-->

Nagabumi Eps 133: Naga Mendekam di Balik Air Terjun

Eps 133: Naga Mendekam di Balik Air Terjun

RIBUAN anak panah yang berlesatan menyergap dan mengancam kugugurkan dengan pedang dan cambuk mestika yang kumainkan dengan Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun. Dengan jurus ini memang terjamin betapa tidak satu anak panah pun mampu menyerempetku, tetapi aku tetap tidak dapat beranjak. Setiap orang dari pasukan penjaga kota Thang-long ini dengan mudah dapat kulumpuhkan, tetapi sebagai kesatuan terbukti para guru perang Negeri Atap Langit telah mengajari orang-orang Viet ini dengan baik.

Sun Tzu berkata tentang keadaan:

''Mereka yang zaman dahulu disebut pandai berperang itu tidak hanya menang, melainkan menang atas musuh yang mudah dikalahkan. Itulah sebabnya, mereka yang pandai berperang itu kemenangannya tidak memberinya nama karena kearifan, tidak pula memberinya jasa karena keberanian.

''Itulah sebabnya, mereka menang perang tanpa meleset. Tanpa meleset artinya apa yang diikhtiarkannya tentu menghasilkan kemenangan, mereka menang atas lawan yang sudah kalah.

''Itulah sebabnya, mereka yang pandai berperang itu menempati kedudukan yang tidak terkalahkan dan tidak melepaskan kesempatan untuk mengalahkan lawan.

''Itulah sebabnya, tentara yang menang itu sudah lebih dahulu menang, kemudian baru mengajak berperang; tentara yang kalah itu lebih dahulu berperang, kemudian baru berharap menang.''

Panah masih terus menerus berhamburan dari busur silang yang tenaganya luar biasa itu. Jika panah itu menancap pada tubuh manusia, ia tak pernah tidak menembusinya. Bahkan batok kepala manusia yang keras, meski ditutup pelindung kepala terkeras, andaikanlah ditambah perisai tiga lapis, masih ditembus dengan halus tanpa harus memecahkannya, karena ketajaman dan daya peluncuran yang luar biasa. Jika senjata yang kupegang bukan pedang dan cambuk mestika, sudah dari tadi tubuhku terajam menancap di salju.

''Kepung! Kepung! Kepung! Jangan biarkan dia lolos!'' Kudengar aba-aba dalam bahasa Viet. Betapapun Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun memberikan kepadaku kesempatan berpikir. Panah-panah berhamburan dalam keadaan terpotong, melengkung, atau terbelah dari ujung sampai ekornya, karena kedahsyatan senjata-senjata yang tadi kurebut dari tangan pemiliknya itu. Sembari memikirkan jalan keluar, aku menyadari kenyataan betapa pasukan yang kuhadapi sangat matang dalam bersiasat. Membuatku bertanya-tanya di tengah serbuan panah, tidakkah kemenangan pasukan pemberontak di berbagai medan tempur di pedalaman selama ini bukanlah sesuatu yang semu?

Pasukan pemerintah yang ditugaskan memburu mereka itu, tidakkah terlalu mudah untuk dikalahkan? Atau, jika mereka memang dikirim untuk menumpas pasukan pemberontak, bukankah memang cukup dikirim pasukan yang tidak harus menang? Dalam kenyataannya, seperti yang kualami bersama pasukan Amrita, pasukan pemerintah yang dikirim memang bukanlah sembarang pasukan, melainkan pasukan yang dilatih untuk memburu pasukan pemberontak dari hutan ke hutan, tetapi tetap saja takbisa menang.

Memang, setelah peristiwa kekalahan itu, di berbagai wilayah di Daerah Perlindungan An Nam pasukan pemerintah terus menerus mengalami kekalahan, sehingga para pemimpin pasukan pemberontak, dengan perantaraan Harimau Perang, memutuskan keluar dari hutan, turun gunung dan melibas kota demi kota, sampai mengepung pusat pemerintahan. Dari kota ke kota bukan tidak ada perlawanan, bahkan perlawanan itu kudengar berlangsung sengit, kadang dengan membumi hanguskan kota yang ditinggalkan itu, sehingga memang tidak akan pernah terduga sebagai siasat mundur teratur untuk dengan mendadak menyerang kembali.

