Nagabumi Eps 142: Penyusupan Senja

Eps 142: Penyusupan Senja

BETAPAPUN adalah pada masa pemerintahannya Wangsa Tang mencapai puncak keemasan, dengan tatanegara dan kebudayaan sebagai ukurannya. Adanya Dewan Han Lin atau Dewan Kesusastraan di Negeri Atap Langit adalah berkat Ming Huang. Pekerjaan dewan ini antara lain mendirikan sekolah di seantero negeri. Namun baiklah kita ikuti dahulu sepak terjang Yang Guife i, perempuan yang telah membuat maharaja Ming Huang bertekuk lutut.

Selir cantik jelita ini ternyata jatuh cinta kepada An Lushan, seorang panglima Turk berdarah campuran yang menguasai enam bahasa. Panglima ini sering datang ke istana dengan meninggalkan wilayah yang menjadi tugasnya di Hopei, tempat seharusnya ia mengamati bangsa K'i-tan di Manchuria. Memanfaatkan kesibukan negara berperang melawan orang Arab, Tibet, dan memadamkan berbagai kekacauan lain, An Lushan yang ahli perang me lancarkan pemberontakan pada 755. Tak kurang dari maharaja Ming Huang terpaksa meninggalkan istana, lari dari kotaraja Chang An yang segera jatuh ke tangan An Lushan, ke Szechuan. Dalam perjalanan, pasukan yang mengawal raja menuntut kepada Ming Huang agar Yang Guifei dihukum mati. Terus terang tak dapat kubayangkan perasaan maharaja itu, yang memerintahkan kekasihnya tercinta menjerat leher sendiri dengan kain sutera. Perempuan cantik itu beserta sanak keluarganya dianggap berdosa dalam timbulnya kekusutan di dalam negeri.

Pada 763 pemberontakan An Lushan dapat dipadamkan. Negeri Atap Langit terpaksa menggunakan bangsa-bangsa asing di perbatasan, terutama bangsa Turk Uigur, yang setelah perang usai menguasai berbagai wilayah di dalam negeri dan tidak berm inat kembali. Demikianlah wibawa Wangsa Tang mulai pudar, dan telah kuketahui pada saat seperti inilah muncul semakin banyak pemberontakan di negeri-negeri bawahan, seperti kusaksikan sendiri di Daerah Perlindungan An Nam ini. Kini, kudengar Tang Ming Huang telah turun takhta dan digantikan putranya. Pemberontakan tak kunjung habis, para panglima menjadi penguasa wilayah, sementara bangsa Tibet datang menyerbu, dan hanya bisa ditepis dengan bantuan bangsa Turk Uigur, yang kepada mereka Negeri Atap Langit ini bahkan membayar.

Aku mencermati kembali kisah pemberontakan ini. Setelah bertempur tujuh tahun, pasukan An Lushan merebut Luoyang maupun Chang An. Tahun 757 ia terbunuh, tetapi putranya, An Qingshu, meneruskan perjuangannya sampai 763. Seberapa jauhkah pemberontakan benar-benar telah selesa i? Kenapa pula Negeri Atap Langit harus membentuk perserikatan dengan Harun al-Rasyid, khalifah bangsa Arab itu? Kemudian kubaca dari catatan-catatan para rahib yang pernah berkunjung ke Chang An, bagaimana wibawa Wangsa Tang semakin memudar setelah istana dikuasai orang-orang kebiri atau sida-sida, terutama setelah Tang Ming Huang turun takhta.

Masih banyak catatan yang dapat kupelajari, bahkan aku merasa wajib mempelajarinya lebih lama lagi, jika ingin menguasai persoalan dengan lebih baik. Namun setidaknya kini telah dapat kupertimbangkan suatu dugaan, mengapa seorang Harimau Perang dibutuhkan segera oleh Negeri Atap Langit. Tentu para pejabat tinggi di negeri itu mendengar betapa cermatnya Harimau Perang ini telah membangun kepercayaan di antara para pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam. Berhasil meyakinkan mereka untuk keluar dari hutan dan turun gunung mengepung Thang-long, hanya untuk tertambus api pada musim dingin, yang tak akan pernah terduga karena dipersiapkan dengan penuh kerahasiaan oleh suatu jaringan mata-mata. Sungguh orang yang dibutuhkan, untuk menanggulangi pemberontakan oleh berbagai macam suku yang bagaikan tiada habisnya.

