-->

Nagabumi Eps 158: Melaju ke Celah Dinding Berlian

Eps 158: Melaju ke Celah Dinding Berlian

Malam gelap, dingin, dan berangin. Meskipun musim dingin telah berlalu, tetapi ketinggian gunung tetap memberikan suhunya sendiri. Kutinggalkan bapak kedai dengan segala harta benda istana di dalam karung di atas punggung keledai- keledai itu, yang keberadaannya ternyata hanya untuk mengelabui terdapatnya mayat orang kebiri yang terpotong- potong tersebut.

Telah kuminta bapak kedai menyempurnakan mayat tersebut, mau dikubur atau dibakar aku tidak terlalu peduli. Betapapun ia harus me lakukan sesuatu, juga terhadap mayat- mayat delapan penyoren pedang yang bergeletakan di lapangan rumput itu, karena jika siapa pun yang lewat menyaksikannya, besar kemungkinan akan segera menaruh kecurigaan.

"Jangan khawatir Tuan, segalanya akan saya bereskan," katanya.

Tentu, karena jika petugas kerajaan yang melihatnya, ia bisa mendapatkan kesulitan. Betapapun aku sendiri memang berpendapat bapak kedai tersebut bukan sekadar orang persilatan yang mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan. Tidakkah rawan mengurus sebuah kedai di tengah lautan kelabu gunung batu yang setiap gunungnya menjadi sarang gerombolan penyamun? Ia tidak mungkin hidup tenang dalam kesendirian di sana tanpa gangguan, karena bukanlah adat para penyamun untuk membiarkan siapa pun yang lewat untuk berlalu dengan tenteram, apalagi jika bahkan berani tinggal di daerah kekuasaan mereka tanpa memberikan kepada mereka suatu keuntungan.

Bahwa gerak ringan langkahnya menunjukkan dirinya sebagai salah seorang penyoren pedang dari dunia persilatan, tidak menjamin hak macam apa pun untuk dapat tinggal ongkang-ongkang. Siapa pun ia betapapun saktinya akan selalu digempur oleh para penyamun bagaimanapun caranya. Jika lawan tak bisa dikalahkan satu per satu mereka akan melakukan pengeroyokan. Jika pengeroyokan tak juga menundukkan lawan, tetap juga tiada kata menyerah dari para penyamun yang akan terus melakukan gangguan. Aku memang telah menghancurkan set idaknya dua gerombolan penyamun dari dua gunung, tetapi aku terus bergerak cepat dan pergi; jika aku tetap tinggal dan membangun gubuk seperti ini, belum tentu aku akan dapat bahagia hidup bersama segala gangguan yang diusahakan dengan penuh tipu daya.

MAKA aku merasa tidaklah terlalu keliru untuk mencurigainya justru sebagai bagian dari gerombolan penyamun itu. Bagian dari kawanan yang mana aku tidak tahu, karena dari gunung yang satu ke gunung yang lain, para penyamun ini tidak jarang saling bermusuhan, meski kesepakatan atas kedaulatan wilayah masing-masing biasanya tetap terjaga. Sebagai pemilik kedai, kurasa ia dapat menjual keterangan setidaknya tentang orang atau rombongan yang mampir di kedainya. Kedudukan kedai itu di depan lapangan rumput luas yang menghubungkan dua jalan sempit dan curam berkelak-kelok panjang, membuat rombongan manapun yang kelelahan akan merasa lega tiba di sana, dan akan menikmati kelegaannya lebih dengan makan dan minum, kalau perlu berma lam pula, sebelum mengarungi jalanan sempit di antara dinding dan juram itu lagi.

Para pengembara yang berkuda sendirian lebih dapat dijamin tidak memiliki benda berharga, meski tentunya adalah bapak kedai tersebut yang diandalkan untuk memastikannya, karena di antara para penunggang kuda yang berjalan sendirian bukan tak mungkin terdapat seorang pengantar surat-surat rahasia, yang selain dibayar mahal juga membawa bekal uang yang banyak. Rombongan yang dikawal orang- orang bersenjata, apalagi yang tampak membawa keledai- keledai beban, lebih merangsang untuk dicegat, dirampok, dan dijarah, tetapi jika tidak dipastikan juga akan membuang tenaga sia-sia, karena yang disangka harta karun bisa saja hasil bum i, bahan makanan, atau kitab-kitab agama, ilmu filsafat, dan karya sastra. Bagi para penyamun semua itu tidak ada gunanya.

