-->

Nagabumi Eps 139: Nagarjuna dalam Pemujaan

Eps 139: Nagarjuna dalam Pemujaan

DEMIKIANLAH kami ditampung oleh para bhiksu di Kuil

Pengabdian Sejati. Sebagian untuk melindungi kami dari intaian mata-mata dan perburuan para penyusup, sebagian untuk memberi kesempatan kepadaku mempelajari ajaran filsafat Nagarjuna. Maka kami pun hidup bersama para bhiksu dan hidup seperti bhiksu, yang meskipun terletak di tengah kota Thang-long, sangatlah tertutup dan ketat pengawasannya, apalagi sete lah peristiwa masuknya sepuluh pembunuh dari jaringan Kalakuta itu. Setiap hari kami ikuti segenap upacara para bhiksu dan bhiksuni di situ, yang tidak menjadi masalah besar bagi Iblis Suci Peremuk Tulang, karena pada dasarnya memang ia seorang rahib, tapi tentu saja merupakan hal baru bagiku, yang meski mengenal tetapi tak pernah melakukannya sama sekali.

Kami berdua juga dianjurkan untuk menyamar sebagai bhiksu dan kami turuti, yang berarti sekarang aku berkepala gundul dengan wajah kelim is, serta mengenakan jubah merah dan kuning. Namun jika para bhiksu dan bhiksuni telah mendapat tugas hariannya masing-masing, maka tugas kami hanyalah mempelajari f ilsafat Nagarjuna, tepatnya aku belajar dari Iblis Suci Peremuk Tulang yang dipercaya untuk memberikan pengantarnya.

Pada suatu hari, dalam sebuah bilik, Iblis Suci berkisah tentang bagaimana Nagarjuna dipuja begitu rupa, sehingga sosoknya lebih dikenal sebagai tokoh daripada guru filsafat yang sangat bersungguh-sungguh.

"Nagarjuna telah dipertimbangkan sebagai Buddha kedua dan telah menempati kedudukan kedua itu dalam garis kepala keluarga hampir semua aliran Buddha Mahayana, terutama karena penganut aliran-aliran ini menolak untuk mengakui kedudukan jiwa ribuan murid-murid langsung Buddha, yang menurut pengakuan Buddha sendiri, telah mencapai pengetahuan dan pengertian atau nana-dassana yang sama dengan kesempurnaan akhlak dan jiwa yang dicapai Buddha.

"Jika pencapaian kecendekiaan dan kejiwaan dari murid- murid langsung dengan jelas diungkapkan dalam naskah seperti Theragata dan Therigata, tidak ada penjelasan bagi kita tentang pencapaian jiwa Nagarjuna, kecuali catatan tentang masuknya beliau ke dalam igama Buddha dan kegiatan pengajarannya yang diterjemahkan Kumarajiva ke bahasa orang Negeri Atap Langit, Lung-shu-p'u-sa-ch'uan. Kedudukan Nagarjuna sebagai Buddha kedua diturunkan dari tulisan-tulisan utamanya, yang secara keseluruhan dipandang sebagai penafsiran fa lsafi sutra-sutra Mahayana. Nagarjuna kemudian menjadi begitu terkenal, sehingga sering dimanfaatkan berbagai aliran untuk mengatas namakan ajarannya, dengan mengalihkan pemikiran filsafatnya sebagai igama. Bukankah ini merupakan kekacauan luar biasa?"

Adapun yang dimaksudkan Iblis Suci Peremuk Tulang agaknya penulis-penulis Tantrayana yang mencari pengakuan atas kewibawaan dan kesucian bagi gagasan-gagasannya, yang tak diragukan lagi dipengaruhi oleh upacara-upacara Hindu. Bahkan jika akibat buruk semacam ini diabaikan, masih mungkin untuk mempertahankan bahwa kedudukan tinggi yang terhubungkan dengan Nagarjuna belum mencerminkan sikap tanpa kejelian dan setia berlebihan pengikut Buddha belakangan, terhadap jiwa sempurna pengikut Buddha pertama. Sikap semacam itu tercerminkan bukan hanya dalam sejumlah naskah Mahayana tetapi dalam beberapa ujaran Theravada.

