Nagabumi Eps 129: Serangan Angin dan Api

Eps 129: Serangan Angin dan Api

Maka aku pun melayang dalam kegelapan hutan, melesat dengan sentuhan dari dahan ke dahan, sementara di bawahku para penyerbu yang tertipu menyerang pasukan Amrita yang telah menunggu. Dapat kubayangkan dalam gelap dan ketiadaan pandangan mereka tidak menemukan apapun dari keributan yang semula mereka sangka sebagai kekacauan lawan. Saat itulah ratusan anak panah beracun akan meluncur dari atas pepohonan di balik kegelapan, anak panah yang racunnya segera bekerja membiru dan menghitamkan badan. Mereka yang cukup tangkas tentu sempat menangkis anak panah dengan pedangnya yang tajam, tetapi apa lagi yang bisa dilakukan jika pada saat yang sama batu yang dilesatkan para pelontar jitu telah mendera kening atau pelipisnya yang membuat mereka setidaknya pingsan atau mati sekalian?

Masih kudengar jeritan mereka dari luar hutan, ketika para pengepung yang mengira kawan-kawan mereka sedang melakukan pesta pora pembantaian kulabrak dan kukacaukan dengan serangan kilat yang jelas takterlihat di malam gelap segelap-gelapnya kegelapan dari suatu ma lam yang paling kelam. Mereka tidak kubunuh tetapi hanya kuobrak-abrik dengan sapuan angin pukulan yang membuat mereka terjengkang, terkapar, atau terlontar saling bertabrakan. Barisan yang rapi dalam kedudukan penuh perhitungan dalam pengepungan menjadi berantakan, karena serangan mendadak yang kulakukan telah memancing sayap manapun memberikan pertolongan. Hal ini tidak akan terjadi jika mereka biarkan saja aku dihadapi pasukan dari bagian yang kuserang, dan hanya mengirim seorang atau beberapa prajurit pilihan yang tinggi ilmu silatnya, sementara kedudukan mengepung tetap dipertahankan.

MASALAHNYA aku telah menggunakan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama yang mengandalkan kecepatan sangat amat tinggi sehingga meski pada dasarnya seranganku berpindah-pindah tetapi terasa bagaikan serbuan ribuan orang dalam waktu berasamaan. Bukan hanya terasa sebagai serbuan ribuan orang yang menimbulkan kepanikan, tetapi bahwa serbuan itu nyaris tidak kelihatan, takhanya karena gelap melainkan sangat cepat, sehingga menimbulkan kepanikan. Kesan itu bertambah kuat karena tak hanya manusia tetapi juga kuda kubuat berpentalan ke udara ratusan depa yang membuatnya meringkik dan ketika jatuh tentu menimbulkan keributan.

Malam seusai hujan di tepi hutan yang semula amat sangat sepi mencekam berubah menjadi penuh teriakan kekagetan dan ringkikan kuda yang sungguh mengacaukan pengepungan. Bintang di langit bertebaran membentuk rasi sayap, menandakan malam yang akan banyak anginnya. Kata Sun Tzu: kobarkanlah api dari mata angin, janganlah menyerbu dari arah yang berlawanan dengan mata angin. Tak kugunakan api di musim hujan seperti ini tetapi kuandaikan seranganku sebagai api yang mengacaukan perhatian dan taktergantung angin karena diriku sendirilah api sekaligus angin yang bergerak atas perintahku sendiri kepada seribu naga penyerbu yang bahkan tak terbayangkan keberadaannya di dalam mimpi.

Malam penuh bahasa burung yang mencericit-cericit dalam kepanikan, tetapi kecepatanku telah membuat segalanya bisa kusaksikan sebagai kelambanan dalam tarian. Hanya satu penyerbu yaitu aku, tetapi barisan pasukan ratusan orang ini setiap orangnya bagaikan baru saja dipukul entah siapa dari belakang. Prajurit yang baru dipukul ini akan dengan cepat menyabetkan pedang tajamnya atau menusukkan tombak runcingnya ke belakang dan demikianlah mereka menjadi saling berbacokan. Setiap sayap barisan menekuk ke dalam dengan tergopoh-gopoh mendatangi apa yang mereka kira sebagai sumber keributan dan pusat serangan, dengan maksud menjebaknya dari belakang. Namun saat itulah setiap lapisan paling belakang dari sayap-sayap barisan yang menyerbu itu kukacaukan.

Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama memang diciptakan oleh seorang ahli siasat perang dan seorang pendekar ilmu silat yang tidak diketahui namanya, karena lembaran lontar pada bagian menyebut nama penulisnya pada Kitab Seribu Naga itu telah hilang ketika ditemukan ayah dan ibuku di sebuah gua di atas gunung. Agaknya penulisnya telah menuliskannya tetapi sengaja melepasnya lagi sebelum menghilang se lama-lamanya meninggalkan kitab itu di atas batu datar pada sebuah gua sebagai warisan bagi dunia. Dari lembar-lembar pengantarnya memang disebutkan bahwa jurus ini terutama ditujukan bagi keadaan ketika seseorang harus menghadapi lawan yang sangat tidak seimbang jumlahnya, seperti ketika satu orang harus menghadapi seribu orang -dan terutama jika yang seribu orang itu berkedudukan dan bertatanan sebagai barisan tempur dalam keadaan perang.

Seribu orang yang berkelahi dengan serabutan tidaklah sama dengan seribu orang yang terlatih sebagai prajurit tempur dalam suatu barisan pasukan.

Seribu orang dalam satuan tempur diandaikan akan dan boleh terkecoh menghadapi segala siasat dan pancingan, karena kedudukannnya dalam suatu pertempuran memang mempunyai tujuan. Adapun tujuan itu tentunya adalah mencapai kemenangan. Demikianlah Sun Tzu dengan ungkapan terkenalnya: Umumnya dalam seni perang, menaklukkan negara musuh dengan utuh adalah siasat yang paling baik; mengalahkannya melalui perang adalah yang kedua. Menundukkan satu tentara, satu div isi, satu brigade, satu resimen, satu batalyon, satu kompi, satu peleton, bahkan satu regu musuh sekalipun dengan utuh adalah siasat yang paling baik; mengalahkannya melalui pertempuran adalah yang kedua. Itulah sebabnya, berperang seratus kali dan menang seratus kali bukanlah siasat yang paling baik; menaklukkan tentara lawan tanpa berperang adalah siasat yang paling baik.

Namun aku telah berhasil membuat pasukan yang semula ingin meraih kemenangan dengan pengepungan ini bertempur meski hanya melawan satu orang. Jika pasukan yang menyerbu masuk hutan itu mengalami kegagalan, yang sebetulnya tidak dimungkinkan jika regu pelopor yang terdiri dari dua belas pendekar itu penyusupan dan segenap siasatnya tidak kubatalkan, para pengepung di luarnya akan bertahan selama-lamanya dengan perkiraan yang berada di dalam hutan menyerah tanpa pertempuran. Siasat seperti ini sering dijalankan balatentara Negeri Atap Langit jika mengepung kota-kota besar dengan benteng perlindungan yang kuat. Jika ada sungai melewati kota itu maka akan dituangkan ke dalamnya sumber penyakit dan racun. Demikianlah siasat pengepungan adalah salah satu cara meraih kemenangan tanpa pertempuran. Aku berusaha mengacaukan siasat itu dengan melibatkannya dalam suatu pertempuran tanpa pasukan.

DENGAN Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama diandaikan yang menggunakannya mampu bergerak dengan kecepatan begitu tinggi bagaikan satu orang serentak menjadi seribu orang. Dalam kecepatan sangat tinggi segala gerak yang kusaksikan menjadi begitu pelan, amat pelan, amat sangat terlalu pelan sehingga dengan mudah kutepuk ubun-ubun kepala mereka dan kujungkir balikkan, kuambil tombak mereka dan kukembalikan ke kedua tangan setelah kupatahkan, kuangkat mereka bersama kudanya dan kulemparkan, kusapu seratus kaki dan terbangkan ke seratus arah tanpa peringatan. Tiada kematian dan hanya kegemparan kuberlangsungkan selama pasukan Amrita menyelesaikan pekerjaan mereka yang mau takmau penuh dengan kekejaman.

