Nagabumi Eps 152: Tanda Tanya Kuda Uighur

Eps 152: Tanda Tanya Kuda Uighur

Waktu aku keluar, mereka semua sudah mencabut pedang yang entah disimpan di mana sebelumnya karena aku tak pernah melihatnya. Menjadi jelas betapa arak itu tiada pengaruhnya, bagi mereka maupun bagiku, karena aku pun menjadi sangat siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Seorang di antaranya berujar kepa-daku. "Kuda itu," ia menunjuk kudaku dengan goloknya, "di manakah seka-rang pemiliknya?"

Ternyata aku memahami perta-nyaannya dengan jelas, karena ia me-mang memberi tekanan kepada setiap kata. Pertanyaannya memang jelas, tetapi aku merasa tidak akan dapat menjawabnya dengan mudah.

Kuda orang Uighur ini kudapatkan dari ista l kuda istana milik Pemerintah Daerah Perlindungan An Nam. Jika ku-da ini diternakkan orang-orang Uighur, berarti telah melewati perjalanan yang panjang untuk sampai ke Thang-long. Bukan sekadar perjalanan panjang menyeberangi gurun, menyusuri sungai, dan mendaki gunung gemunung yang kumaksudkan, melainkan perja-lanan perma inan kekuasaan yang membuat kuda orang Uighur itu sekarang kutunggangi kembali melewati jalan yang sama. Mereka bertanya tentang pemilik kuda itu. Mungkinkah kuda itu dim iliki seseorang? Kuda-kuda orang Uighur secara berombongan dibawa ke Negeri Atap Langit sebagai bagian kerjasama Wangsa Tang dengan suku-suku pe-ngembara di luar batas negerinya, karena telah membantu Maharaja Tang Dezong. Apakah yang telah terjadi sehingga penunggang kuda ini dicari-cari? Ada dua kemungkinan, penunggang kuda ini musuh mereka, atau penunggang kuda ini adalah kawan mereka; dan aku tidak dapat menduga apapun jika tak tahu siapa mereka.

Menilik bahasa, busana, maupun pe-dang yang mereka pegang, jelas mereka warga Negeri Atap Langit. Namun bagian mana dari Negeri Atap Langit yang luas itu menjadi tempat asal mereka aku taktahu.

Aku tahu sedang memasuki wilayah Guangxi yang berbatasan dengan Daerah Perlindungan An Nam dan berbahasa Tai, justru bahasa yang sama sekali tidak kumengerti, tetapi sejauh te lah kupelajari, bahasa Tai meliputi wilayah Guangxi saja, sementara di luar wilayahnya, yakni di wilayah Guang-dong, Hunan, Fujian, Jiangxi, Guizhou, Yunnan, di selatan; Hubei, Anhui, Henan, di tengah; Zheijiang, Jiangsu, Shandong, di timur; Gansu, Shaanxi, Hebei, Liaoning, Jijin, dan Hedongjiang di utara dan timur laut; juga sampai Sichuan dan Xinjiang di barat, semua-nya berbahasa Negeri Atap Langit, meski dengan tekanan yang berbeda-beda.

DI Qinghai dan Sichuan, karena berbatasan dengan Tibet di barat, maka bahasa Tibet juga diucapkan oleh penduduk yang berada pada separo wilayah masing-masing. Di Yunnan, bahasa cukup campur aduk karena masih masuk dari se latan mereka yang berbahasa Mon-Khmer, Miao-Yao, Tai, dan juga sebagian yang berbahasa Tibet. Jika aku menembus perbatasan Negeri Atap Langit di barat laut dan utara, maka tentu kujumpai mereka yang berbahasa Korea, Turkic, Manchu Tungus, Mongolia, maupun Tajik. Aku tak mungkin tahu mereka berasal dari bagian wilayah mana, karena aku tidak memiliki pengetahuan tentang perbedaan tekanan berbagai wilayah atas kesatuan berbahasa Negeri Atap Langit itu. Namun aku dapat memiliki dasar demi suatu dugaan lain, jika sempat mempertimbangkan kedudukan suku Uighur atau Huihe ini dalam perimbangan kekuasaan yang dimainkan Maharaja Tang Dezong di wilayah tengah benua.

