Nagabumi Eps 149: Seorang Perempuan Beralis Tebal

Eps 149: Seorang Perempuan Beralis Tebal

APAKAH mereka semua telah menjadi patung? Puluhan orang berbusana ringkas kehitam-hitaman yang tangan, kaki, dan punggungnya lengket pada dinding itu tidak bergerak sama sekali. Namun tentu saja mereka bukan patung. Mereka diam seribu bahasa. Entah diam demi kediaman itu sendiri, ataukah kediaman demi suatu tujuan yang mengerikan. Betapapun gerombolan ini adalah gerombolan penyamun yang hanya bisa bertahan hidup se lama ini dengan akal dan tipu daya. Mengandalkan jumlah, mereka bukan bandingan pasukan pemerintah yang bukan tak sering dikirim untuk membasmi mereka. Lagipula, jika mereka memang pelarian dari pihak yang kalah pada Pemberontakan An Shi yang dipimpin oleh An Lushan, maka siasat tempur tentulah berada dalam penguasaan mereka pula, yang dengan sendirinya membuat mereka tak bisa disamakan dengan sekadar perampok dan penyamun yang biasanya menjarah, membunuh, dan memperkosa, hanya jika dapat dipastikan bahwa calon korbannya lebih lemah.

Jalan di depanku lurus dan panjang. Cahaya rembulan kini membuatnya berkilat menembus kekelaman, dan di ujungnya seperti tiba-tiba saja muncul sepasang manusia, lelaki dan perempuan, keduanya berpakaian ringkas seperti busana orang-orang persilatan. Apakah mereka pemimpin para penyamun ini?

Kudaku maju mendekat, seperti tahu betapa sebaiknya aku menilai keadaan dengan mengetahui juga paras mereka. Ketika akhirnya dapat kulihat wajah mereka itu, ternyata aku mendapat kesan yang tidak kubayangkan sebelumnya. Lelaki itu berwajah ramah, dan pada dasarnya dapat dikatakan gagah, meski agak pendek; sedangkan perempuan berkulit sangat putih itu harus kukatakan menggetarkan, dengan alis tebal di atasnya yang menyala bak bintang kejora. Busananya juga ringkas dan betapapun, seperti lelaki itu, memang agak compang camping.

Namun kesederhanaan busana mereka sama sekali tidak mengurangi pesona keduanya sebagai pasangan. Meskipun baru bertemu, segera benakku mengatakan betapa keduanya memang adalah pasangan, seperti suami isteri, atau sepasang kekasih, pokoknya saling mencintai.

Dalam dunia persilatan kita tidak pernah tahu suatu pasangan itu menikah atau tidak.

Aku merasakan betapa keduanya adalah pasangan, sebetulnya juga tanpa alasan yang jelas. Aku hanya melihatnya dari sesuatu yang memberi kesan itu dari cara berdiri mereka ketika berdiri berdampingan, dan terutama dari cara keduanya saling memandang sebelum mengajakku masuk ke dalam suatu percakapan.

Perempuan yang alisnya tebal itulah yang berbicara. Ia menyoren pedang dan mengenakan alas kaki yang disebut sepatu. Busananya yang ringkas itu nyaris membebat seluruh tubuh, begitu rupa sehingga dadanya tampak rata. Ia masih membebat bagian dada itu dengan kain lagi, bagai tiada ingin segenap geraknya dalam pertarungan terganggu sedikit pun jua.

Ia mengucapkan sesuatu. Aku tidak mengerti.

Ia mengucapkan sesuatu lagi, terdengarnya seperti bahasa

yang lain.

Aku tetap tidak mengerti dan mengangkat bahu.

Mereka saling berpandangan, dan lelaki itu mengatakan sesuatu kepada yang perempuan. Maka perempuan itu tampaknya lantas mengujikan bermacam-macam bahasa kepadaku, dan ternyata aku tidak perlu menunggu terlalu lama. ''Pendekar, siapakah dikau, datang dari mana dan hendak menuju ke mana?''

Itu diucapkannya dalam bahasa Viet.

''Daku mengerti bahasamu yang ini, wahai perempuan terindah di tengah lautan kelabu gunung batu, tetapi daku tidak bisa menjawab pertanyaanmu.''

PEREMPUAN beralis tebal itu tertawa mengikik. Suara tertawa yang memantul dari dinding ke dinding dan kukira mungkin saja rombongan orang-orang bercaping yang membawa keledai-keledai beban itu pun mendengarnya. Apakah rombongan Harimau Perang juga akan mendengarnya? Itulah yang membuatku tidak berkehendak menjawab apa pun.

