-->

Nagabumi Eps 140: Penulisan, antara Ingat dan Lupa

Eps 140: Penulisan, antara Ingat dan Lupa

Kuletakkan pengutik dengan mata yang pedas. Peristiwa penyanderaan Nawa telah membuatku menulis semakin banyak dan artinya harus menulis lebih lama dari biasa. Seperti hari ini, aku telah menulis sepanjang malam tanpa tidur sama sekali. Belakangan hal itu semakin sering kulakukan. Ada kalanya setelah sepanjang malam menulis, aku masih terus menyambungnya sepanjang hari, seolah-olah seperti tidak memiliki waktu lagi. Namun bagaimanakah kiranya seorang tua berumur 101 tahun bisa berpikir lain? Ia akan selalu merasa setiap saat kematiannya akan tiba. Apabila ia merasa ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum meninggal dunia, niscaya ia akan memanfaatkan setiap waktu dan tenaga yang tersisa untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Agaknya itulah yang juga terjadi dengan diriku.

Maka setelah kejadian itu, aku merasa lebih baik bersikap menunggu dan tidak memburu, seperti biasanya berlangsung dengan naluriku. Betapapun, penyelesaian tulisanku untuk sementara kuanggap lebih mendesak dari apapun. Biarlah para pembunuh dari kelompok Kalapasa itu, jika memang mereka bekerja demi kelompok itu, yang pasti memenuhi permintaan seseorang atau kelompok tertentu; biarlah perempuan yang telah membunuh ketiga lelaki dari perkumpulan rahasia itu; biarlah siapapun yang berkepentingan mendatangi aku, karena aku memang merasa lebih baik menunggu. Segalanya masih terlalu rum it diuraikan sekarang, dan aku sendiri perlahan-lahan sedang mengurainya.

Aku akan tetap berada di sini sementara ini. Berpindah- pindah tempat hanya akan menyulitkan diriku sendiri. Selain terlalu banyak kemungkinan untuk bertemu banyak orang, juga dengan membawa lembaran-lembaran lontar yang sudah sangat banyak ini ke mana-mana, bukankah terbuka peluang untuk tercecer, hilang, atau menarik perhatian. Pengalaman mengajarkan, siapapun dia orangnya yang melangkah di jalan persilatan, akan selalu terlibat dalam pertarungan. Para penyoren pedang akan segera waspada terhadap siapapun orangnya yang mengarungi sungai telaga dan menjelajahi rimba hijau. Ibarat burung, ia mengerti beda persamaan warna dengan persamaan bulu. Ibarat kata hanya dari langkahnya, seseorang akan dapat memperkirakan apakah seseorang itu berada di jalan persilatan yang siap bertarung dengan siapapun sampai mati, ataukah seorang awam yang hanya hidup untuk mencari keselamatan sahaja.

Seperti yang telah kualami, kadangkala seorang petarung langsung menyerang begitu saja dengan jurus-jurus mematikan, yang berarti mau takmau akan membuatku terlibat untuk memberikan perlawanan. Adapun pertarungan untuk mencapai kesempurnaan hanya bisa dihentikan sete lah salah satunya bisa dilumpuhkan, yang hanya berarti telah ditewaskan.

BEGITULAH di sungai telaga dunia persilatan, ilmu yang tinggi ibarat madu yang mengundang semut, yang untuk mencicipinya berkemungkinan menerima kematian. Aku sangat menyadari adat semacam itu, sehingga aku tahu jika kubawa pula gulungan keropak berisi tulisanku, sangat mungkin pula dikira sebagai kitab ilmu silat, yang lantas akan menjadi rebutan, dan tentu saja tidak usah dikatakan lagi bahwa dalam setiap usaha merebut selalu dipikirkan kemungkinan melakukan pembunuhan.

Jadi lebih baik aku di sini, tetap tinggal di dalam pondok sederhana ini, menulis kata demi kata secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya, tanpa harus mempedulikan keindahannya. Maklumlah, wahai Pembaca yang Budiman, mau dibolak-balik aku ini bukanlah seorang empu yang mampu menulis dengan kata-kata indah penuh kemanisan atas pesona dunia. Aku hanyalah seorang tua yang menulis karena merasa telah difitnah dan disia-siakan. Aku menulis tanpa pemahaman tentang bagaimana segala sesuatunya harus menjadi indah. Apakah keindahan itu? Aku tak tahu. Apakah tulisan yang indah itu? Aku sungguh-sungguh tak tahu.

