-->

Nagabumi Eps 138: Kuil Pengabdian Sejati

Eps 138: Kuil Pengabdian Sejati

LORONG di dalam kuil itu luas, karena tak hanya sekadar ruang yang menghubungkan ruang satu dengan ruang lain, melainkan juga tempat pemujaan dengan genta-genta, gambar pahatan pada dinding yang menceritakan perjalanan Siddharta Gautama, dan lilin-lilin yang menyala di bawahnya. Asap dari lilin-lilin itu membuat mata pedas, tetapi udara musim dingin di luar yang begitu menusuk membuat orang- orang tetap saja masuk, mencari sekadar kehangatan dengan pura-pura berdoa dan lain sebagainya.

Begitulah suasana di dalam lorong ketika pisau melengkung itu menyambar dari balik jubah dan dengan seketika saja sudah berada di dekat urat leherku. Setidaknya sepuluh bikhsu, atau orang-orang yang menyamar sebagai bhiksu, bergerak cepat dengan pisau melengkung yang seperti punya mata. Aku pun berkelebat dengan kecepatan kilat, yang membuat pisau itu berdesir di samping telingaku. Serangan yang sama juga terarah kepada Iblis Suci Peremuk Tulang, maupun rahib kenalannya yang bagaikan tak terlalu sadar betapa ujung pisau melengkung siap mencongkel matanya!

Sepuluh pembunuh berbusana bhiksu itu tak hanya bergerak cepat, tetapi juga mengepung kam i, lima menyerang dari depan dan lima lagi berkelebat untuk menyerang dari belakang. Namun aku dan Iblis Suci Peremuk Tulang belum tertarik untuk mati di tempat ini, maka berkelebatlah kami menghadapi serangan ini. Dem ikianlah dalam kegelapan pisau berkilat karena cahaya lilin, di antara kibar jubah kuning dan merah itu aku berkelebat melakukan menghindar maupun serangan balasan. Mereka bergerak sangat amat cepat, sehingga setiap kali hanya kulihat pisau berkilat yang dengan kemelengkungannya itu tergerakkan dengan indah meski penuh ancaman.

BEGITULAH maut di ujung pisau melengkung itu mengejarku dengan kilatan cahaya yang mendahuluinya. Semenjak pertempuran berakhir pedang biru dan cambuk kuning keemasan itu tidak kubawa lagi, aku menukarnya dengan sejumlah uang di tempat seorang pandai besi pembuat senjata, yang pura-pura tidak tahu menahu itu milik siapa. Aku tidak butuh senjata bagi ilmu silatku, tetapi aku butuh uang, sehingga aku merasa tidak ada salahnya menjual kedua senjata mestika itu. Jika aku menyamar sebagai paria pengemis, tidak berarti bahwa dalam arti sebenarnya aku harus tidak punya uang; sebaliknya juga adalah wajar bagi seorang paria untuk menjual apa pun yang ditemukan, karena memang tak tahu apa gunanya bagi dirinya.

Maka tak dapat kumanfaatkan kilatan cahaya yang mendahului itu, m isalnya dengan pantulan pedang biru, tetapi harus kutunggu pisau itu semakin dekat agar bisa kurebut. Namun kecepatan mereka luar biasa, sehingga aku harus terus waspada, karena kelengahan sedikit saja akan bisa membuatku tidak pernah pulang ke Jawadwipa. Aku berkelebat menghindari gulungan cahaya merah dan kuning, dengan kilatan tajam pisau di tengah-tengahnya. Perlawananku menjadi sulit, karena mereka berusaha juga membunuh rahib kawan Iblis Suci itu. Mereka tahu betapa diriku dan Iblis Suci Peremuk Tulang tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, dan karena itu mereka menggunakannya untuk memecah perhatian kami.

