Nagabumi Eps 144: Atap Langit, Atap Peradaban

Eps 144: Atap Langit, Atap Peradaban

Negeri Atap Langit di bawah pemerintahan Wangsa Tang yang memegang kekuasaan sejak 618 sebenarnyalah berada pada zaman keemasan. Seperti yang telah kupelajari dari catatan para rahib Kuil Pengabdian Sejati yang pernah mengunjungi negeri itu, dapat kuceritakan setidaknya tiga pokok penting yang menunjukkan kejayaan Negeri Atap Langit. Kemakmuran Wangsa Tang dihasilkan oleh pencerahan dalam tata cara permainan kekuasaannya, yakni tata cara pengaturan dan pemerintahan, tata cara hukum yang ketat, dan tata cara kepantasan ujian kerajaan, yang ketiganya terpadu.

Dalam tata cara pengaturan, Wangsa Tang membangun kerangka jajaran Dao dan Fu untuk memisahkan daerah pemerintahan yang satu dengan yang lain. Selama kekuasaan Zhen Guan, wilayah kebangsaan dibagi menjadi sepuluh daerah pemerintahan, yang berkembang menjadi lima belas pada masa Kaiyuan. Daerah-daerah kekuasaan terbawahkan disebut Zhou atau Fu, sedangkan yang lebih kecil disebut X ian untuk kota, Xiang untuk lima Li, sedangkan satu Li maksudnya seratus keluarga. Masih ada Cun untuk desa, Bao untuk lima keluarga, dan Lin untuk empat keluarga. Pada akhir pemerintahan Kaiyuan misalnya, dapat diketahui terdapatnya 328 Zhou dan 1573 Xian di Negeri Atap Langit.

Dalam tata cara pemerintahan, pengaturan Wang Tang melibatkan tata cara pemerintahan pusat dan tata cara pemerintahan setempat. Tata cara pemerintahan pusat mengikuti yang te lah dibangun Wangsa Sui antara 581 sampai 618, yakni Tata Cara Tiga Bagian dan Enam Kementerian. Namun ditambahkan sembilan Si dan lima Jian yang dibentuk untuk bekerja dengan enam kementerian. Tata cara pemerintahan setempat sesuai dengan kerangka pengaturan kekuasaan, tempat kepala pemerintahannya bergelar Guancha Shi atau pengamat Dao, Chi Shi atau Ta Shou yang maksudnya kepala pemerintah Zhou, maupun seperti Xian Ling, Qi Lao, Li Zheng, Cun Zheng, Bao Zhang, dan Lin Zhang.

Dalam tata cara hukum, dibandingkan dengan wangsa- wangsa sebelumnya di Negeri Atap Langit, Wangsa Tang memiliki tatacara hukum yang paling lengkap dan paling rinci. Secara umum, tatacara hukum Tang terdiri dari empat bentuk dasar, yakni Lu atau hukum kejahatan, Ling atau peraturan- peraturan badan pemerintah, Ge atau peraturan-peraturan pengaturan, dan Shi atau bentuk-bentuk surat resmi pemerintah.

Himpunan Tang Lushu Yi yang disusun semasa kekuasaan Maharaja Gaozong mewakili persyaratan hukum bangsawan, yang termasuk di dalamnya hukum krim inal, hukum pertahanan dan keamanan, hukum bagi pejabat kerajaan, hukum perkawinan dan pencatatan penduduk. Peraturan- peraturan boleh dianggap lengkap, dan ketentuan-ketentuan hukum lebih ringkas. Terutama pada awal pemerintahan Zheng Guan, Maharaja Taizong memusatkan perhatian untuk mendengarkan nasihat-nasihat bijak ketika menerapkan hukum. Dengan cara seperti ini, tata kemasyarakatan yang damai terbentuk, dan menjadi teladan negeri-negeri tetangganya di benua yang sama.

Cara lama untuk memilih orang-orang berbakat diganti dengan tata cara ujian kerajaan, yang adil dan layak untuk menguji tatacara memilih pegawai bagi kerajaan. Biasanya terdapat empat soal yang diujikan pada saatnya masing- masing, termasuk Jinshi, Mingjing, Mingfa, dan Mingyu. Ujian tingkat tertinggi disebut Sheng Shi atau ujian negara, yang diadakan tiap tahun oleh Shangshu Sheng di kotaraja Changian. Mereka yang terpilih untuk mengikuti Sheng Shi disebut Ju Ren. Peserta ujian yang lulus Sheng Shi disebut Ji Di.

ADAPUN yang menduduki peringkat pertama disebut Zhuang Yuan. Segenap Ji Di yang memenuhi syarat untuk maju lebih jauh akan dinilai oleh Li Bu, yang menentukan apakah mereka mendapat gelar resmi atau tidak.

Pada dasarnya, tata cara ujian kerajaan adalah suatu ujian yang memperbaiki keadaan, karena mengizinkan cendekiawan yang dilahirkan keluarga m iskin untuk mendapat kesempatan menjadi pegawai kerajaan. Dari sudut kerajaan sendiri, tata cara ujian ini membantu peningkatan terpusatnya kuasa kerajaan dan mendorong kesamaan pemikiran.

Namun ini semua belum menjelaskan, kenapa Wangsa Tang pada puncak kekuasaannya lantas menjadi makmur. Kesejahteraan pada awal kekuasaan Wangsa Tang maju pesat dengan berlangsungnya perbaikan, perkembangan, dan kemakmuran. Di bawah pemerintahan Zhen Guan dan masa kegemilangan Kaiyuan, kesejahteraan negeri mencapai taraf yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam hal pertanian, sejak runtuhnya Wangsa Sui yang berkuasa antara 581 sampai 618, hasil bumi mengalami penurunan besar-besaran dan perdagangan di seantero negeri berada dalam kelumpuhan. Setelah Wangsa Tang menyatukan seluruh negeri, Maharaja Kao Tsu memusatkan perhatian kepada pengembangan pertanian dan secara berturut-turut melaksanakan rangkaian pembaruan, seperti Juntian Zhi atau tata cara penyetaraan tanah maupun tata cara Zuyongdiao. Dengan cara ini, penderitaan para petani terkurangi dan kesangkilan kerja menjadi lebih baik. Hasilnya, pembuatan alat-alat pertanian dan perkebunan pun mengalami peningkatan kecanggihan. Ditambah dengan penyelesa ian kerja pengairan segera setelah berdiri Wangsa Tang, pertanian semasa pemerintahan Zhen Guan dan keemasan Kaiyuan ini maju pesat tak terbendung lagi.

