-->

Nagabumi Eps 135: Amrita Gugur

Eps 135: Amrita Gugur

PASUKAN pemberontak mengalir keluar bagai lagu kesedihan. Dengan pedih kusaksikan bagaimana pasukan pemerintah memburu mereka sembari melaju di kiri dan kanan barisan. Pasukan pemberontak memacu kuda sambil harus terus menangkis anak-anak panah yang berlesatan dari kiri dan kanan yang dilepaskan oleh para pemanah terbaik dari atas kuda yang berlari dengan busur-busur silang yang selalu tepat sasaran. Demikianlah anak-anak panah berlesetan dan menancap pada sisi kiri dan kanan tubuh, yang membuat korbannya terjatuh, terseret laju kudanya sendiri, atau terlindas kaki-kaki kuda temannya sendiri yang masih mengalir dan melaju dengan kecepatan tinggi. Anak-anak panah juga mengincar leher atau badan kuda jika selalu kena tangkisan, dan pada saat kuda terjatuh maka tubuh penunggangnya akan segera dibabat kelewang. Bukankah begitu menyedihkan ketika menyaksikan kawan-kawan seperjalanan bergelimpangan sebagai mangsa empuk lawan?

Bukan berarti tiada perlawanan dari pihak pasukan pemberontak, pisau terbang yang berhamburan ke kiri dan kanan juga memakan tak sedikit korban yang mementalkan para pengejar dari punggung kudanya, juga untuk segera dilindas gelombang pasukan pemerintah yang bagai air bah tak henti-hentinya mengalir dan membuncah melalui pintu keluar dari bagian padam dinding api yang masih berkobar itu. Tidak usah diceritakan dengan panjang lebar, betapa sebagian besar dari pasukan pemberontak tidak pernah sempat keluar melalui celah tersebut, terdesak ke dinding api se luas parit lebar dan terbakar, sementara anak-anak panah menyambar tak henti-hentinya dari balik api yang masih terus menyala pada pagi musim dingin bersa lju itu. Keberadaan perempuan mata-mata yang bertindak tepat saat serangan dilakukan, telah melemahkan kedudukan pihak pemberontak pada setiap pasukan, sehingga dengan segera terdesak dan dihancurkan.

Setelah beberapa lama terseret arus pasukan-pasukan yang mengalir sambil terus saling menempur dalam pengejaran, kusadari betapa Amrita sama sekali tidak kelihatan. Kucari-cari ke sekeliling, hanya kulihat Iblis Suci Peremuk Tulang melenting-lenting di atas bahu dan kepala para pasukan pemerintah, sambil mengayunkan bandul besinya begitu rupa untuk mengurangi jum lah pasukan pemerintah sebanyak- banyaknya. Namun betapapun banyak sudah prajurit dijadikannya korban dalam keremukan tulang belulang, tiadalah terlalu berarti dalam arus pasukan yang melaju bagaikan a ir bah tanpa berkesudahan.

''Iblis Suci! Di manakah Amrita?''

''Putri kembali ke sana! Ia mencari pengkhianat itu di dalam kota!''

Pengkhianat? Setidaknya telah dua kali kudengar istilah itu. Kuingat Amrita mengucapkannya dengan mata nyalang setelah mendengar bisikan perempuan mata-mata sahabatnya sendiri yang terpaksa dibunuhnya.

Siapakah nama yang telah dibisikkan itu? Tentu seseorang yang telah sangat dikenalnya, dalam pengertian yang sebaliknya, yakni seseorang yang sangat dipercaya, sehingga Amrita menjadi murka karenanya.

Siapa pun orangnya, tentulah seseorang yang memegang segala rahasia pasukan pemberontak, begitu rupa banyaknya rahasia itu, sehingga sekali ia berganti pihak, rontoklah segala siasat andalan pasukan pemberontak, seperti yang telah terjadi dengan pengepungan ini. Alih-alih pengepungan menjadi langkah menuju penguasaan, berubah menjadi jebakan jitu untuk mengakhiri pemberontakan sama sekali.

AKU berpikir cepat, hanya pekerjaan gabungan yang memungkinkan terketahuinya seluruh rahasia itu, yakni pekerjaan mata-mata, dan tentu saja tugas sebagai penghubung yang menyimpan dan membagi seluruh rahas ia ke setiap pemimpin pasukan itu.

Dalam kepalaku terbetik sebuah nama. Harimau Perang!