Namun aku tahu apakah kiranya yang bermakna bagiku, dan bagi seseorang yang selalu berada di jalan pertarungan seperti diriku, hanya ilmu silatlah yang menjadi cukup bermakna dalam kehidupanku yang memasuki tahun ke 101. Maka, maafkan aku Pembaca, maafkan jika riwayat hidupku sampai saat ini adalah perjalanan dari pertarungan yang satu menuju pertarungan lainnya. Betapapun itulah jalan yang telah kupilih, karena memang tampaknya tiada jalan lain bagi seseorang yang telah dibesarkan oleh suami istri pendekar bergelar Sepasang Naga dari Ce lah Kledung.

Begitulah aku telah menulis terus, nyaris tanpa makan dan tidur, untuk memeriksa kembali segenap rincian dalam riwayat hidupku. Aku harus melakukannya, jika ingin mendapatkan jalan menuju titik terang, tentang mengapa begitu banyak pihak ingin membunuhku. Jika hanya perkara balas dendam, yang sangat umum dalam dunia persilatan, mungkin aku tidak akan terlalu peduli; karena memang tiada akan terlalu besar bedanya, apakah aku akan mati karena seorang pendekar yang menantangku bertarung, atau sekadar anak dan  keturunannya yang membalas dendam. Namun jika bahkan negara yang semestinya menjadi tempat setiap warga bernaung, telah menyebarkan selebaran berwujud lembaran lontar bergambar diriku dalam perburuanku, tentu saja aku menjadi sangat penasaran. Demikianlah makanya kutulis riwayat hidupku, karena aku yakin bahwa pasti akan ada sesuatu, apa pun itu, dari masa laluku, yang menjadi penyebab hiruk pikuk perburuan orang tua seperti aku ini.

Kusadari tidak mudah memecahkan masalah, bukan sekadar karena pengetahuan yang kuperlukan sebagai syarat pemecahan masalah itu terbatas, tetapi juga bahwa dalam kenyataannya tidak dapat kujamin diriku sendiri, dalam usia 101 tahun ini, dapat mengingat segenap rincian secara pasti. Aku memang akan menuliskan kembali apapun yang masih kuingat sampai kepada rincian yang sekecil-kecilnya. Namun apalah kiranya yang bisa kutuliskan dari sesuatu yang sesungguhnyalah sejak awal telah kulupakan? Bagaimana jika yang kulupakan itulah justru yang semestinya begitu penting untuk kuingat kembali? Bagaimana jika aku mungkin tahu ada sesuatu yang kulupakan, tetapi tidak dapat mengingat- ingatnya kembali? Adakah kiranya cara untuk dapat mengembalikan ingatan yang hilang itu?

Tidak kalah penting, bagaimanakah jika segala sesuatu yang kuingat itu ternyata bukanlah kenyataan yang dapat diandalkan, karena kusadari segala sesuatu yang berlangsung dalam duniaku ini, tidak ada yang terbebaskan dari keterlibatan perkumpulan rahas ia. Bukanlah karena tindakan seperti penyusupan dan pembunuhan gelap seperti yang menjadi pekerjaan Kalapasa, melainkan tindak penyamaran teramat licin dalam kehidupan sehari-hari dalam segenap lapisan masyarakat dan berbagai bidang kehidupan, seperti yang menjadi pekerjaan jaringan Cakrawarti, yang bagiku sangatlah meresahkan. Bagaimanakah kiranya jika yang kuketahui selama ini, apa pun dan di mana pun, ternyata hanyalah penampakan seperti yang ingin se lalu diketahui orang, sebagai tindak penyanaran yang diberlakukan para pengawal rahasia istana?

