Nagabumi Eps 161: Dari Dunia Tanpa Kelamin

Eps 161: Dari Dunia Tanpa Kelamin

UDARA yang sangat amat dingin membuat jenazah bapak kedai itu membeku. Kukira aku bisa meninggalkannya di gua ini nanti, ketika tiba saatnya mengikuti rombongan Harimau Perang dari belakang saat mereka lewat, mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin beberapa hari lagi, tetapi aku yakin tidak akan lama lagi. Kudaku kulepas dan setiap saat bisa kupanggil dengan suitan. Kuda itu seperti tahu, bahwa seperti diriku ia pun harus bersembunyi dari pandangan siapa pun juga.

Catatan bapak kedai itu memberi penjelasan tentang orang-orang kebiri, yang telah menjadi bagian dari kehidupan istana Negeri Atap Langit se lama ribuan tahun lamanya. Di dalam istana yang penuh dengan putri-putri dan ribuan selir maharaja, adat hanya mengizinkan orang-orang tanpa kelamin untuk melayani mereka. Kehidupan semacam ini berlangsung di dalam tembok istana yang sangat tertutup, tetapi begitu luasnya bagaikan sebuah kota di dalam kota.

Adat pemeliharaan orang-orang kebiri di dalam istana terdapat di berbagai negara besar di muka bum i, tetapi adat yang berlangsung di Negeri Atap Langit adalah yang sudah berlangsung paling lama. Mengikuti ujaran Kong Fuzi, bahwa kemurnian seorang perempuan sangat penting, maka istana- istana perempuan milik maharaja hanya bisa dilayani orang kebiri tak hanya untuk menghindarkan perselingkuhan, tetapi juga karena terjaganya kesucian itu dianggap penting sebagai dukungan terhadap keabadian takhta. Orang-orang kebiri itu merupakan jaminan bahwa setiap bayi yang dilahirkan adalah anak langsung maharaja, sebab jika perma isuri tidak dapat memberikan seorang putra mahkota, maka putra selir pertama berhak dan wajib mengisi tempatnya, dan begitulah seterusnya jika selir pertama pun tidak memberikan anak laki- laki. Setiap bayi yang dilahirkan di dalam istana haruslah darah daging maharaja.

Maka orang-orang kebiri bagai diandalkan untuk menjaga lingkar cahaya kesucian dan kerahasiaan istana itu sendiri. Kedudukan maharaja sebagai Putra Surga atau Putra Langit dilindungi oleh tabir yang akan membuatnya terhindar dari urusan sehari-hari manusia biasa, karena ia diandaikan tidak boleh terganggu supaya tidak gagal dalam tugasnya. Pengertian tabir tidak sekadar ditafsirkan sebagai perumpamaan, karena tirai-tirai bambu memang dipasang di tepi jalan apabila tandu maharaja yang diusung orang-orang kebiri lewat, agar pandangan mata sang maharaja tak harus menyaksikan pemandangan kota dunia awam yang kasar.

Telah diketahui bahwa para pejabat tinggi pun apabila menghadap maharaja di istana harus mengarahkan pandangan matanya ke bawah, karena tatapan langsung sangat dilarang. Siapa pun yang menghadap maharaja, termasuk perwakilan negara bawahan, di hadapan maharaja harus berlutut dan mengetukkan kepala mereka sembilan kali ke lantai sebagai tanda penghormatan. Dalam dunia seperti itu, orang-orang kebiri diandaikan mendapat kepercayaan penuh, karena kerelaan untuk kehilangan bagian tubuh yang membuatnya disebut lelaki itu dihargai sebagai pengorbanan yang tinggi. Dalam adat dan kepercayaan dunia Negeri Atap Langit, kehilangan sebagian anggota tubuh membuat jiwa seseorang ikut tercacatkan untuk mati dengan sempurna. Itulah yang membuat potongan tubuh mereka tersebut selalu dibawa dan disimpan baik-baik, untuk ikut dikuburkan sebagai manusia bertubuh lengkap setelah mereka meninggal dunia.

Seorang maharaja Negeri Atap Langit pernah menyebut orang-orang kebiri sebagai, ''makhluk jinak dan set ia seperti binatang terkebiri'', meskipun orang-orang cacat tubuh di masyarakat Negeri Atap Langit cenderung terasing dan yang cacatnya dianggap memalukan bahkan di-asingkan.