Aku pun tidak dapat memperkirakan betapa licin dan cerdiknya Harimau Perang, yang te lah berhasil dipercaya para pemimpin pemberontak, kemudian menjadi satu-satunya penghubung yang dikenal para pemimpin pasukan di medan peperangan, sehingga mengenal segala kemungkinan yang membuat tugasnya sungguh-sungguh berhasil. Memang benar pemberontakan dalam arti sebenarnya tidak akan pernah bisa dipadamkan, tetapi menggagalkan pendudukan Thang-long adalah penting, karena suatu pendudukan dalam peperangan niscaya tiada akan luput dari pembakaran, penjarahan, pembantaian, dan pemerkosaanO Tidak sadarkah penduduk kotaraja Daerah Perlindungan An Nam ini betapa kehidupan mereka semula ibarat telur di ujung tanduk?

KUPIKIRKAN sesuatu: jika hanya Harimau Perang yang dikenal semua orang, oleh pemimpin kedua pihak yang bertentangan, maupun antara para pemimpin pasukan, bukankah itu berarti hanya Harimau Perang yang mengenal pemimpin kaum pemberontak? Artinya tidak seorang pun dapat melindungi pemimpin pemberontak itu sekarang selain Harimau Perang, yang mengingat perkembangan keadaan, justru pasti akan membunuhnya!

Masalahnya sekarang, siapakah sebenarnya pemimpin pemberontak itu? Persiapan di istal kuda bagi rombongan sudah beberapa lama selesai, tetapi duapuluh kuda terbaik yang dipersiapkan itu masih tetap berada di tempatnya. Aku memikirkan kemungkinan, bahwa sebelum berangkat memenuhi panggilan panglima tertinggi di Chang An, maka Harimau Perang merasa harus menuntaskan tugasnya lebih dahulu. Ia telah mengenal pemimpin pemberontak itu, tetapi tentu kini sudah tidak dapat menemuinya lagi. Kematian Amrita kurasa tidak akan tersebar tanpa desas-desus tentang pengkhianatan Harimau Perang itu. Pengkhianatan yang belum tentu merupakan pengkhianatan, karena Harimau Perang mungkin saja adalah bagian dari jaringan mata-mata yang ditanam.

Betapapun Harimau Perang masih mencari mangsanya lagi, dan menurut pendapatku bukan tak mungkin pemimpin pemberontak itu ada di dalam Kuil Pengabdian Sejati ini!

DENGAN pemikiran semacam itu aku keluar dari bilik pustaka yang penuh gulungan naskah. Tidak semua catatan ditulis di atas lontar, karena peradaban Negeri Atap Langit telah memperkenalkan kepada orang-orang Viet naskah pada gulungan kain yang ditulis dengan apa yang disebut sebagai tinta. Tentu saja ini berlaku untuk naskah dengan aksara Negeri Atap Langit yang baru mampu kubaca dengan sangat amat terbatas. Seorang bhiksu membantuku untuk menerjemahkan dan mengajariku cara menuliskannya sedikit demi sedikit. Betapapun terlalu banyak bahasa dan aksara baru yang terpaksa kupelajari dalam waktu singkat setahun terakhir ini, karena jika tidak maka jalanku untuk masuk ke dalam pengetahuan akan sangat terbatas. Adapun hanya berdasarkan pengetahuan secukupnya, maka aku dapat mengambil keputusan yang sedikit banyak bertanggungjawab.