Bahkan aku sebetulnya juga merasa layak menduganya bukan sekadar sebagai penjual keterangan, melainkan juga bagian dari para penyamun itu. Mengapa pula aku tidak harus menduga betapa dirinya adalah pemimpin salah satu kawanan di balik gunung sana? Mengingat riwayat para penyamun bukan sebagai penjahat kambuhan, melainkan para pecundang dalam perang dari sebuah pemberontakan yang gagal, peran mata-mata demi kepentingan mereka bukan tak mungkin pula. Para pecundang, mereka yang terkalahkan dalam perang, masih menyimpan semangat tinggi bahwa suatu hari akan mampu melakukan pembalasan. Mereka terkumpul bukan hanya dari sisa pasukan sebuah pemberontakan, melainkan dari berbagai pasukan dalam berbagai pemberontakan dari masa ke masa.

''Bawalah kitab penjelasan tentang orang-orang kebiri ini Tuan,'' ujarnya sekali lagi ketika aku melompat ke atas kudaku, ''sahaya merasa belum tuntas menyampaikan penjelasan, sedangkan hal ini penting untuk memahami persoalan.''

Kuterima saja gulungan kitab itu, yang berarti tidak terlalu banyak digandakan, jika bukan satu-satunya, karena sejak ditemukan cara pembuatan kertas yang lebih kuat ditindas alat pencetak, penggandaan dengan penulisan ulang te lah menjadi semakin berkurang. Jadi ia menyerahkan sebuah kitab yang bukan saja langka, tetapi juga sangat berharga.

''Saya tak tahu bagaimana bisa membalas budi Bapak,'' kataku.

''Jangan begitu, Tuan, barangkali kami semua nanti yang berutang budi kepada Tuan.''

Saat kuda Uighur yang kutunggangi melaju tanpa perlu kukendalikan ke dalam kegelapan malam, aku tidak menyadari terdapatnya kata-kata 'kami semua' di situ. Sekarang dalam kegelapan dan dingin malam, segala kesunyian tak dapat menjawab pertanyaanku, apakah kami semua adalah para penyamun, sebagai para pecundang tersingkir yang menuntut keadilan, ataukah sesuatu yang lain?

Lagipula apakah kiranya yang dimaksudkan sebagai 'memahami persoalan'? Apakah ia mengetahui tugas yang sedang kujalankan, ataukah ia menganggap diriku terlibat dan telah mengetahui persoalannya yang sebenarnyalah tak kuketahui meski hanya sebagai dugaan? Mungkin memang harus kubaca kitab yang kukalungkan dalam karung di leher kudaku itu lebih dahulu, tetapi tentu tidak bisa kulakukan sekarang.

Sembari melaju dalam kegelapan malam kadang terlihat juga di baliknya sosok-sosok puncak batu menjulang. Dalam kegelapan, puncak-puncak menjulang hanya bisa dibedakan dari langit yang menjadi latar belakangnya dari tebal tipisnya kehitaman. Apakah bedanya hitam yang tebal dan hitam yang tipis? Atau apakah bedanya hitam yang tidak terlalu tebal dengan hitam yang tidak terlalu tipis? Tentu aku pernah tinggal sepuluh tahun di dalam gua, yang segala pengalaman di dalamnya belum pernah kubongkar sampai takbersisa, tetapi setidaknya penghayatan atas perbedaan antara berada dalam kegelapan dengan mata terbuka dan berada dalam kegelapan dengan mata tertutup ternyata dapat membantu pembedaan.

MAKA malam gelap menjadi tidak terlalu gelap lagi bagiku. Segalanya memang tetap menghitam, tetapi dapat kutandai pemandangan yang masih selalu sama. Kutandai gerigi puncak-puncak menjulang yang curam, tegak ke angkasa dalam embusan angin dingin. Angin dingin yang dalam kekencangan tiupannya itu lantas terdengar bagaikan sebuah siulan, berbunyi bagaikan rintihan panjang, meliuk-liuk di antara celah tonggak-tonggak batu menjulang ke angkasa bagaikan menopang langit. Mengikuti cara angin meliuk di antara celah, terbayang olehku seekor naga yang berkelebat, tetapi mendengarkan suara angin yang seperti siulan dan berbunyi bagaikan rintihan panjang, terbayang olehku seorang perempuan yang duduk bersimpuh dengan rambut panjang menutupi wajah dalam ratapan.