"Katakan di mana?"

Delapan orang itu serentak bergerak mengepungku.

"Daku tak tahu," jawabku sambil terus menuju kuda yang menjadi masalah itu, "kudaku ini pemberian seorang teman."

"Pemberian? Hmmh! Tak mungkin!"

"Mengapa tak mungkin? Apa untungnya daku berbohong?"

Meski delapan orang itu menghunus pedangnya, aku merasa senang sedikit karena dapat mengucapkan bahasa Negeri Atap Langit meski dengan agak terbata-bata.

"Karena dikau telah membunuh pemiliknya!"

Bersama dengan habisnya kalimat ini delapan orang itu berkelebat menyerang diriku. Mereka menyerangku dengan jurus berpasangan bagi delapan orang, sehingga aku sebenarnya berada dalam kedudukan terkunci. Ke mana pun aku berkelit, sebilah pedang tetap akan menembus tubuhku. Namun siapakah kiranya manusia yang sudi mati di tanah sejauh ini jika ia dapat menghindarinya? Maka aku pun berkelebat ke suatu titik, seperti sengaja membiarkan diriku ditembus salah satu dari delapan pedang yang bergerak serentak itu. 

Sllpp!

Pedang itu terjepit di ketiakku, dan kudorong pemiliknya dengan ke depan dengan pukulan Telapak Darah. Orang itu terpental dengan darah mengalir di sudut-sudut bibirnya. Tujuh orang yang lain berloncatan mundur. Kuambil pedang yang masih terjepit pada ketiakku dan kulemparkan ke samping lelaki yang terpental itu. Aku hanya memberikan sentuhan saja ke dadanya, dan ilmu silatnya sudah jelas cukup tinggi, sehingga aku tahu ia t idak akan mati.

Namun dalam dunia persilatan, tidak membunuh lawan yang kalah sering ditafsirkan sebagai penghinaan.

Benarkah harus begitu? Bukankah aku juga terkalahkan oleh pendeta tua yang mendorongku jatuh melayang dari atas tebing di Desa Balinawang waktu itu? Ia yang menyerang seperti melatihku, bukankah jika mau ia dapat membunuhku setiap waktu?

Dengan susah payah ia mencoba berdiri dan tidak berhasil, tetapi ia dapat meraih pedangnya. Lantas, tanpa dapat kucegah, dengan kedua tangan ia tusukkan pedang itu ke lambungnya sendiri sampai tembus ke belakang!

Ah! Sebegitu mahalkah harga kehormatan?

Ketujuh orang sisanya mengangkat pedang, tentunya dalam suatu jurus berpasangan tertentu. Mata mereka menyala-nyala penuh dendam atas cara kematian saudara seperguruan mereka itu. Salah seorang dari mereka berujar dengan penuh geram.

"Seorang pendekar menumpah-kan darah ketika mengalahkan lawan, tetapi ia tidak menghinanya!"

"Kenapa harus kehilangan nyawa karena tak percaya? Kuda itu memang pemberian! Tiada seorang pun kuhilangkan nyawanya untuk mendapatkannya! Seorang pendekar tidak gegabah membunuh seseorang untuk sesuatu yang belum diketahui kepastiannya."

Mereka saling berpandangan. "Bicaralah yang jelas," kataku lagi, "daku hanya seorang pengembara dari tempat yang jauh. Tidaklah daku pahami segenap persoalan kalian."

Namun aku mencoba mengingat kembali segala sesuatu yang berhubungan dengan kuda Uighur itu, sejauh yang pernah kupelajari di bilik pustaka Kuil Pengabdian Sejati.