Aku keluar dari bilik pustaka dan menyusuri lorong-lorong dalam kuil, yang penuh dengan gambar berwarna perjalanan hidup Buddha pada dinding kanan maupun kirinya. Kulewati tempat dahulu kelompok Kalakuta yang menyamar sebagai bhiksu bermaksud membunuhku. Kuingat barisan bhiksu penjaga yang begitu banyak dan bersenjatakan toya. Kuingat kembali wajah bhiksu kepala yang matanya kecil itu, dari mana kubayangkan ia melihat dan berpikir tentang dunia. Siapakah yang membayar kelompok pembunuh dengan racun bernama Kalakuta itu? Benarkah hanya diriku dan Iblis Suci Peremuk Tulang itu yang diincar dan diawasi Kalakuta, dan bukannya para rahib yang di balik jubah merah kuningnya ternyata mengamati keadaan di seantero negeri? Dari cara mereka bergerak melingkar dan menjadikan titik pertemuan sebagai saat menyampaikan pesan, kusadari betapa para bhiksu dan bhiksuni dalam Kuil Pengabdian Sejati ini bukanlah sekadar rahib biasa.

Mengingat kembali berbagai percakapan dengan bhiksu kepala maupun para rahib lainnya, kusimpulkan betapa masalah dunia menjadi bagian yang penting dalam pengabdian mereka. Mereka adalah para bhiksu dan bhiksuni yang telah mendapat ajaran untuk berpihak, kepada siapa lagi jika bukan kepada rakyat yang tertindas. Bahkan bila kuingat adegan hukuman bagi bhiksu muda yang diminta bersujud selama-lamanya itu, kurasakan betapa adegan itu sebetulnya dibuat untuk mengelabuiku. Iblis Suci Peremuk Tulang kurasa mengetahui penyamaran ini. Bukankah ia pun dahulu kala seorang bhiksu? Aku sering merasa Iblis Suci Peremuk Tulang yang berangasan itu lebih seorang bhiksu yang menyamar daripada seorang bekas bhiksu. Artinya ia mengerti kebudayaan para bhiksu. Jadi tanpa harus diberitahu iapun akan ikut merahasiakannya, sampai aku dengan sengaja maupun tidak sengaja akan mengetahuinya.

Bukankah ketika menyamar sebagai tukang kuda, tampak begitu terbiasa ia bekerja bersama dengan cara-cara para bhiksu yang mengemis dan menghubungkan pesan dengan cepat dari ista l kuda sampai ke Kuil Pengabdian Sejati? Para bhiksu pengemis yang begitu sigap dan terlatih, agaknya bukan saja telah se lalu menyampaikan dan meneruskan keterangan rahasia, melainkan juga mencari dan menggali segenap rahasia dunia, termasuk rahasia negara.

KUBAYANGKAN Kota Thang-long dengan para bhiksu dan bhiksuni yang seolah-olah berkeliaran mengemis dari lorong ke lorong dengan batok di tangannya. Mereka tidak berkeliaran, mereka membentuk jaringan arus keterangan yang teratur rapi. Kuil Pengabdian Sejati ini bukan sembarang kuil. Bahkan kepada diriku mereka rahasiakan siapa sebenarnya diri mereka. Aku teringat Iblis Suci Peremuk Tulang yang sebelum menyamar jadi tukang kuda sungguh meyakinkan sebagai bhiksu sahaja. Bukankah dia memang bhiksu? Atau tak seorang bhiksu pun adalah bhiksu?

Di lorong gelap ini berkilasan kembali gambaran sepuluh bhiksu gadungan yang ternyata para pembunuh kelompok Kalakuta. Mereka tak seperti pembunuh jika tangannya tidak menggenggam pisau melengkung yang sekali sabet bisa mengeluarkan se luruh isi perut. Semua orang berkepala gundul dan berwajah kelim is dalam gulungan jubah merah kuning yang menyeragamkan semua. Bagaimana caranya kita mengetahui siapa berbeda dari siapa? Hmm. Sepuluh orang itu bisa masuk begitu saja karena saat itu banyak orang masuk ke kuil untuk mengantri bantuan pangan. Semenjak kejadian itu bhiksu penjaga bersenjatakan toya tampak di segala sudut. Bahkan utusan istana pun mesti digeledah begitu rupa sebelum diiz inkan masuk jika ingin bertemu bhiksu kepala.

