-->

Nagabumi Eps 163: Tarian Pohon Yangliu

Eps 163: Tarian Pohon Yangliu

Tarian Luyao disebut juga sebagai Tarian Pinggang Hijau. Makna sebenarnya mungkin harus dicari sendiri, ketika set iap orang mendapatkan penemuannya masing-masing, karena bukan saja tidak mungkin terdapat satu saja kebenaran dalam pembermaknaan, melainkan juga bagaimana caranya menceritakan kembali gerak tarian dan bunyi-bunyian?

di selatan sana diturunkan kein-dahan surgawi ia menari dengan pinggang yang langsing berayun indah sekali

Kalimat itulah yang selalu dikatakan tentang tarian tersebut, yang masih juga merupakan tarian kata itu sendiri. Istilah Pinggang Hijau tampaknya lebih ditujukan kepada pohon yangliu yang sering terlihat di tepi sungai dengan daunnya yang kecil-kecil dan ranting-rantingnya yang lemas kalau tertiup angin tampak bergerak-gerak gemulai seperti para penari ini. Kelima perempuan penari mengganti busana warna-warni mereka itu dengan kain tipis untuk menari berwarna hijau. Busana itu pada bagian pinggangnya terputus, sehingga menjadi dua bagian, atas dan bawah, maksudnya tentu agar dalam segala gerakannya dapatlah terlihat pinggang yang langsing itu, yang se-bentar tertutup sebentar terlihat begitu putih begitu mulus seperti pualam.

Busana itu rupanya sudah mereka kenakan, sehingga memang tinggal mereka buka saja busana terluar warna-warni yang juga merupakan penahan dingin itu. Mungkin karena tarian ini memang sudah sangat terkenal dan disukai rakyat Negeri Atap Langit semasa pemerintahan Wangsa Tang, maka mereka harus selalu siap me-mainkannya selama melewati pemukiman demi pemukiman sepanjang lautan kelabu gunung batu, dan karena itulah busana untuk Tarian Luyao berwarna hijau itu sudah mereka kenakan di balik baju dingin mereka yang berwarna-warna.

LIMA perempuan bergerak rampak, kadang pelahan penuh penghayatan menjatuhkan kepala ke belakang dengan tangan meraih dan melambai ke belakang, yang membuat pinggang ramping mereka terlihat dari depan, kadang pula cepat ketika melompat-lompat riang, dalam iringan bunyi-buny ian yang dipetik, ditabuh, digesek, dan ditiup kelima lelaki yang keperempuan-perempuanan. Sangatlah sulit bagiku menceritakannya dengan jaminan bahwa akan terbayang kembali pertunjukan itu, jadi lebih baik kuceritakan bagaimana Tarian Luyao yang berusaha menggambarkan pohon yangliu itu bermakna kepadaku.

Telah kusebutkan bagaimana pohon yangliu sepanjang tepi sungai terpandang bergerak lemah gemulai seperti penari ketika tertiup angin, karena bukan hanya daun-daunnya tetapi juga ranting-rantingnya memang akan bergerak-gerak seperti lambaian tangan penari yang lemah gemulai. Tentulah suatu tarian alam yang penuh pesona. Namun agaknya lebih penuh dengan pesona lagi bagiku adalah kemampuan penari-penari tersebut menggambarkan lemah gemulainya daun-daun bahkan sampai ke ranting-rantingnya. Tentu bukanlah bagaimana manusia bisa menjadi m irip seperti pohon yangliu tertiup angin yang melambai-lambai lemah gemulai, melainkan betapa keindahan pohon-pohon yangliu yang merunduk tertiup angin sepanjang tepi sungai itu dapat ternyatakan kembali dalam tarian manusia. Apalagi ditambah suara bunyi-buny ian yang meskipun tentu tidak sama ternyata dapat mengembalikan suasana deru angin, kerisik dedaunan yang tertiup angin, maupun gambaran permukaan sungai mengalir yang seolah-olah terseret embusan angin. Sekali lagi bukanlah kemiripannya, melainkan betapa keindahan alam dapat terpindahkan dalam keindahan seni gerak dan bebunyian yang dibuat manusia. Kecapi yang dipetik, seruling yang ditiup, tambur yang ditepuk, dan gesekan pada dawai tiadalah terdengar lagi sebagai angin menderu dan dedaunan gemerisik itu, melainkan sebagai keindahan dan hanya keindahan itu sahaja, yang ketika saling jalin menjalin dengan gerak Tarian Luyao bagai membuatku sedang berada entah di mana.