Pertarungan yang tidak dapat diikuti mata awam ini hanya terdengar sebagai des is, desau, dan desir bagi mereka; kukira demikian juga bagi kawan rahib baik hati yang berada di tengah-tengahnya. Ia ta ktahu sama sekali betapa setiap saat nyaris mati. Begitulah suatu ketika, karena mesti memukul jatuh pisau yang mengarah ke jantungnya, suatu dorongan pukulan membuatku terlempar ke dinding, dan terbanting tepat pada gambar pahatan Siddharta Gautama di bawah pohon bodhi. Pada saat yang sama suatu bayangan kuning merah yang dari desirnya kuketahui sebagai jubah para bhiksu palsu, tidak hanya satu tetapi tiga pisau melengkung menikam dari kanan, kiri, dan belakang. Itulah Jurus Tiga Perawan Mencabut Bunga yang taklebih takkurang maksudnya memastikan berhasilnya pencabutan nyawa.

Inilah saatnya aku bergerak lebih cepat dari kilat, saat gerakan mereka tampak menjadi sangat lambat, sehingga aku sempat menyambar lilin dan dengan sentakan menjadikan apinya sebagai bola api yang menyambar jubah ketiganya. Seketika terdengar raungan manusia yang terbakar. Itulah Jurus Anak Perawan Bermain Api yang sudah jarang dipelajari lagi. Jubah yang mereka kenakan membuat tubuh mereka jadi obor menyala yang berjalan tertatih-tatih menabrak dinding. Lorong itu menjadi terang benderang dan mengundang lebih banyak orang. Semuanya para bhiksu penjaga keamanan yang masuk dari kedua ujung lorong dengan senjata toya mereka. Iblis Suci Peremuk Tulang telah melumpuhkan dua lawan yang tergeletak layu bagaikan tanpa tulang. Tinggal lima bhiksu palsu yang kini terkepung dan saling memunggungi.

Para bhiksu dari kedua sisi semakin mendekat.

"Siapa kalian semua? Berani-beraninya bikin onar di Kuil Pengabdian Sejati ini hah?"

Keadaan sangat menegangkan. Aku tahu kemampuan bhiksu penjaga keamanan sangat tinggi. Jika bhiksu penjaga keamanan datang sebanyak itu dengan kemampuan permainan toya mereka yang terkenal, bagaimanakah aku bisa keluar dari Kuil Pengabdian Sejati ini dalam keadaan hidup?

Aku menyiapkan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama, bersiap menghadapi kemungkinan bahwa para bhiksu itu akan memberi hukuman kepada siapa pun yang dianggap menodai kesucian kuilnya. Betapapun aku merasa tidak bersalah, dan karena itu aku harus melawan.

"Bukan hanya bikin onar, tapi juga menumpahkan darah! Hukuman seperti apa yang kalian harapkan jika bukan seberat-beratnya hukuman?"

Aku tak tahu apakah bhiksu di kuil pertapaan boleh melakukan sembarang penghakimannya sendiri. Namun Kuil Pengabdian Sejati terletak di tengah keramaian Kota Thang- long, tempat segala nilai tidak selalu bisa dipegang seperti ujaran dalam kitab yang taklekang oleh waktu.

Rahib kawan Iblis Suci Peremuk Tulang mengangkat kedua tangannya dan mengeluarkan bahasa burung. Ia lantas bersujud. Kuawasi sisa lima bhiksu pembunuh yang masih hidup. Mereka saling melirik dan memandang dengan cepat.

"Kawanku berkata kita tidak bersa lah, dan bahwa dialah yang telah mengajak kita berdua masuk kemari, sebelum kita menyelamatkan dirinya dari senjata para pembunuh yang tidak dikenalnya. Lantas dia menyerahkan dirinya untuk dihukum jika bersalah," kata Iblis Suci Peremuk Tulang.

KAWAN bhiksu yang baik hati itu bersujud di tanah. Ia tidak akan bangun jika bhiksu kepala kuil tidak mengatakan ia boleh berdiri. Seorang bhiksu penjaga keamanan yang agaknya memimpin regu bertoya ini menunjuk Iblis Suci Peremuk Tulang.

