Nagabumi Eps 157: Jaringan Kebiri di Istana

Eps 157: Jaringan Kebiri di Istana

Gao Lishi adalah orang kebiri yang hidup dari 684 sampai 762. Peranannya dalam pemerintahan Wangsa Tang diceritakan bapak kedai yang belum kuketahui namanya dengan sangat hidup, tetapi sayang sekali aku tidak dapat menceritakan kembali dengan sama hangatnya. Bahasa Negeri Atap Langit yang kukuasai masih sangat terbatas, sehingga membatasi pula kemampuanku menghidupkannya. Mohon Pembaca sudi memaafkan diriku.

"Di istana ia mencapai kedudukan tinggi sebagai Pemangku Qi, pejabat semasa Wangsa Tang maupun Wangsa Zhou yang sebentar saja didirikan Wu Zetian, tetapi peranan terpentingnya adalah semasa kekuasaan Maharaja Xuanzong. Gao Lishi diyakini berperan dalam banyak keputusan, yang seharusnya menjadi tanggungjawab maharaja selama tahun- tahun terakhir Xuanzong. Konon ia jauh lebih kaya dari para bangsawan masa itu. Meskipun begitu ia sering dianggap sebagai contoh yang baik atas keterlibatan orang kebiri dalam permainan kekuasaan, terutama karena kesetiaannya kepada Maharaja Xuanzong, yang ternyata kemudian membahayakan dirinya sendiri dalam masa kekuasaan selanjutnya, yakni semasa pemerintahan Maharaja Suzong, putera maharaja sebelumnya.

"Ancaman bahaya itu datang dari kecemburuan orang kebiri yang lain, Li Fuguo, yang kemudian membuangnya, meski saat akhir pemerintahan Suzong itu kehadiran Gao Lishi taklagi berpengaruh kepada berbagai kebijakan istana. Ia diberi pengampunan pada 762 setelah Xuanzong maupun Suzong meninggal. Konon karena berduka, Gao Lishi menjadi sakit dan ikut meninggal pula.

"Ia berasal dari daerah Pan, nama keluarga asalnya adalah Feng, dan katanya memang cucu-buyut pejabat pemerintahan Wangsa Tang masa awal, Feng Ang. Pada 698, seorang pejabat setempat, Li Qianli, mempersembahkan dua kebiri muda kepada Wu Zetian, saat perempuan itu meng-angkat dirinya menjadi penguasa; yang pertama adalah Lishi, yang waktu itu belum mengambil nama Gao, dan yang kedua bernama Jin'gang. Ternyata Wu Zetian lebih menyukai Lishi karena kecerdasannya dan mempertahankannya sebagai orang kebiri yang harus selalu berada di dekatnya. Kemudian hari, Lishi melakukan kesalahan kecil, dan setelah itu Wu Zetian takpernah sudi melihatnya lagi.

"SEORANG kebiri tua, Gao Yanfu, lantas mengangkatnya sebagai anak, dan dari situlah nama Gao didapatnya. Adapun karena Gao Yanfu sebelumnya melayani keponakan Wu Zetian yang juga sangat berkuasa, yakni Wu Sansi, seorang pangeran dari Liang, maka ia dapat memasukkan Gao Lishi untuk melayaninya. Setahun kemudian, Wu Zetian memanggilnya kembali ke istana dan sekali lagi Gao Lishi melayaninya. Ia telah tumbuh menjadi orang kebiri yang tinggi, dan karena sikapnya yang selalu berhati-hati, maka ia diberi tugas mengumumkan maklumat resmi istana, sebelum akhirnya dinaikkan pang-katnya sebagai gongwei cheng, jabatan tinggi bagi orang kebiri.

"Dengan kembalinya Maharaja Zhong-zong, Gao Lishi menjalin persahabatan dengan Li Longji, keponakan maharaja, pa-ngeran dari Linzi yang menjadi anak Li Dan, pangeran dari Xiang. Li Dan adalah saudara Maharaja Zhongzong yang juga per-nah menjadi raja. Pada 705, setelah ke-matian mendadak Maharaja Zhong-zhong, Li Longji dan saudara perempuan Zhong-zong, Puteri Taiping, menggulingkan kedudukan permaisuri Zhongzong yang sangat berkuasa, Maharani Wei, dan me-ngembalikan Li Dan ke atas tahta. Li Longji menjadi putera mahkota dan Gao menjadi salah seorang pejabat di bawahnya.

"Pada 712, Li Dan yang telah menjadi Maharaja Ruizong menyerahkan takhta kepada Li Longji, yang kemudian bergelar Maharaja Xuanzong, meski tetap saja Li Dan memanfaatkan kedudukannya sebagai taishang huang atau purnamaharaja untuk mempengaruhi pemerintahan, dibantu Puteri Taiping yang memang memanfaatkan Li Dan demi kepentingannya sendiri. Pada 713, disebutkan bahwa lima dari tujuh perdana menteri ditentukan oleh sang puteri, seperti Dou Huaizhen,Cen Xi, Xiao Zhizhong, Cui Shi, dan Lu Xiangxian, meski yang terakhir ini bukanlah pengikutnya.

