-->

Nagabumi Eps 128: Maut Berkelebat dalam Kegelapan

Eps 128: Maut Berkelebat dalam Kegelapan

SUNYI tidaklah tanpa suara. Dalam kegelapan hutan, kesunyian memberikan suatu dengung yang sama sekali tidak berbunyi. Namun perasaan tegang karena menanti kedatangan pasukan lawan membuat dengung itu terasa bagaikan denging. Semua orang memegang senjatanya erat- erat. Mereka telah berbulan-bulan diburu oleh pasukan pemerintah yang memang bertugas untuk menangkap mereka, sehingga meskipun belum pernah berhadapan, adu siasat sebetulnya sudah lama sekali berlangsung. Peperangan antara pasukan pemerintah yang kuat dengan pasukan pemberontak yang tidak terdiri atas prajurit terlatih, sebetulnya tidak pernah merupakan pertempuran berhadapan di suatu lapangan, melainkan seperti permainan lempar dan sembunyi. Pasukan pemberontak menyergap secepat kilat, tetapi untuk segera menghilang kembali.

Siasat seperti itu bukan tidak dikenal oleh para ahli siasat perang Negeri Atap Langit yang sejarahnya sendiri juga penuh dengan pemberontakan dan peperangan. Seorang ahli falsafah perangnya sekitar 1300 tahun lalu berkata: dalam seni perang, jika kekuatanmu sepuluh kali kekuatan lawan, kepunglah dia; jika lima kali kekuatan lawan, seranglah dia; jika dua kali kekuatan lawan, ceraikanlah dia; jika seimbang dengan kekuatan lawan, dikau dapat bertempur melawannya; jika kurang daripada kekuatan lawan, dikau dapat mundur; jika tidak setara dengan kekuatan lawan, dikau dapat menghindarinya.

Namun apakah yang sedang terjadi sekarang? Pasukan Amrita berlaku seperti sedang terdesak dan tiada jalan lain selain masuk hutan. Tidakkah pasukan lawan yang mengejarnya tahu betapa di dalam hutan ini para petani mampu bergerak seperti harimau kumbang, sehingga kekuatan setiap orang bagaikan berlipat ganda sepuluh kali menghadapi pasukan yang tak berdaya dalam kegelapan? Itulah persoalannya. Jika kesuny ian telah menusuk begini rupa, tidakkah lawan yang mengetahui kami memasuki hutan ini, lantas sengaja tidak memasuki, dan mengepungnya saja dari luarnya? Kesunyian itulah yang mengepung kami sekarang, karena jika lawan masuk tentu ia tidak ingin bersuara supaya tidak dengan mudah menjadi sasaran, dan apabila demikian tentu kami pun takjuga ingin bersuara sama sekali, karena dalam kesunyian seperti ini siapa yang menimbulkan bunyi nyawanya akan melayang lebih dahulu. Demikianlah kesunyian ini semakin menjadi dengung yang mendenging.

Dalam gelap Amrita menatapku dan kutatap pula matanya. Meski malam sungguh kelam untuk dapat dengan tegas saling memandang, kurasakan cintanya yang masih membara dan kebahagiaan betapa diriku berada di dekatnya. Dalam saat- saat menegangkan seperti sekarang kurasakan keharuan yang diakibatkan oleh pertemuan dan perpisahan.

Kusadari betapa tidak mungkin diriku hidup bersamanya seperti pasangsan pendekar yang telah mengasuhku, Sepasang Naga dari Celah Kledung, karena meski kami segera menyatu kembali dalam sekilas tatapan, kepentingan kami masing-masing dalam kehidupan tidaklah mengarah kepada sesuatu pun yang akan membuat kami hidup bersama. Amrita adalah seorang perempuan yang berselancar di atas gelombang kekuasaan, yang dapat menikmati debur dan empasan ombaknya sebagai tantangan permainan, sementara diriku yang hanya ingin mengembara, mereguk pengalaman dan mencari pengetahuan, tentu suatu hari pasti akan pergi, menuruti langkah kaki yang dihela kata hati.

Merenungkan diriku sendiri menjelang pertempuran dalam kegelapan antara hidup dan mati, membuat aku malu sendiri membandingkan diriku dengan set iap orang yang siap bertempur ini. Betapa setiap orang dalam pasukan ini mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah tujuan mulia dan pasti, apapun itu setidaknya sebuah tujuan, yang dimuliakan dan dipastikan dalam pembermaknaan, tempat setiap orang siap berkorban; tidak seperti diriku, yang hanya mengambil dan menikmati segala sesuatu dalam kembara perjalanan, hanya untuk diri sendiri dan sungguh hanya untuk diriku sendiri semata. Tidakkah perbandingan ini sangat memalukan?

