-->

Nagabumi Eps 13: Lelaki Tua yang Gemuk

Eps 13: Lelaki Tua yang Gemuk

AKU masih di tengah tontonan, yang maksudnya berkisah tentang diriku, tetapi takkukenali siapa tokoh yang disebut Pendekar Tanpa Nama di sana. Kucoba mengingat apa yang terjadi saat itu.

Aku sedang melayang dari pohon ke pohon ketika di tengah jalan sekitar duapuluh orang menyembah di tanah, jelas maksudnya menyembah diriku. Aku tidak bisa mengerti. Jika mereka begitu awamnya sehingga menganggap seorang pendekar dari rimba hijau sangat hebatnya, bagaimana mereka dapat mengetahui betapa aku akan melewati jalan ini pada saat itu juga?

Seseorang berbicara.

"Pendekar Tanpa Namal Hanya Tuan kiranya yang akan mampu membela dan membebaskan kami semua!"

Di puncak pohon beringin, aku bagaikan seorang dewa yang tiada mampu mereka tatap, karena dari belakang kepalaku cahaya matahari tentunya menyilaukan mata. Orang- orang awam sering lupa ini hanyalah peristiwa alam. Mereka pikir dirikulah yang datang membawa cahaya.

Aku tidak suka mereka mengenaliku, tetapi aku tidak mungkin membunuh mereka semua.

"Seharusnya aku membunuh kalian yang telah mengganggu jalanku, tetapi kuampuni kalian jika kalian katakan siapa yang memberitahu kalian bahwa aku bisa kalian temukan di sinil"

"Ampuni sahaya, Tuan Pendekar, kami semua, duapuluh orang berasal dari desa yang sama, yakni desa Budur, bagian dari negeri Mantyasih. Kami te lah menyerahkan tanah dengan janji akan diganti oleh kerajaan, tetapi selain janji itu belum pernah dipenuhi, kami telah dipaksa untuk bekerja demi pemba?ngunan candi yang tidak merupakan kuil kepercayaan kami."

Seseorang berbicara.

"Pendekar Tanpa Nama! Hanya Tuan kiranya yang akan mampu membela dan membebaskan kami semua!"

Di puncak pohon beringin, aku bagaikan seorang dewa yang tiada mampu mereka tatap, karena dari belakang kepalaku cahaya matahari tentunya menyilaukan mata. Orang- orang awam sering lupa ini hanyalah peristiwa alam. Mereka pikir dirikulah yang datang membawa cahaya. Aku tidak suka mereka mengenaliku, tetapi aku tidak mungkin membunuh mereka semua.

"Seharusnya aku membunuh kalian yang telah menggganggu jalanku, tetapi kuampuni kalian jika kalian katakan siapa yang memberi tahu kalian bahwa aku bisa kalian temukan di sini!"

"Ampuni sahaya Tuan Pendekar, nama saya Widya, dan inilah istri sahaya yang bernama Mutra. Kami semua, duapuluh orang berasal dari desa yang sama, yakni desa Budur, bagian dari negeri Mantyasih. Kami te lah menyerahkan tanah dengan janji akan diganti oleh kerajaan, tetapi selain janji itu belum pernah dipenuhi, kami telah dipaksa untuk bekerja demi pembangunan sebuah candi yang tidak merupakan kuil kepercayaan kami."

"Apakah kalian menyembah Siwa?" "Tidak, Tuanku."

"Kalau bukan Siwa dan bukan Mahayana, mungkin kalian penganut bid'ah."

"Tidak, Tuanku."

"Apakah kalian menolak agama-agama baru?"

"Tidak tuanku, kami para penyembah leluhur, penyembah arwah nenek moyang.,"

Aku masih berdiri di atas puncak pohon beringin. Para penganut kepercayaan ini biasa melakukan upacaranya di bawah pohon beringin.

"Baiklah, sebelum kamu lanjutkan, katakan siapa yang memberitahu kalian bahwa aku akan melewati tempat ini."

"Ampuni sahaya Tuan, mohon agar dibiarkan sahaya bercerita, karena akan sampai juga nanti ke sana, ya Tuanku Sang Mahapendekar Tanpa Nama yang perkasa." Hmm. Aku tahu zamanku, dan dari caranya bersikap aku tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang berani. 

"Baik kudengarkan kalian, tetapi kuharap kalian hentikan sujud kalian yang konyol itu."

Orang-orang Desa Budur itu, lelaki maupun perempuan, lantas bangkit dari sembah sujudnya. Aku melayang turun dengan ringan dari atas pohon beringin itu. Memang enak jadi orang sakti.

"Teruskan," kataku.

