-->

Nagabumi Eps 159: Pantulan Bayangan Masa Silam

Eps 159: Pantulan Bayangan Masa Silam

Aku dilontarkan angin, tetapi aku merasa terhisap oleh suatu daya yang luar biasa. Apakah yang harus kulakukan? Pantulan cahaya serba terang yang sangat menyilaukan membuat aku semakin tidak dapat berpikir. Celah Dinding Berlian yang cahayanya dari jauh tampak lembut karena cahaya yang dipantulkannya adalah cahaya keperakan rembulan, ketika mendadak begini dekat ternyata menjadi sangat cemerlang, begitu berkilauannya sehingga membutakan. Jika dalam kebutaan bermakna gelap dapat kukerahkan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang yang akan menampilkan garis-garis cahaya kehijauan dalam keterpejaman, maka dalam kebutaan bermakna terang seperti kesilauan garis-garis cahaya kehijauan dalam keterpejaman menjadi tidak kelihatan. Dalam keterpejamanku hanya terdapat cahaya berkilau-kilauan, yang justru membuatku tenggelam dalam kebutaan.

Demikianlah peristiwa ini berlangsung cepat sekali, begitu cepatnya, sehingga lebih cepat dari pikiran. Aku merasa diriku lenyap di telan cahaya dan hanya cahaya. Kilas-kilas cahaya berkelebat menelan dan menggulungku, mengunyah dan meremukkan diriku. Aku tak bertulang, aku tak berdaging, rasanya diriku t iada bertubuh. Aku menjadi cahaya dan hanya cahaya, tetapi tetap diriku, ditelan cahaya demi cahaya... Darah melepaskan diri dari tubuh, juga daging dan tulang saling berpisah, anggota badan terpencar-pencar, jangan dikatakan lagi mata, hidung, lidah, telinga, rambut, usus, ginjal, limpa, dan entah apa lagi...

Ke mana diriku. Ke mana diriku. Ke mana diriku.

Aku hanya cahaya tanpa mata sehingga tidak bisa melihat apa-apa.

(Oo-dwkz-oO)

AKU seperti hidup di dalam mimpi. Namun jika setiap mimpi datang dari dalam diri, apakah makna mimpiku kali ini?

Aku adalah bayi dalam buaian. Tenang dan tenteram dalam tatapan mata terindah yang memang begitu indahnya sehingga tiada dapat dirumuskan. Mata yang indah dan suara yang merdu...

Tak kutahu betapa itu terdapat dalam diriku.

SEMULA hanya sosok baur yang selalu bergerak, merengkuhku dalam jaminan kehangatan yang menenteramkan, sosok baur kekelabuan yang set iap kali mengendap ketika diriku menangis dalam keterasingan memberikan keakraban dan keteduhan.

Mengapa begitu jauh segala kedamaian itu kini, ketika kutempuh jalan menuju kesempurnaan, yang ternyata begitu sepi dan sunyi, karena siapa pun yang bertujuan sama harus disingkirkan? Jika kesempurnaan hanya memberi tempat bagi satu manusia sempurna, berapa banyakkah manusia harus menjadi korban sepanjang jalan persilatan dalam perebutan tempat di puncak kesempurnaan itu? Tangisan itu tidak pernah pergi dariku. Setiap kali aku merasa terasing, sendirian, dan ditinggalkan, aku menangis, dan setiap kali menangis sosok kelabu itu se lalu datang lagi dan datang lagi.

Tangisan itu selalu datang lagi kemudian, ketika sosok kelabu itu berganti tiba-tiba, menjadi sosok kelabu lain, yang juga mendekapku setiap kali perasaan terasing yang mengilukan itu tiba, yang juga mendekap dan menghangatiku, sangat amat menyayangiku, bagaikan masih terasa olehku belaiannya yang begitu lembut dan sungguh meneduhkan itu...

Namun aku kemudian diberi pelajaran agar membiasakan diri dengan keterasingan dan kesendirian itu.