Kemajuan dalam penyelenggaraan pertanian ini kemudian memberikan banyak tenaga kerja tersisa, yang disalurkan ke dalam pembuatan kerajinan tangan secara besar-besaran. Dari sisi kecanggihan, jenis, maupun jumlah yang dihasilkan, perkembangan dunia kerajinan masa Wangsa Tang melampaui pencapaian wangsa-wangsa sebelumnya. Pada umumnya cara-cara pembuatan kain cita mencapai tingkat yang canggih, seperti cara pembuatan sutera yang semakin halus dan lembut. Pembuatan tembikar juga memasuki tahap baru, ketika selain porselin hijau pucat, ditemukan pula porselin putih maupun tembikar tanah liat berlapis kaca tiga warna. Berbagai macam pusat pembuatan kertas, penggarapan daun teh, pengolahan logam, dan perakitan kapal juga berkembang pesat pada masa ini.

Perkembangan pertanian dan pembuatan kerajinan secara besar-besaran yang pesat, memberikan dorongan kemakmuran bagi perdagangan di dalam maupun luar negeri. Barang dagang utama termasuk bahan makanan, garam, minuman keras, teh, obat-obatan, kain cita, perhiasan emas dan perak, maupun barang keperluan sehari-hari. Tumbuh kota-kota yang menjadi pusat perdagangan di seantero Negeri Atap Langit, seperti Lanzhou, Chengdu, Guilin, Hangzhou, seperti juga kotaraja Chang'an dan tambahannya, Luoyang. Di kota-kota tersebut terdapat pasar tersendiri, tempat peraturan pasar yang ketat berjalan dengan sangat baik. Sementara itu, sebagai kelanjutan pembukaan Jalur Sutera semasa Wangsa Han hampir seribu tahun sebelumnya, sejumlah besar pedagang asing dan utusan resmi negara lain datang berdagang ke Negeri Atap Langit. Ini juga mendorong lintas perdagangan laut. Kapal-kapal Wangsa Tang dapat melintasi samudera di wilayah Jambhudvipa dan mencapai Teluk Persia. Kapal-kapal dagang Wangsa Tang berlayar kian kemari antara Negeri Atap Langit dan negeri-negeri di selatan maupun di utaranya, tempat kudengar cerita tentang terdapatnya binatang yang disebut singa.

Namun agaknya Pemberontakan An Shi pada 755 yang dikobarkan An Lu Shan dan baru berakhir 763 sungguh berhasil merusak kesejahteraan Wangsa Tang. Tata cara Juntian Zhi maupun Zuyongdio sama-sama hancur. Untuk mengatasi gawatnya keuangan yang disebabkan oleh pemberontakan dan kelompok-kelompok yang memisahkan diri, suatu kebijakan baru yang disebut Tatacara Pajak Ganda, berdasarkan beban waktu, diberlakukan. Dengan membebankan pajak berdasarkan kekayaan, Tatacara Pajak Ganda menghidupkan kembali pendapatan keuangan dan menjadi contoh yang bagi pembaruan pajak selanjutnya.

Kekacauan yang berlangsung akibat pemberontakan membuat penduduk di bagian utara berpindah ke sebelah selatan Sungai Yangtze, yang juga berarti membawa tenaga kerja dalam jumlah besar dan cara-cara canggih pembuatan barang dagang ke wilayah-wilayah di se latan. Kemudian, sekarang ini, kesejahteraan penduduk di se latan berkembang sangat pesat, dan segera menggantikan wilayah-wilayah utara sebagai pusat keuangan negara. Pertanian dan pembuatan kerajinan secara besar-besaran di wilayah selatan jauh lebih memakmurkan daripada di wilayah utara.

SEMENTARA itu, banyak sekali pusat-pusat perdagangan baru yang tumbuh bukan saja pusat di kota, tempat banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru, tetapi juga di pinggiran maupun di luar kota. Adapun yang harus dicatat dari masa ini, untuk kali pertama berlangsung tata cara pertukaran mata uang, yang menunjukkan betapa perdagangan Negeri Atap Langit telah memasuki babak baru.

Dalam ilmu pengetahuan, Wangsa Tang banyak menyumbang kepada perkembangan ilmu perbintangan, obat- obatan, dan cara-cara mencetak. Ilmuwan perbintangan terkenal, rahib Y ixing, adalah orang pertama yang berhasil mengukur garis bujur bum i. Adapun Raja Obat Sun Simiao, menulis buku pengobatan Qianjin Fang atau Seribu Catatan Emas Penyembuhan yang merupakan harta karun dalam dunia obat Negeri Atap Langit.

Namun entah kenapa yang sangat menarik perhatianku adalah catatan para rahib itu tentang para penyair. Semasa pemerintahan Wangsa Tang, banyak sekali penyair di Negeri Atap Langit. Tidaklah biasa bahwa jum lah penyair yang luar biasa sangat banyak dalam masa pemerintahan siapa pun di negeri mana pun, tetapi hal itu dimungkinkan semasa pemerintahan Wangsa Tang. Diawali dengan Chen Zi'ang, muncullah Lu Zhaolin, Luo Binwang, Wang Bo, dan Yang Jiong, yang segera disusul para penyair yang mengukuhkan masa keemasan tersebut, seperti Li Ba i, Du Fu, Cen Shen, dan Wang Wei. Ini masih disusul Bai Juyi, Li He, dan Han Yu. Para rahib itu seingatku mencatat, puisi mereka sangat beragam, mulai dari kehidupan di pedalaman, bidang kehidupan yang penuh kedamaian, cerita sejarah, dan cerita khayalan. Bukan hanya puisi, tetapi cerita panjang pun, yang sejak dahulu kala disebut Chuan Q i, mulai berkembang semasa Wangsa Tang, ketika mulai terdapat kerangka cerita yang lengkap dan berbagai macam watak. Cerita panjang itu juga mulai bercerita tentang kenyataan hidup sehari-hari, seperti yang berjudul Zhenzhong Ji, Yingy ing Zhuan, dan Liwa Zhuan.

Tentu perhatianku tertarik pula kepada catatan para rahib tentang kehidupan igama di Negeri Atap Langit itu. Dari berbagai catatan, dapat kusimpulkan secara ringkas bahwa hubungan luar negeri telah menyemarakkan kehidupan negeri itu, karena tak hanya manusia yang datang bersama barang dagangan, tetapi juga keyakinan dan kepercayaannya. Maka apabila orang-orang datang belajar dari Jepun dan Korea, orang-orang yang datang dari wilayah Arab membawa merica, zamrud, dan Islam. Sejak awal Wangsa Tang berdiri, kebijaksanaan pemerintah dalam perkara igama penuh dengan kemakluman. Setidaknya Buddha dan Dao mempunyai sangat banyak penganut di Negeri Atap Langit. Semasa pemerintahan Maharaja Taizong, seorang bhiksu terkenal bernama Xuan Zang pergi mencari sutra Buddha ke Jambhudvipa. Melalui perjalanan yang susah payah, akhirnya ia mendapatkan 657 sutra, yang untuk menyimpannya perlu dibangun Kuil Angsa Liar Perkasa.