"Nenek moyang kami telah melakukan upacara penyembahan leluhur jauh sebelum orang-orang Jambhudwipa tiba di Yawabumi dan sambil berdagang memperkenakan igamanya. Ketika beberapa saudara kami datang dari pantai utara membawa penyebar igama, mula?mula kaum pedanda Siwa yang brahmana, kemudian para pendeta Mahayana, harus kami akui ajaran mereka sangat menarik, bijak, dan kami menyukainya-tetapi orang seperti sahaya tidak merasa perlu melepaskan kepercayaan kami sendiri.

"Telah kami berikan tanah yang sudah kami garap secara turun temurun demi pembangunan Kamulan Bhumisambhara, telah kami abaikan janji ganti rugi yang tak juga kunjung dipenuhi, tetapi masih mereka paksa kami bekerja tanpa bayaran karena candi raksasa itu pembangunannya membutuhkan puluhan ribu tenaga. Kami akui candi ini akan menjadi candi termegah dan sangat indah di tengah semesta, tetapi apakah artinya mengajarkan kebajikan me lalui candi yang dibangun oleh orang-orang yang terpaksa karena keluarganya disandera?"

"Disandera?"

"Setelah tanah kami diambil, putera-puteri kami menjadi budak di pura para pejabat tinggi negara dan istana penguasa, wahai Pendekar Tanpa Nama yang perkasa." "Menjadi budak?"

"Begitulah Tuanku, katanya itu dibenarkan oleh hukum negara, tetapi itulah pemaksaan agar kami terpaksa bekerja. Sudah tidak terhitung lagi berapa yang telah mengorbankan nyawa karenanya Tuanku, dan tiada jelas pula kemudian nasib anak mereka."

Cerita tentang para pekerja yang memberontak bukan sesuatu yang baru bagiku. Ketika aku melayang dari pohon ke pohon itu sebetulnya aku baru saja mengakhiri penyamaranku sebagai tukang batu di Kamulan Bhum isambhara. Berarti itu sekitar tahun 820-an, karena ketika candi jinalaya itu diresmikan pada 824, aku sudah jauh dari sana.

Sebagai pekerja, telah kudorong s iapapun yang seharusnya tidak berada di sana untuk mogok. Kuracuni mereka dengan pikiran-pikiran baru yang tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa hidup mereka adalah kedaulatan mereka sendiri. Apalah artinya sebuah candi, yang dibangun atas nama ajaran yang mencerahkan, jika nantinya akan berdiri, ternyata dibangun di atas pemerkosaan hak asasi mereka yang memiliki kepercayaan berbeda?

"Apa yang kalian pikir bisa mereka lakukan jika kalian menolak bekerja? Apakah mereka akan mengiris batu sendiri, mengukir batu sendiri, dan terutama mengangkat batu sendiri sampai di puncak bukit ini? Mereka yang menguasai kalian sebetulnya sangat tergantung kepada kalian, tetapi mereka menciptakan alam pikiran yang membuat kalian percaya memang merupakan hak mereka untuk menguasai hidup kalian. Sadarlah! Bangkitlah! Maka kita semua akan duduk bersama dalam kesetaraan!"

"Bagaimana dengan semua peraturan negara? "

Apa maksud mereka? Rupanya mereka semua juga ditindas dengan pemutarbalikan Arthasastra yang tidak dapat mereka baca, tentu saja karena memang buta huruf namanya - sayangnya, kalaupun Arthasastra itu dapat mereka baca, seberapa jauh mereka akan menyadari betapa kitab tata negara itu sangat berpihak kepada golongan yang berkuasa? Dalam Bab 13 Bagian 65 tentang "Hukum tentang Budak dan Pekerja" misalnya, pada Pasal 1 sampai 4 disebutkan:

Bagi seseorang yang menjual dan memelihara seorang Arya di bawah umur

sebagai janji kecuali budak untuk mata pencaharian, dendanya adalah duabelas pana

bagi suatu kerabat jika Sudra, dua kali lipat jika Vaisya,

tiga kali lipat jika Ksatriya, empat kali lipat jika Brahmana. Bagi orang asing,

denda terendah, menengah dan tertinggi serta mati adalah (masing-masing) hukuman

juga bagi para pembeli dan saksi Bukan pelanggaran bagi Mleccha untuk menjual keturunan