Begitulah kecepatanku sangat tinggi tetapi aku merasa melayang selamban kapas, sementara pasukan itu bagaikan patung-patung hidup yang bergerak dengan berat. Ini berlangsung ketika kecepatanku telah melebihi kilat dan nyaris hampir setiap anggota pasukan kusergap. Dari seorang prajurit kurampas seuntai cambuk yang tampaknya terpilin dari kulit ular yang segera kuledak-ledakkan sembari melenting dengan menjejak kepala, bahu, kepala kuda, sepanjang tepi hutan Dengan membuat setiap lecutan menyalakan lelatu api, yang berkilatan bagai kembang api di mana-mana dan kembali lagi sebelum menghilang, kubuat pengacauan ini bagaikan sebuah pesta sambil menunggu pasukan Amrita dari dalam hutan.

Namun muncul pula seorang prajurit sakti berilmu silat tinggi yang tak dapat dikelabui Jurus Seribu Naga Menyerang Bersama dan menyerang langsung dengan dua pedang lurus panjang. Ia mengeluarkan bahasa burung yang tidak kumengerti tetapi jurus kedua pedangnya sungguh mematikan. Kugerakkan cambuk yang kupegang dengan Jurus Ular Mabuk Menelan Tulang yang membuat cambuk itu segera melingkari pedang seperti seekor ular yang melibat sungguhan. Sekali sentak pedangnya terlontar ke udara dalam gelap malam. Dalam sentakan kedua, kuambil pedang dan kusimpan cambuk, dan dengan pedang itu secepat kilat kuselesaikan riwayat sang prajurit yang bisa sangat merepotkan.

Prajurit itu jatuh ke bumi yang menjadi gemuruh karena manusia-manusia yang panik. Dari pernak-pernik busananya kubayangkan dia adalah pemimpin dan bagaimana seseorang akan memimpin pasukan tanpa ilmu silat yang tinggi bukan? Sepintas kulihat hiasan alas dan penutup kakinya yang disebut sepatu itu memang membuatnya berbeda dari para prajurit lain. Hmm. Kata Sun Tzu: Yang kalut dihadapi dengan yang tertib; yang gelisah dihadapi dengan yang tenang. Itulah seni mengatur keseimbangan jiwa seorang panglima. Pasukan pengepung ini semula mengacu kepada apa yang dikatakan Sun Tzu: Yang jauh dari medan perang dihadapi dengan yang dekat dari medan perang; yang letih dihadapi dengan yang segar; yang lapar dihadapi dengan yang kenyang. Itulah seni mengatur kekuatan sebuah tentara 4) . Namun mereka lupakan satu dari delapan larangan dalam seni perang yang juga dikatakan Sun Tzu: jangan termakan umpan musuh.

Dengan cambuk dan aku menari-nari sambil berkelebatan menyebar lelatu api. Kugunakan lelatu api dari lecutan cambuk itu untuk mengalihkan perhatian. Lantas sengaja pula cambuk kuledak-ledakkan dengan suara keras. Masih menggunakan Jurus Seribu Naga Menyerang Bersama, lelatu api pun tersebar merata sepanjang tepi hutan bersama suara ledakan. Ketika itu sekali lagi pasukan ini bermaksud menjalankan siasat Sun Tzu tentang kedudukan seperti berikut: Mereka yang ahli dalam seni perang menyerupai Shuai Ran, nama sejenis ular yang terdapat di Gunung Chang. Bila ular itu kita pukul kepalanya, ekornya segera datang menolong; kita pukul ekornya, kepalanya segera datang menolong; kita pukul tengahnya, kepala dan ekornya serentak datang menolong.

Namun tentu saja kedudukan Ular Shuai Ran ini gerakannya sangat kalah cepat menghadapi Jurus Seribu Naga Menyerang Bersama yang amat sangat cepat untuk menempur dan menghilang. Saat itu pasukan Amrita sudah keluar dari dalam hutan.