Namun tiada seorang manusia pun dalam dingin malam seperti ini. Hanya angin, dan memang hanya angin bertiup dingin, begitu dinginnya sehingga se lalu terbayang olehku arak panas yang pernah disediakan di dalam kedai itu, yang mengingatkan kembali ingatanku kepada bapak tua itu. Siapakah dia sebenarnya sehingga memilih jalan seperti itu, ataukah kiranya lebih tepat dikatakan: jalan apakah kiranya yang telah dia tempuh, sehingga membuat ia berada di tempat seperti itu?

Demikianlah kudaku membawa diriku menempuh kembali jalan setapak di pinggir jurang, yang dalam kegelapan hanya dapat kuraba dindingnya sebagai pengukur lebar jalan. Jika teraba dinding oleh tangan kiriku, berarti jurang sudah berada di bawah rentangan tangan kananku. Kudaku yang cerdas sudah lebih tahu dari aku mengenai jalan-jalan setapak di pinggir jurang, jadi ia tahu kapan berjalan pelan penuh kehati- hatian dan kapan bisa melaju menembus malam dengan kencang.

Aku tak bisa lagi berhenti, dan tak perlu, karena memang aku ingin mencapai Celah Dinding Berlian secepatnya setelah terus-menerus mendapat halangan. Tidaklah pernah kukira tentunya, bahwa rencana membuntuti Harimau Perang yang tampak sederhana, yakni mendahuluinya dan menunggu di Celah Dinding Berlian harus mengalami lebih dahulu begitu banyak peristiwa yang selalu diiringi tercabutnya nyawa.

Angin masih bertiup seperti siulan, lagu siulan yang seperti bercerita tentang dunia yang penuh malapetaka. Meskipun angin tak kelihatan tetapi kurasakan kehadirannya seperti nagasalju yang melaju tanpa putus, seperti makhluk hidup, seperti kehidupan tersendiri di balik malam kelam yang menyusup ke balik angan-angan. Aku menggigil kedinginan di atas kudaku yang terus melaju, kadang lambat, kadang cepat, tergantung tiupan angin yang tidak jarang memang begitu kuatnya sehingga bukan tak dapat mementalkan seseorang dari punggung kuda. Kadang kudaku berhenti di balik celah, kadang cepat melaju di antara celah karena angin pun bukan tak kenal istirahat. Kadang cepat kadang lambat tergantung lebar sempit ruang di antara celah dan tonggak pada puncak- puncak nan menjulang.

Apakah penyamun juga bergerak pada malam yang ganas seperti ini? Kukira mestinya tidak, tetapi mengapa tidak? Maka menghadapi hantaman angin dingin yang begitu kuat bersiul- siul di antara celah aku tidak menghilangkan kewaspadaanku. Sebagai orang yang pernah menggenggam ilmu racun bersama ilmu sihir dalam diriku kutahu bagaimana serbuk ditebarkan dalam angin untuk membunuh penduduk bukan hanya satu kampung tetapi berkampung-kampung di sebuah wilayah yang luas, amat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, sebagai teluh yang mematikan, membunuh dan memusnahkan, tak hanya orang tetapi juga binatang, tanaman, dan siapa tahu bahkan juga jiwa-jiwa penasaran yang masih gentayangan.

Jika bukan racun tentunya bisa juga senjata rahasia, bukan dilempar tetapi cukup diulurkan kepada angin dengan mantra, maka angin yang seperti punya mata akan membawanya melesat ke arah sasaran yang menjadi tujuan untuk segera menjadikannya korban. Mungkin bukan sekadar penyamun, melainkan orang-orang persilatan yang ajaib, yang memang benar menamakan diri pendekar tetapi bukan pendekar yang membela orang-orang lemah dan tertindas, karena para pendekar jenis ini hanya peduli kepada kemajuan ilmu silatnya sendiri. Mata mereka tajam dan telinga mereka peka terhadap berita, betapa suatu ketika di suatu tempat terdapat pendekar ternama, kepada siapa mereka akan mengujikan kepandaian ilmu silatnya. Ketika tiada lagi lawan yang mampu mengatasinya, mereka akan mengundurkan diri ke tempat sepi untuk memperdalam dan meningkatkan ilmu, dengan kesiapan betapa suatu kali ada saja lawan tangguh yang layak mereka tantang dan serang untuk melibatkannya ke dalam pertarungan.

ITULAH dua jenis lawan yang mungkin saja kuhadapi sementara kudaku masih terus melaju dalam gelap malam menembus angin dingin yang terus berhembus membekukan badan; jika bukan gerombolan penyamun yang sungguh tangguh untuk keluar sarang menerkam mangsa yang tentunya memang menghadapi kesulitan dengan alam, pastilah para pendekar dengan ilmu silat yang telah menjadi sangat sulit dikenal karena dikembangkan dan diolah di tempat terpencil dengan lawan yang hanya berujud bayangan.