SEKARANG ini, pada 872, ketika Rakai Kayuwangi telah berkuasa 17 tahun, harus kuingat kembali bahwa di Mataram ini terdapat susunan kekuasaan yang terdiri atas rajya, watak, dan wanua. Rajya atau istana adalah pusat pemerintahan tertinggi, sehingga merupakan daerah inti atau pusat. Sedangkan daerah pinggiran terdiri dari watak dan wanua. Daerah watak yang dipimpin oleh seorang raka atau rakryan adalah daerah berdaulat yang cukup luas dan memiliki perangkat pemerintahannya sendiri. Pada umumnya para raka mempunyai hubungan keluarga dengan raja. Para raka ini tidak dianggap sebagai bawahan raja, karena kedudukan mereka bukan berdasarkan wewenang yang berasal dari raja, melainkan berdasarkan hukum adat.

Jadi kekuasaan seorang rakryan tidaklah lebih besar dari kekuasaan yang memimpin rajya, tetapi kedaulatan yang dim iliki rakryan yang memimpin watak itu juga tidak berarti mereka harus bersikap sebagai bawahan terhadap rajya. Jika kemudian terjadi perselisihan paham, rakyat kecil yang tidak selalu tahu susunan pemerintahan seutuhnya tentu sangat mudah tenggelam dalam kebingungan. Lima puluh tahun lalu, pada 832, Sri Kahulunan, seorang ratu wangsa Syailendra menikahi Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya.

Pengaruh sang ratu sebagai penganut Mahayana terlihat dalam bantuan Rakai Pikatan atas berdirinya sebuah candi Buddha di selatan sana, tetapi Pikatan sendiri sebagai penganut Siva mendirikan candi Hindu yang menjulang ke langit di dekatnya, jelas merupakan jawaban terhadap Kamulan Bhumisambhara yang menjadi kebanggaan wangsa Syailendra, yang pada tahun perkawinan mereka itu pun masih belum selesai dibangun meski telah diresmikan pembangunannya sejak 824 oleh Sri Kahulunan yang bergelar Pramodawardhani. Kini, 40 tahun kemudian, mengapa seorang tua sepertiku, seperti yang pernah kudengar, diburu dengan tuduhan menyebarkan aliran sesat? Bagaimana mungkin sesuatu yang pernah menjadi aliran utama menjadi sesat tiba-tiba jika bukan karena permainan kekuasaan? Maka, memang benar aku menulis terutama untuk mengembalikan ingatan dan melacak perkara, tetapi aku tahu jika tulisanku dapat bertahan lebih lama dari kehidupanku, sedikit banyak akan berbicara atas namaku untuk mendapatkan keadilan.

Para penguasa sering lupa, tidaklah terlalu mudah menancapkan kekuasaan dalam bentuk apa pun tanpa perlawanan. Telah kusebutkan tentang susunan kekuasaan yang terpusatkan di kotaraja sebetulnya merupakan pembagian kekuasaan, antara penguasa rajya di istana dan para rakryan di daerah watak atau pinggiran. Ini tidak berarti bentuk yang sama berlangsung di desa atau wanua, karena sebagai kesatuan kekuasaan dan kesejahteraan terkecil, tata pemerintahan di desa jauh lebih berdaulat dan berkesetaraan. Tidak ada seorang pun yang berkuasa mutlak di desa, kecuali sekelompok dewan pemuka desa yang disebut rama atau ramanta, yang sepenuhnya menjalankan kegiatannya dengan pengandaian bahwa setiap orang itu setara dan sederajat. Meskipun pemerintah kerajaan berakar pada kesatuan desa, tetapi desa-desa tersebut tak tergantung pada pemerintah kerajaan.

Sekarang ini, kerajaan Mataram memiliki 28 negara bawahan dengan empat orang menteri utama, keduapuluhdelapan negara bawahan inilah wilayah kerakaian atau watak. Sebagai penguasa pusat raja dibantu oleh empat menteri utama, sebagai penguasa wilayah sekitar ibukota kerajaan.

SEKARANG ini, kerajaan Mataram memiliki 28 negara bawahan dengan empat orang menteri utama, kedua puluh delapan negara bawahan inilah wilayah kerakaian atau watak. Sebagai penguasa pusat raja dibantu oleh empat menteri utama, sebagai penguasa wilayah sekitar ibukota kerajaan. Keempat menteri utama itu adalah mahamantri i hino, mahamantri i halu, mahamantri i sirikan, dan mahamantri i wka. Keempat pejabat tinggi kerajaan itu biasanya dijabat oleh anak-anak raja atau kerabat raja. Adapun para rakai adalah penguasa di daerah yang merupakan raja-raja bawahan. Daerah watak yang dikuasai para rakai inilah yang merupakan daerah pinggiran.