''Dikau tidak harus menjadi seorang pendekar, Anakku, meski segenap ilmu silat yang kami miliki juga telah menjadi milikmu, tetapi sekali dikau menempuh jalan persilatan, Anakku, ketahuilah betapa itu merupakan jalan yang sangat sepi, karena dikau akan se lalu berjalan sendiri. Dikau hanya akan dicari oleh lawan yang akan menantangmu bertarung dan membunuhmu pada kesempatan pertama, dan karena itu dikau harus membunuhnya sehingga dikau akan selalu berjalan dalam sepi. Begitulah akan se lalu terjadi sampai suatu ketika seorang pendekar mengalahkanmu. Namun tak dapat kami bayangkan ilmu s ilat macam apa yang akan dapat mengalahkan dirimu, Anakku, apabila telah dikau pelajari segala kitab ilmu silat yang juga telah kami pelajari ''

Demikian pula kini aku merasa sendiri, melayang-layang sendiri dalam dunia kelabu masa laluku yang tak pernah kuketahui meski kualam i. Memang besar perbedaan antara kenangan yang terabadikan dengan naluri dibanding yang sengaja diabadikan dengan kesadaran bukan? Maka sebelum mampu menerjemahkan ap apun yang kualami dalam pustaka ingatanku, hanya sosok kelabu, suara merdu, dan dekapan hangat itu yang terasa kembali olehku, tanpa pernah kuketahui semua itu ternyata mengendap dalam diriku.

Jadi apakah yang membuat aku tiba-tiba tenggelam ke dalam ingatan yang sebetulnya tak pernah kuingat itu? Kenapa aku mendadak melayang di suatu semesta yang seperti impian penuh dengan bayangan maupun bayang- bayang baur yang membaur dan terus menerus berbaur-baur membuatku setiap kali seperti dapat mengingat sesuatu segera kembali menjadi kabur?

Dalam keterbauran kudengar pula suara-suara. Kadang seperti suara senandung, semacam senandung yang akan membuatku tertidur dan berm impi indah, tetapi yang segera disusul dan berbaur dengan suara-suara lainnya, seperti derap kaki-kaki kuda, derik roda kereta, teriakan-teriakan yang takkuketahui persisnya apa, dentang-dentang logam, lantas kembali sunyi, tetapi dalam kesunyian yang manapun sayup- sayup suara angin selalu kembali, kembali, dan kembali, kadang memang hanya sayup-sayup sahaja tetapi kadang juga membadai tiba-tiba menghilangkan takhanya suara-suara lainnya melainkan juga segala bayangan dalam kekelabuan yang maya...

Aku tidak melihat bayangan dan tidak mendengar suara melainkan aku berada di dalam bayangan dan di dalam suara. Sejak kapan mata melihat sejak kapan telinga mendengar dan sejak kapan urat syaraf yang mengabadikan kenangan di kepala bekerja?

Apakah aku mendengar sebuah nama? Apakah kudengar suara menyebutkan sebuah nama? Seperti kutatap sosok dalam bayangan yang mendekap seluruh diriku itu, sosok yang tercium kembali harum tubuhnya, tubuh yang selalu kurindukan kembali kedamaian dan keteduhannya, kehangatan nyata tubuh yang sungguh begitu mesra, mengendap dan mendekap untuk membisikkan sebuah nama. Siapa? Kudengar sebuah bisikan, kudengar bisikan sebuah nama, siapa?

Apakah yang dibisikkannya itu sebuah nama dan apakah yang dibisikkannya itu namaku?

Siapa?

Apakah aku bernama?

Apakah aku pernah mempunyai nama?

Apakah aku pernah dipanggil dengan suatu nama? Namaku siapa?

Siapa? Siapa? Siapa?

Mereka menyebutku Pendekar Tanpa Nama, tetapi itu bukan namaku meski tampaknya dimaksudkan untuk menandaiku, untuk membedakan aku dengan yang lainnya. Suatu tanda bahwa aku tidak punya nama.