Alam memang sangat penting dalam pemikiran Kaum Dao, yang meskipun tidak menganjurkan dalil tertentu tentang seni, tetapi kekaguman mereka atas gerakan sukma yang bebas dan pemujaan terhadap alam menjadi sumber gagasan para seniman Negeri Atap Langit. Dalam berbagai lukisan pemandangan yang pernah kulihat di Kuil Pengabdian Sejati, selalu terlihat di kaki gunung atau di tepi sungai, seseorang sedang duduk menghayati keindahan pemandangan dan merenungkan Dao atau Jalan yang mengatasi baik manusia maupun alam.

Sebuah puisi ditulis Dao Jie yang hidup sekitar seribu tahun sebelum masaku ini, seperti yang pernah kupelajari juga di Kuil Pengabdian Sejati.

kubangun pondokku di wilayah pemukiman manusia tetapi di dekatku tak kudengar suara kuda atau kereta inginkah kau tahu bagaimana itu mungkin?

hati yang berjarak ciptakan keliaran di sekitarnya kupetik bunga serunai di bawah pagar timur

dan lama menatap perbukitan jauh di musim panas udara pegunungan segar pada senja hari sepasang demi sepasang burung beterbangan pulang dalam semua ini terdapat makna yang dalam

tetapi ketika dinyatakan, kata-kata mendadak tinggalkan kita

Terbayang olehku pengembaraan rombongan ini berbagi keindahan, dari pemukiman yang satu ke pemukiman lainnya di sepanjang lautan kelabu gunung batu. Jalan setapak yang hanya sempat kulihat ujungnya karena segera menghilang di balik kabut dan semak-semak di tepi jurang. Itulah jalan menuju berbagai pemukiman terpencil dan tersembunyi di wilayah ini. Mereka bukan penyamun dan bukan pula pemberontak, melainkan penduduk asli yang hidup dengan sangat sederhana, yang akan menyambut gembira rombongan sandiwara keliling yang membawakan segala macam cerita.

Saat kutatap pertunjukan mereka yang hanya untukku saja, terbayang bagaimana penduduk di berbagai pemukiman itu akan menjadi bahagia, menyaksikan tarian dan bebunyian yang diterima sebagai warta, karena tidaklah setiap orang di dunia ini adalah pengembara. Barangkali te lah mereka jelajahi lautan kelabu gunung batu, tetapi besar kemungkinan tidak pernah meninggalkannya. Aku sangat ingin mengenal penduduk asli lautan kelabu gunung batu ini, yang karena banyaknya pemberontak berdatangan dan meneruskan kehidupan sebagai penyamun pula, terdesak semakin dalam di wilayahnya sendiri, bagaikan binatang terpaksa bersembunyi di dalam liang agar tidak dimangsa binatang yang lebih buas dan ganas.

ALIH-ALIH menyaksikan tarian, dalam kepalaku terbayang dugaan tentang berbagai pemukiman lautan kelabu gunung batu, yang tidak hanya terdiri atas penduduk asli, melainkan juga para pemberontak yang melarikan diri dari hukuman mati, maupun penjahat kambuhan dari kota, yang tidak punya tempat lain lagi untuk hidup dalam perburuan para petugas pemerintah, maupun para pemburu hadiah uang yang sangat bernafsu memenggal kepala mereka. Selama perjalanan mengarungi lautan kelabu gunung batu ini, memang tidak pernah kulihat maupun kuketahui sesuatu seperti pemukiman dari orang-orang yang kujumpai di tengah jalan. Para penyamun muncul dan menghilang di balik kabut, sementara tujuan perjalanan menjauhkanku dari segala jalan setapak yang lenyap di balik semak. Hanya kedai itu saja semacam pondok yang pernah kujumpai, tetapi itu bukanlah pemukiman sama sekali.

Mereka menyambung Tarian Luyao dengan Nyanyian ''Chunjianghuayueye'' yang artinya Rembulan di Atas Sungai pada Malam Musim Semi, dengan hanya sebatang xi'an atau seruling bambu mengiringinya. Kulihat mereka membawakannya dengan sangat khusyuk, dan para pengawal perjalanan yang seperti hanya mengerti urusan kekerasan dan tenaga kasar tampak sangat mampu memahami. Kata-kata berbau sastra yang dinyanyikannya, bagiku yang baru mulai belajar bahasa Negeri Atap Langit sedikit demi sedikit, sangatlah sulit untuk dimengerti. Namun suara tunggal seruling besar, yang mengiringi gerak amat sangat perlahan itu, memang menerjemahkan kembali ketenangan permukaan sungai mengalir yang memantulkan bulan di langit. Terbayang kembali olehku suasana malam yang membiru. Pantulan cahaya rembulan di mana pun yang keperak-perakan selalu bersemu kebiru-biruan.