Dalam menerjemahkan sutra-sutra tua, para bhiksu semasa Wangsa Tang secara bertahap menyusun tatacara yang matang untuk menangani berbagai aliran dalam masyarakat Buddha. Bersama dengan pesatnya pertumbuhan Buddha, berbagai igama dari negeri-negeri asing seperti yang dilambangkan tanda bernama salib dan igama orang-orang Semenanjung Arab yang membuat mereka disebut orang- orang muslim, semakin memperkaya dunia Negeri Atap Langit. Kisah tentang Xuan Zang yang mengembara ke Jambhudvipa untuk mendapatkan kejelasan mengenai Buddha, karena beragamnya aliran Buddha di Negeri Atap Langit yang dapat membingungkan seorang pelajar sejati, bagiku sangatlah mengagumkan.

Ajaran Buddha memasuki Negeri Atap Langit dari Jambhudvipa semasa kekuasaan Wangsa Han jauh sebelumnya, terutama sebagai igama para pedagang asing, dan tersebar bersama jatuhnya Wangsa Han dalam suatu babak yang disebut Masa Perpecahan, ketika Negeri Atap Langit terus menerus diharu biru oleh kekacauan, perang, dan kemalangan. "Aku mengajarkan penderitaan," demikian Buddha berkata, "dan bagaimana menghindarinya."

MENURUT catatan para rahib yang kubaca dengan kemampuan berbahasa seadanya, ajaran semacam itu sangat berbeda dari yang dianut Wangsa Han, yang sebetulnya merupakan tafsiran resmi negara atas Kong Fuzi atau campuran kepercayaan gaib, sihir, dan ajaran Dao, yang akibatnya menjadi tindak kesewenangan yang membuat Negeri Atap Langit terpecah-pecah saat itu.

(Oo-dwkz-oO)

SEPERTI yang kubaca, masa muda Xuanzang berlangsung pada saat Negeri Atap Langit mengalami penyatuan kembali semasa Wangsa Sui yang pendek usia. Sebagai anak pandai diterimanya beasiswa untuk belajar Kuil Tanah Murni. Ketika Wangsa Sui runtuh pada 618, Xuanzang menyelamatkan diri Chang'an tempat Wangsa Tang menyatakan pengambilalihan kekuasaannya. Ia berpindah ke Chengdu di pedalaman Sichuan, tempat ratusan rahib juga mengungsi. Kemudian ia menjelajah ke segenap pelosok, berguru kepada para rahib setempat tentang apa saja yang mereka ketahui perihal ajaran Buddha. Lantas ditemukannya betapa di antara mereka sendiri pun terdapat perbedaan yang sangat besar dalam pemahaman ajaran, dan segera menyadari sangat terbatas dan membingungkannya ajaran Buddha di Negeri Atap Langit, karena kekurangan naskah resmi yang menjadi patokannya.

Naskah-naskah Buddha di Negeri Atap Langit telah diterjemahkan pada saat dan tempat yang berbeda-beda, oleh para penerjemah yang berbeda-beda pula t ingkat kemampuan dan pemahamannya atas pokok-pokok ajaran Buddha. Bahkan berlangsung terjemahan atas terjemahan atas terjemahan lagi melalui berbagai bahasa sepanjang Jambhudvipa dan wilayah tengah benua di utara Negeri Atap Langit. Xuanzang dapat menyaksikan bahwa di balik kekacauan ini terdapat Kebenaran besar, tetapi kebenaran yang hanya dapat terdapat pada naskah-naskah asli yang belum terubahkan sama sekali. Ini akan berujung dengan suatu kepergian ke Jambhudvipa untuk mengambilnya. Rahib Faxian telah pergi ke Jambhudvipa antara 399 dan 414 sebelumnya, dan Xuanzang telah pula mempelajari catatan-catatannya. Diketahuinya bahkan di Jambhudvipa pun terdapat berbagai aliran penafsiran ajaran Buddha, dan ia terutama tertarik untuk menguasai naskah Sansekerta dari yoga sastra, yang mengajarkan bahwa ''yang di luar tak ada, tetapi yang di dalam ada, segalanya hanyalah kegiatan jiwa.''

Itulah dasar Aliran Hanya Kesadaran Buddha yang kemudian didirikan oleh Xuanzang di Negeri Atap Langit. Sebagai pemikiran tak benda aliran ini tidaklah banyak pengikutnya, tetapi pengaruhnya berlangsung lama. Xuanzang masih berusia 28 ketika ia mengawali perjalanan ziarahnya ke Jambhudvipa, ziarah yang mempunyai suatu tujuan, demi kepentingan orang banyak dan bukan pribadi, yakni membawa naskah-naskah asli ke Negeri Atap Langit demi penyelamatan jiwa-jiwa yang tersesat. Selama enam belas tahun, ia melakukan perjalanan dari Chang'an me lalui Gansu, melewati kota-kota oasis di sekitar Gurun Taklamakan, menuju wilayah tengah benua, melintasi berbagai negeri menuju Jambhudvipa.

Sepulangnya ke Negeri Atap Langit, ia menulis penjabaran yang rinci tentang letak tempat-tempat yang dilaluinya, dengan catatan atas orang-orang, bahasa-bahasa, maupun kepercayaan-kepercayaannya. Kemudian catatan ini menjadi kitab Xiyuji atau Catatan atas Wilayah-wilayah Barat. Tanpa disengaja, sebetulnya dalam perjalanan pulang ke Chang'an, Xuanzang melewati Dunhuang, tempat ia mendapatkan pengawalan dari Khotan atas perintah sang maharaja. Meski begitu para rahib Kuil Pengabdian Sejati yang catatannya kubaca tak berani memastikan, siapakah kiranya orang yang tergambar di dinding salah satu gua di sana, apakah Xuanzang atau bhiksu pengembara yang lain.