Di ujung lorong kulihat langit senja yang kemerah- merahan. Sudah terlalu lama kubenamkan diriku ke dalam kuil hari ini. Pengetahuanku atas bahasa-bahasa maupun aksara Negeri Atap Langit yang masih sangat sedikit, membuat aku membaca gulungan catatan-catatan di atas kain itu dengan sangat lama. Untunglah bhiksu petugas bilik pustaka yang menguasai banyak bahasa dan aksara itu bersedia membantuku jika aku menemui kesulitan. Sekarang aku bermaksud menanti mata rantai terakhir bhiksu penyampai pesan, yang akan memberi tahu tentang perkembangan terakhir hasil pengamatan Iblis Suci Peremuk Tulang yang menyamar sebagai tukang kuda.

Pada dasarnya segala sesuatunya sudah diketahui: Harimau Perang akan melakukan perjalanan rahas ia ke Chang An dengan dikawal 20 pengawal istana pilihan. Aku tahu betapa dengan kawalan orang-orang pilihan seperti itu, serbuan mendadak 200 orang pun dapat mereka halau dengan mudah. Bahkan jalur perjalanan pun, yang tentu saja setiap saat bisa berubah karena sengaja diubah-ubah untuk menghindari pelacakan, setiap perubahannya selalu terendus oleh Iblis Suci tersebut. Hanya kapan rombongan itu tepatnya akan berangkat, memang masih tertutup rapat.

Aku tiba di luar lorong tepat pada saat bayangan kemerah- merahan itu berkelebat menghilang ke balik cahaya senja. Seorang penyusup sedang bergerak masuk, dengan berlindung di balik cahaya kemerah-merahan senja yang tak akan mungkin terlacak, kecuali oleh mereka yang memiliki ilmu sejenis. Aku teringat ketika menyaksikan bagaimana Amrita berhadapan dengan Pendekar Cahaya Senja. Memang aku tidak berhadapan langsung dengan pendekar yang sangat terpesona oleh keindahan senja itu, yang menyediakan dirinya untuk membunuh atau terbunuh hanya ketika langit semburat kemerah-merahan, sehingga tak dapat kugunakan Jurus Bayangan Cermin untuk menyerap ilmunya, tetapi betapapun aku telah mengamatinya. Adapun dalam pengamatan itu sempat kusimpulkan, bahwa kunci untuk mengimbangi ilmu yang mengacu kepada filsafat aliran Yogachara itu adalah penyandaran diri kepada jiwa semesta, sebagai sumber jiwa dalam diri, agar tak terkecoh oleh penalaran yang terikat kepada pancaindera dalam kebertubuhan.

Aku harus bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan jejak di balik cahaya senja yang kemerah-merahan. Ia seorang penyusup dan kukira ia menyusup untuk melakukan pembunuhan, karena jika tidak tentu takperlu mengirimkan seorang penyusup dengan ilmu luar biasa seperti itu. Memang tidak set iap penyusupan berarti pembunuhan, karena penyusupan juga dilakukan demi pengamatan, tetapi pengalamanku bersinggungan dengan orang-orang yang berkelebat ini memberitahuku tentang tujuan yang dapat ditafs irkan dari sifat-sifat geraknya. Dalam pengamatan tersifatkan ketenangan dan kesabaran, dalam pembunuhan tersifatkan keyakinan dan ketegasan, sedangkan yang terakhir itulah sebenarnya terbaca desirannya olehku.

Seperti pengamatanku terhadap Pendekar Cahaya Senja, terhadap penyusup yang menggunakan cahaya kemerah- merahan sebagai tabir ini hanya dapat kuandalkan kecepatan, terutama untuk memburunya ke balik cahaya kemerah- merahan itu, dan apabila ia menyerangku maka tiada lain yang dapat kulakukan se lain memejamkan mata terhadap segala pesona dan mengandalkan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang. Penyusup masih berada di udara, tiada yang melihatnya karena semakin luas kemerahan langit semakin tersamar dia adanya. Berkelebat takterlihat di balik cahaya kemerahan senja, yang hanya bisa dilakukan karena kecepatannya yang luar biasa. Membaca arah geraknya, kutahu dari garis lengkungannya bahwa ia akan menukik tepat pada sebuah jendela terbuka di bilik bhiksu kepala, tempat kulihat samar-samar dirinya sedang berdoa. Sudah jelas penyusup ini bermaksud membunuhnya!