Apakah bisikan itu memang namaku? Kalau bisikan hanya terdengar sebagai bisikan, kenapa diriku harus menduganya sebagai suatu nama dan itu namaku pula?

Mengapa aku harus mempunyai nama? Benarkah manusia harus bernama?

Kurasakan diriku bagaikan sedang bermimpi, tetapi ini bagaikan m impi dengan makna nyata tentang masa lalu yang tersembunyi di dalam relung kenangan tanpa bahasa, sehingga apa pun yang akan kukatakan tentang gambaran yang berkelebat di dalam kepalaku mungkin keliru tetapi aku akan tetap mengatakannya.

Bisikan itu mungkin menyebutkan sebuah nama, tetapi aku tak bisa menyebutkannya. Mungkin itu namaku, meski tiada dasar apa pun dalam diriku untuk meyakininya sebagai namaku. Bisikan lembut ketika sosok bayangan kelabu mendekapku dengan keharuman dan kehangatan akrab yang terasakan sangat melindungi.

Lantas senandung yang merdu itu lagi...

Lantas suara lelaki. Suara banyak sekali laki-laki, dan gambaran kacau sosok-sosok tak jelas yang berhamburan kian kemari.

Lantas sekali lagi suara ringkik kuda dan roda-roda gerobak dan langit biru.

Dalam gambaran langit biru kudengar suara pedang berdentang-dentang.

Ya, kini aku tahu, bunyi logam yang terus menerus beradu dise ling suara jerit kesakitan tertahan itu adalah suara pedang yang berbenturan dengan pedang lainnya.

(Oo-dwkz-oO)

Waktu kubuka mataku kusaksikan betapa diriku sudah terkapar di Celah Dinding Berlian. Dinding-dinding memantulkan cahaya menyilaukan ke segala arah siap membutakan mata siapapun yang menatapnya, sehingga siapa pun yang menuju dan melewati celah itu harus memejamkan mata, dan hanya bisa melewatinya dengan bergantung kepada naluri kuda. Menjadi buta di sini bukanlah menjadi mati urat syaraf pada matanya, melainkan karena kesilauan yang luar biasa memang tidak akan membuat seseorang dapat melihat apa pun jua. 

Kulihat jalan setapak berliku-liku mengikuti lekak-lekuk pinggang jurang yang menuju kemari, dan kulihat pula betapa dari sini jalan terpecah menjadi sekian percabangan yang semuanya juga hanya setapak dan juga berliku-liku mengikuti lekak-lekuk pinggang jurang semakin lama semakin jauh sebelum akhirnya menghilang. Siapa pun yang mau tidak mau harus melewati tempatku terkapar sekarang ini, jika tidak ingin buta memang harus memejamkan matanya atau menutup matanya dengan kain, dan setelah melewatinya bisa segera membuka mata atau penutup kain itu asal jangan menoleh ke belakang untuk beberapa saat lamanya.

Dari tempatku ini, aku membelakangi dinding yang memantulkan cahaya menyilaukan itu, sehingga aku dapat melihat ke segala arah tanpa menjadi silau sama sekali. Hari telah menjadi siang, tetapi dingin masih tetap mencengkam.

Apakah yang telah terjadi? Tidakkah aku seharusnya mati dengan tubuh remuk takberwujud lagi? Aku yang semula memanfaatkan angin untuk mengatasi serangan mendadak kedua anggota perkumpulan rahasia Kalakuta itu, akhirnya terseret oleh tarikan angin yang luar biasa dan melayang- layang bagaikan berada di lorong angin dengan takberdaya sampai akhirnya terbanting menuju dinding bercahaya menyilaukan yang merupakan dinding pada Celah Dinding Berlian yang ternama.