''Daku mengenal dikau sebagai bhiksu malang dari Sungai Hitam yang berubah menjadi seorang pendendam. Kami sayangkan tidak cukup dalam penghayatan dirimu atas Jalan Kebuddhaan, janganlah mengaku sebagai rahib yang mampu menahan godaan duniawi untuk membalas dendam. Namun kami percaya dalam hal ini dikau tak bersa lah. Minggirlah bersama kawanmu itu, agar kami bisa menangkap para bhiksu yang tidak pernah kami lihat batang hidungnya ini!''

Bisa kuikuti kata-katanya karena ia menggunakan bahasa Viet.

Barisan toya bergerak membentuk kedudukan yang mengepung sisa lima pembunuh itu, melepaskan kami berdua dari pengepungan, sementara kawan bhiksu satu itu masih terus bersujud di tengah ketegangan.

Aku mengikuti perkembangan dengan sangat khawatir. Namun aku terlambat. Kelima bhiksu gadungan itu bergerak sangat cepat, berputar sambil menyebarkan jarum-jarum beracun dari balik jubahnya. Suaranya mendesis mengerikan karena banyaknya jarum beracun yang siap mencabut nyawa itu. Dengan cepat pula para bhiksu penjaga keamanan memutar toya mereka untuk menangkis, tetapi jarum-jarum beracun itu dilepaskan oleh para pembunuh gelap yang sudah berpengalaman. Sebagian bhiksu berhasil menepis rontok jarum-jarum itu, tetapi sebagian yang lain meski dapat pula merontokkan sebagian jarum-jarum tersebut, tetap saja tewas terjengkang dengan badan menghitam, ketika satu dua jarum menembus mata, leher, dan jantung mereka. Namun serangan jarum-jarum beracun itu sendiri pun adalah suatu tipuan, karena belum lagi para bhiksu penjaga keamanan itu selesai memutar toya masing-masing seperti baling-baling untuk menepis jarum-jarum terakhir, kelima bhiksu palsu dari jaringan rahas ia pembunuh gelap itu telah menelan butiran obat beracun untuk bunuh diri.

Mendadak saja mereka jatuh terbanting dengan mulut berbusa. Tidak ada keterangan yang bisa digali dari mereka. Namun mereka tidak mati sendirian, tidak kurang dari dua belas bhiksu ikut mati bersama mereka.

Bhiksu kepala penjaga keamanan itu mengambil sebilah pisau melengkung dan memeriksanya dalam sisa cahaya api korbanku yang masih menyala. Aku pun dapat melihatnya dari jauh. Pada bidang lebar pisau itu terukir gambar seekor ular.

''Hmmhh!''

Bhiksu kepala itu mendengus, dan pisau melengkung di tangannya itu dipatahkannya menjadi dua!

(Oo-dwkz-oO)

DEMIKIANLAH untuk sementara aku dan Iblis Suci Peremuk Tulang dim inta para bhiksu untuk tinggal di Kuil Pengabdian Sejati. Bagi mereka, siapa pun yang terancam oleh perburuan kelompok jaringan rahasia pembunuh gelap Kalakuta, bukan hanya terancam bahaya dan harus dilindungi, melainkan juga harus dibela karena berada di pihak orang-orang baik.

''Hanya orang-orang jahat akan tega memanfaatkan jasa Kalakuta dengan racun mereka yang kejam. Iblis Suci Peremuk Tulang, ceritakanlah sesuatu yang dapat memberi penjelasan,'' ujar bhiksu kepala Kuil Pengabdian Sejati kemudian, ketika keadaan sudah tenang.

Maka berceritalah Iblis Suci Peremuk Tulang bahwa diriku adalah orang yang dicari oleh mata-mata pemerintah Daerah Perlindungan An Nam. Iblis Suci menyatakan bahwa diriku adalah bagian dari orang-orang asing, seperti juga orang Thai, orang Khmer, orang Cam, orang Melayu, dan orang Pagan, yang bergabung dengan para pemberontak Viet, yang kini telah terkalahkan. Iblis Suci menyatakan gaya diriku hanyalah memenuhi tugas sebagai pendekar, tetapi setelah pertempuran usai bermaksud meneruskan pelajaran atas filsafat Nagarjuna.