Namun tanpa kedua jenis bahaya yang datang dari sesama manusia itu pun alam ini sudah sangat berat untuk diatasi. Bukan hanya karena dingin udara yang membekukan tulang, tetapi kekuatan luar biasa embusan angin yang berdaya membentur-benturkan apa saja ke dinding dan menjatuhkannya ke jurang. Betapa malam menjadi sangat amat ganas, tetapi aku mantap dengan pilihanku untuk tetap meneruskan perjalanan, taklebih dan takkurang agar cepat sampai ke Celah Dinding Berlian dan memperlebar jarak dengan rombongan Harimau Perang. Dalam perkiraanku rombongannya tidak akan berjalan dalam keadaan alam seperti sekarang, apalagi jika mereka sudah sampai ke kedai tempat pemiliknya pasti menawarkan daging ayam hutan bakar dan arak panas.

Meski begitu, tidakkah seorang Harimau Perang memiliki ketangguhan yang tak begitu mudah lekang oleh tantangan, dan mungkinkah kiranya selama dalam perjalanan tidak memutar otak-nya menghadapi segala kemungkinan? Meskipun seluruh jejak pertarunganku melawan para penyamun itu sudah tersapu bersih, kukira Harimau Perang tetap mempertimbangkan segala kemungkinan seandainya perjalanan rahasia itu diketahui orang. Jika tidak dipertimbangkannya kemungkinan dibuntuti, tidak mungkinkah dipertimbangkannya pula kemungkinan dicegat? Ia tidak mungkin mengubah arah perjalanan karena sebelum Celah Dinding Berlian ini hanya satu-satunya jalan, tetapi jika ada sesuatu tanda yang dapat dibacanya, bukan takmungkin ia memecahkan rombongan berdasarkan kecepatannya. Ada yang bergerak sangat cepat untuk mengamankan jalan di depan dan ada yang berjalan sangat lambat untuk menjaga kemungkinan di belakang.

Saat itulah kudengar teriakan yang bagiku sangat mengejutkan.

''Pendekar Tanpa Nama!''

Teriakan itu diucapkan dalam bahasa Viet. Tidak terlalu keras. Namun karena untuk beberapa lama telah kubiasakan diriku tak dikenal, ucapan itu terasakan bagai ujung belati yang terarah ke leher.

Dalam udara dingin dan gelap ma-lam, bersama embusan angin yang kuatnya bukan alang kepalang berkelebatlah dari belakang sebuah sosok dengan pedang lurus panjang menyambar tengkukku. Jika aku diam saja, nama Pen-dekar Tanpa Nama yang sebenar-nya-lah bukan suatu nama, mungkin justru akan menjadi suatu nama. Ya, jika aku diam saja kepalaku akan meng-ge--linding dan sebelum tubuhku ambruk akan ditendangnya dari atas kuda ke dalam jurang pula.

Aku pun berkelebat menyatukan diri de-ngan angin sementara kubiarkan ku-daku terus melaju tanpa aku. Angin yang sungguh kuat, sangat amat terlalu kuat, segera membawaku melayang ke atas jurang tanpa aku harus mengerahkan daya tambahan. Maka ketika bayangan yang berkelebat dengan meminjam tenaga angin itu mendekatiku, kami segera bertarung sambil terus dibawa angin yang berembus kuat entah sampai ke mana. Aku berputar seperti gasing menghindari sambaran pedangnya yang berputar seperti baling-baling. Sekali waktu angin menabrakkan kami berdua ke tonggak batu, yang segera menjadi rompal terkikis baling-baling putaran pedangnya yang penuh daya. Namun angin tak selesai di sana karena memang terus menerbangkan kami entah ke mana.

Dengan tangan kosong, hanya dapat kutunggu agar titik lemahnya terbuka. Maka sambil berjungkir balik ke udara, kuperagakan Jurus Penjerat Naga, yang ternyata langsung mengena. Pedangnya menyambar ke suatu titik yang dikiranya tanpa sengaja terbuka, tetapi saat itu pula pedang lepas dari tangannya, karena kuambil dan kutancapkan ke punggungnya sendiri sampai tembus ke depan. Saat itu angin menabrakkan kami sekali lagi ke tonggak batu, menancapkan pula pedang yang menembus tubuhnya itu melesak di sana. Susah payah aku mengambil jarak dari tubuhnya karena tekanan angin yang sungguh luar biasa, tetapi setidaknya aku justru harus mencabut pedang itu dengan segera.