Hubungan segitiga antara Wangsa Tang, Kerajaan Tibet atau Tubo, dan Kerajaan Uighur atau Huihe disebabkan oleh Pem-berontakan An Lushan antara 755 sampai 762, ketika lemahnya pengaruh istana membuat sang maharaja berpaling kepada negeri-negeri tetangga di bagian timur dan utara untuk meminta bantuannya.

SUKU Uighur segera memberi bantuan pasukan kepada balatentara kemaharajaan untuk menekan pemberontak-an, dan sejak saat itulah para penguasa suku pengembara tersebut terlibat selamanya dengan permainan kekuasaan di bagian dalam Negeri Atap Langit. Se-jak saat itu, bukan sekadar ketenangan di perbatasan yang menjadi tujuan kebijakan, melainkan pemeliharaan dukungan agar bantuan untuk mempertahan-kan kekuasaan dapat terus diandalkan.

Sebagai hasilnya, hubungan dagang antara Negeri Atap Langit dan Ke-raja-an Uighur berkembang, seperti pernah kuceritakan, ketika berlangsung pertukaran kain sutera untuk kuda-kuda Uighur sebagai bentuk pembayaran bagi jasa-jasa suku Uighur. Saat itu di-manfaatkan oleh Kerajaan Tibet untuk memperluas wilayahnya dengan me-ngambil wilayah Negeri Atap Langit. Serbuan mereka ke timur dari sebelah barat Negeri Atap Langit mencapai puncaknya pada bulan kesepuluh tahun 763, ketika berhasil merebut dan me-nguasai kotaraja Chang'an selama beberapa minggu. Peristiwa yang ber- langsung seusai Pemberontakan An Lushan itu, membuat Wangsa Tang yang telah menjadi lemah perdagangan maupun ketentaraannya lebih yakin bahwa mereka harus merawat dukungan negeri-negeri tetangganya itu agar tetap dapat bertahan.

Akibat kerusuhan tak kunjung berhenti itu, pajak tak pernah dipungut dalam jumlah yang cukup selama waktu yang lama. Setidaknya pajak itu tidak cukup untuk tetap mempertahankan pasukan dalam jumlah tertentu, selain mempertahankan para perwiranya pula. Hubungan Negeri Atap Langit dengan suku Uighur dan orang-orang Tibet semakin rum it selama pemberontakan Pugu Huai'en, seorang jiedu shi atau pejabat tinggi ketentaraan dari Shuofang, yang baru berakhir 765. Orang-orang Tibet, se-perti juga suku Uighur semula ber-ga-bung dengan pemberontak, tetapi se- menjak kematian Pugu Huiai'en, panglima Guo Ziy i dari Negeri Atap Langit antara 697-781, mengambil kebijakan bersekutu dengan suku Uighur untuk mengalahkan para pemberontak dan orang-orang Tibet.

Sampai kematian Maharaja Dai-zong yang bertakhta antara 762 sampai 779, suku Uighur terbukti merupakan sekutu setia, setidaknya lebih setia dari orang-orang Tibet yang menyerbu wilayah barat laut Negeri Atap Langit, meski ini juga disebabkan karena persekutuan suku Uighur dan Negeri Atap Langit memang sudah tak bisa mempertahankan sebagian besar wilayah Wangsa Tang. Maka, semenjak penerusnya, Maharaja Dezong, naik takhta dengan gelar Putra Surga pada 779, hubungan segitiga itu memasuki tahap baru.

