Nagabumi Eps 15: Pertarungan di Bawah Pohon

Eps 15: Pertarungan di Bawah Pohon

LELAKI yang membawa bocah mati itu meludah ke arah pohon dan berucap dengan nada tinggi.

"Lihatlah anak ini Bhatari, lihatlah! Seseorang telah berusaha mengambil nyawanya untuk dipersembahkan kepadamu! Berapa banyak lagi darah yang harus mengalir untuk memuja dan meminta perlindunganmu Bhatari? Berapa banyak lagi? Jika seseorang ingin mengorbankan nyawa bocah takbersalah demi santapanmu, mengapa tidak dia korbankan bocah dari darah dagingnya sendiri, keluarganya sendiri, kelompoknya sendiri, atau dari sesama pemujamu sendiri? Mengapa harus mereka korbankan seorang bocah takbersalah dari keluarga lain yang menganut kepercayaan berbeda? Aku dulu memang memang menyembahmu Bhatari, tetapi sekarang tidak lagi! Itukah sebabnya mereka mengorbankan anakku? Apakah dikau akan menelannya Bhatari, Dewi Durga Mahisasuramardini? Tidakkah engkau seharusnya melindungi siapapun dari mereka yang hanya mengatas namakan dirimu Bhatari? Kini kubawa anak yang belum mati ini ke hadapanmu, kuminta kepadamu Bhatari, pertahankanlah nyawanya! Biarkanlah nyawanya tetap berada di tubuhnya dan hancurkanlah mereka yang telah berusaha membunuhnya atas namamu!"

Kemudian suaranya merendah, yang sebentar-sebentar dise la dengan bunyi tanda setuju oleh orang-orang yang datang bersamanya.

"Harap ia kau bunuh oh Bhatari! Dewi Durga Mahisasuramardini! Bunuhlah ia tanpa sempat menoleh ke belakang, tanpa akan melihat bagian belakang, terjang tubuhnya, tempeleng sebelah sisi, pukul punggungnya, belah kepalanya, sobek perutnya, tarik ususnya, keluarkan isi perutnya, tarik keluar hatinya, makan dagingnya, minum darahnya, sempurnakan dengan kematiannya."

Lantas istrinya mengeluarkan sebutir telur dan maju untuk memecahkannya di atas batu kulumpang, seseorang yang lain rupanya membawa ayam di balik jubah dan segera memotong lehernya di atas batu itu. Sementara ayah bocah itu meneruskan kata-katanya.

"Biarkanlah orang jahat itu akan bernasib seperti ayam ini, putus kepalanya, tidak akan kembali bersatu, seperti telur hancur lebur tidak dapat pulih kembali!"

Di balik kegelapan malam, aku tertegun menyaksikan perilaku orang-orang berbusana hitam itu. Sejauh yang pernah kupelajari, Durga menerima persembahan korban manusia dan jenis binatang tertentu. Berbagai cerita yang pernah kubaca dalam kitab-kitab lontar menyebutkan betapa sang dewi gemar minum darah kerbau, menyukai daging mentah dan minuman keras. Itu semua tertulis dalam kitab Mahabharata karangan Vyasa, Kadambari karangan Banabhatta, Harsa-carita karangan Bhana, Vasavadatta karangan Subandhu, Malatimadhawa karangan Bhavabhuti, maupun Kathasaritsagara karangan Somadeva.

Masih kuingat dalam Kadambari disebutkan tentang upacara pemujaan kepada Durga oleh suku Sabara di daerah pegunungan Vindhya di Jambhudwipa. Disebutkan betapa dengan seringnya berlangsung upacara korban manusia, maka pundak kepala pendetanya sangat kasar, karena dipakai memanggul kapak dan seringnya tergores oleh kapak ketika memenggal kepala korban. Dalam kitab Yasatilaka bahkan terdapat cerita tentang orang-orang Kapalika yang telah menjual daging dari hasil sayatan tubuh sendiri sebagai sesajian kepada Durga. Salah seorang guruku pernah menyampaikan kisah Devi?mahatmya, yang bercerita tentang raja Suratha dan pedagang dari Samadhi secara bersama memuja Durga selama tiga tahun. Di antara persembahannya adalah darah dari tubuh mereka sendiri.

