Nagabumi Eps 147: Celah Dinding Berlian

Eps 147: Celah Dinding Berlian

Kudaku kembali membawaku menyusuri tebing-tebing terjal yang curam. Sejak tadi kusebut jalan setapak, tetapi jalan setapak itu kadang-kadang menghilang, hanya terdapat dinding tebing saja, yang ternyata dapat digunakan untuk lewat juga. Aku sempat menarik tali kekangnya agar kudaku tidak maju, tetapi bukan saja kuda itu mendengus tanda tak setuju, melainkan pada saat yang sama kulihat kambing- kambing gunung berlari di tepi dinding securam itu, tanpa ada seekor pun yang terjatuh ke dalam jurang. Maka kulepaskan tarikan kekangku dan kupercayakan semuanya kepada kudaku yang ternyata tahu mana jalan dan mana bukan.

Tidak selalu jalan setapak hanya setapak dan kemudian menyatu dengan dinding batu, karena ada kalanya juga jalan setapak itu melebar, lurus dan panjang, sehingga kudaku pun dapat melaju dengan secepatnya di situ. Derap kudaku yang melaju dipantulkan dinding-dinding batu, yang tentu haruslah membuat aku mengerti betapa bukan diriku sendirilah yang mendengar derap kuda melaju ini. Pada setiap gunung dari lautan kelabu gunung batu ini terdapat jalan melingkar yang sambung menyambung dan melingkar-lingkar sampai tembus ke jalan menuju Kunming, kota di wilayah Negeri Atap Langit terdekat setelah Thang-long. Dari Kunm ing, jalan akan menyatu dengan jalan dari negeri orang-orang Pagan maupun dari wilayah Jambhudvipa di bagian utara Teluk Benggala, menjadi jalan yang disebut Jalur Tenggara Jalan Sutera, menuju Chengdu dan kemudian Changian, meski sutera itu sendiri tentu tidak menuju, melainkan justru datang dari Negeri Atap Langit, menuju segenap penjuru bumi melalui, selain Jalur Tenggara, juga Jalur Utara dan Jalur Selatan, maupun Jalur Padang Rumput, menembus negeri-negeri yang selama ini hanya kudengar bagaikan dongeng.

HARUS kukatakan bahwa menyadari betapa jalan melingkar-lingkar di lingkung gunung bagai tiada habisnya ini akan berujung di jalur-jalur itu telah membuat gairah hidupku menyala-nyala. Meski tentu harus pula kuperingatkan di-riku sendiri, mengapa aku bisa sampai ke tengah gunung gemunung kelabu berselimut kabut seperti ini. Mungkinkah segala keko-songan dan kehampaan setelah kepergian Amrita dapat terisi de-ngan perburuan Harimau Perang yang di lain pihak memang mengundang rasa penasaran? Kalau bukan karena Amrita, belum tentu seka-rang aku berada di atas kuda yang kini melaju di jalan lurus ini, tetapi tidak kuingkari kenyataan betapa perjumpaanku dengan Amrita pun justru karena hasrat pengembaraan yang terdorong oleh pemandangan kapal-kapal Sriv ijaya di pantai utara Jawadwipa.

Jalan lurus di tepi tebing kadang habis begitu saja, langsung bersambung dengan suatu titian batu yang menghubungkannya ke gunung lain. Kadang titian itu pendek saja, bahkan cukup lebar sehingga ku-daku dan aku dapat melaluinya seperti tidak terdapat jurang yang begitu dalam bagaikan tanpa dasar. Namun tak jarang pula titian itu begitu sempit dan begitu panjang, bahkan hanya cukup untuk jalan bagi seekor kuda, terserah apakah penunggangnya memilih turun dan berjalan di depannya, ataukah tetap duduk di atas punggung kudanya itu. Di tempat seperti inilah kadang- kadang terjadi kecelakaan mengenaskan, ketika kuda yang lelah terpeleset dan jatuh dan lenyap ditelan kedalaman jurang meninggalkan gema ringkikan.

Kadang hanya kudanya yang jatuh, atau hanya manusia yang tidak sedang menungganginya, tetapi bukan taksering keduanya. Memang ini jalan yang berbahaya, tetapi ada juga yang melewatinya. Bahkan kadang terdapat sekelompok rumah di sana-sini, yang me-nunjukkan betapa ada juga manusia bertempat tinggal di wilayah seperti ini.