Mantyasih sebagai pusat pemerintahan yang menjadi tempat tinggalku sekarang, terletak di bagian utara dari Kamulan Bhumisambhara, lainnya adalah desa Kawikwan, Panunggalan, Raja, dan Kapung sebagai daerah watak; sementara Surusunda, Luitan, Gulung, Jati, Manghujung, Ayamteas, Er Hangat, Sangut Mangli, Hasinan, Pabuharan, dan Pasir. Terdapat 24 desa dalam lingkungan yang berkiblat delapan dan setiap kiblatnya memuat tiga desa. Terdapat tiga desa dari pusat, yang menjadi pusat adalah Mantyasih, secara berturut-turut ke arah se latan menuju Kedu, Pamandayan, lantas Tepusan.

Dalam susunan kekuasaan yang menghubungkan segenap wilayah itu tentulah bermain segala kemungkinan permainan, karena setiap kelompok dalam wilayah kekuasaan yang sama tentu berusaha membebankan makna pandangan hidupnya. Dalam perjuangan atas makna itulah berlangsung penggabungan ataupun perlawanan, yang betapapun harus ditanggapi dan disa lurkan, jika kelompok yang berkuasa dengan segenap makna pandangan hidupnya ingin tetap bertahan. Demikianlah wangsa Sanjaya yang pernah tenggelam kini tampak bangkit lagi dengan segala dewa Hindunya dari delapan penjuru angin, mendesak kembali segenap gerakan kebuddhaan wangsa Syailendra yang diturunkan dari atas. Balaputradewa, yang tidak sudi menyaksikan bercokolnya Rakai Pikatan di pusat kekuasaan, memeranginya dan kalah serta terusir untuk ditampung kedatuan Srivijaya yang menguasai lautan dan menjadi penganut Mahayana.

Semua ini terjadi sebelum 856. Tentunya ketika aku masih tenggelam dalam samadi di dalam gua. Benarkah sengketa itu berakhir dengan kepergian Balaputradewa? Jika kemudian adik bungsu Samaratungga ini menjadi seorang raja di Srivijaya, bahkan membina hubungan baik dengan Raja Dewapaladewa di Nalanda, Jambhudvipa, yang memenuhi permintaannya atas tanah untuk kuil bagi para rahib Sriv ijaya, mengapa pula ia tak berusaha mengganggu kekuasaan Mataram dengan segala cara? Sriv ijaya dengan segenap jaringan pelayarannya sangat mungkin menyebarkan mata- mata yang mengemban berbagai tugas tak terduga. Jika Balaputradewa takbisa menang dalam peperangan yang mengerahkan pasukan, tidakkah ia bisa berperang dengan berbagai cara lainnya? Meskipun adalah Rakai Kayuwangi yang berkuasa kini, apakah jaminannya bahwa perseteruan antara Srivijaya dan Mataram tak berlanjut sampai hari ini?

Aku tidak berani meneruskan lamunanku yang barangkali saja mulai pikun ini. Diriku tidaklah harus menjadi begitu penting, sehingga kerajaan-kerajaan dari dua wangsa terbesar itu harus mengorbankan seorang tua sepertiku dalam permainan kekuasaan mereka. Lebih baik aku mulai menulis lagi, memperhatikan segala rincian dalam perjalanan hidupku yang sudah berumur 101 tahun dan takkunjung mati ini, karena aku percaya dari peristiwa kecil sangat mungkin muncul jawaban-jawaban besar. Peristiwa-peristiwa kecil yang tampaknya tidak berhubungan antara satu dengan lainnya, jika dilihat dalam suatu jarak dan cara memandang tertentu, barangkali akan memperlihatkan hubungan-hubungan yang membentuk gambaran jelas. Tentu saja untuk itu segala rincian tersebut harus ditulis dulu, sembari berusaha keras mengingat apapun yang tampaknya tidak penting, dalam usaha untuk menggambarkan segala sesuatu dengan seutuh dan selengkap-lengkapnya. Kupegang lagi pengutik itu, dan menyiapkan lagi selembar lontar yang masih kosong. Di pondok sebelah, agak jauh di balik pohon sawo, terdengar tangis bayi. Akhirnya keluar juga bayi itu, setelah sejak semalam mengalami kesulitan untuk dilahirkan. Beberapa orang keluar masuk pondok tersebut dengan panik sebelumnya, sebelum akhirnya seorang perempuan dukun bayi datang menolong.

