Nagabumi Eps 160: Tulisan, antara Peristiwa dan Makna

Eps 160: Tulisan, antara Peristiwa dan Makna

PEMBACA yang Budiman, untuk kese-ki-an kali iz inkan aku berhenti sebentar, de-ngan alasan yang mungkin sudah sangat membosankan, bahwa menjadi tua itu tidaklah mungkin kiranya berlangsung tanpa akibat. Tanpa terasa hari sudah senja. Langit semburat jingga di balik dedaunan pohon ke-lapa. Nanti ketika langit menjadi gelap, ke-lelawar akan beterbangan di mana-mana. Aku telah menulis berhari-hari tanpa tidur, kurasa sudah waktunya untuk tidur, me- ngembalikan pemusatan perhatian, karena jika tidak begitu, apa jaminannya diriku akan menuliskan sesuatu yang agak dapat dipercaya?

Pernah kukatakan betapa aku ingin me-nyelesa ikan seluruh riwayat hidupku ini secepat-cepatnya, dan karena itulah aku menulis terus-menerus tanpa tidur seolah-olah tiada waktu lagi. Namun setelah untuk beberapa lama melakukannya, tidakkah kekurangan tidur itu, yang akan selalu membuatku menulis dalam keadaan mengantuk, akan berakibat kepada kesadaranku? Aku ingin menulis dengan sadar, bukan asal panjang apalagi asal jadi, dan pertaruhanku jelas sangat tinggi, yakni nyawaku sendiri.

Bukankah aku berusaha menuliskan kembali segala sesuatu sampai sekecil-kecilnya, dengan selengkap-lengkapnya dari saat ke saat sampai terjamin tiada akan ada yang lolos lagi, karena aku tidak me-ngerti mengapa negeriku sendiri meng- inginkan aku mati? Kupikir takdapat ku-jamin diriku mengingat segala sesuatu yang memang penting dan wajib kutuliskan kembali, jika aku menulis berhari-hari tanpa tidur karena justru akan kehilangan kendali terhadap masa lalu yang ada hubungannya dengan masa kini. Jadi sekarang kukira aku se- baiknya tidur. Aku hanya bisa menulis-kan--nya seperti yang kuinginkan jika aku menuliskannya dalam keadaan sangat amat cukup tidur, yang berarti aku menuliskannya dalam keadaan sehat dan sadar.

Itulah yang menjadi pikiranku kini, mes-kipun kutahu kalau aku nanti bangun tidur masih ada masalah dengan ketuaanku. Ya, rasanya aku masih dapat mengingat banyak peristiwa dari masa yang sudah jauh berlalu, tetapi rasanya cukup sulit mengingat yang baru saja terjadi. Namun jika telah kuha- biskan masa 25 tahun terakhir dari hidupku da-lam samadhi, apakah yang masih mung-kin akan terjadi? Aku tidak perlu mengingat apapun dari masa hidup antara ketika aku berumur 75 sampai 100 tahun, karena selama itu aku tenggelam dalam samadhi dan tentunya tiada suatu peristiwa pun harus terjadi. Bukankah selama 25 tahun aku telah terus menerus melakukan samadhi? Mes-kipun begitu, segala sesuatu yang terjadi hari ini sangat mungkin juga ditentukan berbagai peristiwa yang berlangsung antara tahun 846 sampai 871 yang bagiku gelap sama sekali.

Apakah itu berarti setelah kutulis riwayatku sampai tahun 846, saat aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, masih harus kuperiksa segala macam kejadian yang berlangsung sampai tahun 871, saat pasukan pemerintah bermaksud menangkap dan membunuhku di dalam gua itu?