Dalam perjalanan ke Jambhudvipa ia melewati banyak kerajaan. Di Turfan, rajanya bermaksud menahannya, sampai pada tahap tidak membolehkannya berlalu, dan hanya terpaksa menyetujuinya setelah Xuanzang mogok makan. Sang raja begitu terperangah sehingga menyediakannya pengawalan dan perbekalan untuk s isa perjalanannya. Bahkan sang raja mengirim duapuluhempat surat perkenalan kepada kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tengah benua yang akan dilalui Xuanzang. Mereka melanjutkan perjalanan ke oasis Kucha, salah satu tempat pemberhentian sepanjang Jalur Sutera, tempat penguasa Tokharia yang bermata biru dan berambut merah serta menganut ajaran Buddha menyambutnya. Di sanalah ia mendapat peluang berdebat dengan kaum Hinayana, yang mengikuti jalan Perahu Kecil untuk mencaopai pencerahan, yang oleh kaum Mahayana dianggap kurang cerdas atau lebih rendah mutunya daripada jalan Perahu Besar, yang merupakan bentuk ajaran Buddha pada umumnya di Negeri Atap Langit. Perdebatan semacam itu berlangsung terus selama perjalanan Xuanzang, yang menambah pengetahuannya atas berbagai aliran dalam penafsiran ajaran Buddha itu sendiri. SELAMA tujuh hari perjalanan melintasi pegunungan Tianshan, tak kurang dari empat belas orang, hampir separo rombongan itu mati kelaparan atau kedinginan dan membeku. Mereka pergi ke perkemahan Yehu, seorang khan di wilayah Turk, tempat surat pengantar raja Turfan sangat membantu. Khan ini pun menganjurkan agar Xuanzang tidak pergi lebih jauh lagi, tetapi akhirnya memberikan seorang pemandu berbahasa Negeri Atap Langit kepadanya, yang menemaninya sampai ke wilayah tengah benua. Dilewatinya patung raksasa Buddha yang dipahatkan pada dinding tebing di Bamiyan, diceritakannya rincian patung tersebut, dan dilanjutkannya perjalanan sampai ke Tashkent dan Samarkand, bahkan masih terus sampai Bactria di dekat Persia.

Penguasa tempat itu adalah Tardu, putera tertua Yehu, dan ipar raja Turfan. Isteri Tardu telah meninggal, dan ia pun lantas menikahi adik perempuannya sendiri, yang ternyata kemudian meracuninya. Adik perempuan itu, bersama kekasihnya, lantas merebut kekuasaan. Saat itulah Xuanzang berada di sana dan bertemu dengan Dharmasimha, yang mempelajari ajaran Buddha di Jambhudvipa; dan berjumpa pula dengan Prajnakara, seorang rahib dari wilayah dekat Kashmir. Demikianlah Xuanzang semakin dalam mengenali dan memasuki lingkungan kebudayaan Jambhudvipa, meskipun belum melintasi Hindukush menuju Jambhudvipa itu sendiri.

Ketika ia menyeberangi Sungai Kabul, ia semakin dekat ke tempat-tempat berbagai peristiwa berlangsung dalam hubungannya dengan kehidupan Sang Buddha. Ajaran Buddha itu sendiri telah mengalami kemunduran di Jambhudv ipa pada saat kedatangan Xuanzang, sementara banyak kuil-kuil termasyhur yang pernah dipenuhi para rahib telah ditinggalkan dan menjadi reruntuhan...

Ia mengunjungi Sravasti, yakni Balairung Besar yang menjadi tempat Buddha bersabda menyampaikan ajaran- ajarannya, maupun Kapilavastu, tempat kelahirannya, serta Kusinagara, tempat Buddha meninggal dan diperabukan. Menurut catatan para rahib Kuil Pengabdian Sejati yang mengulas isi kitab Xiyuji tersebut, bagian yang sangat mengharukan adalah ketika Xuansang menceritakan dirinya untuk pertama kali mendekati pohon bodhi tersebut, tempat di bawahnya Buddha telah menerima pencerahan. Saat itu ia menjatuhkan dirinya di depan pohon dengan wajah mencium tanah dan menangis, bertanya-tanya dengan sedih atas dosa macam apa kiranya telah ia perbuat di masa lalu, sehingga lahir dan hidup pada zaman Wangsa Tang di Negeri Atap Langit, dan tidak sezaman dengan kehidupan Buddha sendiri di Jambhudvipa.

Selama delapan sampai sembilan hari ia tak dapat meninggalkan pohon suci itu, sampai beberapa rahib tiba dari Nalanda, kuil yang diakui sebagai tempat terbaik untuk mempelajari ujaran Buddha di Jambhudvipa, dan mengawalnya ke sana. Di Nalanda ia disambut oleh masyarakat sepuluh ribu rahib itu dengan sangat baik. Ia mengarungi se luruh Jambhudvipa, termasuk ke Benggala dan Orissa, bahkan nyaris ke Lanka, seandainya tidak terjadi kerusuhan di sana yang membuatnya sulit menyeberang. Tercatat bahwa ia sempat berada di atas kapal, ditangkap bajak laut yang ingin memanfaatkannya sebagai korban upacara, tetapi badai yang menyapu dari hutan membuat para bajak laut yang percaya takhayul itu ketakutan dan melepaskannya.

Menjelang akhir perjalanannya di Jambhudvipa, Xuansang menemui raja besar penganut Buddha, Harsha, dan menjelaskan tujuan perjalanannya. Segera setelah itu, Harsha mengirim utusan ke Chang'an, mengukuhkan hubungan antarnegara dengan Negeri Atap Langit. Sementara para rahib di Jambhudvipa menganjurkan Xuansang tetap tinggal di negeri mereka, dengan alasan bahwa Jambhudvipa adalah rumah Buddha, sedangkan Negeri Atap Langit bukanlah tempat yang tercerahkan sehingga persaudaraan Buddha akan dapat tercapai di sana. Menurut Xuansang, justru itulah yang menyebabkannya datang untuk mendapatkan naskah-naskah asli, dan karena itulah ia merencanakan kembali ke Negeri Atap Langit.

Selama berada di Jambhudvipa, sepanjang perjalanannya ia telah mengumpulkan banyak naskah dan patung. Setelah merasa tiba saat harus kembali, dilakukannya persiapan yang sungguh-sungguh, mengingat akan dilaluinya wilayah yang berat, sulit, dan berbahaya dalam perjalanannya. Meskipun begitu, ketika diseberanginya Sungai Indus yang mahaluas, bahkan dengan menunggang seekor gajah, sejumlah kitab dan patung terlempar ke sungai karena badai mendadak, dan sebagian hilang. Namun Xuansang yang pantang menyerah kembali ke Jambhudvipa, untuk mendapatkan gantinya sebelum melanjutkan perjalanan. Rombongannya terdiri dari tujuh rahib, duapuluh pemikul barang, sepuluh keledai, empat kuda, dan seekor gajah. Ia berhenti di Kashgar, kemudian Khotan, yang dicatatnya terkenal karena pasar batu permata hijau. Sampai di sini, tampaknya ia telah menjadi tersohor, begitu rupa sehingga maharaja Wangsa Tang menerintahkan raja Khotan agar menyediakan pengawalan bagi Xuansang dan rombongannya ke Dunhuang, dan dari sana ke Chang'an.