"Dalam persaingan kekuasaan antara Maharaja Xuanzong dan Puteri Taiping, Zhang Shuo dari wilayah tugasnya di Luoyang, mengirim utusan yang mempersembahkan sebuah pedang kepada Maharaja Xuanzong, yang merupakan pesan bahwa sudah waktunya mengambil tindakan menentukan. Disebutkan bahwa Puteri Taiping, Dou, Cen, Xiao, dan Cui, bersama para pejabat seperti Xue Ji, Li Jin pangeran dari Xinxing cucu Li Deliang keponakan Maharaja Gaozu pendirin Wangsa Tang, Li You, Jia Y ingfu, Tang Jun, maupun para panglima seperti Chang Yuankai, Li Ci, dan Li Qin, bahkan termasuk rahib Huifan, berkomplot untuk menggulingkan Maharaja Xuanzong.

"Dikatakan lagi, bahwa mereka membicarakan dengan seorang dayang, Puan Yuan namanya, untuk meracuni obat perangsang chijian yang biasa dim inum Maharaja Xuansong. Ketika rencana ini dilaporkan kepada Maharaja Xuansong oleh Wei Zhigu, sang maharaja yang telah menerima nasihat dari Wang Ju, Zhang Suo, dan Cui Riyong untuk bertindak cepat pun segera melakukannya. Ia mengundang saudara- saudaranya nya, Li Fan dan Li Ye, masing-masing pangeran dari Qi dan Xue, bersama para pendukungnya, panglima Wang Maozhong, pejabat Jiang Jiao dan Li Lingwen, saudara iparnya Wang Shouyi, orang kebiri Gao Lishi, dan pemimpin pasukan Li Shoude, lantas memutuskan langsung bertindak.

"Pada hari ke-29 bulan ketujuh tahun itu, Wang Maozhong mengerahkan 300 pasukan ke bagian penjagaan istana untuk memenggal kepala Chang dan Li Ci. Kemudian Jia, Li You, Xiao, dan Cen ditahan dan akhirnya juga dipenggal. Dou dan Puterin Taiping memilih untuk bunuh diri. Purnamaharaja Ruizong akhirnya menyerahkan kekuasaan istana sepenuhnya kepada Maharaja Xuansong, dan tidak lagi terlibat dalam keputusan-keputusan penting.

"Sebagai akibat keterlibatan Gao Lishi dalam tindakan terhadap Putri Taiping dan komplotannya, Maharaja Xuanzong menganugerahinya jabatan panglima pengawal istana, yang juga menjabat neishi sheng atau kepala bagian orang-orang kebiri. Penugasan ini membuat Gao Lishi menjadi orang kebiri pertama dalam sejarah Wangsa Tang yang mencapai tingkat ketiga dari tatacara sembilan tingkat, dan inilah awal bangkitnya peranan orang-orang kebiri. "Maka Gao pun menjadi orang kepercayaan terdekat Maharaja Xuansong, dan adalah Gao itu yang akan diutus untuk menyampaikan kehendaknya kepada para pejabat penting.

"Ketika pada 713 perdana menteri Yao Yuanzhi mula-mula terkejut dan cemas saat maharaja menolak untuk membahas tugas-tugas para pejabat rendahan ber-samanya, Gao berbicara kepada maharaja dan diberitahu bahwa alasannya bukanlah karena maharaja tidak berkenan terhadap Yao, melainkan karena Yao sendiri sebagai ketua penanggungjawab istana mempunyai wewenang yang harus dijalankan. Setelah Gao memberi tahu Yao soal ini, maka kekhawatiran Yao pun memudar.

"Pada 726, ketika Zhang Suo dituduh menggelapkan uang untuk memperkaya dirinya sendiri dan ditahan, adalah Gao yang diutus untuk melihat apa yang dilakukannya, dan adalah berdasarkan campur tangan Gao selanjutnya bahwa hukuman Zhang pun diringankan.

"Pada 730, ketika Maharaja Xuanzong mulai gelisah perihal kekuasaan dan keangkuhan Wang Maozhong, adalah Gao yang menyarankan agar bertindak lebih dulu, dan pada musim semi 731 sang maharaja pun mengasingkan Wang bersama para pembantunya, bahkan kemudian dipaksanya Wang agar melakukan bunuh diri.