Masalah seharusnya sudah terpecahkan, jika pasukan pemberontak memiliki jaringan mata-mata yang bisa diandalkan, yang selama ini pengaturannya berada di bawah Harimau Perang, tetapi yang saat itu belumlah kuketahui keberadaannya. Sebaliknya, seperti perbincangan yang kudengar itu, yang kini pembicaranya telah kutewaskan semua, justru mata-mata pemerintah bertebaran di pihak pemberontak, yang begitu sulit dilacak, karena merupakan mata-mata tidur yang tentunya telah ditanam puluhan tahun. Bagaimana jika pada saat menentukan seperti ini para mata- mata tidur itu dibangunkan? Karena mata-mata tidur dibangunkan, hanya untuk menjalankan tugas-tugas penting.

AKU melenting ke atas atap untuk membersihkan para pemanah yang berada di atasku. Ini hanya bisa kulakukan ketika berlangsung pergantian regu pemanah di bawah, yang dalam sekejap kumanfaatkan untuk melesat. Sekali terjadi kekosongan, aku berkelebat meloloskan diri dari kepungan, dan melejit ke arah perbentengan, tempat pasukan pemerintah berjaga di sekeliling kota, dalam pengawasan yang sangat ketat. Beberapa orang yang berilmu tinggi mengejarku sambil melempar pisau-pisau terbang. Sekali kibas dengan cambuk keemasan, pisau-pisau terbang itu rontok berantakan dan pelemparnya muntah darah karena angin pukulan Telapak Darah. Aku masih dalam pengejaran ketika tiba di dekat benteng, dan menyaksikan betapa pintu gerbang kota telah dibuka!

Baru terlihat olehku sekarang betapa banyak pasukan yang bersembunyi di balik tembok perbentengan tersebut. Bukan sekadar parit jebakan dan pertahanan di balik benteng itu ternyata telah diisi pasukan berkuda yang siaga sejak semalam, melainkan juga bahwa parit-parit yang menjadi tempat persembunyian sebelumnya telah ditutup atap-atap anyaman bambu yang di atasnya dilakukan penyamaran dengan tanah, dan kemudian salju. Pada musim panas, bersembunyi di dalam parit dengan kudanya akanlah sangat menyiksa bagi suatu pasukan, tetapi pada musim dingin bersalju, justru itu menjadi tempat yang sangat nyaman. Pantaslah dari udara ketika aku melewatinya bagai layang- layang diterbangkan angin masuk kota, tidak kulihat apa pun sepanjang perbentengan selain pasukan penjaga yang memang kuat sekali. Agaknya kemungkinan lolosnya penyusup dari pengamatan telah mereka perhitungkan, sehingga apabila penyusup itu berada di dekat benteng pun, tak akan penyusup itu menduga betapa di dalam tanah bersembunyi balatentara yang besarnya sama sekali tidak terduga.

Sementara aku masih diburu para penjaga perbatasan berilmu tinggi yang sangat mahir menggunakan pisau terbang, kulihat betapa setelah pintu gerbang dibuka, jembatan gantung di atas sungai yang tadi dikerek naik diturunkan pula, dan tiba di tempatnya tepat ketika pasukan berkuda melewatinya dengan menggebu. Pasukan pemerintah melakukan serangan mendadak pada pagi buta, ketika pasukan pemberontak masih sibuk me layani para penyusup, yang ketika kutinggal memang belum berhasil mengacaukan keadaan, jika hal itu yang menjadi tujuan. Namun bagaimanakah bisa kupastikan suatu tujuan, dari pengetahuan sangat terbatas, dalam perang siasat yang penuh tipu muslihat ini? Bagaimana jika berlangsung suatu keadaan yang ternyata sesuai dengan tujuan pasukan pemerintah, yang kini tampak begitu perkasa menghambur dari empat gerbang kota di barat, timur, selatan, maupun utara?

Lima penjaga perbatasan mengurungku di atas benteng dan para penjaga benteng di bagian itu menyerangku pula dengan senjata rantai berkait yang sengaja digunakan untuk menangkap penyusup hidup-hidup. Mulai dari rantai berkait sabit sampai rantai berkait cakra besi beracun berkelebatan berusaha mengait kaki maupun tangan, sementara senjata- senjata lain, tombak trisula, pedang, dan kapak dua sisi, menyambar bagian depan dan belakang tubuhku. Bila aku melenting ke atas, kutahu anak-anak panah yang dilepaskan busur silang bertenaga kuat, akan segera menancap di segenap titik lemah yang pasti mematikan. Keadaanku sungguh sulit, dan hatiku gelisah karena sangat khawatir dengan keadaan Amrita.