Khalayak ramai menyambut kedatangannya di Negeri Atap Langit. Maharaja Taizong berkenan menyambutnya secara pribadi, dan memintanya untuk menuliskan peta wilayah perjalanannya, yang melintasi lebih dari tujuhpuluh kerajaan, secara rinci. Begitulah Xiyuji itu dise lesaikannya pada 646. Sampai saat maut menjemputnya, sang peziarah menerjemahkan ulang semua naskah yang ada, dan diterjemahkannya pula naskah-naskah yang semula tidak dikenal. Ia meninggal dunia taklama setelah menyelesaikan Sutra Berlian yang panjang dan rumit. Terjemahannya yang pernah kudengar dibacakan seorang bhiksu di Kuil Pengabdian Sejati adalah Sutra Hati, yang diungkapkan dan dikutip set iap hari di mana-mana oleh penganut Buddha di Negeri Atap Langit maupun Daerah Perlindungan An Nam.

Lantas kuingat bagaimana seorang rahib mengutip Xunsuang.

jubah keigamaan takperlu diindahkan

tetapi cita-cita kebenaran batin bebas dari debu bumi watak sempurna terlihat melalui seribu jahitan

mutiara dan perhiasan mesti serasi dengan Jiwa Utama diaturlah malaikat melayani dengan hormat

rahib-rahib tulus dikirim memurnikan hidup kita

Begitulah aku melaju di atas kudaku menyusuri jalan setapak di tepi Sungai Merah di luar kota Thang-long ke arah hulu, karena di sanalah terletak Celah Dinding Berlian yang harus dilalui siapapun jika bermaksud mengambil jalan pintas ke Negeri Atap Langit. Sembari memacu kuda secepat- cepatnya pada pagi yang sudah mulai terang langitnya, kuingat segenap penjelasan tentang Negeri Atap Langit yang sempat kubaca. Kubayangkan bukan hanya Xuansang, tetapi juga para rahib lain yang telah melakukan perjalanan panjang untuk meraih pengetahuan sebenarnya atas ajaran Buddha. Kukira perjalanan meraih pengetahuan takhanya berlaku seperti Xuansang yang mengembara ke Jambhudvipa, tetapi juga bagi para rahib yang bermaksud mendalaminya ke Negeri Atap Langit dari Daerah Perlindungan An Nam maupun negara-negara tetangganya.

Maka aku pun tiba-tiba teringat cerita seorang rahib, bahwa setelah Xuansang meninggal, seorang rahib pengagumnya yang bernama I Ching pun berangkat ke Negeri Atap Langit, tetapi melalui laut, sehingga karena itu disebabkan oleh keadaan angin, harus tinggal antara lima sampai enam bulan di Samudradvipa yang menjadi wilayah Kedatuan Srivijaya.

TERNYATA selama tinggal di sana dicatatnya bahwa di wilayah itu ajaran Buddha dipelajari dengan sungguh- sungguh, takkurang dari seribu rahib dari berbagai bangsa tinggal di sana, tempat rahib-rahib Negeri Atap Langit juga datang untuk belajar dari guru-guru Jambhudvipa.

I Ching, seperti pernah kudengar di Jawadwipa, lantas kubaca sendiri di Kuil Pengabdian Sejati, mencatat selama 20 tahun sejak 670-an sampai 690-an. Takkurang dari 25 tahun ia mengembara ke luar Negeri Atap Langit dan ketika kembali pada 695 membawa sekitar 4.000 naskah yang memuat

500.000 seloka Tripitaka, yang tampaknya sempat tertinggal di Kedatuan Srivijaya dan mesti diambilnya kembali. Lantas dari tahun 700 sampai 712 diterjemahkannya 56 kitab dari Jambhudvipa menjadib 230 jilid naskah yang bisa dibaca di Negeri Atap Langit.

Aku memacu kudaku tanpa pernah memperlambatnya untuk menjamin diriku tiba lebih dulu dari rombongan Harimau Perang di Celah Dinding Berlian. Setelah melalui celah itu terdapat sejumlah jalan kecil yang dapat dilalui menuju jalan besar ke Kunming, kota besar pertama di wilayah Negeri Atap Langit yang terdekat dengan Thang-long. Namun jika kehilangan jejak setelah melalui celah, tiada jaminan akan dapat melacaknya, karena banyaknya jalan kecil itu yang berada di dalam hutan, maupun banyaknya celah demi celah di antara gunung-gunung batu sete lah hulu Sungai Merah dilalui. Iblis Suci Peremuk Tulang memastikan bahwa Celah Dinding Berlian adalah satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk menanti rombongan Harimau Perang, terutama, tentu saja, karena aku tidak menguasai medan.

"Dikau pun tidak dapat mengikuti mereka dari dalam kota, karena mereka akan memergokimu ketika tiba di padang- padang terbuka di luar kota," ujarnya.

Iblis Suci Peremuk Tulang sudah tentu ingin pula pergi bersamaku, karena kematian Amrita baginya terasa sangat tidak adil, dan bagi rahib yang telah memilih jalan pemberontakan ini, rasa keadilan sangatlah banyak berbicara. Namun bhiksu kepala te lah menasehatinya untuk membangun kembali kuilnya di Sungai Hitam.

"Rakyat kecil memerlukan ajaran Buddha yang bisa dipertanggungjawabkan," kata bhiksu kepala pula, "bukan ajaran Buddha yang bercampur dengan takhayul. Cerdaskanlah mereka seperti dirimu, dan ajarkan mereka keberanian untuk berjuang."

Itulah sebabnya aku tidak mempunyai teman perjalanan. Ketika berpisah dengan Amrita dan menyusuri pantai Campa sampai ke An Nam, di setiap pelabuhan masih dapat ditemukan seseorang berbahasa Malayu maupun bahasa yang digunakan di Jawadwipa, sementara aku sudah sedikit bisa berbahasa Khmer. Betapapun pengaruh kebudayaan yang dibawa Wangsa Syailendra di Tanah Kambuja sangatlah jelas.

Di sini sungguh keadaannya berbeda. Sejauh telah kupelajari wilayah yang harus kutempuh, dengan pembayangan yang amat sangat sulit tentang keadaan sesungguhnya, meski setidaknya beberapa hal tentang Negeri Atap Langit telah dapat kuketahui, takdapat kuhindarkan perasaan betapa aku merasa berlayar di lautan keterasingan.

Kuda yang kupacu adalah kuda padang rumput yang diternakkan suku-suku pengembara. Ini berarti aku mendapatkan kuda terbaik dari peternak terbaik di wilayah ini. Namun sebetulnya istilah peternak tidaklah terlalu tepat, karena mengandung pengertian menghasilkan kuda sebanyak- banyaknya, sedangkan suku-suku tersebut tidak bermaksud menghasilkan kuda sebanyak-banyaknya melainkan menghasilkan kuda-kuda pilihan. Kuda terbaik diberikan kepada manusia terbaik. Adapun kuda terbaik dihasilkan oleh penjagaan kemurnian turunan, maupun persilangan cermat, dengan tujuan mendapatkan kuda yang takhanya kuat, perkasa, dan kencang larinya, tetapi juga memiliki kecerdasan dan kesetiaan. Kudaku adalah kuda hitam yang didapatkan dari suku Uighur atau disebut juga Huihe. Demikianlah beragamnya bahasa-bahasa Negeri Atap Langit sehingga kata-kata bisa begitu berbeda untuk menunjuk hal yang sama. Suku Huihe adalah bagian dari suku-suku pengembara di utara Negeri Atap Langit yang telah membuat perjanjian dengan Wangsa Tang.