Permukaan sungai berkilat kebiru-biruan, dedaunan di tepi sungai berkilat kebiru-biruan, kelelawar berkelebat di tengah malam juga kebiru-biruan. Tentu pengalaman batin setiap orang sangat menentukan dalam penafsiran. Aku mengerti betapa siapa pun yang mendengarkan tentu akan sangat terbawa kepada kejernihan dan kelembutan seperti juga tampak dalam cara membawakan nyanyian. Namun bagi mereka yang hanya mengenal anak-anak sungai kecil melintas jalan sempit dan celah jurang di antara batu-batu besar, bagaimanakah akan dapat membayangkan pantulan rembulan yang kebiru-biruan di atas permukaan sungai besar yang mengalir perlahan? Entah kenapa aku lantas teringat Harini yang sudah lama kutinggalkan. Kukira dia sudah kawin, beranak, dan bahagia di Balingawan. Tentu telah dibacanya pula segala kitab dalam peti kayu yang kutinggalkan di rumahnya.

Aku menghela napas panjang. Udara kembali pekat dan kelabu. Rombongan itu telah siap untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka semua kini telah berada di atas kudanya.

Mereka semuanya menjura.

''Selamat tinggal Kawan, maafkan bahwa kami harus berangkat, karena kehadiran kami dinantikan oleh sebuah upacara dan pesta, yang jauhnya masih satu hari perjalanan lagi dari sini. Terima kasih atas segalanya,'' ujar kepala rombongannya.

Aku pun menjura juga.

''Pengembara yang tidak bernama inilah yang sangat berterima kasih kepada Tuan-tuan dan Puan-puan. Mohon dimaafkan jika ketujuh kuda sungguh tidak ada harganya, dibandingkan hadiah lagu dan tarian terindah yang tiada dapat dinilai dengan uang. Selamat jalan Tuan-tuan dan Puan-puan! Semoga lancar perjalanan dan tiba dengan selamat di tempat tujuan!''

Memang, tiada yang lebih tepat selain ucapan seperti itu di tempat seperti ini. Semoga perjalanan dan tiba dengan selamat di tempat tujuan, mengingat rintangan takterhitung menghadapi segala kemungkinan di depan. Dalam wilayah yang penuh dengan begal mencegat di tengah jalan, tiada doa yang lebih tepat lagi bisa diberikan.

Kusaksikan mereka berjalan menjauh, menjauh, dan menjauh, sampai hilang di balik kelokan. Tinggal aku sendiri lagi di Celah Dinding Berlian bersama pemandangan. Meski ternyata aku tidak sendiri, ketika terasa sebuah benda tajam menekan punggungku dari belakang.

(Oo-dwkz-oO)

Aku tentu saja terkesiap, tapi tentu saja aku harus tenang. Tidak sembarang manusia dapat menempelkan ujung pedangnya di punggungku tanpa kuketahui seperti itu. Semula kukira aku hanya sendirian di Celah Dinding Berlian. Bahkan telah kutempati suatu kedudukan tempat dapat kupandang segala arah tanpa harus terpandang kembali, sehingga setiap pergerakan dapat kuawas i. Namun pemegang pedang yang ujungnya menempel di punggungku itu mampu menyelinap tanpa kuketahui sama sekali.

KUHIBUR diriku sendiri betapa aku menjadi lengah karena terpesona oleh Tarian Pohon Yangliu dan Lagu Rembulan di Atas Sungai, sehingga tiada kusadari terdapatnya sesosok ba- yangan yang ber-kelebat dalam selimut kabut yang makin lama me-mang semakin pekat. I lmu itu sejenis dengan ilmu para penyusup yang dapat bersembunyi di dalam gelapnya malam, tetapi dengan persyaratan yang lebih berat karena jika gelapnya malam adalah kehitaman kelam yang tidak memperlihatkan apapun, sepekat-pekatnya kabut maka kesamaran masihlah sesuatu yang menyarankan keterlihatan.

Hanyalah ilmu halimunan tingkat tinggi mampu membuat seseorang berjalan-jalan dalam kabut itu sendiri sementara ia dapat melihat segala sesuatu di luarnya. Jika di dalam kelamnya malam seorang penyusup bersembunyi di balik selimut kegelapan sambil melayang, di dalam kabut seseorang bisa berjalan-jalan tanpa berpijak kepada apapun kecuali kabut itu sendiri meski tiada sesuatu pun di dalamnya yang bisa diinjak maupun dipegang.