"Dikatakan bahwa Gao memang sangat dipercaya oleh Maharaja Xuanzong, yang menyatakan, 'Jika Gao Lishi berada di sini, daku bisa tidur nyenyak.' Gao sendiri memang sangat jarang pulang ke rumahnya sendiri, dan suatu permohonan yang diajukan kepada maharaja terlebih dahulu harus disaring oleh Gao sebelum meneruskannya kepada Maharaja Xuanzong, dan Gao menangani sendiri perkara-perkara yang kurang penting, yang membuat kekuasaannya dengan cepat meningkat. "Banyak tenaga dicurahkannya untuk membantu orangtua angkatnya, Gao Yanfu dan istrinya. Ia juga meminta jiedushi atau kepala pasukan di Lingkaran Lingnan mencari ibu kandungnya Puan Mai dan mengirimnya ke Kotaraja Chang'an, supaya ia bisa membantunya juga. Ketika Puan Mai meninggal dunia, panglima Cheng Boxian dan pejabat Feng Shaozheng yang sudah angkat sumpah persaudaraan dengan Gao Lishi sangatlah berduka.

"Ketika Gao masih sangat berkuasa, disebutkan ia sangat hati-hati dan juga rendah hati, yang membuatnya terus menerus dipercaya Maharaja Xuansong. Di antara para pejabat dan panglima yang tercatat menjilat dan mengambil muka, serta telah membuat ia membantu kenaikan pangkat mereka adalah Yuwen Rong, Li Linfu, Li Shiz i, Gai Jiayun, Wei Jian, Yang Shenjin, Wang Hong, Yang Guozhong, An Lushan, An Sishun, dan Gao Xianzhi. Para cendekiawan saat itu menyalahkan Gao atas kenaikan pangkat sejumlah pejabat haus kekuasaan, selain juga mengenali bahwa set iap kali pejabat yang terhubungkan dengannya dituduh melakukan kejahatan, ia tidak akan gegabah campurtangan menyelamatkan mereka."

Sampai di sini bapak kedai itu berhenti. Hari menjelang gelap.

"Mengapa tidak kita masukkan dulu semua ini ke dalam karung, Tuan? Sahaya pikir segel kerajaan dan kenyataan bahwa orang bernas ib malang ini seorang kebiri adalah tanda- tanda yang cukup jelas untuk melacak jejak selanjutnya."

Aku hanya mengangguk, membiarkan ia menjalankan peran pura-pura bodohnya. Setidaknya ia ingin aku tampak percaya, jadi biarlah ia percaya. Di samping aku tahu, betapa aku tentunya tidak akan terlalu bahagia memasuk-masukkan potongan tubuh dan badan itu berdesak-desak ke dalam karung. Betapapun sepintas terlihat bagian yang membuatnya disebut orang kebiri. Bapak kedai yang rupanya melihat bagaimana tidak enaknya perasaanku, bukannya membicarakan masalah lain, tetapi berkisah tentang serba- serbi pengebirian itu sambil terus mendesak-desakkan potongan tubuh ke dalam karung.

"Tuan tahu bagaimana alat kelam in mereka dipotong? Mula-mula mereka diletakkan dalam keadaan setengah berbaring di ranjang yang rendah, lantas mereka ditanya untuk terakhir kalinya, apakah akan menyesal jika dikebiri. Jika jawabnya 'tidak', seseorang akan menjepitnya di sekitar pinggang, sementara dua orang membuka kakinya dan menekannya kuat-kuat untuk mencegah segala gerakan. Dengan pembalut mengikat erat sekitar paha dan perut bawah, calon orang kebiri ini diberi minum teh yang akan membuat urat syarafnya terbius, dan alat kelam innya dibuat mati rasa dengan siraman air merica panas. Semuanya lantas dipotong habis dengan pisau kecil serapat mungkin. Sebuah sumbat logam segera dimasukkan ke saluran kencing, dan segenap luka ditutup dengan kertas yang dibasahi, lantas dibalut dengan hati-hati."

Aku menunjukkan wajah tidak suka dan melangkah ke kedai, tetapi rupanya bapak kedai yang sementara itu telah selesai memasukkan kembali potongan-potongan tubuh ke dalam karung, dan memasukkan pula karung itu ke dalam keranjang, ternyata cepat sekali menyusulku dan terus bicara.

"Segera setelah itu, si orang kebiri sudah dim inta berjalan di sekitar kamar selama dua atau tiga kali penanakan nasi, dibimbing oleh para pemisau tadi di kiri dan kanan, sebelum akhirnya boleh berbaring. Ia tidak boleh m inum cairan apa pun selama tiga hari, dan selama itu ia akan sangat menderita karena haus dan kesakitan luar biasa, juga tak bisa buang air kecil. Setelah tiga hari balut dilepas, sumbat dikeluarkan, dan diharapkan penderita sudah bisa mengurangi kesakitannya dengan mengalirnya air seni. Saat itulah ia diberi selamat dan dianggap lepas dari bahaya. Jika pemotongan ini membuatnya tak bisa buang air, karena merekatnya saluran air seni dan kulit, ia terkutuk untuk mati dengan sangat menderita."