''Hmm, Nagarjuna! Semua orang mempelajarinya sekarang, tetapi tidak semua orang bisa memahaminya, karena tidak bisa melepaskan dirinya dari f ilsafat lama. Hmm. ''

Bhiksu tua itu manggut-manggut sembari mengelus dagunya yang kelimis.

''Katakanlah kepadaku Iblis Suci, kenapa di antara ratusan ribu anggota pasukan pemberontak, justru kawanmu ini yang dicari?''

Iblis Suci memandangku, seperti meminta persetujuan. Aku mengangguk. Kurasa aku harus mempercayainya, bukan karena golongan para bhiksu, seperti juga para rahib Hindu dari golongan brahmana, diandaikan menggenggam kesucian, tetapi bhiksu kepala telah menunjukkan betapa ia berpihak.

SETELAH mengenal siapa Iblis Suci Peremuk Tulang yang membangkang terhadap pemerintah Daerah Perlindingan An Nam, terbukti ia tidak memerintahkan para bhiksu penjaga keamanan menangkapnya. Meskipun Kuil Pengabdian Sejati terletak di dalam Kota Thang-long, agaknya para bhiksu memiliki kebijakannya sendiri. Kurasa sepantasnyalah aku merasa aman di dalamnya.

Demikianlah Iblis Suci Peremuk Tulang itu pun angkat bicara.

"Setidaknya terdapat tiga nama yang dicari mata-mata pemerintah di kalangan pemberontak, yakni Amrita, Harimau Perang, dan Pendekar Tanpa Nama. Dialah yang disebut terakhir itu." Bhiksu tua itu tetap tenang wajahnya, dan tersenyum.

"Jadi dikaulah Pendekar Tanpa Nama yang sangat bernama itu. Jika kita tidak berjumpa karena kejadian ini, niscaya dirimu bagiku hanyalah hadir sebagai cerita yang disampaikan dari kedai ke kedai. Kudengar dikau berasal dari Jawadwipa bukan? Bagaimana keadaan di sana?"

Aku tersentak. Meskipun seperti disampaikan seperti sambil lalu, ini bukanlah pertanyaan yang begitu mudah dijawab, karena meskipun yang ditanyakannya adalah Jawadwipa, sebetulnya itu pertanyaan tentang Suvarnadvipa dalam keseluruhan wilayahnya. Adapun diriku, meskipun singgah ke Kota Kapur di Pulau Wangka, tidaklah sempat menginjak pusat Kedatuan Sriv ijaya, yang pulaunya dalam Ramayana dari Lanka disebut Samudradvipa, tetapi yang oleh banyak orang disebut Suvarnabhumi. Adapun Suvarnadvipa dan Suvarnabhumi adalah penyebutan wilayah yang bertumpang tindih. Betapapun aku harus segera menjawab, jadi kuceritakan saja sesuatu yang mungkin akan membuatnya tertarik, yakni pembangunan candi raksasa Kamulan Bhumisambhara pada sebuah bukit di wilayah Budur.

Demikianlah kuceritakan bahwa saat ini terdapat kerajaan Mataram di Jawadwipa yang pemerintahannya dikepalai oleh Rakai Panunggalan yang berkuasa sejak 784. Namun sejak masa pemerintahan sebelumnya, yakni masa Rakai Panamkaran yang berkuasa sejak 746, mulai dibangunlah Kamulan Bhumisambhara sejak 780. Jadi sampai sekarang sudah berlangsung 17 tahun, dan itu barulah bagian terbawah dari keutuhan candi yang direncanakan terdiri atas tiga bagian bertingkat menuju ke atas, yang mewujudkan peleburan tiga unsur dalam suatu kesatuan.

