Nagabumi Eps 150: Melawan Sepasang Elang

Eps 150: Melawan Sepasang Elang

Mereka berkelebat dan menyambar seperti sepasang elang menangkap mangsa dari udara. Aku me lejit dari punggung kudaku dan melayani pertarungan di udara. Mereka terbang, aku pun terbang. Mereka berkelebat, aku pun berkelebat. Mereka menyambar, aku pun menyambar. Namun jika kedua penyamun dari keturunan para pemberontak An Lushan itu terbang, berkelebat, dan menyambar seperti sepasang elang; maka kulayani mereka dengan I lmu Pedang Naga Kembar, yang meski diciptakan orangtuaku sebagai ilmu pedang berpasangan, telah dimungkinkan bagiku untuk memainkannya sendirian, tetapi yang akan tetap dirasakan lawan sebagai menghadapi suatu pasangan.

Kali ini, memainkan ilmu pedang itu tanpa pedang, kujadikan tanganku sebagai ganti pedang, dengan memberikannya tenaga dalam sejauh diperlukan, sehingga lawanku akan merasakannya sama seperti menghadapi sepasang pendekar bersenjata pedang. Meskipun aku hanya menggunakan tanganku, dengan Ilmu Pedang Naga Kembar lawanku tetap akan tersayat jika tergores, tertusuk jika pertahanannya tembus, dan tetap berdentang pedangnya jika meski hanya angin pukulan tanganku yang sekeras pedang menangkis serangannya. Dengan tangan kosong aku bagaikan memegang pedang yang tidak kelihatan. Maka, alih-alih bertangan kosong, kenyataan betapa diriku bagaikan memegang pedang takkelihatan itu menjadikan keadaannya justru semakin berbahaya bagi mereka.

Sebelum mereka akhirnya berhasil membiasakan diri, berkali-kali leher mereka nyaris tersobek ujung pedang takkelihatan itu dan hanya karena ilmu mereka yang sangatlah tinggi sahaja maka jiwa mereka masih berada di dalam badannya. Demikianlah kami bertarung seperti dua elang menghadapi naga, tetapi naga yang telah menjadikan dirinya sepasang dan sanggup menghadapi setiap serangan dari segala jurusan. Setiap kali aku tampak menghadapi yang satu dan diserang yang lain, setiap kali pula aku telah berada di belakang yang lain itu, dan memberinya serangan mengejutkan. Dengan Ilmu Pedang Naga Kembar lawanku takpernah tahu diriku yang sedang menyerang atau diserangnya, karena Ilmu Pedang Naga Kembar mengandalkan kecepatan begitu rupa, sehingga diriku bagaikan tampak sekaligus sebagai dua orang yang menye- rang secara bersamaan.

Kenyataan bahwa tanganku bagai memegang pedang takkelihatan telah membuat sepasang penyamun gagah itu mengalami kesulitan yang amat sangat. Aku terbang dan menikmati pertarungan dengan keduanya bagaikan memiliki kesempatan meregang otot setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Namun tentu saja manusia terbang, hanya karena ilmu meringankan tubuhnya yang sangat tinggi maka seseorang dapat mengambang, dan adalah tingkat tenaga dalamnya akan membuat ia mampu mengarahkan diri ke mana ia ingin me layang. Dalam hal itu, sebagai sepasang penyamun yang hidup di lingkungan seperti lautan kelabu gunung batu, maka keduanya telah memi-liki dan mengasah kemampuannya dengan sangat menyesuaikan diri dengan keadaan alam. Mereka tahu setiap sudut, lekuk, dan lapisan pemandangan yang dapat mereka manfaatkan dalam menghadapiku, sehingga takjarang mereka pun kepadaku memberikan kesulitan.

