Nagabumi Eps 143: Tipu Daya Bhiksu Kepala

Eps 143: Tipu Daya Bhiksu Kepala

LANGIT masih menyisakan semburat cahaya senja yang kemerah-merahan, meski suasana kuil telah menjadi gelap. Suasana yang paling tepat bagi suatu tindak penyusupan, tetapi bahkan penyusup setinggi itu pun ilmunya telah juga gagal. Pantaslah Harimau Perang tak bisa sembarangan mengirim orang. Jika untuk sepuluh orang yang melakukan penyusupan pertama waktu itu dise wanya kelompok racun Kalakuta, maka senja ini dipinjamnya tangan Golongan Murni. Jika untuk yang pertama, pembunuhan macam apa pun, selama menggunakan racun, dapat dipesan dengan bayaran; maka untuk yang kedua, bayaran sama sekali tidak diperlukan, karena segenap tindak dilakukan atas nama cita- cita kesempurnaan, bahwa siapa pun mereka yang menentang kekuasaan Negeri Atap Langit layak dimusnahkan. 

Mungkinkah bhiksu kepala adalah pemimpin pemberontak itu sendiri? Jika tidak, mengapa Harimau Perang ataupun Golongan Murni mengirimkan seseorang untuk membunuhnya? Kusimpulkan saja bahwa Kuil Pengabdian Sejati set idaknya adalah bagian dari jaringan mata rantai kaum pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam, yang tentu diketahui oleh Harimau Perang, tetapi bukanlah yang dibentuknya sendiri, sehingga tak dapat dikuasainya untuk bergabung dengan pemerintah. Sebaliknya, besar kemungkinan ia pun gelisah dan merasa jiwanya terancam, ketika diketahuinya Amrita menyerbu masuk sampai ke dalam kota hanya untuk memburu dirinya.

SESEORANG telah membuka rahasia dan ia tahu kedudukannya telah terbongkar. Benar tidaknya simpulan yang tentu masih sangat sementara ini belum dapat kuketahui, tetapi setidaknya membuat aku lebih penasaran membuntutinya dalam perjalanan ke Chan'an, dan tentunya mewajibkan diriku untuk belajar lebih jauh lagi tentang permainan kekuasaan di Negeri Atap Langit.

Para bhiksu penjaga berdatangan tanpa suara dengan toya di tangan mereka. Mereka memandangku dengan penuh hormat karena pertarungan singkat di balik tabir-tabir lembaran senja yang kemerah-merahan itu, yang hanya dapat dilakukan dengan kecepatan yang amat sangat, meski dalam kenyataannya bukan diriku me lainkan bhiksu kepala yang telah menyelamatkan dirinya sendiri. Bagiku tingkat kepandaian seperti itulah yang selayaknya berada di tingkat para naga, tingkat ilmu silat yang sangat amat sulit ditandingi.

Mereka membolak-balik mayat itu dan menggeledah isinya. Masih terdapat lagi sejumput jarum bercahaya hijau redup, pertanda sangat beracun, dan sebuah sabit pendek yang dipangkalnya terukir gambar pedang bersilang, sama dengan rajah di dadanya. Tidak ada yang dapat digali lebih lanjut dari penemuan itu se lain menegaskan keberadaan dirinya yang mewakili Golongan Murni. Justru kepastian itulah yang membuat setiap perhitungan harus mempertimbangkan adanya jebakan: mungkinkah ada pihak yang ingin kami mengira penyusupan ini adalah tanggung jawab Golongan Murni?

Seorang bhiksu penjaga datang menggamitku.

"Yang Mulia Bhiksu Kepala mengharapkan kunjungan Pendekar Tanpa Nama," ujarnya dengan sopan. Aku pun mengangguk dan menjura, lantas segera melangkah masuk ke dalam biliknya yang diterangi cahaya lilin.

"Maafkanlah sahaya, Bapak," kataku, "gerakannya terlalu cepat untukku, sehingga Bapak harus membuang tenaga baginya."

"Pendekar Tanpa Nama, janganlah terlalu merendahkan diri, karena dikau memperlambatnya maka dapat kukembalikan jarum-jarumnya," jawabnya, "sejak dari luar tembok ia telah me lenting dari genting ke genting di balik keremangan sebelum kau susul di udara."

Aku terkesiap. Jika semua yang dikatakannya benar, tentu tingkat ilmu silatnya tinggi sekali, karena diketahuinya itu semua sembari membaca sutra. Tapak-tapak nyaris tanpa suara di atas genting; desir, desis, dan desau yang tidak mungkin terdengar dari tempat yang begitu jauh; dan tentu kelebat jarum-jarum beracun yang terlalu cepat dan tanpa bunyi itu; tak mungkin terdengar jika bhiksu kepala tua itu tak pernah, bahkan masih, menguasai ilmu silat yang luar biasa tinggi.