BAGAIKAN air bah mereka menggulung pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam yang sedang terkacaukan oleh tipuanku yang membuat mereka mengira sedang berhadapan dengan seribu orang. Pasukan pemberontak ini tidak hanya terdiri dari orang-orang V iet yang melawan penjajahan Negeri Atap Langit, tetapi segenap orang-orang pinggiran yang menganggap kekuasaan yang menindas di mana pun harus digulingkan. Mereka orang-orang tersingkir yang gagah perkasa dan bernyali, serta kepandaian bersilat dan bertempurnya sangatlah tinggi, yang berasal dari negeri-negeri di sekitar An Nam seperti Khmer, Campa, bahkan juga para pejuang dari Pagan.

Gelombang pasang ini mengempas dari dalam hutan bagai naga raksasa kehitaman yang menyeruak dari balik langit malam dan di kepala naga raksasa yang menganga itu kulihat Amrita di atas kudanya maju menerjang di tengah pusaran kekacauan. Aku mengambil jarak dan mengamati dari atas sebuah batu besar. Amrita terlihat melenting-lenting dengan dua pedang menyebarkan kematian. Para kepala regu di pihaknya yang takkalah sakti mandraguna segera menyusulnya dalam pembantaian. Pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam bagaikan diaduk-aduk dan terlalu banyak yang perlaya pada gebrakan pertama yang luar biasa mengejutkan. Pada pihak pasukan pemberontak terdapat para pendekar yang nama-namanya baru kuketahui kemudian. Seorang pendekar bersenjata dua bandul besi disebut sebagai Iblis Suci Peremuk Tulang. Dengan senjata bandul besinya ia melayang- layang seperti dewa pencabut nyawa, tak terhitung lagi berapa banyak korban bergelimpangan dengan kepala dan tubuh remuk bagai ditumbuk oleh tenaga raksasa. Ia dinamakan Iblis Suci yang maknanya bertentangan karena meskipun ilmu silatnya mengerikan sebetulnya ia seorang pendeta.

Konon semula ia seorang pendeta Buddha biasa yang tidak dikenal, tetapi semenjak kuilnya dihancurkan pasukan pemerintah karena menampung keluarga pemberontak, ia yang sejak semula ditugaskan menimba ilmu silat untuk menjaga keamanan lantas bergabung dengan para pemberontak. Kini kepalanya tidak lagi gundul, bahkan panjang sampai ke bahu. Ia mengenakan busana kulit hitam yang sudah usang, wajahnya penuh dengan brewok kasar yang beruban, dan matanya merah sehingga berkesan menakutkan. Berapa orang pun yang mengepungnya, sekali ia berputar dengan sepasang bandul terpentang, bandulnya berputar semuanya terpental.

Banyak lagi pendekar golongan merdeka yang bergabung dengan pemberontak, dan setiap orang dari mereka memiliki kemampuan yang istimewa, sehingga pasukan pemberontak yang dipimpin Amrita ini tidak bisa dihadapi sebagai pasukan tempur biasa. Jika prajurit pasukan tempur sangat terlatih sebagai bagian dari gerak seluruh barisan, pasukan pemberontak mampu melakukan hal yang sama, tetapi ketika kedua pasukan berhadapan langsung, para pendekar yang bergabung dengan pemberontak ini jelas memiliki kelebihan ketika bermuka-muka dalam pertarungan satu lawan satu.

Namun pasukan pemerintah juga memiliki prajurit berilmu tinggi yang lulus dari berbagai perguruan silat ternama. Mereka terdiri atas gabungan prajurit yang berasal dari berbagai tempat di Negeri Atap Langit maupun orang-orang Viet sendiri. Untuk membangun pasukan pemerintah di luar wilayahnya, bagian pembentuk pasukan kerajaan biasanya memanfaatkan tenaga para penjahat yang tertangkap, tetapi yang kejahatannya tidak cukup berat, yakni mencuri, merampok, memperkosa, tapi tidak membunuh, sehingga apabila penjara di berbagai penjuru negeri telah semakin penuh, sungguh menambah beban keuangan negara. Mereka inilah yang dibuang ke luar batas negeri untuk menjadi anggota pasukan kerajaan, yang mereka turuti saja karena pekerjaan ini memberikan jaminan hidup yang lebih baik daripada menjadi penjahat kambuhan. Wajarlah jika meskipun telah diberi latihan bergerak dalam kesatuan barisan, dalam pertempuran jarak dekat yang berhadapan langsung muka bertemu muka, watak mereka yang berangasan kembali menyeruak ke permukaan.