Aku berkelebat menyusulnya memasuki cahaya senja dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata. Kumasuki sebuah dunia penuh dengan lapisan tabir kemerah-merahan yang bagaikan selalu bergerak dan berkibar seperti kain meski kutahu itu bukan kain me lainkan tabir-tabir cahaya senja yang mengungkungku bagaikan seekor ikan di dalam lautan cahaya kemerah-merahan. Dalam dunia kemerah-merahan kuburu bayangan yang berkelebat itu, yang menjejak udara bagaikan menjejak zat padat, berkelebat begitu cepat dengan tubuh berbalut kain kuning merah yang terikat ketat, dan hanya matanya yang terlihat. Tahu dikejar ia pun menyerangku dengan senjata kaum pembunuh yang mengerikan, yakni sabit melengkung yang seperti dibuat secara istimewa untuk memenggal kepala dan betapa piawai sang penyusup ini memainkannya. Begitu ia melayang terbang menujuku dalam kelebat tercepat yang dapat kulihat sembari mengangkat sabitnya, segera kupejamkan mataku karena pesona tabir-tabir senja dapat mengalihkan perhatianku dari kecepatan dan ketajaman sabitnya yang luar biasa. Mengandalkan ilmu Mendengar Semut Berbisik terbentuk dalam pandangan mataku yang tertutup itu garis tepi seluruh tubuh maupun yang sedang diayunkannya, sebagai garis yang menyala redup kehijauan. Namun ia bukan sekadar penyusup jika terpilih memasuki Kuil Pengabdian Sejati untuk mencabut nyawa bhiksu kepala. Ketika sabitnya menyambar seperti ingin nembelah tubuhku, tidaklah terasa bagaikan satu saja sabit yang terayun dengan kecepatan kilat, melainkan lima sabit, itu pun tidak serentak melainkan berturut-turut. Sabit manakah yang merupakan sabit sebenarnya?

Dalam kelebat gerak yang nyaris tak terlacak, aku harus memutuskan dengan cepat, manakah sabit sebenarnya yang wajib kuhindari dan manakah sabit tipuan, karena sekali keliru dalam penilaian saat itulah nyawa melayang. Jika sabit tipuan kuhindari, saat itulah sabit yang sebenarnya menancap di badan; jika sabit yang sebenarnya kuketahui dan ingin hindarkan, berarti aku harus membiarkan sabit-sabit tipuan itu seolah-olah menancap di badan, karena hanya dengan begitu ketika sabit yang sebenarnya tiba, akan dapat dielakkan atau ditangkis tepat pada waktunya. Namun bagaimana jika sabit yang kubiarkan menancap adalah sabit yang sebenarnya? Dalam pandangan mataku yang terpejam pun, seperti terdapat lima tangan yang mengayunkan lima sabit berturut- turut. Namun kutahu jika kubuka mataku betapa akan lebih banyak hal yang mengecoh mataku.

Ini berarti untuk kali pertama mesti kutingkatkan kedalaman ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, yang memisahkan bunyi sebenarnya dari bunyi-bunyi. Ini berarti ilmu penyusup ini memang sangat tinggi, karena bukan hanya mata yang dapat dikecohnya dengan kecepatan tinggi itu, melainkan juga telinga dengan ketajaman lebih dari biasa, dan bukanlah sembarang manusia yang sungguh-sungguh dapat melakukannya. Dalam peningkatan kedalaman ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang, bunyi-bunyi semu itu akan tetap tinggal dalam pandangan mata tertutupku sebagai garis berpijar buram warna hijau, sedangkan bunyi yang sebenarnya dari sambaran sabit itu akan berwarna biru. Tentu saja dengan begitu masalah ini seharusnya dapat segera kupecahkan, yakni biarkan garis cahaya redup membentuk sabit berwarna hijau menancap dan pusatkan perhatian kepada garis cahaya redup membentuk sabit berwarna biru.

