-->

Nagabumi Eps 153: Tujuh Penyoren Pedang

Eps 153: Tujuh Penyoren Pedang

Perdamaian antara Negeri Atap Langit dan Kerajaan Tibet tidak berlangsung lama. Hubungan yang semula tampak serasi kemudian sangat dipengaruhi perkembangan permainan kekuasaan yang berada di luar kendali keduanya. Pada bulan kesepuluh tahun 783, panglima pasukan yang ditempatkan di Jingyuan, yakni Zhu Ci, yang dianugerahi pangkat tai wei atau kepala pertahanan, memberontak setelah sebelumnya begitu setia kepada Maharaja Dezong. Ia merebut kendali Chang'an dan menyatakan dirinya sendiri sebagai maharaja baru. Pada saat rawan ini bagi pemerintahan Dezong ini, sekutu lama Wangsa Tang, suku Uighur, ternyata berpihak kepada pemberontak dalam usaha menggulingkan wangsa yang melemah.

Pihak istana yang berada di Fengtian segera mengutus Cui Hanheng, yang memainkan peran penting dalam perundingan untuk perjanjian tahun 783 di Q ingshui, dengan perm intaan bantuan pasukan untuk me lawan para pemberontak. Orang- orang Tibet siap memberi bantuan kepada pihak istana, yang baru saja membuat perjanjian dengan mereka beberapa bulan sebelumnya. Negeri Atap Langit dan Kerajaan Tibet sebelumnya telah menyepakati perjanjian terpisah ketika pasukan Tibet membantu pembasmian pemberontakan Zhu Ci. Pihak Negeri Atap Langit menyetujui bahwa pada saat Changian dapat direbut kembali, maka wilayah Lingzhou, Jingzhou, Anxi, dan Beiting atau Beshbalik , akan dimasukkan ke dalam kekuasaan Tibet. Dengan persyaratan ini orang- orang Tibet setuju untuk memberi bantuan ketentaraan lengkap dengan para panglimanya. Pada bulan kedua tahun 784, negarawan Tibet Zan Jiezan atau Zan Rgyal-btsan bertemu dengan Cui Hanheng, tetapi menolak untuk memimpin balatentaranya ke Negeri Atap Langit karena surat yang meminta bantuan pasukan tidak ditandatangani juga oleh panglima Li Huaiguang, yang memang sangat menentang penggunaan pasukan Tibet untuk mengatasi pemberontakan di dalam negeri.

ADAPUN Li Huaiguang memiliki tiga alasan yang mendukung pendapatnya: pada saat pasukan Tibet membantu pembebasan Changian, mereka akan menjarah kota; menurut ketentuan istana, setiap prajurit yang membantu pembebasan Chang'an akan mendapat 100 keping mata uang kontan, te- tapi akan sulit mendapatkan uang se-banyak itu untuk membalas jasa orang-orang Tibet; dan mereka tak bisa dipercaya karena mereka tidak akan ber-perang di garis depan tetapi menunggu di samping dan mengamati hasilnya, lantas akan mengakui hasil pasukan Ne-geri Atap Langit atau melanggar perjanjian dan menyerang. Li Huaiguang menoleh menandatangani surat dan kemudian ia sendiri pada 784 memberontak terhadap maharaja.

Lu Zhi yang menjabat sebagai nei xiang atau menteri dalam negeri, juga membicarakan masalah tersebut de-ngan Li Huaiguang dan tidak setuju pula pasukan Tibet ikut campur urusan dalam negeri. Adapun orang-orang Tibet terus dibujuk oleh Cui Hanheng dan baru pada bulan keempat tahun 784 akhirnya mereka mengirim pa-sukan 20.000 orang ke Negeri Atap Langit di bawah pimpinan Shang Jie-zan. Mereka bergabung dengan pa-su-kan istana dan bersama-sama me- nye-rang pemberontak. Orang-orang Tibet menggasak pasukan pembe-rontak di Sungai Wuting yang terletak di dekat Wugong. Pertem-puran ini terbukti menentukan, karena membuat pasukan istana berhasil merebut kembali Changian dari tangan pemberontak. Betapapun, orang-orang Tibet tidak ikut dalam pembebasan Chang'an. Meskipun pihak Negeri Atap La-ngit mengakui peran penting mereka dalam menekan pemberontakan, mereka menuduh orang-orang Tibet menerima suap dari pemberontak dan karena itu mereka pun mundur. Ma-haraja Dezong yang merupakan perancang persekutuan khawatir atas perkembangan terakhir. Ia membicara-kannya dengan Lu Zhi, yang kemudian menjelaskan bahwa orang-orang Tibet ini rakus dan licik. Diya-kinkannya maharaja betapa beruntungnya ia karena orang-orang Tibet mundur. Me-nurut Lu Zhi, setiap orang menentang gagasan bahwa pasukan Tibet akan membantu Negeri Atap Langit. Para panglima dan prajurit yang setia kepada maharaja, cemas bah-wa orang- orang asing ini akan mengambil hak atas penghargaan dan pembayaran, sedangkan pemberontak cemas juga bahwa orang-orang Tibet akan me-nangkap dan menjadikan mereka bu-dak, sedangkan rakyat men-ce-maskan kenyataan bahwa pa-sukan Tibet akan menjarah sega-lanya.

