Nagabumi Eps 156: Nasib Malang Seorang Kebiri

Eps 156: Nasib Malang Seorang Kebiri

Tidak terlalu jelas bagiku mengapa aku merasa sangat ragu-ragu membuka karung itu. Setelah mengamatinya dengan cermat, karung-karung itu ternyata bukan hanya diikat, melainkan juga disegel dengan cap kerajaan. Simpul talinya ditindas lilin warna merah, dan pada dataran itu terdapat cap Wangsa Tang. Artinya karung itu sebetulnya hanya boleh dibuka oleh pejabat kerajaan, itu pun pejabat yang menjadi tujuan pengiriman karung-karung ini. Seberapa jauh peraturan itu berlaku bagiku?

Bapak kedai muncul dari belakang dan meraba-raba segel itu.

''Setidaknya ada dua perkara dengan karung-karung ini,'' ujarnya, ''pertama, pengiriman resmi kerajaan ke Daerah Perlindungan An Nam biasanya dilakukan melalui laut, karena lebih murah dan lebih aman; kedua, petugas yang mengawal kiriman resmi yang disegel seperti ini seharusnya juga petugas kerajaan.''

Bapak kedai lantas memperhatikan segel itu lagi.

''Segel ini asli,'' katanya, ''tapi pengirimannya tidak resmi, karena mayat delapan orang itu sudah kugeledah dan tidak ada bukti apa pun yang menunjukkan bahwa mereka petugas kerajaan.''

Jadi dia sudah menggeledah mayat itu, pikirku.

''Mungkin mereka petugas pengantar barang, tetapi bukan dari kerajaan, karena jika tidak mengenakan seragam, setidaknya terdapat surat jalan yang menjelaskan diri mereka siapa dan bahwa mereka sedang menjalankan tugas negara.''

''Petugas pengantar barang?'' ''Ya, itu usaha menjual jasa yang berkembang sekali sekarang. Nanti Tuan akan menyaksikan gardu-gardu negara yang disediakan untuk mereka, karena pemerintahan mengakui pentingnya hubungan antarwilayah yang diliputi pekerjaan para pengantar barang itu.''

Aku mengerti. Para pengantar barang harus memiliki ilm u silat tinggi untuk menjaga titipan apa pun yang dipercayakan kepadanya. Ada kalanya mereka mengantar barang. Ada kalanya mereka mengantar orang. Seperti pernah kualami dalam perjalanan bersama para mabhasana di Jawadwipa, pekerjaan mengawal barang dan orang dalam perjalanan adalah tugas yang penting. Perjalanan jauh pada masa kini selalu mengandung ancaman bahaya, karena negara yang manapun dalam kenyataannya tidak mampu menjamin keamanan warga pada setiap jengkal wilayahnya. Di kota besar terdapat perbentengan dengan pengawalan dan perondaan ketat, sementara di desa-desa terdapat penjaga keamanan yang mengenal wilayahnya dengan sangat baik.

Namun di daerah yang sulit dihuni maupun didatangi berkeliaran orang-orang dan gerombolan yang menjauhi hukum, dan sebagai gantinya di wilayah seperti ini berlakulah hukum rimba. Suatu keadaan yang semakin sah adanya di daerah tak bertuan. Keadaan semacam ini menuntut peranan para pengantar barang dan pengawal perjalanan, yang dalam keadaan negara terlibat peperangan dari saat ke saat takdapat dipenuhi oleh para pengawal dan petugas kerajaan. Maka kebutuhan atas jaminan keamanan ini pun dipenuhi oleh berbagai perguruan ilmu silat, yang mengerahkan murid- muridnya untuk mengisi lowongan. Keadaan semacam ini juga memberi kesempatan bagi mereka yang belajar ilmu s ilat agar mendapat pekerjaan sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya. Jika menjadi prajurit adalah pengabdian, menjadi pendekar adalah pengembaraan, maka hanyalah pengantar barang dan pengawal perjalanan yang tampak seperti pekerjaan menggunakan ilmu silat dengan kemungkinan menghasilkan uang.