Ia menekankan pedangnya lebih dalam. Aku ha-rus mengerti, jika ia berniat membunuhku, maka ia sudah dapat melakukannya dari tadi. Ia mengucapkan sesuatu. Suara perempuan!

Baru kusadari bau harum meruap dalam ke-pe-katan kabut yang mengendap perlahan-lahan. Ke-haruman yang pernah kukenal, bukan bau minyak wangi, melainkan seperti bau bunga-bungaan yang tidak menarik perhatian, tidak menggoda, dan menenteramkan --keharuman bunga melati, yang kelak aku akan kuketahui dikenal di Negeri Atap Langit sebagai bunga moli hua sehingga meski berada di ujung pedang dalam kelemahan, aku bagai mendapat jaminan tidak akan mengalami kema-langan.

Ia mengucapkan sesuatu lagi. Sudah jelas aku tidak mengenalinya, mungkin karena ia berbicara terlalu cepat, yang bagiku hanya terdengar sebagai kicau burung jadinya.

"Dikau bicara terlalu cepat," kataku, "daku be-lum terlalu menguasai bahasamu."

Namun ia tetap bicara seperti kicau burung. Apa-kah ia memang bicara cepat, ataukah ia mengucapkan bahasa yang lain?

Tusukan ujung pedangnya makin tajam mendesak punggung, pada saat yang sama terasa sebuah tangan memasuki baju dan menggeledahku. Se-genap belati melengkung yang kuambil dari para anggota kelompok rahasia Kalakuta itu segera berada di tangannya.

Ia berkicau lagi panjang sekali. Tidak satu kata pun kumengerti.

Mungkinkah ia berbicara dengan bahasa lain, dan bukan bahasa Negeri Atap Langit? Namun ba-hasa Negeri Atap Langit pun, seperti pernah kuce-ritakan, juga bermacam- macam bukan?

Semestinya tidaklah terlalu aneh bahwa manusia dari bangsa yang berlain-lainan saling bertemu di sini. Betapapun ini adalah wilayah perbatasan. Dari Negeri Atap Langit, bukan hanya warga Negeri Atap Langit, justru berbagai bangsa berniat melanjutkan perjalanan setibanya di Chang'an, untuk melihat negeri-negeri yang berada jauh di selatan.

Selintas aku teringat Pendekar Melati, tidak mungkin pendekar yang terakhir kali kulihat dibawa pergi perempuan gurunya itu berada di tempat ini, apalagi mengucapkan bahasa kicauan bu-rung seperti itu. Kuingat gurunya juga berkelebat menghilang meninggalkan bau harum melati semacam ini. Apakah tenaga dalam mereka ber-hubungan dengan sesuatu dari bunga melati, se-hingga tubuh harus terus menerus meruapkan bau melati seperti itu?

Ia masih berkicau. Apakah yang kira-kira dimaksudkannya? Jika ia berbicara dengan bahasa Viet atau Negeri Atap Langit, meskipun penguasaanku atas kedua bahasa itu sangat terbatas, setidaknya ada nada yang seperti kukenal atau setidaknya terdapat satu kata yang bisa kupahami.

Sejauh kuperhatikan, hanya kata Kalakuta yang kukenali, itu pun dengan tekanan nada yang berbeda dari bahasa Viet maupun bahasa Negeri Atap Langit. Apakah ia berbicara tentang pisau-pisau be-racun yang melengkung itu?

Setelah kata-katanya selesai, tekanan ujung pedang itu tidak terasa lagi. Namun kewaspadaanku dengan sendirinya meningkat. Ketika aku menoleh ke belakang seperti kuduga ia memang telah lenyap, karena memang alasan lainlah yang membuat aku merasa harus menengok ke belakang.

Tidak kurang dari lima belati melengkung ber-putar seperti baling-baling tanpa suara dan meluncur langsung ke arahku!

SEPERTI baling-baling! Ya, memang seperti baling-baling mendatar yang secara berturut-turut siap memenggal kepala dari lima jurusan. Artinya ke mana pun kepala bergerak menghindar terdapat baling-baling maut yang sangat beracun siap membabatnya. Andaikanlah belati yang berputar seperti baling-baling pertama dapat dihindari, itu hanya agar lehernya disambar yang kedua, dan jika pun yang kedua masih dapat dihindari pula, pasti tidak mungkin menghindari yang ketiga. Apalagi masih ada yang keempat dan kelima yang mengunci segala arah pengelakan.

Apakah riwayatku akan berakhir sampai di s ini?