Lu Zhi bahkan memperingatkan maharaja, bahwa beliau tidak boleh bersikap cengeng kepada sekelompok anjing dan domba. Lu Zhi mendukung gagasan bahwa Changian mesti direbut menggunakan pasukan Negeri Atap Langit. Pada bulan ke-enam tahun 784 para pemberontak melarikan diri dari Chang'an dan Zhu Ci segera dibunuh oleh sa lah satu pang- limanya.

''Daku datang dari jauh,'' kataku sambil masih terus mengingat-ingat ulasan yang kubaca di Kuil Pengab-dian Sejati itu, ''terlalu jauh untuk da-pat terlibat persoalan kalian. Daku bah-kan tak paham, bagaimanakah se-orang warga Negeri Atap Langit, suku Uighur, atau berasal dari Tibet dapat dibedakan. Daku taktahu me-nahu siapa kalian, tetapi kalian me-nyerang, dan bukanlah kesalahanku saudara seperguruan kalian membunuh dirinya sendiri atas nama kehormatan. Sekarang jelaskanlah duduk persoalan kalian, karena...'' Namun kata-kataku belum lagi se lesai ketujuh bayangan telah ber-kelebat serentak menyambarku dalam serangan berpasangan mematikan. Persoalan yang rum it adalah jika sebenarnya mereka bisa berdamai, tetapi takdapat mundur kembali karena ke-matian saudara seperguruannya de-ngan cara begitu rupa, yakni membu-nuh dirinya demi kehormatan, karena ketika aku takmembunuhnya diterima sebagai penghinaan. Penghinaan harus dibayar dengan kematian, tetapi karena mengetahui tidak akan mampu membunuhku maka terkorbankanlah dirinya sendiri.

BEGITULAH caranya kita harus memandang kehormatan?

Ketujuh bayangan berkelebat me-nuntut kematian. Ada kalanya ujung pedang mereka hanya terpaut serambut dari titik-titik lemah di seluruh tubuhku, dan hanya karena mengandalkan kecepatan kilat, bahkan lebih cepat dari kilat sajalah maka dapat kuhindari maut yang bagaikan begitu tak sabar untuk segera menjemput.

Samar-samar kukenali jurus berpasangan mereka itu dari suatu bacaan, yakni Kitab Seribu Jurus Ilmu Pedang Negeri Atap Langit yang juga terdapat dalam peti kayu pasangan pendekar yang mengasuhku. Bahkan kurasa kitab yang hanya berisi gambar-gambar itu menjadi salah satu bahan bacaan mereka ketika mengolah Ilmu Pedang Naga Kembar, termasuk Jurus Penjerat Naga yang merupakan kelanjutannya. Maka kukenali juga bahwa jurus berpasangan tujuh orang itu disebut Jurus Tujuh Pedang Satu Kibasan, yang berarti bahwa serangan yang satu adalah bagian dari enam serangan yang lain.

Jika pasangan pendekar yang mengasuhku telah menggunakan kitab tersebut untuk mengolah ilmu pedang ciptaan mereka, pantas dipastikan mereka berusaha memusnahkan pula setiap jurus serangan yang ada di sana. Jurus-jurus itulah ternyata yang telah tertanam dalam diriku tanpa aku harus sengaja dengan sadar menggunakannya. Demikianlah maka serangan ketujuh penyoren pedang ini tidak pernah mengena, justru pada saat-saat ketika aku tampak begitu terdesak dan tiada berdaya. Sembari melenting di udara yang semakin dingin dan kembali berkabut itu, kulihat di bapak kedai melipat tangan memperhatikan. Apa pula yang sedang dipikirkannya?

Kupercepat gerakanku begitu rupa tanpa bermaksud menyerang apalagi melumpuhkan, selain agar mendapat ruang dalam waktu untuk sekadar menuntaskan ingatan ketika segalanya menjadi amat lamban, karena hanya dengan begitu aku mendapat dasar ketepatan untuk mempertimbangkan suatu dugaan, apakah kiranya yang menghubungkan kuda Uighur itu dengan persoalan ketujuh penyoren pedang ini.