Kuingat betapa cahaya menyilaukan yang membutakan itu telah menelanku, dan semakin menghilangkan segala dayaku untuk mengatasinya, ketika dengan cepat dan pasti, aku meluncur secepat kilat menuju dan semestinyalah menabrak dinding berkilauan itu. Apakah aku memang telah menabrak dinding keras tak terperi itu, jatuh dengan tubuh remuk dan semakin remuk ketika membentur lantai batu tempat aku seharusnya menunggu rombongan Harimau Perang dan kini sudah mati? Segera telapak tanganku meraba lantai batu, terasa kasar dan berpasir, tentu saja ini masih alam jasmani tempat dapat kurasakan segala sesuatu dengan pancainderaku. Aku belum mati. Namun bagaimana mungkin?

Aku beranjak bangkit. Tubuhku tidak kurang suatu apa. Jika aku membentur dinding karena bantingan angin dan jatuh meluncur untuk membentur lantai batu dasar dinding tentu aku tidak dapat beranjak dan melenting ringan seperti ini. Apakah yang telah terjadi? "ILMU Berlari Kencang Menunggang Angin membuat sahaya bisa berkelebat lebih cepat dari angin itu, bahkan dengan mata terpejam, karena mata yang terbuka sangat mungkin dibutakan pantulan cahaya berkilauan dari Celah Dinding Berlian. Sahaya menyambar Tuan sebelum menabrak dinding dan meskipun tubuh sahaya pun tidak urung terbentur ke dinding, dalam keadaan seringan bulu burung benturan itu tidak ada artinya..."

Napasnya mendadak tersengal. Aku tahu dirinya akan segera meninggal.

"Yang sahaya berikan kepada Tuan adalah riwayat kami," bisiknya lirih, "mohon tak berprasangka kepada kami..."

Lantas penolongku ini tidak bergerak lagi.

Aku menghela nafas karena dapat membayangkan apa yang telah dilakukannya. Aku tidak terlalu keliru ketika menimbang dari caranya bergerak dan melangkah, bahwa pemilik kedai yang seperti selalu tergopoh-gopoh melayani segala pesanan adalah seseorang yang ilmu silatnya tidak bisa diabaikan. Namun taksekadar berilmu silat tinggi ia adalah seorang prajurit yang tampaknya berjuang sampai titik darah penghabisan. Meskipun merendahkan diri sebagai orang-orang kalah, ia dan mereka yang berada bersamanya sama sekali bukan para pecundang.

Pernah kudengar sebuah siasat yang berasal dari masa kekuasaan Musim Semi dan Musim Gugur, ketika penguasa Y ue yang bernama Chu Chien, dipaksa untuk menandatangani perdamaian memalukan di Gunung Hui Chi setelah dikalahkan penguasa Wu yang bernama Fu Chia. Ia diampuni dan diiz inkan pulang kembali, tetapi kehormatannya runtuh dan semangatnya pudar, dan justru hanya dengan bersumpah untuk tidak me lupakan kekalahan pahit itulah jiwanya masih tetap hidup. Bahwa kemudian digunakannya gadis Hsi Shih yang dididiknya takkurang dari tiga tahun untuk memikat hati Fu Chia, dan dalam kelengahan Fu Chiaoyang hanya peduli kepada selir barunyaomaka Chu Chien balas menggempur sampai Wu hancur lebur, itu perkara lain yang merupakan bagian dari Siasat Perempuan Cantik dalam kitab Lu Tiao. Betapapun itu memang siasat yang dianjurkan kepada pihak yang kalah perang.

jika pasukan kuat, serang panglimanya jika panglimanya bijak, serang jiwanya jika panglima lemah

dan pasukan terpecah belah kekuatannya akan hancur sendiri

adalah bermanfaat untuk menekan musuh inilah pertahanan yang lentur dan serasi

Kiranya cukup jelas bahwa tanpa harus membawa-bawa perempuan, siasat yang dijalankan masih sama, yakni menghadapi kekuatan bukan dengan kekuatan, tetapi dengan kelenturan tanpa sama sekali mengurangi tekanan terhadap lawan.