"Bapak jangan merendah, saya masih harus banyak belajar," kataku menunduk, "berikanlah kepada saya pelajaran itu."

Bhiksu kepala itu menghela napas.

"Pendekar Tanpa Nama," katanya, "dikau harus membunuhku."

Aku tertegun sejenak, tetapi cepat mengerti, bahwa Harimau Perang harus dijebak, yakni mengira usahanya untuk membunuh bhiksu kepala telah berhasil. Namun bagaimana caranya?

"Mendekatlah kemari pendekar," katanya lagi, "kita akan belajar bagaimana caranya bersandiwara." Aku mendekat, bhiksu kepala membisikkan sesuatu kepadaku, dan aku pun mengangguk mengerti.

Sebentar kemudian aku keluar dari bilik itu, menemui kepala pasukan bhiksu penjaga yang menjadi orang kepercayaan bhiksu kepala.

Lantas sebentar kemudian kami umumkan meninggalnya bhiksu kepala, satu dari dua puluh lima jarum beracun yang dilepaskan penyusup senja itu telah membunuhnya. Hanya karena ilmunya yang tinggi saja lah, maka beliau masih dapat menutup jendela, ketika tubuh penyusup senja tanpa nyawa itu meneruskan laju penyerangan ke arahnya.

(Oo-dwkz-oO)

LANGIT telah sepenuhnya gelap ketika berita ini tersebar ke seantero kota. Dengan segera para pelawat berdatangan ke Kuil Pengabdian Sejati, memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang sangat dihormati segenap warga Kota Thang-long tersebut. Pada sebuah balairung di dalam kuil, disemayamkanlah jenazah bhiksu kepala yang nama maupun gelarnya dalam bahasa Viet sangat sulit kuingat, tak dapat kuucapkan, sehingga menuliskannya pun bagiku menjadi sangat mustahil.

DI dalam balairung para bhiksu dan bhiksuni menyanyikan sutra dengan nada rendah. Ruangan itu penuh sesak, tetapi antara jenazah dan para rahib terdapatlah ratusan lilin menyala yang asapnya membuat mata pedas dan ruangan semakin bertambah panas. Para pelawat dapat menyaksikan jenazah bhiksu kepala di seberang lautan lilin, terbaring seperti orang tidur, bahkan mungkin karena pengaruh asap dan cahaya lilin yang bergerak-gerak, tampak pula seperti orang bernapas. Demikianlah para pelawat yang datang tiada habisnya sepanjang malam akan menyaksikan pemandangan semacam itu dari kejauhan, yang justru membuatku merasa khawatir, karena sesungguhnyalah tubuh bhiksu kepala itu tidak bernapas. Tepatnya ia tidak bernapas melalui hidung, melainkan melalui pori-pori dari kulitnya.

Tentu saja ia masih hidup. Dengan seni pernapasan tertentu yang dicangkokkan kepada yoga langit, yakni seni pernapasan yang mengakibatkan kematian dengan sengaja sebagai pencapaian kesempurnaan, bhiksu tak menjadi meninggal, melainkan seperti meninggal untuk sementara saja, karena jantungnya masih berdetak dan paru-parunya tetap bekerja. Aku hanya diminta membantunya dengan berbagai totokan jalan darah, yang akan membuatnya seperti orang mati dan bukan sekadar seperti orang tertidur. Maka jika nyala ratusan lilin yang kadang-kadang tertiup angin dari luar bilik membuatnya seperti orang tidur dan bernapas, tentu saja segenap rencana kami dapat menjadi sia-sia.

Di sebuah sudut, dengan masih berjubah merah kuning dan berkepala gundul seperti bhiksu, aku dapat mengawasi beribu- ribu pelawat dari segala lapisan yang datang menggumamkan sutra sambil ber-pradhaksina. Dari ribuan orang bahkan puluhan ribu manusia pelawat, mulai dari pejabat tinggi, pedagang, tukang, sampai pelacur dan pengemis, setidaknya tentu terdapat satu atau beberapa mata-mata, yang bertugas menyampaikan pesan secara berantai dengan cepat kepada Harimau Perang, bahwa bhiksu kepala memang benar-benar sudah mati. Berita kematian bhiksu kepala ini penting, karena hanya dengan begitu maka perjalanan rahas ia ke Chang 'an bisa dilangsungkan.