Tidak jauh berbeda adalah keberadaan orang-orang Viet di dalam pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam, yang juga terdiri dari penjahat-penjahat kambuhan yang tertangkap dan hanya akan menghabiskan banyak makanan atas beaya negara. Sebaliknya, mereka yang berjiwa prajurit dan mencintai tanah airnya tidak sudi bekerja untuk pemerintahan boneka yang dikendalikan dari Negeri Atap Langit, maka mereka pun bergabung dengan pasukan pemberontakan. Sikap mereka ini menarik kesetiakawanan orang-orang tersingkir dari berbagai negara tetangga, yang sangat bisa memahami sikap mereka, sehingga bergabung mendukung perjuangan mereka.

"DI mana pun penjajahan adalah buruk," kata orang-orang tersingkir ini, "baik dilakukan bangsa as ing, apalagi bangsa sendiri."

Adalah benar betapa tak kurang dari orang-orang Viet sendiri yang bekerja sebagai pegawai pemerintah Daerah Perlindungan An Nam, karena para petinggi yang berasal dari Negeri Atap Langit tentu tidak mengenal daerah yang diperintahnya sebaik orang Viet sendiri.

Maka dalam pertempuran yang sedang berkecamuk di hadapanku itu, kusaksikan orang Viet berhadapan dengan orang Viet, dan orang-orang Negeri Atap Langit berhadapan orang-orang tersingkir dari negeri-negeri seperti Khmer, Campa, Pagan, Siam, bahkan Malayu! Jika sudah berhadapan seperti itu, apakah masih mungkin memisahkan yang baik dari yang buruk, dan yang dianggap benar dari yang jahat?

Dalam kegelapan, senjata tajam menikam dan senjata tumpul menggebuk, dentang logam disusul percikan api berbintang, darah muncrat, tubuh ambruk, jerit membahana, kepala lepas dari tubuhnya, kuda meringkik, panah melesat, perisa i tembus, cambuk meledak-ledak, batu-batu meluncur, dan di atas mereka yang mengadu jiwa para pendekar kedua belah pihak yang berilmu tinggi berkelebat dan melesat-lesat dalam pertarungan antara hidup dan mati.

Amrita dikurung oleh tujuh manusia berangasan yang masing-masing mengenakan senjata penggada, kapak, lembing, toya, cambuk, bandul, dan sepasang golok besar. Mereka adalah Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang, yang busananya berupa kulit harimau, dan bukan pemburu binatang melainkan pemburu manusia dalam perjalanan di sekitar Gunung Wudang di Negeri Atap Langit. Mereka berhasil ditangkap hidup-hidup semuanya ketika sedang mabuk, dan di dalam penjara selalu membuat onar sehingga dibuang ke Daerah Perlindungan An Nam untuk menghadapi orang-orang Viet yang gemar berperang. Ternyata ilmu silat mereka yang tinggi membuat mereka selalu se lamat, bahkan kemudian digabungkan dengan pasukan pilihan yang memburu para pemberontak ini.

Kini mereka mengurung Amrita yang sudah lama diincar, sebagai pelarian asal Khmer dan puteri raja Jayavarman II, yang sangat tinggi ilmunya dan menguasai ilmu perang, sehingga pasukan yang dipimpinnya sangat sulit diburu dan dilumpuhkan. Namun kini mereka sudah berhadapan dan Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang mengharapkan suatu hadiah atau peningkatan jabatan, maka mereka ingin meringkus perempuan pemimpin pasukan ini dengan secepat- cepatnya. Mereka saling berkelebat, dan kusaksikan suatu kedudukan yang tentu menyulitkan Amrita yang bertarung dengan dua pedang.

Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang itu tidak mengurung Amrita dalam lingkaran, melainkan set iap orang melingkarinya dalam tujuh tingkatan yang membujur maupun melintang, sehingga Amrita bagaikan terkurung dalam suatu bola yang setiap saat siap merajamnya dalam penyempitan ruang. Kedudukan Amrita sebenarnya sangat rawan karena kedua pedang akan mampu menangkis dua senjata, tetapi lima senjata lainnya akan ditangkis dengan apa? Kecepatan Amrita takdapat mengatasinya karena Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang ternyata memang berilmu tinggi untuk dapat mengimbangi kecepatannya. Namun kusaksikan Amrita segera menggunakan Jurus Penjerat Naga. Aku terkesiap karena jika ia masih menggunakan jurus itu berdasarkan kitab curian yang sengaja dikelirukan, tentu bukan keberhasilan melainkan kegagalan yang berarti kematianlah yang akan diterimanya dalam malam yang telah menjadi semakin kelam.

Demikianlah Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang yang berbusana kulit harimau itu tampak bagaikan tujuh harimau yang siap menerkam seekor anak kambing. Kedudukan seekor anak kambing di hadapan tujuh harimau perkasa tentulah suatu kedudukan yang sangat amat lemahnya, dan itulah kesan yang akan didapat jika Jurus Penjerat Naga dimainkan, yakni betapa jurusnya tidaklah seperti suatu jurus sama sekali. Amrita bagaikan begitu siap diterkam dan dirajam karena seluruh kelemahannya tampak begitu terbuka. Apalagi, dalam kecepatan yang akan tampak biasa saja bagi yang bergerak sama cepatnya, Amrita tampak terbuka segala pertahanan dengan begitu lemahnya: kedua tangan terpentang, mata terpejam, bibir merekah, seolah tak sedang terancam melainkan bercinta... Ketujuh orang gagah ini bergerak serempak dalam kedudukan yang akan membuat ke mana pun Amrita mengelak tetap saja akan menemui ajalnya. Terbayang sudah hadiah dan pangkat yang akan mereka terima dengan kematian perempuan Khmer yang memimpin pasukan pemberontak dan telah lama menyulitkan pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam.

ORANG pertama yang bersenjata gada mengira mendapat peluang emas untuk meremukkan kepala, gadanya yang mampu meremukkan gajah dalam sekejap telah terayun ke sasarannya. Amrita masih saja terpejam matanya seperti orang tertidur, gada itu tinggal sejengkal lagi akan meretakkan pelipisnya; tetapi saat itulah kepalanya lenyap dan kepala pemegang gada itu sendirilah yang sudah terlepas dari tubuhnya yang menyuruk ke bumi. Dalam sekejap mata keenam orang gagah sisanya menyusulkan serangan, tetapi tidak lagi berurutan satu persatu, karena memang begitulah jurus mereka dalam pertarungan bersama, bahwa pihak yang kuat menutupi kekurangan bagian yang lemah. Artinya kegagalan adik seperguruan yang bungsu, harus diganti dengan serangan berlipat ganda ancamannya, sehingga dua kakak seperguruan yang di atasnya, pemegang senjata lembing dan toya, pun menyerang bersamaan. Namun saat itu pula kepala keduanya lepas dari batang lehernya.

Dari jauh kusaksikan bagaimana Amrita membantai lawan- lawannya dengan Jurus Penjerat Naga. Sungguh jurus yang sangat berbahaya, karena penampilannya sebagai bukan jurus sama sekali yang membuat lawan mengira telah melihat kelengahan musuhnya. Seperti juga dengan berbagai jurus langka di dunia, Jurus Penjerat Naga mensyaratkan ilmu silat yang sudah sangat tinggi, terutama kecepatan bergerak dan tenaga dalam peringkat para naga. Betapa tidak jika memang ilmu ini diciptakan untuk menghadapi dan mengalahkan para naga?

Aku teringat Pahoman Sembilan Naga, adakah suatu kali harus kuhadapi salah satu dari mereka dan aku mengalahkannya? Bahkan Naga Hitam yang telah menjual jiwanya kepada kejahatan, dan sebaiknya kuburu demi keselamatanku sendiri maupun banyak orang, justru kutinggalkan sampai ke Tanah An Nam ini. Adakah suatu ketika kami akan saling berhadapan? Apakah sebenarnya yang dipikirkan Naga Hitam, jika sampai ke pantai negeri Campa yang membujur dari utara ke selatan para pembunuh bayarannya masih memburuku jua?