Pernah terjadi antara dua tebing tidak ada titiannya, sehingga hanya dengan cara melompatlah seseorang bisa mencapai tebing yang satu dari tebing yang lain, padahal jarak yang dibutuhkan agar seekor kuda dapat melompat sejauh- jauhnya tidak se-lalu tersedia. Bahayanya masih ber-tambah apabila tepi tebing ada kalanya gugur tertimpa beban kuda dan manusia penunggangnya secara tiba-tiba. Hanya jika kuda atau ma-nusia sekadar memanfaatkannya sebagai tempat berpijak agar tetap dapat melaju, maka daya dorong da-lam lompatan itu tidak akan terlalu membebani tepian tebing yang ke-betulan semakin tipis.

Kulihat puncak batu yang menjulang, semua ini dibentuk oleh angin, yang memang selalu bertiup kencang dalam kecepatan yang tinggi se lama jutaan tahun. Mereka yang melompati jurang untuk menyeberang tentu juga harus mengenal dan memperhatikan kebiasaan angin ini. Jika tidak, kuda dan manusia penunggangnya dapat gagal menyeberang dan jatuh ke dalam jurang pada saat mereka seharusnya berhasil. Bukan berarti bahwa jarak yang sangat dekat, hanya selangkah misa lnya, menjadi lebih mudah diseberangi, karena di tempat seperti ini pun tepi tebing dengan tak terduga dapat pula gugur.

Benarkah kudaku dapat mengenali semua ini karena memang pernah melaluinya dalam perjalanan dari Negeri Atap Langit ke Daerah Perlindungan An Nam? Aku tidak yakin bahwa pernah me lewatinya saja cukup untuk mendapatkan pengenalan nyaris sempurna seperti ini. Aku lebih percaya betapa naluri kudaku ini luar biasa tajam. Kudaku itu tidak akan sembarang melompat sebelum mengenali medan. K-a- kinya mengetuk-ngetuk tanah mengukur tebal tipisnya lapisan tanah di atas batu, kepalanya mendongak seperti membaca angin, dan ekornya bergerak-gerak naik turun yang kurasakan seperti mencoba berpikir.

(Oo-dwkz-oO)

SUATU ketika, menjelang ma-lam tiba, aku tiba pada sebuah titian batu yang lurus, sempit dan panjang. Inilah jenis titian yang jika diseberangi dapat membuat kuda dan manusia jatuh bersama-sama pi-kirku. Namun aku tidak menganggapnya sebagai titian tersulit, karena sebelum tiba di sini kami telah melompati jurang yang lebar beberapa kali.

Menjelang malam tiba artinya langit masih terang, tetapi rembulan telah kelihatan di langit. Mega-mega yang menyingkir memperlihatkan bintang yang terang, dan suatu warna keunguan tampak mu-lai semburat menjanjikan kegelapan yang pasti akan datang. Aku mengenal senja tanpa warna merah ini, ka-rena ini berarti gelap bagaikan akan tiba seketika tanpa peringatan lagi. Namun aku merasa lebih me- nye-berang lebih dahulu dan beristirahat di seberang sana jika malam tiba, itu pun jika kuputuskan tidak mene-ruskan perjalanan, karena sebenar-nyalah aku selalu merasa kha- watir rombongan Harimau Pe-rang mun-cul di belakangku tiba-tiba.

BETAPAPUN aku merasa lebih baik berhenti sebentar di seberang, sekadar menelan bekal daging asap yang kubawa, dan memberikan pula kesempatan kudaku makan rumput yang tumbuh di sela-sela batu itu. Begitulah kami pun menyeberang. Kulihat ke bawah, jurang masih bagai takberdasar. Meskipun langit terang, cahaya senja tanpa warna merah ini takmampu menembus kabut yang semakin pekat di dasar jurang itu, memberikannya suasana kelam yang mengerikan. Apakah kiranya yang masih mungkin hidup di bawah sana itu?

Kudaku melangkah pelahan pada titian batu sempit itu. Bahkan seandainya aku harus turun, aku takdapat turun di samping kudaku, melainkan sejak awal haruslah berjalan di depan atau belakangnya, karena memang tidak ada tempat untuk menapak lagi. Namun aku sungguh sangat mempercayai kuda ini. Kunikmati warna-warni langit yang menjelang malam justru di gunung batu ini untuk pertama kalinya bercahaya, memperlihatkan sapuan-sapuan mega tipis di angkasa raya, yang betapapun memang mulai menyuramkan diri. Dalam lautan kelabu gunung batu ini, memang tidak kulihat matahari sama sekali.