Di antara ribuan pelawat yang masih terus mengalir, dan di antaranya tidak sedikit pula yang menangis tersedu-sedu, kusadari betapa sulitnya mengetahui mana yang mata-mata dan mana yang bukan. Kubayangkan diriku jika melakukan penyamaran dan berada di antara mereka, tentu tidaklah akan terlalu mudah bagi s iapa pun untuk mengetahui dengan pasti, apakah seseorang itu aku atau bukan diriku. Bagi mereka yang bergerak  dalam dunia penugasan  rahasia, barangkali mudah dan cepat untuk mengetahui sesuatu itu wajar atau tak wajar, seperti sering kualam i ketika menyamar dan tetap saja mengundang kecurigaan. Namun bagiku kini kusadari betapa untuk mengetahui seseorang itu dirinya atau bukan dirinya ternyata sama sekali tidak mudah. Memang, aku sendiri tidak berharap banyak, karena untuk mengetahui jebakan kami mengenai sasarannya atau tidak, kami tunggu dengan cara lain.

Kedudukan bhiksu kepala dalam masyarakatnya dapat diketahui dari para pelawat, yang tidak hanya berasal dari segala lapisan, tetapi juga para rahib penganut Buddha berbagai aliran, seperti para bhiksu Theravada dengan hanya sehelai kain warna kuning kecokelatan melingkari raganya, para bhiksu Mahayana yang kainnya kuning kunyit dijahit jadi jubah, dan bermacam aliran lagi yang menunjukkan kebijaksanaan dan keluasan pandangannya. Para bhiksu Kuil Pengabdian Sejati sendiri tidak se lalu seragam busananya, selain kain jubah merah kuning seperti para bhiksu Tibet, terdapat juga yang setia kepada Therevada tetapi para bhiksunya berpakaian seperti guru-guru Mahayana. Aku merasa tidak perlu terlalu terkejut dengan kenyataan itu, meski tetap heran jika semua ini menyangkut seseorang yang barangkali saja sebetulnya hanya menyamar.

Ya, seorang bhiksu kepala yang menguasai ilmu silat peringkat naga, sekaligus menggalang pemberontakan diam- diam dari balik kuilnya, apakah ini tidak terlalu berlebihan? Masalahnya, memang, tidakkah hanya kesempurnaan dalam peleburan pencapaian kesempurnaan rohani dan kesempurnaan jasmani yang dapat dikatakan sebagai kesempurnaan yang sebenarnya?

Namun kurasa Nagarjuna, bahkan juga Nagasena, tak akan pernah menyetujuinya.

Para pelawat masih terus mengalir sepanjang malam. Gumam doa terus berkumandang dan membubung, bersama asap dalam ruangan yang mencari jalan keluar dari ce lah atap sampai ke langit.

UNTUNGLAH bahwa balairung yang terbuka dapat menampung para pelawat yang bagaikan tiada putus- putusnya. Dengan sia-sia kucari wajah dengan pandangan mata seperti mata-mata, meski kusadari betapa aku sangat tidak berbakat untuk pekerjaan seperti itu.

Pada dini hari, ketika langit masih gelap, kuterima berita dari Iblis Suci Peremuk Tulang melalui mata rantai bhiksu pengemis yang selalu berputar dalam lingkaran, sambung bersambung dan ganti berganti, sepanjang siang dan malam. Bhiksu pengemis itu berbisik di telingaku ketika kutemui di gerbang kuil.

''Pesan dari Iblis Suci, katanya ia diperintahkan membawa dua puluh kuda yang s iap berangkat segera, rombongan akan berangkat sekarang juga!''

Hmm. Jadi jebakan kami mengena! Harimau Perang tidak merasa bisa berangkat dengan tenang jika bhiksu kepala yang selama ini dianggapya menjadi pemimpin kaum pemberontak masih menjadi duri di dalam dagingnya. Betapapun Kuil Pengabdian Sejati berada di tengah-tengah Kota Thang-long, bagaikan pisau tajam yang berada di bawah urat lehernya sendiri. Tentu dengan pengetahuanku yang terbatas sebagai orang asing, membuat aku sendiri mencadangkan terjadinya kesalahpahaman dan kejutan, mengingat pengalamanku dengan berbagai macam mata rantai kerahasiaan dalam kegelapan. Selain karena bhiksu kepala tidak pernah berterus terang tentang siapa dirinya, bukankah aku juga tidak pernah memastikan, bahwa Harimau Perang adalah seseorang atau beberapa orang?