Barangkali aku memang telah melakukan persiapan untuk menghadapi Naga Hitam dengan Ilmu Pedang Naga Hitam ternamanya yang belum terkalahkan. Dalam dunia persilatan, jika aku telah membunuh murid-muridnya dan Naga Hitam telah mengirimkan para pembunuh kepadaku, sudah semestinyalah kami pada akhirnya bahkan wajib saling berhadapan. Namun juga di dalam dunia persilatan, jika tidak akan pernah ada lagi yang bisa kukalahkan, jika memang ingin kucapai kesempurnaan dalam dunia persilatan, maka bukan saja Naga Hitam, melainkan yang manapun wajib kutantang. Jika siapapun dari anggota Pahoman Sembilan Naga tidak menantangku bertarung lebih dulu, karena di sungai telaga dunia persilatan menantang s iapapun yang belum terkalahkan adalah keharusan, akulah yang diwajibkan untuk menantangnya.

Kutengok gelanggang pertempuran, dalam kelam Amrita menghindari ancaman cambuk, bandul, dan kapak yang datang dari tiga jurusan secara bersamaan, dan saat itu pula sepasang pedangnya yang pipih, lentur, dan tajam, telah memisahkan kepala ketiganya tanpa mereka rasakan. Orang terakhir, murid tertua dalam Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang, tampak lebih cerdik dari yang lain, dan karena itu membatalkan serangan sepasang golok lebarnya. Maka Amrita pun tentu tidak perlu memasang Jurus Penjerat Naga lagi, ia menggulung lawannya dengan dua pedang yang telah berubah menjadi sepasang baling-baling, lantas dimainkannya seperti kipas dalam Jurus Kipas Menggunting dalam Lipatan, yang dengan segera membuat sepasang golok lebar lawannya terpental ke angkasa. Bersama dengan melayangnya kedua golok itu, lenyap pula nyawa pemiliknya dari badannya, ambruk dengan pedang menembus badan dari depan dan belakang.

Pertempuran tampaknya hampir selesai. Jumlah pasukan pemerintah tinggal separuh. Rembulan yang akhirnya muncul dari balik awan memperlihatkan mayat yang bertumpuk- tumpuk. Di pihak Amrita juga jatuh korban, sekitar seratus orang, sehingga kekuatan kini berimbang. Kata Sun Tzu:

...dalam seni perang jika kekuatanmu sepuluh kali kekuatan lawan, kepunglah dia; jika lima kali kekuatan lawan, seranglah dia; jika dua kali kekuatan lawan, ceraikanlah dia; jika seimbang dengan kekuatan lawan, dikau dapat bertempur melawannya; jika kurang daripada kekuatan lawan, dikau dapat mundur; jika tidak setara dengan kekuatan lawan, dikau dapat menghindarinya.

BETAPAPUN bijaksana segala ujaran sang empu, peristiwa di medan tempur tidak selalu berjalan sesuai perkiraan kitab seni perangnya itu. Dalam dunia persilatan yang melibatkan kesaktian para pendekar yang tak selalu dapat diukur, hukum pertempuran semacam itu bisa terbolak-balik di luar akal sehat, meski kuakui dari segi fa lsafah pendapat Sun Tzu tersebut banyak benarnya. Pasukan pemerintah yang siasatnya sudah begitu tepat, menjadi kacau karena para perintisnya yang berilmu tinggi takdisangka dapat tumbang olehku, seorang pengembara tanpa nama dari Jawadwipa. Amrita mencabut kedua pedang sambil menahan tubuh korbannya dengan kaki. Ia putarkan kedua pedang sebelum memasukkannya kembali ke sarung pedang yang saling melintang di punggungnya. Lantas ia meloncat ke punggung kuda, menoleh ke sana kemari mencariku. Saat itulah aku melesat, karena sesosok bayangan berkelebat dengan kecepatan kilat bermaksud menikam Amrita dari belakang punggungnya. Aku memang berdiri cukup jauh, tetapi dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit segera saja aku telah berada di hadapannya sembari tangan kiriku mendorongkan angin pukulan. Jarum-jarum beracun yang diluncurkannya meluncur balik kepadanya, tetapi hebatnya ia pun bisa menyampoknya sehingga jarum-jarum itu rontok, bahkan telah diuraikannya cambuk di pinggang untuk menyerangku. Maka dengan cambuk kulit ular di tanganku kusambutlah serangannya itu.