TELAH kuketahui serba sedikit, bahwa untuk menghadapi Pemberontakan An Lushan yang berlangsung dari tahun 755 sampai 762, berlangsung kerjasama segitiga antara Wangsa Tang dengan penguasa Tibet atau Tubo yang memerintah sejak 629, maupun penguasa Uighur atau Huihe yang memerintah sejak 744.

Dengan demikian Wangsa Tang, untuk mengatasi kelemahan yang telah ditimbulkan oleh Pemberontakan An Lushan, terpaksa membina persekutuan dengan para penguasa di utara maupun selatan wilayahnya, yang pada masa sebelumnya tentu lebih baik ditundukkannya. Suatu persekutuan yang diterima, karena tentu saja dipertimbangkan segi-seginya yang menguntungkan. Setidaknya terdapat empat kebijakan utama Wangsa Tang yang berhubungan dengan suku-suku di luar batas negerinya. Pertama, mengirim pasukan untuk menangani pelanggaran batas oleh para bangsawan suku-suku tersebut; kedua, membiarkan pemimpin suku-suku pinggiran tersebut memerintah di wilayah mereka sendiri, dengan tatacara pengaturan dari pemerintahan Wangsa Tang; ketiga, menikahkan puteri-puteri istana Wangsa Tang dengan para pemimpin suku, untuk membina rasa kesetaraan dua pihak; keempat, berdagang dan saling menukar penghargaan, seperti dengan Huihe berlangsung pertukaran sutera dan kertas dengan kuda.

Jadi kuda hitam yang kutunggangi ini dapat berada dalam penanganan istal pemerintah Daerah Perlindungan An Nam karena datang dari utara, menyeberangi Negeri Atap Langit, untuk keluar lagi ke selatan. Ini menyangkut jarak beribu-ribu li. Kecerdasannya membuat kudaku dapat melaju tanpa kuarahkan lagi. Apabila padang ilalang di tepi sungai telah habis, dan jalan menyempit memasuki hutan, dan keluar lagi di pegunungan batu, ia seperti telah mengetahui jalan yang harus ditempuhnya, karena tentu memang pernah melewatinya.

Maka sembari melaju, aku dapat mengarahkan perhatian atas pemandangan di depanku dan betapa aku sungguh terperangah dan terpesona. Pegunungan batu itu puncak- puncaknya serba menjulang dan jurangnya curam serta dalam. Aku bagaikan berada di lautan puncak-puncak gunung batu yang segalanya berwarna kelabu. Apabila kemudian aku tiba di ketinggian, maka kabut semakin mengelabukan segalanya, membuat aku tenggelam dalam dunia kelabu. Kini aku ingat, pemandangan semacam ini sering terdapat dalam gambar-gambar yang menghiasi kitab-kitab dari Negeri Atap Langit. Meski kemampuanku mengeja aksaranya masih terbatas, sangatlah kunikmati gambar yang menjelaskan kata- kata tentang tempat atau pemandangan yang diceritakannya, dan sekarang betapa pemandangan itu menjelma.

Pemandangan. Baru kusadari betapa bertuahnya kata itu. Kudaku yang takperlu membuatku terlalu peduli dengan tali kekang, karena ia tahu di mana dapat melaju kencang dan di mana harus berjalan pelan, bahkan melangkah hati-hati menuruni jurang, dan juga di mana berhenti sebentar demi pesona sebuah pemandangan, membuat diriku mendapat banyak kesempatan mencerap segala sesuatu sejauh mata memandang. Maka kuserap semuanya ke dalam diriku pemandangan langit bertemu dengan permukaan lautan kelabu gunung batu itu, tempat cakrawala membentang kekelabu-kelabuan sejenak sebelum lenyap segalanya di telan kabut yang sebentar pekat sebentar berpendar. Kudaku tahu bagaimana berjalan di antara kabut yang memekat tiba-tiba dan tidak memperlihatkan apapun selain bunyi denging tanpa suara yang baru kemudian akan ternyatakan berasal dari dalam hati. Ketika kemudian kabut itu menjauh bagaikan arakan mega tertiup angin maka tampaklah kembali pemandangan yang ternyata telah berubah. Ada kalanya kudaku membawaku ke puncak gunung batu, tempat pemandangan menghampar dapat disaksikan dari tepi jurang yang curam, di kala lain kudaku membawaku turun dalam kedalaman jurang, sehingga perjalanan menyadarkan betapa pemandangan bukanlah segala sesuatu yang tampak di depan mata melainkan dunia tempat kita berada di dalamnya. Suatu kesadaran yang terasakan bagai keberadaan semesta yang menelan kita.

Mungkinkah aku menyatakan sesuatu sebagai berada di hadapanku, sebagai pemandangan yang dapat kurinci dan kuceritakan, seolah-olah aku berada di luar pemandangan itu, sementara aku ternyata berada di dalamnya? Aku hanya dapat menyatakan keberadaan, sedangkan keberadaannya ditentukan oleh pemandangan yang selalu berubah. Begitulah kuarungi pemandangan demi pemandangan dalam alam kekelabuan serba luas yang memberikan kepadaku suatu gejolak dan gelombang perasaan.

Jadi meskipun denging tanpa suara kemudian teredamkan dan menghilang dari hatiku, tetap saja di atas kudaku aku bagaikan berlayar di lautan suasana jiwa yang terkadang tenang dan terkadang bergelombang. Bukanlah bahwa pemandangan dengan pesonanya akan mengharu biru dan mengacaukan perasaan, melainkan sekadar membuat nyata betapa rasa di dalam jiwa memanglah ada, yang pada gilirannya dapat menyeruak dan menjelma.

Kemudian kusadari betapa kita dapat menyaksikan dan menyatakan pemandangan dengan cara yang sama sekali berbeda. Seperti ketika menyatakan keluasan suatu pemandangan seperti misa lnya dengan pengalamanku mengarungi lautan, kesan keluasan semesta kudapatkan karena seolah tiada batas antara kiri dan kanan sehingga arah bahkan seolah hilang dan hanya dapat dilacak dengan membaca susunan bintang. Namun ketika menaik turuni lautan gunung batu seperti ini, kesan keluasan kudapatkan karena bagaikan tiada batas antara atas dan bawah sehingga hanya dapat digambarkan ketiada batasannya dengan lukisan- lukisan terindah sebagai gulungan terbuka dari atas ke bawah.