Kubayangkan dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa itu, ilmu Berlari Kencang Menunggang Angin, ia bukan sekadar dapat berkelebat mendahului angin, tetapi juga menyambarku yang sedang terempas menembus cahaya berkilauan nan membutakan sebelum membentur dinding sekeras berlian itu. Untuk menyambarku ia mesti mendahuluiku, lantas berbalik sambil me layang mundur, sehingga adalah telapak kakinya yang dengan segera menempel ke dinding sementara kedua tangannya membawaku yang sudah tidak sadarkan diri. 

BAGIAN yang tersulit adalah melepaskan diri dari jebakan angin, karena tekanannya yang dahsyat membuat siapapun bagai akan menempel selamanya pada dinding, dan hanya karena angin tekanannya berubah-ubah maka peluang untuk lepas dapat ditunggu meski kepastiannya takbisa ditentukan. Sedangkan ketika tekanan berkurang, benda maupun manusia akan segera melayang jatuh, kecuali bobotnya seringan kapas atau bulu ayam.

Demikianlah bapak kedai yang belum kuketahui namanya tentu juga akan turun perlahan-lahan dengan tubuh seringan kapas, tetapi saat itulah lima bayangan yang telah berkekelebat mendahuluinya sedang menanti, bahkan sangat mungkin telah menyerangnya dengan tujuan membunuhku sebelum sampai di lantai batu tempatku sekarang menghadapinya tanpa nyawa lagi.

Pertarungan bisa berlangsung lama, tetapi juga bisa berlangsung cepat sekali. Melihat bagaimana senjata rahasia cakra itu tertanam pada dahi kelima anggota Kalakuta itu, kukira penolongku baru me lepaskannya setelah terluka lebih dahulu, karena ketika masih membawaku tak mungkinlah ia memegang apa pun selama diserang kelima orang yang tentu mengurungnya dengan jurus-jurus berpasangan tersebut.

Kulihat lengan bajunya robek dan terlihat darah kering di sepanjang sisi robekannya. Ia tak bisa menghindar atau menangkis karena membawaku. Aku marah kepada diriku sendiri karena telah membuat seseorang kehilangan nyawa demi kehidupanku. Padahal s iapakah aku! Sedangkan namaku sendiri pun aku taktahu, bahkan tak punya!

Kukira memang itulah yang terjadi. Mereka melayang dalam suatu jurus berpasangan ke atas, ketika penolongku melayang turun sambil membawa diriku.

Prajurit pemberontak lanjut usia itu jelas menghindari empat sambaran belati melengkung yang sangat beracun, tetapi sa lah satu dari lima sambaran, entah berturutan entah serempak pasti mengenainya dalam papasan di udara itu. Hanya setelah tiba di bawah dan meletakkan diriku sempat dilontarkannya kelima senjata rahasia berbentuk cakra yang langsung menancap pada jidat kelima penyerangnya itu. Aku mendongak. Angin masih kencang, tetapi tidak begitu kencang seperti semalam sehingga mampu menerbangkan manusia seperti debu beterbangan. Dinding itu adalah sisi pipih tonggak raksasa menjulang yang bukan alang kepalang luar biasa tingginya.

Dinding yang memantulkan cahaya menyilaukan siang dan malam, baik cahaya matahari maupun rembulan, yang membuatnya dari tempat amat jauh pun sudah kelihatan. Aku tahu bagaimana diriku akan jatuh terbanting dan tubuhku remuk redam jika tiada seseorang yang menolongku seperti itu.

Kuperiksa kelima mayat maupun senjata kelompok rahasia Kalakuta itu, dan pada sa lah satu belatinya terdapat darah yang juga sudah mengering. Kuambil belati me lengkung tersebut dan ketika kuangkat agar kena cahaya tampak suatu pantulan redup kuning kehijauan karena rendaman racun bertahun-tahun yang sangat mematikan.