KUKIBASKAN tanganku karena tidak tahan lagi. ''Lanjutkan cerita yang tadi saja Bapak,'' kataku.

''Sabarlah sebentar Tuan, lebih baik sahaya masak dahulu, karena sebentar lagi waktu makan.''

Akhirnya kami berada di dalam kedai lagi. Artinya aku tertahan semalam di sini jika tetap tinggal. Aku berpikir tentang Hari-mau Perang yang tentu jaraknya telah semakin dekat. Jika ia muncul ketika aku masih di s ini, tentulah segala rencana untuk mengikutinya diam-diam bisa batal. Aku merasa harus pergi secepatnya agar tidak tersusul, tetapi aku juga merasa wajib mendengarkan cerita bapak kedai itu sampai habis. Meski belum kudapatkan titik terang, betapapun seluruh urusan rahasia istana berhu-bungan dengan peranan jaringan orang kebiri di dalam istana.

Setidaknya aku merasa tidak terlalu keliru menduga, jika perjalanan Harimau Perang yang dirahasiakan itu tentu diketahui juga oleh jaringan orang kebiri tersebut. Tentu saja masih terlalu jauh menghu-bung-kan mayat kebiri terpotong- potong dalam karung itu dengan tugas rahasia Harimau Perang yang belum kuketahui, tetapi bahwa saudara seperguruan kedelapan penyoren pedang itu tewas di wilayah penugasan rahasia Harimau Perang membuatku penasaran.

''Jadi apalagi ceritamu itu Bapak?''

Kutanya ia setelah menanak nasi dan me-manaskan lauk, baunya sungguh me-rang-sang perutku di udara yang sangat dingin ini.

Aku belum tahu apa yang bisa kulakukan dengan barang- barang dalam karung di keranjang keledai beban itu. Meskipun aku sangat tertarik dengan puisi-puisi maupun gulungan kitab- kitab agama yang ada di sana, kukira tidak mungkin aku membawanya, karena hanya akan membuatku terlibat lebih dalam kesulitan, terutama dengan terdapatnya segel dengan cap Wangsa Tang tersebut. 

Bapak kedai itu, setelah menyorongkan ekor rusa yang direbus dalam kuali, melanjutkan ceritanya.

''Pada 737, selir Maharaja Xuanzong yang paling disayang, Wu, berusaha membuat putranya, Li Mao Pangeran dari Shou, menjadi putra mahkota, membuat tuduhan palsu kepada Putra Mahkota Li Y ing, seperti juga tuduhan kepada dua pangeran yang lain, Li Yao dan Li Ju. Mereka bertiga diberhentikan dan dipaksa untuk mela-kukan bunuh diri.

''Yang Diperistri Wu meninggal bela-kangan tahu itu juga. Namun ketua penanggung jawab, Li Linfu, yang bersekutu de- ng-annya, meneruskan pendekatan demi ke-pentingan Li Mao. Meskuipun begitu, Maharaja Xuansong telah mempertimbangkan putra-nya yang lebih tua, Li Yu Pangeran dari Zhong, tetapi ia tak dapat memilih segera, dan tertekan oleh masalah itu seperti juga dengan pembunuhan ketiga pu- tranya sendiri. Ia tak dapat tidur maupun makan enak. Gao mempertanyakan alasannya, dan ia menjawab, 'Kamu adalah pela-yan lamaku. Tidakkah dirimu bisa menga-ta-kannya?' Gao menjawab, 'Apakah itu tentang kedudukan putra mahkota yang belum ditentukan?'. Dijawab, 'Ya.' Gao pun berkata, 'Sang Maharaja tidak perlu bersusah hati. Pilih saja yang tertua, dan tidak akan ada yang mempersoalkannya.' Maharaja ke-mudian memantapkan dirinya, dan me-milih Li Yu yang nanti namanya berganti sebagai Li Heng, sebagai putra mahkota.

''Sementara itu, sudah menjadi adat bahwa para maharaja Tang akan menggilir tem-pat tinggal antara Kotaraja Chang'an dan ibukota wilayah timur, Luoyang, ter-gan-tung dari besarnya panen tahun itu, karena lebih mudah mengirim bahan pa-ngan ke Luoyang daripada Chang'an. Beta-papun, sejak Maharaja Xuansong terakhir kali kembali ke Chang'an dari Luoyang pada 736, ia tidak mengunjungi Luoyang lagi. Li Linfu tahu betapa sang maharaja, seiring dengan meningkatnya usia, yakni 49 pada 736 itu, telah menjadi lelah dengan penggiliran tersebut, dan karena itu meng-gi-atkan usaha membangun penyediaan pangan di dalam wilayah Guanzhong, de-ngan pemusatan di sekitar Chang'an. Pada 744, suatu ketika Maharaja Xuansong berujar kepada Gao:

'''Sudah sepuluh tahun sejak kutinggal-kan Chang'an, alamnya damai, membuatku ingin beristirahat dan tidak melakukan apa pun, menyerahkan pemerintahan kepada Li Linfu. Apa pendapatmu?'