Setelah Zhu Ci terbunuh, akhir pemberontakan itu menyakitkan hati para panglima Tibet dan menandai akhir mendadak suatu masa damai singkat dalam hubungan Negeri Atap Langit dan Kerajaan Tibet. Setelah tuduhan masalah suap itu, seorang perwira tinggi penentang persekutuan dengan Tibet bernama Li Bi, yang pada akhir 787 ditunjuk menjadi zaixiang atau kepala menteri, menyarankan kepada maharaja bahwa ia tidak perlu menyerahkan wilayah Anxi dan Beiting kepada orang-orang Tibet, karena wilayah barat sangat penting bagi kedudukan Wangsa Tang. Ke-hadiran pasukan Negeri Atap Langit akan mengikat suatu bagian dari kesatuan Tibet di batas barat Kerajaan Tibet dan akan mencegah orang-orang Tibet menyatukan kekuatan pasukan untuk menyerang Negeri Atap Langit. Maharaja Dezong akhirnya memutuskan untuk tidak menyerahkan wilayah kepada Tibet dan membayar kembali bantuan pasukan Tibet dengan sutera, yang tentu saja meruntuhkan kecenderungan menjanjikan hubungan Negeri Atap Langit dan Tibet, yang telah diawali saat naiknya sang maharaja di singgasana.

Maka serangan orang-orang Tibet ke wilayah perbatasan Negeri Atap Langit pun dimulai lagi. Para negarawan Tibet tidak melupakan perlakuan tidak adil yang mereka terima dari pihak istana dan mempersiapkan pembalasan dendam. Mereka ingin menangkap sejumlah perwira tinggi Negeri Atap Langit yang mereka ang-gap bertanggung jawab atas penolakan untuk menyerahkan wilayah pada 784.

Ketujuh penyoren pedang itu memutar senjatanya seperti baling-baling. Tujuh baling-baling menyambar dari kiri kanan atas bawah, takdapat kubayangkan apa yang telah terjadi dengan lawan-lawan mereka sebelum ini. Benarkah lawan- lawannya terca-cah tanpa bentuk?

"Para pecinta puisi-puisi Li Bai," seruku sembari me lesat berjumpalitan ke udara, "betapa tinggi semangat pembunuhan kalian!"

"Pendekar yang tidak menyebutkan nama," sahut salah seorang, "setidaknya jujurlah tentang sesuatu. Dikau membunuh saudara seperguruan kami bukan? Barangkali saja dikau juga te lah membuatnya bunuh diri seperti nasib saudara seperguruan kami!"

"Janganlah kesedihan dan kemarahan membutakan kebijakan, wahai ketujuh penyoren pedang. Seseorang yang seolah datang dari tempat terjauh di dunia seperti Jawadwipa tidak akan membunuh seorang anggota perguruan ilmu pedang, karena hal itu diketa-huinya hanya akan membuatnya celaka. Izinkanlah daku lewat, Tuan-tuan, tiadalah ingin kutambahkan darah yang tumpah selama perjalanan."

"Jawadwipa. Hmm. Kudengar Wang-sa Syailendra penyerbu Kam-buja yang ganas itu berasal dari sana. Adakah dikau termasuk yang telah ditinggalkannya untuk menjadi mata- mata?"

"TIDAK semua orang dari Jawadwipa haus darah, Tuan, daku tiba dengan kapal-kapal Sriv ijaya dan mengabdi kepada Puteri Amrita yang telah gugur ketika menembus pertahanan kota Thang-long." "Panglima Amrita? Perempuan perkasa yang tiada duanya?"

Namun sambil bercakap seperti ini mereka terus menyerang dan berkelebat me-nyambar-nyambar. Aku menjadi ragu dan curiga, bahwa percakapan diterus-te-ruskan hanya untuk menanti saat-saat ke-lemahan. Meski begitu tanggapan mereka se-betulnya tidaklah asal-asalan. Kuper-ce- pat lagi gerakanku agar mendapat ruang da--lam permainan waktu, karena aku masih ha--rus terus memeras sesuatu dari ingatanku atas ulasan tentang hubungan segitiga orang-orang Tibet, Negeri Atap Langit, dan suku Uighur yang menjadi asal kudaku itu.

Pada bulan ketiga tahun 787, pasukan Tibet yang dipimpin Shang Jiezan menguasai Yanzhou dan Xiazhou, serta mulai sering mengirim utusan ke istana Negeri Atap Langit untuk meminta perjanjian damai yang baru. Semula maharaja tidak setuju dengan rencana seperti itu. Setelah itu orang-orang Tibet menghubungi Ma Sui, seorang panglima tinggi Negeri Atap Langit, dengan memperlihatkan sebuah rencana perjanjian yang dapat disetujui bersama. Mereka bahkan menjanjikan bahwa setelah perjanjian ditandatangani, dua wilayah yang baru saja direbut itu akan dikembalikan.