Demikianlah kusaksikan kini tebing-tebing curam mahatinggi dengan garis lekukan pada dinding tebing yang memanjang dari atas ke bawah, timbul tenggelam dalam kabut yang bergerak bagaikan perahu berlayar perlahan- lahan. Dalam dunia seperti ini mataku tidak memandang dari kiri ke kanan, melainkan dari atas ke bawah, atau juga bawah ke atas, sebetulnya sekaligus karena pemandangan yang akan kuceritakan ini terlihat dan berlangsung juga sekaligus dan tidak satu per satu.

Mega-mega kelabu berarak menelan dan melepaskan puncak-puncak gunung batu yang menjulang bagaikan menyapa langit, sementara di dinding tebing-tebingnya tampak menempel jalan setapak melingkar-lingkar dengan sejumlah rombongan merayap menyusurinya. Di antara sa lah satu dinding itu terdapatlah air terjun kecil dari sebuah sumber entah di mana di dalam gunung, yang tidak menderu berbuncah-buncah tetapi membentuk aliran air jernih dengan arus cepat melingkar-lingkar seperti jalan setapak itu meski di beberapa tempat memisahkan diri, menyeberang jalan, dan kadang-kadang juga menjadi air terjun lagi untuk melompati beberapa lingkar jalan setapak.

Segalanya tampak jelas sekali pandang. Pohon yang m iring di kelokan tebing, burung-burung yang membangun sarang di atasnya, yang sesekali berkepak menyeberang jurang, maupun gubuk yang tampak begitu nyaman bertengger di tepi jurang. Siapakah kiranya yang membuat gubuk seperti itu di tempat tersunyi di dunia seperti ini? Namun tempat ini tidaklah begitu sunyi seperti tampaknya. Bukan sekadar karena kesunyian ini kemudian bergumam, tetapi karena betapapun jalan setapak yang melingkar-lingkar di badan gunung- gemunung batu itu adalah jalan menuju Negeri Atap Langit. Ada sebuah gubuk yang dibangun seolah-olah hanya untuk seseorang yang bermaksud berhenti sejenak untuk merenung- renung sambil menyaksikan pemandangan, tetapi di sudut lain pada lingkaran yang lebih rendah, terdapatlah sebuah pondok yang tampaknya biasa menjadi tempat perhentian, bahkan mungkin pula untuk menginap, dan karena itu tampaknya juga menjadi kedai. Di bawah sekali, nun jauh di sana, kulihat sebuah perahu kecil muncul dari balik tebing dan menghilang kembali. Perahu bertudung para pencari ikan yang memang hanya hidup dari memakan ikan.

Aku menghela napas ketika merasakan betapa pemandangan ini merasuki diriku meski dalam kenyataannya akulah yang berada di dalam pemandangan itu. Dari kejauhan pepohonan dan dinding tebing tampak menyatu dalam warna hijau tua, tetapi dinding tebing terus menyeruak mengelabu ke ketinggian dalam sapuan mega-mega. Kini lebih jelas rombongan orang-orang bercaping yang menghela sejumlah keledai yang membawa beban entah apa pada kedua sisi punggungnya, tampak menyusuri jalan setapak pada dinding tebing nan curam. Sudah berapa harikah mereka berjalan dan masih berapa harikah mereka akan terus berjalan? Mereka masih sangat jauh dan mereka tidak melihatku, tetapi jika kudaku berjalan terus maka pada suatu di hari ke sekian tentu kami akan berpapasan.

Di manakah kiranya Celah Dinding Berlian yang dimaksudkan Iblis Suci Peremuk Tulang? "Jika siang dindingnya menyala karena cahaya matahari dan jika malam tetap cemerlang karena cahaya rembulan," ujarnya. Kukira memang begitulah seharusnya jika disebut sebagai Celah Dinding Berlian. Namun di sini tidak kulihat matahari sama sekali karena segalanya hanya kelabu. Mega-mega kelabu menutupi matahari, kabut mengendap meredam setiap cahaya, dan dinding-dinding tebing raksasa yang serba kelabu mengabu-abukan dunia ke mana pun aku memandang.

Tentu ada yang tidak kumengerti dari keadaan ini sehubungan dengan tugas yang kujalani. Mungkinkah aku mengikuti rombongan Harimau Perang yang dikawal duapuluh pengawal pilihan tanpa diketahui? Bahwa yang diikuti sulit melepaskan diri tentu telah dijelaskan keadaan medan, tetapi tidakkah yang membuntutinya pun nanti akan mudah dipergoki? Kuperhatikan jalan setapak ini, ada yang masih bertanah dan berumput, tetapi tidak kurang dari jalan setapak yang hanya berbatu-batu, yang berarti takmungkin kucari jejaknya di situ. Apabila terdapat sungai dangkal yang cukup panjang untuk dijejaki sebelum menyeberang, maka seorang ahli pencari jejak tak akan mendapatkan sesuatu yang dapat dilihatnya sama sekali.

Aku dapat memperkirakan sampai di mana rombongan Harimau Perang berada, tetapi jika takjuga kutemukan Celah Dinding Berlian maka perasaanku akan lebih sebagai orang yang diburu daripada memburu. Sedangkan dari pemandangan seluas ini takdapat kuperkirakan di sebelah mana tempatnya Celah Dinding Berlian. Betapapun disebutkan, bahwa jika tidak kunantikan rombongan Harimau Perang di celah itu, akan sulit bagiku untuk memperkirakan, percabangan jalan mana yang telah mereka lalui.

Kudaku bergerak kembali. Aku yakin Iblis Suci Peremuk Tulang tidak sembarangan memberi keterangan. Jika tidak ada satu dinding pun yang berkilat menyilaukan seperti berlian tertimpa cahaya, berarti aku masih harus melalui dan melampaui seluruh jalan setapak yang melingkar-lingkar di segenap gunung batu yang terlihat olehku sebagai bagian dari segenap pemandangan. Dengan kudaku bergerak, sudut pandangku pun berubah, dan dengan sendirinya pemandangan juga berubah. Jalan setapak itu tak selalu setapak dan tak selalu di tepi dinding curam yang mengerikan, adakalanya menembus masuk gua batu yang gelap dan dingin dengan tonjolan batu-batu runcing di atapnya. Namun begitulah kudaku tahu bagaimana mesti melangkah. Ia sungguh tahu kapan dapat melaju dan kapan berjalan biasa, dan kalau perlu melangkah dengan sangat amat hati-hati di antara batu-batu tajam.