Jika aku siap maka itu hanyalah kematian yang memang direlakan tetapi atas nama kesempurnaan ilmu silat dalam puncak pencapaian, betapa nyawa pun diberikan untuk mencapai kesempurnaan diri pribadi dan sama sekali bukan suatu pengorbanan, kecuali dikatakan pengorbanan demi kesempurnaan diri dalam ilmu persilatan. Jika aku mati dalam pertarungan maka aku hanya akan mati untuk diriku sendiri. Menolong, membela, dan berpihak kepada siapapun yang lemah dan menderita adalah kewajiban seorang pendekar, tetapi di sungai telaga dunia persilatan hanya golongan putih yang menjadikan kewajiban semacam itu menjadi tujuan, sedangkan para pendekar golongan merdeka, yang tidak pernah mendirikan perguruan dan se lalu mengembara, meski tidak akan menghindari kewajiban yang sama, menjadikan kesempurnaan ilmu silat sebagai tujuan hidupnya.

Kini aku berada di sini, di dalam hutan yang gelap ketika pasukan pemberontak yang dipimpin Amrita berada di ambang pertempuran melawan pasukan pemerintah yang kekuatannya tidak bisa dianggap ringan, karena dengan segenap pengalaman dalam sejarah pemberontakan dan peperangan Negeri Atap Langit, menghadapi para pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam ini telah dikirim pasukan yang memang dikirim setelah mempelajari siasat pasukan pemberontak dengan cermat. Jika untuk memburu penjahat yang sukar ditangkap cara terbaiknya adalah menggunakan penjahat lainnya, maka cara terbaik melumpuhkan pasukan pemberontak yang menyergap serentak dan segera menghilang lagi tentu adalah menggunakan pasukan lain yang sangat mengenal cara-cara itu, yakni pasukan pemberontak juga.

Demikianlah Amrita sempat bercerita, "Dalam beberapa bulan terakhir ini banyak sekali pasukan pemberontak yang menyerah karena dirongrong dari dalam dengan segala macam kebocoran rahasia dan adu domba. Namun yang sangat menyedihkan adalah penggunaan pasukan pemberontak yang menyerah itu untuk menghadapi dan memburu pasukan pemberontak lainnya. Pemerintah Daerah Perlindungan An Nam telah mendapat banyak keberhasilan dengan cara itu, sehingga di daerah selatan tinggal pasukan kami yang masih selamat, dan setiap kali suatu pasukan dilumpuhkan selalu berhasil dilebur dan bergabung untuk memburu kami. Maka karena sudah sangat saling mengenal siasat masing-masing, kami berusaha mengelabui mereka dengan cara-cara yang mereka kira sudah mereka kenal, padahal kami sedang menjebaknya. Namun tentu saja masih mungkin mereka pura-pura saja dapat dijebak, sebagai suatu jebakan lain."

Kusadari betapa rumitnya siasat jebak menjebak seperti itu, sehingga memang benar betapa pentingnya peranan seorang mata-mata. Sun Tzu, ahli seni perang Negeri Atap Langit itu berkata: ... yang menyebabkan raja bijaksana dan panglima ulung bergerak dan mengalahkan musuh, dan mencapai hasil yang melampaui apa yang dapat dicapai orang banyak, adalah mengetahui lebih dulu. Mengetahui lebih dahulu itu tidak dapat diperoleh dari makhluk halus dan dewa dengan membaca ramal, tidak dapat ditebak dari dalam berdasarkan banyak peristiwa yang telah dialami, tidak pula dapat diduga dari luarnya betapapun cermatnya perhitungan penuh kepastian, melainkan dapat diperoleh dari orang yang mengetahui keadaan musuh. 4)

ORANG yang mengetahui keadaan musuh itulah rumusan seorang mata-mata. Menurutnya terdapat lima jenis mata- mata, yakni mata-mata setempat, penduduk daerah musuh yang digunakan sebagai mata-mata; mata-mata dalam, petinggi musuh yang digunakan sebagai mata-mata; mata- mata ganda, mata-mata musuh yang berbalik digunakan sebagai mata-mata; mata-mata mati, yang digunakan membocorkan keterangan menyesatkan kepada musuh; dan mata-mata hidup, yakni mata-mata yang memang dikirim untuk menyelidiki dan kembali dengan segala keterangan perihal keadaan lawan.