Maka sangat bisa dimaklumi jika bekas penyembah Durga dari aliran sakta ini yang juga datang dari Jambhudwipa itu menjadi sangat marah, ketika ada seseorang atas nama Durga mencari korban dari pemeluk lain agama untuk persembahannya. Sejauh kubaca sendiri maupun kudengar dalam perbincangan dengan guru?guruku yang telah mengembara sampai Jambhudwipa, terdapat juga Durga yang telah dibaurkan dengan Mahakali dalam aliran Tantra, yang dianggap menguasai kehidupan semesta, terutama dalam penghancuran segala makhluk. Korban binatang yang disebut pasubali maupun manusia dipersembahkan di kuil-kuil tertentu bagi dewi, yang begitu banyak tersebar di Jambhudwipa. Dalam kitab Kalika-Purana disebutkan tentang betapa jumlah korban manusia itu akan menentukan jangka waktu kepuasan Durga. Satu korban manusia akan memuaskannya selama seribu tahun, jika tiga manusia yang dikorbankan, kepuasannya berlipat menjadi seratus ribu tahun.61

Lelaki itu masih menyampaikan daftar kutukan, ketika kudengar suara embusan nafas penghabisan. Aku tercekat. Lelaki itu terhenti kata-katanya. Perempuan itu mendekat dan menjerit.

"Ooohh! Anakkuuuu!"

Suara jerit dan tangisnya segera memecah malam. Perempuan itu menjerit begitu rupa sehingga pada malam yang begitu sepi dan begitu kelam itu terdengar begitu keras begitu pedih dan amat sangat menyayat.

"Holooooongngng.."

Rupanya Holong adalah nama anak itu. Jeritan perempuan tersebut segera disusul raungan amarah para lelaki yang semuanya berbaju. Jeritan dan raungan itu bagiku terdengar ganjil, karena lebih mirip lolongan anjing liar dalam cahaya bulan purnama. Mengerikan tetapi bernada pilu dan kepiluan itulah yang membuat perasaanku menjadi was-was.

Ketika ia berbicara ke arah patung itu lagi, suaranya sudah menjadi serak.

"Oh Bhatari khianat, tega dikau menyantap nyawa yang bukan menjadi hakmu!"

Kulihat dari sudut bibir anak itu mengalir darah hitam yang sangat kental. Kukira ia mati karena diracuni. Ia diletakkan oleh ayahnya di atas batu datar untuk meletakkan sesajian, bukan untuk memberi makan Durga yang dipikirnya telah membunuh anak itu, melainkan agar ia bisa bergerak bebas. Lantas diobrak-abriknya segenap perangkat sesajian yang ada di sana. Jambangan pecah, periuk bergelimpangan, lampu terguling, apinya membakar daun-daun kering. Bahkan kemudian menjalar ke sulur?sulur pohon beringin yang menaungi patung itu.

Pohon beringin itu langsung menyala. Keenam orang pemberang ini, termasuk yang perempuan, sudah kehilangan kata-kata selain melolong ke langit dengan suara memilukan. Orang-orang terbangun dan menyadari betapa altar pemujaan mereka telah menjadi berantakan. Mereka mendatangi tempat itu sambil berusaha memadamkan api, tetapi sungai terlalu jauh, dan agaknya kebakaran bukanlah peristiwa yang telah dipikirkan cara memadamkannya dengan segera. Barangkali kebakaran diterima sebagai penjelmaan dewa. Namun kali ini mereka tahu orang-orang berbaju hitam ini menjadi penyebabnya. Aku berkelebat dan melenting ke atas atap, karena bayangan gelap tempatku berlindung telah menjadi terang akibat kebakaran itu. Kusaksikan mata pada patung Durga itu seperti berkedip, wajahnya mempunyai perasaan, dan kobaran api itu bagaikan membuat delapan tangannya bergerak.

Aku seorang pesilat, segala sesuatu kupandang sebagai pencari ilm u dalam dunia persilatan, dengan cepat sekali aku merekam delapan tangan patung yang bergerak karena pembayang-bayangan dari kobaran api, dan kutemukan suatu jurus yang mampu membuat sepasang tangan tergandakan kemampuannya seperti delapan tangan. Namun suasana membuat aku harus menunda dulu ketertarikanku kepada penemuan jurus baru, karena dari segala sudut muncul begitu banyak orang yang berusaha mengeroyok keenam orang berkain serba hitam yang mengamuk itu.

"Penganut bid'ah! Candala tidak tahu diri! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mencari mati!"