Demikianlah pertempuran yang hampir se lesai itu kini dimeriahkan oleh lelatu api dari pertarungan kedua cambuk kami yang meledak-ledak mencerahkan malam. Ujung cambuk merupakan bola kecil dengan duri-duri beracun yang setiap kali meledak menyemburkan tepung beracun. Udara malam yang basah segera berbau amis dan suatu mantra penolak racun warisan Raja Pembantai dari Selatan tanpa kum inta segera bekerja melindungi pernapasanku. Kami berkelebatan di atas bahu para penunggang kuda yang masih bertempur tanpa menyadari terdapatnya pertarungan kami yang tidak bisa diikuti mata, kecuali suara meledak-ledak berbunga api yang terdengar di mana-mana. Kuketahui ia menggunakan Ilmu Cambuk Menari di Atas Api yang merupakan ilmu cambuk langka di dunia, yang segera kulayani dengan Ilmu Cambuk Gembala Sunyi, suatu ilmu cambuk yang pernah kupelajari dari salah satu kitab dalam peti kayu warisan orangtua asuhku.

Dengan begitu kedua cambuk akhirnya saling melibat. Kami terpaku di atas tanah saling menyalurkan tenaga dalam ke dalam cambuk, sampai kedua cambuk itu berasap dan menyala. Cambukku bercahaya biru redup, cambuknya bercahaya merah jingga. Adalah warna yang lebih kuat dan mengubah warna cambuk lainnya yang akan menang karena tenaga dalam yang lebih tinggi tingkatnya. Pertarungan tenaga dalam seperti ini hanya akan berakibat kematian, setidaknya luka dalam yang parah karena tidak mungkin ditarik kembali. Kulirik siapa musuhku dan aku terkesiap. Ternyata ia seorang nenek berambut putih! Ia berbaju musim dingin yang tebal dan mengenakan alas yang disebut sepatu, dengan bebatan kain dari mata kaki sampai ke lututnya. Sungguh perempuan tua yang gagah, tetapi sungguh besar kehendaknya untuk mencabut nyawaku secepatnya.

Saat perhatianku tersita oleh adu tenaga dalam melalui cambuk, ia menyemburkan uap racun kuning dari mulutnya. Kemudian akan kuketahui betapa uap kuning semacam itu akan membuatku kulitku terkelupas dan terbakar. Maka sekali lagi ilmu-ilmu racun warisan Raja Pembantai dari Selatan menunjukkan keajaibannnya, karena tanpa kukehendaki mulutku menyemburkan asap biru muda yang menyambut dan memunahkan segenap daya racunnya. Nenek tua itu untuk sesaat terperangah karena tak menduga, tetapi lebih dari cukup bagiku untuk menyentak lepas cambuk di tangannya yang masih saling melibat dengan cambukku, dan kulecutkan cambuknya sendiri yang menyala merah jingga itu ke tubuhnya.

"Aaaaaarrggh!"

Bukan hanya Amrita, tetapi juga prajurit yang sudah kehilangan lawan dan menonton, bahkan diriku sendiri berteriak terperanjat, karena cambuknya yang menyala seperti bara merah jingga itu begitu lepas dari cambukku dan menyentuh tubuhnya, langsung membuat tubuhnya terbakar seperti obor raksasa! Aku terperangah. Kubuang cambukku ke tanah dan sentuhan nyala birunya dengan tanah basah menimbulkan asap yang mendesis.

Pertempuran telah se lesai. Amrita mendekat, turun dari kudanya dan memelukku dalam tatapan semua orang.

"Pendekar Tanpa Nama," bisiknya, "berapa kali daku berutang jiwa?"

Tubuh perempuan tua yang gagah itu masih berkobar menyala, ia perlaya dalam keadaan masih berdiri tegak dengan perkasa.

(Oo-dwkz-oO)