Itulah unsur nafsu atau kamadhatu pada dasar candi, yang sempat kulihat sebagian dari penatahan 160 bingkai gambar pahatan; unsur wujud atau rupadhatu, yang kudengar direncanakan berupa empat lorong dengan 1.300 gambar pahatan sepanjang 2.500 langkah panjang mengitari bukit dengan 1.212 bingkai berukir; unsur tak berwujud atau arupadhatu, yang juga hanya kudengar dari perbincangan para pekerja, melingkar bundar tanpa lorong, tempat terdapat 72 patung Buddha dalam stupa berterawang dan satu stupa induk besar yang menunjuk ke langit. Maka selengkapnya terdapat 504 patung Buddha setinggi manusia yang 432 di antaranya terdapat dalam relung terbuka pada pagar langkan di empat lorong, dengan lebar 123 langkah dan rencana ketinggian 42 langkah lebar ke atas.

"Uh!"

Aku tak tahu seberapa tepat aku dapat membayangkan wujud candi baru, dan seberapa jauh pula mampu menggambarkannya kembali, tetapi bhiksu tua itu ternyata juga mencoba membayangkannya sambil memejamkan mata, dan rupanya mengikuti kata-kataku dalam bahasa Viet yang terbata-bata, terbayangkan olehnya suatu candi yang luar biasa.

Kuceritakan pula bahwa gambar pahatan pada dinding- dindingnya, mulai dari bawah akan dimulai dengan uraian Karmawibhangga, yang menggambarkan ajaran sebab akibat perbuatan baik dan jahat; kemudian di atasnya lagi akan diisi dengan kisah Lalitav istara, yang menggambarkan kehidupan Buddha Gautama sejak lahir sampai amanat pertama di Benares, yang akan disaksikan sambil berkeliling lewat lorong- lorong candi; di atasnya lagi adalah Jatakamala atau rangkaian Jataka yang aslinya merupakan rangkaian sajak sebanyak 34 Jataka karya Aryacara sekitar abad keempat atau hampir 400 tahun lalu, tempat Jataka menceritakan peristiwa dan perbuatan Buddha dalam kehidupannya yang lampau, kisah- kisah penjelmaan kembali sebagai contoh-contoh pengorbanan diri; lantas disambung Awadana, Jataka juga tetapi bukan Buddha peranan utamanya, melainkan kehidupan lampau para bodhisattva dalam persiapan mencapai tingkat kebudhaan; disambung naskah penting Buddha, yakni Gandawyuha yang mengisahkan Sudhana, putera seorang saudagar kaya, yang dalam tujuan mencapai kebenaran berjumpa dengan beberapa Bodhisattva Maitreya, yakni Buddha yang akan datang, dan Samanthabadra menjadi contoh hidupnya; ditutup oleh Bhadracari, yang menampilkan sumpah Sudhana untuk mengikuti Bodhisattva Samanthabhadra sebagai teladan.

"SELURUH cerita ini diikuti melalui langkah keliling, dari lorong pertama sampai keempat...," kisahku, sementara dengan masih memejamkan mata, bhiksu tua itu menggeleng- gelengkan kepala.

"Terbayang daku menyusuri lorong-lorong itu," katanya, "luar biasa!"

Lantas ia membuka mata, masih terpesona, seolah-olah candi raksasa itu telah berdiri dan disaksikannya.

"Orang-orang macam apa kalian itu?"

Bhiksu itu mendesis, seperti bicara kepada dirinya sendiri. Maka kujelaskan bahwa apa yang berlangsung di Jawadwipa barangkali tidaklah sehebat yang dibayangkannya. Pertama, bukan hanya satu kerajaan terdapat di sana, karena dalam kenyataannya terdapat kerajaan-kerajaan kecil bersa ingan, antara lain karena pengaruh igama yang melatarbelakangi kerajaannya. Meski Rakai Panamkaran dan Rakai Panunggalan berkuasa pada masa pembangunan Kamulan Bhumisambhara itu, yang kudengar, seperti pernah kuceritakan, adalah nama lain di belakang berlangsungnya kegiatan besar-besaran itu, yakni penguasa bernama Samaratungga, dengan Gunadharma sebagai perancangnya sehingga yang tampaknya hebat sebetulnya merupakan hasil persa ingan antarwangsa dan antarigama.