DALAM kelebat pertarungan di udara yang tidak dapat dilihat mata awam, tetapi mestinya tampak jelas olehku yang bergerak tak kalah cepat dari gerak mereka yang kini melebihi kilat, masih juga terkadang tak tampak mereka olehku antara ada dan tiada sehingga keadaannya bagiku tentu saja juga membahayakan. Maka kupancing mereka ke bawah dan ke bawah menembus mega-mega yang mengambang di atas jurang, dengan cara pura-pura terdesak dan hanya bertahan karena pedang tak kelihatanku itu berhasil menangkis setiap serangannya sehingga terdengar suara berdentang-dentang. Demikianlah suara berdentang-dentang karena serangan dan tangkisan terdengar bergema dari lembah ke lembah dari jurang ke jurang menyelusuri set iap celah dan tentu akan terdengar oleh setiap telinga yang terpasang penuh kewaspadaan.

Apakah yang akan terjadi seandainya suara berdentang- dentang yang timbul karena aku pura-pura terdesak ini terdengar oleh telinga-telinga tajam siapa pun dari orang- orang yang seharusnya kuhindarkan? Sembari menjatuhkan diri dan diburu Sepasang Elang Puncak Ketujuh yang karena terpancing telah semakin penasaran untuk menghabisiku, kuketahui betapa siapa pun yang telinganya tajam itu akan sangat mampu membaca pertarungan hanya dari suaranya, bahkan kadang dapat juga mengetahui s iapa orangnya karena dapat mengenali jurusnya dari suara-suara benturan.

Adakah kiranya seseorang yang telah mendengar suara berdentang-dentang benturan pedang di tengah ma lam yang begitu pekat dalam kesenyapan? Adapun jika seseorang itu ternyata memang ada, siapakah kiranya ia yang di tengah malam penuh kesenyapan berjaga dan mendengarkan dengan tenang?

Tanpa terasa pertarungan kami telah terus menerus melayang turun, karena aku memang menjatuhkan diri untuk menjauhkan mereka dari lingkungan yang sungguh mereka akrabi, sehingga mampu membuat mereka berkelebat antara ada dan tiada disebabkan pengenalan luar biasa atas lingkungan. Kedua pedang mereka berputar seperti baling- baling yang masing-masingnya dapat kutangkis sehingga melentikkan bunga-bunga api meski pedang tak kelihatan dari angin pukulanku bukanlah baja maupun besi. Semakin ke bawah semakin banyak pohon dan semak menyeruak dari celah dinding karang. Kulihat juga air terjun besar menggerojok dengan dahsyat menjanjikan sungai besar di bawahnya. Segalanya berjalan seperti yang telah kupikirkan. Aku akan menghabisi mereka di dalam air, tempat sepasang elang tidak akan pernah bisa mengepakkan sayapnya.

Memang itulah tujuanku menanyakan namanya, karena dalam dunia persilatan gelar yang mereka pasang atau dipasangkan oleh orang banyak didapatkan dari kemampuannya. Para pendekar terbiasa bangga akan gelarnya dan tiada sadar itu juga menunjukkan apa yang tidak bisa dilakukannya. Dengan gelar Sepasang Elang Puncak Ketujuh kuyakini betapa taktertandingi kemampuan mereka di atas sana ketika berkelebat dan melenting dari puncak ke puncak gunung batu. Melejit, menempel, atau berlari m iring pada dinding-dinding curam. Lantas pada gilirannya menggabungkan segenap kemampuan itu dengan jurus-jurus berpasangan yang tidak bisa lain selain mematikan. Betapa tidak akan mematikan jika keindahan gerak mereka yang bergerak seperti terbangnya elang begitu memesona lawan sehingga taksadar mesti membayarnya dengan kematian? Itulah persoalan dengan jurus silat, betapa keindahan gerak terarahkan sebagai pengakhiran riwayat hidup seseorang.