Tanpa kusadari aku mendesah, memang berkesah, karena merasa khawatir tidak akan pernah kuse lesaikan maksud penulisanku, yakni mengetahui sebab mengapa pemerintah dengan segala hadiah yang dijanjikannya membuat banyak orang memburuku. Jika penulisan riwayat hidupku sampai tahun 846 belum bisa memberi jawaban, apakah itu juga berarti aku harus membaca banyak kitab dan bertemu banyak orang yang akan menjelaskan apa pun yang berlangsung sampai 871? Bagaimana pula caranya aku bertemu banyak orang entah di berapa banyak tempat ketika mestinya aku bersembunyi? Pengalamanku menyamar dan meleburkan diri dalam kehidupan awam sehari-hari sete lah Pembantaian Seratus Pendekar, juga selama 25 tahun dari tahun 821 sampai tahun 846, terbukti selalu dipergoki, karena mata yang tajam memang sangat mampu membedakan orang-orang sungai telaga dengan orang-orang awam. Adapun rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan penuh dengan manusia bermata tajam!

Sudah beberapa lama aku merebahkan diri di dalam pondok. Malam baru saja turun. Ternyata aku tidak bisa tidur. Dalam gelap mataku terbuka. Hhhh. Sekarang sudah tahun 872 dan umurku sudah 101. Bayangan masa lalu berkelebat. Namun aku harus menghentikan gerak setiap bayangan yang berkelebat itu. Menghentikan, menatap, dan membongkarnya. Mengingat masa lalu tidak cukup hanya dengan menyusun kembali urutan peristiwa, melainkan ibarat menghentikan langkah seorang tokoh dari masa lalu itu dan memperhatikannya. Apakah aku masih ingat setiap kata yang diucapkannya? Adakah yang kulupakan dari pandangan matanya? Memang masa lalu bukan sekadar urutan peristiwa, melainkan suatu makna. Mungkinkah aku menggalinya?

MALAM merayap lambat, begitu lambat, seolah tiada akan pernah ber-gerak. Namun bagaikan terasa bagiku bumi berputar dan semesta beredar, yang membuat waktu 101 tahun menjadi tidak terlalu lama, bahkan amat singkat sahaja, begitu singkat, kata orang-orang tua seperti sekadar mampir minum. Apakah masih ada artinya kehidupan yang begitu singkat seperti itu? Aku ingat pernah memperhatikan kehidupan kupu-kupu yang umurnya hanya satu hari itu. Apakah ada artinya kehidupan singkat kupu-kupu? Se-belum menjadi kupu-kupu ia adalah ulat yang lamban dan tidak menarik, yang suatu hari menjadi kepompong yang lebih tidak menarik lagi, dan hanya setelah bertapa begitu lama dan dilupakan maka suatu ketika kepompong itu terkuak dan dari dalamnya keluar kupu-kupu.

Memang ada kupu-kupu buruk yang sayapnya bulukan dan sama sekali tidak menarik, tetapi kupu-kupu terburuk pun adalah bentuk yang jauh lebih indah daripada ulat maupun kepompongnya. Tentu ada pula ke-pompong berwarna perak atau keemasan yang indah, tetapi seandai-nya pun kupu-kupu yang menjelma daripadanya bukanlah kupu-kupu yang cemerlang keperakan atau ke-emasan, takdapat diingkari betapa kupu-kupu terandaikan sebagai wujud yang lebih sempurna, jika bukan penjelmaan amat sangat sempurna dari ulat nan lamban dan buruk rupa itu. Namun tidakkah begitu menyedihkan dan mengharukan jika bentuk sempurna yang harus dicapai melalui pengorbanan ulat menjadi kepompong itu hanya berumur singkat sahaja?

Kupu-kupu yang terbang bagaikan lambang terbaik penjelmaan sebuah impian, impian yang kemudian menjadi nyata, tetapi yang segera hilang lenyap entah ke mana. Setiap manusia juga mempunyai impiannya sendiri, seperti ulat yang merayap lamban tetapi bermimpi terbang, begitulah manusia memiliki keterbangannya masing-masing, yakni sesuatu yang bagaikan mustahil dilakukannya, tetapi tetap dikerjakannya juga karena seluruh pertaruhan hidupnya dimaksudkan menuju ke sana, sesuatu yang seperti m impi dengan segenap kemustahilannya...