Kuda itu masih terus melangkah pelahan-lahan, ketika kami tiba di tengah dan tiba-tiba berhenti, mendengus, dan kedua telinganya berdiri.

Ah! Kami berada di tengah. Titian ini menghubungkan dua celah. Aku dan kudaku menembus suatu celah yang sempit dan panjang di bagian puncak-puncak gunung yang tinggi, bagaikan di atas hanya ada langit dan di bawah mega-mega berjalan. Namun bukan masalah ini yang membuat kedua telinga kudaku berdiri, melainkan betapa di ujung titian ini, pada bidang datar di tepi tebing curam, terlihatlah seorang penunggang kuda yang tersenyum-senyum dan telah menghunus golok lebarnya.

Ia berbusana ringkas, bagaikan segalanya serba terikat, dengan warna abu-abu kusam, seperti juga kain yang membebat kepalanya. Wajahnya penuh dengan berewok, dan senyumnya semakin lama semakin lebar. Aku mengerti, jika di laut sangat mungkin kita bertemu bajak laut, maka di gunung kita bertemu mempunyai kemungkinan bertemu perampok gunung. Wajah orang ini ramah dan memang tersenyum- senyum, tetapi sangat meyakinkan sebagai perampok, dan aku tidak mengerti adakah sesuatu yang telah dilihatnya dan dianggapnya berharga sehingga layak dirampok.

Kalau aku terus melangkah, cukup dengan ia mencegatku di sana dengan kudanya, maka nyawaku dan kudaku sudah terancam, karena dengan titian sesempit ini siapapun dapat terpeleset dan jatuh melayang-layang ke dalam jurang yang mahadalam. Begitu sempitnya titian ini, sehingga kudaku harus berjalan maju karena tiada tempat berpijak untuk berbalik, sedangkan kudaku seberapapun cerdasnya tidak mungkin berjalan mundur. Betapapun aku menoleh ke belakang, dan ternyata seseorang di atas kuda yang lain juga telah berdiri di sana, juga telah tersenyum-senyum sembari memegang golok lebar.

Ia juga berwajah penuh dengan berewok, berpakaian ringkas, dan membebat kepalanya dengan kain. Melihat cara keduanya tersenyum lebar, kumaklumi betapa bukanlah perampokan harta benda saja menjadi tujuan mereka. Melainkan jika orang yang melewati titian ini dianggapnya tiada berharta benda, maka keduanya seperti sudah cukup puas melihat orang itu bersama kudanya masuk ke dalam jurang. Seberapa banyakkah orang yang melewati jalur sulit ini dengan membawa harta benda, apalagi dalam jumlah yang besar? Namun yang belum bisa kumengerti, jika sepasang perampok bersarang di atas gunung seperti ini, di manakah mereka menyimpan harta dan bagaimanakah caranya menikmati hasil rampokan dan jarahan itu?

Aku tidak dapat berpikir lebih panjang karena keadaanku memang gawat dan rawan. Segala sesuatu yang kulakukan untuk mengatasinya, mestilah kulakukan dengan penuh perhitungan. Kurasa mereka menganggapku sebagai tidak membawa harta benda apapun, dan tentu saja itu memang tepat sekali, sehingga mereka dengan menutup kedua ujung titian itu mereka berharap aku jatuh ke dalam jurang. Entah sudah berapa banyak orang mereka perlakukan seperti ini, karena adalah masuk akal bahwa harta benda berharga, intan mas berlian rajabrana, tidaklah akan dibawa melalui lautan kelabu gunung batu seperti ini. Namun memang bisa diperhitungkan, bahwa orang yang melakukan perjalanan jauh tentu membawa sedikit uang sebagai bekal dalam perjalanan, dan bagi perampok gunung yang terpencil seperti ini, jika cukup banyak orang yang telah mereka rampok dalam bertahun-tahun, mungkin sudah banyak pula harta benda orang lewat yang timbun di suatu tempat entah di mana di wilayah gunung yang seolah-olah hanya terdiri dari batu itu.