"MISALNYA naskah-naskah tafsiran Theravada yang muncul akhir-akhir ini," lanjut Iblis Suci lagi, "suatu pemujaan kedudukan teracu kepada Abhidamma dalam hubungannya dengan wacana-wacana yang begitu rupa sehingga Buddha harus mendaki dunia kedewaan atau devaloka dan menceramahkan Abhidamma kepada ibunya yang tinggal di sana. Bukankah itu ajaib?

"Penambahan semacam itu, meskipun dimaksud untuk menambah kewibawaan dan kesucian kepada suatu susunan naskah yang muncul lama setelah kepergian Buddha, jelas menunjukkan betapa murid-murid langsung Buddha pun tidak mampu memahami isinya." "Jadi naskah-naskah menjadi gelanggang pertarungan gagasan berbagai aliran dalam igama Buddha?"

"Setidaknya antara penganut yang tidak pernah bertemu Buddha sendiri, dengan murid-murid langsungnya itu, yang tentu merasa pendapatnya tak bisa lebih benar lagi."

Betapapun, meski terdapat akibat dari kisah pertentangan ini, para penganut Theravada tidak memanfaatkannya dalam suatu cara yang akan mengarah kepada jatuhnya cita-cita awal para arahant atau orang suci. Sebaliknya, saat kebutuhan serupa dirasakan penganut Mahayana untuk memberikan wibawa dan kesucian bagi naskah-naskah Mahayana mutakhir seperti sutra-sutra Prajnaparamita, yang sudah jelas lebih baru daripada risa lah-risalah Abhidarma, mereka takpuas hanya dengan mengatakan itu merupakan wacana agung atau vaipulya-sutra, melainkan lebih jauh lagi mengutuk cita-cita kesempurnaan arahant yang terwujudkan dalam wacana-wacana itu dan mengecam pencapaian jiwa murid-murid langsung Buddha.

Dalam keadaan semacam ini, Saddharmapundarika-sutra beredar dari kuil ke kuil. Tujuan gerakan ini dianggap sebagai mulia, karena merupakan usaha pertama untuk menyatukan segenap gagasan dan cita-cita bertentangan, yang telah menyebabkan keretakan besar di antara para penganut Buddha. Namun kehendak untuk menyatukan ini ternyata lebih meningkatkan pertentangan daripada kerukunan dan ketenteraman. Bahkan suatu pandangan sekilas di permukaan sejarah igama Buddha, akan menampakkan keberadaan para bhiksu yang menyimpang dari cita-cita dan secara keliru mengakui suatu pencapaian jiwa, ketika beralih dari kehidupan tertutup kepada kehidupan seperti rakyat biasa. Para bhiksu seperti itu dikabarkan sudah ada sejak masa kehidupan Buddha. Kitab seperti Vinayapitaka maupun Kasyapararivar tidak tampak suka dengan para bhiksu yang dianggap menyempal semacam itu. "Kitab yang terakhir itu malah mengibaratkan mereka sebagai sekelompok anjing yang berkelahi satu sama lain demi sejumput makanan yang dilemparkan kepada mereka," ujar Iblis Suci Peremuk Tulang.

Sikap mementingkan diri sendiri dan perilaku takterhormat sebagian rahib mungkin memang merugikan. Dalam kaitan ini, pengorbanan diri dan sifat mengutamakan kepentingan secara habis-habisan dapat timbul sebagai c ita-cita mulia. Betapapun, tindakan dan tanggapan seperti itu tidaklah bisa menjadi alasan untuk mengecam para murid langsung Buddha, orang- orang suci arhant seperti Sariputta, Mogallana, dan Kassapa, sebagai orang-orang hinabhirata, dan memaksa mereka untuk menyangkal pencapaian demi menerima cita-cita kesempurnaan yang baru, karena suatu kesempurnaan tentu bertentangan Jalan Tengah yang disebutkan Buddha dalam ajarannya yang pertama bagi dunia.