PEKERJAAN ini kadang hanya memerlukan sedikit orang, jika wilayah yang dilewati dianggap aman, dan tidak memerlukan orang-orang berilmu terlalu tinggi; tetapi tak jarang memerlukan tenaga sampai lima puluh orang, terutama jika dipastikan melalui wilayah dengan para pemukim yang sikapnya ber-musuhan terhadap Wangsa Tang. Tentu tingginya tingkat bahaya me-nentukan pula tuntutan atas tingginya ilmu silat para pengawal. Jum lah orang sebetulnya bukanlah satu-satunya ukuran, karena dalam beberapa hal jumlah pengawal yang sedikit justru menunjukkan keyakinan atas tingginya tingkat ilmu silat yang menjadi andalan.

Selain para pengawal seperti ini, kudengar pula cerita tentang para pengantar surat cepat, tentunya mengantarkan surat-surat penting, yang akan membawa surat sendirian saja di atas kuda yang dipacu laju, jika perlu berganti kuda baru setiap kali melewati gardu negara yang satu ke gardu negara yang lain. Seperti juga para pengantar barang dan pengawal perjalanan, para pengantar surat cepat ini terandaikan pula memiliki ilm u silat yang tinggi, demi meng-atasi segala marabahaya dalam perjalanan melewati berbagai wilayah yang sedang bergolak dengan pemberontakan. Dalam suasana kekacauan, juga tidak mudah dibedakan antara pemberontak, penyamun, ataukah regu-regu penyusup musuh, seperti dari Tibet maupun suku-suku pengembara, yang sengaja membuat kekacauan. Para pengantar surat cepat dengan begitu selain memiliki keberanian dan daya tahan berkuda luar biasa, juga harus memiliki ilmu s ilat t inggi.

Sebagai murid-murid perguruan ilmu pedang yang menunggangi kuda Uighur, delapan penyoren pedang itu memenuhi syarat untuk semua kebutuhan tersebut. Tidak jarang pula negara mempercayakan keperluan dan kepentingannya kepada mereka yang menjual kemampuan bersilat ini, sehingga jika karung-karung bersegel lilin merah kerajaan itu terdapat pada mereka adalah pe-nyamaran yang bagus pula kiranya.

''Jangan ragu-ragu membuka karung itu, Tuan,'' ujar bapak kedai itu lagi, ''karena dengan begitu kita akan tahu, apakah mereka terlibat, atau tidak tahu menahu dengan sesuatu yang tampak seperti disembunyikan ini.''

Aku tidak tahu mengapa orang tua ini begitu bersemangat. Untuk mencari dan mendapatkan benda-benda berhargakah? Ataukah untuk sesuatu yang bersifat lebih rahasia lagi? Aku belum lupa tentang apa yang kupi-kirkan tentangnya, bahwa gerak-ge-rik-nya bagiku menunjukkan dirinya sebagai orang yang mengerti ilmu silat. Namun aku juga sadar, betapa di dunia persilatan pun tiada kurang yang berpikir demi keuntungan dirinya sendiri.

Akan kubuka atau tidak karung-karung di dalam keranjang ini? Aku belum lupa betapa betapa perjalanan hidup dapat berbelok di luar rencana karena peristiwa tak terduga. Namun apalah artinya perjalanan hidup yang berbelok di luar rencana bagi seorang pengembara, yang mestinya tidak mempunyai rencana apa pun dalam hidupnya?

Pada setiap keledai terdapat dua keranjang beban di kiri dan kanan. Apakah harus kubuka satu per satu empat puluh karung dalam keranjang itu? Kubuka ikatan karung. Dengan membuka segel itu, aku sah untuk dianggap melanggar peraturan kerajaan, dan karena itu boleh ditangkap, tetapi tetap kubuka segel itu. Aku da-pat menganggap diriku seorang pe-ngembara yang terganggu oleh perbuatan warga Negeri Atap Langit di daerah takbertuan, dan karena itu hu- kum Negeri Atap Langit tidak ber-laku bagiku.

Di bagian atas karung itu bertum-puk jerami untuk melindungi barang-barang porse len yang sangat mahal. Kuangkat salah satu kundika dengan hiasan kembang berwarna biru. Kulihat juga yang lain-lain. Kadang kembang, kadang ikan, kadang sulur-sulur tetumbuhan menjulur mengitari tembikar yang disebut piring. Ka-dang terdapat gambar kuil di tengah piring dengan seseorang berdiri di depannya mengenakan baju bagus dan tangan disembunyikan ke bela-kang. Semua itu juga berwarna biru. Apakah yang bisa diterima sehingga barang pecah belah semacam itu ha-rus melewati jalan terjal yang berat, dengan kemungkinan besar menjadi pecah dan belah?