''Gao yang tidak mempercayai Li Linfu, menjawab:

'''Sejak zaman kuna, telah menjadi adat bagi Putra Surga untuk mengunjungi ber-bagai tempat sepanjang perjalanan di te-ngah a lam. Juga, kuasa pemerintahan tidak dengan mudah diberikan kepada orang lain. Jika kekuasaannya dikukuhkan, siapa yang berani melawannya?'

"MAHARAJA Xuanzong kurang berkenan, dan Gao membungkuk hormat serta menyatakan, 'Hamba gila, hamba tak tahu apa yang hamba katakan, dan hamba harus dibunuh.' Maharaja Xuanzong berusaha membuat suasana menjadi ringan dengan mengadakan perjamuan untuk Gao, tetapi Gao tidak bernyali membahas masalah pemerintahan lagi sete lah itu.

"Pada 746, terdapat kejadian ketika selir kesayangan baru Maharaja Xuanzong, yakni Yang Yuhuan, menimbulkan amarah maharaja karena bersikap cemburu dan kasar terhadapnya, sehingga dikirimnya ke gedung keponakan selir itu, Yang Xian. Keadaan itu membuat perasaan kacau sehingga maharaja tidak bisa makan, dan para pelayan mengalami kemurkaannya meski hanya membuat kesalahan kecil saja. Gao mengerti bahwa sebenarnya maharaja merindukan Yang Yuhuan, dan Gao memohon agar harta benda di istana Yang dikirimkan kepada selirnya itu. Maharaja Xuanzong setuju, dan lebih jauh mengirimkan pula hidangan istana kepadanya. Malamnya, Gao meminta agar Maharaja Xuan-zong menerima kembali Yang Yu-huan di istana, suatu permintaan yang dengan mudah disetujui. Setelah itu, Yang bah-kan semakin disayang, dan tiada selir lain dapat memikat perasaan sang maharaja.

"Sementara, dikatakan bahwa Li Linfu tidak memiliki hubungan yang baik dengan Putra Mahkota Li Heng. Gao sering melindungi Li Heng dari kasak-kusuk, meski betapapun kedudukan Li Heng tidak pernah benar-benar terancam. Sebagai hasilnya, Li Heng menempatkan Gao sebagai saudara tua. Para pangeran dan kaum bangsawan di istana menempatkannya sebagai orangtua, atau tepatnya 'ayah', dan menantu Maharaja Xuansong menyebutnya 'guru'. Pada 748 ia mendapat pangkat yang sangat tinggi bagi seorang panglima, yang disebut piaoqi da jiangjun dan juga bergelar Yang Dipertuan dari Bohai."

"Pada 750, terdapat kejadian lain ketika Yang menyerang Maharaja Xuanzong dengan kata-kata, dan maharaja pun mengirimnya kembali ke marganya. Pejabat Ji Wen mengatakan kepada maharaja bahwa tindakannya berlebihan, dan Maharaja Xuansong pun menyesali tindakannya. Maka dikirimkannya lagi hidangan istana kepadanya, dan menangislah Yang sembari mengaku kepada orang kebiri yang mengirimkannya.

"'Kekurangajaranku layak dihukum dengan kematian dan betapa baik nasibku karena Yang Mulia t idak menghukum mati diriku, tetapi sebagai ganti pengembalian diriku kembali kepada marga, daku akan meninggalkan istana untuk selama- lamanya. Segenap emas, zamrud, dan harta telah dianugerahkan kepadaku oleh maharaja, dan adalah tidak sopan untuk mengirimkannya kembali. Hanya terhadap pemberian orangtuaku diriku punya nyali menawarnya.'

"Yang pun memotong sebagian rambutnya dan mengirimkannya kepada Maharaja Xuanzong, yang kemudian mengirimkan Gao untuk mengawalnya kembali ke istana, untuk semakin dicintainya sepenuh hati."

Aku menghela napas. Luar biasa nian pengaruh orang kebiri di istana ini. Bapak kedai masih bercerita sambil makan.

"Pada 752, ketika komplotan Wang Han, saudara Wang Hong, merencanakan pengkhianatan dan membangkitkan pemberontakan di dalam Kotaraja Changian, pasukannya dipimpin Yang Guozhong, saudara selir Yang Yuhuan, dan Wang Hong takberdaya menundukkan komplotan Wang Han, maka bertindaklah Gao dengan pasukannya untuk menghancurkan para pemberontak itu sampai tuntas. Selanjutnya, ketika Wang Hong memohon pengampunan bagi saudaranya, Yang Guozhong pun menuduhnya terlibat, sehingga Wang Han maupun Wang Hong dihukum mati.

