Nagabumi Eps 162: Memperdayai Harimau Perang

Eps 162: Memperdayai Harimau Perang

AKU melayang turun dengan ringan bagaikan mampu menahan tubuhku sendiri di udara, dan memang aku mampu menahan tubuh di udara seperti itu, tetapi yang tidak akan kulakukan jika hanya demi pameran.

Rombongan yang semenjak tadi terus-menerus tertawa- tawa sampai mendekati celah, mendadak menghentikan tawanya dan ternganga melihatku turun perlahan seperti kapas dari udara. Namun kelima pengawal tidak ternganga dan kuperhatikan bahkan tidak mencabut senjatanya, tentu kepercayaan diri yang besar terhadap ilmu silat mereka yang tinggi.

Mereka bahkan tidak meletakkan barang bawaan mereka dari punggungnya, meski memang mata mereka menatap dengan tajam.

Namun lima perempuan dan lima lelaki yang keperempuan- perempuanan itu tawanya kembali pecah berderai-derai.

Sungguh aku kagum dengan nyali mereka! "Hahahahahaha! Tubuhnya mengambang tanpa   bobot!

Hahahahaha!"

"AWAS! Diterbangkan angin nanti! Hihihihihihi!"

"Ilmu meringankan tubuh! Seperti cerita silat!

Huhuhuhuhu!"

"Bisa diajak pertunjukan keliling! Hehehehehe!"

Setiba di pelataran batu yang menghubungkan semua jalan itu aku pun bersoja dengan sopan, dan berbicara dengan bahasa Negeri Atap Langit sebisanya.

"Selamat berjumpa wahai Puan-puan dan Tuan-tuan! Perkenalkanlah saya, seorang pengembara tidak berharga, menawarkan kuda dengan harga sangat murah kepada Tuan- tuan dan Puan-puan. Saya lihat lima orang dalam rombongan berjalan kaki naik turun gunung tanpa kuda, masih membawa barang pula, tepatlah kiranya saya tawarkan tujuh kuda, lima untuk ditunggangi dan dua lagi untuk membawa beban. Saya jamin murah untuk kuda-kuda terbaik yang pernah saya tawarkan. Silakan!"

Dari wajah dan cara berbahasaku, jelas aku tampak sebagai orang asing.

Salah seorang lelaki yang keperempuan-perempuanan, yang tampaknya menjadi pemimpin rombongan, bicara dengan sisa senyum, mungkin karena banyak yang salah dalam kata-kataku, tetapi ia pun bersoja dengan sopan.

"Selamat berjumpa pula Kawan, seberapa murahnyakah kuda-kuda dikau itu Kawan, dan mengapa pulakah bisa menjadi murah seperti itu, karena kami tidak akan membeli kuda-kuda curian, atau kuda manapun yang akan menjadi masalah di hari kemudian. Tapi sebelum itu siapakah diri dikau itu Kawan, datang dari mana dan hendak ke manakah kiranya?" Sebetulnya kalimat itu pun kutangkap sepotong demi sepotong. Kadang aku hanya mampu memperkirakan saja maksudnya, tetapi tetap kujawab juga.

"Saya hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki nama, Tuan, datang dari sebuah pulau nun jauh di se latan yang disebut Jawadwipa, kuda-kuda ini dapat kujual murah Tuan, karena para pemiliknya telah terbunuh."

"Hah? Dikau yang membunuhnya?"

"Hanya dua orang yang saya bunuh sendiri Tuan, lima orang sisanya dibunuh teman saya yang sudah terbunuh pula."

Lelaki yang keperempuan-perempuanan itu manggut- manggut.

"Hmm. Banjir darah rupanya di s ini," katanya, "dan kenapa dikau dan teman dikau itu harus membunuh para penunggang kuda-kuda yang akan dikau jual ini, Kawan?"

"Ah, Tuan, mereka memang bermaksud membunuh saya, dan saya berhasil membunuh dua orang karena membela diri, Tuan. Adapun yang lima lainnya, adalah teman saya yang membunuhnya untuk melindungi saya, Tuan..."

Ia manggut-manggu terus, dan sekilas tampak saling melirik dengan sa lah seorang pengawal yang kukira juga menjadi kepala pengawal, yang tampak mengangguk tanpa berusaha menutupinya dariku.