KEPERCAY AAN diberikan kepada mereka bukanlah sekadar karena kerelaannya, melainkan karena dalam keadaan terkebiri itu mereka tidak mungkin mempunyai anak, sehingga diandaikan tidak akan memiliki kepentingan politik maupun kerakusan akan kekayaan. Dunia di dalam istana yang penuh dengan rahasia, berpeluang membuat seseorang yang mengetahui dan menguasai rahasia akan menjual rahasia itu dengan imbalan tinggi. Orang kebiri, karena keadaannya, dianggap tidak ada gunanya menjual rahasia maupun mencuri barang-barang berharga dari dalam istana. Dalam kenyataannya anggapan dan pengandaian itu sangat sering keliru. Sejarah Negeri Atap Langit membuktikan berkali- kali bahwa kepercayaan atas keterbungkaman dan kesetiaan orang-orang kebiri itu tidak selalu benar. Pergunjingan tentang orang-orang kebiri ini bahkan melibatkan Kong Fuze sendiri, yang banyak pemikirannya menjadi tulang punggung kebudayaan Negeri Atap Langit, yang menyatakan keberatannya atas penerimaan orang kebiri dalam jajaran kekuasaan, membuat setiap penganut Kong Fuze akan selalu merendahkan orang-orang kebiri di istana. Dalam catatan sejarah yang tentunya ditulis para cendekiawan, orang-orang kebiri memang selalu dipandang rendah.

Para cendekiawan maupun kaum terpelajar yang berhak menjadi pegawai pemerintah dianggap masuk akal jika merasa iri hati dan benci terhadap orang-orang kebiri, karena kedekatan mereka dengan istana, bahkan sebagai bagian tak terlepaskan dari istana, membuat orang-orang kebiri ini kekuasaannya melebihi para menteri.

Barangkali iri hati dan kebencian itulah yang membuat para cendekiawan menjadi kurang cendekia dan kaum terpelajar bagai kehilangan keterpelajarannya, sehingga se lama terus menerus dari abad ke abad menuliskan gambaran tentang orang-orang kebiri sebagai pengkhianat asli dan tidak peduli kepada rakyat.

Dalam cara berpikir kebudayaan Negeri Atap Langit, segenap keberdayaan maupun segala sesuatu merupakan lingkaran yin dan yang nan selalu berulang, setiap kali mencapai puncak sebagai yin akan tak tertahan meluncur ke kedalaman sebagai yang. Segala sesuatu yang berlawanan adalah keberimbangan. Kelelakian, kekuatan, dan kebajikan berada di bawah pengaruh yang, sementara kewanitaan, orang kebiri, dan kejahatan diatur oleh yin. Cara memandang dunia dengan yin-yang ini jelas membuat orang kebiri terbawahkan dan terendahkan. Maka bagaimana caranya keberadaan orang-orang kebiri bisa diterima di istana? Bayi-bayi lelaki yang dim inati maharaja untuk berperan besar disendirikan dalam pengasingan ketat di istana, dirawat dan disusui oleh dayang-dayang sampai disapih, setelah itu mereka dibesarkan dan menerima pendidikan di tangan orang-orang kebiri, yang berharap bahwa diri mereka selamanya akan selalu dekat dengan kursi kekuasaan. Sampai titik itu, dengan caranya sendiri banyak orang kebiri berusaha memenangkan kecintaan maharaja pada masa depan dalam waktu yang sangat lama. Bahkan sering memanfaatkan asuhan muda mereka itu demi tujuan dan cita-cita mereka sendiri.

Banyak pangeran menjadi maharaja ketika masih kanak- kanak. Pada saat ia menjadi dewasa, orang-orang kebiri pengasuhnya memperkenalkan ia kepada kelemahan- kelemahan menonjol persetubuhan dan berbagai kebiasaan yang melemahkan. Sekali tubuh dan jiwa terkikis, penguasa baru menjadi alat dengan kehendak yang juga lemah di tangan para penampungnya, yang dengan mudah membuatnya percaya betapa musuh dan pengkhianat tersembunyi di mana-mana di istana se luas kota itu. Maka kepercayaan sang penguasa kepada penasihat pemerintahan yang resmi pun menjadi hancur. Satu-satunya jalan adalah menggantungkan diri kepada keterangan, nasihat, dan dukungan jaringan orang kebiri.