RUPANY A yang keluar masuk itu adalah para dukun lelaki, yang tampaknya tidak mampu berbuat sesuatu terhadap kelainan kandungan perempuan tetanggaku itu. Sebetulnya aku sudah lama tahu bahwa bayi dalam perutnya itu sungsang, yakni bukan kepalanya yang berada di bawah, siap keluar dari rahim, melainkan kakinya. Dalam banyak kejadian, bayi itu tidak dapat keluar dan ibunya meninggal. Saat melihatnya aku menjadi gelisah, dan sudah semestinya harus menolong perempuan itu, tetapi jika itu kulakukan maka perhatian tetangga sekitar akan tertuju kepada diriku, dan mengingat keadaanku sekarang aku justru harus menghindari perhatian semacam itu. Aku tahu, jika kulakukan sesuatu terhadap kandungan perempuan tersebut, dan berhasil, maka para tetangga, bahkan penduduk di luar lingkungan ini, akan datang berbondong-bondong m inta pertolongan, dan selesailah sudah kehidupanku sebagai seorang penulis.

Namun aku sudah lama menyelidiki keadaan di sekitarku, dan tahu bahwa ada seorang perempuan dukun bayi yang kemampuannya tinggi, tetapi se lama ini tersamarkan oleh banyaknya dukun bayi dari kaum lelaki. Aku teringat tabib bapak-anak yang telah memberiku ramuan pelupa itu, yang membuat aku terkadang ragu apa yang kuingat dan kucatatkan selama ini memang peristiwa-peristiwa yang memang kuingat, ataukah sekadar sisa ingatan di antara banyak hal yang sudah terhapus dan tak mungkin kuingat. Mereka adalah tabib terkenal, dan tabib, dukun bay i, serta banyak penggenggam keterampilan serta kecendekiaan adalah kaum lelaki. Maka keberadaan perempuan dukun bayi itu memang di luar kebiasaan, bagaikan suatu kelainan, tetapi ada juga yang memanfaatkannya, terutama kaum paria, karena ia tidak pernah meminta bayaran apapun jua.

Keberadaan perempuan dukun bayi itulah membuatku tenang dan kejadiannya berlangsung seperti yang telah kubayangkan. Sepanjang malam perempuan yang baru kali pertama mengandung itu mengerang kesakitan, dalam usaha setiap lelaki dukun bayi yang tidak pernah berhasil itu. Bahkan kudengar betapa para lelaki dukun bayi itu berani berkata bahwa perempuan itu barangkali pernah berbuat kesalahan dan terkutuk. Tentu saja mereka sedang menutupi kelemahannya sendiri. Dalam keadaan putus asa akhirnya suami perempuan yang mengandung itu mendatangi pondok perempuan dukun bayi yang telah dipandang sebelah mata, karena yang datang meminta bantuannya hanyalah kaum paria, yang terkadang melahirkan di tepi jalan begitu saja.

Memang kaum paria telah terbiasa tidak meminta bantuan dalam segala perkara dari siapa pun jua, karena memang tidak seorang pun boleh diharap akan sudi mendekat apalagi menolongnya. Namun bahkan kaum paria pun bukanlah perkecualian ketika ada kalanya mengalami kesulitan dalam persalinan. Demikianlah lelaki muda dari kasta waisya yang sehari-harinya berdagang di pasar itu akhirnya mendatangi perempuan dukun bayi tersebut.