"Hanya dengan mengikuti Jalan Tengah yang menghindari kedua kutub dari pemuasan-diri dan penghancuran-diri itulah," lanjut Iblis Suci, "bahwa murid-murid Buddha mencapai tingkat kebebasan yang disebut sankhara-samatha atau penenangan atas watak dan terus bekerja demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia."

Suatu catatan asli dalam Thera maupun Therigata menyimpan banyak pengakuan atas cita-cita para murid langsung, dan juga suatu cita-cita yang dikenal oleh Nagarjuna, seorang jawara dalam Filsafat Jalan Tengah.

Sembari mendengarkan Iblis Suci berbicara, aku mencoba memahami betapa ketika penganut Theravada mengangkat Abidhamma ke suatu kedudukan penting tanpa mengurangi nilai gagasan-gagasan dalam ajaran awal, Saddharmapundarika tampil sebagai telah me langkah jauh dalam penanganan segenap adat filsafat dan igama, dimulai dengan Buddha sendiri. Kitab itu bertanggung jawab tak hanya atas kecamannya terhadap para murid langsung, tetapi juga dalam merendahkan nilai wacana-wacana awal.

ADAPUN wacana seperti dalam nikaya-nikaya dan agama- agama disadari tertutup isinya. Alasan yang dihadirkan, karena para murid langsung tidak dapat memahami ajaran yang lebih dalam, Buddha harus mengujarkan suatu ajaran yang tertutup dan takmemuaskan untuk menyesuaikan dengan kemampuan berpikir mereka.

Pernyataan semacam itu mempunyai akibat tersembunyi, misalnya bahwa Buddha tidak mampu menyampaikan ajaran yang lebih dalam dengan cara yang dapat dimengerti orang- orang yang hadir. Dalam adat Mahayana, panggung telah dibuat siap pakai untuk para pemikir seperti Nagarjuna, yang setidaknya telah menguraikan ajaran, untuk diangkat ke tingkat Buddha kedua. Namun bahkan kedudukan Buddha tertinggi lebih penting daripada Sakyamuni.

''Kedudukan Nagarjuna telah dilebih-lebihkan begitu rupa, sampai ada yang berkata, bahwa kuncup teratai yang muncul di dunia bersama kelahiran Buddha, tumbuh dan mekar dengan kemunculan Nagarjuna,'' kisah Iblis Suci, ''agak terlihat sungguh-sungguh adalah pernyataan bahwa saran Buddha tentang praduga bagian-bagian atau dharma telah ditolak Nagarjuna dengan praduga kekosongan atau sunyata. Ini tentu menempatkan kedudukan Nagarjuna lebih penting daripada kedudukan yang ditempati Buddha.''

Kemudian kusadari bahwa mungkin saja para pengagum Nagarjuna telah membangun suatu ruang, yang membuat orang mengira bahwa filsafatnya sedikit banyak telah disarankan, bukan diajarkan, Buddha sebenarnya dalam sejarah. Kukira aku pun harus waspada terhadap para penulis yang teracuni gagasan tentang perubahan pemikiran, sehingga gagal mengenali kecanggihan gagasan-gagasan filsafat yang disampaikan Buddha sekitar 1400 tahun lalu. Setelah gagal menggali keaslian filsafat Buddha seperti yang tercerminkan oleh nikaya-nikaya dan agama-agama, seperti juga merosotnya pendekatan tersebut dalam ujaran-ujaran adat. Hanya setelah berlangsung pembaruan atas pendekatan pada masa lebih awal, oleh pemikir seperti Moggaliputta-tissa dan Nagarjuna, para penulis dan para pengajar dapat melihat bahkan melakukan pencanggihan filsafatnya secara menyeluruh.