Kadang-kadang orang kebiri bermain pada persaingan sengit, kecemburuan, dan kehendak dangkal yang lazim terdapat di istana keputrian. Di sana ribuan wanita berlomba merebut perhatian maharaja, sebagai satu-satunya jalan menuju kekayaan dan kekuasaan bagi mereka sendiri, marganya, maupun yang sangat diharapkan, yakni putra-putra mereka. Lebih dari satu orang kebiri bergabung dalam kesatuan perencanaan jahat seorang permaisuri atau selir, dalam alur gelap untuk mengenyahkan pewaris kekuasaan, dan menempatkan putra atau siapa pun yang disukainya dalam antrian pengganti.

Bahkan seorang penguasa muda sendiri akan sangat bergantung kepada orang-orang kebiri, yang telah meng-ambil alih kekuasaan begitu rupa sehingga membuat mereka bisa mendudukkan dirinya di atas takhta, daripada memilih pesaingnya.

DALAM masalah seperti itu, orang-orang kebiri nyaris tidak mungkin disingkirkan dari kekuasaan, karena memegang segenap pengawasan di tangan mereka dari pemerintahan singkat yang satu ke pemerintahan singkat selanjutnya. Dalam beberapa hal, maharaja sungguh takut kepada orang-orang kebiri ini.

Harus diketahui bahwa beberapa maharaja Negeri Atap Langit, yang tidak didukung orang-orang kebiri, akan tidak berdaya di hadapan berbagai kelompok pejabat maupun marga para kerabat yang berusaha menguasai takhta. Betapapun, meski banyak maharaja dipengaruhi oleh orang- orang kebiri, banyak juga maharaja sepanjang sejarah Negeri Atap Langit yang sangat berdaya dan menentukan keputusannya sendiri, serta memimpin bangsanya menuju kebesaran dan tingkat kebudayaan yang jauh lebih maju dari bangsa-bangsa lain di dunia.

Aku berhenti membaca sebentar, menebarkan pandanganku kepada keluasan pemandangan. Betapa berbeda kesan yang ditinggalkan langit dan puncak-puncak batu menjulang, sementara burung elang melayang lepas di antaranya, dibandingkan gambaran tentang seluk beluk istana, yang meskipun begitu besarnya, tak akan pernah cukup besar bagi sebuah nafsu kuasa. Teringat kepada ujaran Han Fei Tzu lebih dari seribu tahun lalu yang kubaca di Kuil Pengabdian Sejati. negara besar dan kecil menderita cacat sama penguasa dilingkari pribadi tak berharga mereka yang mengawasi penguasa

akan jadi orang pertama

menemukan rahasia ketakutan dan harapan mereka

Kuamati sekitarku, kupejamkan mataku, berusaha menangkap sesuatu. Adakah suara kaki kuda? Ada suara sosok tubuh berkelebat meski nyaris tanpa suara? Memang benar mereka yang sangat tinggi ilmu meringankan tubuhnya akan mampu bergerak nyaris tanpa suara. Namun nyaris tanpa suara adalah suara juga, karena suara adalah desakan daya kepada udara, sehingga meskipun seorang pendekar membentangkan tangan seperti elang melayang tanpa mengepakkan sayapnya, udara yang bergelombang karena desakan benda padat tetaplah dapat dibaca sebagai getaran, tergantung tinggi rendahnya ilmu s ilat yang akan menentukan kepekaannya.

Memang tidak kudengar suara apa pun di dalam udara, hanya suara angin, mengirimkan dingin yang berpentalan dari dinding ke dinding. Namun kemudian, di kejauhan yang amat sangat, kudengar juga suara langkah-langkah kuda itu...

Mereka muncul dari ujung celah, bukan rombongan Harimau Perang, melainkan kuda-kuda yang telah ditinggalkan para penunggangnya karena mengejarku itu. Kuda-kuda yang sungguh setia, meneruskan perjalanan sete lah penunggangnya berkelebat memburuku.

Berarti keberuntungan ada di pihakku, karena dengan tidak melihat kuda yang kehilangan penunggang, Harimau Perang masih akan mempertimbangkan kemungkinan mereka hidup dan tiada masalah yang harus dianggap mengkhawatirkan. Tentu jika Harimau Perang berpikiran seperti itu!