"Jadi, Kawan, apakah kiranya yang membuat para penunggang kuda itu begitu bersemangat membunuh seorang pengembara tanpa nama seperti dikau?"

Sampai di sinilah agaknya kejujuranku kucukupkan, bukan demi sebuah kebohongan, me lainkan karena jawaban manapun tak bisa disingkatkan. Akan terlalu panjang untuk menjelaskan masalah Amrita, maupun perananku dalam berbagai pertempuran antara pasukan pemberontak dengan pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam kepada mereka.

"Itulah yang saya tidak mengerti juga Tuan," kataku, "kata mereka sudah kewajiban untuk menantang saya bertarung. "

Itulah pilihan yang masuk di akalku agar tampak seperti kejujuran.

Lelaki keperempuan-perempuanan yang menjadi kepala rombongan itu kali ini menoleh dengan tegas kepada kepala pengawal, seperti menyerahkan persoalan.

Kepala pengawal itu pun mendadak berkelebat sangat amat cepat. Takkulihat bagaimana ia meletakkan barang dan mencabut senjatanya, tetapi tiba-tiba saja ancaman bahaya pencabutan nyawa datang dari segala arah dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata.

Namun dalam kecepatan yang amat sangat tinggi, segala sesuatunya kini tampak amat sangat lambat. Berhadapan dalam jarak dekat, dengan mudah tanganku masuk ke dalam kantong rahasia yang berada di balik bajunya, dan kutahu kantong yang seharusnya berisi uang itu ternyata kosong. Sembari terus saling berkelebat, dalam kejernihan gerak terlambatkan, aku berpikir tentang nasib para pengawal gagah berani yang menghambakan diri kepada tujuan menyelamatkan hidup ini.

Bukanlah bahwa nasib jadi mengenaskan karena pengawal perjalanan turun derajat sebagai pengangkat barang, melainkan kerelaan dan kesudian menerima segala pekerjaan dalam keunggulan kemampuan. Dengan ilmu silat set inggi ini mereka bisa menjadi kepala para penyamun yang berlimpah kemewahan, menjadi anggota kelompok rahasia yang serba berkecukupan meski harus hidup dalam kerahasiaan, atau menjadi pembunuh bayaran yang meski terpaksa mengucilkan diri akan hidup sesuai kemampuan. NAMUN mereka memilih untuk menjadi pengawal perjalanan, yang meskipun lebih dari layak dibayar semahal- mahalnya, di wilayah terpencil seperti ini memang tidak akan pernah mendapatkannya. Sementara itu, karena wilayah perbatasan ini memang penuh pelarian pemberontak yang menjadi penyamun maupun penyamun yang berasal dari penjahat kambuhan, keberadaan mereka tetap diperlukan.

Sering juga terdengar cerita tentang dua saudara seperguruan yang berpisah jalan, ketika yang satu menjadi penyamun, maka yang lain memilih untuk menjadi pengawal perjalanan, dan pada suatu hari saling berbunuhan. Alangkah menyedihkannya menjadi tak berdaya, tetapi dalam hal pengawal perjalanan ini justru keberdayaannya untuk memilih pengabdian lebih dari patut mengundang penghargaan.

Maka aku tentu tak berniat melu-kai-nya. Namun harus menunjukkan bahwa aku pun layak ditantang meski mungkin hanya gerakanku yang menyebabkannya. Jadi ke dalam kantongnya yang kosong itu kumasukkan sejumlah uang perak dan emas.

Lantas sambil menghindari sambaran kelewang aku melenting ke atas dan menempel ke langit-langit batu alam yang terbentuk di atas pelataran dengan ilmu c icak. Aku tidak pernah turun kembali, punggungku menempel karena tekanan udara dari pori-pori yang terlalu kuat. Ia bisa menyusul ke atas, tetapi tentu saja kedudukannya akan menjadi lemah.

Jadi ia sarungkan senjatanya dan berkata kepada kepala rombongan yang keperempuan-perempuanan itu.

"Kawan kita tidak berbohong," katanya, "banyak pendekar yang pasti akan penasaran untuk mengujikan ilmu silatnya kepada anak muda ini. Siapa gurumu, Kawan?"