Menurut Sun Tzu pula, jika kelima jenis mata-mata ini serentak digunakan, tidak seorang pun boleh mengetahui rahasia jaringan mata-matanya...dan itulah yang disebut sifat dewa. Mata-mata dengan sifat seperti ini adalah harta raja yang tiada ternilai harganya.

Amrita belum sempat bercerita lebih jauh tentang keadaan jaringan mata-matanya, tetapi keadaan genting sekarang ini, ketika kesunyian siap berubah menjadi hujan maut, jenis mata-mata keempat itulah, yakni membocorkan keterangan menyesatkan, yang mungkin berada di sana, atau juga mungkin berada di sini. Amrita telah bercerita tentang adu siasat, meski tak pernah saling berhadapan, jadi seharusnya ada mata-matanya di sana yang menjadi dasar pertimbangan lawannya pula.

Segera kutanyakan dengan bahasa isyarat kepada Amrita, adakah pasukan ini mempunyai mata-mata di pihak sana. Dalam kegelapan masih dapat kulihat ia menggeleng dengan pandangan mata bertanya-tanya.

Aku harus berpikir cepat: Amrita mengambil keputusan tidak berdasarkan pertimbangan dari langit, melainkan karena penjelasan para kepala regu dan anggota pasukannya. Jika harus ada yang tersesat, maka yang tersesatkan mestinya adalah pasukan Amrita, karena tidak ada pasukan dalam pendidikan Negeri Atap Langit yang tidak akan mengirim mata-mata mati ke pihak lawan dalam peperangan panjang seperti sekarang. Kesunyian sungguh mencekam. Apabila pasukan Amrita mengira akan bisa menjebak lawan dalam hutan larangan, mengapa kita tak harus berpikir bahwa pasukan Amrita sedang dijebak oleh lawan di hutan larangan. Bagaimana cara menjebaknya?

Kemungkinan pertama adalah tidak masuk ke dalam hutan melainkan mengepungnya; kedua, masuk ke dalam hutan dengan kepastian untuk mengalahkan musuh, yang telah mereka kenali segenap kemampuannya, termasuk dengan cara seolah-olah terjebak lebih dahulu, untuk kemudian memberikan serangan mematikan; ketiga, melakukan kedua- duanya, menyerang masuk hutan dan mengepung, agar jika serangannya tak berhasil melumpuhkan lawan maka kepungan tetap bisa dijalankan. Kupikir kemungkinan ketiga itulah yang akan dijalankan, sehingga harus dilakukan tindakan di luar perhitungan tersebut, yakni bahwa kepungan itu sendiri bisa dikacaukan. Mereka mungkin telah memperhitungkan kemampuan setiap orang, termasuk cara menghadapi Amrita yang ilmu silatnya belum kulihat ada yang bisa melawan; tetapi siapa pun tentu saja tidak memperhitungkan keberadaanku. Dalam keadaan senacam itu, dan suasana sepenting ini, keputusan berada di tanganku untuk mengubah dan membalik keadaan.

Kugamit Amrita sebentar, kubisikkan sesuatu ke dalam telinganya, lantas aku berkelebat. Dalam kegelapan, tiada dapat kuandalkan mataku sepenuhnya menghadapi kepungan musuh, maka kupejamkan mataku dan kugunakan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang.

Dengan segera dalam keterpejaman terlihat bahkan embusan napas orang-orang yang mengintai dalam suatu warna tertentu. Dengan penguasaanku yang semakin matang terhadap ilmu pendengaran ini, setiap kecenderungan terlihat dalam suatu pijar warnanya masing-masing dalam kegelapan. Jika sosok tubuh terlihat sebagai garis pijar redup warna hijau, maka dengus napasnya terembus sebagai uap berwarna kuning, dan setiap senjata yang disandang, di mana pun dise lipkan, jika digerakkan karena akan digunakan segera tampak sebagai pijar kebiruan, apakah itu penggada batu maupun jarum-jarum rahasia yang berlesatan.

Namun yang luar biasa dari penguasaanku sekarang, bahwa dalam keterpejaman niat membunuh dan mencelakakan terlihat sebagai pijar redup di sekitar dada dengan warna merah.