Ma Sui mempercayainya dan bersama perwira tinggi lain, Zhang Yanshang, menawar-nawarkan gagasan ini dalam tukar pikiran dengan maharaja. Betapapun, terdapat kelompok yang amat sangat menentang Tibet, yang melihat perkembangan ini dengan penuh kecurigaan. Panglima Li Sheng berdalih bahwa tidak seorang pun dapat mempercayai orang-orang liar, tidak ada yang lebih baik selain menyerangnya. Panglima Han Youxiang terheran-heran, "Ketika orang-orang Tibet dalam keadaan lemah, mereka meminta persekutuan, ketika sudah kuat kembali, mereka menyerang; sekarang mereka telah masuk begitu jauh ke dalam wilayah kita, dan mereka meminta perjanjian, sudah jelas mereka bermaksud mengelabui kita. i Panglima Han Huang juga t idak mendu-kung gagasan bersekutu dengan Tibet dan mengusulkan rencana untuk membangun benteng pada empat daerah, yakni di Y uan, Shan, Tao, dan Wei, mengi-rimkan pasukan ke sana dan dengan begitu memperkuat pertahanan. Adapun per-kara dibutuhkan sumber dana demi pelak-sanaannya, ia siap bertanggung jawab.

Maharaja menolak lagi tawaran perjanjian damai Tibet itu, dan bermaksud memenuhi rencana Han Huang. Namun ternyata Han Huang kemudian meninggal, dan Ma Sui, Zhang Yanshang, bersama dengan utusan T ibet, Lun Jiare, berusaha mempengaruhi Maharaja Dezong, yang masih berpikir bahwa musuh terbesarnya adalah suku Uighur, agar bersekutu dengan orang-orang Tibet dan menyerbu suku Uighur itu. Kerja persiapan bagi perjanjian ini ditandai dengan kecurigaan dari kelompok para panglima dan perwira tinggi yang tidak percaya kepada ketulusan maksud orang-orang Tibet, yang semula menawarkan Qingshui sebagai tempat perjanjian, tetapi kemudian berganti ke Tulishu yang lebih dekat perbatasan Tibet. Para panglima Negeri Atap Langit tidak setuju dengan tempat berbahaya dan keduanya pun bersetuju pindah ke Pingliang, yang berada di dataran rata dan lebih kurang bahayanya.

Li Sheng, yang tidak mempercayai orang-orang T ibet, ingin melakukan suatu persiapan rahas ia dan membuka perkemahan pasukan yang dapat bertindak dalam keadaan darurat, tetapi Zhang Yanshang mencurigainya bahwa ia ingin memastikan kesimpulan perjanjian damai. Pada hari keduapuluhempat bulan kelima tahun 787, wakil kedua belah pihak bertemu di Pingliang. Pertemuan berakhir buruk karena orang-orang Tibet menyerang para wakil Negeri Atap Langit. Banyak sekali panglima dan perwira tinggi Negeri Atap Langit yang terbunuh atau tertawan dalam serangan ini. Peristiwa ini menandai akhir kebijakan dan siasat perdamaian Dezong terhadap Tibet. Delapan tahun pertama pemerintahannya, ketika ia berusaha dan takselalu berhasil mencapai hasil yang baik dengan Tibet, dalam penentangan sejumlah perwira tinggi pula, telah berlalu. Kebijakan Negeri Atap Langit terhadap wilayah tengah benua harus diubah.

PADA 787 diangkatlah Li Bi menjadi kepala menteri dengan kekuasaan penuh. Sejak awal ia memang sudah keberatan atas persekutuan Negeri Atap Langit dengan Tibet. Li Bi menyebutkan bahwa Persekutuan Besar yang direncanakannya bertujuan mengurung Tibet, dengan membentuk persekutuan bersama suku Uighur, Dashi atau Arab, kerajaan Nanzhao, dan Negeri Atap Langit. Dengan keengganan Maharaja De-zong yang belum lupa pengalaman sebelumnya dengan suku Uighur, usahanya tidak menjadi mudah. Ketika membahasnya bersama maharaja pada bulan ketujuh tahun 787, Li Bi belum berani mengungkap apa yang berada di belakang kalimatnya, ''Tanpa menggunakan pasukan Negeri Atap Langit, aku bisa mengacaukan orang-orang Tibet.'' Betapapun, pada bulan berikutnya, suku Uighur mengirim rombongan kedutaan ke istana, meminta persekutuan atas dasar pernikahan dan memohon perdamaian.