Bilik ini bagaikan semakin meng-gelap. Malam terasa sejuk, padahal sebetulnya memang selalu sejuk, ha-nya diriku saja yang karena menulis tanpa henti baru menyadarinya bahwa menulis terus-menerus tanpa pernah tidur tidak akan tujuan penulisanku berhasil. Sekarang aku mendapatkan kesadaran bahwa aku justru harus terjamin tidur dengan cukup seperti ulat yang menjadi kepompong dan tu-lisanku menjelma kupu- kupu... Na-mun meski tampaknya mudah dika-takan, mengalaminya kadang bisa membingungkan.

Maklumlah aku bukan seorang penulis yang telah mendapatkan segala pelajaran. Aku menulis tanpa pernah mengetahui bagaimana caranya menu-lis dengan baik, aku hanya berusaha menuliskan segala sesuatu yang telah kualami secara runtut, tetapi itu pun ternyata tidak mudah, karena dalam setiap usaha mengingat, seribu satu kenangan saling berdesak minta dituliskan. Meskipun aku mengerti betapa tidak segalanya sampai sekecil-kecilnya dapat dan perlu dituliskan semua, justru merupakan kesulitan bagiku untuk menentukan mana yang tak bisa tidak harus diceritakan kembali, dan mana yang lebih baik ditinggalkan saja.

Tumbuh dan dibesarkan dalam dunia persilatan membuat dunia tulis-menulis cukup asing bagiku, meski untunglah sepasang pendekar yang mengasuhku itu telah mengumpulkan banyak kitab dalam peti kayu, dan mengajari aku dengan pengertian bahwa membaca tidaklah patut ditinggalkan oleh seorang pendekar. Memang benar, Sepasang Naga dari Celah Kledung bukan hanya membaca, tetapi juga mengundang banyak orang berpengetahuan dalam berbagai bidang untuk bertukar pikiran, karena mereka selalu menganggap silat sebagai kebudayaan, sehingga usaha memahaminya adalah mustahil jika tidak merujukkannya kepada berbagai bidang pengetahuan. Dari berbagai perbincangan yang kudengar itulah aku sampai kepada pemikiran untuk selalu menghubungkan gerakan dengan pemikiran, artinya silat dengan filsafat, sehingga dapat kumainkan jurus silat yang belum terlawan, yakni Jurus Tanpa Bentuk yang tidak pernah terkalahkan. Bahkan untuk memahaminya saja masih merupakan suatu persoalan. Aku masih belum tertidur meski sangat menginginkannya. Telah kupejamkan mataku tetapi justru karena itu kudengar segala suara dengan lebih jelas dari biasa. Antara lain kudengar suara seruling yang dimainkan Rangga.

Suara seruling itu sudah sangat kukenal. Rangga sering memainkannya pada malam hari bila bulan purnama membuat segalanya tampak keperakan. Namun tiada bulan purnama malam ini, hanya bulan sabit dan segalanya tampak seolah- olah hanya hitam. Rangga dahulu mengikuti rombongan pemain topeng dan selalu memainkan lagu-lagu riang, tetapi setelah ia tidak kuat berjalan lagi dan lebih banyak tinggal di pondoknya maka lagu yang dimainkannya pun berubah. Ia lebih sering meniup seruling pada malam hari seolah dirinya pun berada dalam keadaan malam dan siap mati. Sangat menarik betapa suara seruling dapat menyampaikan suara hati.

NAMUN Rangga sebetulnya jauh lebih muda dariku, karena usianya sekitar 80 tahun. Ia masih pergi ke kebun, ia ju-ga membaca kitab, tetapi mengaku su-dah ingin mati. Kini yang dima inkannya adalah lagu teramat mengharukan itu...

Di antara suara seruling itulah kudengar langkah yang amat sangat halusnya. Terlalu halus, begitu halus, sehingga mestinya telingaku tidak dapat mendengarnya. Sementara dari rumah salah satu tetangga terdengar pelajaran igama.

"Di dalam ajaran Buddha terdapat kewajiban tertentu yang disusun bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkatan kesucian yang telah dicapainya. Tingkatan terendah dan karenanya menjadi kewajiban mutlak set iap orang adalah dana atau pemberian, yang ini pun ada tingkatan-tingkatannya."