Demikianlah aku melayang dalam kegelapan hutan, tidak menyentuh bahkan sebatang ranting maupun dahan. Ternyata pihak lawan mengirimkan pengintai terbaik sebagai lapisan terdepan, mereka memang berkemampuan tinggi jika dilihat dari kemampuannya berkelebat dalam kegelapan tanpa menyentuh dedaunan. Jumlah mereka hanya satu regu, tetapi kemampuannya sangat tinggi untuk mengacaukan dan mendobrak jebakan yang sudah dipersiapkan, artinya mereka inilah yang pertama kali harus dimusnahkan.

KEMAMPUAN mereka memang tinggi dalam melayang di antara pepohonan seperti terbang dengan jejakan-jejakan ringan kadang bahkan hanya dengan sentuhan tangan pada dedaunan. Dalam gelap, seluruh tubuh mereka dibalut kain hitam, sehingga pasukan Amrita yang mengira akan mampu menjebak dengan mudah tiada akan melihatnya bahkan tersergap dan tenggelam dalam kekacauan. Saat kekacauan menimbulkan kepanikan itulah lapisan kedua yang memang dipersiapkan untuk menyerbu masuk akan mampu menyerang dengan penuh kejelasan atas kedudukan lawan. Jika serangan ini tidak berlangsung sempurna, apakah itu masih ada lawan yang tersisa dan lari keluar hutan, bahkan mungkin saja mampu menggagalkan serangan, maka masih barisan pengepung yang telah melingkari hutan larangan. Terlihat betapa cermat siasat itu dijalankan, tetapi kini sudah waktunya untuk dikacaukan. Orang pertama yang melayang paling depan tak mengira aku seolah akan menabraknya dari depan. Saat ia mencoba berkelit kedua jari tangan kiriku telah menotok jantungnya, sehingga berhenti seketika dan mengakibatkan kematian. Namun bukanlah kematian benar yang menjadi kesulitan untuk diadakan, melainkan bagaimana cara kematiannya takdiketahui yang lainnya karena akibatnya belum dapat diperhitungkan. Jadi menotok jantung dan membunuhnya bagiku cukup mudah dalam kecepatan takterlihat di tengah gelap, tetapi setelah itu menjaga agar tubuhnya tak jatuh bersuara serasa bagaikan pekerjaan yang maha berat. Sekali terdengar suara kematian seorang anggota regu pelopor ini, saat itu mereka akan berbalik mengundurkan diri, karena sadar akan hadirnya kekuatan di atas kemampuan, dan memilih untuk hanya melakukan pengepungan.

Maka aku harus berkelebat sangat amat cepat, sehingga setelah menotok jantung dan lawan melayang ke bum i, aku dengan segera sudah berada di bawah untuk menyambut tubuhnya agar tidak terjatuh tanpa suara. Namun aku tidak bisa meletakkan tubuhnya di atas tanah begitu saja, meskipun berada di balik semak dan onak berduri rapat, karena masih berkemungkinan ditemukan oleh pasukan penyerbu lapis kedua yang mengira segala jebakan pasti telah dibersihkan. Tentu saja lapisan pertama yang ditembuskan masuk ke dalam hutan memang suatu regu yang tidak terdiri dari sembarang orang. Bahkan harus kukatakan betapa mereka ini berdasarkan kemampuannya sungguh setara tingkatnya dengan para pendekar pilihan. Bahwa dengan tingkat ilmu silat setinggi itu mereka tidak mengembara sebagai pendekar, tetapi memilih untuk menjadi prajurit tanpa nama adalah sebesar-besarnya pengabdian.

Bersama tubuh yang kuterima agar tak jatuh berdebam aku melesat ke atas pohon dan mengikat orang yang baru saja meninggal itu dengan sulur akar-akaran pada dahan yang melintang dan segera berkelebat kembali. Meski kecepatanku bergerak jelas melebihi kecepatan kata-kata menceritakannya, tetaplah harus kuceritakan kesulitanku bahwa takmembuat suara ini merupakan pekerjaan yang sungguh tidak ringan. Jika aku dapat memburu dan melumpuhkan lawan dengan mata tertutup, berkat ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, ketika menerima tubuh dan membawanya melesat ke atas serta mengikatnya, aku merasa tetap menggunakan ilmu pendengaran itu adalah berlebihan, jadi aku me lakukannya dengan mata terbuka dan saat itu telingaku bekerja hanya sebagai telinga awam biasa. Tanpa alasan yang kuat, pelepasan ilmu pendengaran dalam kegelapan itu ternyata berakibat.