Jadi kutahu betapa harus kurusak jurus-jurus silat Sepasang Elang Puncak Ketujuh itu di tempat yang paling mungkin untuk merusaknya, yakni di dalam air! Itulah sebabnya kujatuhkan diriku menembus mega-mega di atas jurang agar keduanya menjadi jauh dari lingkungan yang mendukung jurus-jurus berpasangan mereka. Namun tidaklah kuperhitungkan betapa bukan saja jurang yang sejak lama kusebut bagai tanpa dasar itu sungguh bagaikan takberdasar, tetapi juga betapa sepasang penyamun ini se lama ikut meluncurkan diri ke bawah untuk menghabisiku sungguh serangannya masih sangat mengancam! Perbenturan sepasang pedang dengan pedang tak kelihatan dari jurus- jurus Ilmu Pedang Naga Kembar tetap saja melentikkan bunga-bunga api dalam perjalanan menembus kekelaman menuju ke bawah. Semakin ke bawah, semakin lebat tanaman, dan sempat kulihat mayat-mayat yang berjatuhan sebagian tersangkut ranting dan batang di tepi jurang bergelantungan dalam cahaya suram rembulan kekuningan.

MAYAT yang baru saja terjatuh tentu masih utuh bahkan darahnya masih mengalir dan menetes dari luka tempat tertancapnya anak panah, tetapi mayat-mayat dari masa lalu telah menjadi kerangka dengan tengkorak menyeringai. Melihat busananya yang bukan busana pesilat, tentu mereka adalah korban para perampok atau penyamun gunung ini, yang rupa-rupanya me-mang selalu membuang para korbannya ke dalam jurang yang bagai tak ber-dasar.

Keputusanku juga kuambil berda-sar-kan kemungkinan, bahwa sekian banyak aliran air semakin ke bawah semakin menyatu sebagai anak sungai yang berakhir di air terjun yang bersambung menjadi sungai lagi. Apalagikah yang bisa kita minta dari jurang yang dalam? Semakin ke bawah semakin tiada puncak dan Sepasang Elang Puncak Ketujuh semakin tidak mempunyai tempat untuk mengembangkan jurus-jurus silat cakar elangnya yang terindah. Mendekati permukaan air kubuka Jurus Penjerat Naga yang membuat keduanya yakin betapa diriku telah berada di dalam genggaman mereka. Masih di udara, secara bersamaan keduanya menarik tangan yang meme-gang pedang ke belakang, dan menu-sukkannya ke tubuhku bagaikan tiada makanan yang lebih empuk lagi bagi santapan pedang mereka.

Saat itulah aku lenyap dari pandangan mereka, karena memang berkelebat secepat pikiran ke balik punggung mereka, tepat pada saat berada di permukaan air. Keduanya takbisa meng-hindar lagi, karena kedua tanganku mendorong punggung mereka masuk ke dalam air yang bergelora di bawah air terjun raksasa itu.

Di dalam air kedua elang itu terserap pergolakan yang semakin terasa berat karena tiada yang dapat dilihat dalam malam dengan cahaya rembulan kekuningan nun jauh di atas tebing yang semakin terasa betapa tingginya bukan alang kepalang. Dengan sebat kuselesa ikan riwayat pasangan lelaki dari Sepasang Elang Puncak Ketujuh, yang sejak tadi nyaris membunuhku, yang segera mendapatkan segaris luka dari perut ke dada di dalam air gelap dan bergolak itu. Darahnya hanya tampak sebagai air hitam kental dan tubuhnya segera mengambang ke permukaan serta terseret arus sungai yang luar biasa deras entah ke mana.

Masih di dalam air pasangan yang perempuan menyerangku, tetapi aku menghindar dengan mudah dan segera kutotok jalan darahnya sehingga ia taksadarkan diri. Segera kuraih tubuhnya dan aku melejit keluar dari sungai, berlari di atas permukaannya ke tepian dan mencari sekadar batu datar untuk meletakkan tubuhnya itu.