"Apakah yang terendah itu Bapak?"

"Yang terendah adalah memberikan suatu benda, betapapun kecilnya. De-ngan dana ini orang menghimpun punya, dan punya inilah yang menentukan gati manusia atau wujud kehidupan lebih tinggi dalam kelahiran kembali."

Aku tersenyum mendengar ajaran ini karena teringat pembangunan Kamulan Bhumisambhara yang belum selesai juga. Dengan alam pemikiran seperti itu, maka untuk pendirian bangunan suci seperti itu setiap orang diandaikan akan berlomba-lomba untuk menyumbang.

"Misalnya apa Bapak?"

"Untuk membantu pembangunan candi misa lnya, biarpun sekadar pasir atau kerikil dari sungai yang terdekat, atau sekadar makanan dan minuman pada waktu tertentu. Itu semua akan sangat membantu, Anakku..."

"Bisakah tenaga kita diganti uang, Bapak?"

"Mereka yang memiliki kekayaan cukup dan jauh tempat tinggalnya akan menyumbangkan uang, yang sangat diperlukan untuk pembeayaan atas kebutuhan yang tidak mungkin dipenuhi dengan kerja bakti, seperti biaya bagi para pemahat-halusnya."

Pembangunan candi itu di beberapa bagian memang mencapai tahap akhir, karena t inggal menghias dan mengukir, yang tidak bisa dikerjakan ramai-ramai secara gotong royong, sebagai suatu pekerjaan yang membutuhkan keahlian.

"Tapi," rahib itu menyambung, "ada juga seniman yang bekerja sukarela sebagai dana dari tingkat lebih tinggi."

Aku mengerti, kehidupan yang berpangkal kepada usaha dana dan pengumpulan punya diatur dengan suatu cara, bahwa ada yang bertanggung jawab atas bangunan suci, yang juga telah menentukan bagaimana terdapat bagian hasil bumi, sawah maupun kebun, menjadi milik bangunan suci tersebut. Adapun untuk mendapat kedudukan penanggungjawab set iap kesatuan wilayah pemukiman, setiap orang dari kasta yang diiz inkan ternyata dapat mencalonkan diri, karena penghimpunan punya dari penguasa adalah kesempatan yang dianggap baik.

"Kehidupan bersama seperti ini mencakup kebutuhan jasmani dan rohani, perdagangan dan keigamaan, menjadikan kebersamaan sebagai pemersatu daya khalayak ke satu tujuan, yakni mengabdikan diri untuk kepentingan bersama," katanya lagi.

Aku tak tahu apakah kanak-kanak dan remaja di depannya manggut-manggut atau tidak, tetapi aku tahu saja betapa dengan sikap hidup dan kebersamaan pengaturan seperti itu, pembangunan candi dan tempat-tempat suci lainnya tidak akan melemahkan, apalagi melumpuhkan perdagangan.

Padahal begitu besar Kamulan Bhu-misambhara ini, penyusunan batu-batu-nya dilakukan dengan kait, berupa tonjol-an pada batu yang satu untuk dimasukkan ke dalam lubang pada batu lainnya, dan juga dengan pasak yang juga terbuat dari batu. Aku belum lupa bagai-ma-na kait dan pasak ini baik ke samping maupun ke atas, ke bawah dan ke bela- kang, terjalin begitu rupa sehingga batu-batunya tidak dapat bergeser dari tempatnya, menjadi suatu dinding yang amat sangat kokoh. Kukira menatah kait dan pasak agar tepat berpasangan bukanlah sesuatu yang mudah, begitu juga pema-sangannya. Sampai kemarin masih kulihat sejumlah orang membawa alat-alat untuk membuat prancah1, gunanya untuk mencapai bagian-bagian yang tinggi. Memang tidak mungkin para pekerja berada di puncak dan seluruh bangunannya secara berangsur-angsur ditimbun tanah.