"Maafkan sahaya Puan telah mengganggu malam-malam," ujarnya merendahkan diri setengah menangis di depan pondok itu, "mohon pertolongan bagi istri sahaya yang malang. Semua dukun mengatakan istri sahaya terkutuk dan karena itulah bayi kami menjadi sungsang. Namun sahaya telah mengenal istri sahaya sejak lama, dan tahu tiada kesalahan yang telah dibuatnya begitu rupa, sehingga layak menerima kutukan tak tertolakkan. Tolonglah kami Puan..."

Kudengar suami muda itu bicara di luar rumah, ketika pintu masih tertutup, seperti begitu yakin bahwa perempuan dukun bayi itu tidak sedang tidur dan mendengar semua kata- katanya.

Namun kudengar pintu digeser, dan terdengar suara seorang perempuan dengan kepercayaan diri yang matang.

"Sejak tadi daku dengar istrimu mengerang, kutahu bayi itu sungsang dan percayalah itu bukan kutukan. Namun tak bisa daku bebaskan bayi itu tanpa membedah perut ibunya, dan daku taktahu cara menyatukan kembali perutnya itu tanpa keajaiban."

Suami yang kebingungan itu tentu tertegun. Perempuan dukun bayi itu berkata lagi.

"Ya, mungkin daku dapat menolong anakmu, tetapi tidak dapat kujamin kehidupan seorang perempuan yang perutnya dibedah."

Terdengar lagi erangan perempuan yang mengandung bayi sungsang di kejauhan.

"Tolonglah Puan! Sahaya mohon! Tolonglah!"

Suami itu telah menyerahkan segalanya ke tangan perempuan dukun bayi tersebut, yang selama ini tiada pernah terpikirkan akan ia minta pertolongannya, karena hanya kaum paria tanpa kasta sajalah datang kepadanya tanpa pernah memberikan imbalan.

TIADA pernah disadarinya, betapa justru dunia kaum paria yang serbamiskin lagi hina dina itulah tempat segala persoalan dalam persalinan mengasah keterampilan sang perempuan yang hidup sendirian. Adapun perempuan yang hidup sendirian, entah kenapa, selalu dicurigai sebagai tukang tenung atau penyihir, yang dipesan untuk menyebarkan teluh...

Maka ketika akhirnya kudengar tangis bayi yang baru dilahirkan pagi hari ini, aku tahu betapa suatu kehidupan te lah dise lamatkan, tetapi tidak kuketahui apakah memang atas kematian dari kehidupan lain. Kuletakkan pengutik di atas lontar yang masih kosong dan berkelebat ke atas pohon sawo di dekat pondok, tempat perempuan dukun bayi itu telah membedah perut atau kandungan perempuan yang bayinya sungsang tersebut. Suami istri itu hanya tinggal berdua di dalam pondok itu. Kulihat perempuan dukun bayi tersebut keluar membawa bayi yang masih merah ke tepi sungai diikuti ayah bayi itu. Mereka tentu akan mencuci bayi itu.

Kutunggu sampai mereka hilang menuruni tebing. Lalu aku berkelebat memasuki rumah. Kulihat perempuan itu pingsan, nyaris seperti sudah mati, tetapi ketika kudekatkan telingaku ke wajahnya, jelas ia masih bernapas. Ia tergeletak bersimbah darah pada amben bambu. Dari peralatan sederhana yang masih terserak di sana, aku tahu betapa kandungan perempuan yang bayinya sungsang itu telah dibedah oleh ketajaman bambu. Darah membasahi seluruh amben. Bekas kulit perut yang disayat itu disatukan kembali oleh jahitan tali yang terbuat dari usus kucing, kemudian di atasnya dioleskan dan ditumpuk-susunkan ramuan dari berbagai tumbuhan, yang kukira mustahil menyatukan kulit perut itu kembali sekarang juga. Mungkin ramuan tetumbuhan dimaksud untuk segera mengeringkan darah, tetapi darah masih terus merembes dari bekas sayatan. Perempuan itu akan mati karena kehabisan darah. Apakah aku harus tinggal diam saja?