Ini memang kuda yang luar biasa. Suatu ketika ia diam tidak bergerak tetapi mendengus. Semula aku tidak mengerti mengapa ia diam mematung dengan telinga tegak seperti itu. Kemudian kulihat sesuatu bergerak di antara batu-batu gunung yang besar. Ternyata itu harimau gunung yang berwarna kelabu, seperti kucing tetapi besar, dan tampak sangat cekatan. Ia bangkit seperti siap me loncat, warna kulitnya sungguh sama dengan batu-batu di sekitarnya. Jika bukan berkat kudaku tentu aku tidak akan mengetahuinya, meski takjelas bagiku yang diincarnya kuda atau diriku.

Kudaku diam dan aku pun diam menanti serangan. Harimau gunung itu menyeringai. Mataku bertemu pandang dengan matanya. Di tengah alam, binatang membuat kesalahan lebih sedikit daripada manusia. Ia memang bangkit, tetapi kemudian melangkah pergi, menghilang tanpa suara di balik bebatuan menjulang. Kudaku mendengus lega dan kami melanjutkan perjalanan.

(Oo-dwkz-oO)

Aku telah mengganti jubah rahib yang dipinjamkan Kuil Pengabdian Sejati, kembali ke baju pengemis compang- campingku yang lama, meski tentu bukan baju mus im dingin lagi. Rambutku masih gundul karena aku pergi belum lagi sehari, tetapi tidak bercukur sehari ini saja sudah membuat wajahku mungkin berubah, artinya kembali seperti semula. Mungkinkah aku sebaiknya membuatku wajahku tetap kelim is agar siapapun yang pernah melihat diriku tidak mengenaliku?

Rombongan yang akan kuintai dan kuikuti ke mana pun pergi adalah rombongan pengawal yang menjaga Harimau Perang, seseorang yang terangkat namanya karena kegiatan rahasia. Takmungkin rasanya ia tidak akan mengenaliku jika wajahku kembali lusuh seperti ketika bergabung dengan pasukan Amrita. Jadi kuputuskan bahwa aku harus selalu berwajah kelim is, yakni selalu mencukur kum is, janggut, dan berewokku setiap hari.

BERSAMA dengan itu kurasa juga sudah tidak semestinya aku berbusana lusuh dan tidak terurus, selain karena justru mengundang kecurigaan karena akan kentara hanya menyamarkan wajah, bukan tak mungkin mengingatkan kembali kepada sosokku yang dahulu. Jika istilah Pendekar Tanpa Nama telah disebutkan para mata-mata pemerintah Daerah Perlindungan An Nam, itu berarti diriku bukan hanya dilihat, melainkan diperhatikan dengan cermat.

Namun untuk sementara ini aku tak tahu bagaimana dapat bertukar baju dengan yang lebih menyamarkan diriku, lagipula aku dimaksudkan membuntuti rombongan Harimau Perang tentu tanpa terlihat sama sekali. Betapapun, aku harus menjaga segala kemungkinan, yakni seandainya mereka memergoki betapa seseorang telah membuntutinya, maka sangatlah tidak menguntungkan kiranya jika diketahui bahwa seseorang itu adalah aku. Sudah jelas kiranya bahwa jika diriku membuntuti mereka, itu pasti ada hubungannya dengan Amrita yang tewas dengan cara begitu rupa. Itu juga dapat diartikan bahwa seseorang akan membuntuti mereka atas nama pembalasan dendam. Bukankah dendam membara memang merupakan salah satu sumber segala cerita dalam dunia persilatan? Jika ini menjadi keyakinan mereka, memergoki kehadiranku tentu sama dengan kewajiban membunuhku. Maka tak hanya tidak boleh terlihat, melainkan jika terlihat juga tidak dikenali sama sekali. Namun sekarang, bahkan Celah Dinding Berlian belum juga menampakkan diri.

Setelah seharian berjalan, kurasa dapat kukatakan aku telah ditelan pemandangan dan kini berada di perut pemandangan itu, meski aku merasa telah terus-menerus menelan pemandangan itu sendiri. Kukira hubungan manusia dengan dunia tidaklah terlalu sederhana, karena sementara dunia bagai menelan dan menempatkan manusia di dalamnya, keberadaan dunia hanyalah mungkin karena pembermaknaan manusia. Masalahnya, seberapa jauh pembermaknaan manusia atas dunia dimungkinkan, jika ia tak mungkin keluar dari dunia untuk mampu melihat dunia seutuhnya, melainkan selalu berada di dalam dunia itu sendiri?

Nah, jika pengambilan jarak atas dunia t idak dimungkinkan, cara apakah yang dapat dianggap lebih sahih untuk mengenali dunia?

Kucoba mengingat segala pelajaran dan pengetahuan yang pernah kudapatkan, dan kuingat cerita tentang suatu aliran Buddha yang disebut sebagai Chan. Dalam aliran ini pengambilan jarak atas dunia, dengan cara mengolah pemikiran dalam pembelajaran atas kitab-kitab suci ditolak. Dalam Chan terwujudkan kecenderungan penafsiran ajaran Buddha di Negeri Atap Langit yang mementingkan pengalaman langsung, didorong pula oleh kecenderungan budaya mereka yang mengidamkan kebatinan. Chan merendahkan tulisan dan menegakkan pemahaman berdasarkan naluri, dan pengikutnya diyakinkan bahwa cara yang paling langsung dan mangkus untuk meraih kenyataan tertinggi. Demikianlah penghargaan atas pengalaman, kebatinan, dan bukti-bukti dapat berjalan bersama. Bagi penganut Buddha aliran Chan, bukti-bukti pengalaman adalah yang dicari, sedangkan penyusunan kerangka nalar di sekitar mereka dengan tersipu dihindari. Bagiku ini berarti bahwa jika pengambilan jarak terhadap dunia, yang memang mustahil dilakukan se lama manusia berada di dalamnya, tidak dianggap memungkinkan, kemungkinan yang ditawarkan aliran Chan justru adalah peleburan dengan dunia itu. Bahwa dunia ini tidak untuk dipikirkan, melainkan untuk dialam i. Sedangkan untuk menjamin tercapainya pengalaman hakiki, yang sebetulnya adalah pencerahan itu sendiri, diperlukan latihan keras menyangkut olah pernafasan dan pemusatan pikiran, demi tercapainya dhyana sempurna.

Melebur dengan dunia berarti juga melebur dengan alam, bagaimanakah hal itu bisa dilakukan? Ah! Bagi penganut Chan, bepikir dengan penalaran semacam inilah yang harus dihindarkan.

Jadi baiklah kuserahkan diriku kepada alam dan kepada kudaku, yang melangkah di jalan-jalan setapak di antara jurang curam dan puncak-puncak gunung batu. Kabut membuat segalanya kelabu dan berembun. Daun-daun dan rerumputan berkilat karena basah. Kesunyian yang mengingatkanku kembali kepada AmritaO

(Oo-dwkz-oO)