"Kemudian di akhir tahun itu, ketika Maharaja Xuanzong melihat bahwa pemimpin pasukan Wilayah Longyou, Geshu Han, hubungannya buruk dengan An Lushan, pemimpin pasukan Wilayah Fanyang, maupun An Sishun, pemimpin pasukan Wilayah Shuofang yang pamannya adalah ayah tiri An Lushan, dan ingin agar hubungan ketiganya membaik, segera memanggil mereka bertiga dan meminta Gao menjamu mereka. Namun alih-alih maksud maharaja mendamaikan mereka, Geshu dan An Lushan terlibat pertengkaran, yang hanya berhenti setelah Gao menatap tajam ke arah Geshu, agar berhenti menjawab maki-makian An Lushan.

"PADA 754, Yang Guozhong yang sudah menjadi penanggungjawab istana, mulai sering menuduh An Lushan merencanakan pemberontakan, dan menyatakan bahwa kalau Maharaja Xuanzong me-manggil An itu datang ke kotaraja, pastilah An tidak akan datang. Ternyata, ketika Maharaja Xuanzong menitahkannya datang awal 754, An Lushan muncul, dan maharaja mempertimbangkan agar ia diberi jabatan penanggungjawab istana juga. Meski pejabat Zhang Ji, putera Zhang Shuo, sempat menulis maklumat karenanya, hal itu tidak terjadi. Saat An siap kembali ke Fanyang, maharaja menugaskan Gao mengadakan perjamuan bagi An sebagai ucapan selamat jalan. Setelah usai, Gao melaporkan kepada maharaja bahwa tampaknya An Lushan tidak terlalu senang, mungkin karena semula ia mengira akan diberi jabatan tetapi ternyata tidak. Maharaja Xuanzong, yang percaya bahwa Zhang Ji dan saudara-saudaranya, Zhang Jun dan Zhang Shu, telah membocorkan berita itu, memindahkan dan menurunkan jabatan mereka semua.

"Ketika peristiwa itu terjadi, sedang berlangsung pertempuran di wilayah barat daya antara pasukan Wangsa Tang mela-wan pasukan Nanzhao, dan kedudukan sangat buruk bagi Wangsa Tang yang sudah kehilangan 200.000 prajuritnya. Yang Guozhong menutupi kenyataan tersebut dari pengetahuan maharaja, dan sebaliknya menyatakan bahwa mereka mendapatkan sejumlah kemenangan.

"Maka berkatalah maharaja kepada Gao, 'Daku sudah tua sekarang, daku percayakan masalah pemerintahan kepada para penanggungjawab istana dan daerah perbatasan kepada para panglima. Daku tidak khawatir terhadap mereka.'

"Gao, yang melihat kekacauan mulai menyeruak, pun menjawab, 'Hamba mendengar bahwa mereka menderita kekalahan berulangkali di Yunnan, dan di perbatasan para panglima terlalu berkuasa. Ba-gai-mana mungkin Yang Mulia memegang kendali atas keadaan? Jika suatu pemberontakan meletus, tidak ada jalan meng-hentikannya. Bagaimana mungkin Yang Mulia t idak merasa perlu khawatir?'

"Maharaja Xuanzong baru mulai memperhatikan, tetapi tidak melakukan tindak-an apa pun, selain berujar, 'Jangan bi- ca-ra lebih jauh, biarlah daku pikirkan masalah ini.' "Pada saat yang sama, Yang Guozhong juga tidak melaporkan terjadinya bencana banjir besar kepada maharaja. Ketika sedang sendirian, maharaja berkata kepada Gao, 'Hujan tidak akan berhenti, katakanlah apa kehendakmu.' Gao menjawab, 'Sejak Yang Mulia mempercayakan kekuasaan kepada para penanggungjawab istana, penghargaan dan penghukuman tidak berada di tangan, dan yin serta yang berada di luar kesejajaran. Bagaimana mungkin hamba lancang bicara?

"Yang Guozhong sementara itu terus berusaha memancing dan mendorong An Lushan agar berontak, termasuk dengan cara menangkap dan menghukum para pembantu utamanya di gedung An di Chang'an, yang akhirnya membuat An Lushan memang memberontak pada 755. Setahun kemudian, pada 756, pasukan Geshu dikalahkan pasukan An, setelah dipaksa oleh Yang Guozhong untuk menghadapi An. Bahkan Terusan Tong, pertahanan besar terakhir melawan pasukan An, akhirnya jatuh juga. Yang Guozhong menyarankan agar mengungsi ke Chengdu, ibukota wilayah Jiannan, tempat Yang Guozhong menjadi kepala pasukan.