Begitulah, sejauh kuikuti pembangunannya, yang masih belum selesai meski telah kutinggal pergi mengembara dan setelah kembali menghilang ke dalam gua, Kamulan Bhumisambhara yang kelak akan berdiri bukanlah bangunan sebagaimana direncanakan semula. Aku pernah berada di candi raksasa yang belum jadi itu tanpa diketahui orang pada suatu malam, ada stupa-stupa yang dipindah di sudut-sudut pelataran bujur sangkar yang paling atas, tepatnya di luar pelataran bundar yang pertama.

DI kaki bangunannya malah ada pelataran tambahan, berupa timbunan batu-batu yang menutupi kaki semula seluruhnya. Akan kuceritakan apa yang kuketahui sehubungan dengan masalah tersebut kelak, sekarang aku hanya memastikan bahwa memang terdapat perubahan dalam pembangunan Kamulan Bhumisambhara.

Masih terdengar suara seruling Rangga. Suara langkah yang sangat amat tipis itu pun masih terdengar juga. Pada saat aku ingin sekadar beristirahat!

Aku memang tetap berbaring, aku ingin segera tidur dan bangun lebih segar besok pagi supaya bisa menulis dengan kesadaran dan kecermatan tinggi, tanpa dibawa oleh sekadar perasaan atas kenangan, karena celakanya memang hanya perasaan itulah yang kumiliki sebelum dapat menyadari sesuatu pun jua. Maka semakin cukup tidur dan bugar tubuhku semakin mungkin kesadaran mengusahakan kecermatan, tetapi semakin kurang tidur dan semakin redup kesadaranku semakin kuat perasaan meruyak dan menguasai kenangan. Mungkinkah kiranya manusia membebaskan kenangan dari perasaan? Benarkah aku akan harus menuliskan segala sesuatu hanya dari sudut pandangku dengan segenap perasaanku sahaja?

Untuk sementara ini setidaknya dua pihak te lah mengetahui tempat tinggalku. Pihak pertama tentu para anggota kelompok rahasia Kalapasa, atau yang kuduga Kalapasa, karena kuda- kuda mereka lebih pantas dim iliki pengawal rahas ia istana; pihak kedua adalah perempuan yang telah membunuh orang- orang tersebut, dan tampaknya terus berusaha berada di dekatku. Tahukah, atau tak tahukah ia betapa diriku mengetahui gerak-geriknya?

Apabila aku sedang tenggelam dalam penulisan, sebetulnya kewaspadaan yang telah mengendap berpuluh-puluh tahun selama mengarungi sungai telaga dunia persilatan tetaplah bekerja, yakni bahwa serangan gelap dapat muncul set iap saat tanpa pernah bisa diduga. Para pendekar golongan putih akan mengajak bertarung secara ksatria, dan apabila para pendekar golongan merdeka menyerang tiba-tiba karena keajaiban perilakunya pun tidak akan pernah dimaksudkan sebagai serangan gelap tanpa perkara; tetapi orang-orang golongan hitam akan sangat mungkin me lakukan serangan gelap dengan senjata rahasia beracun mereka yang sering tidak ada obatnya, dan banyaklah sudah para pendekar tewas bahkan tanpa sempat bertarung karenanya.

Maka ketika aku mengguratkan pengutik pada lembaran lontar, aksara demi aksara, aku sungguh tahu menahu sahaja apabila sesosok bayangan berkelebat amat sangat cepatnya tanpa suara pada pucuk-pucuk kelapa, untuk suatu ketika diam dan bertengger menahan nafasnya, mengawasiku dari atas sana. Halaman di depan pondokku itu, yang juga menjadi halaman pondok-pondok lain di dalam pura, dinaungi berbagai macam pohon di sekitarnya sehingga menjadi rimbun, tetapi terdapat sebuah celah di antara kerimbunan itu yang langsung menampakkan serambi tempatku bersila di depan meja pendek ketika menuliskan segenap cerita yang telah diikuti sekalian Pembaca yang Budiman ini.