Bukankah nama itu yang selama ini menjadi kunci pergerakan kaum pemberontak, karena selain ia menjadi penghubung antara para pem impin pemberontak dengan para pemimpin pasukan, ia juga menjadi penghubung antara para pemimpin pasukan di se luruh wilayah pemberontakan di Daerah Perlindungan An Nam? Tentu sangat bisa diterima jika keberadaan para pemimpin pemberontak itu dirahasiakan, demi menghindari pembunuhan gelap dalam penyusupan, tetapi sangatlah berbahaya mempercayakan seluruh rahas ia pergerakan maupun perkembangan pemikiran, hanya kepada satu orang.

''Iblis Suci! Arahkan pasukan ke Sungai Merah dan menyeberang! Mereka tidak akan mengejar sampai ke seberang!''

Setelah itu aku melesat kembali yang berarti melawan arus pasukan-pasukan yang mengalir sambil terus berbaku bunuh itu, dengan cara melenting-lenting sembari menjejak kepala manusia maupun kuda. Dengan segera aku tiba di celah yang terbentuk karena apinya kupadamkan itu. Tiada lagi pasukan berani mati yang menahan laju pengejaran pasukan pemerintah, agar pasukan pemberontak dapat mengundurkan diri tanpa terganggu. Mereka telah gugur dirajam tombak dan panah, bahkan didesak ke dalam. Terlihat banyak tombak menancap di tanah dalam api dengan tubuh mereka di atasnya yang telah terbakar sebagai arang.

Pintu gerbang kota terbuka. pasukan pemerintah yang terakhir dikirim telah melewatinya. Pertempuran masih berkecamuk di seberang sungai yang sengaja dibelokkan alirannya melingkari perbentengan, sehingga di depan setiap gerbang pada empat penjuru terdapatlah sebuah jembatan gantung yang dapat dikerek naik turun. Namun karena hanya ada satu jalan keluar yang kubuat menembus dinding api, di jalan keluar arus menumpuk begitu rupa sehingga aliran pengunduran dan pengejaran itu tidak se lancar seperti sebelumnya.

Maka kubuka bajuku, karena ingin kumanfaatkan sisa-sisa jarum beracun yang menembus baju musim dinginku, menempel pada tubuhku, tetapi tak bisa membunuhku, karena masih terdapat sisa-sisa ilmu pemunah racun Raja Pembantai dari Selatan dalam diriku. Selama aku belum menguasai ujaran filsafat Nagarjuna berbahasa Sansekerta sepenuhnya, ujaran itu tetap akan tinggal sebagai mantra sihir yang bekerja dengan sendirinya setiap kali serangan racun dan sihir menerpa.

Segera kuputar tubuhku seperti gasing, dan melesatlah jarum-jarum beracun yang telah dilepaskan para perempuan mata-mata itu ke arah pasukan berkuda lawan, setiap jarum satu orang, sehingga mereka tewas bergelimpangan dari atas kudanya. Maka mengalir makin cepatlah pasukan pemberontak, hanya untuk sementara, karena kutahu akan segera tiba pasukan pemerintah berikutnya karena inilah kesempatan terakhir untuk membasmi pasukan pemberontak tanpa sisa.

Ini berarti tak cukup satu jalan untuk menyelamatkan mereka. Jalan yang kubuat berada di wilayah pengepungan tenggara di dekat pintu gerbang se latan. Kubayangkan aku harus membuka jalan setidaknya tiga lagi. Aku pun me lesat dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit, yang dalam kecepatan tinggi kembali segalanya terlihat lambat, amat sangat lambat, dan menyaksikan segalanya dalam keadaan yang terlalu jelas seperti itu rasanya sangatlah mengenaskan. Darah yang menciprat perlahan-lahan ke udara, mulut menyeringai kesakitan dari wajah yang menemui ajalnya, dan kelebat segala senjata tajam yang ketika saling berbenturan menjadi dentang yang panjang, sangat panjang, begitu panjang bagai tiada akan pernah menghilang. Bukan hanya dentang yang menjadi lagu baru dalam perubahan ruang waktu karena percepatan, tetapi juga ringkik kuda, jeritan maut, maupun desis dan desau anak panah yang lepas dari busurnya, terdengar menjadi sesuatu yang berbeda dalam Naga Berlari di Atas Langit.