Aku berkelebat menghindari segenap serangan rantai berkait, tetapi senjata-senjata lain kupapas dengan pedang biru mestika yang luar biasa itu. Tombak trisula, pedang, dan kapak dua sisi terputus begitu saja dalam sekali putaran. Lantas aku melesat ke udara, sengaja memancing diluncurkannya anak panah yang memang segera berhamburan melesat. Dengan sisi lebar pedang biru, dalam sekali kebas kubelokkan arah panah-panah itu ke arah semua orang yang telah menyerangku. Itulah yang disebut Jurus Naga Melipat Ekor. Dalam pengembangan jurus ini, bahkan mungkin pula setiap senjata yang mengancam nyawaku akan berbalik ke arah penyerang itu sendiri.

Demikianlah mereka berguguran jatuh dari tembok perbentengan dengan anak panah yang dilepaskan kawan mereka sendiri menancap pada jantung mereka. Dengan cambuk keemasan kulecutkan ledakan-ledakan berlelatu api yang membuat barisan pemanah itu pekak dan sebagian pingsan. Tentu saja berlesatan lagi regu penjagaan ke arahku.

"Penyusup! Penyusup! Penyusup!"

Kudengar teriakan itu di mana-mana. Namun aku mendapat kesempatan untuk memperhatikan bahwa barisan pasukan pemerintah ini, begitu menyeberang jembatan dan sampai di seberang sungai, segera terbagi menuju dua arah.

JIKA ini juga dilakukan pada ketiga gerbang yang lain, berarti pasuikan pemerintah menyerbu ke arah delapan titik pada delapan mata angin, yang jelas bermaksud memecahkan pemusatan perhatian pasukan pemberontak. Sejauh pasukan pembe-rontak tidak terkacaukan pemusatan perhatiannya oleh serangan para penyusup yang belum teratasi ketika kutinggalkan, maka serbuan macam apapun akan mampu diatas i oleh pasukan pemberontak yang nyaris selalu hidup dalam suasana peperangan itu. Justru itulah sebabnya aku merasa waswas, bahwa para pengatur siasat pasukan pemerintah tidak akan melakukan serangan yang sia-sia. Bahkan aku mulai memikirkan kemungkinan yang sangat masuk akal tetapi sungguh tidak terduga, bahwa kekalahan pasukan pemerintah di mana- mana, meski tampak meyakinkan sebagai kekalahan yang sebenarnya, memang bertujuan untuk memancing segenap pasukan pemberontak turun menyerbu Thang-long sebagai pusat pemerintahan. Kemenangan demi kemenangan di pedalaman telah membuat pasukan pemberontak haus kemenangan, dan tidak menyadari keberadaan mereka sebagai harimau yang sedang dipancing masuk jebakan.

Dalam kenyataannya, melumpuhkan pasukan pemberontak di pedalaman, artinya di dalam hutan, di gunung-gunung, di antara lembah dan tepian jurang sangatlah sulit untuk tidak dikatakan mustahil. Dalam perang ratusan tahun, pasukan pemberontak tidak akan melayani tantangan perang terbuka, melainkan bertempur dari hutan ke hutan, tempat mereka menjalankan siasat serang dan sembunyi ke dalam hutan, yang sangat ampuh untuk sedikit demi sedikit melemahkan pasukan pemerintah. Apabila kemudian pasukan pemerintah ini berhasil mereka pancing untuk mengejar ke rawa-rawa, di sanalah mereka akan habis dibantai, dan tidak satu orang pun bisa kembali pulang. Jika ini berlangsung bukan hanya di satu wilayah, melainkan di segenap wilayah pemberontakan di pedalaman, akan semakin mustahil bahwa pemberontakan dapat dipadamkan.

Maka, bukankah masuk akal untuk menduga, bahwa para pengatur siasat mencari jalan, agar pasukan pemberontak dapat berkumpul di satu tempat dan di sanalah mereka ditumpas sampai tiada satu orang pun tersisa? Kenyataan lain yang menyebabkan pasukan pemberontak sulit dilumpuhkan di pedalaman, adalah keberpihakan penduduk pedalaman, yang dengan segala cara akan membantu pasukan pemberontak. Dikatakan betapa masih mungkin mengalahkan balatentara suatu negara dalam pertempuran, tetapi adalah mustahil menundukkan suatu bangsa dengan peperangan macam apapun, karena semangat perlawanan suatu bangsa tidak terletak pada senjata, melainkan berada dalam jiwanya. Itulah sebabnya cara terbaik adalah memancingnya keluar dari kubu masing-masing, melepaskan set iap kesatuan dari bumi dan rakyat yang mendukungnya, lantas menumpasnya di satu tempat sampai habis tanpa sisa. T iada umpan lebih baik agar siasat semacam ini terlaksana, selain meyakinkan pihak pemberontak bahwa kesempatan merebut Thang-long terbuka di depan mata.