Saat Li Bi mengajukan tawaran perjanjian, sebetulnya Maharaja Dezong mendukung gagasannya, tetapi keberatan atas ikut sertanya suku Uighur da-lam perjanjian seperti itu. Bagi Li B i, su-dah jelas bahwa suku Uighur me-main-kan peran penting dalam rencana ini, dan akhirnya ia berusaha meya- kinkan ma-haraja. Maka maharaja pun pada 788 menghadiahkan putrinya, yakni Putri Xian'an kepada khaghan Uighur yang baru, Mohe, dan setelah itu para pejabat Ne-geri Atap Langit, terutama perwira ting-gi wilayah Jiannan, Wei Gao, ''Un-tuk membangun jalan ke Q ingxi, guna membuat perdamaian dengan ma-nusia-manusia buas,'' yakni memba- ngun kembali hubungan dengan Nan-zhao pada 793-794. Para negarawan Ne-geri Atap Langit agar serangan menda-dak Tibet dapat dijauhkan dan me-me-nuhi sebagian dari siasat dan kepentingan Wangsa Tang di perbatasan barat laut. Seringnya penyerbuan T ibet ke wilayah Negeri Atap Langit setelah Pemberontakan An Lushan adalah bahan perbincangan di antara para pejabat tinggi untuk waktu yang lama. Misalnya Lu Zhi, sebagai kepala menteri, dalam catatan riwayat hidupnya antara bulan kedelapan tahun 792 dan bulan kelima tahun 793, ketika membicarakan masalah pertahanan di perbatasan, telah menyimpulkan ber-dasarkan pengalaman dari serangan-serangan Tibet, yang mengungkap sejumlah kesalahan dalam pengaturan pertahanan Negeri Atap Langit. 

Pertama, menurut Lu Zhi, masalahnya adalah soal pengambilan keputusan. Para panglima pasukan di perbatasan mesti menunggu perintah dari istana, sementara panglima Tibet mendapat hak untuk memberi perintah segera, sehingga pasukannya dapat bergerak lebih lincah dan lebih cepat. Dalam catatannya yang pertama, yang dari bulan kedelapan 792, Lu Zhi melihat ini sebagai masalah utama kebijakan pertahanan Negeri Atap Langit.

Catatan kedua tercurahkan kembali kepada masalah kebijakan perbatasan, dengan tujuan mengurangi biaya pe- meliharaan pasukan. Ia menyarankan agar pasukan perbatasan ditempatkan bersama keluarganya, di tanah yang menjadi milik mereka sendiri, dan membuat mereka berada dalam cara tuntian atau mencukupi dirinya sendiri. Lu Zhi mengagumi kepatuhan pasukan Tibet, yang menurutnya, merupakan jawaban mengapa mereka sangat mangkus dan sangkil. Lu Zhi menyatakan, meskipun seluruh pasukan Tibet setara dengan pasukan Negeri Atap Langit sebanyak yang dipimpin sepuluh panglima, ber-dasarkan kepatuhan dan cara turunnya perintah yang langsung berhak dila-kukan panglima di medan tempur, mereka menjadi kuat dan berbahaya. Ma- salah utama pertahanan Negeri Atap Langit, menurut Lu Zhi, adalah tersebarnya pasukan di wilayah yang sangat luas, dan kekuasaannya terbagi-bagi antara terlalu banyak panglima. Juga bahwa perintah-perintahnya terkadang bertentangan sehingga kekuatan pa-sukan Negeri Atap Langit tidak dapat diberdayakan sepenuhnya.

Tujuh bayangan berkelebat me-nyam-bar, aku melepaskan diri dari ke-pungan dan memancing ketujuh pe-nyoren pedang itu agar mengejarku da-lam satu garis lurus memanjang. Begitu garis itu terbentuk aku berbalik dan me-nyerang mereka satu persatu dalam satu tarikan napas dengan ke- cepatan seperti pikiran. Kuketok tangan mereka ma-sing- masing yang meme-gang pedang sehingga terpental ke udara. Kemudian kutangkap ketujuh pedang sebelum ja-tuh ke bumi.

Saat mereka kembali menge-pung-ku, ketujuh pedang itu sudah berada di ta-nganku dan kulemparkan kepada pemiliknya masing-masing tanpa berniat membunuhnya. Aku tahu betapa tindakan semacam ini dapat diterima sebagai penghinaan, tetapi kuharap mereka t idak bunuh diri mengikuti sau-dara seperguruannya demi kehormatan. Kuharap mereka berpikir sebaliknya, yakni merasa harus berguru lebih tekun lagi demi mencapai kesempurnaan. Tidak semua penyoren pe- dang kuharap akan berpikir bahwa ha-nya kematianlah jalan menuju kesempurnaan.

Aku telah mendapat gambaran tentang kemungkinan yang menghu-bung-kan kuda Uighur itu dengan me-reka. Namun aku masih harus melengkapi ingatanku demi kepastian.