Seperti semua senjata, racun sebetulnya hanyalah sesama alat pembunuh, tetapi terdapat semacam kesepakatan tanpa pernah dikatakan bahwa hanya golongan hitam yang akan menggunakannya sebagai senjata, seperti yang juga digunakannya untuk penyerangan secara gelap.

Saat kelima penyerang mendarat kembali di tanah saat itu pula mereka tergelimpang dengan dahi tertancap.

Mungkin mereka sempat me-nangkis tetapi senjata rahasia cakra itu terlalu cepat, mungkin juga mereka taksempat menyadarinya ketika senjata rahasia itu menancap, sampai terbenam setengahnya ke dalam kepala. Jelas lebih dari cukup untuk mengakhiri riwayat hidup mereka.

Namun sementara itu racun yang merasuk melalui luka pada lengan bapak kedai tersebut juga langsung bekerja, dan hanya karena tingkat tenaga dalamnya saja seolah ia sempat menungguku tersadar dan berbicara. Kukira aku harus mengingat dengan baik segenap kata-katanya. Siapakah dia sebenarnya?

Setidaknya dua perkara teringat dengan baik olehku. Pertama, bahwa ia bercerita cukup banyak tentang peranan orang-orang kebiri dalam permainan kekuasaan di istana Wangsa Tang; kedua, bahwa ia mengakui dirinya sebagai orang-orang kalah, suatu pengertian merendah dari para pemberontak yang gagal dan mengungsi ke perbatasan.

Bahwa ia beberapa kali menyebut istilah kami membuktikan betapa dugaanku tidak terlalu tepat. Semula aku mengira dirinya seorang penyoren pedang, seorang pendekar silat yang mengundurkan diri dari dunia ramai dan menenggelamkan diri dalam perenungan, yang membuka kedai sekadar untuk mempertahankan kehidupan.

NAMUN karena kedai itu bagaikan satu-satunya kehidupan di sepanjang lautan ke-labu gunung batu, aku sempat mencurigainya sebagai tempat yang sengaja dibangun sebagai bagian dari jaringan mata-mata, bahwa dari pengamatannya atas para pe-ngembara dan rombongan yang singgah, ia akan menjual keterangan kepada para penyamun tentang siapa kiranya yang layak dirampok karena membawa banyak uang atau harta berharga.

Perkiraanku kemudian bergeser, bahwa jika tidak bekerja demi kepentingan para penyamun, yang tidak semuanya merupakan penjahat kambuhan, melainkan para pelarian yang tersingkir dari pertarungan kekuasaan, mungkin saja ia memang mata-mata, tetapi bukan untuk tujuan perampokan, melainkan perkembangan keadaan. Untuk siapa dia bekerja, untuk pemerintah atau untuk salah satu kelompok pembe- rontak, sangatlah sulit ditentukan. Meskipun lautan kelabu gunung batu itu seolah tak pernah terlihat ada manusianya, sebetulnya dari abad ke abad terus didatangi orang-orang yang tersingkir dalam perebutan kekuasaan, tetapi yang terus mempertahankan impian bah-wa dengan menghimpun kekuatan suatu saat bukan tak mungkin meraih kemenangan.

Mayat kelima anggota kelompok rahasia Kalakuta itu dalam waktu s ingkat telah melayang jatuh ke kedalaman jurang yang bagai tiada berdasar. Seluruh belati melengkung mereka kuambil, karena merasa akan ada gunanya nanti menghadapi saat-saat takterduga yang rasanya terus menerus datang. Namun kubawa jenazah bapak kedai itu melenting ke atas dinding. Kulihat ada sebuah tonjolan batu pipih di situ, dan seperti yang kuduga batu pipih yang menjorok lebar itu bagaikan serambi bagi sebuah gua kecil. Di sini akan kutinggalkan jenazahnya agar dimakan usia, tetapi untuk sementara aku akan berada bersamanya, karena dari tempat ini aku dapat mengawasi keadaan dengan sangat baik.