Untuk memberi keyakinan yang tidak mencurigakan, kekalahan demi kekalahan pasukan pemerintah saja takcukup, tetapi harus ditanamkan gagasan bahwa merebut Thang-long dan menggulingkan kekuasaan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam sudah matang untuk dilaksanakan. Namun bagaimanakah caranya menyebar dan menanamkan gagasan semacam itu, dengan jaminan yang bisa dipercaya? Siapakah kiranya, atau jaringan mata-mata macam apa, yang akan mampu menyusup, menyelinap, dan diterima sebagai kawan, tanpa sedikit pun menimbulkan kecurigaan?

Tentu aku tidak lupa bahwa pasukan pemerintah yang sebagian didatangkan dari Negeri Atap Langit juga terdiri dari narapidana, yang semula merupakan para penjahat kambuhan. Siasat yang tepat untuk memperdaya pasukan pemberontak, sembari mengorbankan orang-orang yang sejak awalnya memang merupakan orang-orang hukuman.

Sekali lagi kuputar pedang biru dan cambuk kuning keemasan dengan Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun. Seorang pendekar yang menilik busananya berasal dari Negeri Atap Langit memimpin sebuah regu yang mengepungku. Pisau terbang berhamburan dari segala penjuru. Namun selama aku menggunakan jurus tersebut, meski di atas tembok perbentengan ini aku dikepung oleh semakin banyak orang, aku akan tetap taktersentuh. Aku berpikir keras. Aku teringat pembicaraanku dengan Amrita tentang seorang perwira penghubung terkenal bernama Harimau Perang. Bukankah ia dengan pasukan penghubungnya yang istimewa disebut-sebut menghubungkan setiap pemimpin pasukan pemberontak di pedalaman, baik antara masing-masing pemimpin pasukan, maupun dengan para pemimpin pemberontakan yang memang tidak boleh tampak untuk menghindari pembunuhan?

TIDAK jelas bagiku, apakah gangguan para penyusup te lah berhasil diatasi, tetapi cara pasukan pemberontak melayani mereka satu lawan satu dengan tandingan sepadan adalah siasat yang sangat baik, karena setiap serbuan masih akan selalu siap mereka layani. Jadi meskipun dari dalam benteng terdapat serbuan ke delapan titik pada delapan penjuru angin, jika keadaannya tetap demikian maka serbuan ini pun akan dapat mereka hadapi dengan seimbang. Pasukan pemberontak adalah pasukan yang ganas, dan keganasannya itulah yang lebih sering membuat pasukan pemerintah jeri, bahkan jauh sebelum berhadapan sama sekali. Namun tentu saja pasukan pemerintah tidak akan menyerbu pada pagi buta, setelah menunggu di bawah tanah dalam hujan sa lju, tanpa perhitungan secermat-cermatnya bukan?

Aku gelisah dan karena itu ingin segera menyelesaikan pertarunganku sendiri secepatnya. Sudah jelas betapa aku telah gagal menunda sebuah penyerbuan. Jika pasukan pemerintah ingin memastikan suatu kemenangan, apakah kiranya yang akan menjadi andalan? Aku teringat dengan mata-mata tidur mereka, kiranya inilah saat yang paling tepat bagi mereka untuk dibangunkanodan itulah yang rupanya terjadi. Di garis belakang pasukan para pengepung mendadak saja terdengar ledakan dan api segera menyala-nyala ke angkasa pada delapan penjuru angin. Takhanya ledakan, api itu rupa-rupanya merambat melalui sebuah sumbu tumpukan jerami di sepanjang garis belakang sampai kedelapan titik itu bersatu. Jadi pasukan pemerintah tiba pada delapan titik serbuan pada saat yang tepat. Luar biasa. Api di padang salju. Hanya penyusupan dan pengkhianatan cermat yang memungkinkan pada garis belakang itu tergali parit untuk menyimpan tumpukan jerami, yang agaknya disiram minyak lampu agar menyala. Mendapatkan jerami di musim dingin tidaklah mudah, membuktikan kecermatan persiapan yang sudah berlangsung lama. Siapa sajakah kiranya mata-mata tidur yang telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik itu? Aliran pasukan dari dalam kota belum juga berakhir ketika sebilah pisau terbang menembus pertahananku dan me lesat ke arah leherku. Kutangkap pisau terbang itu dengan gigitan dan kukembalikan kepada pelemparnya untuk tepat menancap di dahinya.