HUBUNGAN antara Negeri Atap Langit, Kerajaan Tibet, dan suku Uighur pada masa ini didasarkan kepada daya permainan kekuasaan dan kepentingan kesejahteraan. Keberbedaan dalam hubungan ketiga pihak ini membawa masalah tersendiri. Dalam hubungan Negara Atap Langit dan suku Uighur, masalah kesejahteraan memainkan peranan penting. Disebabkan oleh ketergantungan Negeri Atap Langit terhadap bantuan pasukannya, suku Uighur berada dalam kedudukan untuk menentukan kehendaknya kepada maharaja Negeri Atap Langit, dan beberapa penguasanya memanfaatkan ini secara penuh. Para negarawan Negeri Atap Langit lebih suka bahwa dalam jangka panjang siasat persekutuan dengan Uighur akan menahan orang-orang Tibet, mungkin sebetulnya lebih karena orang-orang Turk, istilah lain bagi orang Uighur, tidak terlalu berbahaya bagi kesatuan Negeri Atap Langit. Mereka tidak pernah bisa masuk terlalu dalam ke wilayah pedalaman, ataupun menduduki wilayah manapun, antara lain karena terpisahkan dari Negeri Atap Langit oleh Gurun Gobi.

Pada sisi lain, hubungan antarpenguasa Tibet dan Negeri Atap Langit ditandai usaha keduanya untuk memperkuat siasat bagi kepentingan masing-masing di wilayah perbatasan. Para negarawan Negeri Atap Langit selama masa ini tidak tertarik dengan pembahasan dalam dugaan tentang sifat hubungan Negeri Atap Langit dan suku-suku pengembara di luar perbatasan, yang mereka sebut sebagai orang-orang liar maupun orang-orang buas. Pernyataan-pernyataan mereka terhubungkan dengan segala sesuatu yang berlangsung sehari-hari. Siasat perdamaian yang dirancang oleh Dezong hanya bekerja dalam masa yang singkat. Alasan bagi kegagalannya bermacam-macam, tetapi masalah utamanya adalah bahwa kepentingan dalam siasat jangka panjang pihak- pihak yang terlibat ternyata bertentangan. Pihak istana Negeri Atap Langit tidak memiliki kebijakan jangka panjang terhadap wilayah tengah benua dan siasat mereka terbentuk kebutuhan untuk mencegah bahaya mendadak, yang datang dari pemberontakan di dalam negeri maupun dari luar perbatasan, yakni suku Uighur maupun orang-orang Tibet.

Para negarawan Negeri Atap Langit hanya memiliki pilihan terbatas bagi gerakan-gerakan kedutaan, karena mereka ditekan oleh keadaan yang timbul setelah Pemberontakan An Lushan untuk membuat persekutuan dengan salah satu dari dua musuh itu. Mengikuti perkembangan, pihak istana Negeri Atap Langit secara luwes berganti-ganti sekutu dan dengan begitu membuat sekutu masa lalu dan masa depannya merasa sangat terganggu. Sekarang, pada bulan ketujuh 797, sisa persoalan apakah kiranya yang terhubungkan dengan kudaku? Baiklah kuanggap saja, kuda itu adalah bagian saja dari pertukaran dengan sutera seperti yang telah diterakan dalam perjanjian, tetapi setelah maharaja melepaskan perjanjiannya dengan Tibet, sedangkan ketika bersekutu dengan Tibet, mereka lepaskan perjanjian dengan suku-suku pengembara di seberang Gurun Gobi, terutama dengan suku Uighur ini.

Setiap suku di wilayah tengah benua tahu belaka tentang mutu seekor kuda. Jadi meskipun perjanjian dengan Wangsa Tang sempat melukai hati mereka, tetaplah kuda yang akan mereka pertukarkan adalah kuda yang dapat memenuhi kebanggaan mereka. Di Negeri Atap Langit, kuda-kuda U ighur dianggap lebih baik dari kuda-kuda biasa, termasuk lebih baik dari kuda yang digunakan pasukan tempur. Kuda-kuda Uighur, demikianlah disebutkan, dianggap sangat baik dan berguna, terutama untuk perjalanan jarak jauh.

Kukira aku boleh menduga bahwa kudaku dapat berada di Daerah Perlindungan An Nam, karena semula ditunggangi oleh seseorang yang datang atau ditugaskan dalam hubungannya dengan kepentingan pengintaian, yakni seorang mata-mata. Simpulan ini kuambil karena kuda-kuda Uighur terbaik dapat sampai di Daerah Perlindingan An Nam hanya karena ditunggangi orang pilihan, dengan tugas sangat amat penting dan tiada tugas lain yang bisa sangat penting dalam keadaan seperti sekarang, selain tugas-tugas rahasia.

Kuda-kuda Uighur digunakan terutama untuk pasukan berkuda di perbatasan, baik di perbatasan dengan Tibet maupun perbatasan tempat terdapatnya suku-suku pengembara di luarnya. Namun kuda-kuda yang terbaik akan digunakan pasukan pengawal raja di istana, dan dari sini dipilih lagi untuk para pengawal rahasia istana. Jika di antara pengawal rahasia istana ini dikirim seseorang yang terpilih untuk tugas rahas ia sejauh Daerah Perlindungan An Nam, maka kuda terbaik di antara yang terbaiklah kiranya yang akan diberikan kepada petugasnya.