Alangkah beratnya mencabut yang melesak di batu setelah menembus tubuh itu, bagaikan batu dan tubuh sama-sama mencengkeram pedang, padahal aku harus mencabutnya jika tidak ingin mati ma lam ini di sini, karena dalam kegelapan berangin kencang ini telah kupasang ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang dan kutangkap sosok berpedang yang melesat secepat kilat ke arahku. Akhirnya pedang itu berhasil kucabut dan langsung kutusukkan ke belakang.

Hugh!

ANGIN yang sangat amat dingin masih sangat amat ributnya di puncak-puncak gunung batu menjulang ini. Tak kudengar kata-kata apa pun dari mulutnya yang tertutup kain tebal itu, yang kini telah bersimbah darah karena muntahan darah segar dari mulutnya, tetapi matanya masih menatapku, dalam kegelapan sempat kusaksikan kilat cahaya terakhir kehidupannya. Pedang yang kucabut telah membunuhnya, sedangkan pedangnya luput dan terpental entah ke mana. Kugeledah sebentar kedua mayat dalam kesulitan berat di dinding tonggak menjulang ini, dan segera kutemukan pisau melengkung beracun seperti yang digunakan kelompok rahasia Kalakuta.

Angin tak kunjung berhenti jua. Aku harus segera mencapai Celah Dinding Berlian. Kedua anggota kelompok rahas ia Kalakuta itu tentu berasal dari rombongan Harimau Perang. Mereka diperintahkan bergerak ke depan untuk melacak segala kemungkinan. Bagi kelompok rahas ia, membaca jejak adalah bagian dari keahlian. Mungkin tak mereka temukan mayat-mayat para penyamun, karena semuanya berjatuhan ke jurang dalam untuk segera dihanyutkan arus sungai deras ke jeram. Namun mungkin saja mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan tanpa dapat kuketahui kiranya apa. Sedangkan aku pun tak dapat menghilangkan segala jejak sampai sekecil-kecilnya. Segala pertarungan berlangsung sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kilat, sementara aku dan kudaku hampir terus menerus menderap dan melaju, tentulah tidak akan sempat kutegakkan kembali set iap helai rumput yang terinjak.

Mendadak mayat yang semula menempel pada batu dan pedangnya kucabut untuk kutancapkan kepada penyerang kedua itu lepas melayang terbawa angin. Penyerang kedua masih tertancap pedang penyerang pertama yang tadi kutusukkan seperti dengan begitu saja ke arah belakang. Namun angin seperti punya tangan yang menyeret dan menarik-nariknya sementara aku tidak punya kepentingan lebih lama untuk menahannya karena sudah mengetahui darimana keduanya berasal. Mayat penyerang kedua segera melayang terbawa angin yang begitu kuatnya, sangat amat kuatnya, bagaikan tiada lagi yang mungkin lebih kuat darinya, sehingga dalam sekejap segera hilang dari pandangan ditelan kegelapan malam.

Aku masih menempel pada sebuah tonggak menjulang yang seolah-olah berada di lorong angin, sebuah tonggak di antara banyak tonggak-tonggak batu alam yang menjulang di puncak-puncak lautan kelabu gunung batu. Aku bertahan dengan ilmu cicak agar tetap dapat menempel pada tonggak itu, tetapi aku takdapat terus menerus bertahan karena takkan pernah kutahu kapan angin berhenti dan apakah akan pernah berhenti...Mungkinkah aku kembali melawan arus angin yang masih terus bersiul-siul ganas sepanjang malam? Sementara kuda Uighur itu telah melaju entah sampai di mana karena aku memang menyuruhnya begitu. Kubayangkan aku bisa kembali berada di punggungnya dengan segera karena pertarungan yang kuketahui memang akan berlangsung dengan amat sangat singkat. Angin seperti ribuan jarum yang berusaha mencabik kain pembungkus tubuhku. Kulit tangan dan pipiku begitu sakit oleh kuatnya tarikan angin itu sehingga aku mau takmau akhirnya membiarkan diriku diterbangkan angin pula, melayang-layang seperti daun kering di langit malam, berharap angin akan menjadi lebih lemah di tempat berbeda sehingga bisa kulawan atau kugunakan daya dorongnya untuk mendarat.