Tubuhnya belum ambruk ke lantai perbentengan ketika aku melesat melewatinya sebagai titik terbuka dalam pengepungan diriku. Aku melompat keluar benteng dan turun ke arah pasukan berkuda yang me laju ke medan tempur itu. Dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit aku melesat di atas kepala dan bahu para prajurit pasukan berkuda yang menyerbu sambil berteriak-teriak itu. Agaknya semangat mereka telah dipompa dalam penantian panjang sembari memupuk pembalasan dendam kepada pemberontak, takselalu karena alasan kebangsaan dan kenegaraan, melainkan juga karena alasan-alasan pribadi yang sudah sangat sulit diteliti lagi.

Api berjalan tak tertahankan membentuk lingkaran yang mengepung pasukan pemberontak dari belakang, mereka kini terkurung api, sementara dari depan pasukan pemerintah menghambur dari delapan titik bagaikan air bah. Aku telah melewati jembatan, dengan segera kusalip baris terdepan yang telah disambut barisan penjaga yang memang telah disiapkan menyambut segala serangan. Aku segera menuju pasukan yang dipimpin Amrita. Barisan depan pasukan pemerintah tampak telah terkuak oleh amukan Iblis Suci Peremuk Tulang. Bandul besinya yang mengerikan bergerak lincah mencabut nyawa bagaikan kebutan selendang. Manusia dan kuda tanpa ampun bergelimpangan dan terpental dengan tulang remuk setiap kali tersambar kebutan.

NAMUN masalahnya terdapat di belakang, karena kulihat bukan saja para penyusup itu masih bertahan, melainkan betapa mereka dibantu oleh wajah-wajah yang telah sangat kukenal, yang semuanya perempuan!

Bisakah dibayangkan betapa perempuan yang pertama kali kukenal karena menyusui bayi yang kutolong itu, kini ternyata dengan ganas membunuh teman-temannya sendiri? Perempuan-perempuan yang menyusui bayi-bayi terlantar itu ternyata bukan sekadar pengungsi banjir, melainkan memang sengaja dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan pemberontak, yang memang selalu kekurangan dan membutuhkan perempuan.

Sudah bukan rahasia lagi betapa dalam pasukan pihak mana pun yang mengembara dalam hutan, bahwa perempuan yang tidak bersuami akan dibenarkan melayani setiap orang jika berkenan, juga apabila ia menuntut bayaran. Ketika mereka mengikuti rombongan aku pun tidak merasa heran.

Namun itu berarti bukan merekalah mata-mata tidurnya, mereka mungkin adalah mata-mata setempat, yakni penduduk daerah musuh yang digunakan sebagai mata-mata. Di daerah tak bertuan yang menjadi wilayah peperangan, memang menjadi sulit menilai kepada siapa seseorang berpihak. Betapapun di wilayah seperti itulah banyak perempuan menjadi janda dan me lakukan segala cara untuk mempertahankan kelanjutan hidupnya.

Maka siapalah yang akan curiga jika seperti perempuan mana pun di wilayah sengketa yang miskin, sehabis terlanda banjir bandang pula, perempuan-perempuan ini menggabungkan diri dengan rombongan, dan terus ikut dengan setia dalam berbagai pertempuran keluar masuk hutan selama berbulan-bulan? Dengan Amrita sebagai pemimpin pasukan, yang selalu peduli kepada kepentingan perempuan, keberadaan mereka dalam rombongan bahkan mendapat jaminan keamanan.

Kini mereka itulah yang mengamuk tak tertahankan. Pada setiap pasukan rupanya mata-mata seperti mereka telah ditanamkan, dan agaknya telah dihubungkan oleh satu tugas yang sama pada saat menentukan, yakni membentuk lingkaran api, saat pasukan pemberontak seluruhnya, ya seluruhnya, harus ditumpas dan dipunahkan!

(Oo-dwkz-oO)