Dalam paruh pemerintahan Maha-raja Dezong, hubungan Negeri Atap La-ngit dengan orang-orang Tibet cukup kacau. Sejak mewarisi tahta, Dezong memiliki kebijakan yang jelas menghadapi negeri-negeri di wilayah tengah benua. Ia menolak siasat untuk bersekutu dengan Uighur tetapi me- musuhi, tetapi menawarkan kebijakan untuk bersekutu dengan orang-orang Tibet dan mengendalikan suku Uighur. Kedudukan Dezong disebabkan karena pengalaman pribadinya. Pada bulan kesebelas 762, Dezong yang saat itu masih bersama putra mahkota Pa-nge-ran Yong, memimpin suatu penugasan yang mempertemukannya dengan khaghan atau pe-mimpin Uighur yang bernama Mouyu, penguasa dari tahun 759 sampai 779, yang berkemah dengan pasukannya di Shanzhou. Pada titik rawan Wangsa Tang ini, Mouyu sebenarnya bermaksud untuk bekerja sama dengan para pemberontak. Tugas Pangeran Yong adalah memengaruhi kekuatan Uighur ini untuk bersekutu dengan pemerintahan Wangsa Tang yang sedang ber-juang melawan pemimpin pembe-rontak Shi Chaoyi, dan menekan Pemberontakan An Lushan.

Namun berbeda dari ayahnya, Maharaja Daizong yang sangat pandai membuat perjanjian dengan suku-suku pengembara, Li Kua yang kelak menjadi Daezong ini terbukti keras kepala, dan mengundang masalah ketika menolak untuk menghormati khaghan dan melibatkan diri dalam pertentangan ketika berlangsung tarian upacara bagi pemimpin Uighur itu. Dengan kerangka bahwa kekuasaan langit adalah milik mereka, khaghan Uighur tentu ber-ha-rap agar warganya maupun orang asing menghormati pula dengan suatu sikap dalam upacara. Tarian upacara ini di- anggap oleh suku Uighur sebagai tanda penghormartan terhadap kha-ghan. Empat penasihat Dezong dihu-kum pukulan karena perilakunya, tetapi ban-tuan Uighur berhasil didapatkan juga.

Peristiwa ini, betapapun, tetap berada dalam benak Dezong untuk waktu lama dan itulah sebabnya, kemudian hari sebagai Maharaja Negeri Atap Langit, ia lebih suka kebijakan perdamaian dengan orang-orang Tibet, de-ngan kemungkinan bersekutu dan menyerang suku Uighur pada masa depan.

NAMUN bagaimanakah kiranya aku menghubungkan pengetahuanku yang terbatas dengan telaah masalah kuda Uighur ini? Bukankah kuda ini justru bukti persekutuan antara Negeri Atap Langit dengan suku Uighur? ''Bicaralah yang jelas,'' kataku lagi menuntut penjelasan, ''supaya tidak ada yang tewas dan terkorbankan karena kesalahpahaman.''

Mereka saling bertatapan. Adakah masalah ini juga berhubungan dengan suatu tugas rahasia? Aku jadi bertanya- tanya tentang kuda yang diberikan Iblis Suci Peremuk Tulang itu kepadaku. Benarkah ia sekadar mengambil salah satu kuda dari puluhan kuda yang dirawatnya ketika menyamar sebagai tukang kuda; ataukah ia te lah dengan sengaja memilihkannya untukku dari luar kelompok kuda di istal itu?

''Saudara seperguruan kami adalah pemilik kuda itu sebelumnya, seseorang dari suku Uighur telah memberikan kuda itu kepadanya sebagai hadiah, dan begitu dekatnya ia dengan kuda itu, sehingga tidak akan melepaskannya tanpa kehilangan nyawa. Ia telah pergi ke Daerah Perlindungan An Nam demi suatu tugas, dan kini kami bermaksud menyusulnya.''

''Dan kapankah kiranya saudara seperguruan kalian itu pergi ke Daerah Perlindungan An Nam?''

''Sekitar setahun yang lalu.''

''Hmm. Setahun yang lalu aku masih berada di tanah orang-orang Khmer. Enam bulan terakhir aku tidak keluar dari Kuil Pengabdian Sejati di Thang-long. Bukan tak ada orang bertarung selama itu, tetapi kuyakinkan kalian bahwa siapa pun yang terbunuh olehku, ia t idak sedang menunggang kuda ini.''