Namun kuketahui suatu siasat pengamanan, bahwa seseorang berwajah dan berperawakan m irip raja, dapat menggantikan seorang raja untuk berjaga terhadap serangan pembunuhan. Meskipun begitu tentang Harimau Perang aku memikirkan sesuatu yang berbeda. Bukan bahwa terdapat Harimau Perang tiruan untuk menggantikan Harimau Perang yang sebenarnya, melainkan bahwa Harimau Perang adalah nama untuk suatu tata cara kerahasiaan yang terdiri dan dilaksanakan oleh banyak orang.

Betapapun dugaan liarku ini tidak mendapat bukti yang membenarkan. Sementara itu, jika duapuluh kuda dipersiapkan untuk duapuluh pengawal pilihan, maka kuda Harimau Perang tentu dipersiapkan di tempat terpisah. Tepatnya tentu ia persiapkan sendiri. Namun apakah itu memang berarti Harimau Perang ternyata seorang pribadi?

Bhiksu pengemis itu juga menyampaikan pesan, bahwa sebaiknya aku menunggu saja di Celah Dinding Berlian, karena jika mengikuti perjalanan dari dalam kota, ketika rombongan melewati gerbang kota, tentu saja akan terlalu kentara betapa aku sedang membuntutinya.

Setelah bhiksu pengemis itu menghilang, kusadari kini segala sesuatu tertanggungkan ke pundakku. Iblis Suci telah menjalankan penyamaran dan pengamatannya sebagai tukang kuda dengan hasil pemberitahuan terakhir ini. Bhiksu kepala telah terpaksa berpura-pura mati demi memancing dilaksanakannya perjalanan rahasia itu, yang berarti juga ia harus menghilang se lama-lamanya dari dunia sebagai bhiksu kepala, agar aku dapat melacak keberadaan Harimau Perang. Kini tergantung kepada diriku, apakah segala jerih payah itu akan menjadi tersia atau bermakna.

Aku terpaku di gerbang Kuil Pengabdian Sejati tempat banyak orang masih saja mengalir tiada hentinya, karena memang sungguh-sungguh berduka cita. Aku masih mengenakan jubah seorang bhiksu, berkepala gundul, dan berwajah kelim is. Tentu aku tidak mungkin melaksanakan tugasku dengan busana seperti ini, bukan sekadar karena warna kuning merahnya yang menyolok mata dalam pembuntutan perjalanan rahasia di pedalaman, tetapi bahwa dalam keramaian seorang bhiksu akan terlibat dengan bermacam-macam kewajiban yang membuatku tidak bisa bebas bergerak.

Ini juga berarti aku harus segera pergi dan tidak dapat mengikuti rencana siasat selanjutnya. Di dalam bilik bhiksu kepala waktu itu sebetulnya berlangsung perbincangan seperti berikut.

''Jika Bapak memang harus tampak terbunuh, bagaimanakah caranya Bapak melanjutkan kehidupan yang sebenarnya.''

Bhiksu kepala tersenyum lebar.

''Anak, Pendekar Tanpa Nama, dapatkah dikau jawab pertanyaanmu sendiri?''

Hmm. Apakah bhiksu kepala ini bermaksud mengujikan sesuatu?

''Harimau Perang itu tidak bermaksud membunuh Bapak,'' jawabku, ''melainkan cerita yang beredar jika Bapak tidak dibunuh, selain karena hanya Bapak yang mengetahui rahasia Harimau Perang.''

Bhiksu kepala tidak menanggapi, dan menantikan kalimat selanjutnya.

"Perang bukanlah sekadar pertempuran bersenjata, melainkan pertarungan gagasan dan pemahaman, bahwa ada pihak yang menolak penguasaan dan ada pihak yang berusaha menguasai. Tidak ada kekuasaan yang tersahihkan tanpa penguasaan pikiran, karena hanya cukup melalui pikiran itulah suatu kekuasaan dapat dihancurkan."

Bhiksu kepala itu manggut-manggut. "Teruskan, Anak, teruskan..."

"Setelah pengepungan gagal dan para pemberontak diburu sepanjang Sungai Merah, pertempuran untuk sementara seperti selesa i, tetapi perang belum dimenangkan karena para pemberontak sama sekali tidak menyerah, terutama karena pemimpin pemberontak, yang bahkan tidak diketahui siapa, tidak pernah terberitakan tertangkap atau dihukum mati. Padahal dalam perang, adalah penting untuk membunuh pemimpinnya dalam arti membunuh pikiran untuk berontak itu."

Bhiksu kepala itu menunduk dan memejamkan mata, masih menunggu kalimat selanjutnya.