''Bukankah begitu?'' Iblis Suci membuyarkan renunganku.

Kuangkat kepala. Seperti diriku, ia pun kini berkepala gundul dan wajah kelim is. Kami berada di dalam sebuah bilik batu, sebagai bagian dari ruangan dalam kuil yang digunakan untuk samadhi. Sebagai tingkat lanjut dari dharana dan dhyana, samadhi layak mendapat bilik tersendiri, dan memang tidak sembarang bhiksu dapat mencapai tingkat tersebut. Sejauh kuamati kehidupan dalam kuil, semakin tenggelam seorang bhiksu dalam penalaran filsafat, semakin sulit kemungkinannya mencapai tingkatan jiwa dalam samadhi; sebaliknya semakin tenggelam seorang bhiksu ke dalam samadhi, semakin sulit otaknya memecahkan penalaran. Itulah sebabnya hanya bhiksu tertentu yang mampu menguasai keduanya, dan melangkah lebih cepat dalam jalan menuju Kebuddhaan.

Namun bhiksu yang terhebat tentu mereka yang selain mampu berfilsafat sekaligus bersamadhi, ternyata kuat dan mantap dalam ilmu silat pula. Bahkan kemudian kuketahui bahwa terdapat juga ilmu silat yang dima inkan dalam kerangka samadhi. Kiranya inilah yang juga ingin kucapai, karena jika menguasainya maka kesempurnaan tidaklah menjadi mustahil untuk dimiliki. Betapapun, akhirnya filsafat jua yang akan mencari jalan, bagaimana semua ini dapat diberlangsungkan dalam kebudayaan igama yang diterima penalaran. ''Bagaimana Pendekar Tanpa Nama? Apakah dikau sependapat bahwa pemujaan berlebihan terhadap Nagarjuna, tentu akan menutupi jalan filsafatnya?''

''Filsafat betapapun adalah penalaran Iblis Suci, dan pemujaan akan mengaburkan ketajaman penalarannya.''

''Bhiksu kepala sangat kagum dengan candi raksasa meskipun belum melihatnya. Aku tidak bisa melakukannya.''

''Lupakanlah dahulu candi itu Iblis Suci,'' aku menyela, ''ceritakanlah lagi tentang Nagarjuna.''

IBLIS Suci mengambil napas. Ia memang ditugaskan menjawab semua pertanyaanku. Kuakui aku memang pernah mempelajari filsafat Nagarjuna, tetapi dengan pendekatan awam yang tidak menjamin ketepatan dalam pemahaman. Kuketahui belajar ilm u filsafat sebaiknya setapak demi setapak, tidak seperti yang kulakukan selama ini, asal menelan semua kitab tanpa bimbingan seorang guru. Pembelajaran Nagarjuna secara rinci sebetulnya juga kuperlukan demi kepentingan lain, yakni sedikit demi sedikit, lambat laun tapi pasti, untuk menghilangkan ilmu racun dan ilmu sihir yang terwariskan kepadaku tanpa kukehendaki, karena kehendak Raja Pembantai dari Selatan yang merasa perlu menurunkan ilmu-ilmu hitamnya yang mengerikan itu.

Ternyatalah betapa segenap mantra yang terpindahkan tanpa bisa kutahan itu adalah ujaran-ujaran Nagarjuna, yang akan tetap menjadi mantra selama ujaran berbahasa Sansekerta itu tidak dapat kupahami. Seiring dengan pemahamanku terhadap ujaran-ujaran Nagarjuna sebagai suatu bangunan f ilsafat, akan memudar pula daya-daya racun dan sihirnya, artinya segala daya gaibnya, sebagaimana takhayul yang penuh pesona dengan pasti akan runtuh oleh penalaran. Tentu saja ini akan membuat tubuhku kehilangan kekebalan terhadap racun, darahku akan kehilangan daya pemunah racun yang selama ini berlangsung, dan sihir tak akan bisa kulawan dengan sihir, melainkan dengan otak yang mengandalkan penalaran menghadapi berbagai tipuan bagi pancaindera.