Dengan cepat aku melesat keliling perbentengan. Pada setiap titik pada empat penjuru angin, bukan hanya kubuka jalan bagi pasukan pemberontak yang telah terdesak dengan cara memadamkan api dengan angin pukulan tenaga dalam, tetapi juga kuserang jembatan gantung yang digunakan pasukan pemerintah menyeberangi sungai. Dengan terbukanya empat dinding api, pelarian pasukan pemberontak terpecah ke empat jurusan, dan karena itu semakin lancar; sedangkan jembatan gantung kuserang dalam arti kuruntuhkan, dengan cara membabat tempat bergantungnya dengan pedang biru, pedang mestika pemimpin mereka sendiri yang bernama Pedang Biru.

SATU persatu jembatan gantung itu runtuh ke sungai bersama pasukan pemerintah yang sedang gemuruh menyeberang di atasnya. Maka selain terpecah, arus pasukan pemerintah menjadi amat sangat lambat, untuk tidak mengatakannya berhenti sama sekali. Pasukan masih berusaha diseberangkan lewat sungai, tetapi kecepatannya tentu menjadi sangat berkurang untuk mengejar laju pasukan pemberontak yang kini dapat melalui empat jalan keluar. Kemudian, apabila dinding-dinding api itu menyurut, karena betapapun pertempuran ini berlangsung di musim dingin, maka berlompatanlah kuda-kuda pasukan pemberontak melewati bara yang cepat padam dalam hembusan angin yang membawa serpihan salju.

Baju yang tadi kubuka tidak kupakai lagi, penggunaan tenaga dalam terus menerus membuat tubuhku panas sehingga udara dingin tidak berpengaruh. Aku masih menggenggam pedang biru di tangan kanan dan cambuk kuning keemasan di tangan kanan. Sudah kukatakan ilmu s ilat yang kukembangkan tidak membutuhkan senjata, bahkan juga sebenarnya tidak membutuhkan gerakan sama sekali, karena yang kuserang dan kurontokkan adalah pemikiran, tetapi kedua senjata ini dan sangat berguna jika terlihat kupegang. Dalam salah satu serbuanku ke jembatan, sempat terjadi tiada perlawanan sama sekali karena wibawa senjata yang tidak terpisahkan dari pemiliknya sama sekali. Adapun bila perlawanan tetap berlangsung, dengan pedang biru memang tombak dan pedang bagaikan hanya rumput melawan sabit, sementara dengan cambuk kuning keemasan itu, bahkan suara ledakannya saja dapat membuat lawan-lawanku langsung pingsan.

Aku berkelebat memasuki Thang-long begitu pasukan terakhir melewati gerbang. Pintu tidak ditutup kembali, tetapi pengawalan sangatlah ketat. Aku tidak melewati pemeriksaan orang-orang yang keluar masuk karena melesat di atas tembok perbentengan. Aku tidak sedang menyamar, aku menyusup pada pagi hari dalam keadaan perang, tetapi firasat bahwa Amrita terancam bahaya membuat aku mengerahkan segenap kemampuanku. Aku berkelebat dari dinding ke dinding, dari pohon ke pohon, dari genting ke genting, menuju gedung besar tempat aku mencuri dengar perbincangan pada malam harinya, ketika kudengar mereka menyebut-nyebut nama Amrita maupun Harimau Perang.

Meski dalam keadaan peramg, kehidupan sehari-hari tetap berjalan di dalam kota, dengan pengawasan ketat pada berbagai bangunan penting. Sudah kukatakan aku tidak berbaju, dengan ilmu bunglon kini kulitku tidak dapat dibedakan dengan tembok, atau dengan apapun yang berada di dekatku. Di atas pohon aku berwarna pohon, tiarap di tanah aku berwarna tanah, melayang di udara aku berwarna langit, dengan cara ini aku lolos dari segala pengawasan dan telah berada di atas genting dan betapa terkejutnya diriku ketika melihat Amrita terkapar di lapangan yang berada di dalam gedung itu. Di sekitarnya terdapat mayat-mayat bergelimpangan. Kusapu bangunan dan kuketahui sepasukan pengawal sedang berlari dari lorong ke lorong menuju tempat Amrita.

''Penyusup! Penyusup!''