"Apalah gunanya membasmi para pemberontak, jika pikiran untuk memberontak dan menolak kekuasaan masih berada di dalam kepala set iap orang? Maka suatu peperangan memang tak hanya mengadu pasukan, melainkan berperang melawan keyakinan. Harimau Perang berusaha menamatkan cerita tentang semangat perjuangan, dengan menamatkan riwayat seorang pemimpin tersembunyi yang keberadaannya begitu nyata bagaikan dongeng. Dongeng akan dilawannya dengan dongeng, tetapi dongeng apakah kiranya yang akan kita gunakan pula untuk menanggapinya?"

Bhiksu kepala membuka mata dan menepuk pundakku. "Dikau memahami arti perang, Anak, dan inilah

rencanaku..."

Telah diketahui bagaimana aku membantu permainan ini, dengan totokan jalan darah yang akan membuatnya seperti orang mati. Bhiksu kepala sendiri telah mengolah seni pernapasan tertentu, yang tidak akan membuatnya sengaja meninggalkan dunia ini ketika menjalankan yoga langit, melainkan justru bangun kembali pada saat yang dapat ditentukannya sendiri. Apakah dirinya akan menunjukkan diri tidak dapat atau mampu hidup kembali?

"Bukan begitu, Anak, aku akan menghilang setelah mereka membakarku." Aku mengerti. Jika bhiksu kepala itu sekadar tetap hidup, peristiwanya mungkin hanya akan diterima sebagai gagalnya suatu pembunuhan. Namun jika ia muksa, lenyap ke langit bersama tubuhnya, maka akan diterima sebagai hidup selamanya dan pemberontakan dianggap sebagai tidak akan dan tidak perlu padam lagi. Kemerdekaan akan menjadi sesuatu yang sah dan diimpikan setiap orang, dan tidak akan ada lagi yang dapat dilakukan, oleh Harimau Perang atau siapa pun, terhadap dongeng yang akan beredar ke se luruh wilayah pemberontakan di Daerah Perlindungan An Nam dari peristiwa semacam itu.

(Oo-dwkz-oO)

AKU masih berada di gerbang Kuil Pengabdian Sejati, tetapi tidak untuk waktu yang terlalu lama. Aku harus bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan jejak perjalanan rahasia itu, karena tidak terdapat pesan apa pun dari Iblis Suci Peremuk Tulang perihal jalur perjalanan yang akan ditempuh. Adapun jika keterangan tentang jalur perjalanan itu didapatkannya, pun aku tidak akan dapat terlalu meyakininya, karena siapa pun yang bergerak dalam jaringan kerahasiaan seperti Harimau Perang pastilah setiap saat bisa mengubah jalur perjalanannya. Sementara itu, jika akhirnya memang aku akan melangkah masuk ke dalam keluasan wilayah Negeri Atap Langit yang luar biasa itu, terus terang aku sendiri masih merasa gamang.

Betapapun roda kehidupan tidak dapat ditunda lagi dan aku masih harus mengganti busana rahibku ini. Aku merasa sedih karena takdapat menyaksikan sendiri bagaimana bhiksu kepala akan dibakar dan saat api padam takdapat ditemukan sisa jenazahnya, sehingga akan diterima sebagai muksa, raib bersama tubuhnya, yang menandakan kebenaran sikapnya untuk menentang penjajahan. Meski dalam hal Daerah Perlindungan An Nam, setelah beratus tahun pendudukan, kebudayaan dan bahasa orang Viet yang sudah tidak dapat melepaskan diri lagi dari jejak-jejak Negeri Atap Langit membuatku berpikir bahwa penjajahan dan penguasaan itu telah pula dipandang secara berbeda. Perlawanan terhadap tertindasnya kemerdekaan itulah kiranya gagasan pemberontakan yang tidak akan pernah bisa dipadamkan. Muksanya tubuh bhiksu kepala bersama jiwanya akan diterima sebagai kesahihan untuk terus hidupnya semangat perlawanan.

KUPANDANG langit sekali lagi. Aku harus tiba di Celah Dinding Berlian lebih dahulu dari rombongan Harimau Perang. Mereka pasti berangkat sebelum terang tanah. Untung sebelumnya telah disiapkan seekor kuda yang perkasa untukku. Seekor kuda yang diternakkan oleh orang Uighur, suku pengembara di utara Negeri Atap Langit yang dengan sendirinya membuat kuda menjadi bagian penting, jika tidak terpenting, dalam kebudayaan mereka.

Sebelum pergi kupandang ruangan balairung yang masih diterangi nyala ratusan lilin. Enam bulan lamanya aku tinggal di dalam Kuil Pengabdian Sejati ini dan begitu kuat perasaanku bahwa diriku tidak akan pernah kembali lagi.

Aku melompat ke atas kuda, memacunya segera di jalanan Thang-long yang masih kosong, melaju ke luar kota.

(Oo-dwkz-oO)