atau memelihara sebagai janji Tapi tidak boleh ada perbudakan bagi Arya

dalam keadaan apa pun

Seluruhnya terdapat 25 pasal dalam Arthasastra mengenai perbudakan itu, dan terbaca bahwa hanya dengan termasuk sebagai golongan Arya, maka seseorang boleh dianggap merdeka-sedangkan jika tidak, seseorang sejak lahirnya telah tertakdirkan oleh segala macam peraturan yang dibuat manusia untuk mengamankan kedudukan golongan yang berkuasa. Adapun golongan yang berhasil memperjuangkan diri untuk dianggap boleh berkuasa itu adalah golongan Arya. Namun kitab tata negara yang ditulis dan berlaku di Jambhudwipa itu ketika diterapkan di Yawabumi tentu menghadapi susunan masyarakat yang berbeda, sedangkan yang boleh disebut sebagai golongan Arya hanyalah para bangsawan dari Jambhudwipa, yakni mereka yang melepaskan diri dari Dinasti Chandella di Jambhudwipa dan berlayar ke selatan sekitar tiga ratus tahun lalu. Tidak terbukti bahwa mereka yang mendirikan Dinasti Syailendra di Yawabumi42 - tetapi jika saja benar, sampai masaku kini tentu kemurnian darahnya telah bercampur, begitu juga dengan kebudayaannya. Apalah yang masih bisa disebut murni di dunia ini bukan?

Mereka yang terlibat dalam kepentingan untuk berkuasa, dengan begitu berusaha menyesuaikan diri dan memanfaatkan paham kekuasaan yang datang bersama para pendatang dari Jambhudwipa, dengan sedapat?dapatnya. Maka susunan masyarakat yang terdapat di Yawabumi menjadi serbabertumpang tindih, dan yang tidak dapat dikatakan adil adalah terdapatnya golongan masyarakat yang harus dikorbankan-yakni yang ditempatkan di bawah, diperbudak, dan dikuasai.

Mereka yang rela akan menjadi golongan bawah, sejak dari sudra sampai paria. Mereka yang melawan akan dianggap bid'ah dan disebut candala.43 Seperti yang akan dihadapi mereka yang anak-anaknya disandera ini.

"Peraturan yang membenarkan penguasa memperbudak kita harus dilawan," kataku, "Itulah yang sedang kalian lakukan.''

Orang yang bernama Widya menyembah. "Pendekar Tanpa Nama, tunjukkanlah jalan!" Aku tidak ingin dan tidak suka berada dalam kedudukan disembah.

"Bagaimana mungkin kalian ingin me lawan dan memberontak, jika kalian masih sudi menyembah?"

Namun tidaklah mudah membuang adat istiadat yang te lah mendarah daging begitu rupa. Sikap seperti itu tentu berada di luar jangkauan pemikirannya.

"Ampuni sahaya Tuan Pendekar!"

Jadi siapa kiranya yang telah mencegat dan seolah-olah menugaskan diriku untuk menangani masalah orang?orang yang malang ini?

"Aku telah mendengar semua keluhanmu dan akan berusaha membantu kalian. Sekarang katakan siapa yang menunjukkan tempat ini untuk menemuiku."

Orang-orang itu saling berpandangan.

"Maaf Tuanku, beliau seorang tua gemuk yang berkulit sangat putih dan berjambul, beliau tidak menyebutkan namanya."

"Begitu? Bagaimana kalian bisa percaya?"

"Beliau tampak berwibawa sekali Tuan, beliau selalu diiringi seekor macan putih."

Sudah sekian lama aku malang melintang di sungai telaga dunia persilatan, belum pernah kudengar apalagi kujumpai tokoh seperti ini. Aku akan mencarinya-tetapi jika ternyata dialah yang menemuiku dengan cara seperti ini, mampukah aku mencarinya?

Gong bertalu-talu. Aku masih di tengah tontonan. Jaway dan Bayyrut berceloteh berganti-ganti. Karigna, Dharini, dan Rumpug memutar tubuhnya seperti gangsingan yang berkilat keperakan. "Pembangunan Kamulan Bhumisambhara terhenti beberapa saat lamanya karena pemogokan yang digalang Pendekar Tanpa Nama! Ia meracuni para pekerja dengan pikiran-pikiran yang berbahaya! Demi tujuan jahatnya ia telah menyamar sebagai tukang batu, mempelajari segenap kemungkinan untuk mengacau agama dan negara, lantas menghilang untuk kembali bersama para candala!"

Mereka meneruskan kisahku, tetapi dengan pembelokan demi kepentingan mereka. Sebenarnya aku telah mengusahakan agar pembangunan candi raksasa itu bisa diteruskan kembali. Hanya saja aku telah meminta kepada acarya yang merancang ragam bangun candinya, yang barangkali tidak tahu menahu darimana para tukang batu itu berasal, agar pembangunan tidak diberlangsungkan secara paksa-karena hanya akan menodai kesuciannya.44 Kepadanya kuingatkan sebuah kutipan dari Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya:

tidak ada ajaran lain yang lebih mendalam dari Sang Hyang Mahayana

Cara yang Agung

yang lebih dalam dari yang terdalam tidak dapat (hanya) dipikir

salahlah yang demikian itu tanpa dosa

tanpa terlibat khayalan terkena pencemaran

seperti kemabukan, kepalsuan,

kerakusan, kedunguan, kecintaan, kebodohan hendaknya Anda ketahui semua itu sesungguhnya semua itu takberwujud karena nafsu, kebencian, kedunguan khayalan itu muncul