"Hmm....," gumam bhiksu kepala itu lagi, sembari manggut-manggut dan mengusap janggutnya yang kelimis, "dan apakah kiranya yang membawa dikau kemari, wahai Pendekar Tanpa Nama?"

"Naluri pengembaraan," jawabku dengan nada rendah, "dalam kehendak mencari kesempurnaan dalam ilmu persilatan."

"Ilmu persilatan....Hmm...," ia manggut-manggut lagi, "bagaimana dengan dikau Iblis Suci? Apakah dikau melakukan hal yang sama?"

"Sahaya? Sahaya mencari kesempurnaan hidup sebagai rahib dengan menjadi bhiksu, tetapi menemukannya dalam ilmu persilatan, ketika ilmu yang semula sahaya pelajari sebagai bhiksu penjaga keamanan sahaja, menjadi bermakna ketika digunakan untuk membela hak hidup sebuah kuil yang dihancurkan."

"Artinya?"

"Suatu ilmu tidak akan pernah sempurna dalam ilmu itu sendiri sahaja, melainkan bersama tujuan di baliknya. Sahaya dapat mencapai kesempurnaan ilmu sebagai pelajar ilmu s ilat, tetapi hanya mencapai kesempurnaan hidup ketika menggunakannya untuk membela kehidupan, dalam hal ini berperang melawan Golongan Murni yang ingin membersihkan dunia dengan pembantaian."

Aku tertunduk, merasa rendah diri dengan kematangan Iblis Suci Peremuk Tulang yang tampaknya berangasan. Bhiksu kepala itu ganti bertanya kepadaku.

"Dan apakah kiranya yang dikau cari dengan filsafat Nagarjuna, wahai Pendekar Tanpa Nama, adakah kiranya berhubungan dengan ilmu s ilatmu juga?"

Aku berpikir sejenak. Aku tak pernah mengungkap apa yang kupikirkan dalam pengembangan ilmu silatku, bahkan aku merasa itu sebaiknya dirahasiakan saja. Namun aku juga tahu betapa dengan cara itu aku tidak dapat menguji pemikiranku. Maka kujawab jugalah pertanyaan bhiksu tua itu.'

''SAHAYA belajar filsafat dengan daya tangkap sahaya yang terbatas, Bapak, memang untuk mengembangkan ilmu silat sahaya.''

''Silat dan filsafat, bagaimanakah keduanya bisa berhubungan, Anak?''

''Sahaya mempelajari filsafat, dan menafsirkannya kepada suatu bangunan gerak, tempat gerak menerjemahkan gagasan-gagasan filsafat.''

''Apakah mungkin gerak terpadankan dengan gagasan, Anak?''

''Memang tiada padanan gerak dan makna tanpa bentuk dalam gagasan filsafat, Bapak, tetapi membangun suatu pemadanan yang setia dan tertata, adalah mungkin untuk membangun suatu rangkaian gerak yang akan menjadi jurus- jurus silat. Dalam pemahaman sahaya, selalu terdapat gagasan filsafat di balik set iap bangunan jurus-jurus ilmu silat.''

''Masalahnya, Anak, bagaimanakah caranya pengembangan gerakmu terpadankan dengan bangunan-bangunan ilmu silat yang tidak Anak kenal sama sekali?''

''Betapapun seluruh bangunan ilmu silat itu, gerakan maupun makna di baliknya haruslah dikenali, Bapak, karena jika tidak, maka pengembangan yang sahaya lakukan tidak akan menjadi tanggapan yang tepat terhadap ilmu silat yang telah ada sebelumnya.''