Begitulah aku melayang-layang, melayang-layang, dan melayang-layang dalam kegelapan malam sambil masih menggenggam kedua belati melengkung yang kuambil dari anggota kelompok rahasia Kalakuta itu. Sembari melayang sempat kupikirkan apakah keduanya dikirim karena memang mengejar diriku atas perintah Harimau Perang yang berhasil mengendus keberadaanku, ataukah keduanya hanya kebetulan mengenaliku sebagai ujung tombak perjalanan rahasia untuk berjaga terhadap segala ancaman. Terhadap kedua kemungkinan itu, tiada kembalinya mereka akan meningkatkan kewaspadaan dan mengundang kecurigaan. Pada suatu titik tertentu dalam pendekatan keamanan ini mereka pasti harus bertemu kembali, sedangkan hal itu tidak akan terjadi!

Kuperkirakan pengejaranku berlangsung bukan karena jejak yang kutinggalkan karena pertarungan melawan para penyamun, termasuk Sepasang Elang Puncak Ketujuh yang tangguh itu, melainkan dari apa yang mereka temukan di sekitar kedai. Tak akan sempatlah kiranya aku maupun pemilik kedai menyapu bersih tumpukan selaksa kupu-kupu yang terbelah dua sebagai penanda kehadiran Pendekar Kupu-Kupu yang tak kusadari ternyata sangat termasyhur itu. Aku pun tak tahu apakah setelah kutinggalkan bapak kedai sempat mengurus mayat delapan penyoren pedang yang takkurang dari tujuh pedangnya menancap pada tubuh Pendekar Kupu- Kupu dan mayatnya juga masih terdapat di lapangan itu. CEROBOH! Sungguh ceroboh diriku telah membiarkan semua itu! Namun kutahu bahwa betapapun bapak kedai itu belum punya waktu saat kutinggalkan, dan seandainya pun aku masih tinggal untuk membakar, membuang, atau mengubur mayat-mayat itu, pastilah kedua orang itu telah tiba dan langsung menyerangku. Maka rombongan Harimau Perang mungkin berjalan lambat, tetapi kedua perintisnya menderap secepat-cepatnya, dan karena mereka sudah tidak lagi dicegat atau diserang para penyamun seperti aku, maka mereka dengan cepat dapat melaju menyusulku. Masalahnya, ketika mereka seharusnya memecah diri untuk memberi laporan dan menunggu perintah selanjutnya, mereka mungkin takdapat menahan diri untuk segera membunuhku setelah gagal melakukannya di Kuil Pengabdian Sejati.

Mungkin tak lama aku melayang-layang tetapi rasanya bagaikan terlalu lama berada di lorong angin yang panjang, amat sangat panjang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih panjang, dalam siulan yang lirih merintih tetapi serasa begitu membahana dalam kemelayang-layanganku, di dalam siulan dan bukan di luarnya, menjadi siulan lirih itu sendiri yang merintih-rintih berkepanjangan, sepanjang-panjang angan dalam bayangan kepahitan yang dalam kemelayang- melayangan berkepanjangan tinggal terasa sebagai torehan luka menggiriskan... O berapa banyak luka telah kusayatkan? Berapa banyak penderitaan? Tidakkah pernah kubayangkan betapa sebenarnya tidak set iap orang sebatang kara seperti diriku yang dapat melayang-layang bebas dalam kehidupan tanpa ikatan tanpa beban tanpa perjanjian tanpa kesetiaaan tanpa pengabdian dan tanpa tujuan? Tidakkah setiap kali kuhilangkan nyawa seseorang sebenarnya telah kuruntuhkan sesuatu semacam bangunan yang begitu berharga seperti cinta dengan begitu banyak pengorbanan yang sungguh menjadi amat mulia ketika memang takpernah dikatakan?

Aku melayang dalam luka, berguling-guling dalam luka, sampai terbuka sebuah dunia... Terang seperti siang, padahal hanya malam yang terang karena cahaya rembulan yang dipantulkan dinding-dinding berkilauan bak berlian ke angkasa raya!

Angin te lah menyeret, mendorong, dan menekanku sampai ke Celah Dinding Berlian! Dengan sangat amat cepat diriku akan segera menabrak dinding yang takbisa dihancurkan meski oleh tenaga dalam tingkat sempurna. Apakah aku akan mati dengan kepala pecah berantakan dan jatuh sebagai gumpalan daging bertulang remuk berdarah-darah ke dasar jurang? Angin bagaikan mulut naga yang mencengkeram dan berusaha membenturkanku ke dinding bercahaya yang jelas mahakeras itu!

(Oo-dwkz-oO)