Untuk sementara suaminya bersama perempuan dukun bayi itu masih akan berada di sungai. Hari masih pagi, tetapi cahaya matahari terserak di dalam pondok. Kuletakkan tangan kiriku di atas perut terbedah yang penuh dengan ramuan tumbuhan, sementara telapak tanganku menghadap cahaya matahari. Prana udara, prana matahari, dan prana bumi terbuat dari prana putih atau prana umum. Prana udara dan prana bumi bumi dalam bahasa yang hanya dipahami kalangan tertentu, disebut gelombang daya hidup, sebab bila dilihat secara waskita oleh mereka yang kepekaan matanya tinggi, prana-prana itu tampak sebagai celah sempit atau gelembung cahaya. Gelembung daya hidup berukuran macam- macam. Beberapa di antaranya mengandung lebih banyak satuan prana putih dan yang lain kurang.

Gelembung daya hidup bumi menembus bumi dan melingkupinya dalam ketebalan tertentu. Gelembung tersebut lebih padat dan berhimpitan dan biasanya lebih besar dari gelembung daya hidup udara. Beberapa gelembung daya hidup udara yang lebih besar mudah dilihat dengan memandang ke langit selama beberapa menit, terutama tepat sebelum matahari terbenam. Siapapun tidak perlu menjadi manusia waskita untuk mampu melihat gelembung daya hidup udara. Siapa pun dapat melihatnya jika terlatih, bahkan mampu melihat gelembung daya hidup bumi yang setengah depa dari tanah.

Demikianlah gelembung daya hidup atau kumpulan satuan prana putih diserap chakra untuk kemudian dicerna dan dipecah bagian-bagiannya. Bila dicerna, prana putih menghasilkan enam jenis prana berwarna seperti warna pelangi. Sejum lah besar prana udara diserap langsung oleh chakra limpa di depan dan belakang. Prana udara dipecah menjadi berbagai prana berwarna dan dibagikan ke chakra lain. Prana bumi diserap melalui chakra telapak kaki. Sejum lah prana bumi diarahkan naik ke tulang belakang dan chakra lain, sementara sejumlah besar diarahkan ke chakra kecil , chakra pusar, lalu ke chakra limpa, tempat prana itu dipecah dan dibagikan ke chakra lain. Semuanya berlangsung dengan sendirinya tanpa disadari. Prana putih terdiri dari prana merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu. Dari keenam prana berwarna; prana merah, biru, dan hijau paling sering digunakan dalam penyembuhan; dan dari ketiganya kuambil prana biru untuk menghentikan pendarahan.

JADI mungkin ramuan tumbuhan itu tidak menyatukan kulitnya dengan segera, tetapi dengan berhentinya pendarahan, perempuan itu masih berpeluang hidup, dan jika ia terus hidup, lukanya akan mengering dan kulit perutnya bersambung kembali. Tentu berhentinya pendarahan saja takcukup. Perempuan yang bayi sungsang-nya masih dibesihkan di tepi sungai itu harus dirawat. Namun untuk itu kukira perempuan dukun bayi itu tahu apa yang harus dilakukannya. Betapapun, berhentinya pendarahan itu kurasa akan membuat sang ibu muda itu tetap hidup.

Aku berkelebat menghilang setelah mereka kudengar berbicara sambil mendaki tebing.

"Tabahkanlah hatimu, Anak," ujar perempuan dukun bayi itu, "istrimu telah menjelma kembali ke dalam diri bayi perempuan cantik ini."

Aku telah memegang kembali pengutik itu, dan siap menulis di atas lontar yang masih kosong, ketika terdengar teriakan kaget riang gembira dari dalam pondok tersebut.

"Keajaiban! Sudah daku katakan isterimu akan tetap hidup jika ada keajaiban! Sekarang pendarahannya berhenti, artinya ia bisa sembuh kembali! Berikan sesaji kepada Durga sekarang juga!"

Suami perempuan itu taklangsung menjawab.

"Sahaya pemeluk Tantrayana, Puan, tidak memberi sesaji kepada Durga."

"Ah! Omong kosong! Hanya Bhatari Durga Mahisasuramardini yang akan melindungi perempuan! Cepat kerjakan jika masih butuh pertolongan!"

Aku tersenyum mendengar percakapan itu, dan mulai menulis kembali. Kulihat para tetangga berkerumun dan ikut membantu mereka, sementara burung-burung berkicau riuh rendah di atas pepohonan pada pagi yang berbahagia ini.

(Oo-dwkz-oO)