sebagai kebenaran

Kepada para pekerja, kusampaikan gagasan bahwa manusia itu lahir sebagai makhluk merdeka, dan tidak ditakdirkan untuk menjadi milik siapapun jua kecuali dirinya sendiri merelakannya, yang telah disambut para tukang batu dengan cara berhenti bekerja. Pada suatu pagi, para pekerja bakti itu sudah menghilang, kembali ke wilayah wanua atau thani, yang maksudnya adalah pinggiran46, ketika merasa pembangunan candi itu bukanlah kewajiban mereka. Mereka menghilang pada malam hari dan keesokan harinya diburu oleh pasukan berkuda kerajaan yang pasti akan mudah menyusul mereka, dan barangkali akan membakar desanya pula. Di sanalah tenagaku yang sebenarnya diperlukan.

Kucegat salah satu rombongan pasukan berkuda itu di tengah jalanan. Baru melayang turun dari atas pohon saja, kuda mereka sudah meringkik-ringkik dan sulit dikendalikan. Belum sempat para prajurit bersenjata tombak itu mengangkat senjatanya, aku berkelebat menotok jalan darah mereka. Maka mereka jatuh tertidur di atas kudanya. Lantas kutepuk setiap pantat kuda tunggangan ini agar kembali ke arah darimana mereka datang. Ini merupakan pekerjaan mudah, yang lebih susah adalah menyusul setiap regu pasukan berkuda ini di delapan penjuru angin, bahkan mungkin lebih tidak jelas lagi di mana, karena tidak setiap pekerja yang berpuluhribu itu mempunyai arah kepulangan yang jelas.

Begitulah aku me lesat dari satu tempat ke tempat lain secepat mungkin. Aku memilih untuk melesat secepatnya, melayang dari puncak pohon yang satu ke puncak pohon lain, agar segera dapat melihatnya dari kejauhan. Ada kalanya pasukan pemburu ini sudah sangat dekat dengan mangsanya. Tinggal mengangkat tombak dan menghunjamkannya kepada para pekerja yang berlari. Maka aku harus melebur dalam angin agar segera dapat melumpuhkan mereka, melalui totokan-totokan penidur yang akan membuat mereka bermimpi di atas kudanya, yang berderap kembali ke asalnya. Lain kali para pekerja itu taktahu menahu bahaya apa yang sedang mengancam, karena aku telah melumpuhkan para pengejarnya jauh sebelum mereka mendengar derap pasukan kuda yang menyerbu.

Pasukan berkuda yang mengejar dalam regu yang terdiri dari duabelas orang itu sebetulnyalah luar biasa cepat. Rombongan terakhir yang kuselamatkan bahkan telah diobrak- abrik dan tinggal dibantai saja ketika aku tiba pada detik yang menentukan. Pasukan ini hanya akan mendengar kesiur angin dan tidak akan bisa menatapku, meski hanya bayangan maupun bayang-bayangku, karena aku memang tidak akan mengiz inkan kemewahan seperti itu. Mungkin hanya akan terdengar suara tepukan, itu pun karena aku membiarkannya terdengar, dan ambruklah mereka tiba-tiba di atas kudanya masing-masing. Setelah itu baru aku memperlihatkan diri, karena beberapa orang telah tergores senjata tajam.

Aku mengobati mereka dengan daun-daunan yang berada di sekelilingku. Para pekerja itu memperhatikan aku. Mereka tentu melihat aku sama saja seperti mereka, karena aku memang baru usai menyamar menjadi tukang batu. Mengangkat dan memasang batu lantai terbawah, yang akan mendukung seluruh candi sepuluh tingkat itu.

Aku hanya berkain melilit pinggang, sama seperti semua orang dari varna atau kasta sudra, yang hanya mempunyai tenaga dan tiada mempunyai keahlian sedikit jua. Justru persoalan Kamulan Bhumisambhara muncul di sana, jika agama Buddha yang dibawakannya memang tidak mengenal, bahkan menghapuskan kasta, mengapa harus ada orang yang wajib bekerja padahal dia t idak menghendakinya? Candi pemujaan harus dibangun dengan semangat pemujaan, bukan pemaksaan, tetapi selama aku menjadi tukang batu hanya keluhan demi keluhan itulah yang selalu kudengar. Berkali-kali aku mengajukan gugatan kepada juru/tuha nin mawuat haji47 untuk menyampaikan keluhan mereka yang merasa tidak seharusnya berada di sana, tetapi tidak pernah digubris.

Bahkan ia bertanya.

"Siapakah kamu, yang terlalu lancar bicara masalah berbahaya? Tidakkah kau sadari betapa kamu seperti bermaksud menentang raja? Apakah kamu seorang candala?

(Oo-dwkz-oO)