Mereka saling berpandangan lagi. Aku belum bisa menghubungkan kedelapan orang yang satunya sudah mati tersebut dengan riwayat hubungan Negeri Atap Langit dengan suku Uighur maupun orang-orang T ibet. Barangkali aku masih harus mengingatnya lebih jauh lagi. Di samping itu, penerimaan atas cerita mereka pun harus kutunda, karena aku memang tidak punya dasar untuk percaya atau tidak percaya. Aku harus menginngat secepat kilat sejauh-jauhnya, padahal catatan para bhiksu kubaca dengan kemampuan bahasa terbata-bata.

Setelah perjanjian itu diwujudkannya, Maharaja Dezong dengan segera menyatakan, bahwa tujuannya adalah menggunakan kebajikan kerajaan untuk menundukkan empat jurusan dan ia memusatkan perhatiannya terutama kepada Kerajaan Tibet. Demi memperlihatkan niat baik dan keanggunannya, ia memerintahkan seluruh tawanan Tibet dikumpulkan, sampai 500 orang banyaknya, dan dikembalikan ke negaranya. Dalam bulan kedelapan tahun 779 ditunjuknya Wei Lun sebagai tai chang shao qing atau pengurus rumahtangga istana untuk upacara, dan mengutusnya untuk suatu tugas ke Tibet. Adapun untuk tugas Wei Lun adalah memanfaatkan peluang ini dan membicarakan kemungkinan perjanjian dua pihak dengan Khri-sron lde-btsan, raja Tibet yang sampai hari ini telah memerintah 23 tahun sejak 754. Meskipun pihak Tibet semula curiga dan tidak percaya bahwa sang maharaja akan menengok kembali, Wei Lun akhirnya mencapai Tibet dan bersepakat dengan raja Tibet tentang penetapan suatu hubungan damai. Khri-sron lde-btsan setuju dengan usulannya dan mengirimkan seorang duta bersama Wei Lun.

Namun usaha-usaha perjanjian tanpa kekerasan Maharaja Dezong ini tidak disetujui para panglima balatentara Negeri Atap Langit. Pada umumnya para panglima yang ditempatkan di wilayah Shu menggugat cara-cara maharaja menangani masalah tawanan Tibet, dan menyatakan bahwa orang-orang Tibet itu ganas serta takbisa dikembalikan selain diperlakukan sebagai budak, seperti yang selama ini diberlangsungkan adat. Meskipun begitu, sang maharaja dengan siasat perdamaian jangka panjang dalam kepalanya, menolak untuk menerima telaah gugatan tersebut dan terus menekan melalui kebijakannya itu. Kegiatan pasukan Tibet di perbatasan tidak segera menyurut, tetapi maksud yang diarahkan kepada pihak Tibet pun hanyalah untuk melonggarkan tekanan dan menyiapkan ke keadaan yang akan membuatnya menandatangani perjanjian secara resmi.

Saat pada bulan ketiga tahun 780 panglima Liu Wenxi merebut kekuasaan di Jingzhou dan mengirim anaknya ke Tibet untuk minta bantuan pasukan, orang-orang Tibet memutuskan untuk tidak melanggar perjanjian dengan Maharaja Dezong dan tidak mencampuri masalah dalam negeri Wangsa Tang. Akibatnya, hanya dalam beberapa minggu saja Liu Wenxi terbunuh. Hubungan kedutaan antara kedua negara berlanjut dan utusan masing-masing sibuk melakukan perjalanan antara Changian dan Lhasa.