Namun sebegitu jauh aku mendiamkannya saja selama bayangan berkelebat itu tidak menggangguku. Telah kukatakan betapa sekarang ini diriku mengutamakan penyelesaian tulisanku dan semestinyalah tidak ada yang perlu kuanggap lebih penting dari itu.

Malam ini langkah-langkah itu terdengar lagi. Kuakui betapa kecepatan dan keringanan tubuhnya memang luar biasa, sehingga aku bertanya-tanya siapakah kiranya yang menjadi gurunya atau kitab ilmu manakah kiranya yang telah dipelajarinya. Tentu dia bukan seorang pencuri kitab, karena jika dirinya seorang pencuri kitab maka seluruh tumpukan gulungan lontar ini tentu te lah dilarikannya. Sebaliknya, justru dibunuhnya anggota Kalapasa, atau seseorang yang kukira anggota perkumpulan rahasia Kalapasa, yang bermaksud membawa pergi tulisanku itu.

Seruling Rangga berhenti. Ia pun tampaknya mau tidur. Suara langkah itu hilang. Rupanya ia berlindung dibalik suara seruling Rangga. Itu suatu cara berpikir yang masuk akal, sementara perhatian kita tertarik oleh suatu suara, kita tidak terlalu peduli terhadap suara-suara lainnya. Namun ia tentu tiada mengira betapa jika kupejamkan mataku dan memasang ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang maka kulihat sosoknya sebagai garis cahaya sesuai bentuk tubuhnya. Jadi meski ia tidak melangkah lagi, suara napasnya masih memberikan gambaran dirinya kepadaku, dan jika ia menahan napas masih juga detak jantungnya akan menjelaskan keberadaannya, sementara jika detak jantungnya berhenti, udara yang tersibak tubuhnya tetap saja memberi gambaran yang terbaca.

MAKA dalam keterpejamanku terlihat jelas dari garis cahaya hijau kekuningan yang membentuk tubuhnya, bahwa yang mencoba berdiam tak bernapas itu adalah seorang perempuan. Kuingat Pendekar Melati yang hanya kuingat aroma wewangiannya itu. Ketika terakhir kali bentrok dengannya begitu melayang keluar dari gua, ia telah muntah darah karena pukulan Telapak Darah. Sayang aku tidak mengenalinya sebelumnya, karena ia menyerangku dengan membabi buta dari balik kabut.

Mengingat hubunganku dengan Pendekar Melati itu di masa lalu, yang memang belum kuceritakan seluruhnya, tentu akan sangat bersedih jika dirinya tewas karena pukulanku itu. Meskipun aku hanya mengibas, tetapi pukulan Telapak Darah tidak pernah gagal, setidaknya ia akan meninggalkan dunia ini dalam sehari dan semalam. Mengapa ia harus menyerangku dari balik kabut seperti itu? Mengapa tidak ada penjelasan apapun juga jika menurutnya aku mesti tewas di tangannya? Urusan pribadi kami setahuku sudah selesai, hanya sesuatu yang luar biasa mestinya membuat Pendekar Melati di masa tuanya turun gunung dan mencariku yang sudah menghilang 25 tahun pula...

Namun kehadiran perempuan yang telah berhari-hari mengintaiku itu tentu tidak harus ada hubungannya dengan Pendekar Melati bukan? Sejauh yang kuketahui, persaingan antarperempuan pendekar ini jauh lebih ketat, lebih tajam, dan lebih sengit daripada para laki-laki pendekar.

Meskipun kuketahui Pendekar Melati mendapatkan ilmu silatnya dari seorang perempuan, itu tidaklah harus berarti ia akan menurunkan ilmunya kepada seorang perempuan pula. Betapapun harus kuakui bahwa jumlah perempuan pendekar itu sangat sedikit. Di antara mereka, jika tidak saling mengenal, setidaknya tentu saling mengetahui...

Maka layaklah aku menjadi penasaran dengan gerakan yang luar biasa cepatnya dengan nyaris tanpa suara itu. Setelah mengembara, berguru, maupun bertarung dengan begitu banyak pendekar dari begitu banyak aliran persilatan, aku tidak merasa mengenali ciri-ciri ilmu meringankan tubuh yang satu ini.