"Pada tanggal 14 bulan ketujuh, Maharaja Xuanzong, sambil tetap meraha-siakan berita itu dari penduduk Chang'an, membawa pengawal istana untuk melindungi dirinya, selir Yang dan keluarganya, dan keluarga dekat marganya, keluar dari Chang'an menuju Chengdu. Bersamanya ikut pula Yang Guozhong, sesama penanggungjawab istana Wei Jiansu, pejabat Wei Fangjin, panglima Chen Xuanli, dan sejumlah orang kebiri serta dayang yang dekat dengannya, termasuk Gao.

"Sehari kemudian kereta Maharaja Xuanzong mencapai gardu Mawei. Para pengawal istana tidak mendapat makanan dan marah kepada Yang Guozhong. Panglima Chen juga yakin jika Yang Guozhong yang menyebabkan malapetaka ini dan berencana menangkapnya. Ia memberitahukan maksudnya kepada Li Heng, melalui orang kebiri bawahan Li Heng yang bernama Li Fuguo, tetapi Li Heng ragu-ragu dan tidak memberikan persetujuan. Sementara para utusan dari Tufan yang menyertai Maharaja Xuanzong ke selatan, bertemu dengan Yang Guozhong dan juga mengeluh karena tidak ada makanan. Para pengawal istana mengambil peluang ini untuk menyatakan bahwa Yang Ghuozong merencanakan pengkhianatan bersama para utusan dari Tufan, dan membunuhnya bersama puteranya, Yang Xuan, puteri-puteri dari Han dan Q in, maupun Wei Fangjin. Adapun Wei Jiansu juga nyaris terbunuh, tetapi dihindarkan pada saat-saat terakhir dengan luka yang parah.

"PARA prajurit lantas mengelilingi pesanggrahan Maharaja Xuanzong, dan menolak untuk berpencar meskipun maharaja telah berusaha menenangkan mereka dan memerintahkan mereka menyebar. Chen menyatakan secara terbuka agar selir Yang Yuhuan dihukum mati, yang langsung ditolak oleh maharaja. Setelah putra Wei Jiansu yang bernama Wei E dan Gao bicara lebih jauh, maharaja memenuhinya dengan mengirim selir Yang ke sebuah kuil Buddha, dan di sanalah Gao menjalankan tugas untuk mencekiknya."

"Mencekiknya?" tanyaku. "Ya, mencekiknya."

"Di sebuah kuil Buddha?"

"Ya, begitulah catatan yang kubaca di tempat penyimpanan naskah di istana."

Aku menggelengkan kepala. Orang kebiri Gao Lishi ini, apalah yang tidak dapat dilakukannya?

Bapak kedai yang rupanya rajin membaca dan hafal luar kepala segala rinciannya itu meneruskan cerita.

"Setelah mayat selir Yang diperlihatkan kepada Chen dan para panglima pengawal istana, pasukannya barulah bisa disebar dan bersiap menghadapi gerakan lebih jauh. Pasukan pengawal istana akhirnya mengiringi Maharaja Xuanzong ke Chengdu, dan Gao tetap siap sedia di sampingnya. Atas kesetiaan Gao ini, Maharaja Xuanzong mengangkatnya sebagai Yang Dipertuan atas Qi.

"Li Heng kemudian memisahkan dirinya dari rombongan maharaja dan menuju Shuofang, lantas menyatakan dirinya sebagai Maharaja Suzong pada 756. Suatu pernyataan yang diterima oleh Maharaja Xuanzong, karena dirinya sendiri menerima gelar purnamaharaja atau taishang huang dengan kekuasaan sangat terbatas.

"ada 757, Maharaja Suzong merebut kembali Chang'an dan menyambut Maharaja Xuanzong kembali ke Chang'an. Gao Lishi menemani Maharaja Xuanzong kembali ke kotaraja dan mendapat penghargaan gelar kehormatan Kaifu Y itong Sansi.

"Di Chang'an, Maharaja Xuanzong tinggal di Istana Xingqing, yang telah dialihkan berdasarkan penghuniannya menjadi istana pangeran. Gao dan Chen Xuanli tetap dipekerjakan kepadanya, seperti juga adik perempuannya, Li Chiy ing Putri Yushen, dayang-dayang Ru Xianyuan, orang- orang kebiri Wang Cheng'en dan Wei Yue. Adapun orang kebiri Li Fuguo kemudian menjadi sangat berkuasa, tetapi para pengikut Maharaja Xuanzong tidak merasa perlu menghormatinya. Untuk membalasnya, Li Fuguo mulai berusaha meyakinkan Maharaja Suzong bahwa Maharaja Xuanzong dan para pembantunya merencanakan untuk merebut kembali kekuasaan.