Betapapun ilmu racun dan ilmu sihir Raja Pembantai dari Selatan itu telah banyak berjasa, serta bahwa suatu ilmu menjadi ilmu hitam maupun ilmu putih tergantung dari tujuan penggunaannya, tetaplah akan kurelakan kehilangan ilmu-ilmu sakti itu dengan harapan kukuasai filsafat Nagarjuna. Kubutuhkan filsafat yang membongkar bangunan sejarah filsafat ini, untuk mengembangkan apa yang telah kurintis selama ini, yakni penyempurnaan Jurus Tanpa Bentuk.

"Jadi," demikianlah Iblis Suci Peremuk Tulang melanjutkan uraiannya, "Nagarjuna sebetulnya adalah seorang pengulas besar, yang sama sekali tidak ingin memperbaiki ajaran Buddha, seperti dikatakan para pemujanya, melainkan ibarat kata justru berusaha keras menghancurkan tumbuh-tumbuhan liar yang te lah tumbuh di sekitar ajaran Buddha, sebagai hasil sejumlah gagasan yang diungkapkan oleh para pemikir dalam adat Sthaviravada dan Mahayana."

Menurut Iblis Suci, akan diperlihatkan dalam Mula- madhyamakakarika, suatu ulasan luar biasa terhadap Kaccayanagotta sutta karya Buddha sendiri, catatan Nagarjuna yang menegakkan setiap pernyataan yang diucapkan Buddha dalam perbincangan itu, maupun banyak bahan dari perbincangan Buddha yang lain, bagai membersihkan air berlumpur akibat prakiraan-prakiraan penuh takhayul para penganut Buddha belakangan ini. Kelanjutan prasangka- prasangka sepihak yang ingin memisahkan diri di antara pengikut setia Theravada dan Mahayana mungkin bisa dimengerti, tetapi para pelajar dan pengulas hari ini justru bertanggungjawab untuk tidak terpengaruh oleh prasangka- prasangka tersebut. Betapapun harus disadari pembedaan antara Theravada dan Mahayana adalah berlebihan, dan bahwa dasar ajaran Buddha tetaplah utuh dari abad ke abad. "Kini sudah waktunya untuk membuang pengertian- pengertian Theravada dan Mahayana dari tatabahasa kita," ujar Iblis Suci, "dan halangan besar untuk menghapus perbedaan ini adalah sikap bahwa filsafat Nagarjuna harus dijelaskan para pemikir baru. Betapapun, nanti akan kujelaskan bagaimana Karika Nagarjuna bersifat memperbaiki segenap penafsiran tersebut."

Suatu pengamatan cermat atas naskah-naskah Buddha dengan jelas menunjukkan bagaimana gagasan-gagasan mendasar selamat menembus zamannya, meski kadang- kadang muncul pemikiran yang bertentangan dengan ajaran dasar Buddha, yang mengakibatkan perdebatan di antara para pemikir Buddha.

Tanpa kecermatan dan kejelian, wacana-wacana awal Buddha itu telah dikumpulkan begitu saja dan dilestarikan dalam apa yang disebut Abhidharma, bersama dengan semua naskah penafsirannya, dalam bentuk vibbhasa atau atthakata, dan mengulas segenap himpunan itu sebagai mewakili pandangan Theravada atau Hinayana. Ini juga terjadi dengan sejumlah wacana Mahayana yang disebut sutra, maupun risalahnya yang disebut sastra. Isi wacana-wacana tersebut, seperti terjadi pada Abhidarma telah diulas dan diberi catatan sekadar sebagai penjelasan tambahan, dan bukan pembebasan daripadanya. Jadi seperti saling membedakan diri tetapi dalam kenyataannya tidak berbeda sama sekali. Abhidarma dikatakan sebagai karya terpisah penganut Theravada, pada umumnya Theravada dan Sthaviravada, dan secara tidak biasa adalah Sarvastivada dan Sautrantika. Mereka disebut memisahkan diri, tetapi pandangan terpisahnya tidak ditemukan dalam wacana-wacana maupun Abhidarma, melainkan dalam himpunan catatan ulasan tersebut.