KUDAKU mendengus. Aku sempat berpikir justru karena kudaku itu lebih banyak menggunakan otaknya, maka nalurinya luput menangkap adanya kedua perampok berkuda yang pasti bersembunyi di celah batu-batu besar itu. Namun kali ini nalurinya yang tajam bekerja dengan baik, karena ia memang mendengus oleh bahaya maut yang datang mengancam. Dari depan maupun belakang melayang golok lebar yang melesat cepat tetapi berputar perlahan, siap memenggal kepala dari depan maupun belakang. Jika aku tetap berada di tempatku sekarang, tubuhku bisa terbelah menjadi tiga, karena golok lebar yang mirip golok tukang jagal itu bagaikan bisa membelah tubuh dalam sekali sambar, sedangkan ketinggian sambaran kedua golok itu tidak sama.

Aku tahu sekarang. Bukanlah sekadar mata uang yang kubawa ingin dirampoknya, melainkan kudaku, yang sungguh mereka ketahui rupanya betapa sangat berharga! Kuda yang baik, apalagi kuda terbaik, lebih berharga dari apa pun di dalam alam yang keras ini, karena kuda terbaik memang dapat berlaku seperti kudaku, yakni bukan hanya meringankan, melainkan juga menyelamatkan, dan bahkan juga mencerahkan. Kuda yang baik mengetahui apa yang terbaik bagi penunggangnya. Bukankah kudaku yang setiap kali berhenti agar dapat kutatap pemandangan yang mencerahkan jiwa? Dari kejauhan, bagi yang sangat mengerti bagaimana caranya menilai seekor kuda, agaknya terbayang betapa akan sangat berguna kuda itu baginya, dan karena itu baginya sangat amat berharga. Namun kenapa tidak terpikir oleh siapapun yang merampoknya, bahwa kuda pun dapat berpihak dan tidak merelakan sembarang manusia menungganginya?

Pikiran semacam ini jelas terlintas lebih cepat dari waktu pembacaannya, bahkan lebih cepat dari dua golok yang berputar pelahan tetapi mendekat dengan terlalu cepat itu. Jika kedua golok lebar yang ketajamannya bagai mampu mengiris apapun itu mengenai sasaran seperti tujuannya, tubuhku akan terbelah tiga dan kuda ini jatuh ke tangan mereka. Apabila kemudian kuda ini me lawan, jelas akhinya akan mereka bunuh pula.

Kedua golok itu sudah dekat sekali, yang satu akan membelah dari kanan, yang lain membelah dari kiri. Tidaklah mungkin bagi mereka yang mengenal ilmu silat untuk dapat menghindarinya, karena bagi mereka yang mengenalnya pun masih dapat tewas tanpa sempat bergerak sama sekali. Maka tanganku pun bergerak me lepaskan pisau terbang bergagang gading itu dengan sebat. Sementara aku sendiri melenting ke udara untuk menghindari golok yang berputar menyambar dari belakang. Tanpa cara ini, jika seseorang dapat menghindari satu golok, tidak akan terhindar dari sambaran golok yang lain. Namun aku takhanya menangkis golok yang datang dari depan dengan lemparan pisau terbang bergagang gading itu, dan memang bukanlah menangkis tujuanku melemparkan pisau terbang yang bukan saja bergagang gading tetapi berukir gambar dua naga di masing-masing sisinya, melainkan membalikkan arah lemparannya, kembali ke arah pelemparnya sendiri!

Aku melenting ke udara nyaris bersamaan dengan saat kulemparkan pisau itu. Golok yang melesat dari depan telah disentuh pisau terbangku pada pembatas antara gagang dan goloknya tepat pada saat perputarannya mengarah kepada pelemparnya, sehingga tanpa ayal golok itu meluncur kembali ke arah dari mana datangnya dengan kecepatan yang sama. Saat aku melenting, melesatlah di bawahku golok yang menyambar dari belakang, yang karena luput mengenaiku meneruskan luncurannya ke arah perampok berkuda yang mencegat di ujung titian di depanku itu.

Titian sempit itu memang lurus dan lempang, jadi sebuah lemparan lurus dan lempang dari ujung titian di belakang punggungku yang luput mengenai sasaran akan mengarah langsung ke titik manapun yang segaris sampai ke ujung titian yang berada di depan, artinya juga ke arah lelaki berkuda yang mencegatku.

Seketika terdengarlah jerit kesakitan yang bergema dan bergaung dari jurang ke jurang sambung menyambung sepanjang lautan kelabu gunung batu, yang bahkan masih terus terdengar gema dan gaungnya meski tubuh yang menjeritkannya telah terbelah jadi tiga, karena sambaran goloknya sendiri yang berbalik kepadanya masih disusul sambaran golok berputar yang luput mengenaiku dari belakang tubuhku. Hanya karena ia masih berusaha berkelitlah maka belahannya menjadi kurang tajam dan menimbulkan kesakitan luar biasa yang ditandai jeritan panjang, yang hanya terbungkam oleh sambaran golok berikutnya yang membelah tubuhnya dengan amat tepat.