Sekarang aku mengerti arti petunjuk Iblis Suci Peremuk Tulang bahwa diriku harus secepatnya tiba di Celah Dinding Berlian. Dari sini aku dapat mengawasi ke kedua jalan itu sekaligus, melihat siapa datang dan siapa pergi tanpa diketahui, dan memang sangat penting untuk t iba di sini lebih dahulu dari rombongan Harimau Perang yang suidah berkurang tujuh orang itu, sebab jalan yang meninggalkan tempat ini langsung terbagi ke arah Dali dan Kunming. Dari Kunming, demikianlah aku diberi tahu, jalan memang menuju Chengdu, dan dari sana ke Chang'an. Namun arah perjalanan rombongan itu tidak dapat dipastikan, karena meski dari Dali pun jalannya bersambung ke Chang'an, bagaimana jika Harimau Perang tidak ditemui pengundangnya itu di Chang'an? Memang benar maharaja sendirilah yang telah mengundangnya ke istana, tetapi jika Harimau Perang diundang sebagai tokoh jaringan rahas ia, mengapa ia tidak disambut di suatu tempat entah di mana secara rahasia pula? Meski akhirnya ia akan tiba di Chang'an, apa saja yang berlangsung sebelum itu harus dianggap sama pentingnya. Maka dalam beberapa hari segera kukuasai keadaan di sekitar Celah Dinding Berlian ini. Kedudukanku di gua itu sangat menguntungkan, karena tentunya tiada seorang pun mengira ada manusia bermaksud tinggal di sana meski hanya untuk sementara. Celah Dinding Berlian memang terdiri dari celah-celah sempit yang menuju dan datang dari setiap arah, yang semuanya bertemu di pelataran batu luas tempat tubuhku semestinya jatuh dan hancur jika tidak ditolong itu. Namun pelataran batu itu sebenarnyalah hanya jalan di pinggang gunung yang mendadak saja melebar, dan karenanya berhadapan dengan dinding menjulang tetaplah jurang mahadalam bagai takberdasar tempat telah kubuang lima mayat ke balik mega mengambang.

Pada hari pertama ternyata yang datang adalah kuda Uighur itu. Kuda itu memang cerdas, karena meskipun aku tidak segera keluar dari tempat persembunyianku bagaikan tahu saja aku ada di sekitarnya. Ia bahkan tidak seperti mencari-cari karena memang seperti tahu saja dan juga tidak menunggu, mencari sekadar rumput di celah batu. Justru aku yang harus segera keluar karena merasa amat lapar. Pada selempang kain yang tergantung di leher kuda itulah perbekalan daging asapku berada. Begitu juga kitab gulungan yang diberikan bapak kedai tersebut.

Maka sambil makan kubaca kitab itu. Aku masih juga belum lancar membaca aksara Negeri Atap Langit, belum lagi bahasanya yang sungguh amat berbeda, sehingga isinya tentu kubaca dengan kemampuan seadanya. Rupanya sambungan cerita tentang orang kebiri yang terputus itu dulu. Aku teringat mayat orang kebiri yang terpotong-potong tersebut. Lantas teringat pula duka mendalam dan rasa penasaran yang tergambar pada wajah bapak kedai yang harus ditahannya, mengingat kepemilikan segala barang di atas keledai-keledai beban tersebut yang menurutnya sendiri menjadi hakku. Kami berdua menemukan mayat orang kebiri yang terpotong-potong, dan setelah itu diceritakannya segala perkara tentang orang kebiri dalam sejarah Negeri Atap Langit. Apakah artinya? Di Jawadwipa pun pernah kudengar tentang orang kebiri ini, tetapi tidaklah begitu jelas dan tegas seperti sekarang, karena dulu tidak kupikirkan betapa hal semacam itu adalah mungkin.

(Oo-dwkz-oO)