KUDUGA kemungkinan besar ia memang terbunuh, tentu karena dengan sua-tu cara rahasianya terbuka. Mung-kin-kah kiranya ketujuh penyoren pedang ini juga merupakan rombongan petugas rahasia yang seharusnya berhubungan dengan saudara seperguruan mereka itu? Kuper-hatikan beban keranjang pada keledai-keledai itu. Apakah isinya? Namun kuda-kuda mereka adalah juga kuda-kuda Uighur. Apakah kiranya tugas rahasia yang mungkin berlangsung sekarang ini? Mengingat apa yang telah kubaca, maka kiranya tugas-tugas rahasia tiada lebih dan tiada kurang juga berhubungan dengan pemberontakan. Negeri Atap Langit menghadapi orang-orang Tibet di timur, suku-suku pengembara di utara, dan orang-orang Viet di tenggara. Mata- mata ditanam di antara pemerintah pendudukan untuk mengetahui ada tidaknya di antara para panglima Negeri Atap Langit yang ber-khia-nat dan berniat memberontak.

Memberontak kepada Negeri Atap Langit artinya menguntungkan para pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam, meski para panglima ini bukannya berniat memberi mereka kemerdekaan pula. Be-ta-papun, jika ada panglima yang berniat mem-berontak maka bagi para pembe-rontak niat itu sebaiknya tidak diketahui oleh pihak istana Negeri Atap Langit. Se-orang mata-mata yang ditugaskan untuk mengetahui ada tidaknya niat itu tentunya harus segera dilenyapkan, atau dibiarkan hidup tetapi disuguhi keterangan yang ke-liru. Apabila yang terakhir ini gagal dila-ku-kan dan sebaliknya bahkan mengundang kecurigaan, maka pada akhirnya ia tetap saja harus dilenyapkan. Masalahnya, be-nar- kah kiranya memang ada kemungkinan bahwa para panglima Negeri Atap Langit yang ditempatkan di Daerah Perlindungan An Nam akan memberontak? Mengingat kekecewaan para perwira tinggi balatentara Negeri Atap Langit terhadap kebijakan perdamaian negara, baik dengan pihak Tibet maupun Uighur, kemungkinan ini memang bisa dipertimbangkan.

Di lain pihak, betapapun para panglima Negeri Atap Langit yang ditempatkan di Daerah Perlindungan An Nam dianggap telah berjasa kepada negara karena dianggap telah berhasil memadamkan pemberontakan. Mereka yang berhasil mere- dam pemberontakan orang-orang Viet, mungkin juga akan berhasil meredam ke-ganasan orang-orang Tibet. Namun ba- gai-mana jadinya jika para panglima yang berjasa ini justru berniat memberontak, meng-ingat kecenderungan terakhir bahwa para pang-lima yang merasa dirinya memba-wah-kan pasukan yang kuat akan memberontak. Jika mata-mata yang telah diki-rim untuk mengetahuinya terbunuh, sebetulnya apa yang telah diketahuinya? Pang-li-ma yang memberontak maupun pemberontakan orang-orang Viet itu sendiri, ketika permainan kekuasaan menyangkut keberimbangan kedudukan dengan pihak Tibet dan suku-suku pengembara tiada ha-bis- nya, akan sangat menyulitkan dan meng-ganggu pihak istana Negeri Atap Langit.

Waktu sangat sempit, ketujuh orang itu bisa mengambil pedang dan menyerangku kembali, tetapi bisa juga mengambil pe-dang dan bunuh diri! Keduanya sama sekali tidak kuinginkan.

Aku berpikir cepat sekali, tetapi aku ti-dak dapat menceritakannya kembali se-ce-pat itu. Tinggal sedikit kemungkinan dari dugaanku kini, apakah memang ada pang- lima yang berniat memberontak dan me-ngetahui keberadaan seorang mata-mata dan lantas membunuhnya; ataukah pihak pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam yang membunuh mata-mata itu, karena pemberontakan para panglima terhadap negaranya sendiri itu tentu sangat menguntungkan bagi orang-orang Viet.

Tanganku bergerak cepat. Telah ku-sam-bar sejumlah kerikil yang melesat ke tujuh jurusan yang membuat pedang mereka terpental. Pedang mereka melayang ke udara dan mereka hanya bisa meman-dangi-nya ketika aku melontarkan tujuh kerikil lagi ke arah tujuh pedang itu sehingga membuatnya terpental sekali lagi de-ngan semakin jauh.

Sebelum pedang itu jatuh berdentang di bebatuan, ketujuh penyoren pedang yang telah kehilangan pedangnya itu bersujud sambil berkata serentak. ''Tuan Pendekar, terima lah kami sebagai murid! Akan kami lakukan segala perintah Guru!''