Saat itulah Jurus Tanpa Bentuk yang sudah lama kutekuni memperlihatkan apa yang mungkin diperlihatkan suatu ilmu silat seolah tanpa silat itu sendiri, sehingga tanpa bergerak pun lima pisau belati yang melesat sembari berputar seperti baling-baling mendatar itu berada di belakangku.

Aku sudah berada di tempat perempuan itu melemparkan kelima belati melengkung yang amat beracun tersebut, tetapi ia sudah menghilang di balik kabut. Hanya keharuman moli hua dari tubuhnya yang masih tertinggal, bersama diriku sendiri yang termenung-menung di dalam kabut.

Kemudian dari jauh terdengar suara seruling. Hanya sejenak, seperti sengaja diperdengarkan hanya untukku, tetapi segera menghilang seperti dibawa menjauh. Mungkinkah perempuan pendekar mahasakti yang telah meniup seruling itu sembari melesat berlari di dalam kabut? Pernah kudengar dari Iblis Suci Peremuk Tulang tentang keberadaan seorang perempuan pendekar mahasakti di Negeri Atap Langit yang sangat jarang menampakkan diri, dan hanya meniup seruling sebagai cara memberitahukan kehadirannya. Adapun suara seruling itu hanya akan terdengar setelah ia pergi jauh dan menghilang, sehingga ia disebut sebagai Pendekar Seruling Maut. Disebut maut karena ia belum pernah terkalahkan, artinya se lalu berhasil membunuh lawannya; dan juga maut karena ia juga akan memperdengarkan suara serulingnya lebih dulu sebelum muncul, menyerang, dan menamatkan riwayat lawan.

Jadi apakah artinya peristiwa ini? Apakah ia mengira aku tentunya sudah mati karena lemparan lima pisau melengkung yang berputar mendatar seperti baling-baling dalam kedudukan mengunci? Namun aku pun tentunya harus mengerti bahwa ketika ujung benda tajam, yang mungkin bukan pedang melainkan ujung serulingnya yang disebut runcing sekali, terasa menempel di punggungku, saat itu sebetulnya aku sudah bisa dibunuhnya. Bahkan jangan-jangan kelima pisau itu pun dilemparkannya tanpa maksud membunuh sama sekali.

Sebetulnya ia berbicara panjang, sayang sekali aku tidak mengerti!

Hanya kata Kalakuta yang kukenal, jadi ia mengenali pisau- pisau itu, yang racun salah satunya telah menewaskan pemilik kedai kepada siapa aku berutang nyawa.

Ingatan tentang bapak kedai itu membuatku melejit dan melenting ke atas, bergerak dalam kabut menuju ke gua tempat berbaringnya jenazah bapak kedai tersebut.

Di sanalah baru kupahami makna tiupan seruling itu.

Gua itu kosong, tiada lagi jenazah bapak kedai itu, hanya tertinggal gulungan naskah yang telah diberikannya kepadaku. Naskah yang berkisah tentang jaringan orang-orang kebiri...

Kabut yang luar biasa pekatnya bahkan sampai masuk ke dalam gua. Padaha gua ini sudah terletak sangat amat tinggi di bagian atas dinding tebing yang sangat amat curam. Aku duduk diam karena tidak bisa melihat apa pun dan mencoba berpikir.

Pendekar Seruling Maut itu mengenali kelima belati beracun yang diambilnya dariku sebagai milik perkumpulan rahas ia Kalakuta. Sebelum mendatangiku agaknya telah ditemukannya jenazah bapak kedai tersebut di dalam gua ini. Mengingat ilmu silat bapak kedai yang tinggi, aku menduga sebetulnya ia seorang pendekar yang punya nama juga, dan agaknya saling mengenal dengan Pendekar Seruling Maut. Ketika menemukan jenazah bapak kedai yang dikenalnya di dalam gua, Pendekar Seruling Maut telah memeriksa luka dan mengetahui penyebab kematiannya, yakni racun mematikan kelompok Kalakuta.

Hanya itulah yang bisa kusimpulkan. Hubungan keduanya mungkin cukup dekat, yang membuat Pendekar Seruling Maut membawa jenazahnya pergi. Bahkan harum moli hua itu pun masih ada di sini.

Pendekar Seruling Maut itu memang mahasakti. Pada saat aku menghindari kelima pisau belati tentu ia sudah berada di gua ini, dan ketika aku berada di tempat ia melemparkan belati, ia sudah pergi jauh dengan jenazah bapak kedai di bahunya, melenting dari puncak satu ke puncak lain dengan ringan sambil meniup serulingnya.

Ia tidak pernah bermaksud membunuhku. Hanya memberi tahu aku bahwa dialah yang membawa jenazah bapak kedai itu pergi....

(Oo-dwkz-oO)