Kudengar teriakan dalam bahasa Viet. Aku melompat turun. Kusambar tubuh Amrita yang terbaring di atas salju. Ia masih hidup. Aku langsung melesat kembali dan me loloskan diri dengan melenting dari genting ke genting. Ketika membopong Amrita kurasakan punggungnya yang panas. Kutahu punggung itu hangus terbakar. Ia telah mendapat pukulan tenaga dalam yang mengandalkan prana api dari belakang. Amrita te lah mengalahkan lawan-lawannya, tetapi ia pun akan kehilangan nyawa karena pukulan itu. Betapapun ia telah memasuki sarang harimau, dan tidak sembarang manusia dapat meloloskan diri setelah membunuh para perwira andalan sebanyak itu. Berhadapan satu persatu, aku tahu Amrita tak akan terkalahkan, tetapi hukum perang tidaklah sama dengan hukum taktertulis dunia persilatan. Jika pertarungan dalam dunia persilatan adalah pertarungan antara dua pendekar, maka pertempuran sebagai bagian dari peperangan panjang adalah setidaknya pertarungan antara para ahli s iasat yang melibatkan segenap manusia dari bangsa yang bersengketa.

Amrita Vighnesvara yang cerdas tentu mengetahuinya, tetapi Amrita yang muda dan berdarah panas tidak bisa menerima pengkhianatan, yang sebetulnya laz im dalam perang panjang yang melibatkan seribu satu manusia dengan berbagai macam kepentingan. Pertarungan siasat yang licin, licik, penuh muslihat dan tipu daya, memang adalah bagian dari perang semesta seutuhnya. Tiada lebih dan tiada kurang karena manusia jualah para pelakunya, sehingga peperangan berlangsung dengan daya pembayangan tinggi, tentang yang dimungkinkan maupun diharapkan akan terjadi. Tentulah ini suatu pengkhianatan yang luar biasa kejinya, yang mengundang kemarahan begitu rupa karena kepercayaan besar yang terlanjur diberikan olehnya.

AKU melesat sambil berpikir ke mana Amrita akan kubawa. Aku tidak terkejar oleh pasukan pengawal karena berkelebat sangat cepat dalam lindungan ilmu bunglon, sehingga memang tidak mungkin mata awam akan dapat menangkapnya. Gabungan antara ilmu bunglon dan Jurus Naga Berlari di Atas Langit yang semakin lama telah menjadi semakin matang ini pada dasarnya membuat diriku sama sekali tidak kelihatan.

Kupandang Amrita, matanya dengan lemah menatapku, tetapi ia tampak bahagia melihatku. Ia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun kota Thang-long yang tetap hiruk pikuk dalam hujan salju membuat aku tak tahu di mana harus berhenti dan bersembunyi. Angin melayangkan gumpalan-gumpalan salju yang beterbangan bagai kapas, tetapi aku tak dapat menikmatinya sebagai keindahan melainkan penanda suasana hatiku bagaikan mengalami kerontokan. Amrita mengalami luka dalam. Tidak seorang pun akan bisa menolongnya dengan luka seperti itu. Tidak juga gurunya yang sakti mandraguna, Naga Bawah Tanah yang tidak pernah memperlihatkan diri.

Sembari melayang kutatap wajahnya. Tampak ia ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, dan airmata mengalir dari sudut matanya, yang langsung tersapu angin. Aku melayang dan hinggap pada sebuah tembok yang membatas ke tetanggaan orang-orang kaya. Pada rumah yang satu terlihat kegiatan pagi di kebun belakang rumah, para pelayan menyiapkan penganan kukus untuk sarapan majikannya, uap mengepul dari tudung yang dibuka oleh perempuan-perempuan pelayan berbaju panjang yang menutup seluruh tubuhnya; pada rumah yang lain, tampak kosong tak terawat dengan tanaman tumbuh tak beraturan dan salju tebal menumpuk, jadi aku melompat turun ke sana.

Kubaringkan Amrita di sebuah bangku panjang usang di bawah atap. Sepintas kulihat ruang dalamnya penuh perabotan, tetapi tak berpenghuni.

"Amrita..."

Kataku pelan. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Kupegang tangannya. Kudekatkan telingaku ke mulutnya yang mengatakan sesuatu dengan sangat lemah seperti bisikan.

"Harimau Perang...," katanya, "merusak segalanya..." Lantas wajahnya membeku.

"Amrita!"

Aku berteriak. "Amrita!"

Putri Khmer itu tidak bergerak. Aku memeluknya dengan mata yang telah menjadi basah.

(Oo-dwkz-oO)