tingkat kesulitan yang harus kujalankan.

Namun setelah itu aku sungguh terperanjat dan terkejut di luar dugaan.

(Oo-dwkz-oO)