''Perempuan terindah di tengah lautan kelabu gunung batu! Hihihihi! Daku takpaham maksudmu wahai pendekar, dikau memang memuji, atau menertawakan daku sebagai satu- satunya perempuan tanpa saingan di tengah lautan kelabu gunung batu ini! Hihihihihi!''

Apa yang harus kukatakan? Aku tidak menjawabnya. Hanya bersikap waspada. Apalagi yang bisa dilakukan di tengah malam yang dingin dan sepi seperti ini, ketika di tepi jalan jurang tanpa dasar menganga, dan dinding tebing penuh puluhan penyamun yang menempel pada punggungnya, lengket seperti cicak, tetapi setiap saat siap menyerang? Betapapun diriku se-oranglah yang telah mengirim kawan- kawan mereka ke dalam jurang.

Sebilah pedang mendadak telah dipe-gang perempuan beralis tebal itu. Ia menunjukkan pedangnya yang lurus panjang itu ke arah diriku, maka dari bagian gagang pedangnya meluncurlah jarum-jarum sangat beracun dengan kecepatan luar biasa. Apabila jarum-jarum itu mengenaiku, meskipun hanya menyerempet sahaja, tentulah tubuhku akan segera menghitam dan nyawaku melayang entah ke mana dalam seketika. Jadi kukibaskan lengan bajuku memberikan angin pukulan untuk mengembalikannya, maka jarum-jarum itu pun meluncur kembali ke arah perempuan beralis tebal tersebut. Jika jarum-jarum ini cukup menyerempetnya saja maka perempuan cantik itulah yang tubuhnya akan menghitam dan tamat riwayat hidupnya.

Namun ia pun cukup menggerakkan pe-dangnya yang masih menunjuk kepada-ku itu menyilang ke kiri dan ke kanan, maka ja-rum-jarum itu sekali lagi berbalik me luncur kepadaku dan harus kukibaskan lagi lengan bajuku untuk mengembalikan jarum-jarum itu ke arahnya. Begitulah dalam kesunyian dan kekelaman malam, jarum-jarum ber-keredap dalam cahaya rembulan, meluncur dan meluncur kembali dalam keredap warna kuning dan hijau suram yang penuh ancaman. Kami tidak bersuara karena memang harus waspada. Jarum beracun bukanlah senjata sembarangan, kadang hanya tercium bau amis racunnya saja saat seseorang berhasil meng-hindarinya, tetap-lah cukup membuat siapa pun terkelepar dan menggelepar keracunan.

Sembari melayani perma inan jarum bolak-balik kuperhatikan juga lelaki di sebelahnya, yang tampak begitu terpesona oleh perempuan itu. Sulit bagiku untuk menganggap mereka berdua sebagai pemimpin para penyamun, mengingat cara mereka berbicara dan wajah mereka yang sangat ramah, tetapi apalah yang bisa kuketahui di sebuah negeri as ing dengan segala sesuatunya yang masih serbaasing bukan? Tentu telah kupelajari segala sesuatunya, dalam waktu sesingkat-singkatnya, dari Negeri Atap Langit yang memang besar dan sangat luas itu, sehingga sedikitnya kuketahui serba sedikit, bahwa bahasa yang mereka gunakan bukannya tidak kuketahui, melainkan mereka ucapkan dengan cara yang belum kukenal.

Terdapat banyak wilayah yang dapat dibagi berdasarkan suku maupun daerah pemerintahan di Negeri Atap Langit, tetapi wilayah kebahasaannya tidaklah terbagi sebanyak itu. Kuketahui bahwa aku sedang memasuki wilayah Guangxi yang berbatas-an dengan Daerah Perlindungan An Nam sehingga kuketahui bahasa yang berlaku di sana tentu bahasa Tai. Bahasa itu telah kupelajari sedikit, tetapi bahasa yang keduanya saling ucapkan adalah bahasa Negeri Atap Langit yang juga telah kupelajari agak lebih mendalam, tetapi pengucapannya cukup berbeda yang membuat aku takdapat mengenalinya. Dengan begitu mereka berdua pun, mungkin dengan seluruh pasukannya bukanlah orang setempat yang berbahasa Tai. Perempuan itu mengujikan bahasa V iet karena aku datang dari arah Daerah Perlindungan An Nam. Jika de- mikian, siapakah mereka ini sebenarnya?