TIDAK usah kujelaskan bagai-mana tepatnya tubuhnya terbelah menjadi tiga. Namun bisa kusam-pai-kan betapa ketiga potongan tubuhnya itu melayang jatuh ditelan kegelapan jurang.

Begitu merasakan diriku telah berada di punggungnya kembali, ku-daku me langkah maju lagi de-ngan hati-hati. Di sinilah letak ke-cerdasan kuda Uighur ini, karena sembarang kuda mungkin menjadi panik, mengangkat kedua kaki de-pan sambil meringkik, untuk terpeleset kaki belakangnya dan jatuh diserap ke kedalaman jurang seperti yang telah terjadi dengan begitu banyak kuda dan penunggangnya yang telah menyeberangi titian ini.

Kudengar sumpah serapah yang tidak kuketahui artinya karena diucapkan dalam bahasa yang tidak kukenal. Selama berada di Kuil Pengabdian Sejati memang kupelajari bahasa Negeri Atap Langit, te-tapi bukan saja cara pengucapan dari tulisan yang sama dapat berbeda-beda, melainkan juga bahwa me-mang banyak bahasa dari berbagai ma-cam suku yang sangat besar per-bedaannya. Namun nadanya jelas nada menyumpah dan tampaknya ia pun berteriak-teriak mengundang teman.

Aku belum sampai ke seberang ketika sebatang anak panah menancap pada titian batu di depanku. Aku menoleh ke belakang, perampok berkuda yang berada di belakangku itu tidak menyusulku. Keputusan bijak karena jika ia lakukan maka kedudukannya akan menjadi sele-mah seperti kedudukanku sebelumnya. Namun memang bukan diri-nya-lah yang sebetulnya jadi masa-lah, me-lainkan anak panah itu, yang ketika kutengok sumber kedatangannya dari balik tebing di ketinggian, ternyata menampakkan berpuluh-puluh ma- nusia yang sedang membidikku dengan busur silang. Kutahu panah yang dibidik-kan de-ngan busur silang bukan ha-nya me-luncur dengan cepat dan ber-tenaga, melainkan juga selalu tepat mengenai sasarannya. Padahal puluhan anak panah itu sekarang melesat!

Kudaku bahkan belum sampai ke ujung. Ini sama dengan tidak bisa ber-gerak. Jika aku mampu meng-hindari puluhan anak panah itu dengan ketajaman tinggi, justru ku-daku itulah yang akan terajam anak-anak panah tersebut tanpa ampun lagi, sedangkan hidup tanpa kuda semacam itu di wilayah seperti ini, bagiku sama juga buruknya dengan kematian. Sungguh keadaan berbahaya yang sangat mengancam dan harus dipecahkan dengan segera. Hari telah lewat senja. Meski langit belum gelap sepenuhnya, anak-anak panah yang melesat itu sudah sulit dilihat secara kasat mata. Maka ku-pejamkan mataku menerapkan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang dan segeralah dalam keterpejamanku tampak dengan jelas bagai-mana dalam bentuk caha-ya hijau suram puluhan anak panah itu me lesat ke arahku. Aku melen-ting dan bergerak amat sangat cepat, bah-kan lebih cepat daripada kecepatan kilat, sehingga tak hanya dapat kuhindari anak-anak panah yang melesat dari busur silang de-ngan sangat tepat ke arah sasaran, me-lainkan bisa kutangkap dan kukembalikan setiap anak panah itu dengan kecepatan dan ketepatan yang sama ke arah sasarannya. De-mikianlah pada saat aku kembali duduk di punggung kudaku, anak-anak panah itu telah menancap di jantung pemiliknya masing-masing.

Beberapa di antara mereka jatuh terkulai dan melayang jatuh ke da-lam jurang, tetapi tak sedikit yang tersentak dan tertancap ke dinding ba--tu tempat mereka bersembunyi dan muncul untuk melepaskan anak---anak panahnya. Tiada terdengar jeritan sama sekali, karena anak-anak panah itu menancap dengan amat sangat tepat ke jantungnya. Dunia pun seketika sunyi, ketika dengan sangat pelahan kudaku me- lan-jutkan langkah-langkahnya menyelesaikan sisa titian sampai ke ujungnya.