Setelah naik turun tiga kali untuk menyambar, melumpuhkan, dan mengikat tiga lawan dengan sulur akar- akaran dengan cara yang sama, justru tiga lawan lagi datang sembari me lepaskan serangan kilat tanpa suara tanpa kuketahui sebelumnya. Aku yang baru saja mengikat tubuh segera berkelit ke baliknya. Duabelas pisau terbang pun menancap di tubuh itu, sementara aku melenting ke atas tanpa suara pula ketika ketiganya serentak tiba. Kutotok ketiga tengkuk mereka dari belakang sebelum mereka sadar betapa pisau-pisau terbang mereka menancap pada tubuh kawannya sendiri. Aku bergerak cepat meringkus ketiga orang yang napasnya sudah tersumbat dengan akar-akaran sebelum mereka terjatuh berdebum tanpa nyawa, kali ini tanpa membuka mata, karena hanya dengan memegang ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang aku dapat melihat dalam keterpejaman dan lebih dahulu menyerang.

Enam orang berkelebat lagi pada enam titik yang segaris tanpa mengetahui betapa kawan-kawan mereka yang melesat sebelumnya sudah mati. Dari ilm u silat dan meringankan tubuhnya yang sangat tinggi, kuperkirakan hanya duabelas orang itulah yang diandalkan sebagai regu pelopor untuk menembus hutan, karena memang layak dipertimbangkan tidak akan terjebak perangkap lawan, bahkan sebaliknya mampu menjebak dan mengacaukan mereka yang mengira setiap saat akan ada yang masuk jebakan.

DALAM keadaan biasa, mereka telah membantai barisan panah dan pelontar batu dari belakang tanpa suara, tetapi yang setelah mayat-mayatnya jatuh berdebum atau berkerosok menyerempet dahan dan semak-semak nan lebat segera menimbulkan kepanikan -saat yang tepat bagi para penyerbu masuk hutan dan menyerang, karena kepanikan yang menimbulkan suara membuat kedudukan pasukan terlacak bagai hari s iang.

Demikianlah keadaan ini kubalikkan. Sama seperti cara bergerak keenamnya, kususul satu persatu mereka dengan cara melesat dan berkelebat melalui sentuhan dahan. Sengaja kutepuk yang seorang pada punggungnya dengan tepukan Telapak Darah, sehingga ia jatuh begitu rupa menimpa dahan- dahan dan menimbulkan keributan. Dengan kecepatan melebihi kilat, kelima temannya yang bergerak kususul dengan cara yang sama, tetapi tidak semuanya kuhabisi dengan pukulan Telapak Darah.

Ada yang kusabet dengan pedang yang kucabut dari punggungnya sendiri. Ada yang kudorong begitu saja sehingga kecepatan geraknya tak teratasi dan menabrak batang pohon dengan tulang remuk. Ada yang kusambut dari depan dengan kecepatan tak terlihat sehingga tiada tangkisan apa pun terhadap angin pukulanku yang mematikan. Ada yang kubarengi begitu saja laju geraknya di sampingnya, tetapi ketika ia menoleh aku telah berada di sisi lain tubuhnya dan menotok titik tertentu tubuhnya sehingga prananya bocor seketika mengakibatkan kematian di udara. Ada pun yang terakhir tanpa diketahuinya kujerat kakinya dengan sulur akar- akaran sehingga mendadak terhenti, tergantung dengan kepala di bawah dan tanpa sadarnya berteriak-teriak pula.

Semua ini berlangsung lebih cepat dari kejapan mata, aku melesat cepat hanya dengan sentuhan dan kadang justru dari sentuhan atau jejakan atas mayat-mayat yang masih melayang, dan hanya untuk menyusul yang cukup jauh kuperlukan jejakan pada dahan. Begitulah enam titik penembusan mereka di dalam hutan kujelajahi dengan cepat, amat sangat cepat, bahkan seolah terlalu cepat, dengan tujuan memang untuk membuat keributan seolah-olah tugas kedua belas orang anggota regu pelopor itu telah berhasil menimbulkan kekacauan.

Sun Tzu berkata: dengan menyerbu bagian musuh yang kosong, majumu tidak akan dapat ditahan; dengan mundur demikian cepatnya sehingga tidak tersusul oleh musuh, mundurmu tidak akan dapat dikejar.

Aku telah berada di samping Amrita, ketika para penyerbu masuk sambil membuat suara.

''Habiskan mereka,'' kataku, ''sementara kukacaukan lingkaran yang bermaksud mengepung kita sampai akhir zaman.''

(Oo-dwkz-oO)