Pertanyaan ini membuatku terhenyak, karena aku tidak pernah siap menjawabnya. Tentu aku mendapatkan Ilmu Pedang Naga Kembar yang tiada tandingannya itu dari Sepasang Naga Celah Kledung yang mengasuhku, tetapi aku tidak akan pernah menyebutkan pasangan pendekar yang telah menjadi orangtuaku itu sebagai guru, karena dalam pandanganku sendiri ilmu silatku belumlah akan terlalu membanggakan mereka. Sepasang Naga dari Celah Kledung itu telah menolak untuk menggenapkan Pahoman Sem-bilan Naga, jelas menunjukkan keya-kin-an bahwa t ingkat ilmu s ilat mereka tidak berada di bawah masing-masing pendekar yang telah mencapai taraf naga. Menolak bergabung sebetulnya bisa juga ditafsirkan sebagai penghinaan atau tantangan, meski kedua orangtuaku tidak mungkin bermaksud seperti itu, sehingga itu juga berarti Sepasang Naga dari Celah Kledung itu siap berhadapan dengan para naga yang sembilan jumlahnya itu bersama-sama.

Adapun aku yang telah diburu oleh Naga Hitam begitu rupa saja belum juga menghadapinya. Kurasa belum pantaslah aku mengaku sebagai murid Sepasang Naga dari Celah Kledung. Aku merasa betapa tingkat ilmu silatku masih akan memalukan bagi mereka. Selain itu, bukankah aku juga belajar dari berbagai macam sumber ilmu dalam dunia persilatan, termasuk dari seseorang yang mengajariku secara rahasia? Jika aku mendapatkan Jurus Penjerat Naga dari kitab yang ditulis Pendekar Satu Jurus, maka bukankah aku menemukan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian dengan segala percabangannya, Jurus Bayangan Cermin yang kuolah menjadi bangunan ilmu silat tersendiri, maupun yang selalu kupikirkan setiap saat, yakni Jurus Tanpa Bentuk, tanpa dapat menyebutkan nama seorang guru?

Aku bukan hanya tidak dapat menyebutkan namaku, aku juga tidak mungkin menyebut nama seorang guru! Namun meski tidak bisa menyebutkan nama seorang guru, aku tetaplah seorang murid yang betapapun belajar dari sesuatu!

"Saya tidak mempunyai guru, Tuan," jawabku, "saya belajar ilm u silat sekadar untuk membela diri dari para penjaga keamanan di desa-desa yang saya lalui. Sekadar ilmu silat yang diperlukan seorang pengembara lata..."

Mereka saling memandang. Kepala rombongan itu melambaikan tangannya kepadaku seperti lambaian seorang perempuan.

"Turunlah ke sini pengembara! Jangan bergelantungan di sana! Biar kami beli kuda dikau! Mau dijual berapa?"

"Ya, turunlah kemari," kata lima perempuan yang berbaju warna-warni itu ramai-ramai, "untuk apa menempelkan punggung di langit-langit seperti itu."

Aku pun melompat turun, tetapi kali ini cepat sekali. Setidaknya bagi sepuluh orang berbaju warna-warni yang seperti tidak pernah menyadari adanya bahaya ini, padahal mereka tentunya sangat mengerti, tentu aku seperti tiba-tiba saja muncul di depan mereka.

KUKATAKAN mereka seperti tidak menyadari adanya bahaya, ya, hanya seperti, karena sebetulnya tentu sangat memahami, apa artinya hidup sebagai pemain sandiwara keliling di wilayah seperti ini. Dengan pengertian semacam inilah orang-orang awam kukagumi. Tidak bisa bersilat dan tidak mengenal ilmu beladiri sama sekali tidaklah menjadi halangan untuk melangkah keluar dari pintu rumah dan pergi. Mereka selalu berpentas keliling dari desa ke desa di daerah ini dengan riang hati, dan tentu bukan tidak pernah mengalami betapa kehadiran para penyamun menjadi masalah sehari-hari. Betapa bahkan untuk hidup wajar pun dibutuhkan perjuangan yang nyaris abadi...

Bahwa dengan segala kesederhanaan masih mereka sewa juga para pengawa.