Tiba di ujung, masih juga kurasa-kan betapa suatu benda tajam berdesir dari arah belakangku, melesat lang-sung ke tengkukku. Segera ku-bungkukkan diriku dan sebilah pi-sau terbang segera lewat melesat di atas kepalaku, untuk menancap de-ngan mantap sampai ke gagangnya pada dinding batu. Masih terdapat kuda sang perampok gunung yang tubuhnya telah terbagi tiga itu. Kucabut pisau terbang yang menancap di sebelah pisau terbang yang kulemparkan sebelumnya, yang kemudian kucabut juga. Pisau terbang milik perampok gunung ini sangat sederhana, hanya seperti sebuah besi pipih yang diberi gagang kayu, tetapi dengan menimangnya aku tahu pisau terbang akan se lalu terlempar dengan tepat ke sasarannya.

Aku berbalik dan kulemparkan kembali pisau terbang itu kepada pemiliknya. Pisau terbang itu berputar jungkir balik dengan pelan, tetapi melesat dengan terlalu cepat untuk dapat ditangkis atau dihindari pemiliknya sendiri. Tiada jeritan sempat terdengar dalam kesunyian mencekam menjelang malam pada lautan kelabu gunung batu itu, karena pisau terbang itu menancap tepat pada jidatnya. Membuatnya terguling dan terpelanting dari atas punggung kuda nun di seberang, tubuhnya jatuh di tepi jurang, dan jika ia masih hidup mungkin tangannya dapat berpegangan pada titian. Namun karena pisau itu menancap pada jidat dengan tepat, tubuhnya merosok tanpa daya di tepi jurang, untuk kemudian jatuh dan hilang lenyap dalam kedalaman untuk selama- lamanya...

TINGGAL kesunyian kini, bagaikan mengendap tiba-tiba bersama datangnya malam. Dinding-dinding kelabu masih terlihat dalam kegelapan, bahkan kegelapan yang ditimbulkan kedalaman jurang terlihat sebagai kekosongan mahakelam. Bukannya tidak kudengar puluhan sosok yang berkelebat di balik batu-batu besar, tetapi aku tidak perlu khawatir sekarang karena itulah suara-suara orang yang melarikan diri. Tentunya mereka dapat mengukur, seberapa jauhkah diriku yang telah membunuh kedua pemimpinnya itu dapat mereka lawan. Kupikir suatu keputusan yang bagus untuk mundur teratur dalam kegelapan seperti itu, karena sebagai lawan yang hanya satu orang aku dapat membunuh siapapun yang berada di dekatku, sedangkan dalam kekacauan pertarungan malam, sangat mungkin di antara mereka berlangsung saling bunuh teman.

Aku tidak bergerak di tepi tebing. Jalan setapak berkelok- kelok mengikuti lekukan dinding jurang yang curam. Semua orang pasti beristirahat. Juga rombongan kecil yang membawa keledai-keledai beban itu. Namun aku yakin rombongan Harimau Perang terus berjalan, karena justru di sanalah kesempatan mereka agar perjalanannya tetap berada dalam kerahasiaan. Aku merasa tegang karena merasa takboleh tersusul sebelum mencapai Celah Dinding Berlian.

Aku belum bergerak. Benarkah ini jalan menuju Celah Dinding Berlian? Selama ini aku hanya mengikuti langkah kudaku, tetapi aku memang tidak melihat jalan yang lain selain jalan yang telah kulalui itu. Jadi dalam kegelapan ini pun aku merasa lebih baik percaya diri, karena jika tidak maka semesta kegelapan ini bisa menjadi masalah. Namun ketika gelap menjadi lengkap, rembulan yang kekuning-kuningan muncul di langit, dan mendadak saja dari suatu celah terlihat cahaya tipis yang memancar ke atas, lantas bagaikan air menggenangi lembah dan puncak-puncak gunung batu.

Masih jauh tempat itu, tapi kuingat kata-kata Iblis Suci Peremuk Tulang. "Jika siang dindingnya menyala karena cahaya matahari, jika malam tetap cemerlang karena cahaya rembulan," katanya.

Agaknya karena sepanjang hari gunung-gunung batu ini tenggelam dunia kabut kelabu beku, maka tiada cahaya apapun dalam kenyataannya dapat terlihat menyala maupun cemerlang. Betapapun akhirnya kusaksikan cahaya cemerlang Celah Dinding Berlian.

(Oo-dwkz-oO)