SELAMA masa perundingan, suatu kejadian berlangsung akhir 781, ketika dian zhong shao jian atau wakil kepala istana Negeri Atap Langit yang bernama Cui Hanheng tiba di Tibet sebagai utusan. Bagi pihak istana Ne-geri Atap Langit, dalam hal hubungan dengan pihak di luar batas wilayah yang selalu mereka anggap sebagai suku-suku takberadab, masalah upacara selalu ditekankan dalam hubungan kedua negara. Bukan hanya dalam bentuknya sebagai upacara, tetapi dalam hubungannya dengan kata-kata yang diucapkan dalam tukar menukar pernyataan antara Maharaja Negeri Atap Langit dengan pihak di luarnya, yang tentunya, seperti diucapkannya, adalah bawahannya.

Penggunaan kata-kata jelas me-nun-jukkan, apakah hubungan antar ne-gara itu antara atas dan bawah ataukah setara. Sejak lama, seperti 714 dan 727, orang-orang Tibet berulang-ulang sudah mempertanyakan bentuk upacara yang mereka sebut bagaikan antara dua negara yang bermusuhan, tempat terdapatnya bahasa kasar di dalamnya. Agaknya memang sudah terdapat suatu adat bahwa pemerintah Tibet meminta kesetaraan pijakan de-ngan maharaja, yang kemudian diper-kuat oleh perkawinan dua puteri Wang-sa Tang, Wencheng pada 641, dan Jincheng pada 710 dengan raja-raja Tibet.

Maka pada 781, setelah membaca surat pernyataan dari Dezong, raja Tibet menggugat kepada Cui Han-heng atas penggunaan kata-kata yang merendahkan kedudukan Tibet dalam hubungannya dengan Negeri Atap Langit. Raja Tibet Khri-sron lde-btsan berkata, ''Bagaimana mungkin dikau memperlakukan kami dengan upa-cara bagi bawahan." Pihak Negeri Atap Langit segera menyadari betapa ini bukanlah saat yang pantas untuk berdebat mengenai masalah sepele dalam kepentingan siasat Wangsa Tang, dan atas permintaan raja Tibet mengubah kalimat gong xian atau untuk menawarkan sebagai persembahan menjadi jin atau mempersembahkan, dan ci atau melimpahkan menjadi ji atau mengirim. Pihak Negeri Atap Langit bahkan bersedia menerima permintaan pihak Tibet untuk memindahkan perbatasan, yang semula diusulkan dari wilayah Ling-zhou menjadi ke pegunungan Helan, yang lebih menguntungkan pertahanan Tibet.

Masalah ini tidak menghentikan kegiatan tanpa kekerasan tetapi penuh siasat semasa damai antarnegara, yang menghasilkan persekutuan antara Negeri Atap Langit dan Tibet pada hari kelimabelas bulan pertama tahun 783 yang diresmikan di Qing-shui. Upacara peresmian kesepakatan ini ditunda sampai tiga kali. Semula direncanakan di perbatasan Negeri Atap Langit dan Tibet, kemudian di kotaraja masing- masing negara. Perjanjian itu menetapkan batas baru antara kedua kerajaan. Bahaya lama dipindahkan dari wilayah baratlaut Negeri Atap Langit dan peristiwa ini memungkinkan orang-orang Tibet untuk mengamankan wilayah yang telah direbut, sebagian besar paruh abad kedelapan ini, me lalui perjanjian kedua negara. Perjanjian itu menegaskan penguasaan Tibet atas Turkeshtan Timur, Kansu, dan sebagian besar Szechwan atau Sichuan. Maharaja Dezong, yang berperan besar di balik surat perjanjian ini, telah mencapai tujuan pertama dari kebijakannya di wilayah tengah benua, yakni perdamaian dengan Tibet.