Ini bagaikan suatu perjudian jarak jauh. Harimau Perang itu mungkin saja mengira tidak ada sesuatu yang terlalu penting dan tidak mencurigai apapun, tetapi mungkin saja ia begitu waspada sehingga kemungkinan apapun tidak ada yang dapat lolos dari pertimbangannya.

Kuperhitungkan bahwa kedua orang yang menyerang pertama kali seharusnya hanya menyampaikan apa yang dianggapnya penting kepada lima orang yang berada di belakangnya. Namun kelima orang yang hanya melihat dua kuda kosong tanpa penunggang segera berkelebat menyusul dan mati semua. Jika kelima orang ini harus berhubungan dengan rombongannya secara berkala, jelas bahwa kewaspadaan Harimau Perang akan segera meningkat. Jika tidak, aku masih punya waktu sampai ia akhirnya akan curiga juga. Betapapun kurasa ia sudah terlalu dekat dengan Celah Dinding Berlian ini untuk kembali, kecuali kalau ternyata menginap di kedai yang telah ditinggalkan itu.

SEPANJANG perjalanan memang tidak pernah kutemui desa-desa itu, tetapi sepanjang jalan berkuda di lereng-lereng serba curam ini, yang kadang melebar dan kadang menyempit tak tentu, memang sering kulihat jalan setapak di tepi jalan yang lebih sempit lagi. Betul-betul setapak, tidak seperti jalan utama yang meski tak lebar ada kalanya masih cukup juga untuk lima kuda berjajar, tentu untuk setiap saat menyempit, melebar, dan menyempit lagi berganti-ganti.

Sambil lalu aku memang sudah lama memikirkan jalan sempit menuruni jurang di tepi jalan utama yang selalu menghilang di balik semak dan kabut itu. Aku sudah lama berpikir bahwa jalan itu tentunya menuju ke suatu tempat. Itulah yang luar dari yang disebut jalan bukan? Menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya. Manusia yang ingin mengembara dengan atau tanpa tujuan tinggal menapaki suatu jalan, maka ia akan sampai ke suatu tempat yang menjadi tujuan maupun tidak menjadi tujuannya. Setiap kali melihat suatu jalan, besar maupun kecil, kecil maupun kecil sekali, di percabangan, pertigaan, maupun perempatan, aku memang selalu penasaran untuk menapak dan melangkah di atasnya, untuk mengetahui seperti apa tempat jalan ini menuju.

Namun begitulah persoalan manusia dalam hidup ini bukan? Setiap kali aku melihat jalan setapak yang menghilang di balik kabut, dan tentu saja ingin mengarunginya, aku harus tetap bertahan untuk mengarungi jalan yang sedang kutempuh karena memang terdapat suatu tujuan. Itulah maksudku dengan persoalan manusia, kita selalu berhadapan dengan pilihan untuk tetap atau tidak setia...

Mereka masih tertawa-tawa bagaikan tiada persoalan yang terlalu berat di dunia. Sejauh dapat kutangkap dari perbincangannya, mereka memang sudah biasa mengadakan pertunjukan dari desa ke desa, karena diundang untuk ikut memeriahkan berbagai macam upacara seperti pesta perkawinan dan semacamnya. Aku tertegun mendengarnya, meskipun desa-desa di lautan kelabu gunung batu ini begitu terpencil, bahkan tidak kelihatan sama sekali bangunan maupun penduduknya, dan karena itu kukira kehidupannya cukup sederhana, ternyata tetap ingin merayakan segala sesuatu dengan semeriah-meriahnya.

Rombongan sandiwara ini sudah biasa berkeliling kian kemari untuk memeriahkan berbagai macam upacara adat, tentu setiap kali menyewa pengawal perjalanan, karena tentunya pula pembegalan, perampokan, penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan tetap berlaku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam hati aku menggeleng- gelengkan kepala. Gairah manusia merayakan kehidupan sungguh luar biasa. Angin yang menderu semakin menegaskan kesunyian lautan kelabu gunung batu, tetapi kutahu kehidupan di wilayah yang nyaris selalu tersembunyi di balik kabut ini tidaklah sesunyi itu.