Dalam kelam malam perempuan beralis tebal yang indah itu menggerakkan pedang lurus panjangnya yang berkilauan berputar ke kiri dan ke kanan untuk membalikkan arah jarum- jarum itu kembali ke arahku, yang setiap kali kusambut kibasan lengan baju akan kembali ke arahnya lagi. Untuk beberapa saat lamanya jarum-jarum ber-keredap cahaya kuning dan hijau suram itu melesat bolak-balik sepanjang jalan setapak lurus panjang di tepi jurang di bawah cahaya rembulan. Setelah beberapa saat jarum-jarum itu berbolak- balik semakin cepat. Aku dapat membuatnya dengan seketika menjadi amat sangat cepat dan membunuhnya sekarang juga, tetapi pandangan penuh cinta pasangan itu tadi membuatku tidak ingin melakukannya. Namun harus ku-lakukan sesuatu yang membuatnya berpikir bahwa perma inan ini tidak ada gunanya diteruskan lebih lama.

MAKA kukibaskan lengan bajuku yang kiri ke arah berbeda. Jarum-jarum itu pun berkelebat ke atas, ke dinding tebing tempat sisa puluhan penyamun itu menempel bagai cicak. Mereka tak sempat mengelak maupun menangkis, karena sejak semula pergerakan jarum-jarum itu memang begitu cepatnya sehingga tidak dapat diikuti secara kasat mata. Dengan segera puluhan jarum menembus masuk ke tubuh setiap orang yang menempelkan punggungnya pada dinding dan siap menyerang itu. Mereka berguguran ke bawah, rontok dalam keadaan tidak bernyawa lagi, jatuh berdebum-debum di atas jalan setapak, menghalangi langkah kudaku jika aku mau terus lewat.

Dengan sekali kibas, sisa tubuh-tubuh itu kusapu dengan angin pukulan sehingga menggelinding semuanya ke dalam jurang. Seperti tidak pernah terjadi di atas lautan kelabu gunung batu ini, kecuali dua orang menghalangi. Aku berbicara kepada mereka dalam bahasa Viet.

''Izinkanlah daku lewat meneruskan perjalananku, wahai pasangan yang gagah. Daku minta maaf tak dapat memberitahukan apa pun kepada kalian, karena maksud dan tujuan perjalananku tidak dapat kukatakan.''

Perempuan beralis tebal itu tampak sangat marah karena kehilangan anak buah, dan tampak siap menyerang, tetapi lelaki itu menggerakkan tangan penanda menyabar-kannya.

''Jika tidak, katakanlah nama Tuan, wahai pendekar gagah perkasa, kiranya tak mungkin Tuan pergi begitu saja, tanpa meninggalkan sekadar nama sebagai jejak dalam pelajaran hidup kami.''

Aku menghela napas, karena namaku bukanlah namaku, tetapi dalam perkara satu ini aku tidak sanggup melakukan penyamaran.

''Daku tiada pernah memiliki nama, pasangan yang gagah, berikanlah kepadaku nama-nama kalian, agar daku mendapat sekadar tanda mata dalam perjalanan.''

Mereka tampak saling berpandangan. ''Jadi Tuan bukanlah Harimau Perang?''

Ah! Rupanya mereka mengincar Harimau Perang! Bagaimana caranya elang di gunung mendengar percakapan ikan-ikan di dalam air? Perjalanan rombongan Harimau Perang adalah perjalanan rahasia, artinya tidak ada seorang pun mengetahuinya, dan aku mengetahuinya hanya karena pembocoran Iblis Suci Peremuk Tulang yang menyamar sebagai tukang kuda. Ini berarti terjadi kebocoran rahas ia di pihak lainnya, tepatnya dari pihak yang memanggil Harimau Perang datang ke Chang'an.

Ini juga membuat dugaanku mendekati ketepatan. Pemberontakan An Shi yang diawali tahun 755 dan berakhir 763 dengan kematian An Lushan sama sekali tidak memadamkan semangat perlawanan. Dengan meminta bantuan orang-orang Tibet maupun suku-suku di utara yang gemar bertempur, Maharaja Tang Dezong bagaikan telah memusuhi bangsanya sendiri, setidaknya bagi para pengikut An Lushan, yang membuat mereka memiliki alasan melanjutkan perjuangan. Namun kedudukan mereka memang sudah begitu terdesak, sehingga tidak menguasai wila-yah mana pun, kecuali menjadi penyamun, baik di gunung maupun di gurun.