PENGANGKATAN Abhidarma ke tingkat bacaan utama, lebih penting dari wacana-wacana, adalah kerja para pengulas dan bukan pengumpul naskah-naskah Abhidarma. Penganut Mahayana sendiri, yang terganggu oleh pemikiran kehakikatan aliran Sarvastivada dan Sautrantika, berusaha keras untuk menyelamatkan ajaran-ajaran awal dengan menekankan sisi- sisi yang dianggapnya buruk dari ujaran Buddha, tepatnya ujaran tentang sunyata atau kekosongan. Kasyapaparivarta sebagaimana juga naskah-naskah awal Prajnaparamita menghadirkan kembali tanggapan terhadap kehakikatan ajaran Buddha akhir, dan naskah ini mesti takdihubungkan dari pemisahan yang muncul sebagai akibat usaha penyatuan dalam risa lah seperti Saddharmapundarika.

"Para pemikir Mahayana," ujar Iblis Suci, "benar-benar berusaha mengatasi penafsiran yang berusaha memisahkan diri, dan kembali kepada bentuk umum igama Buddha seperti tercermin dalam wacana-wacana awal, tanpa menolak ketentuan resmi naskah-naskah Abhidarma yang mewujudkan cara pengajaran-pengajaran yang baik, yakni sutra Mahayana yang menekankan sisi tidak baik dari ketentuan-ketentuan Buddha. Dalam pembahasan filsafat Nagarjuna, mungkin akan terlihat apakah terdapat persaingan antara dua aliran filsafat besar, Madhyamika dan Yogachara."

Yogachara? Tidakkah pernah kuceritakan perihal aliran filsafat ini? Salah satu aliran Mahayana yang menekankan pentingnya ketenangan dan kedalaman dhyana menuju pencerahan? Pendekatan seperti itu telah dikembangkannya menjadi cara-cara yang rumit, pada dasarnya menempatkan diri antara kaum penghamba kenyataan Sarvastivada dan penghamba ketiadaan Shunyatavada. Bagi mereka benda tak nyata ada, melainkan ada dalam pencapaian kebenaran dan kesadaran dalam dirinya. Kadang disebut Chittamatra, atau pikiran saja, karena sesuai ajaran Mahayana secara umum, suatu hasil akal dalam dirinya belumlah pada hakikatnya nyata. "Perbedaan utama Yogachara dan Madhyamaka adalah, bahwa yang pertama berkilah, betapa sesuatu itu ada tetapi merupakan kekosongan."

"Tidakkah ini jatuhnya merupakan kecurangan atas perjuangan melawan kemenduaan?"

"Nanti kita akan dalami ini, tetapi untuk sementara dapat dikatakan, kita berada dalam kedudukan untuk mengikuti keberadaan dua hal, kekosongan dan ketakberadaan. Kilah ini menyatakan tidak ada kemenduaan terdapat dalam pendapat bahwa kekosongan tidak berarti ketidakhadiran keberadaan nyata, karena pikiran atas ketidakhadiran adalah kosong, tetapi tiada sesuatupun dalam dirinya benar-benar mengada. Madhyamaka mempertentangkan kekosongan dan keberadaan nyata, sedangkan Yogachara mempertentangkan kekosongan dan hubungan yang mengamati -yang teramati. Berpikir tentang apa yang tidak benar-benar ada setara dengan kesadaran, aliran penerimaan dan pengalaman, tetapi sebagai arus pengalaman takterbedakan. Kedudukan Madhyamaka memahami kekosongan sebagai tidak terdapatnya keberadaan-dalam, sedangkan Yogachara mengambil kekosongan untuk memaknai tidak adanya kepengamatan dan keteramatan dalam pengalaman kita, karena semua yang berada di sana adalah aliran yang mengubah penerimaan."