Kutemukan batu datar yang kering, tampak jelas dalam cahaya suram kekuningan rembulan, dan kugeletakkan ia di sana. Kuletakkan pedangnya yang tadi kuambil di sampingnya dan kutinggalkan perempuan beralis tebal itu setelah kubuka totokan jalan darahnya.

Aku melayang ke atas, meringankan tubuhku seperti kapas, dan mengarahkan diriku ke atas menuju tempat kudaku menunggu. Barulah kusadari betapa jauhnya sudah kami melayang turun dan tercebur ke dalam air terjun, karena bagaikan begitu lama aku mencapai tempat semula. Selama membubung ke atas itulah kusaksikan betapa tiada habisnya jalan setapak melingkar-lingkar dari gunung batu yang satu ke gunung batu yang lain di lautan kelabu gunung batu ini dan tiada terbayangkan apakah suatu ketika jalan setapak itu ada habisnya.

Kuingat pesan Iblis Sakti Peremuk Tulang, bahwa aku harus menunggu rombongan Harimau Perang di Celah Dinding Berlian, antara lain juga untuk menyelamatkan diriku sendiri. Dikatakannya betapa mereka yang selepas Celah Dinding Berlian taktahu jalan sangat mungkin tersesat dan tidak akan pernah keluar dari lautan kelabu gunung batu untuk selama- lamanya. Mengingat itu pula disediakannya kuda yang begitu cerdas dan memang pernah melalui jalan yang sama. Namun karena kuda tetaplah kuda, maka disampaikannya pesan sepenting itu agar aku dapat menjalankan tugasku.

Saat aku berpikir seperti itu, kura-sakan angin bersiut di bawahku dan tanpa sempat berpikir kukibaskan len-gan-ku ke bawah dengan Jurus Naga Meng-goyang Ekor. Aku tetap membubung, tetapi hatiku hancur. Rupanya pasangan perempuan dari Sepasang Elang Puncak Ketujuh ini menerima kenyataan bahwa aku telah membiarkannya hidup sebagai penghinaan. Maka telah dilemparkannya pedang ke arahku dengan pengerahan seluruh tenaga dalamnya menembus angin gunung sehingga melesat luar biasa cepat.

Hatiku hancur karena kutahu pedang itu berbalik dengan kecepatan dua kali lipat seperti yang dimungkinkan oleh Jurus Naga Menggoyang Ekor yang sengaja dilatih untuk menghadapi serangan mendadak dari belakang. Aku takbisa berbuat lain karena aku pun tak tahu bahwa adalah pedang perempuan beralis tebal yang penuh pesona itulah yang terasakan olehku sebagai angin dingin penuh ancaman maut itu.

PEDANG itu berbalik dengan kecepatan dua kali lipat dari kecepatan semula, kembali ke arah pelemparnya menembus kekelaman menembus awan gemawan yang mengambang di atas setiap jurang.

Aku tidak akan mendengar suara apa pun ketika pedang itu menembus jantungnya. Namun aku tahu itulah saat ajalnya tiba.

Tenagaku hampir habis ketika tiba di jalan lurus panjang tempat sepasang penyamun itu mencegatku. Aku harus menyentuh sebatang ranting yang menjorok ke jurang dengan kakiku agar dapat melenting dengan sisa tenaga ke arah kudaku yang masih menunggu.

(Oo-dwkz-oO)

SUDAH dua hari perjalananku berlangsung tanpa gangguan berarti. Kudaku melaju dan me lambat silih berganti dengan suatu tujuan pasti, yakni Celah Dinding Berlian. Memang benar betapa dari jauh celah itu mengeluarkan cahaya berkilau-kilauan jika siang karena memantulkan kembali cahaya matahari, sedangkan malam pun tiada perubahan karena cahaya rembulan yang suram dipantulkannya kembali ke angkasa.