Setelah 34 tahun, makna perjuangan mereka hanya terlihat sebagai tindak kejahatan, meski bukan tanpa arti, karena tidak juga dapat dibasmi. Jika kedua orang ini adalah sisa perlawanan itu, sungguh aku merasa terharu atas memudar dan menga-burnya makna perjuangan para pendahulunya, yang menjadikan mereka barangkali hanya dikenal sebagai penyamun sekarang ini. Meskipun begitu, ibarat nyala api pada sumbu, perlawanan sekecil apapun harus dilumpuhkan, karena sekali api menemukan segala sesuatu yang mudah terbakar, dengan mudah pemberontakan cepat sekali berkobar.

Itukah alasannya seorang Harimau Perang harus didatangkan? Wangsa Tang yang jaya memang telah menjadi lemah oleh pemberontakan besar maupun kecil yang tiada habisnya. Keberhasilan Harimau Perang dalam memukul mundur gabungan pasukan pemberontak yang mengepung Thang-long di Daerah Perlindungan An Nam, telah membuat penguasa Negeri Atap Langit merasa menemukan orang yang tepat untuk memusnahkan sama sekali sisa-sisa perlawanan. Utusan maupun undangan resmi biasanya datang dan pergi melalui laut, tetapi dalam kepentingan pemanggilan Harimau Perang ini tentunya segala sesuatunya harus berlangsung dalam kerahasiaan. Namun jika namanya telah disebut oleh sepasang penyamun gunung ini, tidakkah ini berarti rahasianya sudah terbongkar? Harimau Perang bisa datang ke Negeri Atap Langit me lalui laut, tetapi keberadaannya di laut sangat mudah diketahui orang. Maka perjalanan dalam rahasia melalui daratan adalah kemungkinan yang masuk akal diperhitungkan.

''Mengapakah pasangan yang gagah ini harus mengira diriku adalah Harimau Perang yang ternama, sementara diriku hanyalah seorang pengembara yang tiada bernama sahaja?''

''KAMI memang sedang menunggunya, wahai pendekar, dan kegagahan Tuan membuat kami mengira Tuan adalah Harimau Perang itu; jika tidak tentu tiada perlu pertumpahan darah seperti ini bukan?''

Apakah aku harus berterus terang bahwa aku pun sebetulnya berada di sini untuk mengikuti jejak Harimau Perang? Agak terlalu cepat rasanya bagiku bahwa tujuan perjalanan Harimau Perang yang penuh kerahasiaan itu terbongkar hanya dalam semalam. Betapapun, dalam hal Harimau Perang, tujuanku tidak sama dengan tujuan mereka berdua. Tujuanku adalah mengetahui peranan Harimau Perang dalam hubungan dengan terbunuhnya Amrita.

Angin berdesir pelahan, membawa kabut pekat melewati kami, sebelum akhirnya berpendar kembali. Mereka masih ada di sana. Betapa lama rasanya waktu bagiku untuk melewatinya.

''Daku tidak tahu siapa itu Harimau Perang, wahai Tuan dan Puan yang perkasa. Biarkanlah daku dan kudaku lewat segera, karena daku tak punya waktu untuk terus bicara. Telah cukup kita beradu tenaga dalam perkenalan. Tiada perlu tambahan darah tumpah lebih banyak lagi.''

Aku berpikir tentang rombongan Harimau Perang di belakangku. Mereka memang tidak bisa mengganti arah sebelum mencapai Celah Dinding Berlian. Tidak bisa mengganti arah karena tidak ada percabangan jalan sebelum Celah Dinding Berlian, tetapi mereka masih bisa berbalilk dan aku tidak akan pernah tahu mereka berbalik atau tidak berbalik karena masih berada di depan mereka seperti sekarang. Jadi aku harus mengusahakan agar tiada sesuatu pun yang kiranya akan mengganggu pikiran mereka dan membuatnya berbalik arah tanpa kuketahui. Inilah yang membuatku sejak pencegatan pertama tidak pernah berusaha meninggalkan jejak pertarungan. Tiada satu mayat pun dari berpuluh-puluh penyamun yang terbunuh tergeletak di tepi jalan, karena cara mereka terluka dapat menunjukkan siapa pembunuhnya.