Tembikar yang rapuh seperti itu tidak akan dibawa dengan keledai naik turun menyeberangi lautan ke-labu gunung batu, apalagi jika terda-pat porselen putih yang merupakan temuan pembakaran baru. Barang seperti itu dibawa dengan kapal, yang kadang-kadang memang diterjang badai dan tenggelam ke dasar lautan bersama segenap barang bawaan, tetapi membawanya dengan kapal tetaplah merupakan kelaziman dan bukannya dengan karung dalam keranjang keledai beban di jalan terjal berbatu-batu seperti ini.

KUPERIKSA karung pada keledai lain, ternyata isinya tumpukan kertas yang bertuliskan puisi. Kuambil, kuraba, dan kucium benda yang mengagumkan itu. Kudengar kertas ini dibuat dari bubuk kayu, dan tulisan di atasnya ditorehkan dengan tinta. Lantas orang dapat memindahkan tulisan itu kepada suatu papan kayu, dan papan kayu itu kemudian digunakan untuk mencetak ulang tulisan di atas kertas itu sebanyak-banyaknya. Teringat betapa berat penyalinan kitab dengan lontar yang digurat pengutik, aku segera tahu bagaimana bangsa yang menjadi warga Negeri Atap Langit ini bisa mendapatkan pengetahuan melalui bahan bacaan dengan jauh lebih cepat dan mudah.

Sepintas kutengok, hampir semua penyair semasa Wangsa Tang ada di karung ini, seperti Li Ba i, Du Fu, Wang Wei, Wang Zhihuan, Meng Haoran, He Zhizang, Song Zhiwen, Cen Can, bahkan juga para penyair masa sebelumnya, seperti Qu Yuan dari masa Negeri Berperang dan Tao Yuan Ming dari masa Jin Timur. Aku belum memasuki satu kota pun di Negeri Atap Langit, tetapi pernah kudengar kegemaran warganya untuk memasang kertas bertuliskan puisi di dinding rumah. Tentu saja puisi terbaik karya para penyair terbaik. Para penulis aksara puisi itu pun tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan juga penulis aksara terbaik yang dibayar dengan harga mahal.

Dalam karung lain terdapat tumpukan sutera, kayu harum, busana perempuan, dan perhiasan, juga patung-patung batu giok yang kecil, yang semuanya merupakan barang-barang dagangan. Terdapat pula kitab-kitab gulungan sutra ajaran Buddha yang biasa terdapat di dalam kuil. Senua itu tidak ada yang mencurigakan, kecuali bahwa jalur perjalanannya tidak dapat diterima untuk barang-barang semahal itu, pun atas nama kepentingan istana. Barang-barang yang diangkut dengan keledai beban menyeberangi lautan kelabu gunung batu seperti ini bukanlah yang akan terlalu penting bagi urusan istana, sehingga perlu disegel segala. Barang angkutan yang umum hanyalah barang yang penting dipertukarkan antara kedua desa, seperti hasil bumi atau binatang buruan, kadang juga ternak; atau juga barang-barang dagangan dari kota yang dibawa seorang pedagang keliling, tetapi itu pun barang-barang kebutuhan sehari-hari sahaja, seperti baju sederhana setiap pergantian mus im atau alas kaki yang disebut sebagai sepatu.

Namun masih ada satu karung yang belum dibuka. Dari luar sudah terlihat bentuknya berbeda, seperti seharusnya tidak muat tetapi tetap dipaksakan juga. Kami segera membukanya, dan... Ah!

Sebenarnya aku sangat ingin menceritakannya dengan rinci, karena dibanding dengan isi karung-karung yang lain, isi karung terakhir ini luar biasa. Bagaimana menceritakannya? Betapapun telah kusaksikan begitu banyak pemandangan mengenaskan di berbagai medan tempur yang penuh dengan pembantaian, belum pernah kualami rasa mual karena melihat manusia -tepatnya tubuh manusia- diperlakukan begini rupa. Barulah kusadari betapa tubuh manusia memang benar merupakan suatu keutuhan. Bahkan ketika jiwa tiada lagi menggerakkan tubuh itu berdasarkan kehendaknya, dalam keutuhan tubuh yang tidak lagi bergerak itu tetap terpandang dalam suatu penjiwaan, karena keutuhan tubuhnya tetap memberikan kesan atas jejak-jejak kehidupannya. Namun menatap tangan hanya sebagai tangan, kaki hanya sebagai kaki, dan kepala hanya sebagai kepala sangatlah berbeda, karena memang tetap menyiratkan kesan dari suatu jejak kehidupan, tetapi yang segera terasingkan dan terhancurkan oleh kesadaran yang mengingatkan betapa semua ini hanya potongan.