Orang-orang datang dengan segala macam senjata yang segera bisa dipegang, sehingga yang bukan senjata seperti alu, arit, maupun cambuk sapi pun tampak di tangan mereka. Namun rupanya kelima lelaki dan seorang perempuan yang semuanya berbusana kain hitam itu bukanlah sekadar orang awam. Mereka segera membentuk lingkaran dan saling memunggungi, sementara di tangan mereka masing sudah tergenggam golok yang tidak berkilat karena tajam, karena sekujur badan golok itu berwarna hitam. Orang banyak tidak sadar dengan kuda-kuda kokoh keenam orang itu. Dalam kelam malam yang diwarnai cahaya api mereka menyerbu seperti gelombang pasang. Mula-mula belasan, kemudian puluhan, lantas ratusan orang sudah berada di perempatan tempat bernaungnya patung Bhatari Durga di bawah pohon beringin itu berada. Cahaya api yang bergoyang-goyang dari pohon beringin yang menyala membuat ratusan orang itu bagaikan makhluk-makhluk berwarna tembaga, yang bergerak serentak ingin melumat keenam manusia itu.

Namun apa yang terjadi? Keenam orang itu secara bersama bergerak memutar ke arah kanan seperti melakukan pradaksina, tetapi dengan sangat cepat sembari menggerakkan golok hitam di tangan mereka seperti baling- baling. Dengan segera korban jatuh bergelimpangan bersimbah darah. Orang-orang awam ini tidak mengerti. Ilmu silat harus dihadapi dengan ilmu silat. Ilmu perang dengan ilmu perang. Ilmu kekuasaan dengan ilmu kekuasaan. Dari atap rumah seperti ini, dalam cahaya api yang berkobar karena beringin menyala, sangat jelas bagiku betapa keenam orang ini te lah menyerap gelar pertempuran Cakrabyuha, yang berlaku untuk pertempuran yang melibatkan puluhan ribu sampai ratusan ribu orang, untuk sebuah pertarungan ketika menghadapi lawan yang jauh lebih banyak seperti sekarang. Cakrabyuha artinya susunan cakram, mahir sekali keenam orang ini membentuk cakram berputar dan menggunakan golok mereka sebagai ujung tombak dari cakram berputar menghajar itu. Orang-orang yang menyerbu tanpa akal tentu saja hanyalah ibarat mengantarkan nyawa.

Golok hitam dalam kegelapan dan digerakkan dengan sangat cepat itu tidak dapat ditangkap mata awam. Aku sangat prihatin dan ingin mengurangi jatuhnya korban yang tidak perlu, tetapi aku juga muak dengan sifat pengeroyokan yang sangat pengecut itu. Ada pikiran mensyukuri mereka yang mati karena menyerbu tanpa akal dan pikiran, tetapi ada juga kesadaran betapa para penyerbu yang bodoh ini sungguh-sungguh awam. Kelemahan mereka tidak sepatutnya dimanfaatkan mereka yang lebih dari paham ilmu persilatan. Keenam orang ini menguasai ilmu perang yang diterapkan kepada ilmu golok berpasangan. Meskipun jum lah mereka lebih sedikit, sangatlah berbahaya membiarkan mereka menumpahkan darah seperti itu.

Aku sudah nyaris ikut campur untuk mencegah pembantaian ini ketika muncul duabelas anggota pengawal rahasia istana, yang langsung memasuki gelanggang dan mencegah rakyat jelata itu meneruskan amukannya. Pemimpinnya, seorang perempuan paruh baya berjubah dan terurai rambutnya yang sebagian telah berwarna keperakan, segera memberi perintah di sana-sini. "Padamkan api! Padamkan api! Biar kami hadapi para candala ini!"

Ia membagi anak buahnya, sebagian memimpin pemadaman api, sebagian menghadapi para pemegang golok hitam. Mereka berhadapan. Perempuan paruh baya yang dadanya tertutup jubah putih dengan sepasang pedang di punggungnya itu bicara.

"Apa yang kalian pikir sudah lakukan? Membakar tempat pemujaan dan lolos dari hukuman?"

"Hukuman apa yang harus ditimpakan bagi korban penindasan?"

"Penindasan? Siapa menindas siapa? Jelaskan!"

Lelaki yang murka dan berduka itu menunjuk anak yang tergeletak di batu.

"Kau lihat anak itu? Seorang penyembah Durga telah menculik dan meracuninya, agar bisa dibawa kemari untuk mengalirkan darahnya di atas batu. Siapakah anak ini? Dia anakku, anak orang merdeka, bukan budak yang sudah dibeli dan bukan pula pemuja Durga itu sendiri. Mengapa korban persembahan harus mengorbankan orang lain yang tidak sudi jadi korban? Kami dulu memang penyembah Durga, tapi kini tidak lagi-bahkan kami juga tidak lagi memuja Siwa. Kami merdeka dari kewajiban sebagai pemeluk Hindu. Jadi kami berhak melawan dan membela diri kami!"