Masih banyak yang harus kuingat kembali ketika ketujuh penyoren pe-dang bercaping itu menyerang serentak dengan jurus berpasangan yang me-matikan. Aku pun berkelebat menghindar, tetapi mereka terus mendesakku sampai ke tepi jurang. Jurus berpasangan ini tak kukenal, tetapi jika jurus sebelumnya memang berpasangan un-tuk delapan pemain pedang, maka sekarang mereka me-mainkan jurus ber- pasangan untuk tujuh pema in pe-dang. Agaknya mereka memang ber-asal suatu perguruan ilm u pedang, yang jika bermurid cukup banyak biasanya mengajarkan jurus-jurus berpasangan selain jurus tunggal dengan satu pedang atau dua pedang. Bisa pasangan dua orang, bisa pula pasangan delapan, sepuluh, dua puluh, dua puluh lima, bahkan sampai lima pu-luh dan seratus orang. Bagi per-guruan silat yang sudah berumur ra-tus-an tahun, jurus-jurus mereka terja-min ketangguhannya. Jika negara membutuhkan tenaga pasukan dari perguruan silat, maka barisan seratus orang dari perguruan ilmu pedang mi-salnya, akan sangat berguna dalam membuat pasukan lawan porak poranda.

Agaknya ketujuh orang yang saudara seperguruannya bunuh diri demi kehormatannya itu berasal dari perguruan semacam ini. Serangan mereka sungguh dahsyat seperti angin puting beliung. Kini mereka tidak pernah menyerang serentak seperti ketika masih berdelapan, melainkan satu per satu silih berganti tetapi dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga tidak dapat diikuti mata.

BAHKAN aku pun tidak dapat mengandalkan pandangan mataku, dan hanya bergerak berdasarkan naluri saja, tentu dengan kecepatan yang tidak boleh rendah dari kecepatan mereka. Demikianlah hanya kurasakan desir angin dari gerakan mereka itu yang menyerangku, tetapi tidak ada satu pun yang dapat melukaiku. Di tepi jurang mereka masih terus mendesakku, seperti mengharapkan aku terpeleset dan tak berhasil memijak apa pun, sebelum akhirnya melayang jatuh ke dalam jurang. Namun mereka kubikin terpana ketika tubuhku yang terlontar ke udara di atas jurang, ternyata dapat meluncur kembali ke arah mereka dengan serangan sekaligus kepada tujuh orang.

Mereka terpaksa menghindar berlompatan sebelum akhirnya tersebar kembali dalam kedudukan mengepung. Kuisi jeda ini dengan kesempatan berbicara.

"Kini apa alasan kalian menyerang seorang pengembara, wahai tujuh pemain pedang unggulan. Tiada untungnya sama sekali membunuhku, dan tiada alasannya sama sekali pula untuk menghilangkan nyawaku. Aku tidak membunuh pemilik kuda Uighur itu, dan saudara seperguruan kalian itu membunuh dirinya atas keputusan sendiri yang seharusnya dihormati."

Mereka sekali lagi saling berpandangan. Terpancar sedikit keraguan. Saat itu sebetulnya aku dapat bergerak lebih cepat dari kilat untuk merobohkan mereka, tetapi sungguh ingin kudengar suatu jawaban yang memberi gambaran jelas. Sangat membingungkan bagiku bahwa ketujuh orang bersama saudara seperguruannya yang sudah mati itu semula tampak seperti para pedagang keliling dengan keledai-keledai beban mereka, sebelum akhirnya kudengar bercakap-cakap dengan fasih tentang puisi-puisi Li Bai, dan akhirnya memperlihatkan diri mereka sebagai penyoren pedang.

Kini juga menjadi pertanyaan bagiku, apakah kiranya isi keranjang-keranjang beban berisi karung tertutup itu. Apakah mereka membawa barang dagangan? Barang dagangan apakah kiranya yang harus dibawa melalui lautan kelabu gunung batu yang penuh penyamun bekas pemberontak yang tiada tahu cara lain menjalani hidup, dan bukannya dengan kapal me lalui lautan yang lebih cepat dan aman? Siapakah mereka yang mendadak saja mengancam jiwaku karena melihat kudaku yang berasal dari peternakan suku Uighur itu?

(Oo-dwkz-oO)