"Pada 760, dengan persetujuan diam-diam Maharaja Suzong, meski tidak dinyatakan, suatu ketika saat Maharaja Xuanzong sedang keluar berkuda, Li Fuguo mencegat dan memaksanya kembali ke istana. Bahkan terhadap peristiwa itu, betapapun, Gao tidak sudi menyerah kepada Li Fuguo, dan membentak agar Li Fuguo turun dari kudanya dan mengawal Maharaja Xuanzong dengan berjalan kaki bersamanya. Segera setelah Maharaja Xuanzong dengan paksa dipindahkan, Li Fuguo juga memaksa Chen untuk berhenti, Li Chiy ing yang sejak 711 telah menjadi biarawati Kaum Dao agar kembali ke kuilnya, dan mengasingkan Gao, Wang, Wei, dan Ru. Dalam hal Gao, ia dias ingkan ke wilayah Fu.

"Pada musim semi 762, Maharaja Suzong sakit berat dan menyatakan pemaafan umum. Gao Lishi diiz inkan kembali ke Changian dan segera melakukan perjalanan. Dalam perjalanan kembali itu, pada hari kelima bulan lima, Maharaja Xuanzong berpulang, yang segera disusul Maharaja Suzong pada hari keenambelas bulan yang sama. Ketika tiba di wilayah Lang ia mendengar meninggalnya kedua maharaja dan menangisi Maharaja Xuanzong dengan penuh kepahitan, sampai meludahkan darah, lantas segera meninggal juga.

"Putra Maharaja Suzong, yakni Maharaja Daizong, yang menggantikannya segera setelah kematian ayahnya, mengetahui kesetiaan dan pengutamaan melindungi maharaja yang selama ini dilakukan Gao, mengembalikan nama baik dan segenap tanda kehormatan Gao. Bahkan Gao kemudian juga dimakamkan berdekatan dengan Maharaja Xuanzong.

"Selain Gao Lishi dan Li Fuguo, masih ada Yu Chao'en yang..."

Sampai di s ini aku segera berdiri.

"Terim akasih atas semua ceritanya Bapak, tetapi saya harus pergi, berapakah harga makanan dan minuman yang harus saya bayar?"

BAPAK kedai terperangah, mungkin ia t idak mengira bahwa aku akan pergi justru setelah malam tiba dan hari sudah menjadi gelap.

"Sungguh-sungguhkah Tuan ingin pergi sekarang? Angin dingin sangat ganas di pegunungan batu ini, banyak binatang buas, belum lagi para penyamun, dan orang-orang yang menuntut balas. Perguruan Kupu-Kupu berada di balik gunung itu."

Hmm. Apakah Perguruan Kupu-Kupu akan menuntut bela atas pertarungan yang adil dan laz im berlaku dalam dunia persilatan?

"Lantas bagaimana dengan keledai dan kuda dengan segala karung dalam keranjang itu? Apakah Tuan akan membawanya juga?"

Mungkin bukan keledai dan kuda itu benar yang dimaksudnya, tetapi harta benda serbamahal di dalam karung- karung itu, gulungan kitab, tumpukan kertas bertuliskan puisi, dan bagaimana pula dengan mayat orang kebiri yang terpotong-potong itu?

Namun aku tidak mau tertahan lebih lama lagi, karena semenjak bertarung melawan Pendekar Kupu-Kupu sebetulnya aku selalu teringat Harimau Perang. Mereka akan menjadi masalah baru jika melihat dan mengenali diriku. Bahkan masih menjadi masalah besar bagi rencanaku jika mereka dapat membaca segala sesuatu yang telah terjadi.

"Semua itu untuk Bapak, karena saya tak mungkin membawanya. Sudilah membuatnya tidak menjadi perhatian orang banyak."

Ia memandangku dengan tajam sejenak, tetapi lantas tersenyum.

"Akan saya lakukan Tuan, tentu akan saya lakukan, tetapi mohon Tuan pelajari masalah orang kebiri dari catatan yang akan saya bawakan, karena tanpa memahaminya Tuan bisa terjebak urusan yang sulit Tuan pahamkan."

Benarkah begitu? Aku sebetulnya terkejut karena ia bisa membaca pikiranku, yang merasa memang ingin mengetahui lebih lengkap tentang orang kebiri, karena betapapun kini termasuk ke dalam wilayah penyelidikanku, jika jaringan orang kebiri ingin kulihat kemungkinannya untuk terhubungkan dengan jaringan rahasia Harimau Perang. Adapun yang membuat aku terkejut, kurasa tidak semestinyalah seorang pemilik kedai di tempat terpencil seperti ini dapat menduga sejauh itu.

Siapakah kiranya pemilik kedai yang sudah jelas tampak sebagai orang persilatan yang mengasingkan diri itu?

(Oo-dwkz-oO)