Aku merasa mual, terutama jiwaku yang mual. Mereka yang hidup dalam dunia persilatan memang selalu hidup dalam pertaruhan nyawa, tetapi kematian yang berlangsung karenanya dianggap puncak pencapaian, tidak dapat disamakan dengan sekadar pembunuhan. Bahkan pembunuhan sebagai bentuk keliaran dan kebuasan, segera akan berhenti setelah nyawa pergi, maka apakah yang harus dikatakan tentang pembunuhan yang dilanjutkan dengan pemotongan tubuh secara rinci? Waktu kulihat wajah dari kepala yang terpisah dan terbenam di antara potongan sebelah tangan dan sebelah kaki di tempat yang tidak semestinya, bagaikan tertoreh luka panjang kedukaan yang dalam. Seperti ada rasa pedih, seperti ada rasa perih, tetapi tidak dapat diucapkan...

Namun bapak kedai rupanya berhati dingin.

''Jangan pergi dulu,'' katanya, ''kita harus memeriksanya satu per satu.''

Aku tidak menjawab, meski suatu petunjuk memang harus dicari. Apakah hubungannya kedelapan penyoren pedang itu dengan karung-karung yang dibawanya ini? Apakah mereka mengetahui isinya? Apakah mereka tidak mengetahui isinya? Apakah mereka sendiri yang mengisinya?

MENGINGAT terdapatnya segel lilin merah bercap Wangsa Tang, dan sikap mereka yang tidak terlalu peduli kepada barang-barangnya, aku menduga mereka tidak mengisinya sendiri, dan diberi tahu apa saja isinya, kecuali tentang tubuh terpotong-potong. Pendapat ini kuambil, karena untuk tidak menimbulkan pertanyaan, sebaiknya isinya memang dinyatakan, yang juga biasanya merupakan ketentuan dalam perjanjian atas penggunaan jasa mengantar barang. Tentu para pengawal barang tidak memiliki hak apa pun apabila terdapat segel Wangsa Tang seperti itu dan hanya wajib mengantar saja. Namun jika hal semacam ini dilakukan, mengingat tugas resmi menyeberangi lautan kelabu gunung batu tidak merupakan kelaziman, daripada memancing rasa penasaran, lebih baik isinya diberitahukan, tanpa menyebut itu mayat yang bernasib malang.

Kuduga, dan memang hanya dugaan, itu-lah yang memang terjadi, meski tentu te-tap perlu diberikan alasan sendiri bagi me-re-ka, agar bisa menerima kenapa barang-ba-rang pecah belah harus naik turun pegunungan batu serbacuram dan serbaterjal seperti ini. Alasan ini kiranya penting, karena mayat terpotong-potong tentunya adalah persoalan besar yang dalam kenyataannya harus ditutupi. Kedelapan penyoren pedang itu mengetahui atau tidak mengetahui, perjalanan mereka jelas adalah juga suatu perjalanan rahasia.

"Lihatlah Tuan! Lihat!"

Bapak kedai yang kuduga seorang pendekar yang sengaja mengundurkan dari dunia persilatan itu, telah meneliti satu per satu potongan tubuh dan seperti berusaha menyatukan kembali potongan-potongan tersebut terbentuklah sebuah sosok manusia terpotong-potong di atas rerumputan.

Waktu aku tiba, bapak kedai menunjuk ke sa lah satu potongan tubuh itu. Aku semula t idak mengerti. "Lihat!"

Ia menunjuk ke arah kemaluan. Ter-da-pat luka potongan, tetapi bukan luka baru, itu sayatan tajam hati-hati yang sudah lama sekali.

"Orang kebiri!"

Orang kebiri? Wajahku mungkin tampak tidak menunjukkan pengertian tertentu.

"Orang kebiri! Mereka inilah yang menguasai segala jaringan di istana dan sangat dibenci! Sekarang menjadi jelas teka-teki segel ini. Seorang kebiri telah dibunuh oleh orang dalam istana, sehingga karung ini bisa keluar tanpa diperiksa lagi!"

Bapak kedai kemudian menjelaskan perihal keberadaan orang-orang kebiri di dalam istana.

(Oo-dwkz-oO)