Celah Dinding Berlian, disebut demikian karena dindingnya memang berkilau-kilauan memantulkan segala cahaya, tetapi rasanya aku tidak kunjung sampai ke sana. Tidak pernah kukira betapa diriku akan begitu lama mencapainya karena berbagai halangan. Para penyamun dari gunung ke gunung telah mengundurkan ke gua-gua mereka entah di mana setelah mendengar habisnya seratus penyamun dari dua wilayah, lengkap dengan pasangan pemimpin masing-masing. Jika pasangan pemimpin wilayah kedua, seperti nama yang mereka perkenalkan, disebut Sepasang Elang Puncak Ketujuh, maka pasangan pertama yang menghadangku ketika aku berada di tengah-tengah titian itu disebut Berewok Kembar dari Sungai Kuning. Ah, jadi keduanya kembar, cocok benar kedua-duanya menjadi kepala penyamun, dan kedua-duanya tewas masuk jurang. Sama seperti perlakuan mereka kepada para korban.

Dengan menghabiskan 104 penyamun dalam semalam, ibarat kata pintu-pintu terbuka, karena para penyamun pada gunung-gunung batu berikutnya lantas tiada lagi tampak batang hidungnya. Lautan kelabu gunung batu yang begini sunyi, tempat hanya terdengar suara angin bersiul, berbisik, dan bernyanyi, ternyata begitu penuh dengan penyamun hampir di setiap sudutnya. Bukan hanya harimau gunung yang setiap saat bisa menerkam kita ternyata, tetapi juga para penyamun yang bersembunyi di balik celah dan batu-batu besar itu. Dari langkah demi langkah di jalan setapak di antara jurang dan dinding curam bukan tak pernah kudengar desah napas di balik tubir jurang, dari balik celah sempit, ataupun menempel dan menjadi sewarna dengan dinding batu karena gabungan ilmu cicak dan ilmu bunglon. Kudaku dan aku tahu keberadaan mereka, para penyamun tunggal yang bekerja sendirian tanpa gerombolan, yang biasanya berkemampuan lebih tinggi daripada penyamun gerombolan dengan banyak orang. Namun selama mereka tidak mengusikku, aku pun tidak akan mengusik mereka.

Ketika harimau gunung dan penyamun pergi, tidak berarti sisa perjalanan menjadi lebih mudah. Di lautan kelabu gunung batu kubiasakan diri tidur di atas ranjang batu di balik celah, melingkar seperti udang demi menahan dingin, dan tidak menyalakan api malam hari agar keberadaanku tidak diketahui siapapun yang dapat mengganggu tugasku untuk mengikuti rombongan Harimau Perang. Kukunyah daging asap yang dingin ketika kabut yang pekat lewat sementara aku minum langsung dari aliran air yang turun dari dinding, menyeberangi jalan batu setapak, untuk jatuh ke jurang dan tertampung lagi entah di mana sebelum mengalir lagi dan mengalir lagi dan mengalir lagi dan bertemu dengan aliran lain lagi, menyatu sebagai air terjun yang menyatu di bawah itu. Aku suka bertiarap di jalan batu ketika bertemu aliran air semacam itu, minum air langsung dengan mulut bersama kudaku, menikmati kesegaran air di lautan gunung berbatu-batu, yang sering takkumengerti bagaimana caranya terdapat sumber mata air di dunia batu semacam itu.

Pengalaman semacam itulah yang kudapati, sebelum akhirnya tampak di depanku sebuah kedai persinggahan di tepi jurang, ketika jalan setapak memang menjadi lebih luas dan memasuki suatu lapangan rumput. Lautan kelabu gunung batu memang seolah hanya terdiri dari alam, tetapi dalam kenyataannya tetap saja terdapat peradaban.

Di depan kedai kulihat keledai-keledai beban ditambatkan. Agaknya rombongan yang kulihat dari kejauhan itu sudah sampai di sana. Aku pun menambatkan kudaku, dan memasuki kedai itu.

(Oo-dwkz-oO)