Aku langsung turun ke dekat pe-nam-batan ketujuh kuda, kemudian ku-bawa ketujuhnya mendekati mereka. "Bayarlah dengan berapa pun uang yang berada di kantong baju Bapak sahaja," kataku, "saya sudah cukup bahagia dapat membantu."

Sambil mengucapkan kata-kata itu, mataku menatap tajam dengan penuh arti.

Seperti mengerti, ia meraba kantong bajunya, meski tetap terkejut juga. Kepala pengawal perjalanan itu tentu mengerti, jika aku bermaksud membunuhnya itu semudah membalik telapak tangan.

Ia sekarang mengerti bahwa aku ingin mereka membeli ketujuh kuda ini dariku dengan uangku sendiri. Ini akan memastikan bahwa ketujuh kuda ini dibeli, dan bahwa ketujuh kuda ini masih akan berada bersama mereka ketika berpapasan dengan rombongan Harimau Perang.

"Kalau begitu akan kubeli dengan uang sejumlah ini," ujarnya kemudian sambil memberikan uangku sendiri.

Aku sengaja tidak menghitung dan langsung memberikan ketujuh kuda itu setelah menerima uangnya.

"Semoga perjalanan Tuan-tuan dan Puan-puan lancar," kataku, "ketujuh kuda ini sekarang sah milik Tuan-tuan dan Puan-puan, pengembara yang lata ini hanya mohon didoakan keselamatannya dan jangan dilupakan, bahwa dia sudah tidak bertanggung jawab lagi atas kepemilikan ketujuh kuda ini."

Aku mengucapkan kata-kata itu begitu rupa, sekuat bisa dalam bahasa yang aku sendiri belum lancar bicara, yang menekankan kepentinganku untuk tidak dilibatkan lagi sebagai penjual ketujuh kuda tersebut, dan tampaknya ini disetujui.

Bukan hanya aku dengan suatu cara telah membayar kepentinganku dengan tujuh ekor kuda perkasa yang biasa ditunggangi pengawal rahasia istana, tetapi bahwa aku pun telah membiarkannya tetap bernyawa. Sikap yang barangkali tidak terlalu adil, tetapi untuk sementara aku tidak menemukan cara lain untuk mengelabui Harimau Perang.

Akan menjadi masalah besar jika diketahuinya, bahwa ketujuh pengawal tersebut mati karena keberadaanku sejak awal di depan rombongannya.

Memang mereka akan bertemu dengan rombongan ini dan mempertanyakannya, tetapi tidak ada sesuatu pun yang dapat mereka paksakan kepada rombongan sandiwara keliling dengan lima pengawal perjalanan yang tangguh ini. Sejauh telah kuuji ilmu s ilat kepala pengawal perjalanan itu, kuketahui Harimau Perang dan rombongannya pun tidak akan bertindak gegabah --dan pesanku jelas agar dalam keadaan apa pun keberadaanku jangan disebut-sebut.

Kuanggap ini merupakan siasat yang baik, termasuk satu di antara enam siasat bagian dari Siasat untuk Keadaan Mendua dalam kitab Yi Jing yang disebut siasat Kacaukan Air-nya, Ambil Ikannya yang berbunyi seperti ini:

ambil peluang dari kekacauan kubu musuhmu ambil keuntungan dari kelemahan

dan kurangnya pemusatan pengawasan dengan mengikutinya,

dikau melewati malam dengan tenang

Tujuan utamaku adalah mengikuti rom-bongan Harimau Perang diam-diam agar dapat mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian Am-rita. Tujuan perjalanan Harimau Pe-rang adalah istana kemaharajaan di Changian, karena memang ia berangkat berdasarkan panggilan pusat pemerintahan Wangsa Tang itu, yang juga membawahkan Daerah Perlindungan An Nam. Diperkirakan keberhasilan menggagalkan pengepungan, bahkan melaku- kan serangan balik, terhadap pasukan pem-berontak gabungan, merupakan ala-san utama pemanggilannya, karena pe-merintah Wangsa Tang juga tidak habis-habisnya mengalami pemberontakan, mulai dari yang besar sampai yang kecil. Se-dangkan perjalanan itu dilakukan diam-diam tentunya untuk menjamin ke-rahasiaan. Bahwa perjalanan dengan kapal me lalui laut yang lazim ternyata dihindari, memang dapat diterima demi kerahasiaan. Namun apakah yang harus dipertimbangkan jika lautan kelabu gu-nung batu ini penuh dengan penyamun yang berasal dari pemberontak pula?