''Itulah tugas yang sangat berat, Anak, apakah yang Anak lakukan jika menghadapi jurus-jurus yang tidak dikenal?''

''Untuk itu, sahaya telah mengembangkan Jurus Bayangan Cermin, Bapak, yang segera akan menjadi Ilmu Bayangan Cermin, tempat ilmu silat mana pun yang menyerang, akan terserap dengan seketika oleh sahaya, yang dapat seketika menguasai dan mengembalikannya dengan cara baru yang tidak akan dikenalinya lagi.''

''Hmm...,'' bhiksu tua itu manggut, ''sebetulnya tidak usah terlalu mengherankan, untuk orang-orang dari suatu tempat yang membangun candi raksasa dengan bagian tak berwujud. ''

Aku diam tepekur. Bhiksu kepala ini penglihatannya bisa melayang ke Jawadwipa, dan menghubungkannya dengan ilmu silat. Tentu, jika gagasan tentang perjalanan bentuk menuju tanpa bentuk dapat berwujud sebuah candi raksasa, maka suatu rangkaian jurus yang membentuk bangunan ilmu silat, tentunya dapat pula menampung gagasan yang sama. Barangsiapa dapat menemukan atau menciptakan jurus-jurus tidak berbentuk akan mencapai kesempurnaan dalam ilmu silatnya.

''Namun merontokkan suatu bangunan tidaklah mungkin tanpa mengenal seluk beluk bangunan itu,'' ujarnya, seperti diucapkan kepada diri sendiri, ''untuk mengenal bangunan ilmu dunia persilatan, kita harus bertarung dengan sebanyak mungkin pendekar. ''

Aku teringat filsafat Nagarjuna, jika ada satu orang saja yang telah menguasainya, dan berdasarkan filsafat Nagarjuna telah mengembangkan ilmu silatnya dan bertarung denganku, tidaklah mungkin aku dapat mengalahkannya, karena aku belum menguasai filsafat Nagarjuna itu.

Tanpa mengangkat kepala aku berpikir. Iblis Suci Peremuk Tulang tampak menguasai segala sesuatu tentang Nagarjuna, tetapi tidak tampak memanfaatkannya sama sekali, karena memang tidak setiap orang berpikir tentang bagaimana mengembangkan atau menciptakan suatu bentuk ilmu silat atas suatu dasar filsafat. NAMUN bagiku mendalami ilmu silat dengan mempelajari dasar filsafatnya akan membawa kita kepada berbagai penemuan lain.

Di luar kuil hujan sa lju berhenti. Di halaman terlihat para bhiksu meratakan salju. Mereka membentuk barisan yang tertib dan bergerak sangat teratur dalam perataan salju dengan penyapu bergagang panjang. Salju yang bertumpuk- tumpuk itu kemudian memang menjadi rata, dan di halaman terhampar permadani putih, dengan bhiksu berjubah tebal merah dan kuning menyeret gagang penyapuan secara berderet dan bersama-sama dalam perataan terakhir.

Mereka adalah para rahib yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencapai Kebuddhaan, meski untuk itu barangkali akan selamanya tinggal di Kuil Pengabdian Sejati. Saat itu, aku merasa betapa diriku tidak akan sanggup hidup dengan tujuan semacam itu. Memang benar betapa dalam sepuluh tahun telah kubuktikan kesanggupanku hidup di dalam gua, tetapi bukanlah karena keinginan sendiri melainkan pengarahan seseorang yang belum kuketahui s iapa. Pencarian kesempurnaan dalam ilmu silat dalam apa yang kulakukan, agaknya belum mencapai tingkat tanpa tujuan dan tanpa keinginan, seperti yang diajarkan dalam kebuddhaan itu sendiri. Aku hanyalah seorang pengembara, yang menikmati segala sesuati demi kesenangan dirinya sahaja.

Aku tertunduk makin dalam. Seolah tidak akan pernah mengangkat muka kembali.

(Oo-dwkz-oO)