Namun aku menjadi terkejut ketika dalam tingkat kedalaman ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang yang baru ini maka kelima sabit yang menyambar berturut- turut ini semuanya berwarna biru! Semua ini memang lebih cepat dari kerjapan mata. Bahkan tentunya saat itu tentulah pertimbanganku tidak terurai serinci ini.

KUPEGANG kenyataan bahwa sebelum mataku tertutup aku hanya melihat satu sabit. Ini berarti kelima sabit tersebut tetap berasal dari satu sabit, tetapi yang digerakkan berulang dengan kecepatan begitu tinggi, sehingga indera belum usai menangkap ujudnya sabit itu telah datang, datang, datang, dan datang lagi. Jadi kuanggap tak akan keliru jika terhadap gambaran sabit berwarna biru yang datang terakhirlah aku harus memusatkan perhatianku.

Sabit itu hanya satu jari dari tengkukku ketika aku berguling di udara untuk segera melenting kembali di atasnya. Kubuka mataku sejenak, dan dunia senja masih membara raya. Rasanya enggan menutup mata kembali di tengah dunia yang kemerah-merahan ini, tetapi pembunuh itu telah berbalik pula dan menyabetkan sabitnya kembali. Tak cukup menyambarku kembali, tetapi tangan kirinya telah terkibas ke arah tertentu, yang membuatku terkesiap karena itu berarti telah dilepaskannya jarum-jarum beracun ke arah bhiksu kepala, yang dari jendela tampak masih membaca sutra!

Aku bahkan tak sempat memejamkan mataku, karena bukankah memang kulihat set idaknya 25 jarum beracun berbinar redup kuning hijau berkeredap meluncur ke arah bhiksu kepala yang sedang membaca? Demikianlah semua ini berlangsung tanpa dapat diikuti mata orang biasa dan nyaris tanpa suara. Namun seandainya seseorang yang berilmu tinggi menyaksikannya akan terlihat tarian maut berpasangan dalam dunia senja kemerah-merahan, tempat tabir-tabir senja sebentar tersibak sebentar menutup oleh bayangan hitam sabit lebar mengejar bayangan berkelebat yang tentu bayanganku, yang kini kembali mesti berkelit tanpa mampu menghentikan jarum-jarum beracun yang meluncur dengan amat sangat terlalu cepat.

Pada saat kuhindari sabit itu tanganku dengan mudah menepuk lengan kanannya, yang akan langsung lumpuh dan memang menjadi lumpuh sehingga sabitnya terpental jauh sampai membentur puncak pagoda dan jatuh berdenting- denting di lantai kuil. Namun sabit tersebut belum membentur pagoda dan belum jatuh berdenting-denting di lantai ketika usai tanganku menepuk lengan kanannya yang menjadi lumpuh, ternyata bhiksu kepala itu telah mengibaskan sutra yang dibacanya seperti mengusir lalat tanpa menoleh, yang membuat 25 jarum itu berbalik me luncur kembali! Penyusup senja itu masih meneruskan arah geraknya di udara dengan tangan kanan lumpuh, yakni menuju bhiksu kepala di jendela yang tadi hendak dibunuhnya dengan sabit, hanya untuk disambut jarum-jarum beracunnya sendiri!

Tangan kirinya mencoba berbuat sesuatu karena tangan kanannya sudah kulumpuhkan, tetapi kedudukannya yang menyamping kanan tak mungkin lagi menyampok jarum-jarum beracun yang langsung menembus segenap kain merah jingga yang membelit seluruh tubuhnya, dan tentu menancap masuk ke dalam dadanya. Ke dalam jantung dan paru-parunya. Dua puluh lima jarum beracun mematikan menembus tubuh pelemparnya sendiri, yang langsung mati ketika tubuhnya masih terus melayang ke arah bhiksu kepala, yang sementara itu telah menutup jendela tanpa menoleh.

Bruaaaakkk!

Tubuh penyusup senja itu terbanting di luar jendela tanpa nyawa lagi ketika aku pun mendarat ringan di dekatnya. Barulah kemudian sabit itu terdengar membentur puncak pagoda, lantas terdengar dentangnya ketika jatuh di lantai.