Guru? Aku baru berumur 26 tahun dan aku sendiri masih selalu berusaha mencari guru. T idak akan kuhabiskan waktuku un-tuk menjadi guru ketujuh penyoren pedang yang tampaknya mempunyai tugas rahasia itu di tengah lautan kelabu gunung batu.

''Bangunlah kalian,'' kataku, ''jangan bersujud seperti itu, aku seorang pengembara yang tidak akan berhenti di sini menerima tujuh orang murid.''

Salah seorang mengangkat wajahnya. ''Terima lah kami Guru! Terimalah!'' Lantas ia bersujud kembali.

Kupandang pemilik kedai yang tersenyum simpul dan segera masuk kembali ke kedainya seperti pura-pura tidak mengerti. Aku pun tidak ingin mengerti, tetapi aku sekarang dengan keberadaan kuda Uighur ini.

"JANGAN panggil aku Guru! Kalian semula sangat bersemangat ingin membunuhku, sekarang kalian mengaku ingin menjadi murid. Percayakah kalian sekarang bahwa aku tidak membunuh saudara seperguruanmu?"

"Kami percaya! Tuan tidak perlu membunuh seseorang untuk mendapatkan kudanya!" "Coba katakan kepadaku sekarang, apakah saudara seperguruan kalian seorang anggota pengawal rahas ia istana Negeri Atap Langit?"

"Benar Tuan Pendekar!"

"Sedangkan dia adalah mata-mata suku Uighur?"

Ketujuh orang itu mengangkat wajahnya serentak dan ketujuh-tujuhnya bicara berbarengan.

"Hah?! Bagaimana Tuan Pendekar bisa tahu?"

Aku tersenyum dan merasa puas dengan hasil penyelidikanku ke dalam kepalaku sendiri. Pihak istana Negeri Atap Langit tentu memiliki jaringan rahas ia yang sangat ketat. Saudara seperguruan mereka dikirim oleh khaghan tentunya sudah menunggangi kuda yang terbaik itu, dan bukannya kuda di antara begitu banyak kuda yang dipertukarkan dengan sutera. Betapapun bangga orang-orang Uighur dengan peternakan kudanya, mereka menyimpan kuda yang paling terlatih untuk diri mereka sendiri. Kuda yang dipertukarkan dengan sutera tentulah kuda yang baik pula, tetapi sebagai suku pengembara yang menganggap kuda sangat berharga, mereka harus membuat diri mereka tetap lebih unggul dalam kepemilikan kuda. Maka betapapun hebatnya segenap kuda yang diserahkan kepada pihak istana Negeri Atap Langit, kuda yang mereka miliki tetaplah harus lebih baik lagi. Meskipun Negeri Atap Langit sedang berdamai dengan suku Uighur, sejarah menunjukkan betapa kedua belah pihak secara diam- diam sebetulnya selalu berperang juga. Jika perdamaian rusak dan mereka bertempur lagi, suku U ighur itu ingin memastikan betapa keunggulan kuda akan menentukan keberimbangan kekuatan pasukan.

Demikianlah kuda terbaik tidak akan ikut diserahkan, dan jika kuda terbaik itu tampak ditunggangi seseorang yang melamar sebagai pengawal istana, pantaslah jika mengundang kecurigaan. Hanya seorang Uighur terpilih atau warga Negeri Atap Langit yang bekerja bagi kepentingan Uighur akan dianggap layak mendapat kuda terbaik, dan tiada pekerjaan lebih penting dalam masa pertempuran berkobar di mana- mana ini selain pekerjaan sebagai mata-mata di dalam istana Negeri Atap Langit. Maka ia dibiarkan masuk dan diterima sebagai pengawal istana, bahkan diangkat pula sebagai seorang pengawal rahasia.

Selama itu pihak istana mengatur agar pengawal rahas ia istana yang sebenarnya bekerja untuk suku Uighur ini mendapatkan keterangan-keterangan yang menyesatkan. Negeri Atap Langit membutuhkan perdamaian dengan suku Uighur agar bisa memusatkan perhatian menghadapi orang- orang Tibet. Jika kepentingan ini diketahui, suku Uighur bisa memeras Negeri Atap Langit sesukanya selagi masih bisa, karena permusuhan dengan suku Uighur akan sangat besar ongkosnya, apalagi kuda-kuda mereka dipastikan dapat bergerak lebih cepat pula. Demikianlah mata-mata Uighur ini diberi makan keterangan palsu tanpa diketahuinya, yang tujuannya mengarah kepada kepentingan agar perdamaian dengan Uighur tetap bertahan, setidaknya sampai Tibet tidak lagi menjadi ancaman.

Siasat seperti ini tidak dapat berlangsung se lama-lamanya, karena dalam kegiatan mata-mata, kesalahan kecil saja mengundang kecurigaan dan membongkar kerahasiaan.

(Oo-dwkz-oO)