Kuperhatikan para pengawal perjalanan yang membuat dadaku bagai tergores sembilu itu, meskipun pernah kubaca Kong Fuze berkata: orang bijak bebas dari keraguan orang saleh bebas dari kecemasan orang berani bebas dari ketakutan orang hebat selalu bahagia

orang kerdil selalu susah

Artinya meskipun para pengawal perjalanan tergolong sebagai orang bernyali yang hanya membanggakan ilmu silatnya, seharusnya mereka menerima nasibnya dengan jiwa besar, dan tampaknya memang demikian, jika diingat bahwa betapapun mereka menerima peran mereka yang merangkap sebagai pengangkut beban. Kemiskinan di wilayah ini tampaknya sengaja diperparah, sebagai akibat berkumpulnya para pemberontak dari masa ke masa, yang semakin banyak. Aku sangat menghargai penerimaan mereka itu, karena jika tidak merekan tentu sudah bergabung sebagai penyamun, yang hanya akan semakin memberatkan kehidupan rakyat jelata.

Aku memikirkan sesuatu, bahwa mereka mestinya tidak tersinggung jika kuberi hadiah tujuh kuda piluhan ini, yang meskipun tidak setangguh dan secerdik kuda Uighur, tentunya lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka sekarang. Di sini terdapat tujuh kuda tanpa penunggang yang dapat kubagikan kepada mereka, lima bagi para pengawal itu agar tidak tampak terlalu mengenaskan, dan dua ekor kuda lagi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembawa beban yang kini mereka panggul itu.

TAK dapat kubayangkan bagai-mana kelima pengawal perjalanan itu dapat menjalankan tugasnya, jika penyamun menyerang rombongan sandiwara ini ketika mereka juga bertugas sebagai kuli barang seperti itu. Atau, dan inilah yang melentikkan gagasan dalam kepalaku, mengapa tidak kupikirkan betapa ilmu mereka sudah begitu tingginya, sehingga bersedia menerima beban pekerjaan seperti, karena memang akan mampu mengatasi serangan para penyamun dengan mudahnya? Aku tidak harus merasa pertimbanganku meragukan, karena mempertaruhkan nyawa kurasa belum akan dilakukan sekadar karena kelaparan, meski kelaparan yang amat sangat juga akan mematikan.

Dengan kuda-kuda yang akan kuberikan itu, aku mempunyai sebuah rencana. Namun sementara menunggu mereka yang masih jauh, aku kembali membaca catatan tentang orang-orang kebiri.

Aku melompati beberapa bagian, tetapi aku nanti akan kembali lagi, karena perhatianku tertarik kepada cerita berikut:

"Orang kebiri yang lari dari istana dengan berbagai cara tertangkap para pengawal istana dan dikembalikan. Mereka yang melakukan pelanggaran untuk pertama kalinya akan dikurung selama dua bulan, disamping dicambuk, lantas dipekerjakan lagi. Mereka yang melakukan pelanggaran untuk kedua kalinya, akan dikenakan cangue selama dua bulan, yakni sebuah bingkai kayu besar yang dipasang ke leher, membuat terhukum takbisa berbaring maupun makan dengan tangannya. Mereka yang lari untuk ketiga kalinya, dan tertangkap lagi, dibuang ke luar batas negeri selama dua setengah tahun, sama seperti orang kebiri yang terpergok mencuri. Jika barang yang dicuri dinilai sebagai berharga oleh maharaja, maka kepalanya akan dipenggal di tempat istimewa jauh di luar kotaraja.

"Begitulah penolakan tugas atau kemalasan akan dihukum cambuk. Kepala orang kebiri akan memerintahkan satu orang dari antara 48 bagian dalam rumah tangga istana, untuk melaksanakan pencambukan dengan batang bambu. Yang bersalah menerima delapanpuluh sampai seratus cambukan, lantas dikirimkan kepada tabib yang juga seorang kebiri untuk mengobati lukanya. Setelah tiga hari, orang kebiri yang dihukum itu akan dicambuk lagi, hukuman itu bernama 'mengangkat koreng"' Aku mengangkat pandanganku dari gulungan naskah. Aku memang belum terlalu lancar membaca aksara Negeri Atap Langit, sehingga tulisan sependek itu baru setelah kubaca cukup lama bisa kupahami. Hanya keinginan tahu yang besar saja membuat aku tahan menghadapi aksara itu lama-lama. Betapapun aku sadar, dalam makna yang terungkap oleh aksara yang jika belum akrab tampak ruwet itulah pengetahuan berharga akan tersingkapkan.

Rombongan itu semakin dekat. Aku menggulung kembali naskah itu dan melayang turun dengan ringan untuk mencegatnya.

(Oo-dwkz-oO)