Jendela tetap tertutup. Bhiksu kepala terdengar menggumam masih membaca sutra. Tidak seorang pun dari para rahib yang berdatangan berani mengganggunya. Kuperiksa penyusup yang telah kehilangan nyawa sesuai dengan pertaruhan tugasnya. Kusingkap kain penutup wajahnya, dan kulihat betapa bibirnya menghitam di atas wajah yang pucat. Racun jarum-jarum itu bekerja dengan seketika. Aku bergidik. Sadarkah penyusup ini bahwa jarum- jarum yang diterimanya dari seorang peramu racun itu ternyata akan menembusi tubuhnya sendiri.

Suatu ketika dalam perjalananku aku pernah tanpa sengaja melihat jarum-jarum direndam dalam ramuan bisa ular, bisa kalajengking, dan bisa tumbuh-tumbuhan sekaligus. Kulihat itu di lorong tersembunyi di belakang pasar, ketika menyamar sebagai pengemis yang mengembara dari kota ke kota sepanjang pantai Champa sebelum sampai kemari. Saat itu berpikir bahwa jarum-jarum yang direndam dalam racun ini suatu ketika akan membunuh seseorang.

BAHWA tempat perendaman jarum itu tersembunyi, tentu karena senjata rahasia memang hanya berhubungan dengan kelompok rahas ia, untuk mendukung tugas-tugas rahasia. Adapun rahasia bisa bersifat sementara, seperti tugas negara yang suatu ketika terbuka, tetapi juga bersifat gelap, yakni menjadi rahasia selama-lamanya, seperti pembunuhan- pembunuhan gelap yang takmenjadi kepentingan pelaku pembunuhannya. Rahasia yang tetap menjadi gelap, diusahakan tetap gelap, jika perlu dengan mata rantai pembunuhan lanjutan untuk menjaga kegelapannya. Jaringan kerahasiaan dapat berlangsung di medan penugasan, seperti peramu racun dan pengguna racunnya, dan keluarga masing- masing tak tahu kehidupan mereka; bisa melibatkan se luruh keluarga, yang akan saling memahami pekerjaan masing- masing tanpa kata.

Maka kematian penyusup ini adalah kemungkinan terbaik dari kegagalan tugasnya. Itulah sebabnya kukagumi kehidupan mereka dalam dunia kaum penyusup ini, yang terwajibkan untuk tetap tinggal takterlacak sampai kematian menjemputnya. Mereka hidup dalam suatu kepercayaan dan tata cara kehidupan, yang dengan setia dan bangga dipegangnya, bahwa kerahasiaan, kegelapan, dan bahaya, adalah kehidupan di atas dunia yang mulia.

Para rahib membalikkan tubuhnya, membuka selubung kain di bagian dada. Terlihat rajah gambar dua pedang bersilang di sana.

''Golongan Murni,'' ujar seseorang.

Jadi itulah tanda Golongan Murni, kelompok yang menganggap bangsa penguasa Negeri Atap Langit sebagai bangsa termulia di dunia, sedangkan bangsa-bangsa lain hanya wajib mengikutinya saja. Adapun bangsa-bangsa yang tidak bersedia mengikuti dan tunduk kepadanya, adalah bangsa yang harus diberi pelajaran. Aku ingat pernah bentrok dengan mereka dalam peristiwa pembakaran gubuk-gubuk darurat para pengungsi bencana banjir.

Aku tidak pernah tahu bahwa rajah dua pedang bersilang adalah penanda seseorang dari Golongan Murni. Apakah kenyataan ini mengubah seluruh perhitunganku? Jika memang Golongan Murni yang telah menyusup ke dalam Kuil Pengabdian Sejati ini untuk membunuh bhiksu kepala, maka urusannya tak berhubungan langsung denganku yang dapat dikatakan sedang saling mengincar dengan Harimau Perang. Setidaknya ini membenarkan dugaanku bahwa Kuil Pengabdian Sejati ini memang bukan sembarang kuil, bahkan sebaliknya merupakan bagian dari jaringan pemberontak yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pemimpinnya -dan memang rahasia tentang siapa sebenarnya yang memimpin pemberontakan hanya diketahui oleh Harimau Perang...

(Oo-dwkz-oO)