''Kalian pengikut Mahayana?" Lelaki itu menggeleng.

"Tantrayana?"

Lelaki itu tidak menjawab.

"Tidak penting siapa kami. Apa urusan dan kepentinganmu atas kepercayaan kami?" "Karena tiada tempat bagi aliran sesat di kerajaan ini!" "Aliran sesat! Siapakah dia yang begitu benar sehingga berhak mengatakan kepercayaan lain sesat!"

"Katakan itu di depan para samget62, sekarang kalian harus ditangkap karena membuat kekacauan!" "Kekacauan? Apa yang akan kalian lakukan dengan penculikan?"

"Penculiknya sudah kalian bunuh bukan? Ada lima mayat terbantai di tepi sungai, kami ikuti jejak kalian kemari! Ternyata pembunuhan itu tidak cukup bagi kalian!"

"Kami membela diri!"

Perempuan paruh baya itu mendadak sudah memegang sepasang pedang. Ia melangkah maju dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengepung.

"Kalian tahu hukuman untuk perusakan tempat pemujaan agama?"

Aku mencoba mengingat Arthasastra. Aku tidak bisa mengingat apapun-apakah karena Arthasastra memang tidak menyebutkan apa-apa? Betapapun negara dapat menambahkan apapun ke dalam undang-undangnya. Namun pertanyaan itu dijawab.

"Siapa mempertanyakan agama jika harus mengorbankan darah manusia tak bersa lah? Agama itu ada untuk kebahagiaan atau penderitaan?"

"Katakan semuanya dalam sidang pengadilan! Kini serahkan dirimu atau kalian temukan kematian!"

Para pengawal rahas ia istana segera menyerbu dengan Ilmu Pedang Suksmabhuta mereka yang juga telah dikembangkan untuk pertarungan antarkelompok yang berpasangan seperti sekarang. Di antara kobaran api yang tiada juga padam kusaksikan bentrok seru I lmu Pedang Suksmabhuta yang dikuasa i kaum perempuan serba jelita dengan pedang keperakan berkilat-kilat yang membentuk perisa i cahaya melawan ancaman golok-golok hitam yang menetak tanpa ampun dengan tikaman kejam.

Apa perbedaan golok dengan pedang? Tidakkah keduanya sama saja? Keduanya tidak dibedakan oleh bentuk, melainkan tujuannya. Golok memang bisa dimainkan seperti pedang, tetapi golok dibuat untuk segala keperluan, mulai dari memotong kayu, membabat semak, atau membelah buah kelapa-suatu peralatan rumahtangga yang terdapat dalam setiap gubuk rakyat. Ini berarti dari tujuannya golok berbeda dengan pedang, yang memang dibuat sebagai senjata tajam, baik digunakan sekadar oleh seorang prajurit dalam suatu pasukan untuk bertempur, maupun dimainkan oleh seorang pendekar dengan ilmu pedang yang tinggi. Maka jika golok bisa dibuat oleh sembarang tukang besi, maka pedang dibuat oleh para ahli senjata; itu pun harus dibedakan antara pedang yang dibuat dan dicetak sekaligus dalam jumlah ribuan di pabrik senjata, dengan pedang yang dibuat seorang empu pembuat pedang, demi ilmu pedang tertentu.

Meski begitu, pada awal dan akhirnya, adalah siapa pemegang senjata itu yang akan menunjukkan kegunaaannya dalam pertarungan. Dalam dunia persilatan, dengan ilmu silatnya yang tinggi, seorang pendekar bisa tetap unggul meski hanya bersenjatakan sebatang lidi atau selembar daun. Bahkan tak jarang seorang pendekar menjadi harum namanya karena ilmu silat tangan kosong. Ilmu-ilmu silat tanpa senjata tidak kurang berbahaya dari ilmu-ilm u silat bersenjata. Namun itu tidak berarti ilmu-ilm u silat bersenjata tidak diperlukan lagi, karena ilmu s ilat yang manapun, termasuk pembuatan senjata itu sendiri, telah disikapi sebagai suatu seni. Para empu masih selalu tertarik menempa pedang yang terbaik untuk ilmu pedang yang masih terus diperdalam dan dikembangkan oleh para pendekar. Dari gunung ke gunung dari lembah ke lembah para pendekar masih terus mengembara di rimba hijau dan sungai te laga dunia persilatan mencari kesempurnaan. (Oo-dwkz-oO)