Di satu pihak memang itulah tuntutan kerahasiaan, tetapi di pihak lain, menurut dugaanku, ia sengaja dim inta datang ke Negeri Atap Langit justru untuk mengenali wilayah yang dihuni para pembe-rontak itu, yang telah mengacaukan ketenangan dan merongrong kewiba-waan, dan ditakutkan setiap saat bertambah kuat, jika para pemberontak itu dari tahun ke tahun bergabung menyatukan perbatasan. Jika para pemberontak bersekutu dengan musuh-musuh Negeri Atap Langit di luar perbatasan, jelas ke-duduk-an pemerintah Wangsa Tang di kotaraja bagaikan ikan di dalam bubu. Jika dugaan ini benar, maka keahlian seorang Harimau Perang sangatlah hebat.

HARIMAU Perang adalah seorang ahli siasat. Terbaca olehnyakah siasat-ku? Aku tentu menyerahkan ketujuh kuda itu kepada rombongan sandiwara tersebut, dengan perkiraan bahwa mereka memang akan bertemu dengan rombongan Harimau Perang. Ke-beradaan ketujuh kuda itu akan mengejutkan mereka, dan tentu mereka akan bertanya ke mana pemilik ketujuh kuda tersebut. Jawaban mana pun, apakah mereka menunjuk diri mereka sendiri, atau menyataikan pemiliknya sudah mati, tidaklah akan membawa- bawa diriku. Harimau Perang akan sibuk mempertimbangkan apakah para pengawal perjalanan ini memiliki urusan dengan tugasnya, dan sengaja membunuh para anggota kelompok rahasia Kalakuta tersebut, ataukah bahwa suatu bentrok telah berlangsung tanpa dikehendaki, tanpa harus ada hubungan juga dengan tugasnya.

Apa pun yang dipikirkan Harimau Perang, tidak akan ada hubungannya dengan diriku. Bagiku itu sudah cukup. Sementara jika para pengawal rahas ia yang menjadi sisa pengawalnya itu mencoba menerapkan cara-cara pe-nyik-saan mereka untuk mendapat keterangan sejujurnya, telah kuketahui bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan para pengawal perjalananan. Untuk tujuan itulah memang telah kupancing kepala pengawal perjalanan itu agar menyerang, dan tingkat ilmu silatnya memberikan kepada diriku suatu keyakinan.

"Semua kuda ini milik Tuan-tuan, bawalah," kataku menegaskan bahwa aku tidak menyebut Puan-puan, karena maksudku memang hanya untuk para pengawal perjalanan, bukan lima lelaki dan lima perempuan yang berbaju warna- warni.

Sudah kukatakan betapa aku terharu dengan kesetiaan mereka terhadap tugasnya, dengan tidak beralih menjadi penyamun yang serba mencelakakan, meskipun hidup dalam kemiskinan begitu rupa sehingga harus merangkap pekerjaan sebagai pembawa barang. Dengan tujuh kuda dari ista l istana, aku yakin hidup mereka akan lebih bahagia, dan itu memang terlihat dari wajah mereka.

Mereka segera memindahkan barang-barang dari punggung mereka ke punggung dua kuda. Adapun sisa barang yang tinggal sedikit masih dapat mereka bawa bersama kuda masing-masing. Suatu ketika di antara karung tempat barang itu tersembul peralatan bunyi-bunyian yang mereka bawa. Tidak dapat kutebak apa yang berada di dalam pikiran kepala pengawal perjalanan itu sebelumnya, ketika kudengar ia berkata kepada pemimpin rombongan sandiwara. "Kawan pengembara yang tidak memiliki nama ini telah menjual ketujuh kuda mahal ini dengan harga semurah- murahnya kepada kami, dan ini sangat membantu perjalanan kita," katanya,"mengapa Tuan tidak memberikan kepadanya pertunjukan yang tiada ternilai harganya pula, sekadar sebagai tanda terima kasih kita?"

(Oo-dwkz-oO)