Harimau Perang dan rombongannya telah mengetahui keberadaanku, sehingga mereka dapat menjejakiku cukup dengan memeriksa satu saja dari mayat-mayat itu. Aku tidak berpikir mereka akan melanjutkan perjalanan dengan rencana semula jika menduga bahwa aku berada di depan mereka. Maka kuhapus sebisanya segala sesuatu yang dapat menimbulkan kecurigaan, dengan membuat mayat siapapun jatuh ditelan kedalaman jurang, dan kini pasangan penyamun yang mungkin sekali merupakan keturunan sisa-sisa laskar An Lushan ini juga harus kusingkirkan.

Namun alis tebal di atas mata cemerlang perempuan berbaju lusuh ini meragukan pertimbanganku. Cara pasangan lelakinya menatap perempuan ini membuatku tahu betapa akan menderitanya ia tanpa kehadiran perempuan terindah di lautan kelabu gunung batu tersebut. Padahal tampaknya betapapun aku harus menyingkirkan mereka berdua, karena jika kubiarkan tetap hidup dan berkeliaran di puncak-puncak gunung batu ini, pertemuan mereka dengan Harimau Perang dan rombongannya sangat mungkin mengungkapkan keberadaanku.

Di tangan lelaki berewok yang berwajah ramah itu kini tergenggam sebuah pedang yang juga lurus panjang.

''Pendekar yang gagah dan mengaku tidak bernama, apakah yang membuat Tuan berpikir betapa pembunuh seratus kawan seperjuanganku dapat kami iz inkan lewat begitu saja?''

Mereka berdua mengangkat pedangnya. Aku menghela napas. Begitu mahalnya harga kehormatan sehingga harus dibayar dengan nyawa. Aku masih menyimpan pisau terbang berukir sepasang naga di kedua sisinya, tapi kukira aku tidak akan menggunakannya.

Malam kembali kekuningan ketika rembulan ditelan awan tipis sehingga cahaya keperakannya berubah dan menyepuh segala mega yang mengambang di atas jurang. Dinding- dinding tebing membiaskan cahaya kuning suram yang membuat suasana muram bagai memastikan sebuah perpisahan.

''Telah kuakui betapa diriku memang tiada bernama,'' kataku, ''iz inkanlah pengembara yang hina dina nun jauh dari Jawadwipa ini mengenal nama Tuan dan Puan yang gagah perkasa.''

''Jawadwipa? Tidakkah itu berada di ujung dunia? Daku dengar tentang kapal-kapal lincah Sriv ijaya, dan bagaimana pasukan Syailendra menyerbu kota-kota pantai selatan dari Khmer sampai Daerah Perlindungan An Nam. Apakah dikau seorang anggota pasukan yang tertinggal, terlantar, dan terlunta-lunta, lantas bertualang?'' ''Daku bukan seorang anggota pasukan, hanya seorang pengembara yang mencari pengetahuan, yang kini sedang meminta beberapa jurus pelajaran.''

Memang sengaja kupancing mereka, karena kutahu rombongan Harimau Perang terus melaju, dan aku belum dapat mengukur apakah suatu pertarungan melawan pasangan ini akan berlangsung cepat atau berlarat-larat.

Baiklah pendekar yang tiada bernama, iz inkanlah Sepasang Elang Puncak Ketujuh memberikan salam perkenalan.

Belum habis kalimat itu, keduanya sudah terbang menghunus pedang dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata, dan hanya karena naluriku sajalah maka mendadak saja aku sudah melenting di udara.

Bukanlah tanpa maksud aku mena-nyakan nama mereka, karena sebuah gelar didapatkan terutama karena pencapaian ilmu silatnya dalam mengalahkan. Gelar mereka, Sepasang Elang Puncak Ketujuh, jelas menunjukkan dua perkara: pertama, bahwa sumber gagasan ilmu silat mereka ditimba dari gerak pertarungan burung elang; kedua, bahwa ilmu s ilat keduanya adalah ilmu silat berpasangan. Petunjuk terakhir ini penting, karena merupakan jenis ilmu silat yang paling sulit dihadapi di dunia ini, apalagi jika penggunanya telah mencapai ilmu yang tinggi. Bukankah pasangan pendekar yang mengasuhku, Sepasang Naga dari Celah Kledung, dengan ilmu silat ciptaannya, Ilmu Pedang Naga Kembar, juga takpernah terkalahkan dalam dunia persilatan karena ilmu berpasangan itu?

Dengan Ilmu Pedang Naga Kembar itulah kuhadapi berbagai serangan dahsyat Sepasang Elang Puncak Gunung, meski aku hanya bersenjatakan sepasang tangan.

(Oo-dwkz-oO)