Namun aku tentu merasa bersyukur masih bisa memergokinya. Tidak hanya di balik pucuk-pucuk pohon kelapa, tetapi juga di balik batang pohon, di balik dinding rumah, dan bila aku melangkah keluar untuk mengerjakan pembuatan lembaran lontar, ia berkelebat ke balik gerbang.

Aku bisa berkelebat mencegatnya, tetapi selain tidak kulihat ia bermaksud jahat, juga aku merasa waswas dengan buntut panjang urusan yang belum dapat kuperkirakan, ketika menyelesaikan tulisan bagiku kini menjadi satu-satunya tujuan dalam kehidupan. Ke manakah hilangnya suara tapak itu kini? Ia menahan nafas dan detak jantungnya tiada terdengar lagi. Padahal tidak mungkin ia tiba-tiba mati. Sedangkan bila berkelebat menghilang tentu diriku akan mengetahui. Aku bangkit dengan mata terpejam karena masih kupasang ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.

Jika memang benar ia mendadak lenyap tanpa terlacak, itu berarti dirinya bisa membunuhku setiap saat! Pernah kukatakan hanya perlu satu titik lemah terbuka dalam sekejap mata, untuk melumpuhkan seseorang betapapun saktinya dalam dunia persilatan, yang antara lain membuat orang- orang golongan hitam sangat mengandalkan jarum beracun sebagai senjata rahasia dalam serangan gelapnya.

Kini tinggal udara yang bisa dibaca telinga, untuk diubah menjadi pemandangan dalam keterpejaman mata. Dengan segera kuketahui bagaimana ia telah membuat langkahnya tidak terlacak, karena ia telah mengambang di udara tanpa bergerak sama sekali. Ia tentu mengambang dengan tubuh seringan kapas, bahkan lebih ringan dari kapas, karena kapas pun perlahan-lahan turun ke bumi.

Ia membiarkan tubuhnya mengambang dalam keadaan melayang dengan dua tangan terentang bagai tengkurap di atas pembaringan, tetapi yang melayang terbawa aliran udara malam dalam angin yang bertiup sangat amat pelahan. Ini berarti ia mengetahui bahwa aku telah melacak kehadirannya dan ia bermaksud melarikan diri!

Aku berkelebat secepat kilat. Namun ketika aku berada di tempatnya hanya kegelapan yang kutemui. Aku me lenting ke atap rumah dan memang kulihat sesosok bayangan berkelebat ke balik malam dan menghilang.

Tinggal kelelawar beterbangan di mana-mana di sekitar pepohonan. Kuputuskan untuk tidak mengejarnya karena mungkin saja ia sudah menghilang lagi di tempat yang kulihat itu, dan yang lebih membuatku tidak mengejarnya adalah tumpukan lontar itu. Sudah jelas ada pihak yang berusaha mencurinya, jika waktu itu saja sudah hampir hilang, bukan tak mungkin terjadi lagi sekarang.

Aku melompat turun dari atas atap dengan ringan dan berjalan kaki ke pondokku. Ternyata Nawa sudah menungguku di serambi.

'NAWA! Kenapa kamu di sini?''

''Aku tidak bisa tidur, aku mau tidur sama Kakek,'' katanya.

Ia langsung masuk ke bilikku dan menggeletak tidur di balai-balai bambu.

Pikiranku masih berada di atas atap ketika melihat bayangan hitam itu berkelebat menghilang. Aku seperti mengenali gerakannya, tetapi tidak bisa kuingat pernah kulihat sebagai gerakan siapa, ataukah gerakannya berasal dari ilmu meringankan tubuh yang mana.

Kulihat Nawa sudah tertidur pulas. Aku kehilangan m inat untuk tidur. Maka kuambil lagi pengutik dan setumpuk lembaran lontar yang masih kosong.

Aku kembali duduk di serambi. Di bawah cahaya api dari damar itu aku mulai menulis lagi.

(Oo-dwkz-oO)