Hmm. Meski cukup rum it. Namun aku yang selalu menghubungkan gagasan filsafat dengan jurus-jurus silat dapat membayangkan dengan jelas, betapa jika berdasarkan Madhyamaka atau Filsafat Jalan Tengah akan dapat kubangun Jurus Tanpa Bentuk, maka jika terdapat seorang pendekar yang membangun ilmu silatnya berdasarkan Yogachara, yang bahkan pernah kucoba juga, sungguh akan menjadi lawan sepadan. Kubayangkan akan menjadi sebuah pertarungan berhari-hari tanpa ada kepastian siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang; saat kemenangan hanya dapat dipastikan ketika salah satunya lebih kuat dalam pemahaman dan akan unggul dalam perdebatan filsafatnya.

Memang benar bahwa bhiksu kepala itu mengetahui kehendakku dalam penyusunan jurus itu, dan benar juga bahwa Iblis Suci Peremuk Tulang telah mendengar masalah tersebut, tetapi tidaklah mungkin penafsiran keduanya atas pembayanganku akan tepat seperti yang berlangsung di dalam kepalaku. Tidak mungkin. Seperti juga aku taktahu apakah yang dibayangkan bhiksu kepala tersebut tentang candi raksasa yang kugambarkan akan bagaimana jadinya secara rinci, akan sama dengan pembayanganku, karena kami berdua sama-sama membayangkan sebuah candi yang belum jadi.

IBLIS Suci menjelaskan kepadaku, bahwa takdapat dipastikan jika Nagarjuna itu seorang penganut Mahayana, meski sudah pasti pula bukan Theravada. Pendapat ini berdasarkan kenyataan, bahwa Mulamadhyamakakarika atau laz im disebut Karika saja sebagai karya utamanya, tidak mengacu sama sekali kepada wacana besar manapun dalam adat Mahayana, takjuga kepada Prajnaparamita-sutra yang sangat dikenal. Iblis Suci lebih percaya bahwa risa lah Nagajuna itu bersumber kepada wacana Samyukta, meski tidak pernah menyatakannya secara tersendiri. Satu-satunya sumber wacana yang disebut namanya adalah Katyayanavavada, suatu wacana yang terdapat pada Nikaya- nikaya Pali maupun Agama-agama Negeri Atap Langit. Bukti tunggal yang penting ini jarang disadari oleh para pelajar maupun guru mereka yang mendalami Nagarjuna.

Sementara Iblis Suci berkisah, aku menghela nafas dalam hati. Kurasakan betapa miskin pengetahuanku dan betapa masih banyak yang mesti kupelajari dengan sungguh- sungguh, jika memang aku harus mendalami ilmu filsafat setuntasnya dalam pencarian ilmu s ilatku. Kusadari betapa aku telah belajar dengan cara-cara yang sangat sembarangan, dan pengetahuan yang kumiliki tidak menjadi ilmu, karena diriku tidak memiliki pengetahuan tentang suatu pendekatan, yang dapat menjadikan segala pengetahuanku menjadi ilmu pengetahuan.

Demikianlah dalam diriku berlangsung perbincangan, apakah aku harus memilih sa lah satu saja antara ilmu silat dan ilmu filsafat, ataukah masih merasa mampu akan dapat meleburkan keduanya dalam pencarian atas jurus silat yang ingin kunamakan sebagai Jurus Tanpa Bentuk.

(Oo-dwkz-oO)